Tittle: Changed from 'El Dorado' to 'Between Fantasy and Reality'

By: Aitalee

Disclaimer: This story is mine. Cast hanya milik Tuhan YME.

Genre: Adventure, Fantasy, Supernatural.

Rated: T

Main Cast: All EXO members (ot12)

Other Cast: Another K-artis, OC

Warning: AU, mungkin beberapa kalimat yang kurang bisa dimengerti, banyak kata-kata yang merupakan imajinasi author sendiri.


Chapter 3 .

Suho masih menautkan matanya pada kaca spion mobil, di mana ia melihat Yaz dan pengikutnya berjalan ke arahnya. Ia semakin khawatir saat mereka makin dekat, dan ketakutan itu menjadi nyata saat Yaz mengangkat pistol, dengan jadi telunjuk yang siap menarik pelatuk.

Namun pistol itu malah mengarah pada sebuah mobil berwarna biru, milik Kris. Diikuti orang-orang berpakaian hitam di kanan dan kirinya yang juga memegang senjata api pula mengacungkan laras itu pada sasaran. Berjalan perlahan, berusaha tak menimbulkan suara sedikit pun.

"Maaf, ada perlu apa?"

Suara itu memecah keheningan dan ketegangan yang sebelumnya terasa kental. Membuat Yaz menoleh pada sumber suara, dengan pistol teracung pada orang berpakaian abu-abu yang berbicara barusan. Lima meter darinya.

Lantas orang itu berhenti dan mengangkat kedua tangannya dengan gugup saat mendapati pistol tepat teracung padanya, "saya penjaga keamanan di sini—Oh, Nona Yaz! Maaf, ada perlu apa ke sini?" penjaga keamanan itu terkaget saat mendapati seorang Aluna Yaz yang tepat di depan matanya, jadi ia menghentikan langkahnya, tiga meter tersisa.

"Apa ada penghuni bernama Kris, Luhan dan Xiumin yang tinggal di apartemen ini?" salah satu pria berpakaian hitam bersuara.

"I-iya,"

Orang itu mengusap peluh di dahinya, dia membeku saat Yaz melewatinya lalu berbisik pelan dengan suara khasnya.

"Jangan sebarkan ke publik tentang hal ini,"

Dengan itu, Yaz bersama delapan orang berpakaian hitam, meninggalkan lobi. Menghilang di balik pintu lift yang kemudian membawa mereka pada lantai atas.

Suho menghela nafas lega. Ia melirik jam digital yang terpasang pada dashboard mobil. Jam tiga pagi dan mereka sama sekali belum istirahat. Mungkin saja sebelum matahari terbit, ia sudah bernasib sama seperti Kai yang kini terbaring di kursi belakang.

Dua menit berlalu sejak Yaz pergi, Suho menurunkan kaca mobilnya, memberi sinyal pada Kris untuk segera berangkat. Dan mereka membenarkan posisi duduk masing-masing, tak lagi menunduk bersembunyi. Lalu Suho menyentuh layar perintah pada mobilnya, menyalakan supir otomatis jadi dia bisa beristirahat untuk memulihkan energinya.

Tao yang berada di samping kursi pengemudi, berusaha mencari posisi senyaman mungkin untuk terjun dalam alam mimpi. Sementara di kursi tengah, ada Kyungsoo dan Sehun yang enggan terlelap. Mereka memilih menatap ke luar jendela selama perjalanan. Sementara Kai masih terbaring lemas pada kursi paling belakang. Dengan tubuh yang dibungkus selimut.

Sekali lagi Suho melirik pada spion mobil, hanya untuk memastikan ada mobil berwarna biru yang mengekor di belakang. Suho menghela nafas saat mendapati mobil itu masih mengikutinya, jadi dia menutup mata untuk tidur. Perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam, jadi mereka bisa beristirahat walau hanya sebentar.

Berbeda dengan Kris yang masih terjaga. Walau ia menyalakan mode supir otomatis, tapi duduknya masih tegak dan matanya menatap pada jalan. Jantungnya masih terpacu akan kejadian di lobi. Sebenarnya bibirnya gatal untuk bertanya, tapi ia tidak bisa menyusun tiap kata yang melayang acak di pikirannya.

"Aku tahu dalam kepalamu itu tersimpan banyak pertanyaan. Tanyakan saja padaku. Siapa tahu aku bisa menjawabnya." Itu Chen, yang duduk di kursi sampingnya. Masih terjaga seperti Kris, dengan mata yang terpaku pada jendela di sampingnya. Seolah bisa membaca pikiran Kris, dia angkat bicara.

"Kupikir aku akan semakin gila jika mengetahui ini lebih lanjut." Balas Kris, masih dengan tatapan lurus pada jalanan yang lengang.

Lampu jalan yang menerangi terasa semakin jarang, seiring angin yang berdesir halus. Menit-menit berlalu seiring berubah menjadi jam. Tujuan mereka sudah di depan mata, hanya empat ratus meter lagi dan mereka sampai.

Tepat jam empat pagi seperti yang diperkirakan. Suho membuka matanya, segera menyadarkan seluruh indera dan saraf tubuhnya. Lalu ia membangunkan Tao, Kyungsoo, terakhir Sehun. Sungguh ia masih tidak tega untuk membangunkan Kai.

Di sinilah mereka, masih dengan wajah mengantuk bercampur lelah, berkumpul di depan gerbang apartemen, membuat dua penjaga keamanan repot-repot turun dari pos mereka hanya untuk menanyakan maksud dan tujuan. Jadi mereka memutuskan hanya tiga orang yang akan turun untuk mencari Chanyeol dan Lay. Jadi, Chen, Kai, Kyungsoo, Kris, Luhan, dan Sehun yang tinggal di lobi.

"Jika kami tidak kembali dalam waktu tiga puluh menit, cari kami." Ucap Suho sebelum meninggalkan mereka bersama Tao dan Xiumin.

Suho membuka kamera miliknya, hanya untuk melihat dan memastikan beberapa baris tulisan pada sebuah foto, walau sebenarnya dirinya sudah ingat betul tapi tak ada salahnya untuk memastikan. Suho tersenyum saat melihat tiga digit nomor yang terukir di sebuah pintu. Lantai pertama, kamar nomor 109, Park Chanyeol. Tanpa membuang waktu lagi, Suho menekan bel. Menunggu beberapa saat hingga pintu itu terbuka otomatis dengan Tao dan Xiumin di kanan kirinya.

Namun saat pintu itu tak kunjung terbuka, Suho kembali memencet bel, bertukar pandang pada Tao dan Xiumin yang hanya mengangkat bahu.

"Maaf, mencari siapa?"

Mereka berbalik. Mendapati seorang pria tinggi dengan pakaian kausal berdiri di hadapan mereka.

"Park Chanyeol?"

"Ya, aku sendiri."

"Ah, baguslah. Lekas cari seseorang bernama Lay itu lalu pergi dari sini." Ucap Tao yang kemudian mendapatkan tatapan bingung dari Chanyeol dan tatapan tak menyenangkan dari Suho.

"Nah, aku tidak ingin basa-basi karena sialan itu sedang mengejar kita. Namaku Suho, dia Tao, dan ini Xiumin. Kita di sini untuk mengajak dirimu bergabung bersama kami."

"Bergabung dengan?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, tangannya ia sembunyikan di belakang.

Suho menghela nafas, kemudian melirik Xiumin lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Kemudian Xiumin membuka sebelah sarung tangannya, menunjukkan sebuah simbol, juga Suho dan Tao yang menggulung lengan kemeja panjangnya.

