Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Pairing:

Naruko x Gaara x Sasuke

Naruto x Shion

Rating: T

Sabtu, 17 Oktober 2015

.

.

.

MY SISTER IS A MAGICAL

By Hikari Syarahmia

.

.

.

Chapter 4. Tidak bisa menggunakan sihir

.

.

.

Naruko mengangguk cepat.

"I-Iya, Nii-chan."

"Bagus."

Puncak rambut Naruko diusap pelan oleh Naruto. Wajah Naruko memerah seketika karena disayangi oleh kakaknya. Naruto tersenyum lebar untuk adiknya.

'Naruto-nii memang baik dan perhatian sama aku. Aku sayang Naruto-nii,' gumam Naruko tersenyum senang di dalam hatinya.

Tak lama kemudian, duo blonde kembar tersebut masuk ke dalam sekolah dengan perasaan yang senang.

.

.

.

"Konichiwa, namaku Namikaze Naruko. Senang berjumpa dengan kalian semuanya," kata Naruko membungkukkan setengah badannya untuk memperkenalkan dirinya ketika di depan kelas.

"WAAAH, MANISNYA!" seru seisi kelas yang terpesona dengan kemanisan wajah polos Naruko.

Naruko kembali menegakkan badannya. Ia melemparkan senyum manisnya ke arah teman-teman barunya yang berada di dalam kelas 10-B.

"KAWAI!" teriak semuanya lagi.

Naruko terus tersenyum hingga guru yang bernama Anko mempersilahkan Naruto duduk di tempatnya.

"Baiklah, Namikaze-san! Kamu boleh duduk di samping kakakmu."

"Baik, sensei."

Naruko membungkukkan badannya lagi. Lalu ia berjalan menuju bangkunya sendiri yang bersebelahan dengan bangku Naruto. Naruko senang karena satu kelas dengan kakak kembarnya.

Namun, ada satu pandangan yang menyita perhatian Naruko yaitu seorang laki-laki berambut merah yang duduk di dekat jendela. Laki-laki itu sedang menatap ke arah jendela. Sepertinya ia tidak tahu ada murid baru yang masuk ke dalam kelasnya.

"Eh, cowok itu?" gumam Naruko yang sudah duduk di bangkunya."Dia yang waktu itu di stasiun kereta api, kan?"

Naruko membulatkan kedua matanya. Ia ingat kalau laki-laki itu yang telah menolongnya saat mengambil fotonya yang terbang.

'Sabaku No Gaara,' batin Naruko senang karena bisa bertemu lagi dengan laki-laki yang telah menolongnya.

Ingin rasanya Naruko menghampiri laki-laki itu. Tapi, saat ini pelajaran sedang berlangsung. Jadi, niatnya untuk mendekati laki-laki itu, ia urungkan saat istirahat tiba.

"Hei, Naruko-chan!" terdengar suara Naruto yang menegurnya. Membuat Naruko tersentak dan sadar dari lamunannya yang menghanyutkan.

"Heh, ada apa, Nii-chan?"

"Kenapa kamu malah melamun gitu? Apa yang kamu lihat, hah?"

Naruto memasang wajah curiga kepada Naruko. Naruko sedikit salah tingkah dengan kemerahan di kedua pipinya. Ia pun memainkan telunjuknya.

"I-Itu cowok yang berambut merah di dekat jendela," tunjuk Naruko malu-malu.

Lantas Naruto menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Naruko. Ke arah laki-laki berambut merah yang terus memandang ke luar jendela itu.

Sedetik kemudian, wajah Naruto menajam. Sepertinya dia tidak suka dengan laki-laki itu. Naruko pun melongo saat melihat sang kakak yang telah berubah menjadi sinis.

"Nii-chan?"

"Naruko-chan, kamu juga jangan dekat-dekat sama cowok berambut merah itu. Dia adalah cowok paling misterius di kelas ini. Tidak ada yang tahu tentang dirinya. Pokoknya dia benar-benar tertutup. Nii-chan harap kamu hanya dekat dengan teman yang menurut Nii-chan baik. Kamu harus nurut sama Nii-chan. Soalnya Tousan meminta Nii-chan untuk menjagamu."

Naruto mengatakan semua itu dengan tegas. Naruko terketuk keras saat mendengarnya. Terkesan Naruto mulai overprotektif pada dirinya.

