Kami semua akhirnya mendarat di Okinawa, tepatnya bandara Naha. Hari sudah mulai gelap saat kami sampai dan aku mau tidak mau harus bersabar untuk tidak mendaratkan tubuhku didalam mobil yang sudah menunggu kami karena beberapa hal. Menunggu koper bawaan kami keluar dari bagasi pesawat, mengecek model-model yang ikut tidak ada yang tercecer —aku merasa ini terlalu sadis untuk dikatakan oleh seorang fotografer— dan mengecek perlengkapan kamera baik-baik saja apa tidak.
Dan karena ini, aku lupa menghidupkan handphone milikku. Karena yang ada dipikiranku adalah koper, hotel, kamar, tidur. Tidak ada yang lainnya dan aku tampaknya melupakan fakta Akashi yang benar-benar mengerikan jika sedang mengamuk.
"Kau tidak apa-apa?" Momoi menatapku dengan khawatir dan aku hanya menganggukkan kepala dengan malas. Aku terlalu mengantuk dan lelah untuk memproses apa yang terjadi di sekitarku.
Sepertinya Momoi mengatakan sesuatu, tapi tidak kuhiraukan karena aku langsung melemparkan diriku ke tempat tidur. Yang aku ingat terakhir kali adalah aku satu kamar dengan Momoi lalu semuanya berubah menjadi gelap.
.
.
Don't You Dare Love Me
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
AU, lil OOC, typos. Tidak mengambil keuntungan profit dalam pembuatan fanfic ini. Saya tidak sanggup memasangkan Akashi dengan chara perempuan di fandom ini karena saya cinta Akashi seperti besarnya cinta saya pada suami saya di fandom sebelah =)) #youdontsay
Akashi Seijuuro x YOU (terserah bagaimana interpresentasi kalian dengan ini, yang jelas saya pakai first POV)
Don't You Dare Love Me © Green Maple
.
.
Keesokan paginya, aku baru menghidupkan handphone milikku. Dan saat itu aku sedang di restoran dengan sup krim yang ada dimangkokku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat apa saja yang ada disana. Dua ratus lebih pesan ada di handphone milikku dan semuanya dari Akashi. Dua puluh pesan pertama isinya adalah kekesalan Akashi semua. Dua puluh pesan berikutnya, sepertinya Akashi khawatir padaku. Dan begitu seterusnya sampai dua ratus pesan lebih itu selesai aku buka.
"Kau kenapa tertawa pagi-pagi?" Aida heran saat melihatku tertawa membaca semua pesan itu dan bukannya merasa ketakutan. Jangan tanya kenapa aku tidak takut, aku juga tidak mengerti. Aku hanya merasa ingin tertawa.
"Tidak apa-apa. Pffft~" Aku berusaha untuk menahan tawaku, tapi tetap saja tidak bisa. Dan Aida melihatku seperti aku kehilangan kewarasanku. Dia tidak paham sih kenapa aku seperti ini. Coba kalau dia diposisiku, pasti dia akan mengerti.
Aida memandang Momoi dan dia hanya mengangkat bahunya, tanda tidak mengerti. Aku menghela nafas dan meminum orange juice untuk menenangkan diriku agar tidak tertawa lagi. Masih banyak hal yang aku lihat selain menertawakan dua ratus lebih pesan dari Akashi. Sekarang aku beralih kepada kotak suara dan lagi-lagi aku dibuat menggelengkan kepala.
Sembilan puluh sembilan pesan suara dan aku tidak yakin harus membukanya satu per satu. Tapi aku juga bingung harus membukanya darimana. Saat aku akhirnya memantapkan diri untuk membuka pesan suata dari yang paling atas, aku menekannya.
"KAU KENAPA TIDAK MENGANGKAT TELEPONKU BODOH! KAU PASTI SUDAH SAMPAI DI OKINAWA BUKAN?! KAU—"
Aku tidak tahu apa kata-kata selanjutnya karena aku terlalu kaget dan tidak sengaja menjatuhkan handphone milikku kedalam mangkok sup. Aida yang berada di dekatku tersedak dan Momoi segera menepuk-nepuk pundak Aida. Sementara semua orang yang ada di restoran melihatku dan aku malah menatap handphone yang mengambang di mangkok supku.
