"Namaku Kamui Gakupo. Umm... Aku... berumur 8 tahun tahun ini. Terima kasih sudah berkunjung ke rumahku setelah kepergian orangtuaku."

Nyonya Hosoda menahan tangisannya, "Dia mencoba untuk tidak menangis di depan semua orang." Dia merangkul Yuuma yang menangis melihat temannya di hadapan semua media.

Gakupo mengintip tulisan di tangannya, "A—Aku... sangat sedih karena orangtuaku telah—" akhirnya Gakupo mulai menangis tersedu-sedu.

Sachiko menghampiri Gakupo dan memeluknya, lalu dia berdiri di hadapan semua media. "Maaf, tapi keponakan saya sudah cukup melakukan hal ini. Ini ketiga kalinya hari ini, dia sudah sering melakukan ini dan bisa membuatnya terus terpukul." Sachiko pun menuntun Gakupo ke kamarnya meninggalkan para jurnalis, reporter, dan lainnya di tempat.

Gakupo masih menangis di kamarnya, tinta pena di tangannya luntur di wajahnya karena air matanya yang terus mengalir. Sachiko mencoba untuk menenangkan Gakupo. "Hei, hei. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan, mereka semua orang yang tidak tahu sopan santun."

Lalu, ada seorang pria masuk ke kamar Gakupo. Laki-laki itu memakai setelan jas rapi dan dia adalah pengacara keluarga Kamui. Dia terlihat agak kesal, "Kenapa kalian di sini? Ayo kembali ke sana."

"Sudah cukup." Sachiko mulai terlihat marah, "Kau adalah orang yang dipercaya oleh kakakku dan kau membuat keponakanku terlihat seperti badut menangis di depan orang-orang itu!"

"Ayolah, Asagawa. Kau tahu hal seperti ini akan menguntungkan bagi Gakupo dan mungkin kau. Selalu ada yang mengalir masuk, kau tahu maksudku?"

Sachiko menggelengkan kepalanya dengan perasaan tidak percaya dan wajahnya jijik melihat pengacara keluarga Kamui tersebut, "Kau adalah mahluk paling kotor di dunia ini."

Gakupo merangkul kedua kakinya dan terlihat ketakutan, "Aku tidak mau mereka datang ke rumah lagi. Aku ingin sendirian, kenapa kalian tidak mau membiarkanku sendirian?"

Sachiko membalik badannya dan membelai kepala Gakupo, "Tenanglah, Gakupo. Semuanya akan berakhir." Sachiko melirik tajam pengacara itu dengan dingin, "Karena semua wawancara sudah SELESAI." lalu Sachiko kembali menatap Gakupo dengan penuh kasih sayang, "Kau akan baik-baik saja."

Nyonya Hosoda mengetuk pintu kamar Gakupo, Sachiko pun mempersilakan mereka masuk. Yuuma langsung berlari ke arah Gakupo dan mencoba untuk menghiburnya, sementara Nyonya Hosoda berbicara dengan Sachiko.

"Apakah Gakupo tidak apa-apa jika dia harus menghadapi media setiap hari?" tanya Nyonya Hosoda khawatir.

Sachiko kembali melirik dengan dingin ke arah pengacara tersebut, "Aku akan membuatnya berhenti." dia pun bertatapan dengan Nyonya Hosoda dan tersenyum, "Terima kasih sudah menjaga Gakupo selama aku di perjalanan menuju kemari."

"Tidak apa. Gakupo sudah kuanggap sebagai anakku sendiri." Nyonya Hosoda melihat Gakupo yang masih menangis di kasurnya, "Aku hanya takut dia akan kehilangan masa kecilnya yang bahagia karena ini." kini dia mulai khawatir, "Sekarang dia harus tinggal bersama siapa di sini?"

"Sebenarnya..." Sachiko menghela nafas, "Dia masih harus berada di sini beberapa minggu, bisa saja lebih dari sebulan. Pengadilan masih belum memberi keputusan Gakupo harus ikut bersama siapa, dan kakakku belum menuliskannya di surat wasiat atau mengambil keputusan siapa yang berhak menjadi walinya."

"Kau dari pihak ibunya, 'kan? Apa ada seteru dengan keluarga dari pihak ayahnya?" tanya Nyonya Hosoda.

Pengacara itu mencoba menghentikan pembicaraan, "Nyonya, ini adalah masalah keluarga. Kau tidak berhak tahu."

"Diamlah! Kau hanya membuatku marah saja. Keluar!" Sachiko mendorong keluar si pengacara dari kamar Gakupo. Dia pun menghela nafas, "Keluarga Kamui memiliki tradisi aneh seperti melepas semua status hubungan keluarganya setelah mereka menikah. Jadi keputusannya sekarang adalah, Gakupo ikut denganku, atau dia akan berada di..." Sachiko tidak ingin mengataknnya di depan Gakupo karena panti asuhan adalah hal yang tidak ingin didengar oleh Gakupo sekarang.

"Semoga dia bisa ikut denganmu." ucap Nyonya Hosoda yang penuh harapan.

Beberapa bulan kemudian, pengadilan memutuskan Gakupo untuk ikut bersama Sachiko ke Osaka. Sachiko dan para tetangga sangat bersyukur karena Gakupo akhirnya bisa tinggal dengan kerabat. Meskipun Gakupo tidak terlalu dekat dengan Sachiko, setidaknya dia bisa dirawat oleh orang yang sangat mengenal salah satu dari orangtuanya.

Selama beberapa bulan ini, Gakupo kerap dikunjungi media. Gakupo mulai terlihat berubah, dia jadi jarang bicara, menolak ajakan temannya—sekalipun itu Yuuma, dan hampir tidak keluar dari rumahnya. Menurut dokter psikologi anak, Gakupo mungkin mengalami syok atau trauma dan membuatnya berperilaku seperti ini. Dokter tersebut mengatakan jika Gakupo akan baik-baik saja jika dia dijauhkan dari hal-hal yang membuatnya kesal, seperti media yang terus mengunjunginya, atau membahas tentang kematian orangtuanya. Sachiko mengerti akan perintah dokter tersebut dan berusaha untuk menjauhkan Gakupo dari hal-hal tersebut.