Tapi, Naruko tidak tahu mengapa Ayah menyuruh Naruto untuk menjaganya. Entah apa yang terjadi. Naruko harus tetap dekat dengan kakaknya.

"Naruko-chan?"

"Iya, Nii-chan. Aku paham."

"Baguslah."

Naruto tersenyum dan mengusap pelan puncak rambut Naruko. Ia senang adiknya mau menuruti semua yang ia ucapkan.

Lalu mereka berdua pun menfokuskan diri untuk menghadapi pelajaran. Sejenak Naruko sangat penasaran dengan laki-laki yang bernama Gaara itu. Ia menyelinapkan dirinya untuk melihat si rambut merah sekali lagi.

DEG!

Gaara menatapnya. Tatapan mereka beradu. Seketika jantung Naruko berdegub kencang dibuatnya.

Lantas Naruko membuang mukanya. Wajahnya merona merah.

'Hyaaa, dia menatapku juga. Aku jadi malu rasanya,' batin Naruko yang merasa sangat berdebar-debar. Ia mulai mencoba memusatkan pikirannya untuk menerima pelajaran. Ia membuka buku pelajaran yang telah tergeletak manis di atas meja sedari tadi.

SREK!

"A-Apa ini?" sahut Naruko melototi halaman demi halaman buku."Hu-Hurufnya aneh."

Naruto menyadari kegelisahan si adik.

"Kenapa Naruko?"

"Nii-chan, kenapa tulisannya aneh begini?"

Naruko menunjuk ke arah halaman buku yang berisikan tulisan-tulisan kuno yang aneh.

Naruto tertawa lebar.

"Hehehe, itu bahasa sihir lho."

"BA-BAHASA SIHIR?!"

Naruko malah menjerit kencang dan membuat semua orang kaget. Lalu secara serentak, seisi kelas menancapkan pandangannya ke arah Naruko. Naruko menjadi panik karenanya. Sweatdrop besar muncul di kepalanya.

"Heh?!" Naruko ternganga.

"Namikaze-kun, ada apa dengan adikmu?" tanya Anko.

"A-Ano, tidak ada apa-apa, sensei," jawab Naruto kelabakan.

"Oh, ya sudah," Anko hanya berwajah datar untuk menanggapinya. Ia melanjutkan pelajaran yang tengah ia terangkan. Lalu seisi kelas juga kembali fokus melihat ke arah Anko.

"Huufh," Naruko menghelakan napas leganya. Untunglah Naruto membantu menenangkan keadaan.

Naruto memandang adiknya dengan sewot.

"Naruko-chan, kenapa kamu malah berteriak, hah?"

"Ah, ma-maaf. Ha-Habisnya aku kaget sekali karena tulisan di buku pelajaran ini adalah bahasa sihir, Nii-chan."

"Sudah kubilang beberapa kali padamu, kan? Tempat ini adalah negeri sihir. Jadi, sekolah ini adalah sekolahnya para penyihir."

"Se-Sekolah pa ..."

Sebelum adiknya berteriak lagi karena kaget bahwa sekolah ini adalah sekolah para penyihir. Naruto membekap mulut adiknya yang terlalu heboh dengan tangannya.

"Naruko-chan, suaramu keras sekali. Nanti Anko-sensei menegur kita lagi lho. Kamu tahukan kalau Anko-sensei itu orangnya galak. Bisa diamkan sampai istirahat tiba?" tukas Naruto seraya berbisik pelan.

Wajah Naruko memucat seketika. Ia mengangguk pelan.

"Hn."

"Bagus."

Setelah itu, Naruto melepaskan tangannya dari mulut Naruko. Naruko bernapas lega.

"Gomen, Nii-chan."

Naruto hanya tertawa menyengir lebar untuk si adik yang telah menundukkan kepalanya dengan patuh. Dari arah yang sama, tepat berseberangan di dekat jendela. Gaara memperhatikan dengan lama ke arah duo kembar blonde itu. Tepatnya ke arah Naruko.

'Benar, dia cewek yang waktu di stasiun kereta api,' gumamnya di dalam hati dengan wajah yang datar.

.

.

.

Istirahat tiba, di dalam kelas 10-B, terjadilah peristiwa yang menghebohkan.

Terlihat beberapa gadis berkerumun di sekitar meja Naruto dan Naruko. Ternyata para fansgirl-nya Namikaze Naruto.

"KYAAA, INI ADIK KEMBARNYA NARUTO-KUN!"

"MANIS BANGET KAYAK KAKAKNYA!"

