MIGIKATA

Author : tiannunna

Cast : Jeon Wonwoo, Kim Mingyu

Other Cast : Kwon Soonyoung, Lee Jihoon, Yoon Junghan, Choi Seungcheol, Jeon Jungkook, Boo Seungkwan, Lee Seokmin, dan akan bertambah sesuai cerita

Rating : T (aman kok aman)

Genre : Romance, Drama

Disclaimer : Semua tokoh-tokoh yang tampan rupawan ini bukan milik saya. Saya Cuma author abal-abal yang minjem nama mereka untuk kepentingan pribadi. Tapi cerita ini murni dari otak saya.

Warning : YAOI, BOYSLOVE, OOC, AU, TYPO Bertebaran, DLDR

.

.

.

KRIIING

Sesosok pemuda yang beberapa menit lalu masih bergelung diselimutnya langsung membuka mata. Suara alarm yang memang disetelnya semalam berhasil menariknya dari alam mimpi. Dengan sigap disingkapnya selimut yang menemani tidurnya untuk menuju kamar mandi.

"Mingyu-ya…" Ny Kim membuka pintu kamar anak semata wayangnya. Niat awal untuk membangunkan puteranya yang tampan. Namun sepertinya alarm menggantikan tugasnya pagi ini. Ny Kim menyunggingkan senyumnya dan menutup kembali pintu tersebut. Memilih menunggu putera tampannya diruang makan untuk sarapan.

Mingyu selesai mandi dan memakai seragamnya. Mematut dirinya dicermin dan menyisir rambut seperlunya serta memakai sedikit gel rambut untuk menambah poin lebih pada rambutnya. Membenarkan seragamnya untuk memastikan kerapiannya.

"Siapa yang mampu menolak pesonamu ,Kim Mingyu?" Mingyu tersenyum miring menatap bayangannya dicermin. "Kau terlalu tampan " Setelah puas mengagumi wajahnya, Mingyu mengambil tas sekolahnya dan mengayunkan kaki menuju ruang makan.

"Pagi chagiya" Ny Kim tersenyum menatap anaknya yang sudah rapi menuruni tangga.

"Pagi eomma" Mingyu mencium pipi eommanya begitu sampai di meja makan. Senyuman sedari tadi masih bertengger dibibirnya.

"Bukankah ini masih terlalu pagi, Mingyu-ya? Kau mau berangkat bersama appa lagi?" Tn Kim menatap anaknya bingung. Seingatnya kemarin anaknya tersebut bilang bahwa hari ini Mingyu tidak perlu berangkat lebih awal untuk kegiatan orientasi murid baru. Lantas kenapa sepagi ini Mingyu sudah bangun bahkan sudah rapi dengan tas yang tersampir dipunggungnya.

"Tidak appa aku hanya terlalu bersemangat hari ini hehe" Mingyu memasukan potongan roti yang disiapkan eommanya ke mulut.

"Kau mau berangkat dengan Wonwoo hari ini?" Mingyu mengangguk menanggapi pertanyaan eommanya,sedangkan mulutnya masih terus mengunyah roti isi yang sekarang tinggal setengah. Wah kekuatan gigi Mingyu patut diacungi jempol.

"Pantas saja kau begitu semangat, ternyata itu alasannya" Ny Kim tersenyum menatap Mingyu sambil menuangkan susu ke gelas puteranya.

"Memangnya ada apa dengan Wonwoo?" Tn Kim menyesap teh hangatnya sambil menatap istrinya heran. Apa hubungannya Wonwoo dan Mingyu yang bangun pagi, pikirnya.

"Tanyakan saja pada puteramu yang tampan ini" Ny Kim mengacak rambut Mingyu gemas. Sedangkan Mingyu mempoutkan bibirnya.

"Eomma, rambut tampanku~ astaga aku butuh cermin" Mingyu menggerutu dan berlari menuju kamarnya. Tentu saja untuk menata kembali rambutnya yang tadi diacak sang eomma. Ny Kim hanya tersenyum lebar melihat tingkah anaknya.

