"APA!" James berkata lebih keras dari yang dia harapkan. "Kau bercanda, Lils? Apa kau tidak ingin tau?" Dia memandang sekeliling dengan gusar. Tidak percaya dengan pendengarannya.

Yang lainnya masih melongo kaget.

Lily memandang James, kemudian dia mengalihkan pandangannya dan menatap buku yang tergeletak di meja. Dia berujar lirih "Tidak."

"Lily Evans… tidak mau membaca buku? Aku tidak menyangka akan melihat moment seperti ini." Sirius ternganga takjub, dia melongo dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Moony" Sirius menoleh ke arah Remus dan mencubit pipinya Remus keras-keras.

"Sirius!" Remus mendelik kesal.

"Ternyata bukan mimpi."

Lily memutar bola matanya. Dia menghela nafas, kemudian berkata, "Aku tidak mau membaca cerita dimana anakku disiksa! Aku bisa menerima kalau aku mati. Tapi aku tidak bisa menerima Tuney membuat anakku mati pelan-pelan." Suaranya agak bergetar karena marah, dia mendelik memandang mereka semua, seakan mereka sedang mencoba menantangnya berduel.

Mereka semua meringis. Tidak mungkin berdebat dengan Lily saat ini. Kemungkinan terbaik adalah mereka hanya akan kehilangan satu kaki, satu tangan dan mungkin jika nasib mereka baik mereka masih akan memiliki gendang telinga. Singkatnya mereka masih ingin hidup.

Remus mengakui buku tersebut tidak menyenangkan. Yeah, mungkin hanya satu hal yang menyenangkan. Voldemort musnah dan Harry berhasil selamat. Oke baiklah, itu dua hal. Tapi selain itu tidak ada yang menyenangkan. Kalau dia jadi Lily memang lebih baik tidak usah membaca lagi. Dia kepengen meninggal dengan tenang, syukur-syukur kalau itu cepat dan tidak sakit. Dia nyengir agak bersalah, pikirannya sudah melantur-lantur tidak karuan.

James dan Alice saling lirik, bagaimana caranya membuat Lily mau membaca lagi. Lily sangat keras kepala sulit sekali mengubah pendiriannya.

Setelah kesunyian yang rasanya bagai ribuan tahun dan lirikan-lirikan yang membuat sakit mata, mereka mendengar sebuah suara. Suara langkah kaki sedang mendekat. Mereka menoleh ke arah suara itu. Waspada.

Alice berpikir apakah ada yang berusaha memata-matai mereka atau orang tersebut mendengar percakapan mereka? Rasanya tidak mungkin , Lily sudah merapalkan mantra aneh buatan Snape, jadi tidak mungkin ada yang mendengar meskipun mereka berteriak-teriak. Ok ralat sedikit, Lily yang berteriak-teriak.

Frank menjulurkan lehernya, berusaha melihat siapa itu. Alice mengikutinya.

Langkah tersebut makin keras dan terlihat bayang-bayang makin mendekat. Sepertinya lebih dari satu orang.

Mereka mengeluarkan tongkat sihirnya. Waspada. Siapa tahu itu adalah Pelahap Maut atau Volemort sendiri. Mungkin dia tahu tentang buku Harry Potter ini dan berniat merebutnya. Mereka semua menegang, menunggu.

"Apa yang kalian lakukan?" Sebuah suara tegas menegur mereka. "Kenapa kalian mengeluarkan tongkat sihir?" Mcgonagal menyipitkan matanya, curiga.

"Tidak boleh menggunakan sihir di perpustakaan!" Madam Pince berkata galak sambil memplototi mereka semua

"Haaaah." Mereka semua mendesah lega. Frank dan Alice merosot di kursi.

Lily yang pertama menguasai diri. "Maaf Profesor, Madam Pince ,kami kira er.. Voldemort," wajahnya memerah karena malu.

Profesor Mcgonagall berjengit matanya membelalak kaget.

Madam Pince mendesis, "Jangan ucapkan nama itu." Dia menatap liar seluruh perpustakaan dan rak-rak buku. Seakan berharap Voldemort melompat menyerbu perpustakaan, mencekik mereka karena telah lancang menyebut namanya.

