MY LIVE WITH YOU

Kehidupan Hinata, Naruto dan buah hati mereka. Asam manis cinta, dan rasa kekeluargaan yang mereka bertiga rasakan.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, Family~

Pair : NaruHina :D

Warning : Typo, OOC, OC, plus rada-rada gaje hihi~

.

.

.

.

Chapter 4 : Sunday Shock!


"Jadi bagaimana keadaanmu sekarang, Hinata?" tanya laki-laki berambut merah pada wanita indigo di hadapannya sekarang itu.

"Un, Aku baik-baik saja Gaara~" jawab Hinata seraya menatap manik Jade milik laki-laki yang sudah lama tak ia temui ini.

Senyum kecil mengembang di wajah tampan Gaara, Ia refleks ingin mengacak-acak puncak kepala Hinata sebelum...

"Gyaa! Gaara apa yang mau kau lakukan pada istriku!" teriakan Naruto yang membahana kontan membuat kedua orang itu tersentak kaget.

"Na..Naruto-kun.."

"Hah~ kau tetap tak berubah Naruto~"

"Apa!"

.

.

.

.

Kenapa Gaara bisa bertemu dengan Hinata dan Naruto? Lebih baik kita ulang kembali saja waktunya. Tepatnya kembali pada pagi hari itu..

...

Hari ini adalah hari Minggu, salah satu hari yang sangat di tunggu-tunggu oleh Hana. Karena apa lagi kalau bukan Tousannya, janji yang Naruto ucapkan padanya tiga hari lalu tidak pernah di lupakan oleh gadis kecil itu. Dan alhasil sekarang,

"Wuaah! Celah!" mata Lavender Hana berbinar-binar ketika melihat dari arah jendela kamarnya, matahari menyeruak masuk dengan perlahan. Membuat Hana makin berteriak girang. Sekarang adalah waktu Tousan dan Kaasannya menghabiskan waktu bersamanya seharian, dan tidak ada yang boleh melanggar itu semua!

Tangan mungil gadis itu segera menyibak selimut yang tadi menutupi setengah badannya, setelah ia merenggangkan badannya sejenak, menguap sepuas-puasnya dan tak lupa mengucek-ucek matanya. Kini ia siap untuk membangunkan Tousannya!

"Pokoknya hali ini Hana ingin makan es kelim yang banyak di taman!" serunya riang,

'Hana boleh tidak ya mengajak Haluki?' batin gadis kecil itu, karena hari ini adalah satu-satunya hari dimana Tousannya itu libur, inginnya sih Hana mengajak Haluki untuk bermain bersama di taman. Mengingat Paman Sasuke juga sesibuk Tousannya, jadi tidak ada salahnya kan?

Pasti Tousan dan Kaasannya akan mengijinkan idenya ini!

OoOoOOoOooOoOOoOo

"Tidak."

"Eh?!" kini gadis kecil berambut pirang itu sudah berada tepat di atas perut Naruto (lagi) Hinata yang masih duduk di tempat tidurnya hanya bisa menghela napas pelan.

Kenapa wanita indigo ini tumben tidak bangun sepagi biasanya,

"..."

Yah~ kalian tahu sendiri kan kalau kemari itu malam minggu jadi Naruto dan Hinata seperti biasa melakukan pekerjaan rutin mereka ?

Selain itu tadi sebenarnya Hinata berniat bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan sarapan, dan ketika wanita itu hendak beranjak bangun. Tangan kekar Naruto langsung saja menggenggam tangannya, menghentikan gerakan Hinata saat itu juga.

Dan ketika di tanya, "Hinata, untuk hari ini kamu bisa kan bangun tidak sepagi biasanya, Kita bisa sarapan di luar bersama-sama."

"Sekarang isthirahatlah lagi, Kau pasti lelah karena pekerjaan tambahan dariku semalam~" goda Naruto di sela-sela tidurnya.

Perkataan Naruto sukses membuat wajah Hinata merah padam, wanita itu mengembungkan pipinya kecil. Karena lagi-lagi suaminya ini berhasil menggoda dan membuatnya malu. Akhirnya ia kembali tertidur, lagipula sebenarnya matanya masih setengah mengantuk.

Jadi beginilah sekarang, wanita indigo ini dapat melihat jelas putrinya yang memohon-mohon pada suaminya yang keras kepalanya minta ampun kalau menyangkut masalah Haruki.

"Haa~ Touchan, boleh ya Hana mengajak Haluki jalan-jalan cama-cama~" pinta Hana kembali, gadis kecil itu sudah siap-siap mengeluarkan puppy eyes no jutsunya.

