Coireachta Ceannas

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, story's idea © Ravarion Vaparte.

Rated : T

Warning : Alternative Universe, almost Out-Of-Character, unintelligible minor humor.

Genre : Crime / Suspense

Hoofdstuk : Vier / Verschijnen (Appear)

***

ENJOY

***

Sebuah alarm berbunyi riang di atas sebuah laci yang berada tepat di sisi tempat tidur one-person itu. Seseorang di atas kasur itu menggeram pelan lalu memasukkan seluruh badannya ke selimut putih tebal. Beruntunglah di kamarnya terpasang AC. Dan, alarm itu tetap berbunyi menunjukkan jam tujuh lebih dua puluh menit.

Uluran tangan menggapai alarm itu lalu melemparnya ke arah dinding di depannya dengan lemah. Alarm itu pun akhirnya terpecah-pecah bagiannya. Si pelempar alarm kembali mengeluarkan kepalanya yang ditutupi rambut hitam legam.

Sinar matahari menyerbu masuk melalui celah-celah gorden berwarna emas itu. Membiaskan cahayanya ke seluruh kamar bernuansa biru. Si pelempar alarm hanya menutupi kedua matanya dengan lengan kanannya. Dan, tiba-tiba ia membelalakkan kedua kelopak matanya. Memperlihat kedua bola mata berwarna hitam pekat bagai permata. Lalu setelah itu ia berlari menuju kamar mandi sambil berteriak, "Aku terlambat!!"

***

Sebuah dinding bercat putih menjadi latar belakang sebuah stereoform besar berwarna bitu tua yang menempel di dinding. Di atas stereoform itu terdapat beberapa foto yang di tancap dengan push pin yang di ikat benang wol berbagai warna, menghubungkan satu foto dengan foto lain.

Di dinding lain terdapat sebuah papan tulis spidol dengan bagan-bagan susunan organisasi kepolisian.

Di dalam ruangan itu terdapat satu meja panjang berwarna coklat dan enam buah kursi di sisi-sisi panjangnya serta satu kursi tunggal di sisi pendek meja itu, membelakangi stereoform besar itu.

Lima kursi telah terisi. Mereka menunggu sesuatu dengan wajah bosan dan wajah malas. Salah satu di antaranya malah meletakkan kepalanya di atas kedua lengannya yang ditelengkupkan.

"Dimana mereka?" tanya seseorang berambut panjang yang duduk di barisan depan sebelah kanan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Mata ungu mudanya memperhatikan keempat orang lainnya.

"Aku rasa... mereka masih di rumah," jawab seseorang berambut kuning cerah diikuti dengan gerakan menguap lebar di mulutnya sambil meregangkan kedua otot lengannya. Terlihat air mata menggenang di kelopak mata bawahnya karena menguap.

Hyuuga Neji –seseorang berambut panjang tadi, mendengus kesal. Di sebelahnya, pria berambut merah sedang membaca berkas-berkas tentang kasus baru mereka. Mata hijaunya bergerak dari kiri ke kanan berulang kali, terkadang terpaku pada suatu gambar dan mencermatinya. Ia adalah Sabaku no Gaara, salah seorang dokter forensik yang khusus di sediakan untuk kasus kali ini.

Waktu terasa lama sekali jika bosan. Detik bagaikan menit yang berdetik pelan. Beberapa orang bahkan telah memasuki alam lain dan Neji hampir ikut terbawa suasana jika tidak ada orang yang menginterupsinya.

"Neji, aku rasa senjata si pembunuh itu clurit. Karena luka tebasan dan bacokannya cukup tajam, dalam dan tipis," ujar Gaara sambil menunjukkan bagian punggung mayat yang di tebas berkali-kali dan sebuah luka bacok menganga di bawah tulang iga.

"Mungkin. Aku juga berpikir begitu. Tapi, mungkin juga senjatanya adalah..."