"Tingkah Mingyu yang seperti tadi mengingatkanku ketika remaja dulu" Tn Kim yang sedari tadi juga memperhatikan Mingyu bergumam.

"Waktu remaja mana yang kau maksud,yeobo?" Ny Kim terkekeh menyahuti gumaman suaminya.

"Eomma, Appa aku berangkat sekarang" Mingyu turun dengan sedikit berlari dan menghampiri eomma dan appanya yang masih dimeja makan. Diambilnya segelas susu yang tadi dituangkan Ny Kim, dan dalam sekali teguk susu tersebut sudah ada didalam perut Mingyu semua. "Aku berangkat"

"Hati-hati dijalan chagi" dan perkataan Ny Kim tak terjawab oleh Mingyu karena puteranya sudah melesat keluar. Ny Kim menggelengkan kepalanya.

"Ah tingkah Mingyu persis seperti dulu ketika aku mengenalmu yeobo" Tn Kim sedari tadi terdiam ternyata tengah mengingat masa remajanya.

"Ketika mengenalku?" Ny Kim beranjak dan membereskan meja makan. "Jika maksudmu ketika jatuh cinta, itu benar sekali yeobo"

"Jadi Mingyu sedang jatuh cinta?" Tn Kim membeo ditempatnya. "Tapi dengan siapa?"

"Iya seperti itulah, lagipula memang sudah waktunya dia merasakan cinta. Kenapa bertanya? Kukira kau sudah tahu orangnya yeobo" Ny Kim terkekeh.

"Apa mungkin orang itu…."

.

.

.

"Wonwoo hyung….Wonwoo hyung…" dan disinilah sekarang Mingyu. Didalam kamar Wonwoo dan berusaha membangunkan pemuda emo tersebut. Sedangkan Wonwoo hanya menggeliat dan tidak bermaksud untuk membuka matanya. Mingyu terkekeh geli.

"Bagaimana Mingyu-ya?" Eomma Wonwoo masuk kedalam kamar putera sulungnya itu. Bukan apa, sejak beberapa menit yang lalu sejak Mingyu meminta izin membangunkan Wonwoo tapi putera kesayangannya itu belum juga menampakan batang hidungnya.

"Tidak berhasil ahjumma" Ny Jeon menggelangkan kepalanya.

"Haaaahh anak ini memang susah dibangunkan. Terpaksa aku harus menggunakan cara terakhir" Ny Kim tersenyum mengerikan. Mingyu yang melihat senyuman tersebut hanya bergidik ngeri. Tapi apa yang dilakukan Ny Jeon selanjutnya lebih membuatnya ngeri dan syok berat.

"Awwww eoomaa aduh" Wonwoo langsung beranjak dari tempat tidurnya. Diusapnya pantat yang menjadi sasaran eommanya tadi.

"Cepat mandi. Dan ajak Mingyu sarapan kebawah. Cepat" sekali lagi Ny Jeon menepuk pantat Wonwoo dengan keras.

"Iya Iya aku mandi" dengan langkah malas Wonwoo menyeret kakinya menuju kamar mandi.

"Lain kali kalau ingin membangunkan Wonwoo lakukan seperti yang aku lakukan tadi Mingyu-ya" Ny Jeon tersenyum kepada Mingyu dan beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan yang tertunda akibat membangunkan Wonwoo.

Mingyu masih terpaku ditempatnya. Adegan membangunkan Wonwoo tadi masih terlalu mengejutkan untuknya. Bukan terkejut akan sikap ganas Ny Jeon karena Mingyu sudah hapal dengan sifat eomma Wonwoo tersebut. Tapi pada adegan mencubit ehem-pantat-ehem Wonwoo. Dengan jelas Mingyu dapat melihat bongkahan kenyal milik Wonwoo ketika adegan vulgar tadi terjadi. Meski hanya sebentar tapi hal tersebut mampu membuat Mingyu syok dan berdebar. Mungkin ketika kecil Mingyu tak masalah melihat bagian itu, tapi entah sejak kapan dirinya menjadi panas ketika melihat bagian belakang Wonwoo. Dan sejak kapan pantat Wonwoo menjadi sekenyal itu? Apa daridulu memang sekenyal itu? Mingyu menggelengkan kepala menghilangkan pikiran aneh diotaknya.