Chanyeol hanya melihat hal itu dengan heran, namun matanya agak menyipit saat melihat simbol itu. Hanya untuk memastikan. Apa itu sejenis dengan miliknya?

Xiumin menyentuh dinding di belakangnya, dan permukaan dinding itu perlahan dilapisi es tipis. Menyebar hingga dua meter, tidak seluruh ruangan seperti biasanya. Xiumin sedikit bingung namun dia mengabaikan hal itu.

"Aku tahu kau juga memiliki kekuatan aneh. Kami pun begitu, jangan sembunyikan tanganmu. Coba perlihatkan simbol itu." Ujar Tao.

Lantas Chanyeol mematung sesaat, otaknya memproses kejadian barusan juga deretan kata yang ia dengar. "Tidak, tidak. Tidak terima kasih. Otakku mungkin sedang memvisualisasikan hal yang aneh karena aku kurang tidur, oke permisi, aku ingin tidur. Aku akan tidur dan berjanji tidak akan berkeliaran lagi."

Suho, Tao, dan Xiumin memberi jalan pada Chanyeol yang hendak membuka pintu. Mereka berpandangan sebelum mengangguk satu sama lain.

Sebelum pintu itu otomatis terbuka, Xiumin meletakkan tangannya pada permukaan pintu. Membuat lapisan es merambat hingga menutup seluruh permukaan, menyebar satu meter dari pusatnya. Membuat Chanyeol refleks mundur, menabrak Tao yang kemudian mengunci tangan Chanyeol.

Tao melihat simbol yang ada di tangan Chanyeol. Itu berbentuk seperti burung.

"Burung Fho—ah, Niex—" Namun sebelum dirinya mengingat akan apa yang dikatakan Kai tentang simbol berbentuk burung, telapak tangan Chanyeol mengeluarkan api, sedikit menjilat kulit tangan Tao yang kemudian melepas kunciannya.

"Wow. Santai saja, bung." Tao mengangkat kedua tangannya, mundur tiga langkah dari Chanyeol.

"Hei ayolah jangan mengganggu ketertiban umum." Suho melerai keduanya, berdiri di antara mereka. "Park Chanyeol, aku mohon ikutlah dengan kami." Suho memohon.

"Apa untungnya kalau aku ikut kalian?" tanya Chanyeol dengan nada yang tak menyenangkan. Matanya memicing pada tiga orang di hadapannya.

"Keselamatanmu dan dunia." Jawab Suho dengan nada yakin.

"Haha lucu sekali! Hahahaha! Pergilah dari sini atau aku akan memanggil petugas keamanan." Balas Chanyeol sungguh-sungguh.

Chanyeol berbalik lagi, kini tangannya sudah menekan tombol pembuka pintu. Namun pintu itu macet dan tidak terbuka. Chanyeol berdecak kesal, ia tidak tahu kalau es sialan ini membuat pintunya macet. Maka dia menatap Xiumin.

"Lelehkan esnya."

"Tidak."

Alis Chanyeol berkedut, sebuah perempatan urat muncul di dahinya. Dia meraih kerah Xiumin dengan emosi memuncak, lalu Suho dan Tao segera bergerak. Tao segera melepaskan tangan Chanyeol dari Xiumin dengan satu kali hentakkan keras dan langsung mendorong Chanyeol hingga menabrak dinding. Kedua lengan Chanyeol yang dikunci Tao di atas kepalanya, dan dengkul Tao menekan perut Chanyeol hingga anak itu mengerang kesakita.

Suho langsung bergerak, ia menggerakkan air dari sebuah botol yang tadi ia bawa—untuk berjaga-jaga. Lalu air itu membungkus kedua tangan Chanyeol sehingga tangan Chanyeol sendiri tidak dapat mengeluarkan api.

"Ikut kami," bisik Tao pada telinga Chanyeol.

"Aku menjamin nyawamu akan selamat. Cepatlah waktu kita tidak banyak." Ujar Suho.

"Setelah apa yang kalian lakukan padaku aku tak yakin nyawaku akan selamat."

"Percayalah," Suho memejamkan matanya sejenak untuk meredam emosi yang hendak keluar.

"Bagaimana dengan sekolahku?"

"Itu tidak penting untuk sekarang ini. Kau bisa melanjutkannya nanti." Jawab Suho dengan tenang.

Chanyeol menimang-nimang permintaan ketiga orang asing di depannya. Jujur dia takut nyawanya akan melayang di tangan ketiga orang dengan kekuatan aneh ini walaupun dirinya juga memiliki kekuatan, tapi tiga lawan satu sangat meragukan untuknya.

"Baiklah. Tapi jangan harap aku akan berperilaku menyenangkan. Aku ikut kalian karena aku masih sayang nyawa." Chanyeol meringis karena tubuhnya semakin sakit.

Suho menghela nafas, dia menepuk-nepuk punggung Chanyeol. Lalu memberi isyarat pada Xiumin agar cepat bergerak.

Satu masalah terselesaikan? Mungkin.

Air yang melingkupi kedua tangan Chanyeol yang di kunci Tao, jatuh begitu saja. Membuat baju Chanyeol basah dan ia memaki karena hal itu.

Ini mungkin adalah kesempatan bagi Chanyeol untuk kabur, mengeluarkan api lagi dan orang ini pasti akan melepasnya seperti tadi.

"Jangan coba-coba mengeluarkan api, kalau kau tak mau berurusan dengan kekuatan Tao." Ucap Suho sambil melangkah. Hal itu membuat Chanyeol mengurungkan niatnya untuk memberontak dan memilih menyerah mengikuti skenario ini.

Saat Suho dan Xiumin dan melangkah lebih dalam ke dalam gedung apartemen, Tao menuntun Chanyeol keluar, menuju lobi tempat yang lainnya menunggu. Chanyeol semakin protes karena cengkeraman Tao tak kunjung dilepaskan. Namun bagaimanapun ia meringis, memaki, atau bahkan memohon, Tao tak melepaskan tangannya.

.

Tepat tujuh menit sebelum tiga puluh menit habis seperti yang Suho katakan. Kini dia kembali dari gedung apartemen, menghampiri Tao dan yang lain, bersama seorang laki-laki di sisi kanannya yang menggendong ransel hitam berukuran sedang.

Rasa canggung itu sangat terasa kala mereka bersebelas berkumpul sebelum masuk mobil. Karena, ayolah, siapa yang tidak gugup ketika kau tiba-tiba dipinta mengikuti sebuah perkumpulan dan sebagian besar dari orang-orang itu tidak kau kenal.

Jadi sebelum hawa tidak enak itu melingkupi mereka sepenuhnya, Kris segera masuk ke mobilnya lalu menyalakan mesin mobilnya. Lantas Chen, Luhan, dan Xiumin yang tadi duduk di mobilnya, kembali masuk. Juga Chanyeol dan Lay yang dipinta Suho untuk memenuhi kuota mobil milik Kris, sementara di mobilnya ada dia, Kai, Kyungsoo, Lay, dan Sehun. Satu orang lagi dan tujuan pertama mereka selesai.

"Kita ke mana?" tanya Chanyeol saat Kris mobil sudah berjalan beberapa menit.

"Distrik dua puluh." Jawab Kris singkat.

"Oh itu lumayan jauh," Chanyeol menghela nafas, di sandarkan dengan kasar punggungnya.

"Ya, sekitar satu jam jika kita melalui jalan bebas hambatan." Balas Kris.

Setelah itu tidak ada lagi yang bicara. Mulut Chanyeol yang asalnya cerewet, sudah gatal ingin bicara. Tapi dia mengurungkan niat itu saat melihat orang di sampingnya—Lay sedang tertidur, dua orang di depannya yang hanya menatap ke luar jendela, serta dua orang di kursi paling depan yang terlihat acuh, Chanyeol menghela nafas lagi.