"Handphoneku— lalu bagaimana hidupku selama seminggu kedepan?" Aku mengatakan itu bukan karena Akashi, tapi semua jadwalku ada disana. Semua gambar-gambar desainku ada disana. Semua data ada disana dan aku harus bagaimana bertahan selama seminggu tanpa semua itu?!
"Akacchi benar-benar mengerikan jika mengamuk." Bisikan Kise yang membuatku tidak merasa lebih baik. Aku sudah tahu itu dan harusnya seseorang ada membantuku bagaiman cara memulihkan handphone yang terendam makanan berkuah kental seperti sup krim!
.
.
Don't You Dare Love Me
.
.
Setelah tragedi handphone jatuh kedalam sup, aku tidak bersemangat untuk melanjutkan sarapanku. Pikiranku sudah berkelana kemana-mana dan aku tidak peduli tampangku sekarang seperti mayat hidup. Semoga saja handphoneku baik-baik saja. Semoga datanya selamat semua. Semoga datanya sudah aku back up di laptop kalau misalnya dataku tidak selamat di handphone.
"Sudahlah. Aku paham perasaanmu sedih karena kau tidak akan bisa menghubungi Akashi selama beberapa hari. Tapi kau harus makan sesuatu." Momoi berusaha menghiburku dan membuatku memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
Bukan karena itu tahu! Aku begini karena data di handphonenya, bukan karena Akashi! Kenapa semua orang mengira aku ada apa-apa sih dengan Akashi?!
"Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku selama seminggu tanpa handphone," gerutuku dan akhirnya aku mau makan roti panggang dan minum orange juice yang ditawarkan Kuroko.
"Kami semua paham kalau kau pasti akan kangen Akacchi. Itu wajar kok, kan kalian pacaran." Perkataan Kise itu membuatku tersedak. Pacaran? Kami kan tidak pacaran! Kenapa kalian semua menganggap kami pacaran sih?!
Dan Aida yang paling dekat denganku menepuk-nepuk punggungku. Aku juga sudah terlalu lelah untuk menjelaskan bahwa aku tidak pacaran dengan Akashi. Pasti mereka bilang bahwa aku berusaha menutupinya dan malah memberiku semangat agar tidak menyerah saat bersamanya meskipun sifatnya kadang terlalu dingin. Sudahlah, itu tidak terlalu penting. Tapi handphoneku bagaimana? Aku bagaimana bisa mengingat semuanya selama seminggu tanpa hanphone-kun?
.
.
Don't You Dare Love Me
.
.
Hari ini tema pemotretannya adalah Lost Aquamarine. Kami mengambil tempat di Aquarium Churaumi dan hari ini kebetulah hari libur sehingga banyak orang yang melihat aktifitas kami. Dan aku tidak merasa heran jika Kise dikerumuni fans-fans perempuannya. Tapi aku tidak menyangka jika Kuroko juga diminta foto bersama oleh anak-anak yang datang. Sepertinya muka datar Kuroko menarik minat anak-anak ketimbang muka penuk ekspresi Kise.
Tugasku mengurus pakaian Kise karena Momoi mengurus Kuroko dan Aida mengurus Hyuuga. Dan aku terpaksa harus menyeret Kise untuk ikut denganku atau kami akan terlambat memulai pemotretan. Aku tidak mempedulikan tatapan membunuh para fans Kise saat aku menyeret Kise untuk mengikutiku, karena aku sering mendapatkan tatapan yang lebih ganas dari mereka.
Aku menatap pemotretan itu dengan malas-malasan dan melihat laptop yang menampilkan apa yang ditangkap lensa kamera. Aku menyeritkan kening saat pose Kise yang kulihat malah menutupi pakaiannya. Yang dijual kan pakaiannya, bukan Kisenya please. Sepertinya Takao, pengarah gaya juga sependapat denganku.