Mereka semua meringis melihat reaksi Profesor McGonagall dan Madam Pince.

Beberapa detik kemudian McGonagall menguasai diri, mungkin dia berpikir anak-anak didiknya sudah gila, terlalu paranoid. "Miss Evans, apa kalian pikir aku akan membiarkan Kau-Tahu-Siapa jalan-jalan di kastil? melompat melalui rak buku dan mengutuk kalian?" Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Mereka semua menunduk malu.

James dan Sirius hanya meringis.

"Baiklah aku rasa detensi kali ini sudah cukup." McGonagall memandang berkeliling rak-rak buku yang bukunya sudah tertata rapi. "Bukankan begitu, Irma?"

Madam Pince berdehem mencoba menguasai diri. Dia melirik buku-buku yang sudah tertata rapi, kemudian mengangguk puas.

McGonagall tersenyum penuh pengertian kepada mereka semua dan berkata "Kurasa kalian butuh istirahat, kalian bisa ke Aula besar untuk makan malam." Kemudian dia menambahkan agak cemas. "Jika kalian merasa agak kurang sehat mungkin kalian bisa ke Madam Pomfrey"

"Tidak, kami baik-baik saja." LIly menjawab cepat.

"Mungkin kami hanya butuh makan malam Profesor." kata Alice.

"Baiklah, pergilah."

Mereka mengangguk dan segera berlalu dari perpustakaan.

"Sepertinya membaca buku Harry Potter membuat kita jadi.. er."

"Paranoid," celetuk James.

"Yeah."

"Ayo kita ke aula besar aku sudah lapar sekali." Sirius berkata sambil memegangi perutnya yang keroncongan.

"Dasar kau ini." James meninju lengan Sirius.

Aula besar masih begitu lengang tak banyak anak yang pergi makan, pastilah mereka masih dalam perjalanan pulang dari Hogsmade. Severus membatin kecut, dia tak bisa ke Hogsmade hari ini, padahal ada sesuatu yang harus dia lakukan.

Severus menghantamkan dirinya ke dalam kursi, dia menatap makanan di depannya dengan liar dan merasakan air liurnya hampir menetes. Dia mulai meraih semua makanan yang ada dalam jangkauannya, mengendus sepotong ayam di tangannya dan mendengkur senang. Dia mulai mengisi penuh-penuh piringnya dan mulai menyumpal mulutnya dengan sup bawang, daging asap, ayam dan banyak lagi. Satu belum habis tertelan, dia sudah memasukkan yang lain.

Di sebelahnya Avery dan Mulciber juga mulai membantai makanannya. Serakus dan secepat mungkin. Bersendawa keras-keras dan mulai memasukan makanan lain lagi. Mereka kelaparan. Oke Ralat.

Mereka sangat kelaparan.

Bellatrix menatap jijik mereka semua, dia menyibakkan rambutnya dengan angkuh dan mulai mengisi piringnya. Dia memakannya seanggun mungkin sesuai tata krama darah murninya yang berharga. Walaupun dia mengakui dia juga merasa sangat lapar, tetapi dia tak akan merendahkan dirinya selevel gelandangan jalanan yang kurang makan. Mereka menjijikkan.

Seorang pemuda berambut hitam cepak mendatangi gerombolan itu. Dia berjalan agak pongah, wajahnya tampan, dengan bola mata hitam. Dia menyeringai menatap teman-temannya. Ibunya pasti akan mati jantungan jika melihat dia makan seperti mereka. Dia duduk di depan Severus.

"Lapar berat?" tanya pemudai itu sambil mulai mengisi piringnya.

Avery dan Mulciber hanya mengagguk sekilas dan melanjutkan kegiatan membantai makanan mereka.

Severus mendongak dan berkata dengan mulut masih penuh "Sanghhat." Dia menelan makanannya dan meneguk jus labunya. "Sangat.. lapar.."

"Bagaimana detensinya?" tanya pemuda itu cerah.

Severus mencibir "Kau tahu bagaimana Filch kan?". Dia mengerucutkan bibir, kesal.