"AKU NGGAK NYANGKA NARUTO-KUN PUNYA SAUDARA KEMBAR LHO."

"WAAAH, KALIAN BISA JADI SAUDARA PRIMADONA YANG SAMA DI SEKOLAH INI!"

"NARUKO-CHAN, KENALAN YOK!"

Datanglah beberapa laki-laki untuk mengajak Naruko berkenalan. Mereka memaksa masuk ke dalam kerumunan para fansgirl-nya Naruto. Sehingga beberapa gadis kelabakan ketika para fansboy dadakan Naruko datang menyela dan langsung menyerobot untuk menyerubungi di dekat meja Naruko. Naruko sendiri juga panik ketika para laki-laki datang ke arahnya.

"Hah, apa-apaan ini?" ucap Naruko yang masih duduk di bangkunya sambil memasang wajah tercengang.

Beberapa laki-laki telah berkumpul di dekat meja Naruko. Sehingga menghalangi jarak Naruko dengan Naruto yang masih duduk di bangkunya juga.

"Hei, Naruko-chan!" sebuah tangan terulur di depan wajah Naruko.

Naruko menatap wajah yang di depannya ini. Seorang laki-laki berambut hitam model bob yang tengah tersenyum lebar dengan gigi putihnya yang bersinar. Alis matanya tebal dan tangan kirinya mengacungkan jempol ke depan.

"Kenalkan, namaku Rock Lee. Kamu bisa memanggilku Lee. Salam kenal ya."

CRIIING!

Gigi putih Lee bersinar terang dan menyilaukan mata yang memandangnya. Membuat Naruko sweatdrop di tempat.

"Hah, salam kenal juga!" jawab Naruko hendak membalas uluran tangan si Lee.

Tiba-tiba ...

Muncul laki-laki lain dan menyenggol Lee hingga membuat Lee terjungkal ke lantai. Kepalanya pun terbentur kaki kursi.

BRAAAK!

Ternyata seorang laki-laki berambut hitam dan ada tanda segitiga merah terbalik di kedua pipinya, yang telah menyenggol Lee dengan keras. Membuat Naruko sweatdrop lagi.

"Maaf Lee, sekarang giliranku untuk berkenalan dengan Naruko-chan yang manis ini."

"A-Aduh, dasar kau, Kiba!" Lee menangis ala air terjun dan muncul benjolan merah di kepalanya. Ia terbaring tak berdaya di lantai.

"Hehehe," laki-laki yang diketahui bernama Kiba ini, hanya tertawa tanpa dosa. Ia pun mengarahkan pandangannya ke arah Naruko yang bengong melihat mereka sedari tadi.

"Hai, nona yang manis. Kenalkan namaku Inuzuka Kiba. Panggil saja aku Kiba," lanjut Kiba sambil mengulurkan tangannya dengan senyuman termanisnya.

Memerahlah wajah Naruko di saat Kiba mengedipkan sebelah mata jahilnya. Naruko menjadi gugup dibuatnya.

"I-Iya, sa-salam ke-kenal juga," ujar Naruko ingin membalas uluran tangan Kiba.

Tiba-tiba lagi, muncul laki-laki lain yang mendorong kepala Kiba dengan keras. Hingga Kiba terjungkal jatuh dan menimpa Lee yang masih terbaring di lantai.

BRAAAK!

Ternyata pelakunya adalah Naruto sendiri. Ia memasang wajah sewot dan menatap tajam ke arah Kiba dan Lee.

"Hei, kalian berdua! Jangan ganggu adikku!" seru Naruto keras. Membuat para fansgirl-nya pun berteriak histeris melihat aksi Naruto yang terbilang keren.

"WAAAH, NARUTO-KUN KEREN!"

Di tengah teriakan fansgirl yang sedang bersemangat mengagumi Naruto, tatapan tajam Naruto semakin menusuk dan sinis ke arah beberapa laki-laki lainnya yang sedang mencoba mendekati Naruko. Alhasil, para laki-laki yang merupakan teman-teman sekelasnya menjadi takut dengan tatapan tajam Naruto yang terbilang menakutkan. Seakan-akan memberi peringatan yang bertuliskan "jika kalian berani juga mendekatinya, aku takkan segan-segan menghabisi kalian sekarang juga".

DRAP! DRAP! DRAP!

