Langit telah kelabu. Meninggalkan sesayat luka yang mendalam. Perih menjalar merasuk sukma, kala tangisan langit itu datang menghujam raga. Yang tersisa hanya angan yang membalut luka tertorehkan. Jeritan pilu dan amarah kini menjalar merasuk indra pendengaran manusia. Genangan darah berada dimana-mana. Membalut tubuh mungil sesosok gadis kecil yang sedang memandangi sekelilingnya dengan tatapan tak percaya.
Tubuhnya terasa perih dengan luka sayatan yang terlukis indah ditubuhnya. Jeritan keputus-asaan itu keluar dari bibirnya. Merasa tidak kuat dengan guratan-guratan takdir yang mengoyak hatinya. Entah sudah berapa tetes kristal bening yang meluncur indah dari mata teduhnya, ia tak peduli jika harus menangis darah sekalipun. Ia berlari meninggalkan onggokan daging yang sudah tak bernyawa lagi. Gelimangan mayat-mayat itu seolah menguburnya dalam asa yang begitu mengoyak hatinya. Ia berlari, dan terus berlari hingga kakinya tak sanggup menopang berat badannya lagi. Ia terjatuh. Di tengah hutan belantara. Tak ada siapapun. Sunyi senyap. Lembayung senja itu telah terlukis indah disertai koakan burung-burung. Perlahan-lahan, semuanya berangsur-angsur menggelap. Ia telah kehilangan kesadarannya.
.
.
Naruto and All Characters belongs to Masashi Kishimoto
Story and Plot belongs to Me
.
.
CONCUBINE
.
Chapter 3 : Complicated
.
Fiksi ini jauh dari kata bagus apalagi sempurna. Kritik, saran, dan pendapat diterima dengan senang hati :)
-oOo-
Sakura terbangun dari tidurnya. Peluh menyiram tubuhnya bagaikan ia telah lari beratus-ratus mil jauhnya. Napasnya memburu, dadanya seolah dicengkram dengan kuat. Fajar belum menyingsing saat ia terbangun. Kepalanya mendadak pening.
Sasuke yang merasakan pergerakan Sakura, ikut terbangun. Ia menatap Sakura dengan salah satu alis terangkat, sedikit terkejut melihat Sakura yang kini bergerak gelisah –seolah wanita itu tengah diburu untuk dibunuh. Ia ikut bangkit, dengan lembut mengarahkan Sakura untuk menatap wajahnya. Ia seka peluh yang menetes dari pelipis wanita itu, juga menyampirkan helai-helai yang menutupi wajah manis wanitanya ke belakang telinga.
"Ada apa Sakura?" Tanyanya.
Sakura menggeleng pelan. Tapi matanya masih membulat, penuh ketidakpercayaan. Untaian-untaian mimpinya tadi terasa begitu nyata. Dengan dirinya dalam versi kecil yang membuatnya yakin bahwa mimpi itu pernah terjadi pada dirinya. Tapi kapan? Bukankah ia seorang anak dari kaum budak yang tinggal di hutan –sebelum diselamatkan ayah Sasuke? Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?
Seberat apapun ia memaksa, memori otaknya tak pernah mengingat hal seburuk itu. Sakura menggigit bibir bawahnya pelan. Itu hanya mimpi. Ya, pasti hanya mimpi. Namun kenapa semuanya seolah berbekas dalam hatinya? Seperti kenangan yang selalu terukir, dan tersimpan rapat dalam hatinya. Apa? Apa sebenarnya? Kenapa ia menjadi amat sangat gelisah dan ketakutan seperti ini?
"Kau kenapa Sakura?" Karena tak kunjung menjawab, Sasuke kembali bertanya. Ia memandang khawatir wanita yang kini terpaku dalam pemikirannya sendiri.
Sakura tersentak mendengar perkataan Sasuke. Mata hijaunya kini menyelam ke dalam lautan gelap tak berdasar milik rajanya. Di sana, ada setitik kekhawatiran yang berkilat dengan samar. Sakura memeluk Sasuke, terasa lengket akibat peluh yang menyelimuti tubuh mereka. Ia menggeleng dalam lipatan leher Sasuke, menghirup aroma maskulin yang terasa begitu kuat dari tubuh lelaki tampan itu.
