Disclaimer : Aoyama Gosho

Warning : banyak Typo, gaje, BL (sho-ai)

Pairing : masih sama, HeijiXShinichi dan KidXShinichi

Don't Like, Don't Read


My Diamond


Sudah 1 minggu sejak kejadian Kid menculik Shinichi, Heiji tetap bersikukuh tidak ingin pergi ke Tokyo walaupun Kazuha sudah membujuknya. Heiji tetap berada di dalam kamar bergelung dengan selimutnya membiarkan Kazuha berteriak-teriak kemudian menggedor-gedor pintu kamarnya dengan brutal.

"Jangan manja, Heiji! Ran sedang sakit, ayo kita menjenguknya." Teriak Kazuha dari luar kamar, berusaha sekeras apapun tetap tidak bisa mengalahkan keras kepalanya detektif kulit gelap ini. Heiji menenggelamkan kepalanya di dalam bantal.

"Diamlah, Kazuha! Aku tidak mau keluar apalagi pergi ke Tokyo!" Teriak Heiji dari dalam kamar membuat kening Kazuha berkedut marah.

"Heiji..! Keluar…! Sekarang!" Seruan Kazuha makin membuat Heiji menenggelamkan lagi kupingnya di bantal. Matanya berusaha terpejam, tetapi setiap menutup mata yang terbayang hanya gambaran Shinichi mencium Kid. Siall… Rutuknya dalam hati.

Detektif muda itu melempar selimutnya, kemudian menendang marah ke pintu kamar. "Berisik Kazuha!"

Sedikit terkejut dengan debaman di pintu kamar membuat Kazuha mundur sedikit, "Hei..! jangan seenaknya menendang pintu!" Kazuha berseru lagi.

"Teserah aku! Pergi sana!" Heiji kembali menerjunkan diri di ranjangnya yang empuk. Matanya menutup rapat, berusaha menulikan pendengaran dan menghapus memorinya yang buruk, tetapi tetap saja tidak bisa, gambaran Shinichi yang mendesah ketika dicium oleh Kid makin menyulut kemarahan Heiji saja.

"Arrgghh…." Heji berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. Tangannya meraih HP di atas meja kemudian membaca satu pesan dari Shinichi.

From: Shinichi Kudo.

Heiji, Aku tidak tahu kenapa kau marah padaku tetapi aku minta maaf kalau aku melakukan suatu kesalahan. Aku masih belum berubah menjadi 'Conan' padahal ini sudah lewat satu minggu, Ai juga sedang meneliti kenapa aku belum kembali menjadi anak kecil. Sebenarnya sekarang aku sedang gelisah dirumahku, Ran selalu saja bertanya tentang 'Conan' jadi kujawab saja dia bersama Profesor Agasa. Ku harap kau ada disini membantuku.

Heiji mengacak lagi rambutnya, pikirannya penuh dengan sosok Shinichi tapi gengsinya melarangnya menemui cowok manis itu. Seandainya saja dia tidak punya gengsi yang berlebihan seperti ini, mungkin sekarang dirinya sudah datang ke rumah detektif timur itu lalu tertawa sambil bercerita seru. Sayangnya, ini semua gara-gara Shinichi, dengan gampangnya dia membiarkan dirinya dicium oleh Kid.

"Uhhkk…" Heiji menangkupkan bantal dikepalanya berusaha mengusir pikiran-pikiran anehnya. Sekarang dia tidak lagi mendengar teriakan atau gedoran dari Kazuha, hal itu membuatnya penasaran.

Heiji perlahan turun dari ranjang kemudian menguping suara Kazuha yang terdengar seperti sedang mengobrol dengan seseorang di luar kamar.

.

"Iya… Begitulah, Ran. Sepertinya Heiji tidak bisa ikut aku ke Tokyo?..." Kazuha sedang berbicara di telepon dengan Ran, dia meminta persetujuan Ran bahwa dia hanya akan sendiri menjenguknya.