Mendadak para laki-laki itu kabur dari dalam kelas tersebut. Wajah mereka pucat pasi karena gertakan Naruto yang terkenal sebagai penyihir tingkat tinggi karena mempunyai kekuatan sihir yang terbilang mematikan. Sehingga jika berhadapan dengan Naruto, mereka harus ekstra hati-hati. Sebab Naruto itu orangnya agak emosian jika ada yang menyinggung dirinya. Maka orang itu pasti bakal terkena jurus sihirnya yang sangat mematikan.

Melihat para laki-laki itu telah pergi, membuat Naruko jawdrop. Ternyata kakaknya memang hebat telah membuat mereka menciut dan mati kutu begitu. Hanya gertakan mata biru yang menajam.

Dua laki-laki lainnya yaitu Kiba dan Lee. Mereka pingsan seketika karena kepala mereka yang saling terbentur. Betapa malangnya.

"Ayo, kita pergi dari sini, Naruko-chan!" Naruto meraih tangan si adik dan langsung menyeretnya dengan cepat.

"Ke-Kemana, Nii-chan?" tanya Naruko heran.

"Kita lari dari fansgirl-ku yang makin banyak ini!" seru Naruto yang memucat karena banyak gadis yang mulai masuk ke dalam kelas itu.

"KYAAA, NARUTO-KUN! KAMI INGIN BERTEMU DENGAN NARUTO-KUN!"

"KATANYA DIA PUNYA KEMBARAN, KAN?"

"IYA, AKU NGGAK NYANGKA DIA PUNYA KEMBARAN!"

"PASTI CANTIK ORANGNYA."

"MINGGIR SEMUANYA!"

"KALIAN YANG MINGGIR!"

Para fansgirl yang membludak di dalam kelas itu, saling berdesakan untuk menemui Naruto dan Naruko. Namun, mereka tidak tahu bahwa idola mereka sudah tidak ada lagi di bangkunya. Kemanakah perginya Naruto dan Naruko?

"HEI, NARUTO-KUN DAN NARUKO-CHAN MENGHILANG?!"

"UWAAAAH, KEMANA MEREKA BERDUA?"

"NARUTO-KUN!"

Para fansgirl berteriak kencang dan menggema di tempat itu.

.

.

.

Dua kembar blonde sudah tiba di tempat lain yaitu atap sekolah. Untunglah Naruto menggunakan jurus sihirnya yaitu "Yellow Light". Jurus sihir elemen angin yang bisa berpindah tempat dalam sekejap mata. Hebat sekali. Lalu jurus itu adalah jurus yang diturunkan dari Minato untuk Naruto.

Mereka berdua terengah-engah. Terlihat keduanya menghelakan napas bersama-sama.

"Syukurlah kita selamat dari para fansgirl itu, Naruko-chan," kata Naruto tertawa kecil.

"Aku nggak nyangka kalau Nii-chan punya fansgirl juga."

"Hehehe, tentu saja dong."

Naruto menyengir lebar. Naruko tersenyum simpul.

Tiba-tiba terdengar suara seruling yang berbunyi merdu. Membuat si kembar kaget dibuatnya.

"Su-Suara apa itu, Nii-chan?" tanya Naruko.

"Itu suara seruling."

"Seruling?" Naruko memandang kakaknya serius."Siapa yang memainkannya?"

"Entahlah," Naruto menggeleng pelan sambil mulai menggerakkan tangan kanannya."Sebaiknya kita makan dulu. Kamu lapar, kan?"

Naruko memegang perutnya. Seketika perutnya pun berbunyi ketika kakaknya mengatakan "lapar".

KRIUK!

Bunyi perut itu sukses membuat mereka berdua sweatdrop sebentar. Naruko tertawa cengengesan.

"I-Iya, aku lapar, Nii-chan."

"Dasar."

Naruto tersenyum simpul. Ternyata adiknya memang lucu.

SRIIING! POF!

Muncul dua cup ramen di kedua tangan Naruto ketika mengucapkan sebuah mantra rahasia yang tidak diketahui oleh Naruko. Naruko terpaku melihat aksi kakaknya. Wajahnya berbinar-binar seketika.

"WAAAH, HEBAT! NII-CHAN BISA MEMUNCULKAN DUA CUP RAMEN DI KEDUA TANGAN NII-CHAN!"

Naruto hanya tersenyum melihat kepolosan Naruko yang belum tahu apa-apa tentang semua ini. Tentunya sihir itu.