"Aku… mimpi buruk," ucapnya pelan. "Genangan darah… mayat-mayat… semuanya menakutkan, Sasu. Semuanya terasa sangat nyata. Aku… takut."
Tubuh wanita itu bergetar, kolam teduhnya digenangi air mata. Ia tak mengerti dengan reaksi tubuhnya sendiri. Tapi, yang diinginkannya sekarang hanyalah menangis dalam pelukan Sasuke. Juga, berada dalam dekapan hangat lelaki itu.
Sasuke hanya bisa mengelus punggung wanita itu. Jujur, ia tak tahu mimpi apa yang bisa membuat wanitanya menangis. Melihat Sakura menangis adalah hal terkahir yang ingin dilakukannya di muka bumi. Dieratkan pelukannya terhadap Sakura.
"Semua itu hanya mimpi, Sakura," katanya. Kemudian, ia melepaskan pelukannya dan mengangkat dagu Sakura. Disekanya air mata yang menggantung di pelupuk mata wanita itu. Ia tersenyum tipis, mengecup bibir wanita itu dengan penuh kelembutan. Berharap kegundahan wanita itu sirna dengan setiap perlakuan lembutnya.
Perlahan-lahan, Sakura mulai tenang. Wanita itu kemudian tertidur dalam dekapan Sasuke.
.
.
Bulan masih dengan kokohnya menguasai langit malam. Hawa rendah mengecupi kulit Hyuuga Neji, namun tak membuatnya menutup pintu jendela untuk beranjak tidur. Indra penciumannya dimanja oleh bau tanah khas sehabis hujan senja tadi. Semuanya terasa aneh baginya. Membuat kepalanya terus berdentang memikirkan hal-hal yang jauh terkubur dalam ingatannya terdalamnya.
Ia ingat, saat pertama kali menginjak istana ini, ia sempat merasa terpesona dengan sosok Haruno Sakura yang begitu indah dengan segala kebaikan hatinya. Tapi, rasa itu sirna saat ia tahu bahwa wanita bermata teduh itu menyimpan rahasia yang memacu rasa bencinya hingga ke titik tertinggi. Entah kenapa, ia… merasa terkhianati.
Neji mendesah, memandang purnama yang seolah mengejeknya. Apa yang kini ia rasakan? Semuanya terasa kosong, hampa. Pikirannya mendadak mati. Kami-sama, kenapa ini? Kenapa dalam lamuannya kini terbayang sosok Sakura yang menangis sambil tersenyum? Dan mengapa hal itu membuat hatinya berdenyut sakit?
Benarkah ia menbenci Sakura? Jika ia memang benar-benar membenci wanita itu, lantas mengapa ia merasa sakit saat permata hijau itu menyiratkan keperihan yang amat mendalam? Ia seperti tahu beban berat yang dipikul wanita itu.
Tak pernah Neji merasakan emosi serumit ini. Di satu sisi, ia yakin, ia mencintai adiknya lebih dari apapun. Namun, di sisi lain, di sudut paling terdasar hatinya, ada setitik egoisme untuk menyangkal rasanya kepada Hinata. Jadi, apa yang sebenarnya ia rasakan pada sosok Hinata? Apa benar cinta? Bukan rasa sayang kepada adik? Atau malah, ia hanya mengharapkan sosok Hinata yang selalu bersikap lembut padanya –seperti sosok ibu yang tak pernah lagi Hyuuga Neji rasakan?
"Arrggh!" Neji menggeram. Semua ini membuatnya pening. Ia benci situasi ini. Ia benci saat ia diperdaya oleh hatinya. Tidak, ia yakin rasa cintanya ada pada Hinata. Dan ia amat sangat membenci Sakura. Tak pernah sekalipun dia merasakan kagum, terpesona, cinta, atau apalah itu pada sosok Sakura. Ya, itu yang bisa ia simpulkan.
Tapi… benarkah semua itu? Atau… Neji hanya ingin lari dari perasaannya saja…?
.
.
Uchiha Hinata terpekur dalam asa yang menggelayutinya. Kristal-kristal bening itu meluruh dari mata indahnya. Tak pernah ia merasa sesakit ini.
Mengapa Tuhan? Mengapa?