Suara pintu dan langkah kaki terdengar dari arah pintu. Tiga orang yang masih hidup dan sadar berpaling ke arah sumber suara. Dan detik itu juga, mereka melayangkan tatapan mengerikan ke arah kedua orang itu.

"Maaf, aku terlambat. Tadi di tengah jalan ada nenek yang..."

"Di tengah jalan, huh?" Naruto menginterupsi.

"Apa nenek itu tidak tertabrak?" tanya Gaara sarkastik.

"Atau kau yang menabraknya, Kakashi?" Neji menambahkan pertanyaan yang lebih tepat disebut pernyataan dan praduga.

Hatake Kakashi–orang yang mengaku-ngaku terlambat karena seorang nenek, hanya bisa tersenyum pasrah di balik masker hitamnya. Di belakangnya, seorang berambut hitam dengan bagian belakang mencuat ke arah belakang, terdiam menatap Naruto dengan intens yang dibalas Naruto dengan death glare.

Intens versus death glare.

"Wajah bodohmu masih tetap terpasang," kata pria berambut hitam itu dengan seringai aneh.

"Wajah menyebalkanmu masih tetap tertempel," balas Naruto pada pria itu tak kalah sarkastik.

Ketiga orang yang masih sadar itu hanya bisa memaklumi sikap kedua orang lainnya. Sudah biasa.

"Ah, Sasuke. Kau duduk saja, kita mulai rapat yang tertunda sebentar in..." kata Kakashi sambil berjalan menuju kursi tungga;.

"Rapat yang telat dua jam," Neji membenarkan kebenaran.

"Hm," balas Sasuke singkat.

Uchiha Sasuke, seorang psikolog terkenal. Bukan karena dia seorang psikolog, tapi karena dia seorang anggota keluarga mafia terbesar yang mempunyai sebuah perusahaan yang besar dengan jaringan yang besar dan serba besar lainnya. Seharusnya, ia menjadi salah seorang penerus perusahaan sukses itu, kalau saja ia tak mempunyai kakak.

Sasuke pun akhirnya duduk di sebelah Naruto, lalu menggeserkan kursinya lebih jauh.

"Heh! Biasa aja kali! Memangnya aku virus?!" bentak Naruto sambil menatap Sasuke dengan pandangan yang-sangat-sulit-di-deskripsikan-karena-terlalu-sulit.

"Ya. Kau bisa menyebarkan virus kelemotan dan kebodohanmu padaku," jawab Sasuke sambil mengeluarkan beberapa kertas.

Naruto menganga tak percaya.

Itukah yang dikatakan seorang teman SMA, yang dulunya partner-in-crime, yang dulunya seorang rival dan sahabat sekaligus? Naruto tak percaya.

"Kau... Kau..." kata Naruto sambil berdiri dan menunjuk-nunjuk Sasuke dengan telunjuk kirinya dan memasang wajah yang menyiratkan 'unbelievable'.

Sasuke mendelik tajam lalu berkata, "Apa? Aku memang manusia."

"Itukah yang kau katakan pada orang yang membencimu, eh menganggapmu rival! Betapa kejamnya kau!" Naruto berteriak-teriak seperti seorang penulis yang tiba-tiba karyanya tertumpahi kopi cappuchino panas dengan granule yang banyak.

"Memangnya kenapa? Sifat dramatismu tak pernah hilang ya? Dirimu sekali," balas Sasuke.

Ketiga orang yang tertidur tadi pun bangun karena teriakan Naruto yang terdengar sangat... dramatis.

"Kalian ini berisik sekali," kata Shikamaru yang paling pertama pergi menyelami indahnya alam mimpi.

Rock Lee, salah seorang anggota divisi Penyergap yang pimpinannya Maito Gai, juga ikut terbangun bersamaan dengan Hozuki Suigetsu–asisten Sasuke yang duluan datang daripada majikannya.