Naruto meneguk ludah ketika melihat pupil mata Hana yang membesar, dan berkaca-kaca. Oh sial! Kenapa putrinya ini bisa mewariskan keimutan dan kecantikan ibunya sih?!

"Tousan ti.." belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya,

"Oh, Ayolah Naruto-kun, Hana hanya ingin bemain bersama Haruki saja~" kini istrinya itu malah ikut-ikutan memohon padanya.

Dan sekarang, Dua puppy eyes dari kedua orang yang ia cintai menatapnya.

"..."

"Touchan~"

"Naruto-kun~"

"Hah! Baik, baik, baik kau boleh mengajak Haruki!" ujar laki-laki pirang itu pasrah.

Detik itu juga Hana menghambur ke dalam pelukan Naruto, mengecup pipi Tousannya itu. dan beralih ke arah Kaasannya, juga mengecup pipi wanita itu.

"Kyahaha, Aligatou Touchan, Kaachan!" seru Hana riang, gadis kecil itu segera beranjak dari tempat tidur kedua orang tuanya dan berlari meninggalkan ruangan itu seraya berteriak senang. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan baginya.

"Yeii, cekalang aku akan menelpon Haluki!" serunya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan itu.

OoOoOooOoOooOoOo

"Hah~" Naruto mendesah panjang, nanti sepertinya dia harus siap-siap batin melihat keakraban putrinya dengan putra sahabatnya itu.

Hinata yang melihat tingkah laku Naruto tertawa kecil, sebelum akhirnya ia perlahan semakin mendekatkan dirinya pada Naruto dan...

Cup, wanita itu mengecup pipi tan suaminya itu dengan lembut, membuat Naruto tersentak kaget.

"Arigatou Naruto-kun, pasti Hana senang sekali hari ini. Karena bisa bermain bersamamu dan Haruki~" ujarnya.

Wajah gelisah yang tadi terpampang jelas di wajah laki-laki pirang itu kini berubah menjadi senyuman lembut, tangan kekarnya mengelus puncak kepala istrinya. Dan mengecupnya pelan.

"Jangan lupa denganmu juga~" lanjutnya,

Kecupan Naruto yang tadi berada di puncak kepala Hinata perlahan-lahan turun. Ia mencium lembut hidung Hinata, kedua pipinya, dan yang terakhir bibir ranum wanita itu. Inginnya sih ia meminta lebih, tapi..

Blush~ melihat wajah Hinata yang sudah semerah tomat sekarang. Sudah cukup membuatnya puas, wanita indigo itu malu-malu menjauhkan wajahnya dari Naruto.

"Ka..kalau begitu aku akan membuatkan kalian sarapan dulu.." ucapnya seraya beranjak dari tempat tidur tanpa menyadari sesuatu...

Tanpa Naruto sadari, seringaian rubah miliknya kini terlihat jelas di wajah tampannya. Laki-laki itu membenarkan posisinya yang tadi terlentang, Ia duduk perlahan di pinggir tempat tidur.

"Bukannya sudah kukatakan tadi kalau kita akan sarapan bersama di luar~" godanya.

Blush, wajah Hinata makin memerah,

"..."

"I..itu sepertinya aku lupa.." jawabnya cepat.

"Kalau begitu ayo kesini lagi~" pinta Naruto, laki-laki itu menaikkan tangan kekarnya dan mengerakkan tangannya perlahan seakan-akan mengisyaratkan Hinata untuk mendekatinya.

Blush~ Hinata sudah tidak bisa menahan malu lagi, laki-laki di depannya ini benar-benar tampan sekali walau pagi-pagi seperti ini. Rambut pirangnya yang acak-acakan dan tatapan sayu dari manik Saphirenya itu yang membuat tubuh Hinata lemas seketika, apalagi ditambah seringaian rubah di wajah tan suaminya itu. Hinata serasa ingin pingsan saja!

"E..eh..E..eto..kalau begitu aku akan membuatkan Hana dan Naruto-kun minuman..." jawabnya menahan malu, wanita itu masih berdiri mematung di tempatnya tadi.

"Heh~ Kau tidak perlu membuatkanku minum kok, lagi pula.." seringaian Naruto makin terlihat, membuat Hinata bingung dengan ucapan setengah-setengah laki-laki pirang itu.

"La..lagi pula apa?"

"Kalau kau berdiri disana terus bisa-bisa aku menyerangmu sekarang juga lho, sayang~" ucap Naruto sambil menunjuk-nunjuk dirinya. Hinata makin bingung,

'Apa ada yang salah denganku hari ini?' mata lavender wanita itu mengikuti arah tunjukkan Naruto, sampai...