Ia berani bersumpah jika ia benar-benar mencintai Sasuke dengan tulus. Sekalipun lelaki itu tak mencintainya. Semua ini membuatnya bersedih hati. Bahkan lelaki itu tak pernah mau mencumbunya. Berbicara dengannya pun, hanya seperlunya saja.
Apa yang ia lihat baru-baru ini membuat rasa sakit hatinya berlipat ganda. Ia tahu, tak sekalipun Sasuke mencintainya. Tapi mengapa ia harus memiliki wanita lain? Hinata sadar, dia hanyalah seorang puteri kerajaan yang lemah dan manja. Hanya karena keberuntunganlah, ia bisa bersanding di samping Sasuke. Dan ia tak bisa protes apa-apa pada Sasuke. Sejak pertama kali, dirinyalah yang memaksa untuk dijodohkan. Sambil berpikir bahwa mungkin, Sasuke akan mencintainya seiring dengan pernikahan mereka. Tapi kini, ia sadar. Ia terlalu naïf.
Tapi, apa mau dikata. Ia tak dapat berbuat apapun. Hinata memeluk dirinya sendiri. Mencoba menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin, meski tak lebih dingin dari hatinya. Ia terduduk sendirian lagi kali ini. Sasuke pergi entah kemana saat ia berpura-pura memejamkan matanya.
Kami-sama, Hinata kini membenci dirinya sendiri. Ia telah merenggut kebahagiaan Sasuke dengan mengekangnya dalam ikatan pernikahan semu mereka. Tapi, ia juga tak mau munafik bahwa ia ingin memiliki Sasuke untuk dirinya sendiri. Sekarang, ia terjebak pada fase terumit dalam hidupnya.
Hinata mendesah, kemudian menyeka air matanya sebelum bergulung dengan selimut. Sekali lagi, ia jatuh tertidur dalam kesendirian dan emosi yang berkecamuk.
.
.
"…-san! …Ra-san! Sakura-san!"
Sakura tersentak akibat panggilan Kabuto. Dia tersenyum kikuk karena ketahuan melamun saat sedang mengoleskan ramuan di sekujur luka Kabuto yang semakin hari semakin membaik. Ia dengan cekatan mengoleskan tumbukan daun-daunan dan akar-akaran yang telah ia racik sedemikian rupa agar berkhasiat sempurna. Setelah selesai, ia membebatkan kain putih panjang sebagai perban.
Sakura sebenarnya tak terbiasa melamun. Tapi, mimpinya semalam masih tergambar dengan jelas dalam ingatannya. Namun, ia berusaha mengahalaunya. Mungkin itu hanyalah mimpi. Ya, pasti itu hanya mimpi buruk biasa.
"Arigatō, Sakura-san," kata Kabuto sambil tersenyum. Matanya terlihat menyipit dibalik kacamata bulatnya.
"Iya, sama-sama," jawab Sakura sambil tersenyum. "Anoo… Apa kau tak ingat apapun lagi selain namamu?"
Kabuto tampak terhenyak. Sedetik kemudian, ia menggeleng pelan. "Aku tak ingat. Tapi, ada satu hal yang terus menggangguku. Aku sering merasa bahwa aku membenci seseorang. Begitu bencinya sampai rasanya dadaku mau pecah. Kau tahu ini kenapa?"
Sakura berpikir cepat. Kenapa? Apa karena rasa benci itu sudah mendarah daging dalam tubuh Kabuto sehingga mempengaruhi memori otaknya? Sakura menggeleng. Sekalipun pemikirannya benar, ia tak boleh membiarkan kebencian itu ada dalam diri seseorang. Karena ia tahu, kebencian bukanlah hal baik. Dan hal sepele seperti itu, bisa memicu dendam yang terus berlanjut.
"Aku tidak terlalu mengerti. Tapi, yang kutahu, kebencian itu tidak baik. Aku tahu, mungkin ini sulit, tapi cobalah untuk memaafkan. Sedikit demi sedikit, hingga rasa itu menghilang. Jangan persulit dirimu dengan dendam kebencian. Bukalah pintu maafmu, niscaya kau akan lebih merasa tenang dan bahagia."
