You're The Only One
Karya : Nakashima Aya
Summary : Drabble singkat kisah Yukine dan belahan jiwanya. Point of View bisa berubah kapanpun sesuai dengan kisah yang tengah diceritakan.
Disclaimer : Noragami memiliki hak cipta milik seseorang yang telah menciptakan kisah tersebut dengan begitu teliti. OC milik saya.
Genre : Romace, Friendship, Humor(maybe), Angst.
Warning : OC! OOC, OOT(sometimes), Yukine X OC/Reader, Typo(s).
.
.
Please Enjoy to Read!
.
.
3rd Moment : Sins
Chiyukoku's POV
Aku hanya bisa duduk diam tanpa mengatakan apapun. Kubiarkan semilir angin yang mengisi keheningan diantara kami.
Yukine duduk di sampingku sambil terus menatap langit, ia merapatkan jaketnya, terlihat agak kedinginan. Aku sendiri hanya bisa berpegangan pada syal milikku dan menaikkan kaos kaki panjangku semakin tinggi. Aku menyesal keluar rumah hanya dengan mengenakan blus tipis, sebuah sweater, dan rok pendek serta syal berwarna biru yang menutupi leherku.
"A-anoo…" aku dan Yukine berkata bersamaan. Kami hanya saling berpandangan dan berkedip satu sama lain.
"K-kau dulu, Kaneko."
"Chotto! Berhentilah memanggilku seperti itu!" aku mengerucutkan bibirku kesal. Aku lelah dengan segala julukan yang orang lain berikan padaku.
"Setidaknya itu lebih baik daripada Chiko." Yukine terlihat tertawa puas. Mengabaikan rasa kesalku, akhirnya aku tersenyum. Entah kenapa, dengan melihat tawanya, aku merasa aku ingin tersenyum dan hanya tersenyum di sampingnya.
Namun, tawanya tidak bertahan lama. Tawanya memudar, dan ia mengeluarkan raut wajah yang tidak bisa kutebak, apa yang tersirat di dalamnya.
"Hey, Kaneko…" aku menoleh padanya, dan ia meneruskan kalimatnya, "Kenapa… kenapa kita harus menjadi shinki?" Hah? Sungguh aku tidak mengerti maksudnya.
Aku hanya memiringkan kepalaku ke kiri sebagai tanda bahwa aku tidak mengerti maksud perkataannya.
"Yah… Kau tahu kan, kurasa kita ini sebenarnya mungkin seumuran. Jadi kurasa kau bisa mengerti maksudku." Ia menggaruk tengkuknya.
"Kenapa kita harus menjadi shinki ya? Hmm… Menurutku, kita harus menjadi shinki karena Tuan kita telah memberi kita tempat bernanung dan tempat untuk pulang. Lagipula tempat ini jauh lebih baik daripada di far shore 'kan? Jadi kurasa kenapa kita harus menjadi shinki adalah karena kita harus mengabdi kepada Tuan kita, yang telah memberi kita tempat untuk pulang."
"B-bukan itu maksudku. Maksudku adalah kenapa kita harus menjadi shinki? Kenapa kita tidak boleh menjadi manusia biasa? Kenapa… Bagaimana kita bisa mati? Ini semua sungguh tidak adil. Ketika semua orang memiliki teman, berbaur dengan sesama, menyalurkan hobi. Dan disini, kita malah melindungi mereka dari balik layar, membunuh ayakashi yang tidak ada habisnya. Dan bahkan, mereka yang kita lindungi tidak berterima kasih pada kita, bahkan melupakan kita. Kenapa… Kenapa takdir itu begitu tidak adil? Kenapa kita lahir kembali hanya untuk menjadi seorang budak? Kenapa?"
Aku membelalakkan mataku, terkejut. Seorang shinki tidak seharusnya berpikir seperti itu. Ini tidak boleh dibiarkan, jika terus seperti ini, Yukine bisa menyebabkan sengatan untuk Yato – san. Bahkan jika lebih buruk lagi, Yukine bisa menimbulkan kutukan untuk Yato – san.
"Yukine… Kau tidak boleh berpikiran seperti itu. Shinki bukanlah budak. Shinki adalah senjata legendaris, senjata para dewa. Kita harus bangga menjadi seorang shinki. Karena itu artinya takdir memberi kita kesempatan untuk hidup sekali lagi. Dakara… Jangan berpikir seperti itu lagi ya?"
Yukine hanya tersenyum kecut. Aku tahu ia tidak puas dengan jawabanku. Aku tahu ia ingin aku berada di pihaknya dan menentang sistem roh ini. Hanya saja, itu salah, apalagi Yato – san adalah dewa yang baik. Dan aku tidak ingin Yukine terjerumus dalam jurang keputusasaan para phantom. Aku tidak mau jika harus melihat Yukine mati, sekali lagi.
Eh? Sekali lagi? Apa maksudku?
.
.
.
Maafkan aku karena tidak bisa memberikan jawaban yang terbaik untukmu.
Hanya saja, aku tahu hal ini pasti akan membantumu suatu hari nanti, suatu hari nanti.
.
.
.
Nih, author udah masa bodoh mau nulis apa di author's note jadi author Cuma ingin bilang terima kasih atas waktunya. Datang lagi lain kali, 'kay?
Review jangan lupa yaa!
Salam Hangat,
Nakashima Aya
