Ohayou minna-san ketemu lagi dengan Bella-chan, sudah lama Bella nggak aktif di ff, itu semua gara-gara banyak tugas menumpuk *tangisan seorang pelajar* dan lagi akun ff Bella dibajak sama seseorang, dan ternyata seseorang itu teman Bella sendiri. Untung saja itu teman Bella, kalau orang asing mungkin Bella sudah nggak pakek akun ini lagi san buat akun baru lagi.
Jeffrey simanjuntak inversy : Tenang saja, Bella-chan juga benci sama yang namanya Flay. Apalagi di Gundam Seed, benci abis. Tapi tenang saja, aku pastikan disini Lacus dan Kira bakal bersatu seperti di Gundam Seed Destiny ya.
Aeni hibiki : Salam kenal juga aeni-chan *maaf kalau salah panggil*, iya nih sudah update. Maaf kalau lama updatenya.
Minami Kururu : Wah kalau update kilat, Bella-chan nggak janji. Itu tergantung tugas apakah menumpuk atau tidak sama mood-nya Bella sendiri. Tapi bakal dilanjutin terus deh, jadi mohon ditunggu dengan sabar ya.
Setsuko Mizuka : Wah Bella benar-benar minta maaf kalau masih ada typo yang luput dari editan Bella. Hmm… bikin Kira cemburu, mungkin bakal Bella tampilin pada chapter selanjutnya. Bella ikutan dong *ngibarin bendera Kirakusu* hehehehe. Memang dasar Cagalli, awas saja kalau nanti benci jadi cinta. Lho Bella kan yang bikin ceritanya. Jadi bingung sendiri *garuk-garuk kepala*.
Title : Catch Your Love
Chapter 4 : Salah Paham
Disclaimer : Gundam Seed Destiny © Sunrise, Bandai
~Catch Your Love~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort ; Friendship
Pairing : RaCus slight AsuCaga
Warning : AU, OOC, Abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
A/N : Bukan fanfic pertama sih, meski demikian pasti banyak kekurangan.
Jadi mohon bimbingannya apabila ada kesalahan kata atau kalimat
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Catch Your Love~
Normal POV
"Kira, jalannya cepat sedikit dong, lelet amat," ucap Cagalli pada Kira yang ada di belakangnya.
"Egh masalahnya bukan aku yang jalannya lelet, tapi kamu yang jalannya kecepetan," sewot Kira.
"Hehehe maaf-maaf, habisnya aku terlalu semangat di hari pertamaku masuk sekolah disini," ujar Cagalli sambil garuk-garuk kepala.
"Dasar," ujar Kira geleng-geleng.
BRUGH
"Cagalli, baru dibilangin jalannya pelan-pelan saja malah sudah nabrak orang," ujar Kira sambil membantu Cagalli berdiri tanpa memperhatikan orang yang ditabrak Cagalli..
"Kau tak apa-apa Lacus," ucap Athrun seraya membantu Lacus berdiri juga.
"Aku tak apa-apa," ucap Lacus sambil mengusap-usap rok seragamnya yang kotor.
"Hei, kalau jalan liat-liat dong, hah kau kan yang kemarin," ucap Cagalli kaget.
"Ya ampun, jadi yang nabrak tadi kamu. Kemarin sudah nabrak aku sewaktu di bandara, sekarang nabrak temanku lagi. Sebenarnya mata kamu taruh dimana sih," ujar Athrun kelihatan kesal.
"Heh, kemarin yang nabrak itu kamu, dan sekarang yang nabrak itu bukan aku tapi teman kamu ini," ujar Cagalli sambil menunjuk ke arah Lacus.
"Sudah tau nabrak malah-" sebelum Athrun menyelesaikan perkataannya sudah dulu dipotong oleh Lacus.
"Sudahlah Athrun, aku tak apa-apa," ujar Lacus menenangkan Athrun.
"Kamu kan," ucap Lacus begitu melihat wajah Cagalli.
"Lacus, kenapa kau bisa jalan sama Athrun dan kenapa kamu disini Athrun?" tanya Kira pada Lacus dan Athrun.
"Egh," ucap Lacus dan Athrun serempak lalu saling berpandangan satu sama lain.
"Kira, kamu kenal sama Athrun?" tanya Lacus.
