LET ME OUT

MAIN CAST:

- Park Chanyeol

- Byun Baekhyun

OTHER CAST:

- Oh Sehun (Byun Sehun)

- Xi Luhan (Park Luhan)

- Kim Jongdae

- Wendy of Red Velvet (Jung Se Ra)

- Member of EXO

Rated: M

Length: Chaptered

Previous Chapter:

"Well, tetangga baru, setidaknya pakai pakaianmu ketika membuka pintu."setelah mengatakan itu, Baekhyun berbalik dan segera memasuki pintu yang berada tepat di seberang milik Chanyeol.

Perlahan tatapan Chanyeol meneliti dirinya sendiri. Kaus kaki beda warna dengan panjang yang berbeda pula di kedua kakinya, celana bokser bergambar kartun animasi Spongebob—itu pemberian Luhan omong-omong, Chanyeol sempat bertanya juga kenapa harus Spongebob dan warna kuning idiotnya. Luhan menjawab karena ia suka Spongebob, karena warnanya kuning. Naik ke tubuh atasnya, yang hanya berbalut dalaman kaus berwarna putih usang dengan tengkorak dan juga beberapa gambar love di sana. Wajah berantakan, Chanyeol merabanya dan menemukan bekas air liur di sudut mulutnya. Oh, juga kotoran mata yang menumpuk. Matanya nampak kuyu, dengan rambut lepek yang seperti habis terkena terpaan badai.

Oh sial, bisakah penampilan Chanyeol lebih memalukan lagi dari ini?

Dan juga, KENAPA HARUS BAEKHYUN YANG MELIHATNYA DALAM KEADAAN MEMALUKAN SEPERTI INI?

TAPI TUNGGU DULU.. Setahu Chanyeol, Apartemen di seberangnya itu kosong hingga Minggu lalu, tapi kenapa Baekhyun masuk ke sana dan memberinya kue beras? Lalu apa katanya tadi? Tetangga baru?

TE-TA-NG-GA BA-RU?

Hidup Chanyeol benar-benar kacau sungguhan, kalau seperti ini ceritanya.

Dibutuhkan waktu cukup lama untuknya; mandi, memakai pakaian dengan benar, menata rambut dan mempersipkan mental dengan baik, Chanyeol akhirnya memberanikan diri untuk bertamu ke apartemen Baekhyun.

Bel kedua berlalu, barulah Baekhyun membuka pintu untuknya.

"Hai, tetangga baru. Apa yang kau lakukan di depan pintu rumahku, dengan well—pakaian rapi, seperti ini?"

Tanpa sadar Chanyeol mendengus mendengar serentetan kalimat tersebut diucapkan dengan nada jahil. Ia balik memasang tampang wajah pongah. "Kau sudah selesai berbenah?"

Baekhyun menggeleng, setelah itu meringis sejenak. Memicing jeli sembari memiringkan wajah. "Ngomong-ngomong, ada keperluan apa?"

Chanyeol mencebik bibir, tidak memungkiri fakta bahwa Baekhyun masih saja terlihat menggemaskan saat menatapnya sambil memeringkan wajah. Tubuh si mungil di ambang pintu ia geser. Berjalan masuk, dan berhenti di ruang tamu. Sejauh ini, sepengamatan Chanyeol, Baekhyun hanya membawa sedikit barang. Bagian dapur masih belum diisi peralatan, isi kulkas yang masih kosong, ruang tamu belum sepenuhnya tertata rapi, begitu pula barang-barang pribadi di dalam kamar. Selesai mengamati, ia berbalik. Tersenyum lebar, kemudian meraih sarung tangan di atas meja. "Aku akan membantumu berbenah.. Jadi, apa yang harus aku lakukan lebih dulu?"

Baekhyun mendengus, kemudian melangkah mendekati dapur. Ia hanya melirik Chanyeol sekilas. "Jangan meminta upah bayaran, oke."dan mulai berbenah di bagian itu. Tanpa sadar gerakan tangannya terhenti sejenak saat mendengar balasan Chanyeol.

"Hanya masakkan aku ramyun dengan telur, Baek. Aku merindukan itu."