"Ah, sudahlah. Kalian ini ribut sekali. Kita mulai rapatnya," akhirnya seorang Gaara menghentikkan perbincangan tak biasa rekan-rekannya yang memang tak biasa dan tak bisa di sebut luar biasa itu.

"Baiklah. Seperti yang kalian tahu, kita akan menangani kasus pembunuhan. Kita mendapat laporan dari petugas jaga, seseorang menemukan mayat seorang wanita muda berumur kurang lebih dua puluh empat tahun berambut coklat sepunggung di bawah kolong jembatan di distrik pertokoan. Ciri-cirinya dan kondisinya bisa kalian lihat di berkas masing-masing. Gaara..." kata Kakashi membuka rapat yang terlambat itu. Gaara mengangguk.

"Menurutku, luka yang di buat di punggung korban ini di sebabkan senjata tajam seperti clurit atau pisau belati," Gaara menaikkan kacamata yang bertengger di depan matanya.

"Tapi, Komisaris. Ada luka lain di tengkuknya. Seperti memar karena di pukul oleh benda tumpul," kata Naruto pada Kakashi–yang berpangkat Komisaris Jenderal.

Komisaris Jenderal yang memimpin divisi Badan Reserse Kriminal. Divisi yang diperuntukkan melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap tindak kriminal dan juga melakukan kerja sama dengan laboratorium forensik*.

"Bukannya itu berarti si pelaku memakai dua buah senjata?" tanya Lee sambil menunjukkan kedua jarinya, jari tengah dan telunjuk.

"Tidak. Aku rasa tidak," jawab Gaara sambil menaruh kembali berkas laporan itu ke meja, lalu menatap Lee.

"Kenapa?" tanya Suigetsu dan Lee berbarengan dan menujukkan tanda-tanda antusiasme.

"Aku setuju dengan Gaara. Kalian tahu bentuk clurit. Seperti ini," Sasuke menunjukkan sebuah clurit dengan bagian tajam yang berwarna perak seperti baru di asah. Naruto segera menarik dirinya lebih jauh dari Sasuke dan menatap Sasuke dengan horor.

"Da... Dari mana kau mendapat benda itu, Sasuke?" tanya Naruto yang lagi-lagi menunjuk-nunjuk Sasuke dan clurit yang di pegang Sasuke bergantian.

"Aku membawanya karena pasti ada hubungannya dengan kasus kali ini," jawab Sasuke kalem seperi biasa.

"Bagian besi benda ini, bagian atas dan jelas-jelas bagian yang tajam. Sedangkan di bagian pegangannya yang biasanya terbuat dari kayu, bagian tumpul," Sasuke menjelaskan sambil menunjukkan kedua bagian benda tersebut. Gaara mengangguk sekali.

"Jadi, kronologinya begini. Si pelaku menyerang korban dari belakang, memukulnya dengan bagian bawah clurit, berkali-kali sampai membuat korban pingsan. Lihat di foto korban. Tanda memar yang berwarna biru keunguan di tengkuknya. Dalam satu wilayah yang berwarna ungu itu, ada beberapa titik yang lebih hitam, bukan? Jadi si pelaku memukul daerah itu berkali-kali. Setelah pingsan, Korban di seret menuju suatu tempat. Perhatikan bagian bawah celana jeans yang di pakai pelaku," kata Gaara sambil memperhatikan foto yang ada di berkasnya.

"Bagian bawah celananya... lebih kotor dan agak pudar," kata Suigetsu menginformasikan. Keenam orang lainnya mengangguk setuju.

"Lalu, si pelaku merobek kemeja putih korban dari depan dan membuatnya tubuh korban tertelungkup. Lalu mulai melakukan aksinya. Baru sampai sana aku menyelidikinya," kata Gaara mengakhiri hipotesanya sebagai seorang dokter forensik.

"Aku kurang setuju dengan hipotesamu, dokter," kata Sasuke sambil menatap mata hijau dokter itu.

"Kenapa?" tanya Kakashi yang bingung karena sedari tadi ia tidak terlalu menyimak apa yang di bicarakan para bawahannya itu.

