Naruto x High school DXD x Anime X Ove r

Genre: Romance, Drama, Slice of Life, Friendship, Harem, School life, Hurt/Comfort

Warning: Naruto pakai kacamata, terdapat karakter dari berbagai anime.

Fic Gaje, bikin mual dan sakit mata, gak suka jangan baca

Maaf kalau ada kemiripan dengan fic lainnya.

ORE NO MONOGATARI

OPENING: Long Shot Party ~ Distance (Thank You My Friend)

Chapter 4: Kembalinya Klub Relawan yang legendaris

Hari ini merupakan hari yang cerah tanpa sedikitpun awan yang terlihat di langit yang luas. Di sebuah sekolah SMA yang terkenal di Tokyo, terlihat para murid dari SMA tersebut berjalan keluar dari kelas mereka masing-masing. Karena jam saat ini telah menunjukan bahwa sekarang adalah waktunya istirahat.

Disalah satu kelas, terlihat seorang pemuda bersurai pirang jabrik dengan kacamata yang merupakan seorang siswa SMA yang baru saja memulai kehidupan SMA-nya tiga bulan ini. Dialah Uzumaki Naruto, pemuda dengan tiga tanda lahir di pipi yang menjadi ciri khasnya. Entah bagaimana dia bisa mendapatkan tanda lahir seperti itu, namun itulah yang membuatnya terlihat unik dari orang lain.

Saat ini adalah waktunya jam istirahat makan siang, kebanyakan siswa dan siswi memakai waktu ini untuk makan siang bersama dengan teman. Namun tidak untuk Naruto.

"Haah ... menyebalkan"

Gumam Naruto dengan nada pelan.

Hari ini, pemuda bersurai pirang itu nampak lesu, tidak seperti biasanya.

"Kau kenapa, Naruto?"

Mendengar seseorang memanggilnya, Naruto kemudian menoleh kearah orang itu.

"Tidak, tidak ada apa-apa?"

Ucap Naruto dengan nada lesu.

"Walau kau berkata begitu, tapi ekspresi wajahmu menunjukkan hal yang berbeda, tahu!"

Gadis berambut kuning yang kini menjadi lawan bicara Naruto adalah wakil ketua kelasnya sekaligus anggota OSIS, Le Fay Pendragon.

"Jadi, ada perlu apa kau denganku, Le Fay-san?"

"Umm ... tidak ada sih" ucap Le Fay

"Oh, begitu!" ucap Naruto

Bersamaan saat Le Fay menghela nafas, Bahunya melemas seakan kehilangan daya. Sebelum kemudian dia mendudukkan dirinya di bangku yang berada depan Naruto.

"Katakan!"

"Apanya yang 'katakan'?" tanya Naruto bingung mendengar Le Fay tiba-tiba berkata seperti itu.

"Maksuku adalah, katakan saja apa masalahmu, kita ini kan teman!" ujar Le Fay

Kalau dipikir-pikir lagi, apa yang dikatakan Le Fay itu memang ada benarnya. Akhirnya, si pemuda pirang berkacamata itu kemudian mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya dan memberikannya pada Le Fay.

"Bukankah ini, Formulir pendaftaran klub?"

Yap, kertas itu adalah formulir pendaftaran klub yang masih kosong mlompong karena Naruto masih belum mengisinya sejak kertas itu di berikan padanya.

"Kenapa kau tidak mengisi formulir ini, apa kau tidak mau mengikuti kegiatan Klub?"

"Sebenarnya aku mau, tapi masalahnya aku tidak tahu Klub mana yang harus aku masuki!"

"Kalau begitu kenapa kau tidak masuk ke Klub Kendo atau sepak bola saja, aku dengar Klub Kendo dan Sepak bola SMA kita cukup terkenal, loh!"

"Membosankan, Klub-klub yang semacam itu sudah terlalu umum, aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda!" ujar Naruto

"Apa kau punya saran, Le Fay-san?" tanya Naruto

"Hmm ..."

Le Fay membuat pose berpikir.

"... Mungkin, kau bisa coba masuk ke Klub Relawan!"

"Klub Relawan? Klub macam apa itu?"

"Uhm ..., kalau soal detilnya aku kurang tahu, yang aku tahu adalah kegiatan dari Klub itu adalah membantu orang-orang yang sedang dapat masalah!"