Menghela nafas panjang, Baekhyun melanjutkan pekerjaannya lagi. Diam-diam merasakan kembali denyutan pedih di hatinya. Tapi untuk sementara, Baekhyun coba untuk mengesampingkan dulu segala rasa yang ada. Memilih mengambil opsi yang ditawarkan si jangkung. Biar bagaimanapun, terlepas dari masa lalu yang menyedihkan, setidaknya Baekhyun berusaha untuk berdamai. Tidak ada salahnya mencoba, toh hanya sebuah pertemanan saja, ia bisa melakukan itu. "Oke, tapi bantu aku menyelesaikan semuanya."

Chanyeol memekik girang setelahnya.

Selesai berbenah, merapikan segala barang bawaannya dari rumah, Baekhyun dan Chanyeol pergi ke mini market setelahnya. Membeli segala kebutuhan, mengisi kulkas, termasuk persediaan makanan instan juga beberapa kudapan. Sekarang, Baekhyun sudah berkutat di balik kompor. Memasak ramyun spesial dengan campuran telur untuk Chanyeol. Well, dulunya Chanyeol sangat sering memintanya untuk memasakkan mie instan tersebut dengan cara yang sama.

Setelah memastikan mie matang dengan baik, Baekhyun memberikan sentuhan akhir; mencampurkan telur dan mengaduknya. Kompor dimatikan, Baekhyun membawa pancinya ke atas meja. Terkekeh geli melihat Chanyeol sudah bersiap dengan sumpit, juga binar wajah antusias. Baru saja Baekhyun duduk, hendak mengambil sumpit, tahunya Chanyeol mendahului. Memberikannya sumpit dan mempersiapkan sendok untuknya, seperti kebiasannya dahulu. Setidaknya tidak banyak yang berubah, Chanyeol masihlah orang yang sama dengan sosok di masa lalunya. Bahkan menyiapkan susu strawberry hangat untuknya.

"Baek, kenapa malah melamun?"Chanyeol bertanya dengan mulut penuh makanan. "Kau tidak makan?"

Baekhyun membuyarkan segala hal yang terpikir olehnya tentang masa lalu. Sekarang, hanya jalani saja semuanya mengikuti arus kehidupan. Entah hubungan mereka akan terus berlanjut atau tetap jalan di tempat, juga bagaimana mereka ke depannya dan bagaimana semuanya berakhir, Baekhyun ingin berhenti memikirkan itu semua.

Ia hanya ingin menjalani, tanpa melepas semua pengawasannya. Terlepas dari seberapa inginnya ia memiliki, Baekhyun tetap menjaga kewarasannya sendiri untuk tidak berharap apapun lagi dari Chanyeol. Lelaki itu sudah mempunyai seseorang di sampingnya, juga dikarenakan Baekhyun tidak ingin lagi kembali mengecap apa itu yang disebut melarikan diri.

"Masih panas, aku menunggunya dingin dulu."

Chanyeol bangkit, mengambil mangkuk dan kembali duduk. Cara yang ampuh mendinginkan mie adalah dengan cara meniupnya dan meletakknya di wadah lain. Chanyeol lagi-lagi melakukan kebiasan lama untuknya.

Baekhyun tersenyum tipis, mulai mengaduk-aduk mie di mangkuk kecil, tanpa menatap Chanyeol ia berujar. "Well, kau belum banyak berubah sepertinya."

Chanyeol menyeruput mie sekali lagi, menatap Baekhyun dengan wajah memiring setelahnya. Setelah mengerti apa yang membuat Baekhyun nampak seperti itu, Chanyeol akhirnya menghela nafas panjang. Bersiap menyuap mie lagi, namun berujar lebih dulu. "Hanya suatu tindakan refleks dengan orang yang sama. Aku tidak melakukan semua itu dengan orang lain."

Baekhyun terkekeh geli, masih tetap tanpa menatap Chanyeol, ia menggulung mie dan menyuapnya. Tidak berniat menanggapi apapun lagi.

"Kau menetap di Seoul sekarang?"

Mie di mangkuk kecil Baekhyun sudah habis, Chanyeol mengambilkannya lagi.

"Tidak, aku masih harus kembali ke Jepang."Baekhyun menerima mangkuk itu kembali, tidak menyadari keheningan Chanyeol bersumber dari ucapan sebelumnya.