Pemuda itu nyengir. Tentu saja semua orang tahu bagaimana Filch dan sikapnya yang anti terhadap murid-murid. Sudah rahasia umum bahwa Filch itu Squib. Dia benci melihat murid-murid dan selalu berusaha keras untuk memberi detensi kepada mereka. Dan detensinya kebanyakan harus mengeluarkan 'sedikit' tenaga.

"Memangnya apa yang dia suruh?" Pemuda itu bertanya setelah sebelumnya dia menelan kentangnya.

Severus mendengus "Membersihkan Trophi dan piala-piala."

"Tanpa Sihir." Avery menambahkan sebal.

Mulciber menggeram kesal dan menggeretakkan buku-buku jarinya.

Pemuda itu meringis "Pastilah ada hampir 500 piala dan Trophi disana, eh?"

Bellatrix mendengus kesal."Ciih, tenagaku sudah kuhabiskan untuk pekerjaan tolol dan tak berguna! Membersihkan tropi? Apa dia pikir kita keturunan kotor campuran? Setara peri rumah? Dan demi Pangera kegelapan yang agung, memakai cara Muggle? Tanpa sihir? Menjijikkan!" Belatrik mendesis jijik, "Apa kata leluhurku! Tanganku terlalu beharga untuk mengerjakan pekerjaan sampah semacam ini!" Dia mengibaskan tangannya seolah ada kotoran yang menempel.

"Demi Pangeran kegelapan?" Pemuda itu mengernyit "Jadi kau sudah positif akan menjadi pelahap maut Bella?"

"Tentu saja!" Bellatrix memandangnya dingin, seolah pemuda itu mencemoohnya. Ekspresinya melunak, penuh damba. "Itu impianku." Kemudian dia menyeringai kejam. "Aku tak sabar menyingkirkan para darah lumpur kotor."

Mulciber dan Avery saling berpandangan, mereka berdua mengangguk kemudian mengeluarkan seringai kejam dari mulutnya.

Severus menambahkan sangat pelan sehingga hampir tak terdengar "Kecuali Lily." Kemudian secara otomatis dia melirik meja Gryffindor, mencari Lily. Tak ada. Mungkin masih di detensi. Detensi apa yang diberikan McGonagall untuk Lily? Severus berharap bukan yang berat, dia tak tega melihat Lily menderita. Dia tak peduli bila si Potter brengsek itu di umpankan ke dalam segerombolan tarantula sekalipun, tapi tidak Lily. Gadis itu terlalu berharga. Jika bukan gara-gara Potter brengsek itu, dia pasti masih berteman dengan Lily. Mungkin juga mereka akan menjadi sepasang kekasih, kemudian menikah dan hidup di rumah kecil yang tenang, bersama anak-anak mereka. Huh! Apa yang sedang dia pikirkan? Enyahlah pikiran tolol! Dia menggeram kesal. Merasa marah terhadap dirinya sendiri, terhadap Potter, terhadap keadaan. Dia mengutuk semuanya.

"Ada apa, Sev?" Pemudai itu mengernyit melihat ekspresi Severus.

"Tidak apa-apa, Reg." Severus menggeleng. Dia menghindari tatapan Regulus dengan mengambil puding dan mulai menyumpal mulutnya kembali.

"Bukankah kau juga begitu, Regulus?" tanya Bellatrix acuh. "Ingin menjadi Pelahap Maut." Dia memandang regulus melalui sudut matanya.

"Yeah," Dia nyengir, "Aku tidak sabar untuk bergabung."

"Baiklah, ayo kita bersulang." Regulus berkata sambil mengangkat piala. "Untuk Pangeran Kegelapan."

Yang lain menyeringai dan meng-koor mengikuti. "Untuk Pangeran Kegelapan."

Marauders adalah sekumpulan remaja yang senang bergembira. mereka menghabiskan banyak waktu dengan bermain—tidak masalah bagi mereka, karena otak mereka memang sudah jenius dari sananya, tidak belajar sudah merupakan hal yang biasa bagi mereka.