"Oh, begitu?"

"Tapi, sudah sepuluh tahun berlalu semenjak anggota terakhirnya meninggalkan Klub Relawan!" Ucap Le Fay

"Apa maksudmu?"

"Hah, ... jadi begini, menurut cerita yang aku dengar dari para senior dan ketua OSIS. Sepuluh tahun yang lalu, Klub ini memiliki tujuh orang anggota. Masing-masing dari mereka memiliki sifat yang berbeda. Namun meski begitu mereka selalu berhasil menjalankan tugas sebagai perwakilan dari Klub dalam membantu orang lain. Perlahan-lahan ikatan yang mereka jalin semakin erat hingga sebuah tragedi menimpa mereka" jelas Le Fay

"Tragedi?" gumam Naruto

Le Fay mengangguk merespon ucapan Naruto sebelum kemudian iamelanjutkan perkataannya.

"Di tahun terakhir mereka sebagai murid dari SMA ini, terjadi sebuah peristiwa mengenaskan dimana dua anggota Klub Relawan di temukan dalam keadaan tak bernyawa di ruang Klub!"

Naruto tercekat mendengar perkataan tersebut, seketika tenggorokan terasa tersumbat. Sementara Le Fay melanjutkan penjelasannya.

"Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua, namun yang pasti semenjak kejadin itu, anggota Klub yang lainnya tidak pernah datang lagi keruang Klub. Berita pun dengan cepat menyebar keseluruh kota. Dan akibatnya, mereka yang awalnya berniat untuk bergabung segera membatalkannya dan pindah ke Klub yang lain" Jelas Le Fay

"Lalu, apa yang terjadi dengan ruang Klubnya sekarang?"

"Kalau sekarang, ruang Klub Relawan harusnya sudah di bongkar. Namun pak kepala sekolah berusaha keras agar ruang Klub itu tetap ada, walau pun dia tidak pernah bilang apa alasannya" Ucap Le Fay

SKIP TIME

Sepulang sekolah, Irina mengajak Naruto untuk pulang bersama. Namun Naruto mengelak dengan mengatakan "Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan". Dia berpikiran untuk mendatangi ruang Klub Sosial yang di katakan oleh Le Fay sebelumnya.

Sambil berjalan melalui koridori, Naruto bisa mendengar sahutan Tim Atletik yang terdengar jelas dari jendela yang terbuka.

"... Semangat! Semangat! Semangat! ..."

Disaat langit sudah mulai berwarna sedikit kemerah-merahan, mereka masih bersemangat untuk melanjutkan kegiatan Tim mereka.

Sebagai sekolah SMA terluas di Kota ini, SMA Rouran memiliki lebih dari lima ribu orang murid. Selain itu, sekolah ini juga memiliki banyak sekali Klub. Karena itu pula sekolah ini juga terkenal memiliki sekolah tahunan yang meriah.

Di komplek sekolah ini ada tiga bangunan besar. Gedung utama, gedung yang didalamnya berisi banyak sekali ruang kelas sekaligus gedung yang paling besar. Kemudian terdapat gedung Keperluan khusus yang digunakan untuk mata pelajaran khusus. Dan terakhir adalah gedung olah raga yang menyatu dengan gudang peralatan olah raga.

Setelah melalui perjalanan yang lumayan panjang dari ruang kelasnya, Naruto akhirnya sampai di tempat yang dia tuju. Ruang Klub Relawan berada di lantai satu, disebelah Ruang klub sejarah, Gedung Keperluan Khusus.

"Jadi disini, ya?"

Naruto bergumam pelan memberikan tatapan datar pada ruang klub yang kini berada di depannya.

Sambil menatap datar pintu masuk ruangan itu, Naruto teringat akan kata-kata yang di ucapkan Le Fay tentang Klub ini.

' Kalau yang dikatakan Le Fay-san itu benar, maka ruang Klub ini adalah bekas area pembunuhan sepuluh tahun yang lalu' pikir Naruto

Memikirkan hal itu saja membuat Naruto meneguk ludahnya. Saat ia akan memegang kenop pintu itu saja tangannya sudah gemetaran.

