Baiklah, seperti biasa sbelum dimulei, saya akan mengumumkan para OC yang turut bermain dalam babak ini:

- Haruki, kunoichi asal Konoha,

- Kosuke Maeda, shinobi asal Konoha,

- Manime, seorang cewek asal Konoha,

- Dilia Shiraishi, kunoichi asal Suna,

- Kanata-chan, kunoichi asal Suna,

- Kakkoii Luvshika, kunoichi asal Suna,

- Chika Nagato, kunoichi asal Otogakure,

- Furuki, shinobi asal Otogakure, dan

- Nakamura Hyuuzu, pemilik penginapan.


Chapter III

-The Cherry Chasers-

"Nona Tsunade!" Shizune dengan terburu-buru masuk ke dalam ruangan Tsunade tanpa menghiraukan tiga orang yang sudah berdiri di tempat itu. Setelah memberikan selembar kertas yang dibawanya pada Tsunade, dia menatap pemuda berambut pirang jabrik di dalam ruangan itu sepintas.

"Ada apa?" tanya Naruto curiga melihat Tsunade mengerutkan dahinya dengan tegang saat membaca pesan di dalam kertas.

"Sakura, belum sampai ke Suna" suara Tsunade yang lirih terdengar cemas.

"Sakura?! Bukankah dia sudah pergi lima hari yang lalu?!" tanya salah seorang gadis bersweater kedodoran di samping Naruto.

"Sudah kuduga akan terjadi sesuatu" gumam Naruto, semua hanya menatap Naruto dengan sedih.

"Kalau begitu, Hokage-sama! Tolong beri kami perintah untuk mengejar Sakura" saran suara datar shinobi yang masih terlihat tenang dalam ruangan itu.

"Tidak bisa Kosuke. Aku sudah memasukkanmu dalam tugas berikutnya" tolak Tsunade tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari selembar kertas di hadapannya.

"Kalau begitu biar aku pergi sendiri mencari Sakura. Aku sedang bebas tugas"

"Aku ikut!" tambah Haruki spontan saat mendengar permintaan Naruto.

"Tidak. Aku akan mencarinya sendiri. Nenek Tsunade!" sergah Naruto sebelum Haruki mulai protes. Tsunade menatap Naruto yang terlihat ngotot. Tidak akan ada gunanya menolak permintaannya, lagi pula memang harus ada yang diutus untuk mencari Sakura.

"Hmm… Baiklah," Tsunade menghela nafas dengan berat "Kau akan memerlukan bantuan seseorang untuk mengejar Sakura."

"Kiba dan Neji saat ini sedang bebas tugas" Shizune menyarankan dan diikuti tatapan mantap dari Naruto.

"Bagus!" sambut Naruto bersemangat.

00000000000000000

"N…Naruto..kun.. A…ada…apa?" gadis berambut panjang berwarna ungu gelap menyambut Naruto dengan gugup di depan pintu.

"Hinata! Mana Neji? Tolong panggilkan dia!" serbu Naruto setengah panik membuat Hinata juga ikut panik.

"E…Ehh…. Ne..Neji-nii san pergi bersama Manime"

"HAAAH??!! Ke mana?!"

"E…Entahlah… mereka pergi jalan-jalan"

"APAA??!! Bisa-bisanya dia kencan di saat seperti ini!!!" teriak Naruto frustasi.

"Eh? A….Ada apa, Naruto-kun?"

"Sakura hilang. Nenek Tsunade menyuruhku membawa Neji dan Kiba untuk mencarinya. Oke Hinata aku akan mencarinya, tolong beritahukan padanya kalau dia pulang ya!" teriak Naruto sambil berlari dan melambaikan tangannya pada Hinata yang sudah terlihat cemas. Naruto sama sekali lupa Hinata bisa dengan mudah menemukan dua orang yang dicarinya.

Akhirnya setelah berputar-putar desa dan bertanya pada hampir setengah penduduk Konohagakure, Naruto menemukan salah satu yang dicarinya.