"Kise, posemu! Kami membutuhkan pakaiannya, bukan hanya kamu."
"Ah. Maafkan aku." Kise memasang wajah bersalah dan para fans Kise malah menjerit kegirangan. Aku sampai harus menutup telingaku agar pendengaranku baik-baik saja.
Lalu rasa sakit itu tiba-tiba saja datang. Aku mencari Aida ataupun Momoi agar bisa menemaniku atau minimal memberiku arahan agar aku tidak tersesat di tempat ini. Aku sadar jika ingatanku yang dibawah standar manusia rata-rata pasti akan membuatku tersesat.
"Ah, Aida. Syukurlah aku menemukanmu. Kau bisa menemaniku ke toilet?" Tanyaku saat melihat Aida tengah menata pakaian untuk sesi selanjutnya.
"Aduh, aku tidak bisa. Kau lihat sendiri bagaimana sibuknya aku bukan? Pergi sendiri tidak masalah kan?"
"Tapi aku tidak tahu arah."
"Tunggu sebentar," dan Aida tampak mengaduk-aduk isi tasnya. Tidak lama kemudian dia menyerahkan handphone dan juga sebuah brosur yang seperti peta. "Peta dan handphoneku. Kalau nanti tidak bisa menemukan jalan kemari, telepon Momoi saja. Oke?"
"Maaf merepotkan." Kataku sebelum berlari. Serius, perutku benar-benar sakit dan biasanya ini gara-gara stress sehingga proses pencernaaku malah berlangsung lebih cepat dari biasanya.
.
.
Don't You Dare Love Me
.
.
Dan ternyata, aku tidak tersesat serta bisa kembali ke lokasi pemotretan tepat waktu. Karena saat aku sampai, Momoi bilang kami akan pindah tempat dan aku segera mengembalikan handphone Aida. Pemotretan hari ini berlangsung lancar meski beberapa kali aku harus menenangkan Aida maupun Momoi yang kesal melihat pacar mereka berpose dengan perempuan lain. Dan hari itu aku mempelajari beberapa hal penting.
Pertama, untuk menghasilkan selembar foto yang bagus, kau bisa menghabiskan beberapa jam dan ratusan frame foto. Kedua, menjadi desainer bukan hanya berarti merancang baju dan membuatnya menjadi nyata, tapi kau juga harus bisa menatanya sehingga terlihat baik saat dipakai. Ketiga, fans Kise memang menyebalkan. Suara jeritan mereka benar-benar menganggu konsentrasi semua orang dan menganggu background berupa ikan-ikan laut yang membubarkan diri karena suara berisik.
"Aah, akhirnya selesai juga." Momoi merentangkan kedua tangannya sementara aku hanya tersenyum maklum. Ini hari yang berat baginya karena harus membagi Kuroko dengan anak-anak yang terus meminta foto bareng Kuroko begitu break dan mengawasi para model perempuan yang mencoba mendekati Kuroko.
"Aku penasaran makan malam kita hari ini." Kataku mencoba suasan menjadi lebih santai. Jika kami di Okinawa, pasti kami akan makan seafood. Dan apa sudah musim cumi-cumi ya? Aku ingin makan cumi-cumi nih.
"Sepertinya seafood. Tadi kudengar Takao mau mengajak kita semua makan malam di restoran seafood yang terkenal disekitar ini." Perkataan Aida itu membuatku dan Momoi bersemangat.
"Benarkah? Aku mau makan sushi." Kata Momoi bersemangat.
"Aku mau makan cumi-cumi!" Kataku juga tidak kalah semangat. Sudah lama tidak makan cumi-cumi dan satu-satunya jenis panganan yang tidak bisa kuolah sendiri sehingga aku jarang memakannya.
.
.
Don't You Dare Love Me
.
.
Makan malam kami berlangsung menyenangkan. Dan karena aku sedang stress akibat tragedi handphone tadi pagi, jadi aku makan dengan kalap. Bahkan Kuroko malah sempat-sempatnya bilang, "Dia mirip Mukkun."