Dia harus menahan diri untuk tidak berbicara, takut-takut sepatah atau dua kata yang keluar dari bibirnya membuat salah satu dari mereka tersinggung. Dan mengingat apa kata Suho beberapa menit yang lalu bahwa mereka semua memiliki kekuatan, Chanyeol makin ciut.

Perbatasan distrik sudah mereka lewati dan hanya tinggal beberapa menit lagi mereka sampai ke tempat tujuan mereka. Suho menekan sebuah tombol berwarna abu-abu, dan sebuah laci terbuka, terdapat beberapa kaleng minuman. Lalu ia membagikan minuman kaleng untuk orang-orang di mobil, tidak untuk Kai yang masih terbaring. Ini sudah jam enam dan Kai masih tidur.

Saat sebuah mobil tiba-tiba menyalip, Suho menyemburkan minumannya dan terbatuk. Sungguh ia kaget saat mobil itu menyalakan klakson padanya dan tiba-tiba ada di depan mobilnya. Dia membersihkan minumannya dan memaki, kesal. Untung saja dia tidak menabrak.

Lalu mobil berwarna hitam di hadapannya membanting setir, hingga mobil itu membentang horizontal menghalangi jalan. Suho tak sempat membanting setir dan ia berakhir menabrak badan sebelah kanan mobil itu. Dan lebih buruknya satu mobil menabrakkan dirinya dari belakang, terkesan sengaja lalu diikuti satu mobil lainnya. Membuat mobil yang mereka tumpangi terguncang. Mereka kaget serta panik, sungguh rasanya dihantam dua mobil sekaligus itu mengerikan.

Namun mereka masih terbilang beruntung, karena mobil yang Suho miliki memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Walau akibat dari tabrakan itu sangat terasa. Ya, karena kaca depan mobil yang pecah beberapa serpihan tentu tak luput mengenai Suho dan Tao yang duduk di barisan depan. Melukai lengan keduanya yang refleks menyilang di depan kepala mereka.

Asap menyembul dari keempat mobil yang terlibat laka lantas. Kris segera keluar dari mobilnya saat mobilnya sudah ia tepikan, diikuti Chanyeol, Chen, Lay, Luhan, dan Xiumin di belakangnya dengan wajah panik. Sungguh sebenarnya sedari tadi ia curiga dengan tiga mobil yang mengekor di belakang, dan jalan ini sangat jarang kendaraan padahal biasanya ramai lancar walau masih pagi.

"Cepat keluar," ucap Luhan saat berhasil membuka pintu mobil milik Suho. Dibantu oleh yang lainnya.

Ini aneh. Saat mereka sudah keluar dan hendak menolong pengendara lainnya, tidak ada satu penumpang di dalam mobil. Ketiga mobil itu kosong. Sudah pasti mobil ini dikendalikan dari jauh oleh seseorang yang ingin mereka celaka. Suho menggeram dan meringis.

Di sana ada Kai, yang pipinya terus saja di tepuk-tepuk oleh Chen. Hal itu membuahkan hasil saat kelopak mata Kai bergerak, membuka perlahan, namun yang keluar dari bibirnya adalah ringisan.

"Punggungku sakit," ucap Kai. Ia duduk dengan susah payah tentu saja dibantu oleh Chen. Punggungnya sangat sakit, dan ia juga bisa merasakan rasa perih yang membentang di kakinya.

Mereka semua mengedarkan pandangan pada sepanjang jalan yang lengang. Sangat aneh. Dan tentu saja ada orang di balik semua ini.

"Berapa orang yang terluka?" Suho berdiri, mengabaikan rasa perih di lengannya.

Matanya mengobservasi keadaan sekitar. Di mana ada Kai sudah sadar dan jelas ia teruka, Tao pun begitu, jelas karena di duduk di depan. Sehun juga, karena sisi tempat ia duduk di hantam salah satu mobil sialan itu dan satunya lagi menghantam bagian belakang.

"Panggil ambulans se—"

"Tidak tunggu. Apa salah satu dari kalian adalah healer?" Kai memotong ucapan Suho.

Mereka saling berpandangan, bingung. Kai yang mengerti kalau mereka bingung lantas menjelaskan, itu adalah orang yang memiliki simbol kuda dengan satu tanduk—Unicorn, yang bisa menyembuhkan luka. Dan Lay mengangkat tangannya, namun wajahnya tetap menyiratkan kebingungan.

"Aku bisa menyembuhkan orang lain? Bagaimana bisa?" tanya Lay.

"Hanya konsentrasi, kendalikan emosi, dan salurkan kekuatan itu melalui tanganmu. Buatlah perintah menyembuhkan dari otakmu. Jangan panik, tenang, dan rileks. Itu intinya." Balas Kai.

Menjadi orang yang tahu seluk beluk seluruh kekuatan memang bagus, namun itu juga hal yang berat. Kai juga merupakan yang pertama yang bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik, itu di bantu oleh 'sesuatu'. Tentunya.

Lalu Lay mendekat. Sungguh ia belum pernah menyembuhkan orang lain, bahkan luka di tubuhnya sembuh sendiri tanpa ia kehendaki. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba.

Jadi dia mencoba, mengarahkan telapak tangannya pada luka gores yang menganga di kaki Kai. Berusaha tidak kaget saat perlahan luka itu mengeluarkan asap tipis, perlahan merapat dan sembuh tanpa bekas, hanya meninggalkan jejak darah yang mulai mengering. Lalu ia menarik tangannya kembali, ia kagum sendiri pada kedua telapak tangannya.

Lay kembali pada kenyataan, ia segera beranjak untuk menyembuhkan yang lain. Mengingat situasi yang dijelaskan Suho saat orang itu tiba-tiba mengetuk pintu apartemennya, jadi dia tidak ingin membuang waktu.

"Baiklah untuk menghemat waktu, aku dan Suho—"

"Hyung,"

"—sebaiknya pergi duluan." Kai melirik Suho, tatapan bertanya.

"Kalau kau lupa di mana letaknya, itu Apartemen De Clesz tak jauh dari sini. Yang lain segera pindah dari tempat ini, jangan mencari bantuan. Cari tempat untuk beristirahat, lebih baik kalau itu retoran. Hubungi aku jika kalian sudah sampai." Suho melempar sebuah ponsel, yang di tangkap oleh Kris dengan sigap.

Tujuh belas detik kemudian Kai dan Suho menghilang, digantikan oleh asap hitam tipis yang melayang di tempat mereka berdiri sebelumnya. Yang baru pertama kali melihat ini—Chanyeol dan Lay tentu berpikir keras, takjub, dan kaku. Dari hal ini mereka tahu bahwa apa yang sedang melibatkan diri mereka adalah hal yang di luar nalar. Sebuah fantasi.

.

Dering ponsel yang berbunyi, ketel yang berbunyi karena air yang mendidih, suara alunan musik jazz yang halus namun di setel dengan volume keras, nyanyian kacau dengan nada tinggi tak kunjung berhenti. Tak jarang penghuni kamar ini mendapat protes dari tetangga.

Baekhyun mengabaikan ponselnya yang berdering, namun bibirnya masih bersenandung. Antara senang tapi miris setelah mendapat skors dari kampus barunya. Ia segera menghampiri ketel yang berbunyi, mematikan api kompor lalu menuangkan air panas di cangkir berisi kantung teh miliknya.

Daripada air panas instan dari mesin, ia lebih memilih merebus air sendiri dan menikmati suara jeritan ketel yang baginya indah. Pukul 6 pagi sebenarnya terlalu awal bagi Baekhyun. Namun tidak ada salahnya mencoba hal yang baru.