Sakura pergi dari sana setelah melemparkan senyum. Kabuto terpaku. Kata-kata itu terngiang dengan jelas dalam kepalanya. Entah mengapa, jantungnya berdetak dengan cepat. Menggema dengan jelas di telinganya. Kenapa ini? Apa yang salah pada tubuhnya?
Memaafkan katanya? Mengapa harus semudah itu? Ia sudah jauh-jauh datang kemari, melukai tubuhnya sendiri untuk menyukseskan penyamarannya, dan ia bilang buka pintu maafmu? Tidak, ia yakin tidak semudah itu. Rasa bencinya pada Uchiha telah mendorongnya hingga seperti ini.
Tapi, bukankah perkataan Sakura ada benarnya? Lagipula, ia sudah lelah dengan semua ini. Bukankah dengan memaafkan semuanya akan berakhir indah? Tanpa ada kekalahan ataupun kesengsaraan dan dendam-dendam lainnya? Namun, apa yang ia lakukan ini bukan hanya untuk dendamnya semata. Melainkan dendam seluruh keluarganya. Dendam kerajaannya. Dan ia akan menuntaskan sampai akhir.
.
.
Sakura tersenyum melihat tingkah Uzumaki Naruto yang kekanak-kanakan. Pria berambut pirang itu meringis dan mengaduh saat ia mengobati luka-lukanya. Tak ayal Naruto menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya saat rasa perih tertangkap indra perabanya. Tetapi, matanya menyinarkan kelembutan saat melihat Sakura tersenyum atau sesekali tertawa.
Naruto menyukai saat-saat seperti ini. Saat-saat dimana ia bisa melihat Sakura tersenyum karenanya. Bahkan, ia rela menyiksa dirinya sendiri asal bisa melihat Sakura menyunggingkan bibirnya. Ia juga menyukai saat-saat dimana jantungnya berdegup dengan cepat, atau wajahnya yang memanas karena Sakura. Sensasi yang selalu ia sukai selain saat memenangkan perang.
Sakura yang sadar diperhatikan hanya bisa menunduk. Wajahnya sedikit memerah karena malu. Bukan berarti ia menyukai Naruto, melainkan pesona lelaki itu yang kharismatik. Jemari lentiknya memainkan ujung lengan kimono merah yang dikenakannya –sekedar mengalihkan perhatian dari lelaki itu.
"Kenapa kau memerhatikanku terus?" Tanya Sakura tanpa mengalihkan pandang dari ujung lengan kimononya.
"Karena aku senang melihatmu tersenyum." Naruto tanpa sadar menjawab. "Kau semakin cantik dan aku jadi semakin menyukaimu."
"Hah?"
Naruto tersadar akan ucapannya. Wajahnya memerah sempurna. Segera ia berlari meninggalkan Sakura yang masih terkejut.
.
.
"… aku jadi semakin menyukaimu."
Langkah Sasuke terhenti saat mendengar kalimat itu. Ia tahu benar suara siapa itu. Suara yang kekanakan meski terkesan dalam itu adalah suara Uzumaki Naruto, panglima perang kepercayaannya. Tangannya yang semula ingin menggeser pintu ruangan pengobatan kerajaannya terhenti di udara.
Jantungnya kini berdegup cepat. Tangannya terkepal. Ia tak suka. Tak suka pernyataan itu terlontar. Ia tak mau Sakura jadi milik orang lain. Ia tak akan pernah mau dan tak akan pernah merelakannya. Amarah membuncah dalam dadanya. Semula, ia hanya ingin menemui Naruto yang katanya ada di ruang pengobatan untuk membicarakan soal pengetatan penjagaan wilayah kerajaan. Tapi, ia malah disuguhi hal yang paling dibencinya.
Sasuke memundurkan langkahnya dan menyingkir saat mendengar gema langkah Naruto. Setelah pria itu pergi, ia segera masuk ke dalam ruangan itu dan menyentakkan tubuh Sakura.
"Sas-Sasu-"
Perkataan Sakura terputus saat Sasuke langsung menciumnya dengan ganas. Lelaki tampan itu langsung menginvansi mulut Sakura, mendominasinya dengan liar. Ia menumpahkan kekesalannya di sana, juga ingin mengklaim Sakura bahwa wanita itu, hanya miliknya seorang.