"Ah, ternyata selama ini kau berada di Jepang."Chanyeol bergumam amat pelan, merutuk bodoh dalam hatinya tentang mengapa ia tidak berusaha mencari tahu lebih jauh tentang fakta itu.

"Kenapa?"Baekhyun melempar tanya, baru menyadari Chanyeol nampak melamun.

"Tidak. Berapa lama kau akan ada di sini?"

Baekhyun berpikir sejenak. "Mm, mungkin satu-dua minggu lagi."

Chanyeol kemudian berpikir, mengubah jadwal tinggalnya di Apartemen menjadi lebih sering agar dapat bertemu dengan Baekhyun.

"Kau.. sejak kapan berkencan dengan Sera?"

Chanyeol berhenti mengunyah sejenak, agak kurang menduga Baekhyun akan memberinya tanya demikian. Mengerjap lambat, sedang sorot matanya tidak lepas memerhatikan Baekhyun yang terus saja merunduk tanpa mau menatapnya.

"Lupakan saja. Tidak perlu menjawabnya."Baekhyun mempercepat suapannya, ketika Chanyeol menjawab, ia mendadak berhenti. Kali ini menatap Chanyeol lekat.

"Kurasa.. Hampir setahun. Agak sulit buatku membuka hati. Sera sudah mengorbankan banyak hal."

Apa secara tidak langsung Chanyeol luluh akan pengorbanan Sera? Well, klise sekali.

Merasa kalau ini waktunya mempertanyakan hal yang bersifat lebih pribadi, Chanyeol berdehem, lantas bertanya. "Kau sudah pernah berkencan, Baekhyun?"

Mendengar pertanyaan Chanyeol, Baekhyun malah tertawa. "Berkencan? Kata-kata itu hanya omong kosong, Chanyeol. Tidak benar-benar ada."ujarnya sambil menunjuk-nunjuk Chanyeol menggunakan sumpit.

"Berkencan denganku, apa itu masih berupa omong kosong?"

Sontak, sumpit Baekhyun perlahan turun. Netranya mengerjap-ngerjap, kebingungan mencerna situasi. "Berhentilah bercanda. Itu sama sekali tidak lucu."akhirnya itu saja yang mampu ia ucapkan.

Chanyeol bergeming, sementara terus menatap serius ke arah Baekhyun. Ia tahu tindakannya ini bodoh, namun semua itu terlontar begitu saja. Benar berasal dari hatinya. Chanyeol enggan menyesali, karena ia tahu bahwa perkataanya tadi adalah suatu kebenaran. "Kau bisa memakiku sepuasnya, Baek. Katakanlah aku brengsek, biar bagaimanapun aku serius dengan perkataanku."

"Omong kosong!"Baekhyun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, sementara senyum separuhnya terulas. "Itu juga omong kosong, Chanyeol. Jangan katakan itu lagi, aku membencinya."

"Aku serius, Baek. Tidakkah kau bisa melihanya?"

"Lalu apa? Apa yang akan berubah? Semua masih sama, Chanyeol. Kau adalah kekasih Sera saat ini. Jangan pikirkan apapun lagi, kita akan tetap berteman."Baekhyun menjawab langsung, berusaha keras menjaga suaranya agar terdengar setenang mungkin.

"Bahkan jika kubilang aku mencintaimu?"

"Ya, bahkan bila begitu."

Mereka berpandangan selama beberapa detik, sebelum Baekhyun tiba-tiba bangkit untuk membawa mangkuknya ke wastafel. Tanpa menoleh, ia berujar. "Kau sudah menyelesaikan makanmu, Chanyeol? Aku akan mencuci mangkukmu sekalian."

Chanyeol berdehem, bangkit lantas membawa serta mangkuk miliknya ke wastafel. "Kapan kau biasanya tidur?"

Baekhyun menyalakan kran, membilas semua peralatan yang ada, sebelum menoleh sekilas ke arah Chanyeol yang kini berdiri di sampingnya. "Entahlah, aku insomnia akhir-akhir ini. Terkadang aku tertidur jam empat, dan terbangun pukul satu siang."