"OI! NEJI!" Naruto dengan bersemangat menunjuk pemuda berambut coklat lumpur panjang yang sedang duduk di sebuah kedai dango dan mengobrol dengan seorang gadis berekor kuda coklat.

"E…EAAAH!!!!" sambut si gadis itu, "Kau kenapa sih Naruto?!" tambah si gadis jengkel sambil mengacungkan tusukan dango pada Naruto. Rupanya sebutir dango terakhirnya terjatuh saat Naruto berteriak tadi.

"Haah… Sudahlah Manime. Kau boleh makan bagianku" tawar Neji menyodorkan piring berisi dangonya pada gadis di hadapannya seolah tidak mempedulikan Naruto yang mendatanginya dengan emosi.

"Hh.. Ada apa Naruto?" sambutnya kemudian.

"Ayo ikut! Kita harus mencari Kiba, Nenek Tsunade memanggil."

"Heeeh……. Sebentar lagi lah. Jarang-jarang kami bisa jalan-jalan begini. Sana! Sana!" Manime dengan santai mengunyah dangonya dan melambaikan tangan mengusir Naruto.

"HAH! Tidak ada waktu untuk kencan! Sakura hilang! Kita harus cepat-cepat mencarinya!"

"He?" sambut kedua orang. Kemudian Neji berlari mencari Kiba bersama Naruto setelah menggumamkan maaf pada Manime dan meninggalkannya mengunyah dango-dangonya dengan cemberut.

00000000000000000

"Sai-kuuun!"

"Oi Sai-kuuun!!!"

Dua orang kunoichi tampak berdiri di depan apartemen bertingkat dua dan menggendor-gedor sebuah pintu dengan tidak sabar.

"Mungkin dia tidur" komentar salah satu kunoichi berambut merah panjang yang dengan santai hanya bersandar di dinding sambil mencubit-cubit teddy bear dalam pelukannya dengan bosan dan membiarkan rekannya sibuk menggedor pintu.

"Oi Sai-kuuuun!!!!" seorang lagi kunoichi dengan rambut ungu panjang tidak berhenti menggedor pintu terus memanggil penghuninya.

"BERISIK!!!" sebuah pintu lain menjeblak terbuka menampilkan seorang gadis dengan rambut coklat pendek berantakan dan tampak mengantuk.

"E…e…. Kakkoii-chan! Kau sedang tidur siang ya?" si cewek rambut ungu tiba-tiba berhenti menggedor pintu dan dengan takut menatap Kakkoii yang menatapnya tajam dengan mata sipitnya.

"Kalau kalian mencari Sai-kun, dia sudah pergi dari tadi pagi dengan Temari-senpai" Kakkoii memberi informasi masih dengan menatap tajam dua orang yang mengacaukan jam tidur siangnya.

"Oke! Kalau begitu terima kasih Kakkoii-chan! Maaf kami sudah mengganggu tidur siangmu, silakan dilanjutkan. Kami permisi duluu… Ayo Kanata-chan!" dengan pamitan yang sepertinya berkenan di hati Kakkoii, si kunoichi berambut merah menyeret temannya pergi sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.

"Ooi..Dilia! Apa-apaan sih? Kita kan bisa tanya mereka ke mana" protes Kanata sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman maut rekannya.

"Misi kita sama sekali belum mulai, aku tidak bisa membiarkanmu mati sia-sia. Kau seperti tidak tahu saja anak itu kalau tidur siangnya terganggu" jelas Dilia tetap menolak melepaskan tangannya dari partnernya.

"Oh, iya. Kalau Sai sudah pergi dengan Temari, berarti dia sudah mulai pencariannya duluan kan?! Dasar curang! Apanya yang disebut tim? Mentang-mentang dia personil anbu terus bisa mulai penyelidikan tanpa anggota lengkap gitu ya?! Dasar! Lihat saja nanti, kalau aku.. hmmmphh…..HUEKK!!! Kau apa-apaan sih???!!" Kanata mengamuk saat Dilia membungkam mulutnya dengan benda berbulu di tangannya. Sebelum Kanata mulai mencerca dengan membabi buta, dia langsung menutup mulutnya sendiri begitu mengikuti jari telunjuk Dilia yang mengarah ke pintu apartemen Kakkoii.