"Apa?.. Tenang saja, aku bisa sendiri kok ke Tokyo.." Jawab KAzuha diselingi tawa ringan. Heiji makin menajamkan pendengarannya lagi.

"Kenapa? Kau melihat kalau Shinichi berbeda? Berbeda bagaimana?" Tanya Kazuha. Heiji yang mendengar nama Shinichi disebut langsung membuatnya tertegun sesaat, lalu berusaha menguping lagi.

"Ohh.. Shinichi terlihat sedih sejak kejadian penculikan itu? Tenang saja, dia pasti baik-baik saja kok.." Jawab Kazuha lagi. Heiji menghentikan aksi mengupingnya, dia menggigit gelisah kuku jari tangannya menandakan dia sedang bimbang.

"Baiklah, Ran. Sampai jumpa nanti. Bye.." Kata Kazuha kemudian memutuskan hubungan telepon dengan Ran. Kazuha menghela napas pelan, dia mulai beranjak dari kamar Heiji ketika suara pintu kamar di buka dari dalam dan menghentikan langkahnya. Heiji berada diantara pintu dengan pakaian yang kasual, kemudian melirik Kazuha sekilas.

"Ayo, pergi ke Tokyo. Aku.. tidak bisa meninggalkanmu sendirian disana, bisa-bisa kau tersesat." Ujar Heiji lagi yang dapat sambutan lirikan marah Kazuha. "Enak saja!"

.

.

.

Di kediaman Kogoro Mouri, Ran meletakkan gagang telepon di tempatnya kemudian melirik ayahnya yang sedang menonton Yoko Okino di televisi. Ran menghela napas berat, kepalanya agak pusing dan dia sedikit pilek tetapi pekerjaan rumah banyak yang harus dikerjakan. Dengan menghela napas sekali lagi, dia mulai melakukan pekerjaan rumah yang pertama yaitu menyapu.

"Hei, Ran, tolong ambilkan bir ku di atas meja." Perintah Kogoro tanpa mempedulikan delikan marah Ran. Dengan berjalan malas, Ran menuju meja kerja Kogoro kemudian matanya beralih ke luar jendela. Sesosok yang agak di kenal Ran, membuat cewek itu harus menajamkan penglihatannya. Seorang cowok SMA sedang menatap ke tempat tinggalnya. Seorang cowok yang sangat mirip Shinichi.

"Hei, Kaito. Kenapa masih disini, ayo pergi." Seorang cewek menggandeng cowok tadi yang hanya menampilkan cengirannya. "Maaf, Aoko." Jawabnya lagi. Ran yang melihat itu hanya tersenyum, Kupikir tadi Shinichi… ternyata bukan… kemudian dengan cepat mengambil bir dan menyerahkan pada ayahnya.

.

.

Kaito yang ditarik paksa oleh Aoko melirik lagi ke kediaman Kogoro. Sepertinya, detektif manis itu tidak berada disana, jangan-jangan dia berada di rumahnya sendiri…. Jadi, dia belum kembali menjadi Conan?… Menarik… Seringai muncul di wajah Kaito, menampilkan beberapa gambaran aneh yang bermunculan di pikirannya. Aoko yang berada disebelahnya hanya memandang cowok ini dengan wajah aneh.

"Hei, wajahmu mengerikan.. Seperti ingin memperkosa seseorang saja." Ujar Aoko yang langsung membuat Kaito tertawa hambar.

XXXxxxXXX


Heiji dan Kazuha kini sudah sampai di Tokyo, tepatnya di tempat tinggal Ran bersama ayahnya. "Kau sudah agak membaik?" Tanya Kazuha sambil menempelkan tangannya di kening Ran. "Lumayan." Jawab Ran pelan sambil tersenyum. Heiji hanya melirik malas ke arah dua cewek itu, pikirannya penuh dengan Shinichi.