Itu tak ubahnya seperti sebuah percakapan saling menghindari topik sebelumnya.

"Mau bertanding game?"

Baekhyun mendengus. "Jangan konyol, besok Senin, Chanyeol."

"Lalu mengapa bila besok adalah Senin?"

Baekhyun menyelesaikan acara mencuci piringnya, melepas sarung plastik yang ia pakai, kemudian mencuci tangannya sekali lagi. "Kau bekerja besok, apa aku salah?"

Chanyeol tertawa. "Itu bukan masalah besar, Baekhyunie."

"Aku malas keluar, Chanyeol. Kita harus ke warnet, kan?"

"Kata siapa? Aku punya peralatannya di kamarku."

Baekhyun berbinar. "Kau serius?"

Chanyeol hanya mengangguk. "Ketika bosan, aku sering memainkannya. Aku punya dua perangkat sekaligus."

"Mengapa membeli dua, kalau kau hanya main sendiri?"

"Karena aku yakin suatu saat nanti akan kembali bermain bersama denganmu."Chanyeol mengulas senyum. "Aku yakin berhasil mengalahkanmu, kali ini."

Baekhyun awalnya tergugu, seolah terenggut jiwanya saat keyakinan Chanyeol membuatnya tiba-tiba merasa bersalah. Apa sudah terlalu lama ia pergi? Atau apakah ia sudah salah memilih pergi? Pertanyaan demi pertanyaan tentang kebenaran tindakannya untuk pergi, membuat Baekhyun merasa terbebani. Konyolnya lagi, betapa Baekhyun merasakan kejujuran Chanyeol tentang keadaannya setiap kali mereka berbincang, mungkin karena profesi Baekhyun adalah Psikiater, untuk itulah sangat mudah untuknya mendeteksi perasaan seseorang.

"Ayo pergi,"Chanyeol meraih tangannya, entah terlalu bersemangat atau bagaimana, tetapi Baekhyun memilih melepasnya dan segera berjalan lebih dulu. Mengabaikan pandangan Chanyeol pada kekosongan tangannya sendiri, hanya saja Baekhyun ingin menegaskan bahwa status mereka sekarang tidaklah lebih dari pertemanan. Tidak akan ada yang berubah. Dulu meraka adalah teman, maka sekarangpun mereka masih akan tetap berteman.

Mungkin dunia akan mempertanyakan alasan mengapa dengan mudahnya Baekhyun merajut kembali kata teman dengan Chanyeol, yang notaben adalah sosok yang membuatnya memilih pergi demi usaha melupakan sosoknya. Delapan tahun Baekhyun terpuruk, bahkan hingga kini Chanyeol masih menjadi penyebab utama Baekhyun merasa terpuruk. Baekhyun mencintai Chanyeol, sedalam itu sampai-sampai membuatnya menjadi pesakitan seorang diri. Tapi saat di mana akhirnya Baekhyun mendengar sendiri penyesalan Chanyeol tentang penolakannya di masa lalu, tetap saja Baekhyun merasa ia tidak pantas bersama Chanyeol, untuk itulah ia merasa merajut pertemanan bukanlah sesuatu yang buruk. Biar bagaimanapun, yang Baekhyun inginkan hanyalah ketenangan dalam hidupnya, ia harus bisa berdamai dengan masa lalunya agar bisa menemukan kehidupan yang baru pula.

Kesimpulannya, Baekhyun hanya ingin menata hatinya agar bersiap dengan lembaran kehidupan baru. Berusaha melupakan kenangan buruk yang membuatnya melarikan diri, memperbaiki keadaan hingga mencoba berdamai dengan masa lalu. Kehidupan yang tenang adalah tentang adanya damai tanpa kebencian yang mengukung jiwa dalam keterpurukan. Baekhyun ingin hidup dengan lebih baik mulai sekarang, tanpa menjadi pesakitan, ia harus bahagia dengan atau tanpa seseorang yang lain dalam hidupnya. Hidup sendiri terdengar tidaklah buruk, Baekhyun harus membiasakan menanam doktrin itu di kepalanya agar ia sendiri tidak akan repot-repot lagi mengecap apa itu rasa sakit hati.