"Entahlah. Firasatku sebagai psikolog berkata begitu. Tapi aku yakin ada yang salah dengan hipotesanya," jawab Sasuke.

"Aku sependapat dengan Sasuke. Ada yang kurang dari perkiraan Gaara. Kenapa akhir-akhir ini marak kasus seperti ini sih... Di kota lain juga terjadi hal serupa*," kata Shikamaru sambil memperhatikan dinding di depannya, dinding yang duduk di belakangi oleh Neji, Gaara dan Suigetsu. Peta negara Hi.*

"Baiklah. Aku rasa dengan rapat pertama ini, kita mulai penyelidikan dari hari ini. Bagaimana?" tawar Kakashi.

"Ya, aku setuju saja. Aku akan memulai pencarian dengan para bawahanku dari divisi Detektif," kata Naruto sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

"Aku akan memeriksa mayat korban lagi," Gaara membereskan berkas-berkasnya.

"Aku akan menghubungi divisi lain untuk membantu dan mengirimkan perwakilan," Neji, sang Kepala Kepolisian melipat tangannya di depan dada.

"Aku akan membantu dengan menyiapkan anggota dari divisi Penyergap, dengan semangat masa muda yang membara!!" seru Lee dengan semangat sambil menggebrak meja. Membuat berkas yang lain terjatuh ke lantai. Mengayun ke kanan-kiri lalu terjatuh menyentuh lantai dengan lembutnya. Yang lainnya hanya menatap Lee yang sedang berpose aneh; berdiri di atas kursi dan satu kaki di atas meja, tatapan yang menakutkan.

"Aku dan Suigetsu akan membantunya," kata Sasuke memutuskan secara sepihak sambil menunjuk Naruto dengan telunjuknya. Yang ditunjuk tempol hanya menatap Sasuke terkejut lalu memuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi batal karena, "Baiklah. Rapat ditutup. Laksanakan tugas kalian sebaik mungkin," Kakashi menutup rapat lalu pergi.

Keenam orang lainnya hanya berpikir, 'Datang terakhir, pulang paling awal. KomJen macam apa itu!?'

***

Shikamaru membawa mobil ferarri hitam miliknya ke jalanan padat kota penting itu. Di sebelahnya ada Naruto yang sedang mengutak-atik handphone barunya. Di kursi belakang, ada Sasuke yang sedang membaca buku bertema psikologi. Handbook of Psychology volume 2 karya James Mark Baldwin*.

Apartemen Sasuke yang ternyata tak begitu jauh dari apartemen Shikamaru, membuat Sasuke ikut saja dengan Shikamaru. Salahkan mobilnya yang tiba-tiba mogok tadi malam karena kakaknya–Uchiha Itachi, memakai mobil Sasuke seenaknya. Membuat mobil itu berakhir pada sebuah bengkel terkemuka, di luar kota.

Shikamaru berhenti di perempatan jalan yang penuh debu dan asap serta panas itu karena lampu merah. Tiba-tiba seorang anak menghampiri bagian depan kanan mobilnya membawa sebuah gitar kecil usang. Seorang pengamen.

Sebuah ingatan terbesit muncul di kepalanya. Kembali pada dua hari lalu, saat ia berhenti di tempat yang sama dan karena sebab yang sama di waktu yang berbeda. Seorang pengamen berambut coklat, yang entah kenapa mengingatkannya pada sepupu jauhnya di Ame, yang di beritakan hilang secara misterius. Mungkin kalau di kira-kira, umurnya sama. Mungkin dia sepupu jauhnya?

Shikamaru menghela nafas. Tak mungkin anak tujuh tahun dari Ame pergi ke Konoha yang berjarak lima ratus dua puluh kilometer*.