Akhirnya, Gakupo pun mulai hidup bersama Sachiko di Osaka.


Beberapa tahun kemudian.

"Gakupo!" Sachiko memanggilnya dari lantai bawah, "Aku akan pulang malam hari ini!"

"Iya!" jawab Gakupo dari lantai 2.

Sachiko melihat jadwal kegiatannya dan dia mulai terlihat kesal, "Yang benar saja. Aku harus lembur seminggu ini. Dasar perusahaan iblis."

Gakupo datang ke ruang tengah di mana Sachiko sedang bersiap untuk bekerja, "Bekerja di akhir pekan lagi?"

Sachiko memasukan agendanya ke tas, "Iya. Sudah 3 bulan aku harus menghabiskan waktuku." dia menatap Gakupo dengan khawatir, "Kau akan baik-baik saja, 'kan?"

"Tentu saja. Aku sudah 15 tahun. Aku bukan bocah yang sering menangis lagi." jawab Gakupo sambil membuang muka.

"Baiklah, baiklah." Sachiko tersenyum, "Ingat, makan malam akan datang nanti jam 8 malam. Dan jangan lupa kunci pintu belakang. Kau selalu lupa." dia membawa kunci mobilnya dan membuka pintu depan, diikuti Gakupo. "Sampai ketemu besok."

Gakupo mengangguk, "Hati-hati di jalan."

Sachiko pun keluar dari rumah, meninggalkan Gakupo sendirian di rumah. Ini bukan sekali atau dua kali, tapi sejak Sachiko mendapat posisi lebih tinggi di perusahaan, dia semakin tidak memiliki waktu untuk Gakupo.

Gakupo kembali ke kamarnya dan tiduran di kasurnya. Ketika dia hendak memejamkan mata, telinga Gakupo yang sangat peka terhadap suara, mendengar suara jepretan kamera. Suara ini tidak asing lagi di telinga Gakupo. Akhirnya Gakupo berdiri dan menutup semua tirai jendela di kamarnya. Gakupo duduk di samping kasurnya dengan mata yang dingin. Dia sudah sadar sejak dulu, hidupnya di sini dan di rumahnya, tidak akan ada bedanya.

Setelah berdiskusi bersama Sachiko, Gakupo memutuskan untuk kembali ke rumahnya di Tokyo. Sachiko tidak bisa menolak keinginan Gakupo karena dia sudah cukup dewasa untuk merawat dirinya sendiri. Akhirnya, Gakupo pun kembali ke rumahnya dan dia kini tinggal sendirian.

Sesampainya di sana, dia ditunggu oleh para tetangga, dan juga teman-temannya. Tapi, Gakupo sama sekali tidak menghiraukan mereka dan masuk begitu saja ke rumahnya. Semua orang langsung membicarakan perubahannya. Yuuma mencoba mengunjunginya berkali-kali tapi Gakupo tidak pernah keluar dari rumahnya.

Saat itu, gerbang rumah keluarga Kamui hanyalah sebatas gerbang kayu setinggi dada orang dewasa. Tapi beberapa hari kemudian, Gakupo mengganti pagar dan gerbang rumahnya dengan kayu yang lebih kuat dan tinggi. Kini tidak ada yang bisa melihat isi rumah tersebut dari depan, atau masuk dari celah manapun. Yang Gakupo permasalahkan adalah bangunan apartemen di samping rumahnya, tingginya memang ada 4 lantai, tapi Gakupo yakin ada beberapa kamar yang bisa melihat halaman rumahnya dari atas.


"Sebentar lagi musim dingin." ucap Kaito sambil meminum tehnya, "Kau tidak ada rencana untuk keluar rumah?" Kaito tersenyum sambil menyilangkan kakinya di beranda depan rumah Gakupo.

Gakupo hanya menatap lurus ke arah pagar rumahnya yang lebih tinggi dari tinggi badannya, "Tidak. Aku tidak suka bepergian di musim dingin." lalu dia juga meminum tehnya. "Aku tidak tahu kau suka keluar saat musim dingin."

"Tidak juga. Tapi aku selalu menerima ajakan siapapun untuk keluar saat malam natal atau malam tahun baru." Kaito terkekeh. "Bagaimana keadaan di tempat latihan?"

"Baik-baik saja." jawab Gakupo santai, "Aku berpikir untuk berhenti. Jujur aku tidak suka berada di sana." Gakupo menghela nafas dan menaruh gelasnya, "Mungkin aku bekerja di rumah. Dan lagi aku punya tabungan hidup yang bisa menampungku hingga aku berusia 80 tahun."

Kaito hampir menganga, "Bagaimana—?" lalu dia terkekeh, "Kau memang penuh kejutan, Kamui Gakupo."

Beberapa bulan ini, Kaito dan Gakupo terlihat sangat akrab. Gakupo hanya berinteraksi dengan Kaito dibandingkan dengan tetangganya yang lain. Kaito sempat terobsesi mengetahui kehidupan Gakupo, tapi lebih jauh dia mengenal Gakupo, dia sadar jika Gakupo hanyalah seorang laki-laki yang butuh ketenangan setelah masa kecilnya terusik oleh orang-orang yang penasaran akan kehidupannya. Mereka juga tidak pernah membahas lagi apa yang terjadi saat di festival musim panas, tapi mereka tidak akan pernah melupakannya.

"Bulan Desember nanti, Jell-O akan membahas tentang natal dan tahun baru sebulan penuh. Sebenarnya sudah tradisi, tapi artikelku sering masuk ke kolom biasa. Bahkan aku bisa beristirahat dari tuntutan artikel." Kaito terkekeh, dan seakan-akan dia memberi sebuah petunjuk pada Gakupo.

Gakupo yang bisa menangkap pembicaraan Kaito, dia melirik Kaito, "Kau ingin mengambil hari libur?"

"Sebulan, lumayan, 'kan?" Kaito kembali terkekeh. "Aku mungkin akan pergi ke suatu tempat."