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

"KYAAA! Naruto-kun mesum!" Sepertinya dia lupa memakai bawahan karena kejadian kemarin. Dan yang sekarang yang terlihat ia hanya memakai pakaian dalamnya saja. Pantas saja sejak tadi Naruto tidak berhenti memperlihatkan seringaiannya pada Hinata.

Dengan secepat kilat Hinata segera menyambar kembali pakaiannya dan berlari menuju kamar mandi yang berada tepat di sebelah kamar tidurnya.

Sedangkan Naruto yang melihat tingkah laku Hinata, tertawa geli, ternyata meski Hinata sudah menjadi istrinya sekarang. Sifat wanita itu tidak pernah berubah, tetap pemalu seperti biasa~

.

.

.

.

Dapur~

"Hinata,"

"..." Hinata masih terdiam, tangannya masih mengaduk-aduk susu di gelas yang ia buatkan untuk Hana. Naruto sedikit sweatdrop melihat tingkah istrinya ini.

"Hinata.." Ia mencoba memanggil wanita itu lagi, tapi...

"..." Hinata masih diam, bahkan wajah wanita indigo itu jadi tambah memerah.

"Sayang~ kenapa malah diam?" tanya Naruto kembali.

Dan kini manik Lavender Hinata menatap sekilas wajah Naruto, sampai akhirnya ia kembali melanjutkan kegiatannya seraya mengembungkan pipinya kesal.

Oke, sepertinya karena tadi ia terlalu menggoda istrinya ini, Naruto sudah membuat Hinata jadi sedikit kesal. Laki-laki pirang itu menggaruk pipinya yang tak gatal. Ia perlahan beranjak dari tempat duduknya tadi dan menghampiri Hinata, yang kini masih membuatkannya minuman.

Grep, Naruto langsung melingkarkan lengan kekarnya itu pada pinggang ramping Hinata.

"Kau marah padaku?" tanyanya pelan.

Hinata yang mendengar itu menggeleng kecil, "Tidak kok," jawabnya.

"Kalau bukan marah kenapa tadi tidak menjawab panggilanku?" tanya Naruto lagi.

"Aku hanya sedang konsentrasi saja membuat minuman."

Naruto mendesah panjang, "Terus kenapa mengembungkan pipi seperti itu?"

"..." Hinata terdiam..

"Ak..aku hanya sedikit kesal saja Naruto-kun.." jawab Hinata akhirnya,

Naruto menatap wajah Hinata khawatir, jangan-jangan Hinata benar-benar marah padanya?!

"Eh?! Kau kesal gara-gara ucapanku tadi ya? Atau karena tingkahku tadi keterlaluan?" tanyanya bertubi-tubi.

"Hihihi~" Naruto semakin mengerutkan keningnya bingung, tadi istrinya ini kesal dengannya dan sekarang malah tertawa?!

Hinata kembali menggelengkan kepalanya pelan, wajah wanita itu tertunduk malu.

"A..aku hanya kesal karena..."

"Kenapa?"

Hinata tanpa sadar menautkan jari-jari manisnya, kebiasaannya dulu yang entah kenapa sampai sekarang pun belum menghilang juga.

"I..tu karena Naruto-kun..." ujarnya lagi.

Naruto makin penasaran, "Ya?"

"Selalu saja menggodaku lebih dulu..padahal..aku kan juga ingin..

"Menggoda Naruto-kun pertama kali..." lanjutnya, wajah Hinata makin memerah.

"..."

Kaget, Naruto kaget mendengar jawaban polos istrinya itu. Tanpa ia sadari panas menjalar di tubuhnya dan perlahan menuju ke wajahnya. Dan tak ayal semburat merah malah ikut-ikutan muncul di pipi tannya itu.

Ingin sekali ia menerkam Hinata yang kini tampak cantik serta menggemaskan di matanya sekarang juga, sebelum akhirnya...

"..."

"Kaachan, Touchan! Aku cudah menelpon Haluki!" teriakan kecil Hana membuat kedua pasangan itu sontak melepaskan pelukan mereka, dan saling menatap satu sama lain dengan kikuk.

Hinata mengambil susu buatannya tadi untuk Hana dan segera berjalan meninggalkan dapur, "A..ayo Naruto-kun, Kita ke ruang tamu.." ujar gadis itu malu-malu.

"Ah?! I..iya, iya Hahaha~" jawab Naruto tidak kalah malunya ditambah senyum kikuk darinya.

Hah~ Hana, kau sudah berhasil lagi menggagalkan rencana Tousanmu ini untuk yang kesekian kalinya~

OoOoOOoOoOoOooOoOoOo

Senyum di wajah Hana bertambah lebar ketika melihat Kaasannya membawa segelas susu kesukaan gadis itu, Ia yang tadinya duduk di sofa sambil menonton acara tv langsung saja mendekati wanita indigo itu.