"Hah? Mukkun itu siapa?" Pertanyaanku itu membuat semua orang —minus Kuroko— menepuk jidatnya. Tampaknya jika tidak berhubungan dengan fashion, makanan dan buku, aku tidak akan mengingat apapun.
"Temanku yang bertubuh paling tinggi dan bersurai ungu. Hobinya makan, terutama makan snack." Kise mencoba menjelaskan ciri-ciri Murakasibara kepadaku. Aku mencoba mengingat-ingat dan menganggukan kepala begitu mengingatnya.
"Maksud kalian orang yang sering menatapku kesal karena dulu aku tidak sengaja mengalahkannya makan ramen jumbo?" Perkataanku itu malah membuat semua orang saling berpandangan. Eh? Apa ingatanku salah ya?
"Kau pernah mengalahkan Mukkun soal makan?" Ulang Kise sekali lagi dan aku hanya mengangguk.
"Aku tidak ingat kapan, tapi sepertinya aku pernah melakukannya. Ahh— sayang sekarang aku tidak memegang catatanku."
Sepertinya karena perkataanku ini membuat mereka akhirnya membiarkanku makan sebanyak mungkin. Padahal aku tidak akan begini jika aku tidak merasa stress. Tolong, handphone kapan selesai diperbaiki? Aku tidak sanggup hidup tanpa handphone sehari saja.
Dan aku merasa melupakan sesuatu, tapi tidak tahu apa. Mungkin setelah ini aku bisa membaca catatanku dan melihat apa ada hal penting yang kulupakan. Sesampainya di hotel, aku segera membuka catatanku dan catatanku baru sampai tanggal 8. Tapi aku merasa kami sudah tidak berada di tanggal 8. Jadi apa yang telah terlewat?
"Momoi, sekarang tanggal berapa?"
"Tanggal 11. Kenapa?"
"Aah tidak. Sepertinya aku lupa mencatat kejadian dari tanggal 9."
"Perlu kubantu untuk mengingatnya?" Tawaran Momoi itu membuatku mengangguk mengiyakan. Dan dia menceritakan apa yang terjadi tanggal 10 secara detil menurut versinya. Aku langsung mencatat setiap kalimat Momoi dan aku memberit catatan kaki jika itu dari Momoi.
"Lalu apa yang aku lakukan tanggal 9?" Pertanyaanku itu membuat Momoi hanya menggelengkan kepalanya, tanda tidak tahu.
"Argh! Jika handphoneku baik-baik saja, aku bisa tahu apa yang aku lakukan tanggal 9!" Erangku frustasi yang membuat Momoi merasa kasihan melihatku.
"Kenapa tidak menelepon Akashi saja? Siapa tahu dia tahu."
"Hah?" Ucapku spontan, lalu menepuk jidatku sendiri.
Akashi! Aku benar-benar melupakan Akashi hari ini dan tidak memberikan kabar apapun. Tapi— handphoneku kan rusak dan ini semua salahnya, jadi aku tidak bersalah dalam kasus ini. Lagipula hari ini aku tidak mengalami masalah apapun, kecuali handphone yang jatuh kedalam mangkuk sup krim. Jadi intinya, aku baik-baik saja tanpa dia tapi tidak tanpa handphone.
"Mungkin kau sebaiknya menelepon Akashi. Pakai saja handphoneku." Tawaran Momoi itu membuatku segera menghitung kemungkinan apa saja yang akan Akashi lakukan saat aku telepon. Dan hasilnya, semuanya berdampak buruk!
"Tidak perlu. Lima hari lagi kita pulang dan aku yakin dia akan baik-baik saja tanpaku," ya tentu saja. Aku tidak akan membuatnya kerepotan selama beberapa hari lantaran aku terlibat masalah ataupun tersesat entah dimana sehingga dia harus mencariku dan menjemputku.
Setelah meyakinkan Momoi, akhirnya dia pamit pergi karena ingin memiliki menyegarkan pikiran. Aku tahu sebenarnya dia ingin bertemu dengan Kuroko, tapi ya sudahlah. Itu kan bukan urusanku. Aku masih harus mencatat kejadian hari ini di buku catatanku meski masih bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada tanggal 9.