Kira hanya menganggukkan kepala lalu gantian bertanya, "Athrun, kau kenal sama Cagalli ya?"
"Heh Cagalli?" ujar Lacus dan Athrun bingung.
"Iya, dia ini Cagalli, adikku," ujar Kira sambil merangkul Cagalli.
"HAH ADIK KATAMU!" pekik Lacus dan Athrun kaget.
"Egh aku ini bukan adikmu, tenggang waktu kita lahir cuma 3 menit. Jadi jangan panggil aku adik," ujar Cagalli kelihatan kesal ketika dipanggil adik oleh Kira.
'Pantas saja wajah cewek ini mirip sama seseorang, rupanya dia saudara kembarnya Kira ya,' pikir Athrun.
'Ya ampun, jadi selama ini aku salah paham dong mengenai hubungan cewek ini dengan Kira, tapi syukurlah ternyata mereka saudara,' batin Lacus lega.
"Berhubung kebetulan kita ketemu disini, aku mau minta koperku dikembalikan," ujar Athrun pada Cagalli.
"Hah koper," ucap Cagalli bingung.
Tiba-tiba saja Cagalli teringat sesuatu.
'Mati aku, gara-gara omongan Kira. Aku benerang ketemu sama dia lagi, duh gimana nih masak aku harus mengaku kalau dia jodohku dan kencan dengannya. Amit-amit deh,' batin Cagalli sambil geleng-geleng.
'Apa! Jadi cowok yang kopernya tertukar dengan Cagalli itu Athrun, wah berita bagus ini. Akan kupastikan Cagalli bakal jalanin janjinya itu, hehehehe,' batin Kira sambil senyam-senyum sendiri.
Lacus dan Athrun yang melihat tingkah mereka berdua hanya bisa sweatdrop saja.
'Mereka kenapa, sudah gila ya,' batin Lacus dan Athrun.
"Woi, jangan-jangan kau lupa mengenai kopernya ya," ujar Athrun.
"Enak saja, aku masih ingat tau. Seandainya kau tidak salah mengambil koperku, koper kita nggak bakal ketuker," ujar Cagalli kesal.
'dan aku juga nggak bakal bikin perjanjian dengan Kira,' lanjutnya dalam hati.
"Kau lupa ya, kau duluan yang salah mengambil koper orang," ucap Athrun sinis.
"Apa kau bilang!" ujar Cagalli tak terima.
'Hanya perasaanku atau tidak ya, mereka terlihat cocok,' batin Lacus yang sedari tadi menjadi penonton setia.
Tet tet tet…
'Wah bagus sudah bel, baiklah aku bakal lancarkan strategi pemanasan terlebih dahulu,' batin Kira.
"Hmm Cagalli, behubung sudah bel, aku mau ke kelas dulu ya," ujar Kira.
"Hah terus aku gimana ke kantornya," ujar Cagalli bingung.
"Kan ada Athrun, kalian kan bisa pergi sama-sama ke kantor," jelas Kira.
"Apa!" pekik Cagalli.
"Oh iya kalau begitu aku juga mau langsung ke kelas saja, tak apa kan kalau aku tinggal Athrun?" tanya Lacus.
"Eh i-iya," ucap Athrun bingung.
"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu nanti," ujar Lacus yang setelah itu langsung pergi bersama Kira.
"Apa-apaan mereka itu," ujar Cagalli kesal.
"Hei nona, kau mau disini ngomel-ngomel nggak jelas atau ikut aku pergi ke kantor," ujar Athrun yang sudah pergi duluan.
"Hei tunggu aku," ujar Cagalli sambil berusaha mengejar Athrun sambil menggerutu.
"Hehehehe mereka benar-benar pasangan yang cocok."
"Iya, aku setuju dengan pendapatmu."
Rupanya sedari tadi Lacus dan Kira tidak pergi menuju ke kelas mereka, tapi mereka malah mengintip Cagalli dan Athrun.
"Kira," panggil Lacus.
"Hmm…, ada apa?" tanya Kira.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku," ujar Lacus.
Awalnya Kira bingung apa yang dimaksud oleh Lacus, namun akhirnya ia mengerti.
"Kau juga," ujar Kira seraya tersenyum.
"Sebaiknya kita bergegas ke kelas kalau tidak mau kena hukuman," ujar Kira seraya menggandeng tangan Lacus.