00000000000000000

Sakura membuka matanya setelah meregangkan bahunya dengan malas. Pagi itu udara cukup dingin dan dia masih ingin bergelung di tempatnya yang hangat.

"Walaupun aku tidak pernah melihatmu atau mendengarmu, anehnya aku selalu bisa merasakanmu. Tiba-tiba aku melihatmu di hadapanku dan mendengarmu berbicara, aku tidak bisa mengabaikanmu begitu saja." kata-kata Sasuke terus saja terdengar berulang-ulang di kepala Sakura membuatnya tidak bisa menghilangkan senyuman samar di ujung bibirnya sejak dia membuka matanya pagi itu.

"Apa hari ini kau akan pulang?" suara Sasuke terdengar setengah berbisik menyadarkan Sakura. Sakura menggeser kepalanya di lengan Sasuke dan menatap Sasuke. Dia tidak pernah bercerita akan pergi ke Suna. Misi dari desa masih merupakan misi rahasia bagi orang luar dan merahasiakannya dari Sasuke juga salah satu yang harus dilakukannya. Sakura kemudian hanya tersenyum dan memeluknya.

"Umm…" gumamnya malas-malasan.

"Kau tidak mungkin menungguiku di sini terus. Hokage tidak akan membiarkan murid kesayangannya hilang tanpa kabar, aku tidak akan tenang kalau ada sepasukan anbu yang mencari-carimu" walaupun terkesan cemas, tetapi tidak ada nada cemas sedikitpun dari suara Sasuke. Dia hanya mengatakannya dengan ringan.

"Aku pernah bilang akan mengikutimu kemanapun kau pergi," gumam Sakura. Sebentar kemudian bayangan Tsunade yang cemas kemudian Naruto dan Kakashi, belum Gaara juga akan mencemaskan keberadaannya, mungkin memang akan gawat. Apalagi kalau Gaara benar-benar mengutus Kankurou datang menjemputnya.

"Kita akan bertemu lagi" jawab Sasuke sambil menarik bahu Sakura dan mengecup kepalanya.

00000000000000000

Chika menahan dagunya dengan tangannya di bingkai jendela. Dia menatap dua orang yang sedang berdiri di depan pintu penginapan.

"Che! Bisa-bisanya dia mencari perempuan saat kita sibuk begini!" gerutunya sebal saat melihat dua orang di bawah sana berpelukan, kemudian salah satunya yang terlihat berwarna pink pergi meninggalkan penginapan sementara satunya lagi yang tampak hitam kebiruan hanya berdiri menatapnya pergi.

"Kalau kau mau aku bisa menyerang laki-laki yang lewat dan kau bisa berpura-pura menyelamatkannya," sambut Furuki datar sambil tetap sibuk dengan kegiatannya. Chika beralih menatapnya saat merasakan cahaya memantul mengenai matanya.

"He?"

"Kalau kau tidak yakin dengan pilihanku, kau bisa memilih korbannya sendiri" sambung Furuki masih sibuk mengusap benda berkilat di tangannya.

"Bukan itu masalahnya! Haaaaah… Kalian ini, apa semua laki-laki itu oke-oke saja kalau perempuannya cantik?!" Chika dengan sebal hanya melipat tangannya mengalihkan matanya dari mata sabit sebesar lengannya yang sedang dibersihkan Furuki.

"Hmm… Akhirnya kau mengakui juga ya kalau gadis itu cantik?" Furuki hanya tersenyum menatap rekannya yang sudah mulai terlihat makin sebal. Kemudian setelah puas dengan pekerjaannya, Furuki melipat ujung sabitnya.

Cringk!

"Hoooi!!!" Chika setengah berteriak padanya "Apa-apaan kau?! Jangan diarahkan ke sini!," dengan jengkel Chika bergeser mundur saat Furuki mencoba membuka lipatan ujung sabitnya dengan sekali sentakan.