Baekhyun berjalan ke arah jendela, di bingkai jendela terdapat dua pot kecil. Satu kaktus mini, dan sebuah bunga hias yang menguncup. Dia menggeser jendela, membiarkan udara segar bertubrukan dengan udara di dalam apartemennya.

Kemudian Baekhyun mendekatkan wajahnya pada bunga yang menguncup, lalu ia menyentuh kuncup bunga itu dengan satu jari. Dan perlahan bunga itu mekar, menampakkan setitik cahaya kuning cerah. Lalu cahaya itu terbang hingga sejajar dengan kedua mata Baekhyun. Kemudian Baekhyun mengangkat tangannya, memberi isyarat pada cahaya itu untuk hinggap di jemarinya.

"Selamat pagi," Baekhyun tersenyum, mata sipitnya mengobservasi objek di tangannya.

Bukan hanya sekedar cahaya. Tapi itu adalah Elf, peri kecil dari luar sana yang khusus datang pada Baekhyun. Untuk memastikan keselamatan dua belas anak dalam ramalan, dan menjadi penuntun untuk keluar dari dinding.

Namun nampaknya hal itu tidak semudah kedengarannya. Dia berakhir hanya bertemu dengan Baekhyun.

"Kau masih tidak mau memberi tahu siapa namamu?" Baekhyun menampakkan wajah kecewanya lagi, namun sedetik kemudian ia teringat pada secangkir teh yang belum ia sesap.

Namun sebelum ia sempat menyesap. Dering telepon lagi-lagi berbunyi dan kali ini suara bel menggema di ruangannya. Baekhyun terdiam sejenak, menebak-nebak siapa orang yang terlalu rajin berkunjung ke apartemennya. Padahal dia tidak terlalu akrab dengan penghuni apartemen di sini—untuk alasannya pasti sudah tahu—dan teman satu kampusnya tidak mungkin rela jauh-jauh berkunjung.

Jadi dia menaruh cangkir itu kembali, berjalan menuju pintu lalu membukanya.

"Maaf an—ada perlu apa?"

.

"Jam berapa?"

"Enam lewat tiga puluh,"

Kai dan Suho sudah memijakkan kaki mereka di dekat apartemen yang mereka tuju. Mereka langsung berjalan, menuju pintu masuk sebuah gedung apartemen. Mengabaikan seorang kakek yang masih kaget dan mematung saat mereka tiba-tiba muncul.

Mereka menimbang-nimbang saat akan menggunakan teleportasi lagi atau tidak. Namun niat itu mereka urungkan karena kemungkinan besar akan terlihat oleh penghuni apartemen yang mungkin sedang lalu-lalang. Mengingat hanya lantai lima yang mereka tuju dan pasti tidak akan memakan waktu lama jika naik lift, mereka langsung bergegas.

Satu kali, dua kali, hingga lima kali bel di samping pintu itu Suho tekan. Namun tidak ada jawaban apapun dari dalam. Suho mendekatkan wajahnya pada pintu, melihat dari lubang kecil di tengah-tengah. Lalu saat dia menempelkan telinganya pada permukaan pintu, perlahan pintu itu terbuka. Tidak terkunci.

Lantas mereka masuk dengan hati-hati. Dan mereka sedikit kaget saat mendapati barang-barang yang seharusnya tersusun rapi, terlempar sana-sini. Sebelumnya pasti telah terjadi perkelahian. Dan hal itu diperkuat dengan adanya noda darah pada dinding. Kai memegang noda darah tersebut dengan jari telunjuknya. Belum kering, yang artinya masih baru. Kepalanya menunduk, melihat tetes darah yang menjejak pada lantai, berakhir di dekat pintu.

Kai mengerang tertahan, "kita belum terlalu terlambat." Ia mengepalkan kedua tangannya sampai kuku-kukunya menggali telapak tangannya.

"Tch. Apa mereka membunuhnya?"

"Aku tak—tidak, tunggu. Kalau mereka membunuhnya pasti semua jejak dihilangkan tanpa bekas." Kai menimang-nimang kemungkinan yang mungkin terjadi, "dia dibawa ke suatu tempat."

Mereka saling melempar tatapan, lalu berkata bersamaan, "dinding."

Jika kau bertanya kenapa mereka bisa tahu. Itu adalah sekitar dua Minggu lalu, sebelum mereka bergerak mencari yang lain, sebenarnya mereka terlebih dahulu menerobos informasi pemerintah. Mencoba mencari kebenaran tentang suatu rumor. Tentang sebuah senjata sempurna yang akan menang dalam perang. Yang tentu bergerak dengan formasi Kai, Suho, Tao.

Namun sebelum mereka benar-benar keluar dari kamar ini, ekor mata Kai menangkap sesuatu. Titik cahaya berwarna kuning melayang di atas sebuah meja di sudut ruangan, namun saat Kai menoleh, cahaya kuning itu terbang, menghilang ke sela-sela deretan buku yang tersusun rapi.

Kai pun menghampiri sebuah lemari buku, membuat Suho menghentikan langkahnya lalu memanggil-manggil Kai yang hanya di balas dengan gelengan serta sebelah tangan yang diangkat ke udara.

"Hei, apa kau seorang Elf?" tanya Kai pada deretan buku yang tersusun, lebih tepatnya pada cahaya yang perlahan menampakkan dirinya dari balik sebuah buku.

"Joy? Apa itu kau?" tanyanya lagi.

Joy adalah Elf yang datang padanya saat ia pertama kali menemukan kekuatan dalam dirinya. Sekitar delapan belas hari yang lalu. Seorang Elf dengan cahaya hijau terang. Namun lima hari kemudian, Joy menghilang begitu saja. Membuat Kai mau tak mau menjalani semua ini sendiri, mencari semuanya seorang diri tanpa petunjuk apapun.

Kai menggeleng pada dirinya sendiri, ia pikir itu bukanlah Joy karena cahaya Elf ini berwarna kuning. Milik Joy berwarna hijau. Suho hanya berdiri bersandar pada dinding, mengamati tingkah Kai tanpa minat bertanya.

"Tak usah takut ayolah, kau pasti ingin mencari Byun Baekhyun bukan?"

Dan Elf itu menampakkan dirinya. Seorang peri kecil dengan rambut panjang, pakaian berwarna kuning, dan wajah yang cantik. Terbang ke arah Kai lalu mendarat di bahunya, membisikkan sesuatu yang membuat Kai membulatkan matanya.

Lalu sesaat kemudian setelah mereka mengetahui di mana Kris dan yang lainnya beristirahat, mereka langsung teleportasi ke tempat itu. Meninggalkan jejak berupa semburat asap hitam di tempat mereka berdiri tadi.

Tidak, tidak ada istirahat untuk hari ini. Karena telat sebentar saja, bisa fatal seperti sebelumnya. Mencapai dinding juga tidak sebentar mengingat posisi mereka sekarang. Memilih jalan aman, Suho rela membawa mobil lagi daripada Kai harus membawa banyak orang dalam teleportasinya. Menyimpan energi Kai untuk saat-saat krisis.

.

Jika hanya dilihat saja, tidak ada hal lain selain dinding kokoh tebal yang terhalang beratus-ratus meter pohon yang terbentang. Namun jika kau menerobos pepohonan itu lalu menyusuri ilalang yang tinggi, kau akan sampai pada dinding yang menjulang, jika kau berjalan mengikuti alur dinding itu kau akan menemukan sebuah pintu kecil, layaknya pintu normal yang ada di tiap rumah.