"Yeii! Cucu coklat!" serunya senang,

"Ayo, ayo sekarang Hana duduk dulu~" ujar Naruto, laki-laki itu mengangkat putrinya dan membawanya kembali duduk di sofa.

Hinata segera menaruh segelas susu coklat dan capuccino coffe untuk Naruto, sedangkan dia lebih memilih meminum secangkir teh hangat.

"Haruki bilang apa tadi sayang?" tanya Hinata, Ia memberikan segelas susu itu pada Hana.

"Haluki bilang kalau kelualganya juga mau beljalan-jalan di taman nanti~"

"Oh ya, lalu Hana bilang apa?"

"Hana bilang kalau nanti ketemu dicana kita main cama-cama!" jawabnya lagi. Naruto dan Hinata mengernyit bingung,

"Lho, Hana tidak meminta Haruki untuk datang menjemput Hana dulu?" tanya Naruto, nada bicaranya entah kenapa sedikit senang.

"..." gadis kecil itu menggeleng,

"Coalnya kan Haluki juga ingin jalan-jalan cama kelualganya, jadi Hana tidak ingin mengganggu Haluki."

Baik Hinata maupun Naruto tertegun dengan ucapan putri mereka, setahu mereka tadi Hana sebegitu inginnya berjalan-jalan dengan Haruki dan sekarang. Gadis kecil ini sepertinya memikirkan keadaan putra Sakura dan Sasuke itu.

Dan tanpa basa-basi lagi keduanya memeluk erat Hana, membuat gadis itu tersentak kaget.

"Wah~ ternyata putri kita sudah bisa berpikir seperti itu, benarkan Hinata?" tanya Naruto.

"Un, Kami bangga denganmu sayang~" ujar Hinata,

Mata Lavender Hana berbinar-binar ketika kedua orang tuanya ini memujinya, dia benar-benar senang, "Benal Touchan, Kaachan?!"

"Iya, sebagai hadiahnya nanti Tousan akan membelikan ice cream kesukaanmu!"

"Eh?! Kyahaha! Aligatou Touchan, Kaachan!" Hana berbalik memeluk kedua orang tuanya.

.

.

.

.

Pukul : 08.00 a.m.

"Ayo Kaachan!" seru Hana di depan gerbang rumahnya, tangan mungil gadis itu menggenggam erat tangan Naruto. Kini gadis kecil itu sudah siap untuk jalan-jalan pagi bersama kedua orang tuanya, dengan memakai pakaian olahraga berwarna biru, dan sebuah sepatu mini berwana pink bergambar kartun kesukaannya. Naruto dengan pakaian olah raganya yang berwarna putih biru, serta rambutnya yang masih sedikit acak-acakan, tidak menghilangkan ketampanannya.

Sedangkan Hinata, wanita itu masih sibuk mengunci rumah mereka, Ia kini memakai pakaian olahraga panjang berwarna lavender, rambutnya yang tadi tergerai sekarang terikat rapi.

"Ha'i, Ha'i~" setelah selesai mengunci dan memastikan semuanya pintu tertutup, wanita itu segera menghampiri putri serta suaminya yang sudah menunggu disana.

OoOoOOoOoOOoOo

Taman Konoha~

Setelah memerlukan waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki, akhirnya ketiga orang itu sampai juga.

Sebuah taman yang cukup besar dan tidak jauh dari rumah keluarga Uzumaki, Hana berlari kecil ketika sampai di sana. Matanya mencari-cari penjual ice cream yang ia incar sejak tadi, tapi sebelum itu..

"Hana, Kita harus olahraga dulu baru setelah itu baru beli ice creamnya." Ujar Hinata, dan dapat ia lihat kini wajah Hana meredup, dan pipinya mengembung kecil.

"Tapi Kaachan~" Ia memohon pada Kaasannya dengan jurus andalannya tadi,

"Eiit~ itu tidak akan mempan pada Kaasan~" ucap Hinata cepat. Naruto terkikik geli melihat wajah kaget putrinya sekarang.

"Ayo, Kaasanmu benar, nanti kalau sudah lelah baru kita beli ice cream sebanyak-banyaknya!" seru laki-laki pirang itu,

Mendengar pernyataan polos sang suami Hinata langsung menyikut perut Naruto pelan, "Naruto-kun, bagaimana kalau Hana nanti membeli ice cream kebanyakan, dia bisa sakit!" bisik Hinata kesal.