"Maaf. Pemeriksaan rutin itu kan penting" katanya sambil menahan senyum dan melipat kembali ujung sabitnya, membuatnya kembali membentuk huruf J. Chika hanya menghela nafas. Dia masih tidak habis pikir dengan shinobi macam Furuki yang suka membawa-bawa senjata sebesar itu. Apa tidak repot?! Memang daya hancurnya lebih efektif sih, tetapi tetap saja tidak praktis. Lagipula dalam misi penyusupan mereka, bukankah benda seperti itu hanya mengganggu?!

00000000000000000

"Dia berangkat sudah lima hari yang lalu kan?!" di atas punggung seekor anjing putih berukuran raksasa, pemuda berpakaian hitam-hitam bertanya pada Naruto yang mengikutinya melompati pepohonan di belakangnya. Dia sudah tahu, tetapi hanya ingin memastikan.

"Kenapa? Apa kau sama sekali tidak bisa mencium apapun?!" seorang lagi diantara mereka menatap Kiba dan Akamaru bergantian dengan alis berkerut khawatir.

"Tidak. Hanya saja, baunya terlalu kuat kalau memang sudah ditinggalkan lebih dari dua hari"

"Maksudmu, dia baru saja dari sini?" tanya Naruto heran.

"Ya. Heh!", Kiba tiba-tiba berhenti membuat yang lain penasaran.

"Ada apa?" Tanya yang lain cemas. Kiba menutup matanya dan memutar kepalanya mengendus udara. Kemudian tangannya mengusap kepala akamaru yang menyambutnya dengan gonggongan.

"Sampai di sini aku bisa mencium baunya ke arah barat daya*. Tetapi bau ini berasal dari arah selatan" Kiba menatap kedua rekannya bergantian. Neji menutup matanya sebentar kemudian dengan byakugan-nya dia mulai menjelajah tempat itu.

"Sejauh yang kulihat, aku tidak bisa menemukan Sakura. Tetapi ada sebuah desa di dekat sini"

Neji dan Kiba mulai melesat ke arah barat daya mengejar bau Sakura sedangkan Naruto pergi ke arah Selatan yang ditunjukkan Kiba dan Neji. Kurang dari lima kilometer, Naruto menemukan sebuah desa yang cukup ramai. Sebuah bangunan bertingkat tiga dan papan bertuliskan 'Nakamura' di atas sebuah logo penginapan menarik Naruto.

"Selamat datang! Ada yang bisa dibantu? Kami menyediakan kamar yang nyaman untuk anda beristirahat, makanan lezat di restoran kecil kami dan pemandian air panas yang membantu melepaskan keletihan anda selama perjalanan" suara ceria milik seorang gadis berkepang dua yang kelihatan seumuran dengan Naruto menyambutnya dari sebuah meja resepsionis saat Naruto masuk ke dalam bangunan itu.

"E…eh.." jawab Naruto.

"Saya Nakamura Hyuuzu pemilik penginapan ini. Saya adalah generasi ke-5 keluarga Nakamura yang mengelola tempat ini. Yang spesial dari penginapan kami ini adalah…" lanjut gadis bernama Hyuuzu masih dengan bersemangat menceritakan sejarah penginapan Nakamura.

"Aaah…Tuan! Apakah anda berniat menyusul kekasih anda yang pergi tadi pagi?" tanyanya tiba-tiba tidak ada hubungannya dengan Naruto. Naruto mengalihkan pandangannya pada si 'tuan' yang disambut Hyuuzu. Naruto hanya bisa menatap laki-laki berbaju putih dan kulit putih yang kontras dengan warna mata dan rambutnya yang hitam dengan terkejut, begitu juga si 'tuan' di hadapannya.

"Naruto!"

"Sasuke!"

"Aaaah….Apakah ini si tuan tanah yang anda ceritakan?" Hyuuzu menginterupsi pertemuan di hadapannya dengan bersemangat.

"Ada apa Sasuke?" suara lain terdengar di belakang Sasuke. Naruto menatap laki-laki yang berdiri di belakang Sasuke. Tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dari Sasuke tetapi senjata yang terikat di punggungnya membuatnya kelihatan jauh lebih besar dari Sasuke. Mata Naruto terhenti pada benda keperakan di dahi laki-laki itu.

