Langkah kaki mereka dibawa dengan amat tergesa, mengabaikan derasnya hujan yang menimpa tubuh mereka. Jongin sedikit tersengal mengikuti langkah besar Tuan muda-nya itu. Pintu pagar yang reot itu Jongin dorong mempersilahkan Tuan muda-nya melangkah lebih dulu untuk masuk. Tuan muda-nya, Oh Sehun segera melangkahkan kaki nya pada sebuah rumah yang memliki beberapa anak tangga di bagian terasnya, dimana kamar sang istri— Baekhyun yang sudah menyambutnya diatas teras. Tubuh mungil itu kemudian diterjang Sehun dengan sedikit kasar, membawa bibir tipis milik Baekhyun dalam sebuah pagutan panjang.
Bola mata Jongin membola melihat perilaku Tuan muda-nya itu, wajahnya ia tundukan. Malu dengan apa yang tengah di pertontonkan Tuan muda-nya. Kaki nya kemudian melangkah dengan kaku ke arah belakang bagian dapur, dimana memang tempat para pembantu sepertinya berkumpul. Senyum jahil terpatri di bibirnya saat mata nya menangkap sosok mungil lain di dapur.
"Hooiiii!"
"Hyaaaaaa!"
Jongin tertawa dengan lengan yang memeluk perut nya. Kyungsoo merengut, mengambil sendok nasi lalu memukul dengan keras bagian kepala Jongin yang masih tergelak.
"Ah, kenapa kau memukul ku?" Jongin mengerang kesakitan.
"Itu karena kau mengagetkan ku, bodoh!" Kyungsoo mengerutu, tanganny yang mungil ikut mengelus kepala Jongin yang ia pukul sebelum nya. "Apakah masih sakit?"
"Tentu saja! aish!" Kesal Jongin. "Jika tidak karena tuan-mu yang membuat tuan-ku kasmaran, aku tak akan kesini."
Wajah Kyungsoo memerah. "Dan jika tidak karena tuan-mu yang menikahi tuan-ku, aku tidak harus memasak makanan seperti tengah melakukan sebuah pesta Dan lagi kau pikir aku sudi untuk bertemu dengan mu setiap saat seperti ini." Kyungsoo merengut kemudian. "Ini begitu melelehkan, kau tahu."
Jongin berhenti mengelus kepalanya, menatap iba pada sosok mungil di depannya sekarang. setelah Berdehem dengan nyaring Jongin kembali bersuara. "Aku suka lelaki yang pandai memasak, sangat seksi."
Wajah Kyungsoo kembali memerah, namun dalam artian yang berbeda
•
•
•
BaekHyun
•
•
•
Oh Sehun — Park Chanyeol
•
•
•
Summary : Tentang anak dari seorang gisaeng tua di sebuah desa pada zaman kerajaan Raja Jinheung, Ia dipuja karena ke anggunannya, Di bangga kan karena kecerdasannya. Namun tak cukup bijak saat anak dari bupati baru memasuki pekarangan rumahnya. Tak cukup bijak saat akhirnya ia dijadikan seorang selir saat suaminya pergi meninggalkannya.
•
•
•
My Present...
•
•
•
S T A Y
•
•
"Bagajmana bisa kau memiliki begitu banyak bakat, istriku. Bahkan pelajar terbaik di negri ini pun tidak memilikinya."
Baekhyun menunduk malu, jemari lentik nya kembali menari di senar Gayageum dengan indahnya. Anak bupati itu mendekat kearah Baekhyun, melingkarkan lengan nya disekitar pinggang Baekhyun dengan dagu yang ditopang pada pundak sempit itu.
"Aku merindukanmu setiap saat." Sehun berbisik lembut ditelinga Baekhyun, membuat pipi gempil nya samar-samar merona merah.
"Kau sudah mengatakan itu beberapa waktu lalu." Baekhyun menjawab, sedikit kesusahan karena suaminya itu kini memainkan bibirnya di kulit sensitive nya.
Alih-alih menjawab, Sehun semakin membawa bibirnya semakin jauh. Hidung nya membaui setiap inci kulit Baekhyun yang sensitive. Baekhyun melenguh dengan rengekan manja saat tangan Sehun yang awalnya melingkar di pinggangnya kini bermain-main di daerah selangkangannya.
"Dan aku menginginkanmu setiap saat..."