Sontak Lacus kaget melihat tangannya digenggam oleh Kira. Perlahan-lahan senyum mengembang di wajah cantiknya.
'Aku harap, aku dan Kira bisa bersama seperti ini terus selamanya.'
~Catch Your Love~
"Ohh jadi Cagalli sejak kecil itu sudah dititipkan sama neneknya. Pantas saja aku tidak tahu," ujar Lacus mangut-mangut.
"Sekarang giliranku, kenapa kau bisa kenal dengan Athrun?" tanya Kira sambil menopang dagunya di meja.
"Hah Athrun, oh dia itu anaknya sahabat orang tuaku sewaktu keluargaku masih tinggal di London. Kebetulan aku juga mengenal dekat dengannya," jelas Lacus.
"Lalu kau sendiri, kenapa kau bisa kenal dengan Athrun?" tanya Lacus penasaran.
"Ohh aku kenal sama Athrun gara-gara kami banyak bertemu sewaktu lomba di tingkat internasional. Jadinya ya otomatis aku kenal deh sama Athrun," terang Kira.
"Ternyata dunia ini sempit ya," ujar Lacus.
"Iya," jawab Kira menyetujui.
"Sssstttt, sensei datang," bisik Dearka dari depan kelas.
Sontak semua murid langsung kembali ke bangkunya masing-masing. Begitu pun dengan Kira dan Lacus yang langsung membentulkan posisi duduknya.
"Selamat pagi anak-anak," ujar Ramius-sensei.
"Paaaaagiiiiiiiiii, bu guuuruuu," ujar semua murid serempak, tidak lupa dengan gaya leletnya yang khas.
Ramius-sensei cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah murid-muridnya ini.
"Baiklah hari ini kita kedatangan murid baru," ujar Ramius-sensei.
"Hah, murid baru di kelas 3 begini," ujar Nicol tak percaya.
"Kira-kira cowok atau cewek ya," ucap Stellar penasaran.
"Wah kelas kita tambah rame dong," ujar Dearka senang.
Yzak yang duduk di samping Dearka cuma menyahut, "Awas saja kalau kelas kita jadi tambah susah diatur."
Dearka hanya tertawa mendengar omelan sahabatnya yang kebetulan merangkap menjadi ketua kelas di kelas ini.
Begitulah desas-desus para murid yang meributkan soal murid baru. Lacus dan Kira sendiri hanya diam saja, sesekali mereka tersenyum mendengar bisik-bisikan teman-temannya.
"Tenang saja, kelas kita kedatangan dua orang murid baru kok yang satu cewek dan yang satu cowok," terang Ramius-sensei seraya tersenyum.
"Wah semoga orangnya ganteng," ucap Fllay berharap.
"Yah nambah saingan nih," seru Auel.
"Aku nggak peduli soal murid baru, yang aku peduliin kapan pelajarannya dimulai," ujar Sting dengan nada kesal.
"Ssttt kalau bicara jangan keras-keras dong, ganggu orang tidur saja," ujar Shinn yang setelah itu langsung melanjutkan tidurnya.
Teman-temannya yang melihatnya cuma bisa sweatdrop.
'Berani amat nih anak tidur terang-terangan waktu ada guru di depan,' pikir mereka.
"Hmm hmm, Shinn bisakah kau pusatkan perhatianmu sebentar disini, nanti Ibu sediakan waktu untuk kamu bisa tidur pulas," ujar Ramius-sensei seraya tersenyum.
Shinn pun langsung menganggukkan kepalannya dan langsung berusaha untuk memaksakan matanya agar tetap terbuka.
'Ramius-sensei memang baik hati, beruntung kita dapat wali murid seperti dia,' batin semua murid di kelas ini.
BRAK
Sontak semua orang yang ada di dalam kelas langsung menoleh ke arah pintu. Rupanya gadis berambut piranglah yang sudah membuka pintu dengan sedikit kekerasan.
"Sensei, saya sudah capek berdiri terus di depan kelas," ujar Cagalli sedikit kesal.
'Berani amat nih murid sama guru,' batin Dearka.
'Kayaknya biang rusuh di kelas ini bakal bertambah,' batin Yzak sambil menghela napas.
'Ya ampun, Cagalli. Hari pertama masuk sekolah sudah bikin masalah,' batin Kira tak habis pikir.