Remaja mana yang tidak akan takut saat kau mengetahui bahwa tempat yang ditujunya itu adalah tempat yang dulunya pernah menjadi area pembunuhan. Apalagi jika tempat itu berada didalam area sekolah.

Naruto kemudian mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya, dan membuka pintu itu dengan cepat.

GREK!

Membuka pintu geser itu dengan cepat, hawa dari ruangann itu langsung bisa dia rasakan.

Saat itu juga, Naruto bisa melihat ruangan yang bermandikan cahaya matahari senja itu. luas dari ruang Klub Relawan itu sendiri hampir menyamai luas dari ruang kelasnya. Ada sekitar 20 kursi di ruangan itu, lengkap dengan papan tulis besar yang berada di depan.

Walau ruangan ini adalah ruang Klub yang sudah lama di tinggalkan, tidak ada satu pun debu yang menempel. Nampaknya, kepala sekolah benar-benar menjaga agar tempat ini tidak di bongkar. Hal itu sesuai dengan apa yang dikatakan Le Fay sebelumnya.

"Hei! Apa yang kau lakukan disana?"

"!"

Naruto tersentak kaget saat dia mendengar seseorang mengatakan hal itu dengan nada tegas.

Dia adalah seorang guru. Tampaknya berpatroli keliling sekolah setelah jam pulang. Dengan badan yang terbentuk dan kulit berwarna sedikit kecoklatan, nampaknya dia adalah seorang guru olah raga. Naruto pun menarik nafas lega melihat bahwa orang itu bukanlah hantu. Disisi lain, guru itu kembali berkata dengan nada yang tegas.

"Berniat memasuki ruang Klub tanpa izin, apa kau mau mendapat hukuman?"

"Ti-tidak, kau salah, Sensei!"

"Apa maksudmu?"

Guru itu memasang wajah kecurigaan pada Naruto. Dan disaat itu pula Naruto kemudian mulai memikirkan sebuah alasan yang tepat agar guru itu percaya padanya.

"Se-sebenanrnya ... mulai hari ini aku adalah anggota klub ini"

"Eh!?"

Guru itu nampak sedikit terkejut dengan ucapan Naruto, dia kemudian kembali berkata.

"Tunggu dulu, aku kira klub ini sudah bubar"

"Memang, tapi sekarang sudah aktif kembali!"

"Oh, jadi begitu! Lalu kegiatan apa yang sedang kau lakukan disini?"

"Sebenarnya aku datang keruangan ini hanya untuk melihat-lihat saja, aku belum berniat untuk melakukan kegiatan Klub!"

"Oh, Begitu rupanya!"

"Awalnya, aku kira ruangan ini akan sangat berdebu dan juga kotor. Tapi ternyata ruang klub ini lebih bersih dari yang aku pikirkan!"

"Kalau itu sudah jelas, soalnya kepala sekolah sendiri yang memutuskan untuk melindungi ruang klub ini!"

"Eh?"

Naruto tanpa sengaja mengangkat kedua alisnya saat dia mendengar ucapan itu.

"Apa maksudnya 'melindungi ruang Klub ini'?"

"Penyebabnya adalah tragedi yang terjadi sepuluh tahun yang lalu!"

"Eh?"

"Kau sendiri juga sudah tahu soal ceritanya, kan? Semenjak kejadian itu, tidak pernah ada satu pun murid yang mau bergabung dengan Klub ini. Tapi berkat kepala sekolah, ruangan klub ini tetap bisa bertahan meski sudah tidak memiliki anggota lagi!"

"Jadi begitu"

Naruto mengangguk paham dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh guru itu. namun yang menjadi pertanyaan Naruto saat ini adalah, mengapa kepala sekolah sampai sebegitunya melindungi ruang klub ini. Apakah mungkin ada semacam rahasia yang terkubur di tempat ini atau ada sesuatu yang lain.

Tepat disaat Naruto hendak menannyakan hal itu,insting Naruto merasakan ada sesuatu yang aneh. Naruto dengan cepat menoleh kearah kanan. Namun diunjung pandangannya, dia tidak melihat apa-apa.

"Hei, ada apa?"

"Eh? Ti-tdak, tidak apa-apa"

Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Naruto berusaha untuk mengelak. Guru itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum kemudian menghela nafas dan berkata

"Haah, ya sudahlah, jika kau sudah selesai dengan urusanmu jangan lupa untuk mengunci pintunya!"