"Yak Kim Mingyu! Kau masih disitu?" suara Wonwoo dari dalam kamar mandi menyadarkan Mingyu.

"N-Nde hyung ada apa?" Mingyu berusaha menetralkan suaranya agar tidak terdengar aneh.

"Tolong ambilkan handukku. Aku lupa membawanya" Mingyu mengedarkan matanya dan menemukan handuk Wonwoo di sudut ruangan.

"Hyung ini handuknya" Mingyu mengetuk pintu kamar mandi Wonwoo. Tak lama pintu terbuka sedikit dan kepala Wonwoo muncul dari celah pintu.

"Terimakasih" Wonwoo tersenyum dan menyambar handuknya. Setelah memakai handuk, Wonwoo melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dan berjalan menuju lemari.

"Eh kau masih disini Mingyu-ah? Kau tidak ada acara orientasi lagi?" Wonwoo mengambil seragamnya dari dalam lemari dan bersiap memakainya.

"Anu itu acaranya tidak sepagi biasanya hyung" Mingyu menjawab sambil mengedarkan pandangannya. Kemana saja, asalkan tidak kearah Wonwoo yang tanpa sungkan berganti pakaian padahal dirinya sedang berada disitu. Meskipun dalam posisi memunggungi Mingyu, tapi tetap saja punggung Wonwoo yang putih mulus itu tampak menggoda Mingyu.

"Oh baguslah aku jadi ada teman ke sekolah pagi ini" Wonwoo memakai atasan seragamnya. Dan ketika Wonwoo melepaskan handuknya untuk memakai celana, Mingyu dengan segera beranjak dan melesat keluar dari kamar Wonwoo.

"Loh kemana si hitam tadi?" Wonwoo baru menyadari bahwa Mingyu sudah tak berada dikamarnya lagi setelah selesai memakai celananya. "Wah cepat sekali"

.

.

.

"Aku berangkat sendiri dari sini hyung" Jungkook menghentikan langkahnya. Wonwoo yang sudah tahu kebiasaan adiknya tampak acuh dan meneruskan langkahnya.

"Eh kenapa disini? Sekolahmu pindah didaerah sini Kookie-ya?" Mingyu yang sedari tadi berjalan disamping Jungkook keheranan.

"Aniya hyung. Aku mau berangkat dengan temanku. Biasanya kami bertemu disini" Jungkook menjelaskan. Dan apa itu, Mingyu melihat wajah Jungkook agak bersemu ketika mengatakannya.

"Kim Mingyu ayo cepat. Atau kutinggal kau" Wonwoo menghentikan langkahnya dan memanggil Mingyu yang berada agak jauh dibelakangnya.

"Iya hyung sebentar. Baiklah, hyung duluan. Sampaikan salamku pada pacarmu ya" Mingyu mengerlingkan matanya kearah Jungkook. Jungkook terperangah dan membelalakan matanya. Bagaimana Mingyu tau kalau Jungkook menunggu pacarnya? Mungkin itu isi pikiran Jungkook. Mingyu terkekeh dan berlari menyusul Wonwoo.

Jungkook terpaku ditempatnya. Warna merah muda mulai merambat ke pipinya. Bagaimana ini, Jungkook sangat malu ketika Mingyu menyinggung pacarnya.

"Kookie…" Jungkook menolehkan kepalanya mendengar orang yang ditunggunya telah datang.

"Eh kenapa wajahmu? Kau demam?" orang tersebut memegang kening Jungkook. Dan hasilnya bukan warna merah muda yang menghiasi pipi Jungkook, melainkan warna merah tua yang menandakan sang pemilik tengah malu yang sangat malu. Pemuda disampingnya tersenyum.