"Oh." Gakupo menunduk dan mendapat ide, "Sebenarnya aku memiliki sebuah rumah di Osaka. Ibuku memberikannya padaku di surat wasiatnya, dulu orangtuaku berencana untuk tinggal di Osaka, tapi mereka lebih memilih rumah ini karena rumah di Osaka cukup jauh dari pusat kota dan berada di bukit. Mungkin... kita bisa ke sana. Jika kau mau."

Kaito tersenyum, "Tentu saja aku mau."


Keesokan harinya, Kaito mencoba membahas tentang kasus orang hilang. Meiko kembali menghela nafasnya karena Kaito masih saja suka dengan berita seperti ini.

"Jadi, kau akan meliput tentang siapa sekarang?" tanya Meiko.

"IA." jawab Kaito dengan tenang.

"Hah?" Meiko bingung dengan nama tersebut. "IA?"

"Nama singkatan. Namanya sangat dirahasiakan." Kaito tersenyum ke arah Meiko, "Mungkin kau benar, aku bisa menjadi seorang detektif."

"Detektif payah, karena kau hanya membahasnya, bukan memecahkan masalahnya." Meiko kembali duduk di kursinya. "Aku membahas tentang taman bermain baru, lho! Artikel suram dan menyedihkan milikmu akan tenggelam seperti biasanya."

Mereka pun tertawa.

Kaito pun keluar dari kantor untuk mencari infomasi lebih lengkap tentang orang bernama IA. Dia mendapat berita tentang IA dari gudang artikel, sepertinya dia hilang beberapa tahun yang lalu. Menurut artikel lama yang dia temukan, IA adalah jurnalis baru yang mencoba mencari bahan cerita unik, tapi dia bahkan tidak sempat membuat artikel pertamanya karena dia dikabarkan hilang hingga saat ini. Kaito sudah memberi judul artikel yang akan dia tulis, Seorang Jurnalis Hilang Sebelum Dia Sempat Menuliskan Judul Artikelnya.

Malam itu, Kaito mendapat sedikit informasi tentang IA. Menurut data yang terkumpul, Kaito menyimpulkan jika IA bisa saja terbunuh karena menulis artikel yang dia buat. Hal ini membuat Kaito merinding, dan mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan.

"Apa aku harus menghentikan artikel ini?" Kaito mulai ragu akan artikel yang akan dia tulis karena ini juga akan menyangkut apa yang IA liput sebelumnya.

Suara ponsel Kaito berbunyi, Gakupo meneleponnya melewati nomor rumah. Kaito pun mengangkat ponselnya, "Gakupo? Ada apa?"

"Kau ingat Moon?" tanya Gakupo.


Mereka pergi makan malam di restoran Moon, di mana Kaito menyadari keberadaan Gakupo. Kaito juga baru tahu jika Gakupo menyukai tempat ini.

"Dulu orangtuaku sering mengajakku kemari." ucap Gakupo sambil melihat menu makanan. "Dan... mereka selalu merekomendasikan ini." Gakupo memperlihatkan menu yang sering dia pesan.

Kaito mendekatinya dan membaca apa yang tertulis, "Steak dengan saus Ranch?" Kaito tersenyum, "Aku tidak percaya ada menu Amerika di restoran bergaya eropa."

"Itulah alasannya aku memesan ini." Gakupo tersenyum sambil menaruh kembali menunya, "Menjadi berbeda tidaklah buruk. Dan jujur saja, rasanya sangat enak."

"Apa aku harus mencobanya?" tanya Kaito.

"Silakan. Jika kau mau memakan Amerika di Eropa." Gakupo kembali menatap menu.

Kaito sempat terdiam lalu dia tertawa, "Apa kau baru saja membuat lelucon? Ini pertama kalinya aku mendengarnya dan leluconmu sangat tidak lucu." dia masih terkekeh.

Sebelum mereka memanggil taksi, mereka berjalan sambil mengobrol terlebih dahulu. Di jalan cukup sepi, dan hanya ada beberapa mobil melewati jalan itu.

"Kau menulis artikel lagi?" tanya Gakupo.

"Iya. Hanya saja aku tidak yakin jika aku ingin meneruskannya." Kaito terdengar cukup depresi. "Jalan buntu lagi. Sama seperti dulu."

"Dan kau pun datang kepadaku." Gakupo tersenyum simpul.

"Dan aku pun datang kepadamu." Kaito tersenyum lalu melirik Gakupo, "Kenapa kau sangat berbeda dari orang lain, Kamui Gakupo?"

Gakupo kembali melirik Kaito, "Kenapa kau berbeda dari orang lain?"

Kaito berhenti berjalan dan menatap Gakupo. "Aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi..." Kaito berjalan mendekati Gakupo, "Apakah kau memiliki semacam kemampuan untuk mengubah seseorang?"

Gakupo mendekatkan kepalanya ke arah wajah Kaito, "Atau mungkin kau yang berubah karena seseorang."

Perlahan, bibir Gakupo menyentuh bibir Kaito. Suasana malam itu membuat bibir mereka dingin. Kaito merasakan bibir Gakupo mulai menghangat di bibirnya, tidak kuasa menahan diri, Kaito pun membuka mulutnya untuk mencium Gakupo lebih dalam lagi. Nafas mereka saling bertemu tapi tidak teratur, seakan-akan mereka terpicu oleh sebuah percikan api yang bisa membakar perasaan mereka kapan saja. Gakupo mendorong tubuh Kaito ke tembok di sebuah gang antara 2 gedung, Gakupo terus-terusan memberikan ciumannya kepada Kaito. Mereka merasakan dada mereka berdetak di ketukan yang sama, saling menggenggam tangan, Kaito mulai kehilangan kesadaran karena tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan puas yang dia rasakan.

Kaito tidak bisa menahan apa yang ada di benaknya, karena jika dia tidak mengutarakannya, dia bisa gila. "Gakupo..." Kaito mencoba melepaskan ciumannya untuk sesaat. "Aku—hmmp" tapi Gakupo tidak ingin melewatkan setiap momen yang terjadi saat ini.