"Eh?" Naruto menepuk keras keningnya, sepertinya gara-gara keasyikan ia jadi terlalu heboh, laki-laki itu berniat membatalkan ucapannya tadi pada Hana, namun...

"Hana, tadi.."

"Yei! Es kelim tunggu aku!" Hana sudah berlari dengan semangat di depannya mereka, wajahnya yang tadi murung langsung berubah ceria.

"Naruto-kun! Nanti kalau Hana sakit, tak akan kumaafkan!" seru Hinata seraya mengejar anak perempuannya itu.

...

Sudah tiga puluh menit keluarga Uzumaki masih berlari-lari bersama mengelilingi taman Konoha sebanyak dua kali, Hana yang tentu saja tidak tahan. Langsung merengek minta di gendong oleh Naruto, dan alhasil ketiga orang itu pun memilih untuk beristhirahat sejenak.

Sedangkan Naruto yang sejak berjalan tadi melihat-lihat apakah ada sahabatnya itu disana merasa gembira karena sepertinya mereka tidak ada. Tapi..

"Ah! Haluki!" seruan Hana sontak membuat laki-laki pirang itu hampir terjatuh kalau saja dia tidak ingat kini tengah menggendong Hana.

"Tadi Hana bilang apa?" tanya Hinata.

Tangan mungil Hana menunjuk-nunjuk kearah pohon besar, dan disana terlihat seorang wanita berambut pink, laki-laki berambut raven serta anak kecil berambut sama dengan laki-laki itu tengah bersantai di bawah pohon.

Naruto tarik kembali kata-katanya tadi...

Hana langsung saja merengek untuk turun, "Touchan, turunin Hana dong?" pintanya.

Naruto berniat menggeleng keras, tapi tepukan Hinata membuatnya sedikit kaget, "Naruto-kun, tadi bukannya sudah berjanji akan membiarkan Hana main bersama Haruki~" ujar wanita itu, mengerling jahil padanya.

"Ta..tapi."

"Touchan~"

Dan dengan terpaksa lagi, karena dia tipe orang yang tidak akan menarik kata-katanya. "Hah~ baiklah, tapi biar Tousan tetap menggandeng tanganmu." Ujarnya masih setengah keras kepala.

"Oke! Ayo cepat jalannya Touchan!" seru Hana tak sabar, tangan mungilnya menarik-narik tangan Naruto.

Sedangkan Naruto, hanya bisa menunduk lemas. Seharusnya tadi dia tidak terbuai dengan dua puppy eyes kedua perempuan ini~

.

.

.

.

"Haluki!" suara teriakan cempreng membuat pemuda kecil yang tadi masih asyik bercanda dengan Tousannya itu menoleh cepat ke sumber suara tadi.

Manik Emeraldnya langsung berbinar-binar ketika melihat siapa yang memanggilnya, "Ah! Hana-chan!" serunya tak kalah senang. Pemuda kecil itu segera beranjak dari posisinya tadi dan berlari mendekati Hana. Sasuke yang berniat menghentikan kelakuan putranya terhenti seketika begitu melihat wajah Sakura yang tersenyum menakutkan padanya.

'Hah~' desahnya dalam hati.

Naruto juga begitu, Ia berniat tidak melepaskan genggamannya pada Hana, tapi begitu melihat wajah memohon Hinata. Dengan terpaksa ia melepas tangan mungil itu. Dan alhasil Hana berlari cepat menjauhinya, menghampiri Haruki.

"Hinata~ masa Hana lebih memilih Haruki dibanding Tousannya~" rengek Naruto, Hinata sweatdrop tanpa aba-aba.

"Hah~ iya, iya, ayo kita dekati Sakura-chan dan Sasuke." Ucap Hinata kemudian menggandeng tangan kekar suaminya itu,

"Kalau digandeng olehku tidak apa-apa kan?" tanya wanita indigo itu seraya mengedipkan mata sekilas.

"Eh, Te..tentu saja tidak apa-apa, Ayo!" Naruto jadi gugup melihat sifat istrinya yang entah kenapa malah berbalik darinya.

"Hihihi~ baguslah~"

...

"Ohayo Sakura-chan, Sasuke~" ujar Hinata ketika sudah berada dekat dengan kedua sahabatnya itu.

Senyum di wajah cantik Sakura terlihat jelas, "Ohayo Hinata, Naruto! Tadi Hana menelpon Haruki lho~" ucap wanita merah muda itu senang.

Hinata mengangguk kecil, Ia segera duduk disamping sahabatnya itu untuk mengisthirahatkan kakinya. "Iya, tadi juga Hana membangunkanku dan mengatakan kalau ingin mengajak Haruki ke taman ini~"

"Oh, benarkah~"

...