"A-aniya hyung ayo berangkat" Jungkook menundukan wajahnya dan menarik tangan orang disampingnya.

"Ahahaha kenapa menundukan wajahmu? Padahal aku suka melihat wajah malu-malu Kookie" pemuda itu mengacak rambut Jungkook.

"TaeTae Hyung~ menyebalkan" Jungkook mencubit pemuda yang dipanggilnya TaeTae Hyung itu. Dan Taehyung hanya terkekeh melihat kekasihnya yang menggemaskan itu.

.

.

.

"Yak Jeon Wonwoo berhenti disitu!" Mingyu dan Wonwoo menghentikan langkahnya tepat didepan gerbang ketika suara Soonyoung menyapa gendang telinga mereka. Dari arah belakang tampak Soonyoung berjalan sendirian dengan beberapa kantung keresek ditangannya.

"Hyung aku duluan ke kelas. Nanti kita pulang bersama lagi. Jangan tinggalkan aku oke" Mingyu melangkahkan kakinya meninggalkan Wonwoo.

"Hei bantu aku membawa ini" Soonyoung tampak kesusahan membawa beberapa kantung yang entah berisi apa. Wonwoo hanya menaikan alisnya. Tanda tidak mau mungkin. "Ya gara-gara kau aku harus membawa ini sendirian tau" Soonyoung membalas tatapan Wonwoo.

"Kenapa karena aku?" Wonwoo tak habis pikir. Dirinya baru saja sampai disekolah dan Soonyoung sudah seenaknya menyalahkan dirinya.

"Karena kau pulang sendirian kemarin, semalaman aku harus membujuk Jihoonieku tau. Dan kenapa semalam kau tidak membaals pesanku" Soonyoung menceritakan kisah mengenaskannya.

"Aku pulang sendirian? Bukannya kau yang terlalu asyik bemesraan dengan Jihoon dan mengabaikanku" Wonwoo memasang wajah datar. "Semalam aku ketiduran dan ponselku baru kunyalakan tadi pagi" Wonwoo meninggalkan Soonyoung.

"Yak! Wonwoo-ah bantu aku membawa ini ,hei" Soonyoung berjalan tergopoh mengikuti Wonwoo.

"Tidak mau. Hitung-hitung itu poin balas dendamku karena kau tinggalkan kemarin" Wonwoo berjalan tak acuh meninggalkan Soonyoung dibelakang yang Nampak kesusahan.

"Yak jangan begitu Wonwoo-ah" tapi sayang Wonwoo tidak mau mendengar Soonyoung. "Astaga kenapa kesialan ini tidak juga berakhir" Ingin rasanya Soonyoung membanting kantung keresek yang dibawanya ini kelantai. Tapi niatnya diurungkan tatkala melihat Jihoon yang baru saja keluar dari kelas dan menghampirinya.

"Berikan padaku kalau kau keberatan" Jihoon mengulurkan tangannya.

"Eh tidak perlu baby, aku kuat kok. Lagipula hanya sampai ke kelas kan hehe tidak usah" Soonyoung menampilkan senyuman terbaiknya. Tak mungkin dia memberikan kantung itu ke Jihoon dan melihat kekasih imutnya itu kesusahan.

"Kau kelihatan kerepotan biar kubawa sedikit. Ini semua kan milikku" tanpa menunggu persetujuan Soonyoung, Jihoon mengambil beberapa kantung ditangan Soonyoung. Baru beberapa langkah berjalan, Jihoon menghentikan langkahnya dan menghampiri Soonyoung yang masih dibelakangnya. Soonyoung terdiam begitu melihat Jihoon mendekat. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan Jihoon lakukan padanya. Toh sudah biasa kan.

"Terimakasih Soonyoungie" Jihoon mengecup pipi Soonyoung sebentar dan berlari membawa kantung ditangannya ke kelas. Sedangkan soonyoung, dia masih terpaku ditempatnya.