"Ha'i!"

Guru itu pun melangkah pergi, namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan berbalik lagi pada Naruto.

"Oh iya, sebelumnya aku peringatkan padamu untuk berhati-hati!"

"Hati-hati? memangnya kenapa?"

"Aku dengar dari para siswa kalau sering terjadi kejadian aneh setiap sore hari di area ini, katanya sering penampakan hantu seorang gadis SMA dengan rambut putih!"

"Eh!"

Wajah Naruto mulai sedikit memucat saat mendengar hal itu.

"Tu-tunggu dulu! apa maksdunya itu? sensei mau menakut-nakutiku, ya!?"

"Pada awalnya aku memang tidak percaya, tapi saat aku mencoba membuktikan gosip itu, aku malah bertemu dengan hantu itu secara langsung!"

"Eh!?"

Naruto berteriak tidak percaya dengan perkataan dari guru itu.

"Pokoknya berhati-hatilah, sebelum jam lima sore kau harus segera pulang kerumahmu!"

Guru itu memberikan peringatan pada Naruto untuk berhati-ati sebelum kemudian dia pergi dan meninggalkan Naruto yang masih berdiri membatu di tempatnya seorang diri. Sembari meneguk ludahnya dalam-dalam, Naruto berusaha untuk menenangkan dirinya.

'Oi,oi, yang benar saja! ini semua hanya kebohongan, hantu itu tidak mungkin nyata!'

Naruto sebenarnya tidak benar-benar percaya tentang gosip hantu gentayangan yang saat ini sedang ramai dibicarakan orang-orang disekolahnya. Namun entah mengapa ini juga membuat Naruto sedikit penasaran.

Setelah mengingat kembali nasehat dari guru tadi, Naruto kemudian memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu.

"Sebaiknya aku pergi saja dari tempat ini!"

Naruto kemudian segera menutup pintu itu dengan kasar dan menguncinya sebelum kemudian melangkah pergi dari tempat itu. Namun sesaat kemudian, Naruto kembali merasakan ada yang aneh.

Entah ini hanya halusinasi atau bukan, tapi telinga si pirang berkacamata itu mendengar suara langkah kaki yang cepat, seperti suara langkah kaki seseorang yang tengah berlari dari kejauhan.

Naruto kemudian menoleh kebelakang,

Mata Naruto pun langsung membulat sempurna, pasalnya dia melihat sesosok gadis bersurai putih dengan seragam SMA yang sama dengan siswi SMA Rouran berjalan kearah yang berlawanan dengannya. Banyak orang yang mengatakan bahwa hantu itu biasa muncul saat senja. Yang ada didepannya saat ini jelas-jelas bukanlah hantu, tapi seorang manusia biasa.

"... Dia, apa yang dia lakukan disini?"

Karena penasaran, Naruto pun memutuskan untuk mengikuti kemana siswi itu pergi.

Tidak alam kemudian, tibalah dia didepan pintu atap sekolah yang setengah terbuka. Naruto bisa melihat warna langit senja yang khas. Pemuda berambut pirang itu kini bertanya-tanya, apa yang dilakukan seorang siswi di atap sekolah pada waktu seperti ini.

Biasa jika ini didalam manga atau Anime, atap sekolah terkadang digunakan oleh seorang laki-laki untuk menembak seorang gadis yang disukainya. Dikehidupan dunia nyata, hal itu sangat hampir mustahil untuk terjadi.

Naruto yang merasa penasaran, mengintip dari balik pintu itu agar tidak ada yang menyadari keberadaannya.

Disaat itulah, pandangan Naruto menangkap sosok gadis SMA yang tengah berdiri memandang langit di dekat pagar. Gadis itu adalah Nao Tomori, gadis penyendiri dikelasnya dengan rambut putihnya yang mencolok.

"Apa yang dia lakukan disini?"

Pertanyaan seperti itulah yang tidak sengaja keluar dari mulut Naruto.

Akan tetapi, ditengah lembabnya udara disore hari itu, Naruto merasakan suatu kejanggalan. Naruto berpikir mungkin apa yang dia lihat ini hanya halusinasi, namun ternyata bukan. Dia melihat Tomori nampak berusaha menaiki pagar yang tinggi separuh badan itu bukanlah halusinasi.