Mereka terpaksa berjalan sekitar satu kilometer dan meninggalkan dua mobil yang terparkir rapi di sebuah motel. Karena tak mungkin melewati hutan yang lebat menggunakan mobil.

Hanya Kai, Suho, dan Tao yang tahu persis di mana letaknya. Jadi mereka berada di barisan paling depan. Satu jam lebih mereka habiskan untuk berjalan dan berbincang. Berbicara ini itu tentang ramalan, simbol, kekuatan, dan segala macam. Serta Kai yang menjelaskan lebih detil lagi caranya untuk mengendalikan kekuatan masing-masing agar bisa dikendalikan sesuai kehendak masing-masing.

Sungguh, hal itu berhasil. Terbukti saat Xiumin tak lagi membekukan barang ketika menyentuh sesuatu dengan tangan telanjangnya. Mereka hanya butuh merilekskan pikiran, menerima kekuatan dengan terbuka dan membiarkan hal itu mengalir di seluruh tubuhmu. Jika kau mengizinkan dan menerima, maka kekuatan itu pun sama. Mengizinkan dan menerima perintah yang dikirimkan dari otak.

Sebuah pintu kayu normal dengan tinggi dua meter dan lebar satu meter sudah terpampang di depan mereka. Area ini tidak ada kamera pengintai apapun, sungguh ceroboh. Dan tinggal Suho sang pemikir untuk menyusun rencana, karena tidak satu pun yang tahu apa benar Baekhyun di tahan di sini. Kalau pun iya, maka ruangan apa?

Mereka berdiskusi di bawah pohon, bersembunyi dibalik batangnya yang lebar dan tinggi. Satu-persatu memberi usul, tak ayal Chanyeol yang selalu mengeluarkan kata-kata negatif seperti 'kalau dia tak ada di sana kita semua mati', atau 'hal ini akan sia-sia, percaya padaku'. Membuat Kai jengkel namun ia tak bisa melakukan apapun kecuali menatap Chanyeol jengah.

Dan sesuai keputusan, yang menyusup ke dalam setelah beberapa pertimbangan menyangkut kekuatan dan strategi adalah; Kai, Kyungsoo, Luhan, Suho, Xiumin, dan jangan lupakan Chanyeol yang sebelumnya melontarkan kalimat-kalimat pesimis kini memaksa ikut dengan alasan akan mati kebosanan dan sia-sia saja dia berada di sini jika tidak ikut serta.

Sungguh keras kepala.

Dan sisanya menunggu di sini.

Masuk. Sergap beberapa orang. Tanggalkan seragam mereka. Dan pakai seragam itu untuk menyamar. Lalu cari ruangan pusat.

.

Sekeras apapun usahamu menajamkan pendengaran, itu adalah hal yang percuma karena yang kau dapat hanyalah dengung keheningan yang menggapai telinga hingga membuat pening. Dindingnya dilapisi cat putih, lantai marmer hitam menghantarkan dingin tak terkira pada kulit yang berpapasan.

Perlahan, saraf korpuskula krause mulai bekerja, dingin terasa menusuk kulit yang bertemu dengan lantai marmer. Baekhyun segera membenarkan posisinya, dari tidur hingga duduk. Matanya ditutup oleh sesuatu, maka ia membukanya.

Namun saat ia membuka penutup itu, tak ada cahaya dilihatnya. Baekhyun panik, hal yang paling di takuti adalah jika ia buta. Maka ia segera menggerakkan tangannya, mengatur nafasnya baik-baik.

Dan Baekhyun membentuk cahaya abstrak yang melayang mengelilinginya, membuat jarak pandangnya meluas hingga bisa melihat keseluruhan ruangan. Ruangan putih dengan lantai marmer hitam, dan ada sebuah kamera serta layar yang digantung pada dinding.

Baekhyun memegang pelipisnya yang terasa perih. Pelipisnya robek akibat perkelahian di apartemennya tadi. Saat tiba-tiba tiga orang berpakaian serba hitam menyergapnya begitu saja. Kepalanya terasa pening dan badannya sakit, jangan lupakan luka sayatan pisau yang masih segar membentang di lengannya.

Baekhyun mengabaikan semua rasa sakit itu. Dia menghampiri layar yang tergantung pada tiang yang menempel di atas ruangan, menggantung sejajar dengan wajahnya. Jemarinya bergerak menyentuh layar itu dan seketika ruangan sepenuhnya terang dan muncul wajah seseorang di layar. Lantas ia menghilangkan semua cahaya yang melayang acak di sekitarnya.

"Halo, sudah bangun?"

Sebuah suara menggema berasal dari sebuah pengeras suara kecil di pojok ruangan.

Baekhyun mengusap matanya, mencoba memperjelas penglihatannya pada gambar yang terpampang pada layar. Matanya ia sipitkan untuk memastikan sekali lagi apa yang ia lihat. Seorang pria dengan tatanan rambut klimis dan berpakaian serba putih.

"Ah, sudah bangun ya. Sebentar aku panggilkan seseorang."

Pria itu menyingkir dari kamera, dan Baekhyun bisa melihat keseluruhan ruangan yang ditempati pria tersebut. Putih, sama seperti miliknya namun terdapat beberapa mesin-mesin canggih. Di belakang terlihat beberapa orang sedang sibuk mengerjakan sesuatu dengan sebuah mesin yang besar.

"Hai,"

Baekhyun terdiam mendapati seorang wanita di layar. Itu Aluna Yaz.

"Jangan kaget seperti itu,"

"Keparat."

"Baiklah aku langsung saja ya,"

"KELUARKAN AKU DARI SINI!"

"Wow, santailah. Di samping tanganmu ada secangkir teh. Silakan diminum."

Baekhyun mengabaikan sebuah cangkir teh yang perlahan muncul dari sebuah lantai yang bergerak ke atas. Matanya masih menatap intens pada layar.

"Apa ada permintaan terakhir sebelum kau mati?"

"Keluarkan aku dari sini!" teriak Baekhyun pada layar.

"Hei wow, santai saja. Ah ngomong-ngomong aku peringatkan akan ada pisau yang melayang dari arah jam tiga."

Bola mata Baekhyun membesar, namun belum sempat ia menyingkir, sebuah pisau kecil mengenai betisnya. Lantas ia terjatuh mendarat lantai yang dingin. Dan wanita di layar itu tertawa kecil.

"Selamat olahraga."

Setelah ia mengatakan dua kata terakhir, sebuah pisau lagi-lagi melayang dari salah satu sisi dinding. Dan kali ini sukses mengenai lengan atas Baekhyun. Menggoresnya dalam hingga pakaiannya robek dan darah mulai merembes deras dari lukanya.

Sekali lagi Baekhyun terjatuh, tangannya meraih pisau yang menancap di betisnya lalu mencabut pisau itu. Ia menggigit bibirnya berusaha menahan sakit saat mata pisau perlahan ditarik oleh tangannya.

Baekhyun meringis, susah payah ia berdiri. Namun saat ia berdiri, serentetan suara terdengar dari sekeliling ruangan. Ia meringis saat melihat sebaris pisau mengelilingi permukaan dinding, disusun membentuk garis dan sejajar dengan dadanya. Dia langsung tiarap dengan punggung menatap langit-langit saat mendengar suara klik, lalu berguling dan merapat pada sudut dinding agar tak terkena pisau yang akan melayang.

Lalu dua detik kemudian pisau itu diluncurkan, pisau dan pisau saling membentur pada pusat ruangan. Menimbulkan suara bising yang menyayat telinga.