"Itu tadi…" Soonyoung memegang pipinya yang baru saja dikecup Jihoon. Senyuman lebar langsung tersungging dibibirnya. Ini kejadian langka semenjak mereka berpacaran. Ditegapkan tubuhnya dan berjalan dengan semangat menuju kelas sambil bernyanyi tidak jelas. "Jihoonie baby aku mencintaimu~ sayangku kasihku Jihoonie~" semua kesialan Soonyoung sepertinya sudah terbayar hari ini. Moodnya menjadi berlipat-lipat lebih baik dari sebelumnya.

.

.

"Jihoonie baby ayo kita ke kantin" Soonyoung menopangkan dagunya memandangi Jihoon yang tengah sibuk membagikan buah jeruk yang dibawanya kepada teman sekelasnya.

"Iya iya sebentar lagi ini selesai" setelah semua temannya sudah menerima jeruk tersebut Jihoon menegakkan tubuhnya. Soonyoung pun juga ikut menegakkan tubuhnya. "Tapi aku harus mengantarkan jeruk ini ke kelas Junghan hyung"

"Ini waktunya istirahat baby, aku tidak mau kau sakit karena telat makan oke" Soonyoung menarik tangan Jihoon untuk segera ke kantin.

"Tapi bagaimana jeruk untuk Junghan hyung? Kita tidak bisa bertemu dengannya di kantin hari ini Soonyoung" Jihoon ingat jika Junghan mempunyai jadwal tambahan hari ini sehingga jam istirahatnya lebih awal dan pulang lebih petang. Tentu tidak ada kesempatan untuk bertemu denga Junghan hari ini.

"Kita titipkan saja kepada Wonwoo" Soonyoung memutuskan dengan seenaknya sendiri. Wonwoo hanya membelalakan matanya. "Tolong ya Wonwoo-ah, aku harus segera mengantarkan Jihoonie makan" belum sempat memprotes Wonwoo sudah ditinggalkan oleh sepasang kekasih itu.

"Aish dasar menyebalkan. Memangnya aku tidak butuh makan juga" mau tidak mau Wonwoo harus megantarkan jeruknya. Dia tidak siap mendengar omelan Soonyoung yang bahkan bisa mengalahkan omelan eommanya.

Wonwoo berjalan menuju ruang kelas Junghan. Sepanjang perjalanan Wonwoo, kelas-kelas tampak hening. Bukan karena tak berpenghuni, melainkan semua penghuninya yang terdiri dari kelas 3 nampak serius memperhatikan penjelasan guru didepan kelas. Begitu sampai didepan kelas Junghan, Wonwoo menghentikan langkahnya. Agak ragu untuk mengetuk pintu. Wonwoo tidak tahu apakah didalam sana sedang berjalan kegiatan belajar mengajar seperti kelas yang lainnya atu tidak. Ketika sudah memantapkan dirinya untuk mengetuk pintu tersebut, secara kebetulan pintu itu terbuka. Pelakunya adalah seorang pemuda yang sangat Wonwoo kenal.

"Eh? Kau siswa kelas 2 kan?" pemuda berambut hitam itu menatap Wonwoo. "Apa kau tersesat? Semua kelas disini untuk kelas 3 loh"

"T-Tidak sunbae…itu aku ingin bertemu dengan Junghan hyung eh Junghan sunbae maksudku" Wonwoo tergagap menjawab pertanyaan sunbaenya itu.

"Oh Junghan, dia sedang belajar didalam. Mau aku panggilkan?" pemuda itu masuk kembali kedalam kelas begitu Wonwoo menganggukan kepalanya dan menghampiri Junghan yang tengah sibuk dengan buku ditangannya. Ternyata kelas Junghan sedang tidak ada guru dan semua penghuninya tengah sibuk belajar sendiri. Itulah sibuknya jika sudah tingkat 3. Wonwoo mengamati pemuda yang tadi bertemu dengannya sedang berbicara dengan Junghan.