"Kau milikku, Sakura! Milikku!" Geramnya dengan penuh penekanan.
"Wakatta."
Sakura tak bisa melawan. Sejak awal, ia tahu Sasuke telah mengklaim bahwa ia adalah miliknya. Dan ia tahu, Sasuke cemburu karena, ia yakin, Sasuke mendengar pernyataan Naruto. Dan kalau boleh jujur, Sakura sedikit merasa senang atas rasa cemburu Sasuke.
.
.
Naruto melihatnya. Melihat semuanya. Ia yang semula ingin kembali ke ruang pengobatan karena kantung senjatanya tertinggal, hanya bisa terdiam di pintu yang telah ia geser. Dan ia disuguhi pemandangan Sasuke yang mencium Sakura tepat di hadapan matanya. Rasanya dunia miliknya serasa runtuh. Hancur berkeping-keping.
Apalagi, saat Sakura mengamini perkataan Sasuke yang begitu menuntut –perkataan bahwa Sakura hanya milik Sasuke seorang. Hatinya berdenyut sakit. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang ia bersikap. Ia juga benci kenyataan bahwa Sasuke adalah seorang raja yang bisa mendapatkan segala keinginannya. Bahkan menyingkirkan fakta bahwa Sasuke telah beristri. Ia benci ini.
Mengapa Kami-sama? Ia benar-benar mencintai Sakura. Kenapa wanita itu terikat pada lelaki yang sudah beristri? Mengapa? Mengapa tak kau buat Sakura menjadi milik Naruto saja?
.
.
Hiruk-pikuk sebuah kedai minum begitu terasa hingga keluar kedai itu. Musim semi yang masih terasa dingin membuat kedai minum itu menjadi lebih ramai oleh orang-orang yang ingin menghangatkan tubuh dengan minum sake, ataupun bersenang-senang dengan geisha-geisha yang ada di kedai itu.
Sesosok lelaki dengan rambut putih panjangnya tampak tertawa terbahak-bahak di sudut ruangan. Ia ditemani oleh para geisha yang bahkan ada yang sudah melorotkan sebelah lengan kimono yang mereka kenakan. Di tangan kiri lelaki itu menggenggam sebotol sake. Tampak ia telah mabuk berat –terlihat dari wajahnya yang sudah sangat memerah.
"Maaf, Tuan. Anda telah mabuk berat."
Salah satu pelayan kedai itu mengingatkan. Yang malah dipandang dengan tatapan meremehkan oleh lelaki itu. Pelayan itu hanya mendengus, terbiasa dengan pelanggan-pelanggannya yang begitu menyebalkan.
"Taka-kun!" Beberapa geisha menjeritkan nama sang pelayan. Memang, pelayan yang satu itu begitu tampan dan memesona, tak ayal banyak geisha atau malah pelanggan yang bersedia untuk ditidurinya secara cuma-cuma.
"Baiklah, Sayang, kalian boleh pergi dulu." Lelaki berambut perak itu berkata, sambil mengusir geisha-geisha nakal yang menggelayutinya. "Aku ada urusan dengan Taka-kun."
Lelaki yang dipanggil Taka itu mengernyit. Menaikkan satu alisnya pertanda bingung dengan ucapan lelaki tua yang memang kelihatan bangsawan itu. Setelah para geisha pergi, lelaki itu langsung terlihat serius. Ia memandang Taka dengan tatapan merendahkan.
"Jadi, ini samaranmu, eh?" Lelaki itu memulai pembicaraan sambil meneguk sake yang masih dalam genggamannya. Sedikit sake menetes dan teresap di bagian dada kimono hijau tua yang dikenakannya. "Tak kusangka kau begitu payah, Uchiha Itachi."
Mata Taka, atau lebih tepatnya Uchiha Itachi melebar. Ia tak menyangka ada yang mengenalinya di kedai minum pinggiran yang letaknya beribu-ribu kilometer dari kerajaannya. Daerah tempatnya bersembunyi ini adalah daerah bebas, atau bisa disebut daerah tak berpemilik. Maksudnya, daerah ini tidak dimiliki oleh kerajaan manapun dan memang dibiarkan seperti ini. Daerah ini jugalah tempat para penyamun, perampok, dan segala orang-orang minor berkumpul.