•
•
•
"Semua persiapan sudah selesai dilakukan?"
"Ya, malam ini surat dari kerajaan akan sampai dikantor Bupati, dan besok mereka harus segera berkemas dan meninggalkan desa itu."
Chanyeol menyeringai dengan arogan, membawa gelas berisi arak beras ke bibirnya. Menyesap minuman nya pelan lalu berdecak puas setelahnya.
"Sehari setelah kepindahanku, langsung kumpulkan para penjabat tinggi di daerah saat penyambutanku. Aku tidak akan tinggal diam jika salah satu diantara mereka menentangku."
"Ya, akan ku lakukan. Dan pastikan kau akan berbuat sesuatu untukku, Chanyeol. Aku ingin melihat dia menderita."
Chanyeol berdecak remeh, menatap kearah Joonmyeon dengan seringai yang kejam. "Membuat seseorang menderita adalah keahlianku, Oh."
Joonmyeon menggeram kesal. "Jangan menyebut marga itu untukku, Park. Kau tahu aku bukan salah satu dari mereka lagi."
Chanyeol terkekeh. "Baiklah, baiklah..." mengangkat tangannya seolah menyerah. "..Jadi Kim, Apa yang harus ku lakukan? Membunuh istrinya?"
Joonmyeon menyeringai. "Membunuh bukan lah derita yang cukup ampuh, Park. Aku ingin ia lebih menderita daripada mengetahui istrinya tewas."
Kekehan kembali Chanyeol alunkan. "Jangan terlalu jahat pada adikmu, Kim."
•
•
•
Bibir tipis miliknya merekah dengan amat anggun, balutan sutra yang lembut membungkus kulitnya yang putih bersih dengan sangat apik. Pelayan pribadinya berdecak kagum dengan apa yang tengah ia kenakan lalu ia hanya menangapinya dengan gelengan ringan seolah yang ia kenakan hanyalah sutra biasa.
"Tuan Oh benar-benar berusaha keras untuk menyenangkan Tuan muda, aku bahkan belum pernah melihat ada yang menjual sutra ini di pasar, pasti sutra ini berasal dari luar kota." Kyungsoo berceloteh, tangan nya dengan telaten memakaikan sentuhan akhir pakaian Tuan muda nya itu.
"Apakah aku terlihat seperti seorang simpanan, Kyungsoo?"
Gerakan Kyungsoo terhenti, mengerjab beberapa kali untuk mencerna apa yang dimaksud dengan Tuan muda nya tersebut.
"Maksud Tuan muda?" Kyungsoo bertanya dengan ragu. Dengan lancang menatap manik sabit Tuan muda nya itu.
"Kau tahu, pakaian bagus, perhiasan dan status yang disembunyikan. Bukan kah aku terlihat seperti seorang simpanan yang sedang di manjakan sekarang?" Diujung kalimatnya Baekhyun tersenyum simpul yang terlihat aneh dimata Kyungsoo.
"Aku tidak mengerti.." Kyungsoo menjawab ragu.
"Kau tidak perlu mengerti untuk tahu sebuah faktanya, Kyungsoo." Baekhyun mengelus lengan Kyungsoo yang tengan mengikatkan simpul tali pakaiannya dan kemudia berlalu untuk keluar kamar, dimana Sehun tengah menunggunya untuk sarapan di pelataran kamarnya.
"Kau terlihat cantik." Puji Sehun saat Baekhyun duduk disebrang meja kecil yang telah diisi dengan beberapa makanan.
"Ya, kau dan mulut manis mu. Suamiku." Baekhyun terkekeh manis sambil menyendokkan beberapa lauk pada mangkuk nasi milik suaminya.
"Ya, kau dan suara tawa manis mu selalu membuat ku terjatuh." Sehun menimpalinya.
"Apakah ada hal selain menggombal yang ingin kau sampaikan padaku, Suamiku?"
"Ya, tentu saja." Sehun mengulum senyum geli melihat bagaimana wajah Baekhyun yang merona hingga telinga nya memerah. "Aku akan pulang, lalu akan kembali malam nanti untuk menemuimu kembali." Ucap Sehun sambil memulai sarapan paginya.
Baekhyun tersenyum maklum, tangannya dengan anggun menuangkan air pada gelas milik suaminya.