Mereka berdua berada di kamar Chanyeol sekarang, yang lebih jangkung menuntunnya untuk masuk lebih dalam hingga berada di kamar khusus untuk bermain game. Apartemen Chanyeol terkesan sederhana, tidak banyak perabotan tertata di ruang tamu. Kesan gaya santai begitu kentara, ruangan tamu hingga dapur berlapis cat berwarna putih dan hitam. Sofa berwarna krem, TV berukuran sedang, hingga beberapa tanaman kaktus hias yang berjejer rapi di ambang pintu balkon. Chanyeol masih sama, begitu sederhana dan menyukai kaktus hias dengan alasan bahwa tanaman itu menggemaskan dan tidak harus repot untuk menyiraminya. Baekhyun sempat terpaku di tempatnya, menghentikan langkah sebelum mencapai pintu kamar. Chanyeol yang menyadari keterpakuan Baekhyun ikut berhenti, menyandadarkan tubuh jangkungnya di ambang pintu dan menarap direksi yang sama dengan si mungil.

"Kau terlalu peka terhadap situasi sekitar, Baekhyun."Chanyeol membuka obrolan kembali, membuat Baekhyun menoleh sekilas padanya dan kembali lagi memperhatikan pot tanaman bunga Baby Breath yang tergantung apik di kaca jendela.

"Baby Breath.."Baekhyun menggumam pelan, bersyukur untuk Chanyeol tentang telinga lebarnya.

"Bunga kesukaanmu. Aku membelinya saat memutuskan untuk menghias balkon dengan kaktus hias, umurnya sekitar tiga bulan? Aku tidak begitu ingat, maaf."

"Tidak masalah, hanya sedikit membingungkan saja untukku. Kau bilang filosofis bunga Baby Breath sangat konyol, kau bilang kau tidak menyukainya."

"Itu dulu, setelah dipikir-pikir itu tidaklah buruk. Setiap kali melihatnya aku teringat dirimu, aku memutuskan membelinya untuk alasan itu."

Baekhyun berdehem canggung, tidak tahu harus membalas apa. Chanyeol yang mengerti memilih mengujarkan ajakan untuk masuk ke kamar dan Baekhyun menurutinya.

Chanyeol butuh menarik kain putih yang menutupi kedua perangkat komputer khusus game di kamarnya. "Aku sudah lama tidak bermain, bisa kau mempersiapkan kedua perangkatnya? Aku akan ke dapur untuk membuat sedikit camilan."

Baekhyun mengangguk. "Tidak masalah, kau pergilah. Kau punya buah kan? Aku sedang ingin makan buah dan minum segelas susu—"

"Susu cokelat, aku masih mengingatnya. Aku akan membuatnya ke dapur, kau tunggulah sebentar."

Gerakan tangan Baekhyun yang sedang memasang sambungan listrik, terhenti sejenak. Ia menghela nafas panjang, sedikit merasa tidak nyaman dengan situasi di mana Chanyeol terus-menerus menyeretnya ke situasi mengingat kenangan masa lalu. Setiap Baekhyun mengingatnya, setiap kali itu pula Baekhyun merasakan denyutan pedih menyiksa hatinya. Sekarang ia mengerti tentang alasan di mana sebagian orang memilih enggan berdamai dengan masa lalu, benar-benar sulit melakukanya. Hanya orang bodoh yang akan mengatakan bahwa berdamai akan lebih mudah dibanding mengikhlaskan sesuatu. Keduanya sama sulitnya, butuh keberanian yang besar untuk melakukannya, dan di sinilah Baekhyun berada.

Mengenai alasannya untuk pindah, Baekhyun sebenanya sama sekali tidak menduga bahwa ia akan bertetangga dengan Chanyeol. Adalah suatu kebetulan yang benar-benar tidak disengaja. Selepas mengantarkan kue beras sore tadi pun, Baekhyun sudah banyak berpikir. Seperti apa yang dianjurkan oleh Ibu, ia harus bisa berdamai dengan masa lalu, maka tawaran Chanyeol mengenai pertemanan Baekhyun iyakan.

Kedua perangkat komputer sudah menyala, Baekhyun menempati salah satu kursi dan memainkan ponselnya selagi menunggu Chanyeol selesai dengan urusannya di dapur.