Lidah mereka masih saling bermain di mulut mereka, Kaito mencoba untuk mengatakannya hingga akhirnya Kaito merasakan sesuatu di bawahnya. Kaito mulai memeluk Gakupo dengan erat dan kedua tangannya menggenggam kepala Gakupo.

"Aku..." Kaito mulai berbicara di antara ciuman Gakupo yang tiada henti, "Aku... mencintaimu."

Gakupo akhirnya berhenti mencium Kaito. Dia menunjukan wajah yang cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan Kaito. Dia tersenyum dan membelai pipi Kaito, "Aku juga mencintaimu."


"Artikelku memang cukup berbahaya karena membahas IA." Kaito terlihat bingung, lalu dia menyerahkan selembar artikel percobaannya pada Meiko, "Tapi Gakupo menyukainya. Dia bilang jarang sekali ada orang yang menggali kasus lama."

Meiko membaca sebagian artikel yang ditulis Kaito, lalu dia menghela nafas, "Kaito." Meiko duduk di samping Kaito, "Kau yakin tentang ini? Kau mengunjungi 5 kantor polisi untuk mendapat info tentang IA, dan kau tidak merasa khawatir hanya karena Kamui Gakupo menyukai artikel ini?"

"Entahlah. Gakupo membuatnya seperti kasus ini tidak berbahaya sekali." Kaito terkekeh.

Meiko mengernyit karena ada sesuatu yang aneh dari Kaito, "Kau baik-baik saja? Beberapa bulan ini kau terlihat aneh. Dan entah kenapa kau menjadi akrab dengan Kamui Gakupo. Kau sadar dia itu orang aneh, 'kan?"

Kaito melirik Meiko dengan tajam, "Jangan bilang dia orang aneh."

"Ini yang aku maksud. Sejak kapan kau selalu membelanya? Dan lagi kau jadi terlihat agak... aku tidak tahu, kehilangan jiwamu?" Meiko semakin merasa khawatir, "Mungkin karena kau terlalu dekat dengannya, sikap dingin dan acuh mulai merambat di dalam dirimu."

"Berhentilah membuatku untuk menjauhi Gakupo. Kau tidak tahu apa-apa tentangnya." Kaito mulai bernada sinis.

"Mungkin karena kau tidak mau memberitahu apapun tentang Gakupo, aku mulai menganggap dia sangat ahli mempengaruhi pikiranmu." Meiko terlihat ketakutan melihat sikap Kaito.

Kaito mengambil berkas dan tasnya dengan kasar, "Jika itu yang kau rasakan." Kaito berjalan menuju pintu, "Aku akan menjauh darimu karena itu yang akan dilakukan Gakupo pada semua orang." Kaito kembali terseyum sinis, "Sekarang aku tahu bagaimana perasaan Gakupo tentang orang yang selalu memaksanya sejak kecil. Dan kau tahu? Kau juga sama seperti orang-orang yang telah membuat Gakupo membenci orang lain." Kaito pun meninggalkan Meiko sendiri di ruangan kerja.

Meiko menutup mulutnya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut Kaito. Meiko bergumam dengan nada yang ketakutan, "Apa yang dia lakukan padamu?"


Bulan Desember pun tiba, Kaito bisa lepas dari pekerjaannya dan menikmati hari liburnya. Meskipun dia masih belum bisa memberi kejelasan di artikelnya, tapi Kaito berharap dia bisa meliput kasus IA secara menyeluruh—bahkan dia ingin memecahkan masalah tersebut. Kini Meiko hanya mencurigai Gakupo karena telah menjadi bagian terbesar di hidup Kaito semudah itu, dan menurutnya ini tidak baik sama sekali. Sementara itu, Kaito bersiap untuk berlibur ke Osaka.

Tempat yang dikatakan Gakupo persisi seperti apa yang dibayangkan Kaito. Tempatnya memang terpencil, tapi suasananya sangat tenang dan memiliki pemandangan yang indah. Dan tentu saja, seperti rumah Gakupo di Tokyo, rumah ini juga tidak kalah besarnya.

Gakupo membuka pintu kamar untuk Kaito, "Ini kamarmu. Aku akan berada di kamar sana." Gakupo menunjuk pintu kamarnya yang hanya sekitar 3 meter jauhnya.

"Terima kasih." ucap Kaito yang membawa kopernya lalu memasukannya ke dalam kamar.

Kamar itu cukup besar dan anehnya sangat bersih, Kaito penasaran kenapa tempat ini bisa sangat bersih meskipun tidak pernah ditempati.

"Setiap 2 minggu sekali, aku memanggil jasa pembersih rumah ke rumah ini. Jasa pembersihan rumah sudah ada di asuransi rumah ini." Gakupo menjawab rasa keingintahuan Kaito.

Kaito tidak bisa membayangkan sekaya apa keluarga Gakupo karena hal seperti itu membutuhkan uang yang cukup besar per bulannya.

Setelah mereka membereskan barang masing-masing, sekarang mereka berkumpul di ruang tengah. Rumah ini juga bergaya tradisional, mungkin ini memang selera keluarga Kamui. Di ruang tengah tersebut, ada jendela seluas dinding yang menghadap ke arah kota. Kaito terkagum-kagum melihatnya karena pemandangan malam hari di ruangan ini akan sangat indah.

"Aku heran kenapa keluargamu memilih untuk hidup di kota yang ramai dibandingkan di tempat tenang dan sejuk seperti ini." Kaito tersenyum sambil memandang ke arah jendela.

"Keluargaku tidak menyukai tempat sepi, mereka lebih suka tempat yang ramai dan dipenuhi banyak orang." Gakupo tidak pernah membicarakan masalah orangtuanya bersama Kaito secara mendalam sebelumnya, "Dulu aku juga berpikir sama, hidup dikelilingi banyak orang akan sangat menyenangkan. Memang benar, tapi aku salah."

Kaito membalik badannya untuk menatap Gakupo, "Apa kau pernah merindukan menjadi dirimu yang dulu? Menjadi orang yang sering bersosialisasi?"