•
•
•
Dahi Sehun berkerut bingung saat mendapati para pekerja rumahnya disibukkan dengan mengemas beberapa barang milik mereka. Bebrapa peti diturunkan dari tandu untuk mengangkut beberapa kain sutra milik ibunya.
Apa yang terjadi?
Tungkainya ia bawa melangkah pada ruang keluarga mereka, melihat dengan jelas beberapa pekerja juga sedang mengemas guci-guci milik ayahnya.
"Sehun darimana saja kau? apakah kau masih berleha-leha saat ujian negara akan segera dilanksanakan?" Suara penuh wibawa milik ayahnya menyentak pemikirannya. Arah pandang nya ia bawa pada sang ayah yang tengah berdiri di ambang pintu kamar ayahnya.
"Ak— aku.. aku.. Apa yang terjadi sebenarnya ayah? kenapa para pelayan berkemas?"
"Karena kau yang keluyuran hingga tak tahu harus kembali pulang, kau tidak tahu apa-apa sekarang." Ayahnya berdecih dengan sinis.
"Kita akan pindah ke ibu kota." Ibu nya yang baru memasuki ruangan menjawab kebingungan Sehun. "Kemasi barangmu, Tuan muda." Ibunya berjalan melewatinya, seolah memberi isyarat agar Tuan muda itu mengikutinya.
•
•
•
"Tapi kenapa?" Untuk kesekian kalinya Tuan muda itu bertanya, Menatap ibunya dengan penuh tanda tanya.
Menghela nafas ibunya duduk menghampirinya yang tengah bersimpuh dilantai kamar.
"Ayahmu dimutasi ke Ibukota, ini langkah yang bijak karena kau juga akan mudah dalam mempersiapkan ujian negara mu."
"Tapi... aku tidak bisa pergi, ibu." Ucapnya lemah.
"Mengapa kau tak bisa? Ujian negara hanya tinggal beberapa minggu. Perpustakaan di Ibukota akan sangat membantumu, Sehun." Sekarang giliran kening ibunya yang berkerut bingung menatap anaknya yang tertunduk lesu.
"A—ku..."
"Kau menyembunyikan sesuatu dari ibu?" Kerutan dikening Nyonya Oh bertambah, Matanya mendelik curiga pada sang anak yang kini terlihat gelagapan setelah ucapannya.
Bola mata Sehun bergerak gelisah, tidak berani menatap manik sang ibu yang sudah mengetahui gelagatnya. Kemudian, dengan helaan nafas ia menyerah.
"Aku telah menikah." Akunya dengan kepala tertunduk bersalah. "Dan aku tidak mungkin meninggalkan istriku disini."
Bola mata Nyonya Oh membelalak terkejut. Dengan delikan tajam bola matanya menatap daun pintu kamar anaknya, memastikan tidak ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.
"Kapan?" Nyonya Oh bertanya, suaranya masih terdengar tenang.
"Seminggu setelah kunjunganku ke kantor Bupati." Sehun masih tertunduk tidak berani manatap manik ibunya yang pasti amat sangat kecewa akan tindakan gegabahnya.
"Siapa namanya?"
"Baekhyun, anak seorang mantan gisaeng di desa."
"Kau gegabah, Sehun."
"Aku mengakuinya, tapi aku tidak bisa meninggalkannya. Aku jatuh cinta, ibu." Dengan berani Oh Sehun menatap manik sang ibu, mencurahkan segala perasaannya lewat mata nya yang mulai digenangi liquid.
"Kau bisa bersamanya, tapi setelah kau lulus ujian negara lalu menikah."
"Apa maksud ibu?" Sehun menatap ibunya dengan kecewa, mengerti akan yang dimaksud sang ibu tapi menolak untuk memahaminya.
"Menikah lah dengan seorang yang pantas Sehun, lalu jadikan ia selir mu, simpanan mu. Jangan pernah membuat dia berada di depan orang-orang."
"Tapi... Aku tidak bisa, aku sudah berjanji dengannya."
"Tidak ada jalan lain, Tuan muda Oh. Atau kau ingin seperti kakak tirimu? Jangan bercanda dan segera berkemas." Nyonya Oh berdiri, meninggalkan anaknya yang tengah bersimpuh dengan merana.
•
•
•
Jongin berdiri dengan kaku saat Tuan muda nya mengatakan bahwa ia harus tinggal disini, menjaga seseorang untuk Tuan mudanya yang kini tengah menuangkan arak beras di gelasnya untuk kesekian kalinya.