"Sebaiknya kau istirahat saja dulu, jangan terlalu banyak bergerak." Kata Kazuha mendorong Ran ke arah kamar. "Ta.. Tapi.. aku masih banyak tugas. Lagipula, aku ingin pergi ke rumah Shinichi untuk memberikan kue buatanku." Kata Ran yang tersipu malu. Kazuha terlihat sedang berpikir kemudian tersenyum lagi. "Kalau masalah itu serahkan saja pada Heiji. Akan kusuruh dia pergi ke rumah Shinichi, jadi kau bisa beristirahat." Jawab Kazuha seenaknya, Heiji yang berada disebelahnya hanya cemberut.

"Aku malas." Seru Heiji cepat yang dapat lirikan maut Kazuha. "Cepat pergi, Heiji..!" Teriak Kazuha sambil memberikan kotak yang berisi kue Ran yang sudah disiapkan di atas meja.

"Uhhhkkk…" Heiji masih bersikeras tidak mau, dengan terpaksa Kazuha menendang detektif berkulit gelap itu keluar dari kediaman Kogoro sambil tetap memegang kotak bekal tadi.

"Tsk.. Kenapa harus aku sih… Merepotkan!" Heiji menggaruk-garuk kepalanya malas. Matanya masih menatap kotak bekal tadi agak lama, kemudian menghela napas berat. "Ya sudahlah, ku antarkan saja."

.

.

.

Di kediaman Shinichi, seorang cowok SMA sedang bergelut dengan beberapa buku Sherlock Holmes di perpustakaannya. Beberapa seri detektif sudah dilahapnya habis, tapi tetap saja dia merasa bosan dan malas melakukan aktifitas apapun. Saat ini pikirannya sedang buruk, masalah sahabat dekatnya si Heiji masih marah, lalu Kid yang entah kenapa ingin menciumnya.

Tiba-tiba Shinichi mengingat kejadian minggu lalu saat Kid mencium bibirnya, hal itu membuat wajahnya memerah seketika.

"Uhhkk…" Shinichi menelungkupkan kepalanya di antara buku-buku yang berantakan. Jantungnya juga entah kenapa berdetak lebih kencang dua kali lipat. Siaall… berhentilah berdetak keras… rutuk Shinichi dalam hati.

Drrrttt…. Drrrtttt…. HP Shinichi bergetar, membuatnya sedikit terkejut kemudian meraba kantong celananya.

"Halo…" Suara Shinichi terdengar lembut.

"Uhmm.. Shinichi, ini aku, Ran." Jawab Ran yang berada di seberang telepon. "Ya? Ada apa, Ran?" kata Shinichi lagi penasaran. "Uhmm.. begini, aku sepertinya tidak bisa ke rumahmu, jadi aku menyuruh Heiji kesana untuk mengantarkan kue untukmu." Sambung Ran lagi yang membuat Shinichi kaget. Heiji… berada di Tokyo? Dan sekarang mau ke rumahku?... kata Shinichi dalam hati.

"Halo… Shinichi? Kau masih disana?" Tanya Ran lagi karena daritadi Shinichi tidak menjawab apapun.

"Ah, iya… aku masih disini.. baiklah… tidak apa-apa kok kalau kau tidak bisa kemari, cepat sembuh ya, Ran." Kata Shinichi melembut, Ran yang berada diseberang telepon hanya tersenyum, "Iya.. sudah dulu ya, aku sedang bersama Kazuha… Sampai jumpa." Kata Ran lagi, lalu memutuskan hubungan telepon dengan Shinichi.

"Heiji akan kemari." Bisik Shinichi lebih kepada dirinya sendiri, kemudian senyuman terkembang di bibir manis detektif itu. Berarti dia tidak marah lagi padaku… baiklah… aku akan menyambutnya… Shinichi tersenyum kemudian mulai membereskan buku-buku seri detektifnya yang berantakan.

.

.

.