"Untuk apa?" Gakupo mendesis, lalu dia duduk di kursi bantal, "Orang-orang yang terus-terusan menerobos rumahku membuktikan bahwa manusia memang kurang ajar."

Kaito pun mencoba meyakinkan Gakupo jika tidak semua orang seperti apa yang dia pikirkan, "Mungkin hanya mereka yang seperti itu. Tapi banyak orang yang masih—"

Gakupo langsung melirik Kaito dengan matanya yang dingin. Memang, Gakupo sering memberikan tatapan dingin, tapi tatapan kali ini bisa saja menghentikan seorang pembunuh untuk menyerang targetnya. Kaito mulai berkeringat dingin, dia tidak bisa berkata apa-apa selain menunduk dan mencoba kabur dari situasi ini.

"Oh... salju." Gakupo terkecoh oleh salju yang turun. Dia mulai memasang wajah damai, "Aku sudah lama tidak melihat salju sedekat ini."

Kaito menghela nafas lalu dia duduk di samping Gakupo, "Apalagi di tempat seperti ini. Salju mungkin akan menutupi pintu depan."


Keesokan harinya, jam masih menunjukkan pukul 4 pagi, salju masih turun dan malah semakin lebat. Kaito dan Gakupo juga masih tidur. Ponsel Kaito berbunyi cukup keras, tapi tidak cukup keras untuk membangunkan Gakupo yang tidur di ruangan lain.

Kaito membuka matanya dan dia mulai menggerutu, dia pun melihat ke layar ponsel dan nama Meiko muncul. Kaito mengerang malas dan menjatuhkan wajahnya ke bantal. "Halo?" suara Kaito tidak terlalu jelas karena wajahnya jatuh ke bantal.

"Kaito?!" Meiko terdengar gusar karena tidak bisa mendengar Kaito, "Kaito? Kau di sana?"

"Ada apa?" akhirnya Kaito mengangkat wajahnya, "Kau sadar sekarang jam 4 pagi, 'kan?"

"Aku tahu aku tidak suka jika kau mulai membahas artikel yang membuatmu dalam bahaya, tapi mungkin kau mau mendengar informasi ini." terdengar suara-suara kertas di balik ponsel, "Aku sedang lembur untuk menulis artikel tentang natal dan aku membutuhkan artikel lama untuk referensi. Aku berada di ruang arsip—"

Kaito kaget dan mengernyit, "Kau lembur sampai tidak pulang ke rumah?"

"Hei, diam. Kau tahu bagaimana aku bekerja. Mana tadi?" Meiko terdengar menyimpan ponselnya di lantai, lalu dia menekan tombol speaker, "Ini dia. Ada berkas dari arsip kepolisian, dan sepertinya hanya dibuka sekali. Sekedar informasi, artikel ini berada di dalam amplop dengan 4 pengaman."

Kaito mulai tertarik, dia bangkit dan mulai duduk di kasurnya, "Kenapa ada di ruang arsip Jell-O?"

"Entahlah, tapi pasti salah satu alasannya karena IA adalah jurnalis junior Jell-O saat itu." Meiko mulai berpikir, "Apa ada yang meliput kasus IA sebelumnya? Maksudku, ini sebuah dokumen privasi. Hanya jurnalis gelap atau—kau tahu, jurnalis bayangan yang bisa menerima dokumen seperti ini."

"Jell-O sudah tidak punya tipe jurnalis seperti ini." Kaito mengusap keningnya dan mulai berpikir, "Dan lagi, artikel tentang kejahatan dan kepolisian di Jell-O sudah jarang diminati. Aku hanya mengisi artikel itu karena memang aku tertarik. Tapi aku tidak pernah menjadi tipe jurnalis seperti itu."

"Iya, iya. Aku mengerti. Aku akan membacakannya untukmu, aku juga penasaran." Meiko mulai menarik berkasnya.

"Kau belum membacanya?" Kaito mengernyit keheranan.

"Tidak. Aku tidak ingin membaca berkas seperti ini sendirian." Meiko melihat beberapa lembar kertas dengan simbol kepolisian di atasnya. "Wow... ini keren sekali. Dan..." Meiko mencium bau kertasnya, "Ah... aroma kertas lama."

"Meiko." Kaito masih menunggu.

"Oh iya, maaf. Baiklah, kita lihat..." Meiko mulai membaca. "Nama korban, Ishioka Aria. Oh, itu inisial IA. Dia bekerja sebagai penulis di Jell-O setelah lulus dari SMA—wow, dia bisa langsung bekerja setelah lulus SMA. Menurut para saksi, dan perhitungan waktu yang dikronologikan, IA terakhir terlihat saat dia akan pergi meliput artikelnya, sekitar jam 7 malam tanggal xx bulan Agustus tahun 20xx."

"Ishioka Aria... Sejak itu dia tidak terlihat lagi?" tanya Kaito.

"Iya." Meiko membuka lembaran selanjutnya, "Lalu... artikel yang dia liput juga cukup tua. Apa-apaan ini? Mungkin dia sama sepertimu, tertarik dengan hal aneh dari masa lalu."

"Apa di sana tertulis siapa atau apa yang dia liput?" Kaito semakin tertarik.

"Hmm, coba kulihat." Meiko membuka lembaran lainnya, tapi isinya hanya keterangan waktu dan tempat di mana saksi melihatnya, dan informasi tentang kegiatan yang dia lakukan di Jell-O, "Tidak ada, hanya tertulis Meliput Artikel Lama dan tidak ada apa-apa lagi. Pantas saja berkas ini hanya dibuka sekali, tidak terlalu berguna." Meiko menyimpan berkasnya dan menghela nafas, "Kaito, mungkin ini peringatan bagi semua jurnalis. Setelah kejadian ini, kita tidak memiliki lagi jurnalis bayangan, kita lebih fokus ke artikel kehidupan sehari-hari dan trend anak muda atau dewasa. Lebih baik kau juga menjauhinya."

"Iya, aku mengerti." Kaito juga menghela nafasnya, "Tapi hanya sekedar penasaran—"

Meiko tidak mendengar suara Kaito lagi, dia mulai bingung, "Kaito? Kau masih di sana?"