Dan beruntung Ramius-sensei adalah guru baik hati sedunia akhirat ini. Jadinya Cagalli tak perlu dikutuk menjadi batu gara-gara durhaka sama orang tua.
"Maafkan saya, baiklah anak-anak ini dia murid barunya dan satu lagi… hei, kamu bisa masuk sekarang," ujar Ramius-sensei ke arah pintu.
Dan masuklah sosok seorang cowok dengan rambut berwarna dark-blue dan beririskan emerald. Yang langsung membuat seluruh cewek yang ada di kelas kecuali Lacus, Ramius-sensei, dan tentunya Cagalli melotot saking kagumnya.
"Baiklah ini dia murid barunya, baiklah sekarang kalian perkenalkan diri kalian masing-masing," ujar Ramius-sensei ramah.
"Nama Cagalli Hibiki, pindahan dari Amerika. Salam kenal," ujar Cagalli singkat dan padat.
Semua mata langsung menoleh ke arah Kira. Yang diliatin cuma tersenyum.
"Mungkin kalian sudah sadar, Cagalli ini saudara kembarnya Kira. Jadi jangan macam-macam ya sama dia," ujar Ramius-sensei seraya tersenyum.
Semua murid langsung menganggukkan kepalanya, "Iya, sensei."
Sekarang giliran Athrun yang memperkenalkan diri, "Perkenalkan nama saya Athrun Zala, pindahan dari Inggris. Salam kenal semuanya."
"Iya, salam kenal juga," ujar murid-murid cewek minus Lacus, Ramius-sensei, dan Cagalli serempak.
"Huh, mereka kayak paduan suara saja," ucap Auel sedikit kesal, mungkin iri sama Athrun kali.
"Baiklah sekarang kalian duduk di," ujar Ramius-sensei sambil mengedarkan pandangannya.
"Kalian duduk di bangku di belakang Kira dan Lacus," lanjut Ramius-sensei seraya menunjuk bangku yang dimaksud.
Cagalli langsung ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan Athrun di depan.
"Kalau begitu terima kasih sensei," ujar Athrun sambil membungkukkan badan.
Setelah berkata seperti itu, Athrun langsung menuju ke bangkunya.
'Benar-benar, murid durhaka,' batin Dearka.
'Untung saja, yang satunya lagi bukan tipe orang yang bikin onar,' batin Yzak lega.
Akhirnya Cagalli memilih duduk di belakang saudara kembarnya sendiri, Kira. Dan Athrun otomatis duduk di belakang Lacus. Athrun sih senang-senang saja duduk di belakang Lacus, tapi ia tidak suka harus duduk di samping Cagalli, begitu pun sebaliknya.
'Kayaknya kehidupan menyenangkan di sekolah baruku sirna sudah,' batin Athrun sok puitis.
'Cih, kenapa juga aku harus duduk di sebelahnya,' batin Cagalli kesal.
'Kayaknya mulai sekarang, aku nggak bisa belajar dengan tenang lagi di sekolah kalau mereka berdua ada di belakangku,' batin Kira.
'Aku harap, mereka tidak bertengkar seperti tadi pagi, kalau iya itu pasti akan menganggu sekali,' pikir Lacus.
"Baiklah anak-anak, sebelum saya mulai pelajarannya. Saya mau memberitahukan suatu pengumuman, kalian pasti sudah tahu kan minggu depan akan diadakan festival olahraga," terang Ramius-sensei.
"Tau, sensei," jawab semua murid lagi-lagi serempak.
"Seperti tahun-tahun sebelumnya, kelas kita akan dibagi 4 tim yaitu tim merah, tim biru, tim hijau, dan tim kuning," jelas Ramius-sensei.
"Nah untuk itu saya minta kalian maju satu persatu untuk mengambil bola yang ada di dalam kotak ini," lanjut Ramius-sensei sambil menunjuk kotak yang ada di atas meja guru.
"Warna bola yang nanti kalian ambil, itulah tim kalian. Kalian sudah mengerti kan," ujar Ramius-sensei.
"Mengerti, sensei," lagi-lagi semua murid menjawab dengan serempak.
"Kalau begitu, nama yang ibu panggil harap maju ke depan dan mengambil bola di dalam kotak ini," ujar Ramius-sensei seraya mengambil daftar absensi.