"... O-oi, apa yang akan dia lakukan?"

Saat itu, jantung Naruto mulai berdebar-debar. Ditengah angin lembab yang berhembus disore hari itu, Naruto melebarkan matanya ketika tubuh dari teman sekelasnya itu terhuyung kedepan. Naruto merasakan suhu tubuhnya langsung menurun drastis melihat seseorang yang hendak melakukan bunh diri didepannya.

DRAAPP!

Dengan jantung yang berdegup kencang, Naruto memacu dirinya. berlari sekuat yang dia bisa dengan harapan bahwa dia masih sempat.

Namun sayangnya, ketika jaraknya sudah sangat dekat dengan pagar pembatas tempat gadis itu berdiri, tubuh gadis bersurai putih itu telah terhuyung jatuh. Dengan sekuat tenaga, Naruto memacu dirinya untuk meraih gadis itu.

Pada detik berikutnya, tubuh gadis itu telah lenyap dari posisi dia berdiri sebelumnya.

Saat gadis itu merasakan sensasi melayang, ia pun berpikir kalau ruhnya kini telah keluar dari raganya. Namun ketika ia membuka matanya, dia mendapati dirinya bergelantungan dengan seseorang yang tengah memegang tangannya erat-erat.

Dengan perlahan, dia menengadahkan pandangannya keatas dan mendapati Naruto sedang memegang tangannya erat-erat.

"Tomori, pegangan yang erat!"

Dengan keringat dingin yang bercucuran diwajahnya, Naruto menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat agar tidak terlepas. Namun kemudian, yang diingkan oleh Tomori saat ini nampak berlawanan dengan apa yang dilakukan Naruto.

"Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku, dan biarkan aku mati!"

"HAAH!? APA KAU SUDAH GILAA?"

"Diam dan lepaskan aku!"

"TIDAK AKAN, WALAU KAU MEMINTANYA, AKU TIDAK AKAN PERNAH MELEPASKANMU!"

"... kenapa ..., padahal kau sama sekali tidak tahu apa-apa soal aku!"

"BERISIK, MANA BISA AKU MELIHAT ORANG LAIN MENYIA-NYIAKAN NYAWANYA SENDIRI!"

"... Apa kau bodoh?"

"KAULAH YANG BODOH! AKU TIDAK TAHU APA MASALAHMU, TAPI ..., MATI DENGAN CARA SEPERTI INI TIDAK AKAN MENYELESAIKAN APAPUN!"

Di tengah perdebatan mereka, Naruto berusaha menarik Tomori kembali keatas. Disatu sisi, Tomori hanya bisa terdiam setelah mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut si pemuda pirang berkacamata itu. dan ketika situasi semakin memburuk, mata Naruto melebar, dan dengan seluruh kekuatan dia menarik gadis itu kembali.

Akhirnya, setelah memakan waktu yang sedikit lama, gadis itu berhasil diselamatkan.

Dengan afas yang terengah-engah, Naruto mendudukkan dirinya sambil berusaha mengatur pernafasannya. Sambil sesekali dia mengusap keringat yang sedari tadi mengalir deras di keningnya. Nampaknya, penyelamatan yang tadi dia lakukan cukup menguras banyak tenaga.

"Kenapa?"

Mendengar pertanyaan itu, Naruto pun lantas menolehkan pandangannya kesamping dan melihat gadis bernama Tomori yang telah diselamatkannya dari percobaan bunuh diri, berada pada posisi berbaring dilantai dengan nafas yang juga sedikit terangah-engah.

"Harusnya ... kau biarkan saja aku jatuh!"

"Kau ..., apa serius berpikir seperti itu?"

Mendengar hal itu, Tomori sama sekali tidak menggubris pertanyaan Naruto.

"Aku sudah bilang, entah masalah apa yang kau hadapi, bunuh diri bukanlah jawabannya, itu hanya akan membuat orang-orang disekitarmu terluka!"

"Terluka? Jangan bercanda!"

"Hah?"

"Meski pun aku mati, tidak akan ada yang peduli!"

"..."