"I—iya..." Kaito berkeringat dingin sambil melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka, "A—aku hanya... Apa aku lupa menutup pintu kamar sejak malam?"

"Apa?" Meiko ikut bingung. "Mungkin kau lupa. Atau ada angin."

Kaito menelan ludahnya, "Meiko... aku akan menutup teleponnya dulu."

"Eh?! Tunggu—!"

Suara Meiko pun terputus. Kaito menyimpan ponselnya dan dia bangkit dari kasurnya untuk berjalan menuju pintu, saat dia membuka pintunya, dia melihat sekeliling lorong tapi dia ada siapa-siapa dan di sana cukup gelap karena Gakupo mematikan hampir semua lampu. Kaito langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Dia pun kembali ke kasurnya untuk tidur dan mencoba melupakan apa yang terjadi dengan pintunya.


Pukul 8 pagi, Kaito dan Gakupo memakan sarapan di ruang tengah. Seperti yang dikatakan Kaito, salju mulai menutupi sebagian pemandangan jendela. Dan pemandangan kota juga hampir tenggelamn oleh salju.

Gakupo menaruh gelas untuk Kaito, "Ini."

"Terima kasih." Kaito mengambil gelas berisi teh panas yang dibuatkan Gakupo.

Gakupo duduk di tempatnya dan mulai memakan sarapannya. Kaito teringat tentang pintunya.

"Oh iya, apa kau bangun sekitar jam 4 pagi?" tanya Kaito.

Gakupo mengernyit, "Untuk apa aku bangun sepagi itu? Memang ada apa?"

"Apa kau ingat semalam aku menutup pintu kamarku?" Kaito mulai terdengar panik. "Karena seingatku aku menutup pintu dengan rapat dan jika terbuka karena angin pun tidak mungkin."

"Mungkin itu ulah setan." ucap Gakupo dengan santai sambil memakan sarapannya.

Kaito sempat merinding lalu dia menghela nafas, "Mungkin aku lupa menutupnya."

"Tenang, Kaito. Tempat ini sangat aman, tidak banyak orang yang tahu tentang tempat ini." Gakupo meyakinkan. "Dan lagi kenapa kau terbangun jam 4 pagi?"

Kaito terkekeh, "Meiko meneleponku. Hanya masalah pekerjaan."

"Aku kira kau tidak mengerjakan atau membicarakan pekerjaan di bulan Desember." mata Gakupo langsung tertuju ke arah Kaito.

"Hanya masalah informasi saja." Kaito meyakinkan.


3 hari kemudian, Kaito dan Gakupo akhirnya pergi ke kota menggunakan mobil rental yang disewa Gakupo. Kaito kaget karena dia baru tahu jika Gakupo bisa mengendarai mobil dan memiliki surat ijin mengemudi. Gakupo hendak mengajak Kaito menuju rumah tantenya, dan Kaito sangat senang karena Gakupo mau mengajaknya ke tempat itu.

Di jalan, Kaito lebih banyak bicara dan Gakupo hanya merespon dengan jawaban singkat dan jelas. Kaito tidak suka ada keheningan di antara mereka, hingga akhirnya Kaito hampir membicarakan apa saja yang ada di kepalanya.

"Aku yakin dengan artikel yang akan aku kerjakan nanti. Aku hampir menyelesaikannya dan aku memiliki beberapa berkas petunjuk." ucap Kaito bersemangat.

"Dari mana kau akan dapat berkas yang kau maksud?" Gakupo sedikit penasaran.

"Meiko menemukan berkas penting tentang IA, dan aku sudah menguhubungi seseorang untuk melacak dan mengirim informasi artikel lama yang diliput oleh IA." Kaito menyandar kembali di kursinya dan menatap Gakupo, "Terima kasih sudah mendukungku selama ini."

"Terima kasih sudah tidak meliput tentang hidupku lagi." Gakupo memperlihatkan senyuman simpulnya.

Kaito selalu merasa istimewa jika Gakupo tersenyum di depannya. Sangat sulit melihat dia tersenyum, dan akhir-akhir ini Gakupo sering tersenyum padanya.

Hampir 1 jam terlewati, mereka sampai di depan rumah tante Gakupo, Sachiko. Rumah itu sekarang kosong, dengan tulisan Dijual di pagar depan. Berbeda dengan rumah keluarga Gakupo, rumah Sachiko cukup sederhana dan mungkin agak terlihat sempit. Kaito melihar sekelilingnya dan berbeda dengan rumah Sachiko, rumah orang lain cukup besar.

"Tanteku selalu mengatakan jika dia tidak ada niat untuk berkeluarga, jadi rumah seperti ini sudah cukup baginya." Gakupo mencoba mencari kunci rumah Sachiko di gantungan kunci miliknya yang cukup besar.

Kaito selalu melihat Gakupo membawa gantungan kunci besar tersebut, mungkin ada lebih dari 10 kunci di sana. Di benak Kaito, dia tidak pernah menanyakan kenapa Gakupo memiliki kunci sebanyak itu. Dia berpikir sebagian kunci mungkin kunci gerbang di rumahnya.

"Kenapa kau memiliki kunci rumah tantemu?" tanya Kaito.

"Di surat wasiatnya, dia memberikan rumah ini padaku." Gakupo menemukan kuncinya dan mulai membuka pintu depan. "Dia tahu keluargaku memiliki 2 rumah, tapi dia tetap ingin memberikan rumah ini." Pintu pun terbuka.

Rumah tante Gakupo benar-benar berbeda dengan rumah keluarganya. Semua ruangan kosong dan sudah tidak berisi apa-apa. Gakupo mengatakan jika hampir seluruh isi rumahnya dijual, dan sebagian dia simpan di Tokyo.

Kaito pun kembali bertanya, "Jadi... kenapa kita kemari?" dia bingung karena untuk alasan apa Gakupo mengajak Kaito ke rumah tantenya yang kosong.

"Aku pernah menyembunyikan sesuatu di bawah tatami kamarku, dan aku akan mengambilnya. Ada di lantai 2, kau bisa menunggu jika mau." Gakupo menyimpan kembali gantungan kuncinya.