Baru semenit rasanya ia bermain ponsel, suara pekikan Chanyeol membuatnya terperanjat dan terburu mendatangi dapur untuk mengetahui situasi apa yang menimpa si jangkung.

Begitu sampai di dapur, Baekhyun tahunya dibuat melongo seperkian detik sebelum meledak dalam tawa. Chanyeol sendiri sedang memegang papan talenan dengan posisi siap siaga namun dibarengi rasa takut, melawan satu kecoa yang sibuk kesana-kemari di bawah meja makan. Menyadari kehadiran si mungil, Chanyeol membawa atensinya untuk beradu tatap dengan pandangan mengejek yang Baekhyun berikan. Perlahan papan talenan ia turunkan, kemudian menyengir kaku sebagai sapaan.

Dari dulu Chanyeol itu begitu penakut terhadap kecoa. Pernah satu kali ketika mereka berdua berakhir membersihkan gudang sekolah karena ketahuan membolos, Chanyeol tiba-tiba berteriak kencang dan nyaris pingsan jika saja Baekhyun tidak berbaik hati melumpuhkan kecoa itu dengan injakan kaki mautnya. Baekhyun mencibir Chanyeol habis-habisan, namun si jangkung hanya bisa memberikan sanggahan bahwa ia tidak takut apapun selain dengan kecoa. Alasannya begitu klasik, ia membenci kecoa karena semasa kecil pernah menjadi korban batu loncatan oleh kecoa yang tiba-tiba saja mendarat ke wajahnya.

Puas mengejek Chanyeol dengan senyum juga tatapannya, Baekhyun memutuskan tatapan mereka dan beranjak mendekat. Sama seperti yang sudah-sudah di masa lalu, yang Baekhyun lakukan adalah mengerahkan jurus injakan maut untuk melumpuhkan si kecoa. Memungutnya tanpa rasa jijik, sebelum memaku atensi dengan tatapan jahil pada sosok Chanyeol yang sudah menyerengit penuh rasa geli padanya yang memegangi kecoa dengan tangan kosong.

"Baekhyun, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini."Chanyeol menjauhi direksi wastafel, berjalan menyamping menjauhi sosok Baekyun yang mengambil langkah demi langkah mendekat. "Hanya buang benda mati itu ke dalam bak sampah, Baekhyun.. dan aku akan melanjutkan lagi pekerjaanku memotong buah. Bisakah kau berbaik hati membuangnya untukku, Byun?"

Baekhyun meledek Chanyeol dengan langkah kaki yang semakin memangkas jarak. "Oh ayolah, Chanyeol. Aku seorang Psikiater, ingat? Yang perlu kau lakukan adalah mencoba memberanikan diri dengan memegangnya satu kali, maka ketakutanmu terhadap hewan ini akan berkurang. Percaya padaku."

Chanyeol sontak berteriak penuh ketakutan sesaat Baekhyun hanya berjarak dua langkah, terlebih ia sudah mencapai batas akhir kabur dengan menyentuh dinding. Papan talenan kembali ia jadikan tameng, dan Baekhyun meledak dalam tawa lagi ketika mendengar si jangkung menjerit heboh. "BAEKHYUN, BUANG BENDA ITU SEKARANG JUGA, KAU SIALAN!"

Baekhyun menyeringai. "Hewan yang kau sebut benda ini adalah kecoa, Chanyeol. Hewan yang bahkan memiliki besar tidak lebih dari telapak tanganmu. Berwarna merah gelap, dan bahkan tidak menggigit. Bagaimana mungkin orang dengan tinggi kurang lebih 185 sepertimu takut dengan hewan yang tingginya tidak lebih dari 10 cm, hm?"

"Baekhyun, kau tahu alasannya, bukan?"

Baekhyun tersenyum teduh, ia memutuskan berhenti menyudutkan Chanyeol dan beralih menaruh kecoa tadi di telapak tangannya. Atensinya terpaku pada Chanyeol, mengunci pandangan pemuda itu pada tatapan meyakinkannya. "Kalau kau percaya padaku, maka kau akan mendekat padaku, Chanyeol.."

Chanyeol mendengus tidak percaya padanya. "Dan membiarkanmu mengerjaiku dengan benda sialan itu tentu saja, apa aku benar?"

