"Makan es krimmu dan berhenti melihatiku, Kwon," kata Jihoon sembari melirik ke arah Soonyoung.
Soonyoung tersenyum dan berdengung. "Tiba-tiba tidak selera makan. Kau ingin coba es krimku?" tanyanya kemudian.
Jihoon menggeleng dengan sendok es krim bersarang di mulutnya. "Tidak. Aku tidak suka rasa matcha. Terlalu pahit," jawab Jihoon. Tangannya sibuk menyendok dan menyuap es krim dalam cup di depannya. "Kenapa melihatiku terus?" tanya Jihoon tiba-tiba mengahadap Soonyoung.
Soonyoung mengulur tangan ke arah sudut bibir Jihoon untuk mengusap lelehan es krim disana. "Mungkin kau harus dipasangi serbet di leher. Makanmu berantakan sekali."
"Kau pikir aku balita?" tanya Jihoon tanpa kata terima kasih di awal. "Makan punyamu!"
Soonyoung menumpu dagunya pada satu tangannya di atas meja. Tangan yang lain mengaduk es krim yang mulai mencair dalam cupnya. "Jihoon, kurasa, kau harus ganti rasa favorit untuk es krimmu," kata Soonyoung.
"Kenapa?"
Soonyoung menghela napas dan mengendikan bahunya. "Es krimmu rasanya manis sekali. Kau jadi tambah manis. Aku hanya merasa kalau gula darahku naik setiap kali kau makan es krim."
Jihoon yang masa bodoh bilang, "Kau bisa menghabiskan stok gula satu tahunmu hanya dengan memandangiku sedang makan es krim."
Soonyoung menghela napas lagi. "Kau benar. Makanya kubilang untuk mencoba rasa matcha, biar tidak terlalu manis."
"Tidak mau."
"Ya sudah."
Ujungnya selalu Soonyoung yang mengalah, memang.
—kkeut.
Geje... sepertinya aku kena writer block (lagi). RnR? :3