Pisau-pisau berserakan di lantai, tergeletak begitu saja. Beruntung Dewi Fortuna masih berpihak di sisinya saat ini. Baekhyun yang meringkuk pada ujung ruangan, tidak terkena pisau yang di luncurkan. Karena arah pisau di luncurkan adalah lurus sehingga menabrak satu sama lain saat pisau yang sebelumnya mengelilingi dinding di luncurkan.

"Apa yang kau inginkan dariku?! Sialan kau!" Baekhyun berusaha berdiri, berjalan menghindari pisau yang tergeletak di lantai lalu berteriak tepat di depan kamera.

Rasanya ia ingin meninju layar jika hal itu bisa melukai orang di seberang.

"Hei, coba lihat ke atas. Ada bintang yang indah,"

Yaz tertawa. Baekhyun menengadahkan kepalanya, dan seketika kakinya lemas saat suara klik terdengar di seluruh ruangan bersamaan dengan perlahan munculnya mata pisau yang memantulkan cahaya. Pisau yang siap menghujam dari atas terlihat begitu lapar, menggantung memenuhi langit-langit, siap jatuh Ini pasti adalah akhir dari dirinya karena tidak ada tempat lagi untuk berlindung.

Lalu suara klik terdengar, bersamaan dengan suara robot yang mulai menghitung mundur dari tiga puluh. Baekhyun marah, ia tak dapat mencegah tangannya sendiri untuk meninju layar empat belas inci yang menggantung sejajar dengan wajahnya. Namun layar itu tidak pecah.

Saat hitungan mundur sudah berbunyi. Baekhyun sudah pasrah, duduk pada lantai yang dingin untuk sekedar merasakan dingin itu sendiri.

"Hei ada apa ribut-ribut—kau! Tangkap orang itu cepat!"

Baekhyun menoleh, melihat pada layar yang menampakkan suasana ramai pada ruangan yang sebelumnya sibuk. Terlihat beberapa orang berpakaian putih kewalahan menghadapi seseorang berpakaian putih pula yang terlihat sedang memberontak. Ajaibnya satu orang berpakaian putih itu berpindah-pindah tempat hanya dalam waktu sepersekian detik saja.

Namun hal itu sungguh tidak berakibat pada hitungan yang masih berbunyi, sampai pada angka dua puluh. Tiap detik terasa berat dan semakin menariknya pada kematian. Ia tahu jika dirinya menendang atau berteriak pada dinding, hal itu percuma karena tidak dapat membuat dinding hancur begitu saja.

Tepat pada hitungan lima belas, dinding di sisi kanannya hancur. Melemparkan reruntuhan kecil pada tubuhnya. Lantas Baekhyun refleks mengangkat tangannya untuk melindungi kepala, dan pada hitungan ke dua belas dia membuka mata. Jalan keluar terbuka lebar di hadapannya, dengan dua orang berpakaian putih yang berdiri di tengah-tengah.

Dua detik baginya untuk sadar dan segera lari.

"KELUAR!"

Tersisa sepuluh detik untuknya keluar, melangkah pada reruntuhan yang memperlambat dirinya. Sialnya dia terjatuh saat hitungan tujuh, kakinya yang terluka merupakan kerugian untuk dirinya sendiri. Lalu salah satu dari dua orang tersebut menghampirinya dan membantu Baekhyun.

Tepat pada hitungan dua, mereka sudah keluar. Dan saat hitungan sudah habis, pisau-pisau turun layaknya hujan, menghujam lantai dan menimbulkan suara bising saat lapisan tajam menggores permukaan marmer.

Baekhyun menghela nafas dan ambruk karena kakinya terlalu sakit untuk menopang berat badannya. Ia lepas dari maut yang mengerikan karena dua orang di hadapannya.

"Chanyeol, namaku Chanyeol." Ucap seseorang yang sedang membantunya berdiri.

"Kyungsoo." Ucap seseorang yang lebih pendek, "ayo lekas keluar dari sini."

Mereka berpakaian seperti orang-orang yang ia lihat di layar, berpakaian putih dengan helm menutup kepala. Baekhyun mengira mungkin dua orang ini memang datang untuk menolongnya yang jelas bukan bagian dari musuhnya.

Dengan Kyungsoo yang memimpin, mereka bertiga berlari dan menghindar dari para penjaga. Baekhyun yang terluka memperlambat mereka bertiga. Sialnya saat mereka melewati koridor di kanan kiri mereka, seorang penjaga dari sebelah kiri serta dua lainnya di sebelah kanan memergoki mereka yang lantas langsung berteriak dan mengejar mereka.

"Cepat! Mereka tiga puluh meter di belakang kita!" ucap Baekhyun.

"Kau yang memperlambat kami tahu!" yang paling tinggi protes, namun dirinya masih memapah Baekhyun sambil berlari.

"Luhan! Xiumin! Kami menemukan orangnya!" Chanyeol berteriak pada dua orang yang berlari ke arah mereka dari koridor sebelah kanan, dan kedua orang tersebut semakin mempercepat lari mereka.

"Sialnya kami lupa jalan keluar." Ucap Xiumin saat berpapasan dengan Chanyeol, nafasnya terengah saat berlari.

"Lebih buruknya kami juga." Balas Chanyeol yang ditanggapi tatapan pasrah dari empat pasang mata.

"Di situ, itu jalan keluar. Mundur! Lewat koridor tadi!" Baekhyun berteriak saat matanya melihat sebuah plang dengan tulisan 'Keluar' yang menyala dengan lampu merah.

Mereka lantas mundur beberapa langkah dan lekas berbelok. Hanya dua puluh meter dari pintu keluar.

Namun sebelum mereka berenam mencapainya, dua orang penjaga muncul di depan mereka dari sebuah pintu di sebelah kanan. Membuat mereka berhenti, belum sempat berbalik, mereka ingat bahwa status mereka masih di kejar.

Bagus. Mereka terjebak dan tidak ada jalan lain selain melawan.

Ingat, hal yang dikatakan Kai tentang mengendalikan kekuatan. Chanyeol melepaskan rangkulannya pada Baekhyun dan meninggalkannya duduk bersandar pada dinding.

"Kau sebaiknya tunggu di sini."

"Cheungyol, Kyungsoo, hadapi mereka berdua. Aku dan Xiumin menghadapi tiga orang lainnya."

"Chanyeol," balas Chanyeol membenarkan perkataan Luhan.

Xiumin melangkah ke depan, menghadapi tiga orang yang sedang berlari sambil menyiapkan senjatanya. Xiumin menghentakkan kakinya. Dan lapisan es mulai merambat pada lantai, membuat ketiga orang yang sedang berlari pun terjatuh karena permukaan es yang licin.

Luhan menghela nafas. Sementara ketiga penjaga itu sedang berusaha berdiri, Luhan dan Xiumin membantu Chanyeol dan Kyungsoo yang terlibat pertarungan jarak dekat. Untung saja kedua penjaga ini tidak bersenjata. Namun tetap saja pihak mereka rugi karena pengalaman bertarung Chanyeol dan Kyungsoo yang nol. Mereka hanya menghindar dan memukul sesuai insting, namun mereka masih tak terhindar dari pukulan.

Xiumin lekas berlari ke arah mereka berdua sementara Luhan berbalik, menatap pada tiga orang yang sudah berdiri dengan tangan yang meraba dinding. Dia tersenyum saat melihat tiga senjata api yang tergeletak begitu saja di atas lapisan es. Dia pun berkonsentrasi, lalu menggerakkan tangannya seperti menarik sesuatu, dan ketiga senjata laras pendek itu melayang ke arahnya.

"Hei, tangkap ini!" ucap Luhan sambil melempar satu senjata lainnya pada Baekhyun dan yang satunya lagi ia lemparkan pada Xiumin.