"K-kau…"
"Tak kusangka kau melupakanku, Itachi." Lelaki itu berkata tenang. "Yah, lagipula kau sendiri yang memutuskan mundur dari jabatanmu. Apa kau tidak kasihan dengan adikmu yang manis itu, hm?"
"Apa yang kau lakukan pada Sasuke?!" Tanpa sadar, Iatchi sudah berteriak. Ia tak bisa membiarkan seseorang menyentuh adiknya yang berusaha ia lindungi dengan sekuat tenaga.
"Aku tak melakukan apapun padanya, kok. Kau tenang saja." Lelaki itu menimpali. "Aku hanya mengirimkan mata-mata untuk memantau apa saja yang adikmu lakukan. Dan sebuah informasi untukmu, aku akan melakukan penyerangan besar-besaran pada kerajaanmu."
Lelaki itu menggeram, menunjukkan amarah yang terselip. Amarah yang begitu pandai ia sembunyikan dari rakyat-rakyatnya.
"Kami tak akan pernah bisa diam akibat kelancangan Kerajaan Konoha yang mengusik kerajaan kami duapuluh tahun silam. Apalagi, berkat perang itu, dia mati! Dendam itu tak akan pernah bisa dihapuskan, Itachi."
Lelaki itu pergi setelah membanting botol sakenya. Itachi terdiam, ia telah menebak jika semua ini akan terjadi. Tapi, kenapa setelah sekian lama? Sudah duapuluh tahun berlalu dan hal itu masih berkobar, tak pernah bisa padam. Dendam yang bahkan sudah mendarah daging pada tiap-tiap orang merasakannya.
Tidak, ia tak akan membiarkan hal itu terjadi. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah, ia harus kembali ke kerajaannya. Ia tak akan membiarkan perang kembali berkobar. Ini semua masa lalu yang dibuat leluhurnya. Dan sebagai generasi penerus, sudah seharusnya ia memadamkan bara dendam yang tak pernah padam.
"Jiraiya…."
.
.
TO BE CONTINUED…
.
.
A/N:
I know, ini pendek banget qaqa 3 Dan maaf buat telat update :'3
Dan kayaknya, ini pemotongannya udah pas, wakaka.
Maaf karena adegan SasuSakunya cuma dikit :3 Dan plotnya keknya lambat banget, ya? =o=; Saya sempilin juga hint masalalu Sakura /o/
Ini baru mau masuk conflict lhooo :3 Dan well, saya udah nentuin conflictnya. Ada dua conflict utama sih, sebenernya. Conflict tentang kerajaan dan hubungan SasuSaku. Dan keduanya dimulai bersamaan.
Hubungan mereka udah pada diketahui, kan? Nah, perebutan Sakura udah mau dimulai /o/
Conflict kerajaannya juga punya hubungan dengan SasuSaku lho. Ada yang bisa nebak jalan ceritanya? Atau malah ini alurnya pasaran banget? :'3
And then, Thanks for reviewers chapter 1-2 kemaren [ Seijuurou Eisha, Luca Marvell, Aoi Fiore Dee, haru no baka, Vikey91, Alifa Cherry Blossom, hanazono yuri, Francoeur, white moon uchiha, Kimeka ReiKyu, lovelly uchiha, aguma, Brown Cinnamon, akino megumi, zhaErza, Rainy Elfath, Yera30ciemutt, Nuria23agazta, L, Natsumo Kagerou, rui chan, Zhao mei mei, angodess, Momo Kuro, kireinaulia, hachikodesuka, ZeZorena, Guest, Amu B, Anka-Chan, MissGita18, uchiha saara, Haru CherryRaven, Mulberry Redblack, Hana Kumiko, Eysha 'CherryBlossom, Akira Fly, artha, jideragon21, Horyzza, Tsurugi De Lelouch, parinza. ananda. 9 ]
Thanks a loooottt :* #peyukatyatu-atu.
Oh ya, yang reviewers chapter 1 yang log-in udah kubales kan ya? Yang belom kubales bilang yaaa :) Dan maaf buat non-log-in belum bisa kubales :( Ayodoongg, kalian bikin akun supaya balesnya gampang #plak #seenakluaje :3
Wanna REVIEW again?
Regards,
-Hydrilla :)