"Rumahnya disini ya?" Seorang cowok tepat berada di depan pagar rumah Shinichi, matanya melirik plang nama rumah Shinichi lalu melirik lagi kotak yang berada di tangannya. "Benar, ini rumahnya. Kuharap dia suka kue nya." Sambung cowok itu sambil tersenyum. Kakinya mulai melangkah masuk ke halaman rumah Shinichi, setelah tepat berada di depan pintu, jari telunjuknya memencet bel yang kebetulan ada di sampingnya.

TING TONG….

Suara bel terdengar dari arah pintu depan, membuat Shinichi yang sedang menyiapkan cemilan dan minuman, terlonjak kaget untuk beberapa saat. Mata shinichi melirik ke jam dinding yang berada dihadapannya, "Heiji cepat juga datangnya." Ujar Shinichi lagi.

.

TING TONG…

Lagi-lagi bel depan dibunyikan membuat Shinichi tergesa-gesa berlari menuju pintu tanpa menghiraukan meja dan beberapa kursi yang kena tendangannya. "Sebentar.." Jawab Shinichi dari dalam sambil mengelus jari kakinya yang kesakitan tersandung meja.

-CKLEK- Pintu depan di buka Shinichi, "Heiji, kalau mau masuk ya masuk saj~.." Shinichi terdiam beberapa saat. Matanya terbelalak kaget melihat seseorang yang berada di depannya sambil menenteng kotak bekal.

Orang itu menyeringai melihat keterkejutan di wajah sang detektif, kemudian bibirnya mengucapkan sebuah kata yang sudah sangat di kenal Shinichi, "Halo.. Tantei-kun…"

"Ki…Kid…" Suara Shinichi tercekat.

.

.

.


"Uhhhkk… Rumah orang itu lumayan jauh juga." Heiji yang masih di tengah perjalanan hanya bisa terus menerus menggerutu sambil menenteng kotak bekal dari Ran, sesekali dilempar-lemparnya ataupun di putar-putarnya kotak bekal tadi untuk mengusir kejenuhan.

"Nah itu dia rumahnya." Kata Heiji lebih kepada dirinya sendiri. Dengan berlari, Heiji berusaha mempercepat langkahnya untuk sampai di rumah Shinichi. "Ng? pintunya tidak terkunci ya? Waah, ceroboh sekali.." Heiji memutar kenop lalu mendorong pintu. Kepalanya berusaha melihat kedalam ruangan. "Kok sepi sekali ya?" Ucap Heiji lagi kebingungan.

Kaki-kaki Heiji mulai melangkah masuk ke dalam rumah, tangannya terus memegang erat kotak bekal dari Ran. "Aku harus berteriak memanggil Shinichi atau ku taruh saja di dapur lalu kabur?" Tanya Heiji menimbang-nimbang bekal di tangannya. Kemudian pilihannya jatuh pada jawaban kedua, yaitu menaruh kotak bekal di dapur lalu kabur, kemudian menyuruh Ran menelepon Shinichi kalau kuenya sudah kuantar. Ok… taktik yang bagus… pikir Heiji sambil tersenyum.

Heiji mulai memasuki rumah Shinichi lebih dalam, matanya menyari-nyari letak dapur. "Nah itu dia dapurnya." Heiji berusaha berjalan sepelan mungkin ke dapur agar Shinichi tidak mengetahui keberadaannya. Setelah sampai di meja makan, Heiji menaruh kotak bekal dari Ran diatasnya. Tetapi sebuah kotak bekal lain mengganggu pikiran Heiji. Sebuah kotak bekal berwarna biru cerah yang tepat berada di sebelah kotak bekal miliknya. Heiji melirik kiri dan kanan kemudian membuka kotak bekal biru cerah itu secara diam-diam, di dalamnya terdapat beberapa lauk dan nasi yang dibentuk mirip lambang hati. Di atas nasi terdapat tulisan dari saus tomat "I Love You". Urat kemarahan Heiji bermunculan lalu menutup kotak bekal tadi dengan kasar.