"Ini untukmu," Naruto memberikan satu ramen untuk Naruko. Naruko menerimanya dengan wajah yang tidak sabar.

"Waaah, kelihatannya enak!"

"Ayo, duduk di sini! Kita makan sama-sama."

Naruto duduk bersila sambil memunculkan dua sumpit di tangan kanannya. Satu sumpit diberikan kepada Naruko yang duduk bersimpuh. Ia menerima sumpit itu dengan terpaku lama.

Suara seruling itu terus berbunyi dengan irama yang merdu tapi terkesan menyedihkan. Karena itulah Naruko terpaku sambil mendengarkan bunyi seruling itu.

Naruto keheranan melihat adiknya yang termenung.

"Naruko-chan, kamu kenapa?" Naruto memegang bahu adiknya.

Naruko tersadarkan dari konsentrasinya yang sedang mendengarkan musik dari seruling itu.

"Ah, eh? I-Iya, Nii-chan?"

"Ayo, makan! Kenapa kamu malah melamun gitu?"

"Hehehe, maaf. Iya, aku makan nih."

Naruko tertawa ngeles sambil memainkan sumpitnya untuk mengambil mie ramen yang masih hangat itu. Tapi, telinganya terus menajam untuk mendengar lantunan lagu yang dimainkan seruling itu. Entah siapa yang memainkannya. Suara seruling itu terasa menyedihkan dan mendayu-dayu di sekitar atap sekolah yang dibatasi sebuah tembok berbatu putih.

.

.

.

Pelajaran dilanjutkan kembali, Naruko memasang wajah yang kaget ketika pelajaran hari ini adalah mengendalikan hewan sihir.

Semua murid kelas 10-B kini berdiri secara melingkar di tengah lapangan bola basket, tepatnya di dalam gedung olahraga. Di hadapan mereka terdapat sangkar besi yang terletak di lantai. Di dalam sangkar besi tersebut dihuni satu ekor kelelawar yang mempunyai bentuk badan yang membulat dan matanya juga bulat besar. Semua murid sedang terdiam mendengar instruksi dari guru yang bernama Hatake Kakashi.

"Baiklah, apakah kalian sudah mengerti?"

"Mengerti, sensei!"

"Bagus, coba kalian praktekkan sekarang juga dan katakan mantra untuk menjinakkannya sesuai dengan apa yang saya katakan tadi."

"Baiklah, sensei."

Semua murid mengangguk patuh. Kecuali Naruto yang menatap bosan ke arah sangkar besi itu. Sedangkan Naruko kelihatan ragu. Ia pun celingak-celinguk dan memperhatikan teman-temannya yang sudah beraksi.

"PETS TAMER!" seru seorang gadis berambut pendek merah muda sambil membuka pintu sangkar besi itu. Hingga keluarlah makhluk sihir yang berbentuk kelelawar tersebut.

Kelelawar itu berputar dua kali di atas sangkar. Lalu ia mendarat di tangan gadis itu dengan patuhnya.

Melihat aksi gadis berambut merah muda itu, membuat Naruko takjub.

"Waaah, cewek itu hebat sekali!" gumam Naruko yang kelihatan kaget.

Satu persatu dari mereka sudah berhasil menjinakkan kelelawar yang termasuk hewan sihir yang sangat sulit dijinakkan. Naruko terus memperhatikan mereka semuanya tanpa melakukan sesuatu.

"Naruko-chan, kenapa kamu malah bengong?" tanya Naruto yang berada di samping Naruko.

Naruko menoleh dengan wajah yang kusut.

"Hah, ma-maaf Nii-chan," jawab Naruko setengah berbisik."A-Aku nggak ngerti sama sekali tentang semua ini."

"Hm, kamu belum ngerti caranya menjinakkan hewan ini?"

"Belum ngerti."

Naruto menghelakan napasnya.

"Baiklah, Nii-chan akan menunjukkannya padamu. Soalnya ini sangat mudah sekali."

Naruko memperhatikan aksi kakaknya.

"Pertama, kamu keluarkan hewannya dulu."

Naruto mengeluarkan kelelawar itu dari dalam sangkarnya. Hingga kelelawar itu berputar-putar di atas sangkarnya setelah dikeluarkan.

"Lalu kamu arahkan tangan kananmu kepada makhluk ini. Konsentrasi dan pusatkan perhatian serta sampaikan perasaanmu pada makhluk itu bahwa kamu ingin menjadi temannya. Setelah itu, ucapkan mantra PETS TAMER!"