"Wonwoo-ah…" Junghan berjalan menghampiri Wonwoo. "Tumben sekali kau kesini. Ada apa?"

"Ini hyung aku disuruh Jihoon mengantarkan sesuatu untukmu" Wonwoo menyodorkan kantung yang ada ditangannya. "Nenek Jihoon yang dari Jeju kemarin datang berkunjung dan membawa oleh-oleh yang banyak"

"Waahh oleh-oleh ya?" pemuda yang bertemu dengan Wonwoo tadi tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Junghan.

"Iya oleh-oleh dan itu artinya kau tidak boleh minta Seungcheol" Junghan menjauhkan kantungnya ketika melihat gelagat teman sekelasnya yang sepertinya akan minta bagian dari oleh-olehnya.

"Jangan pelit begitu Junghan-ah" Seungcheol memajukan bibirnya. Wonwoo harus menahan napasnya melihat Seungcheol bertingkah begitu. Wonwoo tampaknya sangat mengagumi sunbaenya ini.

"Bilang kepada dia kalau kau ingin minta. Ini kan yang membawakan dirinya" Junghan menunjuk Wonwoo yang sedari tadi memperhatikan Seungcheol. Wonwoo terkejut ketika Seungcheol menatapnya tepat dimata. Jantungnya serasa mau rontok.

"Wonwoo-ya, aku boleh kan minta sedikit oleh-oleh untuk Junghan pelit itu?" Wonwoo membelalakan matanya ketika Seungcheol memegang tangannya dan menatapnya dengan tatapan mengiba. Dan sejak kapan Seungcheol tahu namanya?. "Boleh kan boleh kan?"

"B-Boleh sunbae. Lagipula itu juga bukan milikku" Wonwoo menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah yang menjalar dengan tidak sopannya di kedua pipinya.

"Yes" tanpa menunggu persetujuan Junghan lagi, Seungcheol langsung merebut kantung ditangan Junghan. "Wah jeruk! Pas sekali aku sedang kekurangan vitamin C" Seungcheol mengambil beberapa jeruk dan memakannya.

"Yak! Kembalikan. Kau mengambil terlalu banyak" Junghan memukul lengan Seungcheol. Tapi tampaknya Seungcheol tidak peduli dan tetap memakan jeruknya.

"Aku kan hanya membantumu menghabiskannya. Lagipula makan terlalu banyak jeruk tidak baik untukmu. Bukan begitu Wonwoo-ah?" Junghan mencebikkan bibirnya. "Lagipula kau bisa tambah gendut kalau makan terlalu banyak" Junghan membelalakan matanya. Dia sudah akan memukul Seungcheol sebelum pemuda tampan itu lebih dulu melarikan diri ke kelas.

"Seungcheol! Kesini kau biar aku urut usus diperutmu" Junghan mengejar Seungcheol kedalam kelas. Dan terjadilah adegan kejar mengejar ala India didalam kelas tersebut.

"Eh, Wonwoo-ah terimakasih jeruknya ya dan sampaikan terimakasihku pada Jihoon juga" Meskipun sedang emosi mengejar Seungcheol setidaknya Junghan masih sadar dengan keberadaan Wonwoo.

"Haha iya hyung" Wonwoo tertawa melihat bagaimana Seungcheol yang terus berusaha mengganggu Junghan yang emosinya tidak stabil itu.

Wonwoo melangkahkan kakinya meninggalkan kelas Junghan dan berjalan menuju kantin.

'Seungcheol sunbae tahu namaku. Seungcheol sunbae memegang tanganku' pikiran itu terus berdengung diotak Wonwoo. Dan itu mungkin penyebab dirinya tersenyum aneh sepanjang perjalanan dan menjadi perhatian murid lain yang sedang lewat.

.

.

"Jihoonie baby kenapa sayurnya selalu kau sisihkan sih. Sayur itu baik untukmu. Supaya kulitmu tidak terlihat pucat seperti mayat begini" Soonyoung kelabakan begitu melihat Jihoon tidak menyentuh samasekali sayur yang ada dipiringnya. Jihoon tidak peduli dan tetap melanjutkan makannya.