Dua penjaga itu sempat melirik Luhan namun mereka masih berurusan dengan Chanyeol dan Kyungsoo yang makin kewalahan. Dengan satu pukulan telak di perut dan wajah masing-masing, Chanyeol dan Kyungsoo jatuh.

Tepat saat Luhan dan Xiumin siap membidik—mereka baru pertama kali memakai senjata api— dengan amatir dan saat kedua penjaga itu hendak melayangkan pukulan terakhir. Sebuah cahaya melesat terbagi dua dan menusuk mata masing-masing dua penjaga tersebut, tepat sasaran pada pupil. Seketika mereka mundur hingga terjatuh, mengusap mata mereka dan berteriak kesakitan dan merutuk.

Luhan melirik Baekhyun, satu-satunya orang yang memungkinkan melakukan hal barusan. "Tak usah berterima kasih padaku. Lebih baik daripada kalian menimbulkan keributan dan mengundang teman-teman mereka."

"Ucap orang yang bahkan tidak bisa berdiri." Luhan mendengus, lalu ia menghampiri Baekhyun untuk membantunya berdiri.

"Kalian tak apa? Lebih baik bergegas." Xiumin menghampiri Chanyeol dan Kyungsoo yang terduduk di lantai, memar di beberapa bagian tubuh.

Kyungsoo mengangguk, dia berdiri. Hanya pipi yang memar serta sudut bibir yang luka. Chanyeol pun begitu, ia berdiri sambil memegang perutnya. Tanpa membuang waktu, mereka berjalan ke arah pintu keluar. Beruntungnya pintu itu tak memakai pengamanan apapun.

Tempat yang tadi, sebelum mereka masuk pada bangunan ini. Mereka berjalan pada salah satu pohon yang rindang. Di situ ada Kris, Lay, Sehun, dan Chen sedang duduk mengobrol di atas akar-akar pohon yang menyembul, yang langsung menghampiri dan membantu mereka yang terlihat lelah.

Luhan mengeluarkan sebuah alat dari saku jaketnya, sebuah alat komunikasi yang Suho pinjamkan untuknya sebelum ini. Ia berkutat dengan tombol dan layar sebelum menyematkan sebuah alat dengar di telinganya.

"Kami menemukannya,"

"Ya, baiklah." Luhan mengakhiri pembicaraan lalu menyusul Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo, dan Xiumin yang lebih dahulu berjalan.

"Apa katanya?" tanya Chanyeol.

"Kita harus menunggu mereka. Sepertinya mereka sedang kesusahan," jawab Luhan.

"Sebaiknya kita bantu mere—"

"Kita tidak punya pengalaman bertarung, yang ada kita hanya menjadi tameng penghambat bagi mereka." Chen langsung memotong perkataan Chanyeol yang belum selesai.

Mereka mengatur nafas, adrenalin masih mengalir di tiap pembuluh darah karena efek kejadian barusan. Ya, karena ini merupakan kali pertama mereka terlibat dalam sebuah perkelahian. Chanyeol, Kyungsoo, Luhan, dan Xiumin melepas pakaian putih yang melekat pada mereka sedari tadi, membuangnya ke sembarang tempat.

Baekhyun bersandar pada batang pohon, duduk dengan kaki yang diluruskan. Nyeri masih bersarang pada kakinya yang tadi tertusuk pisau, serta luka goresan akibat berkelahi dengan tiga orang yang sebelumnya 'berkunjung' ke apartemennya.

Lantas Lay menghampiri Baekhyun, "namaku Lay. Coba perlihatkan lukamu."

Baekhyun menatap Lay sejenak sebelum menggulung celana panjangnya hingga lutut lalu memutar lengannya yang terluka, memperlihatkan sebuah luka tusuk yang lumayan dalam menembus kulitnya dan juga sebuah goresan dalam pada lengannya.

Baekhyun meringis saat Lay menyentuh lukanya dengan jemarinya, lalu Lay melayangkan telapak tangannya di atas luka tusuk di kaki Baekhyun. Perlahan namun pasti, luka itu sembuh. Menyisakan jejak darah yang mengering.

Lay tersenyum, "mana tanganmu?" dan Baekhyun yang masih setengah terkagum, mengulurkan lengannya, memperlihatkan sebuah luka gores yang panjang untuk disembuhkan.

Saat sudah menuntaskan perannya untuk Baekhyun, Lay langsung beranjak pada Chanyeol dan Kyungsoo yang kembali dengan luka memar. Dan tepat saat dia sudah selesai, Lay yang merasa tenaganya terkuras banyak pun menyandarkan dirinya pada batang pohon. Keringat mulai mengalir dari pori-pori kulitnya.

Xiumin yang sedari tadi diam, berdiri ketika mendengar sesuatu yang terjatuh menghantam tanah. Di sana ada Suho yang sedang membantu Kai untuk berdiri, masih mengenakan pakaian putih tadi. Mereka berdua lantas berlari ke arah Xiumin sambil berteriak.

"Lari! Cepat!"

Yang lain kaget, bahkan Kris harus terlebih dahulu disadarkan dari lamunannya sebelum akhirnya berlari.

Mereka berlari, menyusuri hutan, tidak masuk ke dalam. Hal itu karena instruksi dari Suho. Sementara di belakang, tepat tiga puluh enam meter dari mereka, segerombolan orang yang memakai pakaian putih, mengejar mereka dengan senjata yang menembakkan peluru ke arah mereka. Untung saja peluru-peluru itu meleset dan malah tertanam pada batang pohon.

"Kai cepat!" teriak Suho pada Kai di sampingnya.

"Tunggu dulu nafasku sesak!"

Suho menoleh ke belakang saat dirinya mendengar suara orang yang terjatuh. Dan benar saja, itu Lay yang tersungkur di tanah, kepalanya menabrak batang pohon. Suho berteriak dalam larinya sebelum berhenti, memanggil Kai untuk berhenti namun menyuruh yang lain untuk terus bergerak.

Kai langsung sigap berpindah ke tempat Lay dengan teleportasi, merangkulnya lalu menghilang tertelan semburat asap hitam. Dia berteleportasi, ke luar dinding.

"Tunggu di sini jangan melakukan apapun," lantas Kai kembali menghilang. Meninggalkan Lay seorang diri bersandar pada dinding kokoh yang dirambati tanaman bersulur.

Kai melanjutkan larinya, dahinya mengernyit saat mendapati sekumpulan orang-orang berbaju putih di depannya. Lantas ia berlari dan berteleportasi ke jarak yang lebih jauh di depan. Muncul di sebelah Tao yang mulai lemas karena belum sempat beristirahat setelah menggunakan kekuatannya seharian penuh.

Saat ia berlari di samping Tao, Kai menarik lengan Sehun lalu menggenggam pergelangan tangan keduanya. Berteleportasi sambil berlari dan berakhir tersungkur di tanah tempat Lay sebelumnya. Namun dia lekas berdiri mengabaikan tubuhnya yang kotor karena tanah, dia malah langsung melakukan teleportasi untuk menjemput yang lainnya.

Kyungsoo terus berlari walau kakinya semakin sakit. Ia melihat perlahan orang-orang di depannya menghilang, berteleportasi bersama Kai. Kyungsoo memaki dalam hati karena yang selanjutnya lagi-lagi bukan dia, dan yang tersisa hanya tinggal dirinya, Baekhyun, Chen, dan Xiumin. Dia terus berlari menerjang semak-semak lalu melompati akar-akar pohon, sama seperti yang lainnya. Berlari untuk menghindari peluru yang diluncurkan tanpa henti.