'Kenapa anak itu tidak kelihatan ya?' batin Shikamaru sambil mencari-cari anak itu dan hasilnya nihil. Ia menghela nafas lagi. Membuat Sasuke dan Naruto terganggu karena acara Shikamaru itu. Dan mengangkat bahu mereka berbarengan. Sudah biasa.

***

Einde Van Hoodfstuk Vier

***

Te Blijven

***

(Listen to: Lies – Big Bang)

(Word Count: 2.337 words)

*) Saia mengetahuinya langsung dari polisi yang ada di Polsek daerah saia. XD

*) Yang di maksud kota lain itu jadi begini; Ame, Suna, Kiri, Kumo dan desa lain di versi asli, saia buat jadi satu wilayah yang tergabung dalam satu negara bernama Hi.

*) Handbook of Psychology karya James Mark Baldwin. Berisi tentang materi-materi piskolog, dibuat tahun 1891 atau 1892 (maaf, saia lupa). Beliau adalah seorang profesor di Universitas Toronto.

*) Jarak 520 km itu jarak dari rumah saia di Cipanas ke rumah nenek dan sodara saia di Yogya. XD (I have no idea!!)

*) Coireachta Ceannas : Dominance Crime. Judulnya saia ganti. Saia tidak memikirkan apakah salah atau tidak penggunaan katanya. Yang penting keliatan keren. Kata di translate ke bahasa Irish. Bah! Bahkan saia tidak tau bangsa apa yang menggunakan bahasa Irish. XD

- Verschijnen : Appear / Kemunculan.

- Einde Van Hoodfstuk Vier: End of chapter four / akhir dari bagian empat.

- Te Blijven: To be continued / bersambung.

The words is from Dutch! Thanks Google Translator!!

Maaf kalau ada typo, apdetnya lama, chapter yang kesannya monoton, karena saia UTS yang entah kenapa buat saia stres karena tiap malem ga belajar. Dan lagi, nilai UTS itu nilai murni! Asli! Bagaimana dengan nilai fisika, kimia dan geografi saia yang amburadul itu?! Mati sajalah. DX

Soal rated, di fic ini rated-nya per chapter. Kalau content chapter-nya sesuai untuk T ya, T. Kalau M, ya M. Tapi untuk di halaman depan, saia pasang M, soalnya ada chapter yang cocoknya M. Mengerti kan, para pembaca? ^^

Ada yang sadar kah kalau pelaku pembunuhan ini lebih dari satu orang selain Kakuzu? Padahal tanda-tandanya jelas gitu lho, dari chapter sebelumnya malah. :D

Ada yang bisa nebak siapa pelaku pembunuhan yang disebut-sebut di chapter ini? Ada yang sadar pembunuh yang disebut di chapter ini punya ciri khas? Ada yang tau siapa nama korban yang ada di kasus tersebut? Ada yang nyadar kalau saia pake berbagai bahasa sampai chapter empat ini? Ada yan-- *di gampar* *Kebanyakan nanya!!*

Oke, saia buat chapter ini jadi enam halaman MW. Mein Gott!! Saia terlalu terbawa suasana. Maka dari itu, mulai chapter ini sampai ke depannya, maximal enam halaman aja ya.

**) –'Aka' no 'Shika'– : Iya, Kakuzu pelakunya. Ngga ada Shikamaru, tapi di chapter ini ada kan? Thanks for review, and keep review.

**) hanaruppi– : Ah, terima kasih atas pujiannya. Hohoho... Kalau soal penyebab Kakuzu jadi psikopat, mungkin nanti ya. Gore lagi? Entah ya, mungkin juga sih. Ini, udah apdet. Thanks for review, and keep review.

**) –dilabcd– : Yang bikin siapa ya? Saia tidak tau. *ngeliat kartu pelajar* Oh, saia. Nah, thanks for review and keep review.

**) –permisinumpangreview– : Sadis ya? Nanti saia bikin lebih sadis kalo gitu. *ga ada yang minta!* Thanks for your thumbs, thanks for review and keep review!!

Nah, mind to RnR, per favore?