Skip Time
"Lacus, kamu dapat bola warna apa?" tanya Kira.
"Merah," jawab Lacus.
"Wah, kita berbeda tim lagi," ujar Kira.
"Memangnya, kamu masuk tim mana?" sekarang giliran Lacus yang bertanya.
"Biru, baiklah aku bakal membalaskan kekalahanku di festifal olahraga tahun kemarin," ujar Kira bersemangat.
"Coba saja kalau kau bisa," ujar Lacus sambil menjulurkan lidahnya.
'Hah, padahal aku berharap di festival olahraga terakhirku, aku setim dengan Kira,' desah Lacus.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Kira bingung.
Lacus pun langsung menoleh ke arah dua makhluk yang duduk di belakangnya.
"Hei, kalian berdua kenapa sih?" tanya Kira lagi.
"Hijau, aku dapat bola berwarna hijau," ujar Cagalli tak percaya.
"Memangnya kenapa, kalau dapat hijau?" tanya Kira lagi-lagi dibuat bingung.
"Itu berarti aku harus setim dengannya dong," ujar Cagalli sambil menunjuk-nunjuk ke arah Athrun.
"Memang kenapa kalau satu tim dengan Athrun?" tanya Lacus.
"Karena aku nggak mau satu tim dengannya," ujar Cagalli kesal.
"Kayak aku mau saja satu tim denganmu," ucap Athrun.
Cagalli hanya mendelik kesal ke arah Athrun.
~Catch Your Love~
Kira POV
Aku hanya bisa sweatdrop melihat Cagalli ngomel-ngomel nggak jelas.
"Cagalli, bisakah kau diam, malu tau diliatin orang," ujarku sambil menunjuk orang-orang yang sedang memperhatikan Cagalli dengan tatapan bingung.
"Aku nggak peduli, pokoknya aku kesal hari ini," omel Cagalli.
"Hahahaha, sudahlah Cagalli terima saja kalau kau memang sudah ditakdirkan berjodoh dengan Athrun. Buktinya kau satu tim dengannya kan," ujarku sambil menepuk-nepuk punggung Cagalli.
Cagalli langsung men-death glare kepadaku. Namun, aku hanya senyum-senyum saja melihatnya. Mungkin sudah kebal kali ya.
"Oh iya, jangan lupa dengan janjimu lho," ujarku mengingatkan tentang perjanjiann dulu yang kubuat dengan Cagalli.
"Hah, ogah agh. Kau juga malah jodoh-jodohkan saudaranya sendiri dengan orang lain," ujar Cagalli kesal.
"Yah kalau orang lainnya itu Athrun, malah langsung aku restui," ujarku yang sukses mendapat jitakan dari Cagalli.
"Aduh, sakit tau. Gimana, kau bakal jalanin perjanjiannya kan. Ingat janji adalah utang," ujarku berusaha terlihat bijak.
"Iya ya bakal aku lakuin, tapi dengan satu syarat," ucap Cagalli.
"Mana ada gitu, perjanjiannya dulu nggak pakek persyaratan segala," ujarku tidak terima.
"Kalau begitu aku nggak bakal jalanin perjanjiannya itu, masalah selesai," ujar Cagalli puas.
"Egh iya ya, syaratnya apa?" ujarku yang akhirnya mengalah.
Sontak Cagalli berpikir, setelah beberapa saat ia berkata, "Oke aku nggak bakal jalanin perjanjiannya, kalau festival sekolah nanti timku menang."
"Apa! Mana ada persyaratan begitu," ujarku memprotes.
"Kau tidak mau, ya sudah," ucap Cagalli cuek.
"Iya ya, baiklah tapi ingat kalau timku menang kamu bakal jalanin perjanjiannya itu, aku tegaskan lagi perjanjian itu," ujarku sambil memberi sedikit penekanan.
"Iya ya, kali ini aku benar-benar janji," ucap Cagalli.
"Baiklah, aku pegang omonganmu tadi," ucapku.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang tanpa Lacus dan Athrun. Tadinya aku sudah mengajak mereka, tapi Lacus bilang kalau dia akan makan siang bersama Athrun.
'Hah, kayaknya festival olahraga nanti bakal jadi pertandingan yang sulit untukku,' batinku dalam hati.
.
.
To Be Continued
.
.
Please Review