Dan aku benar-benar tidak mengingat tablet milikku samasekali. Padahal tablet itu dibelikan oleh Akashi karena dia tidak sengaja menginjak ipad milikku dan aku terlalu keras kepala untuk minta diganti dengan tablet tahan banting ketimbang diganti dengan ipad. Padahal jika aku mengeceknya, aku akan mendapati Akashi bertingkah seperti orang yang tengah meneror karena saking banyaknya yang dia tuliskan di facebook dan twitter milikku.
.
.
Don't You Dare Love Me
.
.
"Aku duluan ya. Nanti aku tanya Takao apakah handphone milikmu sudah selesai diperbaiki apa belum di tempat service." Pamit Momoi saat aku tengah membaca buku catatanku.
"Oke."
Dan setelah menyelesaikan membaca catatanku, aku keluar dari kamarku. Aku berjalan sembari menyenandungkan lagu kesukaanku sampai langkahku terhenti karena aku merasakan aura yang berbahaya.
Karena sejak tadi mataku hanya berfokus pada lantai, aku jadi melihat sepatu hitam mengkilap. Lalu tatapanku semakin lama semakin naik sampai menemukan wajah Akashi. Dia mengenakan jas hitam dengan kemeja merah dan dasi hitam. Jarak kami hanya beberapa langkah dan Akashi pelan namun pasti mengeleminasi jarak kami.
Saat jarak kami hanya bersisa tiga langkah, otakku baru saja paham apa yang tengah terjadi dan berencana mengambil langkah seribu. Berbalik dan mencoba berlari sejauh mungkin adalah rencananya. Tapi baru saja aku membalikkan tubuhku dan mengambil ancang-ancang untuk berlari, Akashi sudah menarikku untuk menghadapnya dan membuatku menatap mata heterokrom miliknya yang tengah berusaha mengintimidasiku habis-habisan.
"Tidak memberitahuku bahwa kau kemari, tidak memberikan kabar saat sampai dan saat bertemu mau lari?"
Aku diam, tidak mau membuka suaraku. Karena aku tahu seni menghadapi orang yang tengah marah, jangan berbicara apapun selama dia marah dan biarkan orang itu marah sepuasnya sebelum kau berbicara. Dan tampaknya Akashi sadar aku akan menggunakan hal itu padanya, sehingga dia menempelkan keningnya pada keningku dan tatapan matanya benar-benar dibuat sedekat ini.
"Jawab. Kau tidak kehilangan kemampuan berbicaramu bukan?!"
"Aku sudah bilang waktu itu aku lupa memberitahumu. Lalu saat sampai kemari, aku benar-benar lelah dan aku langsung tidur. Keesokan harinya aku mau memberimu kabar tapi handphoneku rusak karena jatuh ke mangkok sup dan itu semua gara-gara kau, Sei-kun!" Persetanan dengan seni menghadapi orang yang tengah marah, karena aku sekarang kesal dengan Akashi! Kenapa juga dia membuatku harus mengingat handphone yang rusak?
Tatapan kami berdua sama-sama saling mengintimidasi. Akhirnya aku bisa menjauh setelah tanganku dilepaskan oleh Akashi dan aku menghela nafas. Lalu detik selanjutnya, aku mengerjap-kerjapkan mata karena kebingungan. Semua orang yang bertemu pandang padaku pasti bersemu merah. Kenapa mereka? Apa aku salah dalam berpakaian atau rambutku berantakkan?
"Se-selamat pagi." Apa? Bahkan Chihiro juga menatapku dengan wajah bersemu merah dan bicara dengan tergagap.
"Hiro-kun, kenapa kau tergagap begitu?" Nyata saja aku bertanya seperti itu, karena ini bukan gaya Chihiro sekali. Dan saking penasarannya, tanpa sadar aku berjalan mendekatinya untuk mencari tahu.