"Otogakure?"

TuBiContinud


*: Secara geografis, letak Sunagakure ada di sebelah barat daya Konohagakure. Dan di antara kedua negara ini terdapat sebuah desa. Anggaplah desanya ada di sebelah barat Konohagakure.

Baiklaaaah, waktunya njawab ripiwan :D

Hanaruki: Hiyaaaah…. Emang rada lama nih gara-gara terlalu sibuk. Udah tau kan skarang tujuan Sasu pake 'nyulik' saku sgala :D. Kalo aku jadi Saku, mungkin aku juga bakalan ngikutin Sasu lahh…. :D

Kakkoii-chan: Sasu maunya apaan udah ketauan kan..:D. Ternyata eh ternyata^^. GaaSaku??!! Hehe…liyat aja nanti. Aih, ada tuh muncul. Gimana??!!

Hyuuzu-chan: Uda muncul tuh! Kujadiin bos penginepan tempat Sasuke endegeng nginep. Gimana performansnya??!! :D

Furukara Kyu: Furu udah muncul lagi tuh! Gimana? Udah puas tentang keterangan kenapa badan Furu bisa keliatan tinggi besar??!! :D. Kukasih senjata sabit raksasa yang bisa dilipat ujungnya (senjata favoritku tuh). Tapi apaan tuh artinya naik VICtion??!! Nggak nyambung ^^

Kosuke Maeda: Muncul tuh. Walopun cuman bentar :D. Anooo….mary-sue/gary-stu apaan sehh??!! Ah! Secara Brook itukan uda tinggal tulang! Gimana mungkin dia yang nggak punya bibir pa lidah pa pita suara bisa ngomong! (nggak nyambung)

Chika Nagato Hoshiyama: Uwoooh!!! Akirnya log in juga! (nyalamin Chika). Chapternya pendek-pendek yaah??!! Padahal aku slalu ngrasa chapter-chapterku kadang agak kepanjangan. Osh! Makasih koreksinya! Akan saya perhatikan lagi penulisan saya. OCnya kayaknya bakalan muncul terus nih! Jadi ngiri…

Sweet Cake without 'sugar': Apah??!! Sasu genit??! Ah, blom! Dia masih blom nunjukin jurus yang diajarin Orochi-pyon si genit sejati..*diinjek Oro-pyon*

Shirayuki Haruna: Ya iyalahh… Sasuke kan juga manusia :D

Hiwatari Nana-chan.7ven: Oi! Oi! Mananya yang keren??!! Muncul Nana-nya pa ceritanya nih??!! Walah… Sai bukan punya siapa-siapa. Tolong jangan diklaim bwat sndiri kalo nggak mau digebukin cewek-cewek se-Suna :D

Dilia Shiraishi: Wah..! Wah..! Sasu baek dimananya??!! Nih, kali ini ikutan nampang. En, sankyuu koreksinya :D

Uchiha Yuki-chan: Hehe… pasrah gitu. Tenang aja. Kankurou udah pro kok. Dia nggak perlu bantuan orang laen bwat ngerias wajahnya :D. Nih Narutonya banyak. Puas??!!

Sabaku no Panda-kun: Hweh! Pendek yah? Yawdahlah! Ni uda kupanjangin. Yang nimpa sakura di jalan…. Gag mungkin chouji lah, bisa-bisa langsung tamad nih fic, kan saku keburu tewas..*ditendang chouji*

Azure Azalea: Ya iyalah baru liyat! Emang senpai kemana aja?! Nggak bisa ikutan OC. Udah penuh! Triangle??!! Entar liyat aja sndiri.


Baiklah minaaaaa...............

sampe ketemu di chap selanjutnya yahh......................

tapi mungkin agak lama sebelum saya berhenti dalam waktu yang nggak terduga karena tugas utama saya sebagai salah satu anggota pasukan putih abu-abu. Ja, mata ne, mina!