Sasuke dan Naruto sudah tidak bisa memasuki arah pembicaraan istri mereka, yah Girl's Talk dimulai~

Kedua laki-laki itu saling menatap putra dan putri mereka,

"Dobe, kenapa tadi Hana menghubungi Haruki?" tanya Sasuke tiba-tiba.

Naruto mengernyit bingung, "Kau pasti tahu kan alasannya dari Haruki, kenapa tidak ditanya?" tanya Naruto balik.

"Hn,"

"Hei.."

"Apa?"

"Apa Itachi-nii marah ketika kita terlambat dua hari lalu?" pertanyaan Naruto sontak membuat Sasuke terdiam lama, terlihat sekali kalau laki-laki raven itu terkejut.

"Tidak usah dibahas. Kalau kau?" Keringat dingin perlahan turun dari kening Sasuke,

"Hah~ sama sepertimu, untung saja ada Shion. Kalau tidak bisa-bisa aku masih tidak bisa bergerak sampai hari ini~" ucap sedikit gugup.

"Hn, itu gara-gara Hana."

Mendengar kata Hana, Naruto menoleh kesal melihat wajah Sasuke, "Hei! Jangan menyalahkan putriku yang manis!" serunya.

"Hn, memang benar~"

"Justru Haruki yang ingin dekat-dekat dengan putriku kan?"

"Tidak mungkin."

"Huh! Teme, tidak mungkin putriku itu suka dengan putramu yang punya rambut pantat ayam sepertimu itu!"

"Heh~ daripada Hana yang punya rambut berwarna aneh sepertimu."

Manik Saphire dan Manik Onyx saling bertatapan, kilatan-kilatan kesal terpancar dari keduanya. Sakura dan Hinata yang melihat keadaan suami mereka mendesah panjang, dan memilih tidak ikut campur. Mereka terlalu lelah dengan perdebatan kedua laki-laki yang kekanak-kanakan seperti itu.

"Apa katamu? Rambutmu itu justru lebih aneh."

"Hn,"

"Hei jangan hanya ber 'hn' saja!" laki-laki pirang itu mencubit keras pipi putih Sasuke, membuat si empunya mengerang.

"Dobe, lepas!" Sasuke yang tidak mau kalah, malah berbalik mencubit pipi Naruto.

"Teme!!"

"Dobe!!"

"..."

"Lihat, sepertinya Paman Sasuke dan Paman Naruto sedang asyik sekali, benarkan anak-anak?" suara seseorang membuat kedua orang yang tadi sedang asyik bertengkar langsung melepas cubitan mereka masing-masing dan menoleh pada sumber suara itu.

"Iya Touchan dan Paman Cacuke cedang main apa cih?" mata Lavender Hana menatap bingung kedua laki-laki di depannya ini.

"Kita boleh ikut main tidak?" ujar Haruki.

"..."

Sasuke serta Naruto seketika itu membelalakkan mata mereka tak percaya, di depan mereka kini berdiri seorang laki-laki berambut merah bata dengan senyuman kecil di wajahnya.

Dan detik itu juga..

"Gaara?!"

Gaara yang senang melihat kekagetan sahabat-sahabatnya itu tersenyum kembali, "Lama tak bertemu Sasuke, Naruto~"

Sakura dan Hinata yang mendengar teriakan suami mereka memanggil nama Gaara, langsung ikut menoleh.

"Eh?! Gaara, kenapa bisa ada disini?" tanya kedua wanita itu bersamaan.

.

.

.

.

"Bukannya kau berada di Suna sekarang?" tanya Naruto, laki-laki pirang itu membiarkan putrinya bermain dengan Haruki, begitu juga dengan Sasuke. Setahu mereka sahabatnya ini sudah lama berada di Suna karena ikut andil dalam pekerjaan yang di dapatkan oleh Shikamaru, kekasih Nee-channya itu.

"Yah, urusanku disana sudah selesai, jadi lebih baik aku kembali saja~" jawabnya, seraya menyenderkan badannya di pohon besar itu.

Hinata dan Sakura langsung saja menanyakan tentang sahabat pirang mereka, "Lalu mana Temari, kenapa dia tidak ikut kesini?" tanya keduanya bersamaan.

"Nee-chan masih ada disana." Dan jawaban Gaara sukses membuat Hinata dan Sakura menunduk sedih, mereka kira bisa bertemu dengan wanita pirang itu setelah sekian lama. Gaara yang melihat itu menghela napas panjang.

"Tenang saja, minggu depan aku jamin mereka berdua akan datang ke Konoha~" ujarnya cepat.