"Kau saja yang makan" tak disangka Jihoon malah menyumpitkan sayur dipiringnya kedepan mulut Soonyoung.

"Eh?" Soonyoung masih menatap tangan Jihoon yang terulur kearahnya. Jihoonienya sedang menatapnya dengan tatapan yang arghhh menurut Soonyoung minta diculik

"Aku tidak mau sayurnya. Makan sayurnya untukku Soonyoungie" Jihoon mengedipkan matanya dua kali. Meskipun dengan wajah datar ala-ala Jihoon tapi hal itu tidak mengurangi kadar keimutannya.

"Baiklah baiklah akan aku makan semuanya asalkan disuapi Jihoonie baby" Soonyoung menerima suapan Jihoon dan tersenyum lebar hingga matanya hilang. Jihoon hanya tertawa geli dan melanjutkan suapannya ke Soonyoung.

"Seungkwan-ah kau benar tidak ingin pindah tempat? Aku agak sedih disini" eh, ternyata ada makhluk lain yang duduk dimeja SoonHoon yang entah sudah berapa lama terabaikan.

"Jangan bicara denganku. Bicara dengan Mingyu sana" Seungkwan tetap melanjutkan makannya tanpa mempedulikan aura lovey dovey yang menguar dengan deras disampingnya.

"Sudahlah Seokmin. Lagipula kau mau pindah kemana lagi? Tempat lain juga penuh" Mingyu akhirnya menyahuti Seokmin yang sedari tadi mengeluh.

"Kemana saja asalkan tidak ada dua makhluk beda alam yang bermesraan" Seokmin menundukan kepalanya begitu Soonyoung menatapnya dengan tajam. "Ehem lagipula Wonwoo sunbae juga tidak ada disini" Seokmin berdehem menetralkan suaranya.

"Selamat siang semuanya hoho" panjang umur Jeon Wonwoo. Baru saja Seokmin menyebut namanya dan orangnya sudah ada disini.

"Hyung kau darimana saja? Kau sudah makan? Sebentar lagi bel masuk hyung" Mingyu langsung menyerang Wonwoo dengan pertanyaan dan menarik pemuda emo itu untuk duduk disebelahnya.

"Oh, Mingyu! Tetanggaku yang tampan" Wonwoo tersenyum aneh sambil menepuk pipi Mingyu. "Aku belum makan tapi entah kenapa aku sudah kenyang hehe" Mingyu mengeryit heran melihat sikap Wonwoo yang lebih aneh dari biasanya.

"Ini makan saja makananku hyung" Mingyu menyuapkan makanannya kemulut Wonwoo. Dan Wonwoo yang memang lapar tidak menolaknya samasekali.

"Woaahh! Ini makanan terlezat sedunia" Wonwoo memejamkan matanya menikmati makanan dimulutnya. "Suapi aku lagi Mingyu-ya~" Mingyu terus menyuapi Wonwoo meskipun dia merasa agak aneh dan takut dengan sikap Wonwoo sekarang.

"Ini benar Wonwoo sunbae?" Seungkwan menatap Wonwoo aneh. Tapi dia langsung melanjutkan makannya begitu Wonwoo menatapnya tajam.

"Hei Seungkwan!" Seungkwan menegakan tubuhnya begitu mendengar Wonwoo memanggilnya. "Kau juga tahu namaku ya? Ah kenapa semua orang tahu namaku~ ternyata aku begitu terkenal haha. Mingyu, aaa lagi lagi" semua yang ada dimeja tersebut langsung sweatdrop melihat kelakuan Wonwoo.

"Kurasa Wonwoo terkena sesuatu sebelum kesini" Soonyoung menyuarakan pendapatnya.

"Mungkin dia stress dengan tugas Hwang seonsaengnim" Jihoon menimpali lagi.