Setelah selesai makan malam dan karena Lily Evans sedang marah karena buku masa depan dan ketika Ruang Rekreasi Gryffindor sepi (banyak anak-anak yang pergi tidur lebih awal mengingat di luar badai salju dan katanya tidur sambil mendengar bunyi angin berdesir bisa membantu mereka menghapal rumus dengan cepat. Sugesti yang aneh ..) Marauders yang barusan dibicarakan, sedang membentuk lingkaran di atas karpet merah di depan perapian.

James Potter sedang menepuk-nepukkan tangannya tak jelas seperti Muggle yang sedang menari saman.

Sirius Black duduk di sebelahnya dan mengisi TTS—Teka-Teki Suntuk—yang diberikan James tadi pagi. Sesekali Ia menguap lebar.

Remus Lupin, yang dari tadi mengernyit memandang bukunya, duduk di samping Sirius sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan ke kanan dan ke kiri seperti rumput yang bergoyang.

Peter Pettigrew masih sibuk berkutat dengan kue muffin yang dari tadi dimakannya. Begitu kuenya habis, entah darimana, Ia selalu mengeluarkan kue cadangan dari kantung jubahnya. Sungguh ajaib. Anak bertubuh subur itu sedang membaca komik Muggle yang dihadiahi temannya saat ulang tahunnya kemarin. Begitu menemukan adegan lucu, Ia akan tertawa tebahak-bahak sambil terus mengunyah kuenya, menyebabkan beberapa remahan kue bermanuver liar ke segala jurusan. Remus, yang duduk di sebelahnya, seakan sudah terlatih untuk dengan otomatis menutup bukunya dan menyender ke arah Sirius ketika Peter menunjukkan tanda-tanda akan terbahak.

Setelah dua ratus tiga puluh empat kali tepukan saman dari James dan tujuh puluh kali geraman Sirius dalam mengisi TTS-nya serta tiga belas kali pendaratan remah-remah roti dari Peter, dan tak lupa juga, 100 halaman buku yang telah dibaca Remus, para Marauders telah sepakat mengukir satu kata dalam benak mereka yang berliku-liku dan susah ditebak seperti labirin itu, yakni bosan.

Bosan.

Kata-kata sakti yang selalu diteriakkan Sirius ketika sedang dalam kelas Sejarah Sihir (ya, anak itu berteriak karena nampaknya Profesor Binns juga tidak mengacuhkannya). Satu kalimat singkat yang selalu digumamkan James ketika melihat Snivellus Snape lewat di hadapan mereka. Yang juga merupakan kata-kata andalan Peter untuk menolak ajakan Remus untuk mengerjakan PR. Dan—untuk Remus—sepertinya tidak ada kata 'bosan' dalam kamusnya karena seluruh waktunya terpakai dengan sangat efektif untuk menuntut ilmu.

James mengeluarkan tepukan terakhirnya dan menghelas napas panjang, diikuti Sirius yang sekarang melempar pena bulu dan TTS-nya ke belakang—ada bunyi api, Ia curiga kalau-kalau benda itu terbakar, tapi masa bodohlah. Remus menandai halamannya dan menutup bukunya lalu bertopang dagu, meniup-niup poninya membuat bibirnya terlihat seperti cerobong Hogwarts Express yang hendak berangkat. Peter menutup komiknya tapi masih mengunyah bukunya—eh—kuenya, hanya saja kali ini Ia mengemut-emutnya pelan, malas mengunyah.

Tiba-tiba Sirius menjulurkan kaki menendang betis Peter yang ada di depannya.

"Bosaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannn ..." lolongnya.

"Aku juga .." geram James.

"He-eh .." gumam Peter diantara kuenya.

Remus menghela napas.

"Adakah sesuatu yang bisa kita lakukaaaaaaaann?" teriak Sirius.

"Tidak tahuuuuuuuu" jawab James.

"He'ehhh!" gumam Peter.

"DIAM KALIAN SEMUA!"

Teriakan Remus mendiamkan mereka semua. Tapi tidak mengusir rasa bosan mereka sedikitpun.

"Hei, dengar!" kata Sirius sambil kembali duduk tegak, "aku punya satu permainan."