"Eh?! Benarkah?! Kenapa kau tahu Gaara?" pekik Sakura senang.

"Sebelum kita membahas itu," Gaara tiba-tiba menghampiri Sakura dan Hinata, hal itu tentu saja membuat kedua laki-laki di sana tersentak kaget.

"Jadi bagaimana keadaanmu sekarang, Hinata?" tanya laki-laki berambut merah pada wanita indigo di hadapannya sekarang itu.

"Un, Aku baik-baik saja Gaara~" jawab Hinata seraya menatap manik Jade milik laki-laki yang sudah lama tak ia temui ini.

Senyum kecil mengembang di wajah tampan Gaara, Ia refleks ingin mengacak-acak puncak kepala Hinata sebelum...

"Gyaa! Gaara apa yang mau kau lakukan pada istriku!" teriakan Naruto yang membahana kontan membuat kedua orang itu tersentak kaget, laki-laki pirang itu langsung memeluk erat Hinata. Seakan tidak akan pernah melepaskan wanita itu lagi

"Na..Naruto-kun.."

"Hah~ kau tetap tak berubah Naruto~"

"Apa!"

"..."

Manik Jade Gaara kini beralih pada Sakura, laki-laki itu tersenyum kecil sebelum...

"Kudengar kau mengandung lagi Sakura?" tanyanya pelan.

Sakura mengangguk senang, tangannya menepuk kecil perutnya yang sudah sedikit membesar. "Iya, sebentar lagi Haruki akan punya adik baru~" jawabnya.

"Boleh kusentuh anak kecil di perutmu itu?" pintanya kembali.

"Eh?" Sakura tersentak kaget, sebelum...

"Hn, Jangan macam-macam kau Gaara." Suara bariton Sasuke kini berada tepat di depannya, ternyata lak-laki raven itu tak kalah cemburunya dengan Naruto. Bahkan Sasuke memeluk Sakura sampai-sampai wajah wanita itu terbenam di dada bidang suaminya itu.

"..." Gaara terdiam, melihat sikap sahabat-sahabatnya yang tidak berubah, mau tak mau membuatnya...

"..."

"Hmmph, Hahahaa~ ternyata kalian tetap tidak berubah Sasuke, Naruto!" seru laki-laki merah itu sambil menahan tawanya.

"..."

Sasuke maupun Naruto hanya bisa cengo melihat sikap Gaara yang benar-benar terbalik dengan sikap datarnya tadi, "Gaara!" kedua orang itu meneriakkan namanya bersamaan, dengan cepat melepaskan pelukan mereka. Dan tanpa basa-basi lagi mengejar laki-laki merah itu.

"Awas kau!" seru Naruto dan Sasuke.

"Hahaha~"

Sekarang baik Hinata maupun Sakura tak bisa menahan gelak tawa mereka, ketika melihat Sasuke yang sejak dulu selalu bertampang datar sekarang wajahnya memerah sekali, Naruto yang wajahnya tidak kalah memerahnya dari Sasuke. Gaara yang hanya bisa tertawa dan memilih berlari dari kejaran kedua sahabatnya itu, sampai...

"Hah~Hah~Hah~" laki-laki merah itu menarik napas sebentar, dan perlahan mendekati Sakura dan Hinata yang masih tertawa melihatnya.

"Hah~ sebelum aku menjadi daging cincang, Aku ingin memberikan kalian ini~" ujarnya seraya mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya.

"Apa itu?" tanya sakura bingung.

"Kuharapan kalian datang ya, dan untuk sekarang rahasiakan dulu dari kedua orang itu~" ucap Gaara sekali lagi, Ia segera memberikan dua buah surat kecil pada Sakura dan Hinata.

"Gaara! Awas kau!" suara teriakan Naruto serta Sasuke semakin keras, membuat laki-laki itu bergegas pergi dari tempat itu.

"Gawat!"

"Kalau begitu aku pergi dulu, Jaa!!" Gaara segera berlari keluar dari taman sebelum sempat melihat reaksi Sakura dan Hinata ketika melihat isi surat itu.

"Memang surat apa ini?"

"I..iya, tadi Gaara bilang datang kemana?" sahut Hinata.

Kedua wanita itu bersamaan membuka surat kecil di tangan mereka masing-masing, sampai...

"..." keduanya terdiam melihat tulisan yang tertera disana.

"Kuso! Dia kabur Teme!"

"Hn, awas kau." kedua laki-laki itu menarik napas mereka dalam-dalam, melihat kedua wanita itu tidak ada yang berbicara sedikit pun. Membuat Sasuke mengernyit bingung.