Tentu saja tak selamanya mereka terhindar dari peluru-peluru yang ditembakkan. Peluru yang menembus batang pohon tak ayal membuat kulit-kulit pohon terbang mengenai mereka, beberapa dahan yang juga terkena bahkan jatuh dan menimpa Chanyeol.

Mereka terus berlari melompati akar dan menghindari batang pohon yang berdiri, beruntung sekali peluru-peluru yang melesat tidak ada yang mengenai keempatnya—setidaknya sampai sekarang. Kekhawatiran itu datang saat Kai tak lagi kembali sementara suara ledakkan mulai terdengar di belakang.

Orang-orang itu mulai melemparkan bom. Membuat tanah terlempar ke udara, menghancurkan batang-batang pohon, menerbangkan kerikil-kerikil. Baekhyun, Chen, Kyungsoo, dan Xiumin terlempar akibat salah satu bom yang tepat meledak di depan mereka. Terbentur batang pohon sebelum akhirnya mendarat di tanah.

Tanah-tanah yang terlempar akibat ledakkan mengotori mereka. Kulit mereka menggesek tanah, kerikil, serta ranting yang berserakan di tanah. Gerombolan orang berpakaian putih itu semakin mendekat, tiga puluh meter dari tempat mereka.

Tepat dua detik kemudian, Kai muncul dengan nafas terengah dan pelipis yang berdarah—karena sebelum ini Kai mendarat pada semak belukar. Kai melihat sekitar untuk membaca keadaan dan mencari empat orang tersisa. Dia kaget saat mendapati Chen yang tergeletak lemah dengan mata tertutup di tanah, luka goresan serta tanah mengotori wajahnya. Lantas ia langsung menghampiri Chen dan menarik lengan Xiumin yang dekat padanya.

Meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo lima meter dari tempatnya menghilang, sedang meringis memegang anggota tubuh yang terbentur. Namun Baekhyun mengabaikan rasa di punggungnya, berusaha berdiri lalu menghampiri dan membantu Kyungsoo berdiri.

Tepat saat mereka berdua bersandar pasrah di batang pohon dengan nafas terengah dan ringisan kesakitan, gerombolan orang berpakaian putih itu sudah mengepung mereka dengan senjata yang mengacung. Melingkari mereka tanpa ada celah sedikit pun untuk kabur. Baekhyun menahan nafas, mencoba untuk tidak takut pada situasi seperti ini. Kemudian ia melesatkan cahaya terang dari telapak tangannya, mengarahkan cahaya itu dengan jarinya ke pasang mata orang-orang di sekelilingnya.

Namun hal itu merupakan tindakan fatal, karena selanjutnya sebuah peluru melesat menembus bahunya. Baekhyun memekik kesakitan dan meringis, selanjutnya ia mendengar sekali lagi suara ledakkan dan saat itu seseorang muncul di hadapan mereka, langsung merangkap Baekhyun dan Kyungsoo dengan kedua tangan sebelum peluru itu mendarat.

Meninggalkan jejak asap hitam dan membuat peluru itu melesat tertanam pada batang pohon. Salah seorang berpakaian putih langsung maju, dan mengisyaratkan temannya untuk waspada. Namun hal itu percuma karena objek yang mereka buru sudah benar-benar menghilang dari area ini.

.

Kai muncul bersama Baekhyun dan Kyungsoo, lagi-lagi jatuh tersungkur pada rerumputan yang tajam. Mereka meringis. Ranting kecil semak-semak menusuk lapisan kain yang membungkus kulit Kai, ini sudah ketiga kalinya ia mendarat di tempat yang sama. Namun dia segera berdiri, tak lupa melihat pada dua orang yang tadi ia bawa dalam teleportasinya.

"Kau tolong bantu dia berdiri, sepertinya kaki kanannya terkilir." Ucap Kai pada Baekhyun yang hanya di sahut dengan anggukan lemah.

Sementara Kai berlari terseok ke tempat sembilan orang lainnya yang berjarak sepuluh meter dari mereka, Baekhyun berdiri lalu membantu Kyungsoo berdiri. Namun saat Kyungsoo menarik tangan kanannya, ia menjerit. Merasakan kesakitan luar biasa yang menyetrum bagai listrik. Membuat Kyungsoo terjatuh lagi.

Baekhyun baru ingat kalau bahu kanannya terkena peluru, jadi dia membantu Kyungsoo berdiri dengan tangan kirinya. Lalu melingkarkan lengan Kyungsoo pada bahunya walau dirinya sendiri terluka.

"Aku bisa berjalan sendiri," Kyungsoo menarik tangannya. Enggan dibantu. "Bahumu terluka, jangan menyiksa diri seperti itu."

Baekhyun memegang bahu kanannya sambil meringis, sangat nyeri dan perih. Ia tersenyum dan mengangguk, "baiklah terima kasih."

Baekhyun menoleh pada bahu kanannya, melihat bajunya yang bolong dan rembesan darah yang semakin meluas. Ia merobek bajunya di bagian bahu, jemarinya terarah pada lukanya.

"Hey jangan bilang kau akan menarik peluru itu dari—"

"AKH!"

"—bahumu."

"Percayalah ini tidak terlalu dalam," Baekhyun ambruk seketika, namun masih sepenuhnya sadar. Membuat Kyungsoo mau tak mau menghampirinya walau kakinya sangat sakit.

Kyungsoo menghela nafas. Jelas-jelas orang ini kesakitan. Kyungsoo tahu, luka tembakkan itu bukanlah hal yang sepele. Namun ia hanya bisa geleng-geleng melihat orang di hadapannya, yang kini malah berdiri dan berjalan melewatinya.

"Ayo."

Kyungsoo melihat sekeliling. Lukisan alam berupa hamparan padang ilalang yang tinggi, dengan beberapa pohon dan semak-semak terselip di antaranya. Sang dinding yang berdiri kokoh tepat beberapa meter dari mereka, sangat tinggi hingga menembus awan. Membuat bayangan panjang menutupi bumi di bawahnya.

"Aku benar-benar berada di luar dinding." Ucap Baekhyun pada dirinya sendiri.

Baekhyun dan Kyungsoo baru berjalan beberapa meter ke depan, mereka kaget saat Kai tiba-tiba diterjang dan dipukuli oleh seseorang bertubuh tinggi. Mereka terhenyak dan langsung mempercepat jalan mereka, Baekhyun membantu Kyungsoo dengan paksa walau orang itu jelas-jelas menolak dan bahunya masih nyeri. Kyungsoo akhirnya menyerah berdebat dan membiarkan sebelah tangannya merangkul pundak Baekhyun.

Tidak ada yang bisa menjamin tidak adanya perselisihan.

Berdoalah semoga hal ini tidak membuat mereka pecah dan menyerah. Tidak membuat usaha Kai dan yang lainnya sia-sia.


-TBC-

A/N:Akhirnya udah sampai sini ~_~ hamdalah peri/satyr/naiad/driad segala macem selanjutnya bakalan muncul. Fantasinya bakalan mulai kental. Siapkan imajinasi kalian. Dan untuk kedepannya karena sekolah udah di depan mata, di tambah lagi udah 12. Saya nggak janji update kilat yha. Mungkin kalau favs/follows/reviewers-nya banyak, saya bakal usahain update kilat.

Btw saya sempet down ngelanjutin ini pas tau Tao ikut2an solo karir :') akhirnya dipaksakan dan semangat lagi karena yang ditulis bagiannya Baekhyun (o'-')o

Special thanks for; Guest, Layeu, kaisoo1288, SHINeexo, VampireDPS, gue, kaisoodotcom, BaconieSonjay, pooarie3.

Terimakasih sudah membaca sampai sini, silahkan tinggalkan review kalian~

a review would be nice~ please