"Orang itu, benar-benar playboy, sekarang dia selingkuh dengan cewek lain, padahal dia tau Ran menyukainya. Dan lagi…" Heiji menghentikan sumpah serapahnya lalu wajahnya mulai memerah, "Aku menyukainya juga.." Sambung Heiji dengan suara sangat pelan.

"Ya sudah bukan urusanku. Dasar dia itu…" Heiji melangkahkan kakinya dari dapur, tapi baru satu langkah dia sudah mendengar sebuah suara aneh.

"Eh? Suara siapa itu..?" Heiji menajamkan pendengarannya, kemudian mulai berjalan ke arah asal suara. Heiji melangkah pelan-pelan hingga sampai di suatu kamar yang memiliki pintu yang lumayan besar. Heiji mendekatkan telinganya di pintu itu, Suara-suara itu mulai terdengar dengan jelas.

"Hmmphh… Henti~ Hmpphhh…" Itu suara Shinichi, pikir Heiji yang terus menguping. Di dalam kamar itu terdapat suara lain. Seperti suara tawa seseorang.

"Tantei-kun.. kau manis sekali… hmpphh…" Heiji mengenali suara itu, suara yang terus memanggil 'Tantei-kun' hanya pada Shinichi. Dia sangat tau suara itu.

"Lepaskan aku.. Kid…" Suara Shinichi terdengar marah terlebih lagi Heiji yang mendengar nama Kid disebut-sebut. Pesulap brengsek itu…

.

-BRAAAKKK- Pintu kamar di tendang Heiji dengan brutal, membuat engsel pintu itu terlepas dari tempatnya. Pemandangan yang kini di lihat Heiji adalah, Shinichi berada di lantai dengan posisi tangan diikat ke atas dengan baju dan celana yang tidak karuan, lalu diatasnya Kid menyentuh dagu Shinichi dengan kemeja yang terbuka sepenuhnya, menampilkan dada bidang miliknya. Tidak ada topi tinggi putih ataupun monocle di satu matanya, hanya wajah polos Kid dengan rambut yang acak-acakan dan dengan memakai celana panjang hitam.

Otak Heiji terdiam sesaat berusaha mencerna apa yang terjadi.

Saraf-saraf di otaknya berjalan agak lambat kalau Heiji sedang Shock seperti ini. Seperti sebuah adegan film, saraf-saraf itu seperti punya tangan, kaki, mulut, dan mata.

Saraf 1 : lapor kapten, mata sedang menglihat sesuatu yang sangat ganjil dan aneh.

Saraf 2 : laporkan secepatnya ke otak!

Saraf 1 : Baik, kapten!

Kemudian secara cepat saraf 1 berlari menuju otak.

Saraf 1 : Hei otak, kau tau apa yang sedang dilihat oleh mata?

Otak : tentu saja, nak. Itu namanya 'pemerkosaan'

Kemudian saraf 1 berlari ke saraf-saraf lain untuk mengatakan apa yang dibilang oleh otak.

Heiji merespon apa yang terjadi, pikirannya terus mengatakan pemerkosaan, pemerkosaan, pemerkosaan, kemudian wajah Heiji berubah murka.

"PEMERKOSAAN!" Heiji berteriak lantang, kemudian berusaha menerjang Kid yang berada di atas Shinichi.

-DUUAAK- Kid terlempar setelah kena tendangan Heiji. Shinichi yang kaget berusaha menjauh.

"Uhhkk.. rusuk ku…" Erang Kid kesakitan, di hadapannya Heiji sudah bersiap-siap menerjang lagi.

"KAU BRENGSEK!" Heiji berteriak sambil mengepalkan tinjunya, Kid yang melihat gelagat itu langsung menghindar ke samping membuat Heiji meninju ruang kosong. "JANGAN LARI!" Kali ini Heiji melemparkan sebuah guci ke arah Kid, Sang pencuri langsung berbalik kemudian dengan cepat menendang guci tadi yang hampir meluncur ke arah wajahnya. "Se..selamat.."