"Sejak kecil, ayah dan ibu tidak pernah peduli padaku, bahkan sampai mereka mati sekalipun. Bahkan kakakku yang aku percayai pergi meninggalkanku begitu saja, teman-temanku bahkan tidak ada yang pernah memperhatikanku, aku masuk kesekolah ini karena aku pikir bisa merubah sesuatu, tapi nyatanya tidak ada yang berubah!"

"..."

"Orang luar seperttimu yang tidak pernah merasakan penderitaan lebih baik DIAM SAJA!"

Setelah mendengar semua itu, Naruto akhirnya mengerti alasan dibalik sikap Tomori selama ini. kaena masa lalunya yang kelam itulah yang menciptakan dirinya yang sekarang. Namun entah mengapa, Naruto tidak bisa menahan diri untuk tidak berbuat apa-apa.

"Kau benar, bagimu aku ini memang orang luar, tapi aku juga pernah merasakan penderitaan"

"Eh!?"

"Seperti apa rasanya kehilangan orang yang paling kau sayangi atau seperti apa rasanya dikhianati oleh orang yang paling kau cintai atau seperti apa rasanya menjadi korban Bully, aku juga pernah merasakan semua itu!"

"..."

"Tapi, aku juga berpikir kalau bunuh diri itu bukan pilihan yang tepat"

"Jangan bicara seenaknya, padahal kita ini bukan teman!"

"Kalau begitu, mulai detik ini juga ..., aku ingin kau menjadi temanku!"

"Itu tidak mungkin!"

"Ke-kenapa!?"

"Karena ... aku tidak tahu bagaimana caranya berteman"

"HAAH!? Jangan membuaat alasan yang konyol, kalau kau tidak mencobanya kau tidak akan tahu!"

"Bagi orang sepertiku, itu tidak mungkin!"

"JANGAN PESIMIS BEGITU, ITU MEMBUATKU KESAL! JIKA KAU GAGAL, MAKA KAU HARUS MENCOBANYA LAGI DAN JANGAN PERNAH BERPIKIR UNTUK MENYERAH!"

Dengan nada yang penuh semangatnya itu, Naruto berusaha untuk memotivasi Tomori agar dia bisa mendapatkan teman. Namun sepertinya ucapan Naruto masih belum bisa untuk menggerakkan hatinya. pada saat itu, Naruto akhirnya mengeluarkan sebeuah usulan yang kebetulan terlintas didalam pikirannya.

"Begini saja, aku akan membantumu bagaimana caranya berteman"

"Tapi, bagaimana caranya kau membantuku...?"

"Besok, saat jam istirahat makan siang ... datanglah keruang klub Relawan, kau mengerti?"

Setelah mendengar Naruto mengucapkan hal itu, Tomori malah memalingkan wajahnya. Mungkin karena dia lelah atau apa, setelah mendengar semua yang dikatakan Naruto, dia berkata dengan nada yang lebih pelan dari sebelumnya

"Terserah kau saja!"

Walau pelan, namun Naruto bisa mengerti apa yang diakatakan. Pemuda berambut pirang itu membuat senyum simpul, akan tetapi dia saat itu juga menyadari sesuatu. Matahari yang sebelumnya masih berada di atas, kini telah mengeluarkan cahaya langit senja tanda pergantian antara siang dan malam. Dari balik kacamatanya, Naruto bisa melihat dengan jelas indahnya cahaya langit senja bersamaan dengan angin sepoi-sepoi yang meniup mereka.

Setelah menghirup udara lembab dikala senja, Dia sadar bahwa ini bukan saatnya untuk berlama-lama untuk berada disekolah.

"Yosh, sebaiknya kita pulang!"

Dengan rasa kepuasan karena telah berhasil menghentikan seseorang yang hampir saja bunuh diri, Naruto pun beranjak pergi dari tempat itu bersama Tomori. Namun ketika dia hendak melangkah pergi, Tomori yang masih belum berdiri tiba-tiba saja menarik kaki Naruto dan menahannya untuk pergi.

"Ada apa lagi?"

"Sebenarnya ..., aku punya masalah lain"

"Masalah lain? Masalah apa?"

"Sejak beberapa saat yang lalu, kakiku ..., tiba-tiba seperti saja menolak untuk berdiri dan tidak bisa berhenti bergetar!"

"Hah?"

Naruto tanpa sengaja mengeluarkan suara yang bodoh.