"A-aku tidak apa. Sungguh," dia berusaha meyakinkanku, tapi aku tidak percaya. Aku menatapnya denga seksama dan dia gelisah. Aku membalikkan badanku dan mendapati Akashi dengan memberikan tatapan mengintimidasi.
"Sei-kun! Jangan lakukan itu pada Hiro-kun! Dia sekertarismu!"
"Hm."
Aku hanya bisa menghela nafas. Kenapa pagiku benar-benar tidak biasa hari ini? Dari tiba-tiba Akashi ada di hotel ini dan mengintrogasiku, semua orang menatapku dengan tidak normal dan Akashi yang terlihat seperti orang yang berbeda karena tingkat sensitifitasnya yang terlalu tinggi. Apa dua hari bisa merubah seseorang secara signifikan?
"Chihiro, kau pergi beli handphone dan jangan berani kembali sebelum mendapatkannya." Tahu-tahu Akashi sudah disampingku dan memberi perintah pada Chihiro. Dan saat aku mau protes, dia malah menarik tanganku untuk menuju restoran.
"Aku bisa jalan sendiri Sei-kun." Aku tentu saja protes karena aku masih ingat jalan ke restoran. Lagipula, kemarin aku juga tidak tersesat meskipun tanpa Akashi.
"Hm." Jawaban acuh Akashi itu malah membuatku kesal. Setidaknya tangannya melepaskan tanganku. Aku bisa jalan sendiri tanpa tersesat kok!
Dan karena sadar percuma memberontak untuk melepaskan cengkraman tangan Akashi di tanganku, aku membuka pembicaraan. "Memangnya handphonemu rusak juga seperti punyaku?"
"Tidak."
"Jadi kenapa kau menyuruh Hiro-kun?"
"Bukan urusanmu."
Aku penasaran, tapi aku juga lapar. Jadi pada akhirnya aku tidak bertanya lagi dan berpikiran untuk memakan apapun yang terlihat di depan mataku nanti. Tapi ada Akashi, dan itu berarti harus makan dengan normal atau mendapatkan ceramah tentang seorang perempuan yang harus menjaga tata krama saat makan.
Argh! Kenapa aku ingin makan bisa sesusah ini jika ada Akashi?
Dan yang lebih terpenting lagi, bagaimana Akashi tahu aku ada di hotel ini? Apa waktu aku mengirimkan pesan hari itu, aku memberitahu Akashi akan menginap dimana? Lalu, apa kira-kira Akashi tahu apa saja yang terjadi tanggal 9?
.
.
Don't You Dare Love Me : To Be Continue
.
.
Saya bingung, kenapa semakin kesini Akashi semakin OOC. Tolong, Akashi dan romantisme adalah dua hal yang tidak cocok :") #plakplok
Dan saya sejujurnya merasa fanfic ini kenapa seperti saya nulis curhatan hati ya? Saya merasa menggambarkan Akashi seperti teman cowok saya yang tampangnya gak perhatian tapi giliran menyangkut saya dia benar-benar Out Of Character -_-
Tapi saya tegaskan satu hal, dia bukan pacar saya. Dia cuman teman saya yang bilang saya kelewatan lugu dan polos (saya rasanya mau ketawa tiap kali dengar dia ngomong ini. Saya aslinya gak seperti yang dia duga) dan harus dijaga dengan benar. Padahal saya penasaran bagaimana dunia malam dan dia memarahi saya habis-habisan gegara saya nanya begituan. Katanya saya gak boleh rusak kayak dia, jadi dia gak mau jelasin gimana.
Kalian boleh memanggil saya dengan Green atau Maple atau apapun yang sekiranya kalian nyaman. Dan soal Akashi tanpa gunting, saya pikir dia adalah seorang CEO sebuah perusahaan dan kayaknya imej ceesan sama gunting harus dibuang. Alurnya mulai dari sini saya rasa akan saya perlambat dan mungkin Akashi semakin saya buat OOC #dibejek
Saya juga punya project fanfic Akashi dan OC dengan satu setting fantasy. Tapi saya gak yakin mau posting, karena saya gak pede :") #plek
Terakhir, mind to review? :D
Green Maple
08/03/2014