James menoleh. Remus mengangkat kepalanya. Peter menghentikan kunyahannya.

"Jadi begini .. jumlah pemainnya adalah dua orang" kata Sirius, "lalu dipilih satu abjad dan kalian harus menyebutkan—misalnya—nama-nama artis Muggle dari huruf tersebut, waktunya dihitung, siapa yang belum sempat menjawab ketika waktunya habis, dia yang kalah," ujar Sirius sambil menunjuk-nunjuk karpet dengan jempolnya.

"Lalu, yang kalah ..?" tanya Remus yang rupanya agak tertarik untuk mencoba.

"Yang kalah harus menjawab pertanyaan yang diajukan lawan mainnya, harus jujur, tidak boleh bohong .."

Ketiga Marauders yang lain melotot menatap Sirius yang sedang mengelus-ngelus botol berisi ramuan Veritaserum yang baru saja diambilnya dari balik lengan jubahnya.

"Padfoot—" Remus hendak protes ketika didengarnya suara James menginterupsi dengan sangat keras.

"DARIMANA KAU MENDAPATKAN ITU?" raungnya keras.

"Ya ampun, curi saja dari kantor Slughorn .." kata Sirius enteng sambil memutar bola matanya, "gitu doang susah banget, sih"

Mereka bertiga menatap Animagus anjing itu tak percaya.

"Sudahlaaaaaah!" kata Sirius tak sabaran, "kapan mulainya nih?"

Akhirnya mereka merapat dan menentukan pasangan dengan undian. Sirius berpasangan dengan Remus. Peter dengan James.

Pasangan Peter dengan James main terlebih dahulu. Sirius dan Remus menonton mereka.

"Baiklah, kuberi kalian huruf—L! Dengan kategori—umm—artis Muggle sajalah .." kata Remus yang seenaknya mengambil alih pertandingan.

TING!

Bunyi dentingan terdengar dari ujung tongkat Remus. Tanda waktu telah dimulai.

"Lionel Richie!" teriak James cepat.

"errrrrrrrrrrrrrrrrrrr .. Luna Maya!" sergah Peter lambat.

"Lewis Milestone!"

"Louis Armstrong!"

"Linkin Park!"

"Lionel Barrymore!"

"Lee Marvin!"

"Lila Kedrova!"

"Lupin—"

DING!

"Tanda waktu telah habis, pemenangnya adalah Peter!" ujar Sirius ceria seperti mbak-mbak penjaga loket bioskop.

James membuka mulutnya, protes, "Kok?—kenapa Peter yang menang?, aku kan sempat menyebutkan—"

"Memangnya ada artis Muggle yang nama depannya Lupin?" geram Remus tak sabaran, "sudahlah! Peter, ajukan pertanyaan .."

Peter nyengir-tak-jelas, "ehm, James .." dia berdeham sok imut kemudian melanjutkan, "hal apa yang paling membuatmu takut?"

James berpikir sejenak sambil menggigit-gigit bibirnya, "err .. sebenarnya, tidak ada yang membuatku takut—"

"Veritaserum!" potong Sirius sambil menjentikkan jarinya menyuruh Remus mengambil botol keperakan itu. Remus mengangguk sambil tersenyum licik lalu mengambil botol berisi ramuan itu, mengabaikan tatapan panik yang tergambar dengan jelas di wajah James.

"Tunggu—kawan, apa kalian sungguh-sungguh— glek .. " kalimat James terhenti ketika dirasakannya ramuan itu turun perlahan ke tenggorokannya. Anak itu terdiam sejenak, lalu berkata, "aku tidak merasa apa-apa, tuh .."

Sirius mengerling ke arah Peter. Lalu Peter berkata, "James, hal apa yang paling membuatmu takut?"

James tertawa kecil, Ia hendak bicara, 'sudah kubilang! Tak ada yang membuatku takut', tapi rupanya bunyi kalimat yang keluar dari pita suaranya tidak sesuai keinginannya, "aku takut kalau Sirius tahu bahwa aku yang menyembunyikan Bludger di dalam tasnya dua hari yang lalu ..", James membekap mulutnya sambil melotot. 3 detik kemudian, Ia menurunkan tangannya sambil tersenyum melas ke arah Sirius.