"Wonwoo sunbae mungkin kerasukan makhluk astral dari kelasnya! Kudengar orang beda alam berpacaran akan menimbulkan efek berbahaya. Dan Wonwoo sunbae yang terkena dampaknya. Wah menakutkan!" Seokmin dengan heboh menunjuk Soonyoung dan Jihoon bergantian.

"Hei,nak. Tutup mulutmu sebelum aku menggigit lehermu hingga putus" Jihoon menatap Seokmin datar. Seokmin yang sadar dengan aura berbahaya langsung mengalihkan pandangannya.

"Andwae! Kau hanya boleh menggigitku Jihoonie baby!" gantian Soonyoung yang heboh. Dan Jihoon lebih baik diam dan mengabaikan kekasihnya yang tampaknya juga kerasukan sesuatu itu. Kapan ada orang normal disekitarku Tuhan, batin Jihoon.

"Wonwoo hyung kau tidak apa-apa?" Mingyu menyentuh kening Wonwoo. Tapi tampaknya tidak ada yang salah.

"Aku baik-baik saja. Kalian ini kenapa?" Wonwoo menatap teman-temannya datar. Sepertinya Jeon wonwoo sudah sadar permisi Wonwoo mengambil jus jeruk yang ada disampingnya dan meminumnya.

"Punya siapa ini?" Wonwoo menatap semua yang ada dimeja itu dengan tajam.

"Itu milikku hyung" Mingyu menyahutinya "Kenapa?"

"Ini rasanya seperti jeruk ya hehe" oke ralat, sepertinya belum kembali. Jeon Wonwoo masih gila.

"Hyung itu memang jus jeruk" Mingyu menatap datar Wonwoo.

"Ah Mingyu tetanggaku yang tampan tahu saja aku sedang suka jeruk" Wonwoo mencubit pipi Mingyu gemas. "Semuanya ini namanya jus jeruk. Jus jeruk!" Wonwoo mengangkat jus jeruk tinggi-tinggi hingga semua orang dikantin menatapnya aneh. Kemudian dengan polos meminumnya kembali.

"Seokmin aku sudah selesai ayo kita pergi" Seungkwan yang semakin merasakan keanehan dimeja itu berinisiatif untuk pergi.

"Oke, aku agak takut lama-lama disini" Sepertinya bukan hanya takut ,Seokmin. Tapi lebih ke malu. Lebih baik pergi kan?

"Ayo Jihoonie baby kita ke kelas. Untuk sementara jangan dekat-dekat dengan Wonwoo dulu" Soonyoung menarik tangan Jihoon untuk beranjak. Dan kali ini Jihoon hanya menurut.

Kini hanya tinggal Mingyu dan Wonwoo yang masih duduk dengan tenang. Sebenarnya Mingyu agak khawatir dengan keadaan Wonwoo.

"Wonwoo hyung?" Mingyu mencoba memanggil Wonwoo yang masih asyik dengan Jus jeruk ditangannya. Wonwoo menatap Mingyu dan mengedipkan matanya berkali-kali.

"Ayo aku antarkan ke ruang kesehatan hyung"

Sepertinya Wonwoo memang butuh istirahat untuk memulihkan jiwanya.

.

.

.

To be continue…

Huahh akhirnyaaaa… Hehe maaf nih ngepost barang gaje lagi. Author aja bingung sama isinya wkwk. Chapter depan diusahain lebih baik deh dan apdet cepet. Jujur gue aja kecewa ame chap ini hoho

Ayang Seungcheol dikit aja bagiannya kasian dia cape ngapalin dialog panjang-panjang.

Eh btw MV Q&A ayang Seungcheol cakep ya. Vernon juga ya ampun. Woozi kiyuttt ga ketulungan. Ohiya author lagi bingung mau masukkin VERKWAN apa SEOKSOL nih. Dua-duanya author suka soalnya.

Sekali lagi maaf atas ketidakpuasannya/? ya dan maaf reviewnya belom dibales yak.

Akhir kata, review juseyooo