"Kenapa kau berdiri, Jongin? Duduklah, kau bukan sedang menjaga istana negara sekarang." Suara Tuan mudanya terdengar aneh, mirip seorang pecandu alkohol berat.
"Kurasa Tuan muda sudah cukup minumnya." Dengan halus Jongin menegurnya.
Sehun berdecak dengan remeh. "Ini masih belum seberapa. Jangan meremehkanku." lalu terkekeh setelahnya.
"Tapi..." Suara Jongin terdengar ragu. "Tuan muda memiliki janji akan menemui Baekhyun."
Gerakan tangan Sehun berhenti diudara, kepalanya mendongkak menatap pelayan nya itu dengan sorot mata sendu.
"Apa yang harus kukatakan pada Baekhyun setelah menemuinya. Mengatakan bahwa keluarga ku tidak menerima statusnya atau..." satu gelas arak kembali ia lesakkan pada tenggorokannya. "... Berkata bahwa aku harus meninggalkannya dan menikah dengan orang lain. Ini tidak semudah itu Jongin. Aku tidak memiliki muka saat menatap wajah cantiknya lagi. Membayangkan bahwa wajah cantiknya akan terluka, aku tidak..."
"Baekhyun adalah seorang yang cerdas, Tuan. Ia akan mengerti." Jongin mencoba meyakinkan Tuan mudanya.
•
•
•
Seperti biasa, Baekhyun akan menunggunya diteras kamar selarut apapun Sehun akan datang. Dengan senyuman Baekhyun menyambut suaminya itu. Menyambutnya dengan sebuah dekapan erat namun kali ini berbeda, tidak ada pergerakan dari suaminya tersebut.
Kening nya berkerut, kakinya sedikit berjingkit saat hidung bangir miliknya membaui bibir suaminya tersebut.
"Kau minum?" Baekhyun bertanya dengan raut bingung.
Sehun menunduk, menatap manik kesayangannya itu lebih dekat lalu memejamkan matanya dengan berat. "Maafkan aku.."
Kening Baekhyun berkerut lalu tangan yang memiliki jari lentik itu mengelus rahang tegas suaminya. "Ada apa, katakan padaku."
"Maafkan aku." Namun hanya kata maaf yang dapat Sehun perdengarkan untuknya.
Malam itu, bukan lagi suara desahan sensual yang diperdengarkan Baekhyun. Namun nyanyian menyayat hati, isakan kepiluan lalu teriakan keputus asaannya terhadap hidupnya.
Dia memang cerdas, namun tidak cukup bijak saat anak Bupati itu memasuki pekarangan rumahnya.
Tidak cukup bijak saat ia juga jatuh cinta pada orang yang memberikannya pesakitan di usia nya yang masih muda.
•
•
•
TBC!
•
•
•
A/n : Huwaaaaaaaaaa TT udah lama yah setelah update terakhir kali heuheu
Mau gebokin? sok atulah, eneng ikhlas jiwa raga lahir batin heuheu.
Bukannya gak mau update hiks akutu gak bisa buka ffn lewat browser dan cuma bisa lewat app nya doang hiks miris yah heuheu sian nya aku.
Btw, adakah yg nungguin aku? iyadong pasti ada yah, yah? adain ajalah, masa udah lama gak nongol gada yg cariin. miris akutu hiks
Ada yg lupa alur? sok atuh di geser geser biar di baca ulang aja heuheuheu
Ini sebenernya bisa update juga faktor ketidaksengajaan saat coba coba pake app lain buat brosingan, ada pm dari author 10thprincewangeun. aku pengen bales tapikan yah gak bisa browsing. coba coba buka pake app lain. hamdalah rezeki anak shaleha polos rajin sedekah gak kemana heuheu /plakkk
Maap soal typo yah, gak sempet edit ini. heuheu dan gak bisa sebutin satu satu yang review di chp kemarin, entar yah abis chp ini heuheu
Adakah yg penasaran tentang ff ini? adain lah please, aku ngetik ini cape loh pake jempol heuheu /maksa
Berdoa aja yah, ff yg lain bakal aku update secepatnya, dan uh oh uh ada bocoran nih buat kalian yang baca ff ku H&H itu aku bakal update sequel nya loh, nantikan! /backsound dramatis heuheu
See yaaahhhh..
Review dong baby down down :")