Sirius melotot, "ternyata—itu—kau—aku—nyaris—mati—tahu—" katanya sambil maju mendekat. James bergidik, menutup matanya, ketika didengarnya Sirius mendengus, tertawa kecil sambil berkata, "tak apa, Prongsie .. ide bagus, ngomong-ngomong"

James menghela napas sambil menyeka dahinya seolah ada keringat di sana. Ia baru akan bilang, 'aku tahu kau suka bercanda, Padfoot' ketika Sirius dengan tiba-tiba menerjangnya dan menjambak rambutnya.

Pertarungan anjing dan rusa itu sungguh seru, sampai-sampai Peter tanpa sadar mengambil alih provokasi dengan berseru, "patahkan lehernya, Paddy!"

"DIAM! BERHENTI, KALIAN BERDUA!" bentak Remus sambil mencengkram leher keduanya, beberapa anak kelas satu yang lewat di situ bergidik sambil menggumam, 'hiiy, galak sekali dia—jangan-jangan dia manusia serigala ..'

Setelah aura ketegangan diantara Sirius dan James hilang sepenuhnya, mereka melanjutkan permainan.

"Permainan ini berbahaya .." gumam James.

Sirius mendelik ke arah James, Remus menyikutnya, "Jangan!"

"Baiklah, jadi giliran siapa sekarang?" tanya Peter antusias, berharap ada perkelahian lagi.

"Aku dan Moony .." jawab Sirius sambil menggeser posisi duduknya dan menghadap Remus.

"Ehm, nah—aku saja, ya—kuberi kalian huruf .. K!" kata James ceria, "masih tentang nama-nama artis Muggle" Ia mengambil tongkat sihirnya sambil berteriak, "MULAI!"

TING!

"Kingsley Shacklebolt!" ujar Sirius tanpa berpikir.

"Sirius .. dia bukan artis dan bukan muggle, dia anak Ravenclaw .." ujar Remus kesal, "kau kalah!"

"Apa?! Tapi—aku cuma bercan—"

"DIAM!" potong Remus sambil membentak, Sirius bergidik.

Peter angkat bicara, "nah, Moony, ayo tanyai dia sesuatu .." katanya tak sabaran.

Lagi-lagi Remus tersenyum licik. Ia mendengus sebentar lalu berkata, "Pads, adakah hal yang kau sembunyikan dari kami?"

Mendengar ini, entah kenapa jantung Sirius berdegup tak karuan. Mereka bertiga menatapnya, menunggu jawaban jujur darinya, kalau tidak .. Veritaserum yang akan berbicara.

Sirius menelan ludah, Ia baru mau buka mulut ketika dilihatnya ketiga anak laki-laki didepannya mengangguk pelan penuh antusias, "bicaralah, Padfoot .." kata James memecah keheningan.

"Engg—itu, anu .. err, tidak—eh, tidak ada, tuh .." kata Sirius sambil nyengir dan menunjukkan angka dua dengan jarinya.

Ia menggaruk-garuk rambutnya dengan grogi. Peter mengangkat sebelah alisnya. Ia melonggarkan dasinya. James mengernyit. Ia menggigit bibir bawahnya. Remus tersenyum licik.

"Benar?"

"Benar"

"Jujur?"

"Jujuur!"

Remus menoleh kepada James dan Peter, "bagaimana, teman-teman?"

"Aku sangsi .." ujar James sambil mengangkat bahu.

Peter mengangguk.

SIALAAAAAAAAANN, batin Sirius. Perang pikiran berkecamuk dalam otaknya. Kenapa dia yang harus main berpasangan dengan Remus? Kenapa dia yang harus mengusulkan memakai ramuan Veritaserum untuk mengetes kejujuran? Kenapa dia harus ikut permainan ini? Kenapa dia yang mengusulkan permainan ini? Kenapa dia harus berada di Ruang Rekreasi? Kenapa dia harus bersekolah di sini? Kenapa dia harus dilahirkan ke dunia—

Sebelum berbagai pikiran bodoh lainnya datang menyerang, Ia mencoba menenangkan diri dengan memasang tampang jujur, tapi tidak bisa.