"Sesuatu?" Kaito penasaran.

"Iya, hanya foto-foto keluarga yang aku sembunyikan. Aku lupa membawanya saat aku membawa barang-barang tanteku ke Tokyo. Kau ikut?" tanya Gakupo.

Kaito tersenyum, "Aku akan menunggu di sini."

Gakupo pun pergi ke lantai 2 sendirian, sementara Kaito mencoba melihat-lihat lantai 1. Kaito membayangkan masa remaja Gakupo di sini, tempat ini terlihat cocok baginya, tapi mungkin sifat Gakupo sudah berubah saat itu. Dia membuka pintu geser yang mengarah ke dapur, di sana tidak terlalu luas tapi entah kenapa kesannya agak kotor. Dia membuka jendela di depan wastafel, ketika dia membukanya, sebuah pohon besar menghalangi pemandangan dari jendela. Bahkan Kaito tidak bisa melihat apa yang ada di balik pohon itu. Kaito pun kembali menutupnya, dan ketika dia membalik badan, dia kaget karena Gakupo sudah berdiri di sana sambil memegang kotak kecil di tangannya.

Kaito terkekeh kaget, "Kau membuatku terkejut. Kau sudah menemukannya?"

"Iya." Gakupo memperlihatkan kotak tersebut. "Dan isinya masih utuh." dia membuka kotak tersebut lalu melihat 2 buah foto dirinya dan keluarganya, lalu selembar foto Sachiko bersama Gakupo saat masih remaja.

Kaito menghampirinya dan melihat foto tersebut, "Kau sangat berbeda saat masih anak-anak." dia tersenyum lalu melihat ke foto Sachiko dan Gakupo, "Kau berubah drastis di sini."

"Sudah cukup." Gakupo memasukkan foto-foto itu kembali ke kotak. "Aku hanya butuh ini. Lebih baik kita pergi ke kota."

"Baiklah." Kaito setuju.


Mereka menghabiskan waktu cukup lama di kota. Mereka kembali ke rumah sekitar pukul 11 malam, dan seperti biasa, salju masih turun dengan lebat—meskipun tidak selebat kemarin malam. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk tidur.

Suara jam rumah berdetik dan suaranya terdengar jelas di lorong. Kaito keluar dari kamarnya untuk pergi ke kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, saat melewati ruang tengah, Kaito melihat Gakupo yang duduk di kegelapan sambil menatap jendela. Kaito bisa melihat bayangannya karena cahaya dari jendela cukup menyinarinya.

"Gakupo?" tanya Kaito.

Gakupo menoleh, "Ada apa?"

"Kau belum tidur?" Kaito mengusap matanya yang mengantuk.

Untuk sesaat, Gakupo tidak merespon, lalu dia kembali menatap jendela. "Mungkin aku tidak seharusnya mengambil foto itu. Kini aku hanya membayangkan mereka di kepalaku."

Kaito masuk dan duduk di samping Gakupo, "Kau mau membicarakannya?"

"Tidak perlu." Gakupo masih menatap lurus ke arah jendela. "Entah kenapa aku ingin pulang. Sebenarnya aku tidak terlalu senang diam di Osaka."

"Maaf." Kaito menunduk.

"Kenapa kau selalu meminta maaf untuk setiap ucapan orang lain?" Gakupo mulai menatap Kaito. "Kau punya kebiasaan buruk dengan ucapan maafmu."

"Apa kau ingin kembali ke Tokyo secepatnya?" tanya Kaito.

"Entahlah. Jika kau senang tinggal di sini, aku juga akan tetap tinggal." Gakupo kembali menatap jendela. "Aku tidak peduli, asalkan kau berada di sini denganku."

Wajah Kaito mulai memerah, dia menunduk karena malu mendengar ucapan Gakupo, "Be—begitu..."

Mereka terdiam dalam keheningan dan dada Kaito terus berdebar-debar. Kaito tidak terbiasa dengan suasana hening saat dia bersama orang lain, dia berharap Gakupo berbicara terlebih dahulu karena sekarang dia tidak bisa berkata apa-apa. Bukannya berkata apa-apa, Gakupo yang masih menatap jendela, diam-diam menggenggam tangan Kaito. Seketika, Kaito mulai tidak karuan. Di ruang tengah yang gelap dan dingin, Kaito hanya bisa merasakan rasa panas dari tubuhnya karena jantungnya berdebar-debar dengan cepat. Gakupo menoleh ke arah Kaito, lalu dia menaruh wajahnya ke telinga Kaito perlahan-lahan. Kaito merasa dia akan meledak karena wajah Gakupo tiba-tiba ada di dekat telinganya.

Gakupo mulai berbisik, "Aku ingin menyentuhmu."

Tubuh Kaito melemas mendengar bisikan Gakupo. Dia menutup matanya dan mencoba berpikir tenang, tapi masa bodoh, Kaito tidak bisa menahan dirinya. Dia mengangguk pelan-pelan dan mulai menelan ludahnya.

Gakupo berdiri sambil menarik tangan Kaito, mereka pun kini berdiri dan saling bertatapan. Senyuman menghiasi wajah Gakupo dan membuat Kaito tidak bisa berpikir dengan jernih.

Bibir Kaito terlihat bergetar, "Ba—baiklah."

Shion Kaito adalah seorang jurnalis di sebuah penerbit majalah bernama Jell-O, dia tidak pernah mengenal batasan untuk memenuhi semua keinginannya. Dia tidak tertarik untuk membuat artikel sederhana dan dibaca hanya untuk waktu senggang. Kehidupannya hanya dipenuhi oleh kasus-kasus yang tidak terpecahkan, sedangkan dia bukanlah seorang agen atau polisi.

Siapa yang menyangka, jika meliput artikel tentang Kamui Gakupo membuat dirinya mempertanyakan semua apa yang dia lakukan selama ini. Dia sadar jika hidup bersama orang yang dicintainya, harga diri yang setinggi langit pun akan berubah menjadi sebuah hati yang bisa dia genggam selama hidupnya.