Tangan kanan Naruto terarah kepada kelelawar yang terus terbang berputar-putar di atas sangkar tersebut. Naruko memperhatikannya dengan seksama.

Tangan kanan Naruto bercahaya menyilaukan. Lalu makhluk sihir itu juga bercahaya menyilaukan.

PAAATS! PLOK!

Tiba-tiba kelelawar itu telah hinggap di pundak Naruto dengan patuhnya.

Membuat Naruko terpana melihatnya. Wajahnya berbinar-binar seketika.

"WAAAH, NII-CHAN BERHASIL!"

"Aaah, biasa saja tuh."

Naruto berwajah datar sambil menatap lembut sang adik,"Ayo, cepat coba!"

"Hm, baik Nii-chan."

Naruko mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia mengatur napasnya agar tidak gugup.

"Oke, aku mulai," Naruko mengeluarkan makhluk sihir miliknya dari dalam sangkarnya.

Tiba-tiba kelelawar itu menggigit tangan Naruko. Membuat Naruko kaget dan berteriak keras sekali.

"KYAAAAAAAAA!"

Spontan Naruto juga kaget. Semuanya pun menoleh ke arah Naruko yang akhirnya jatuh terduduk sambil memegangi tangannya yang digigit oleh kelelawar itu.

"NARUKO-CHAN!" Naruto panik melihat adiknya yang kesakitan. Lalu tanpa pikir panjang lagi, Naruto mengeluarkan sebuah jurus sihir.

Tangan Naruto mengeluarkan sebuah pusaran berwarna biru. Lalu dilayangkannya ke arah kelelawar yang mengigit tangan kanan Naruko itu.

"WIND BALL!"

DASH!

Kelelawar itu terkena serangan bola angin Naruto tersebut. Otomatis membuat kelelawar itu hancur dibuatnya.

BRUUUK!

Setelah itu, Naruko pingsan. Untung Naruto berhasil menangkap tubuh Naruko sebelum ia tumbang ke lantai.

Semua teman sekelas beserta Kakashi berlari menghampiri Naruto yang sedang menggendong Naruko dengan gaya bridal style.

"Hah, Naruto-sama, apa yang terjadi dengan Naruko-chan?" tanya gadis berambut kuning dikuncir satu.

"Tangan adikku digigit makhluk sihir itu."

"Ya, ampun. Masa sih, Naruto-sama?"

"Benar."

"Ayo, cepat bawa Naruko-chan ke UKS!" seru Kakashi yang juga ikut panik melihat Naruko yang pingsan.

"Baiklah, sensei!" Naruto mengangguk cepat. Ia membawa Naruko keluar dari gedung olahraga. Sementara yang lainnya sangat mencemaskan keadaan Naruko.

"Ah, mudah-mudahan Naruko nggak apa-apa ya, Sakura-chan," ujar gadis berambut kuning dikuncir satu yang bernama Yamanaka Ino.

"Benar, Ino-chan," jawab gadis berambut merah muda yang bernama Haruno Sakura.

Semuanya menjadi tidak fokus karena keadaan ini. Semuanya berpikir ada sesuatu yang ganjil. Mengapa hewan sihir seperti kelelawar itu malah menggigit tangan Naruko? Padahal makhluk itu termasuk hewan yang tidak suka menyerang manusia. Sebenarnya apa yang terjadi?

Di antara mereka yang tidak menyadarinya, bahwa ada seseorang yang tengah tersenyum simpul ketika Naruko sudah berhasil dilukai. Entahlah siapa dia.

.

.

.

Naruko terbangun setelah merasakan adanya sentuhan halus yang memegang tangannya. Ia membuka kedua matanya secara perlahan-lahan dan melihat samar-samar sebuah wajah yang kini tersenyum ke arahnya.

"Naruko-chan."

"Nii-chan."

Naruko sadar bahwa orang yang kini di sampingnya adalah kakaknya. Naruto duduk di kursi sambil memegang tangan kanan Naruko yang terluka cukup lebar.

"Syukurlah, kamu tidak apa-apa."

"Ah, iya. Tadi, aku digigit tiba-tiba sama kelelawar itu. Sakit sekali rasanya."

"Tapi, sekarang lukamu sudah sembuh kok, Naruko-chan," Naruto terus tersenyum."Tadi petugas UKS yang telah menyembuhkan lukamu sampai hilang. Lihatlah, tidak ada luka lagi di tanganmu, kan?"