"Kawan-kawan .." ujar Sirius sambil menyetel pitch cempreng seperti suara anak umur 3 tahun, "dengar, ya .. aku tidak pernah membohongi—"

"Kalau kau memang benar-benar jujur—ya, tidak usah takut!" potong Remus tiba-tiba, "tinggal minum ini, bereslah sudah"

Kau tidak mengerti, Moony, katanya dalam hati, kalau aku bicara yang sebenar—

Glek.

Ia menenggak ramuan Veritaserum. Walaupun Ia tidak merasakan hal-hal aneh terjadi pada tenggorokannya, tapi seolah Ia bisa mendengar cairan itu turun melewati dinding lehernya sambil mengejek, 'hahahaa! Rasain!' Sirius tersenyum masam, menoleh ke arah teman-temannya. Remus menaruh botol ramuan itu di tengah-tengah lingkaran yang mereka buat.

Remus menoleh, "Nah, Sirius .. aku akan menanyaimu sekali lagi"

Sirius menelan ludah.

"Adakah hal yang kau sembunyikan dari kami?"

Ketiga anak laki-laki itu sekarang benar-benar memfokuskan matanya ke Sirius. Anak itu masih diam membisu.

Tapi akhirnya Ia membuka mulutnya, "aku menyukai... Minnie."

Merka bertiga membelalak mendengar jawaban Sirius, "ka-kau—apa?" Kata James mengguncang bahu Sirius.

Peter yang masih tidak mengerti hanya memandang teman-temannya yang saling menatap dan kemuadian tertawa terbahak-bahak—ralat ngakak bersama sedangkan Sirius justru wajahnya memerah.

"Kau bohong?"

"Tidak."

Ramuan veritaserus sepertinya masih bekerja pada Sirius hingga membuat mereka bertiga tertawa dan membuat Sirius semakin memerah.

"Ada lagi?"

Sirius mengangguk, "aku menggunakan mantra usir untuk buku masa depan dan sekarang ada di kamar."

"APA?" Seru Remus dan James serempak.

"KALIAN BERISIK! AKU SEDANG BELAJAR DAN SUARA KALIAN SAMPAI PADA KAMARKU DAN MENGGANGGU KONSENTRASIKU MENGHAFAL MANTRA!"

Para Marauders menoleh ke asal suara yang langsung membuat mereka beringsut ketakutan dan menatap gadis yang mengenakan gaun tidur kotak-kotak itu. Dia sedang menatap Marauders tajam dan sepertinya ia masih marah akan buku masa depan yang dibacanya tadi.

"Err—Lily, maafkan kami karena mengganggumu tapi, ya... kami tidak bermaksud dan... err—" Kata James bingung memikirkan ucapan permintaan maaf lagi.

Lily mendengus, "aku tidak peduli dan aku akan melaporkan kalian ke Madam Pince karena menggunakan mantra usir untuk mencuri buku!"

"Lily, dengar!" Seru Sirius yang membuat Lily semakin menatap mereka tajam, "kau pasti ingin tahu nasib Harry Potter, kan? Kita membaca lagi, aku sudah membacanya dan tidak ada hal-hal yang menyedihkan, oke?"

Lily memandangnya masih sama tajamnya dengan tadi, dia menghela nafas dan wajahnya sudah kembali seperti semula, "ya Alice juga sudah meyakinkanku bahwa buku itu belum tentu akan terjadi, kupikir juga tidak ada salahnya."

"Serius?" Tanya James, matanya berbinar penuh harap.

"Yeah, dan kuharap Madam Pince tidak mencari buku itu."

Lily kembali menaiki tangga menuju kamar para gadis dan para Marauders yang sudah melupakan topik terakhir mereka segera ber-tos ria karena Lily menyetujui untuk membaca buku masa depan mereka lagi dan Peter yang memang tidak tahu itu buku apa hanya memandang mereka dan tidak bertanya lebih jauh karena ia memiliki firasat yang tidak enak mengenai buku yang mereka baca. ]