Baekhyun menggeleng pelan, tatapannya masih sama. "Kau salah besar, Chanyeol. Hanya ingat bahwa aku adalah seorang Psikiater. Dan sudah menjadi tugasku untuk membuatmu melupakan bahwa kau memiliki sebuah ketakutan terhadap hewan kecil ini."

Perlahan, Chanyeol mulai merubah raut wajahnya. Mencoba memberanikan dirinya sendiri untuk membawa langkahnya mendekati Baekhyun. "Kau tidak akan menjahiliku, benar Baekhyun?"

"Untuk saat ini tidak, Chanyeol. Hanya percaya padaku, maka aku akan membantumu melupakan ketakutanmu."

Chanyeol menghentikan langkahnya dua langkah di depan Baekhyun. Dan si mungil cukup mengerti untuk mengulurkan tangannya yang lain untuk membawa Chanyeol semakin dekat.

Si jangkung menerima uluran tangan itu, maka tanpa diduga oleh keduanya, Chanyeol tersandung oleh papan talenan yang entah sejak kapan tidak lagi berada di tangannya, dan yang terjadi berikutnya..

Baekhyun memekik kaget saat keduanya terjatuh dengan posisi Chanyeol yang menindihnya. Tidak jauh berbeda dengan keadaan Chanyeol yang berteriak tidak kalah kencang saat kecoa sialan itu malah terjatuh di atas wajah Baekhyun yang berada di bawahnya.

Si jangkung bersiap menjauh dari atas tubuh Baekhyun, namun si mungil langsung menahannya dengan memeluk pinggang Chanyeol. "Bisa kau lakukan sesuatu untukku, Chanyeol?"suara berbisik Baekhyun membuat Chanyeol sontak berhenti berniat bangun dari posisi keduanya yang intim di ruangan dapur. "Bisakah kau singkirkan hewan yang bernama kecoa ini dari wajahku?"

Chanyeol nyaris tercekat, "Baekhyun, kau.."

"Tidak Chanyeol, kau pasti bisa. Hanya bayangkan saja bahwa dia tidak akan bisa membuatmu terluka, dia tidak berdaya. Hewan ini begitu kecil dibandingkan denganmu. Singkirkan dia bersamaan rasa takutmu. Buang semuanya, kau mengerti?"

Mereka bertatapan lagi, dan dengan satu anggukan dari yang lebih mungil, Chanyeol membawa sebelah tangannya untuk meraih kecoa mati di wajah Baekhyun. Berusaha keras mengenyahkan ketakutan dalam dirinya dan setelah ia berhasil, ia langsung melempar kecoa sialan itu ke dalam bak sampah tidak jauh dari posisi keduanya.

"Lihat, kau bisa melakukannya, bukan?"

Chanyeol kembali menatap pada Baekhyun yang tersenyum bangga di bawahnya. Jantungnya tanpa diminta berdentum dengan detakan cepat yang sayangnya begitu ia sukai. Senyum itu dengan cepat berubah menjadi tawa manis yang begitu renyah, Chanyeol yang mendengarnya merasa sebagian dirinya meleleh hanya karena mendengar tawa itu. Baekhyun dalam tawa adalah yang selalu Chanyeol sukai sejak dulu. Rasanya begitu damai saat hanya ada mereka berdua ditemani tawa yang lebih mungil.

Namun sayang kedamaian Chanyeol harus menghilang secepat itu sesaat Baekhyun mendorongnya keras sampai membuatnya terduduk kebingungan, sembari menyumpah serapah protes karena harus menahan beban tubuh Chanyeol yang berat.

Chanyeol tahu dirinya brengsek, ia juga menyadari itu sejak dulu. Ia juga tahu kalau dirinya itu sialan karena telah kembali jatuh kepada orang yang sama, disaat dirinya sendiri bahkan sudah memiliki kekasih.

Betapa bajingannya dirimu itu, Chanyeol.

-

A/n: long time no see, right?

Aku harap masih ada yang menunggu cerita ini :')

So, this is for you.. Semoga suka ya..

Berikan pendapat kalian di kolom komentar ya, guis :)

Bye, and see ya in next chapter..