Heiji mengambil tongkat yang teronggok di bawah kakinya, membuat kuda-kuda untuk menyerang lagi. Kid mulai panik, dia melirik ke kanan dan kiri tetapi tidak ada benda yang tepat untuk dijadikan tameng.

"HEAAAHHH…" Heiji maju lagi dengan tongkat yang terulur ke depan.

Suara benturan terdengar keras ketika Kid menghentikan serangan Heiji dengan meja kayu kecil. "Kau itu cepat naik darah ya, Osaka-san." Kata Kid penuh dengan seringai mengejek membuat kedutan marah di dahi Heiji.

-DUAAK- Sekali lagi Heiji membenturkan tongkat tadi ke meja yang di pegang Kid, membuat meja itu terbelah menjadi dua. Kid bersiul kagum. Kalau kena serangannya bisa-bisa aku mati konyol… pikir Kid waspada.

Kid berusaha mencari celah kabur, matanya tertuju pada sebuha jendela. Dengan berlari cepat Kid berusaha menjangkau jendela itu. "HEI..!" Heiji berteriak marah, dia mulai memposisikan tongkatnya kemudian melemparnya ke arah Kid.

-KRAK- tongkat tadi menancap di tembok tepat di samping kepala Kid yang sudah lebih dulu menghindar. Ma..mati aku… Ujar Kid dalam hati sambil menatap tak berkedip tongkat yang hanya berjarak beberapa senti dari kepalanya itu. "JANGAN HARAP BISA KABUR!" Teriak Heiji penuh kemarahan, dia mulai berlari menuju Kid dan bersiap-siap menendang sang pesulap.

Kid waspada, dengan cepat dia melompat dari tendangan Heiji yang malah mengenai tembok hingga retak. Kid bersalto di udara lalu menendang wajah Heiji dengan tendangan ke samping, membuat sang detektif itu terlempar ke arah lemari buku dengan suara berdebam yang keras, membuat lemari buku yang tidak bersalah itu retak menjadi dua bagian.

Kid mendarat anggun di ujung tongkat yang tertancap di dinding, kedua tangannya dimasukan lagi ke saku celananya. Pose Kid kali ini penuh dengan kemenangan walaupun harus menutupi degupan jantungnya yang cepat karena melihat kekuatan Heiji.

"Menyerahlah, Osaka-san. Kau membuang waktuku saja untuk bermesraan dengan malaikat detektifku." Suara Kid terdengar angkuh terlebih menyeringai puas menatap Heiji yang tersungkur diantara kayu-kayu lemari yang berantakan. Kid melompat ringan dari ujung tongkat, dan mendarat pelan di lantai.

Kid mendekati Shinichi yang masih berusaha membuka ikatan di tangannya. "Kau memiliki teman yang mengerikan ya, Tantei-kun." Kid menyentuh rambut halus Shinichi. "Mau apa kau!" Kata Shinichi marah, matanya melirik khawatir ke Heiji yang masih terbaring disana. Kurasa Heiji pingsan karena terbentur lemari kayu… ini gawat… pikir Shinichi lagi.

Kid terkikik geli kemudian menarik dagu Shinichi, menatap mata sang detektif dengan lembut, "Aku akan tinggal denganmu disini. Di rumahmu, hanya kita berdua. Sampai kau berubah kembali menjadi 'Conan'. Mengerti, Tantei-kun." Sambung Kid yang dapat pelototan kaget dari Shinichi.

"Tinggal.. disini..?" kata Shinichi yang masih terbelalak tak percaya. Kid tersenyum. "Tepatnya, tinggal bersamaku, Tantei-kun." Ujar Kid lagi dengan seringai yang tidak dapat dideskripsikan.


~ TBC~

.

Maaf cuma ini dulu yang bisa di update... *bungkuk hormat*

chap besok masih tetap pertarungan Heiji dan Kid... hohoho

Review ^_^