Sambil menatap Tomori yang sedikit memalingkan wajahnya dengan malu-malu, Naruto mulai berpikir tentang apa yang terjadi pada gadis itu dengan mengurutkan semua kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu. pertama, Naruto datang keruang klub untuk melihat-lihat keadaan dan bertemu dengan guru yang sedang berpatroli. Kedua, dia melihat bayangan seseorang dan kemudian mengikutinya hingga keatap sekolah.

Ketiga, orang yang dia itu itu ternyata adalah Tomori, teman satu kelasnya yang mencoba untuk bunuh diri karena sudah tidak tahan dengan kehidupannya sendiri. keempat, setelah berhasil meneyelamatkan gadis itu dan menghentikan percabaan bunuh dirinya, Naruto membagikan beberapa pengalaman masa lalunya yang kelam dan sempat mengobrol sebentar.

Dari semua kejadian itu, sekarang Naruto akhirnya menyadari sesuatu. Nampaknya, Tomori mengalami Syok karena kejadian tadi hingga dia tidak bisa berdiri. Dengan kata lain, dia syok gara-gara ulahnya sendiri.

"Haah, Ya sudahlah ...!"

Setelah menghela nafas pendek, Naruto kemudian mendekati Tomori dan melakukan sesuatu

"O-oi ... apa yang kau lakukan ...?"

"Kau tidak bisa berdiri, kan? Jadi aku yang akan menggendongmu dan juga mengantarmu pulang!"

"Heh! Ke-kenapa kau harus melakukan hal itu?"

"Kau tahu, tidak baik membiarkan seorang gadis pergi sendirian disaat hari sudah mulai malam"

Mendengar hal tersebut, Tomori pun terpaksa menerima tawaran Naruto. Dia pun pulang dengan diboncengi oleh Naruto yang kebetulan hari ini membawa sepeda kesayangannya.

Dikala langit sudah berubah menjadi biru gelap, bintang-bintang menghiasi langit malam. Dibawah pemandangan indah itu, Tomori yang duduk dibelakang terlihat sedikit malu-malu. Yah, mungkin karena mereke terlihat seperti sepasang kekeasih yang sedang jatuh cinta. Atau mungkin karena ini adalah pertama kalinya ada orang lain yang melihat sisi lemahnya.

Setelah lima belas menit berlalu mereka beranjak dari sekolah, mereka akhirnya sampai disebuah rumah berwarna putih dengan tinggi dua lantai dengan atap yang berwarna biru. Halamannya yang tidak terlalu luas, di tumbuhi oleh pohon yang rindang dan juga terdapat beberapa petak bunga.

"Disini?" tanya Naruto

"Iya" jawab Tomori

"Tapi, kelihatannya rumah ini kosong" ucap Naruto

"Itu karena kakakku sedang berada diluar kota, aku tinggal sendirian di rumah ini!"

"Eh! Kau serius?"

Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Naruto, Tomori hanya mengangguk pelan. Ketika Naruto memandang rumah itu sebentar, Tomori tiba-tiba saja turun dari sepedanya dan berpikir bisa melakukannya sendiri. akan tetapi, belum satu langkah dia mendekati halaman, dia terjatuh.

"O-oi!"

Naruto pun lantas turun dari sepeda dan membantunya berdiri.

"Kau tidak apa-apa?"

"Sepertinya ..., kakiku masih belum mampu untuk berdiri!"

"Begitu, ya"

"Anu ... sebenarnya ini sedikit memalukan, tapi bisakah kau mengantarku sampai kekamarku!"

"Haah, baiklah tapi setelah itu akau akan langsung pulang!"

"Um, aku mengerti!"

Setelah melihat Tomori menganggukkan kepalanya, Naruto pun akhirnya memutuskan untuk mengantarnya sampai kekamar gadis itu. Ketika mereka berada didepan pintu masuk, Tomori mengambil kunci yang kebetulan ada di saku blazerrnya dan kemudian masuk kedalam rumah. Meski Naruto merasa agak canggung, tapi Naruto tetapi mengantarnya sampai kekamar sebelum kemudian dia pergi dan pulang kerumahnya sendiri.

Keesokan harinya, Naruto tidak melihat Tomori berada dikelas

ENDING: Kimi Monogatari ~ Little by Little

BERSAMBUNG...