Lantas Naruko menatap tangan kanannya yang tidak terluka lagi. Ia tersenyum simpul.

"Iya, lukanya menghilang. Pasti berkat kekuatan sihir itu."

Naruto tersenyum lembut.

"Iya, Imouto-chan."

Seketika raut wajah Naruko menjadi muram. Naruto keheranan melihat perubahan wajah adiknya.

"Naruko-chan, kenapa?"

Naruko melirik ke arah kakaknya.

"Naruto-nii, sepertinya aku tidak cocok sekolah di sini."

"Kenapa kamu bilang begitu?"

"A-aku merasakan kalau aku tidak punya bakat untuk menjadi penyihir yang hebat seperti Nii-chan."

Naruto tersentak dengan penuturan Naruko. Ya, sepertinya satu hari di sekolah sihir ini, Naruko tidak dapat melakukan praktek sihir apapun. Setelah mengikuti dua pelajaran praktek sihir hari ini, Naruko tidak berhasil melakukannya. Malah berujung pada insiden kecil ini.

Naruko menunggu dengan sabar jawaban Naruto yang tengah berpikir keras. Terlihat kening Naruto mengerut.

Sedetik kemudian, Naruto menjawabnya.

"Kenapa kamu bilang tidak punya bakat untuk menjadi penyihir? Orang tua kita seorang penyihir. Tentu saja kamu punya bakat sihir itu, Naruko-chan."

"Ta-Tapi, Nii-chan. Aku memang tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak punya kemampuan khusus seperti Nii-chan."

"Pasti kamu bisa. Hanya saja kemampuanmu itu belum dikeluarkan."

"Kalau Nii-chan tidak percaya, aku akan mencoba mengucapkan sebuah mantra yang aku tahu dari Tousan kemarin."

Naruko pun bangkit dan duduk di ranjangnya. Ia memperhatikan isi ruangan UKS itu. Tatapan matanya pun terarah pada vas bunga yang terletak di atas meja yang cukup jauh dari ranjangnya.

"Aku akan mencoba menerbangkan vas bunga itu, Nii-chan."

Naruko memejamkan kedua matanya. Tangan kanannya pun diacungkan ke depan. Ia mulai berkonsentrasi untuk mengarahkan pikirannya ke arah vas bunga tersebut.

"FLY!" Naruko mengucapkan mantra itu dengan keras. Namun, tidak bereaksi apa-apa.

Sekali lagi Naruko berteriak lebih keras lagi.

"FLY!"

Tetap saja vas bunga itu tidak terbang dan masih berdiri di atas meja dengan anggunnya. Naruko tetap tidak menyerah.

"FLY! FLY! FLY!"

Naruko mengucapkannya sampai ia merasa tidak mampu menahan air matanya lagi. Naruto tidak tega melihat sang adik yang ternyata hanya manusia biasa.

"HENTIKAN, NARUKO-CHAN!"

"Hiks ... Hiks ... Nii-chan. Aku ternyata hanyalah manusia biasa. Aku bukan seorang penyihir seperti Nii-chan ataupun Tousan."

Naruko malah menangis tersedu-sedu. Naruto iba melihat adiknya yang terlihat rapuh begitu.

GREP!

Lantas ia memeluk erat adiknya. Naruko terus menangis di dalam pelukan hangat sang kakak. Naruto merasakan apa yang dirasakan oleh Naruko sekarang.

"Naruko-chan, Nii-chan ngerti kok."

"Nii-chan, kalau gitu aku akan balik saja ke desa pusaran air saja."

"Hah? Apa yang kamu bilang?"

"Aku mau balik ke desa pusaran air."

"JANGAN! ITU BAHAYA, NARUKO-CHAN!"

Naruko membulatkan matanya ketika kakaknya berteriak keras. Ia pun berhenti menangis.

"Heh, bahaya? Apa maksudnya, Nii-chan?" tanya Naruko mengerutkan keningnya.

Naruto melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua bahu adiknya.

"Kamu sekarang sedang terancam, Imouto-chan."

"Haaah?!"

Naruko menganga lebar dan selebarnya ketika Naruto mengatakan semua itu.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Chapter 4 update!

Terima kasih atas perhatianmu karena sudah membaca cerita ini.

Berminat mereview?

Salam ...

HIKARI SYARAHMIA

Jumat, 23 Oktober 2015