Beberapa jam sebelumnya di Tokyo, Meiko hampir menyelesaikan artikel khusus bulan Desember. Dia terlihat bangga dengan artikel yang dia tulis. Malam itu di Jell-O, Meiko pulang ke rumah tanpa harus memikirkan deadline lagi. Sebelum pulang dia menyempatkan diri untuk berbelanja makanan, dia juga merencanakan sebuah pesta untuk malam natal nanti. Banyak sekali rencana yang ingin dia buat, dan dia hanya berharap agar semuanya bisa terlaksana. Pusat perbelanjaan cukup ramai saat itu, pertengahan bulan Desember adalah surga bagi mereka yang senang berbelanja untuk pesta natal. Persediaan yang masih banyak, dan barang-barang yang masih baru sudah terpajang.

Ketika Meiko sedang memilih bahan makanan, ponselnya berbunyi. Meiko tidak melihat kontaknya, dia yakin panggilan ini bukan dari kantor karena dia baru saja selesai menyerahkan artikelnya, "Halo?" ucap Meiko dengan nada santai.

"Kau masih di kota? Aku masih di kantor." suara wanita terdengar di balik ponsel. "Tadi aku membereskan mejaku dan sepertinya ada seseorang menyimpan kiriman di mejaku."

Meiko kenal dengan suara ini, "Miki?" Meiko menempelkan ponselnya di antara pundak dan telinganya, "Kau mau bilang jika kau mau pamer karena kau dapat kiriman?"

"Dengarkan aku dulu." Miki sedikit terkekeh, "Ada kiriman untuk Kaito dan aku heran kenapa seseorang menyimpannya di mejaku."

"Oh? Apa karena aku dan Kaito selalu mengunci ruangan saat keluar untuk mencari informasi?" Meiko mulai fokus dengan ponselnya.

"Kalian enak sekali punya ruangan sendiri." Miki kembali membicarakan kirimannya, "Di sini tertulis rahasia, apa Kaito sedang mengulas sebuah artikel berbahaya lagi?" Miki menyandar di kursinya, "Dia sudah sering menerima ancaman, tapi tetap saja melakukan hal seperti ini." dia menghela nafasnya, "Aku meneleponmu karena aku tidak tahu nomor ponsel Kaito... bahkan tidak ada yang tahu selain kau."

Meiko terkekeh, "Simpan saja kiriman itu di tempatmu. Besok kau bawa, aku tidak tahu jika disimpan di kantor akan aman."

"Baiklah. Sampai jumpa besok." Miki pun menutup panggilan.

Meiko akhirnya sampai di rumahnya dan dia ingin segera berendam di air panas. Dia pun mulai menyalakan keran dan menunggunya penuh sambil membaca Jell-O edisi-edisi sebelumnya di dapur. Meiko tidak terbiasa membaca lagi artikel miliknya sendiri, dia pun mulai membaca artikel terakhir Kaito di bulan kemarin.

Apa Alasan IA Membuat Artikel Terlarang?

Artikel ini adalah artikel ke-3 Kaito tentang IA. Meiko sebenarnya tidak ingin Kaito terus membahas artikel lama dan sengaja membangunkan apa yang tertidur. Tapi sejauh ini, kasus ini tidak menghantui Kaito—berbeda saat meliput Gakupo, Kaito harus menerima panggilan ancaman.

Ponsel Meiko kembali berbunyi dan nama Miki tertera di layar. "Ada apa lagi?"

Suara Miki terdengar ketakutan, "Meiko... sebelumnya aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal.

"Hei tenang." Meiko mengernyit, "Kau sudah di rumah? Ada apa?"

Miki menelan ludah dan dia mencoba tetap fokus, "Aku sudah di rumahku, lalu aku tidak sengaja menjatuhkan kiriman milik Kaito. Lalu..."

"Miki, tenangkan dirimu." Meiko bangkit dari kursinya, "Ada apa dengan kirimannya?"

"Kaito benar-benar berada dalam bahaya, Meiko." Miki terdengar ketakutan.


Kembali ke Osaka, Kaito dan Gakupo tertidur di kamar yang sama. Cuaca dingin di sana bagaikan bukan apa-apa bagi mereka. Mereka yang saling berpelukan di kasur tidak memakan pakaian sehelai pun dan hanya tertutupi oleh selimut.

Celana Kaito tergeletak di lantai kamar, lalu ponselnya tiba-tiba berbunyi. Mereka pun terbangun karena suara itu. Gakupo terlihat tidak senang dengan suara ponsel tersebut karena dia baru saja bisa tidur.

Kaito membelai pipi Gakupo dan berbisik, "Maaf. Kembalilah tidur, aku akan mengangkat teleponnya."

Gakupo langsung membalik badannya ke arah yang berlawanan dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Kaito keluar dari selimut dan dia baru sadar jika kamar ini sangat dingin. Kaito mengambil celananya dan langsung menerima panggilan dari Meiko.

"Hei... ada apa?" sambil berbicara dengan Meiko, Kaito mengambil celana dalamnya dan memakainya. "Kau tahu ini sudah larut, 'kan?" setelah mengenakan celana dan kaos, Kaito keluar dari kamar dan berdiri di lorong.

"Kaito." seperti Miki, suara Meiko terdengar ketakutan, "Di mana kau? Kau tidak memberitahuku di mana kau berlibur."

"Maaf, tapi aku tidak bisa memberitahumu. Tempat ini seperti tempat rahasia." Kaito sedikit terkekeh, "Kenapa kau? Kau terdengar seperti dikejar oleh hantu."

"Apa kau berlibur sendiri?" tanya Meiko.

"Tidak." Kaito mengintip Gakupo yang masih tertidur dengan selimut yang menetupi seluruh tubuhnya, "Ada apa?"

"Jangan bilang kau bersama Kamui Gakupo." nafas Meiko terdengar tidak karuan.

Kaito mengernyit, "Aku bersamanya sekarang."

Tangan Meiko melemas, "Ka—Kaito..." suara Meiko terputus-putus karena dia ketakutan. "Pergilah dari tempat itu."


Bersambung