"Sakura, tadi apa yang di berikan Gaara padamu?"

"Iya, tadi rasanya dia memberikan kalian berdua sesuatu?"

"..." Sakura dan Hinata masih terdiam, sepertinya kata terakhir yang diucapkan oleh laki-laki merah itu tidak bisa mereka penuhi karena tanpa sadar..

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

"Eh! Gaara akan menikah seminggu lagi!" seru keduanya bersamaan.

Sasuke serta Naruto yang mendengarkan teriakan istri mereka tentu saja lebih kaget, jadi kedatangan Gaara ke Konoha bukan hanya sekedar bersantai saja, melainkan untuk memberikan kartu pernikahannya?!

Detik itu juga kedua laki-laki tampan itu..

"APA?! Kenapa dia baru memberitahu kita sekarang!" Berteriak dengan tidak elitnya.

.

.

.

.

.

Seorang wanita berambut coklat panjang sebahu kini menatap bingung kekasihnya dari dalam mobil, Ia bingung melihat laki-laki merah itu mendekatinya dengan napas terengah-engah. Tapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekesalan malah sebaliknya, wajah Gaara terlihat sangat senang.

Krek, pintu mobil terbuka perlahan, laki-laki merah itu segera duduk seraya mengatur napasnya kembali.

"Tadi kau sedang apa Gaara-kun?" tanya wanita itu bingung.

"Hah~ tidak apa-apa, hanya mengadakan sedikit reunian saja." Jawabnya.

"Sudah selesai dengan urusanmu?"

"Hn, sudah~"

"Kenapa Gaara-kun tidak mau mengenalkanku dengan teman-temanmu?" tanya wanita itu sekali lagi, kini ada raut sedih di wajah cantiknya. Melihat hal itu tangan kekar Gaara segera menepuk lembut puncak kepala kekasihnya itu.

"Di pernikahan nanti aku ingin membuat mereka terkejut ketika melihatmu~" ucapnya.

"Benarkah?"

"Hn, jadi jangan cemberut seperti itu, Matsuri."

Wanita bernama Matsuri itu terkikik geli, dan entah kenapa ia mengangguk kecil, "Hihihi~ aku sudah tidak sabar bertemu dengan teman-temanmu~"

"Hn, ayo kita berangkat ke tempat selanjutnya." Gaara kembali menghidupkan mobilnya dan mengendarai kendaraan itu menjauh dari taman.

"Ha'i~"

Jadi kalian sudah tahu kan kenapa Gaara bisa tiba-tiba berada di Konoha?

.

.

.

.

Sedangkan Haruki dan Hana yang melihat ketidakelitan orang tua mereka, hanya bisa menggeleng-geleng kepala.

"Nee~ Haluki."

"Ya?"

"Kenapa Touchan dan Kaachan kita belteliak cepelti itu?" tanyanya.

Sedangkan Haruki yang ditanya hanya bisa mengedikkan bahu tidak tahu, dan..

"Mungkin macalah olang tua, Kita tidak ucah ikut campul." Jawabnya, kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.

"Cucah ya jadi olang tua~" desah Hana,

"Iya~"

TO BE CONTINUED~

A/N :

Minna Mushi balik lagi, satu persatu karakter yang dulu sudah kembali lagi. Dan kali ini adalah Gaara, kira-kira siapa lagi setelah itu? XD

Oh, iya karena sepertinya untuk beberapa bulan ke depan Mushi udah nggak bisa update cepat lagi, jadi kalau ada yang menunggu fic Mushi yang lainnya. Gomen belum bisa di lanjutin dulu untuk waktu dekat ini *bow* :)

Nah untuk yang menanyakan umur Hana dan Haruki,

Hana Uzumaki : 4 tahun

Haruki Uchiha : 3 tahun, (makna nama Haruki itu diambil dari nama pohon musim semi yang cocok sekali dengan nama Sakura :)

Big Thanks too :

Akira no Rinnegan, Black market , Momo yamanaka, Bubble bee, Ymd, bala-san dewa, hime-chan1301, Zeri Nomi, Devil Clown, Audhitaputri, Guest, JeastTheNinja, Manguni, viii-chan, zoccshan, NH lovers, Guest 1, Guest 2, MORPH, wafihidayatulloh, Alyads, Guest 3, imink-chan, Chimunk, Bunshin Anugrah ET, neko chan, Guest 4, naruhina naruhina 35, ujhethejamers, hanako shizuka, Ilysm Hime bye Waone, Inoue Kazeka, ZF-Kun, lavender for orange, tsukihime4869, AnnisaIP, Mr. Xavier, Namikaze Anwar, Ryn NaruHina, seiichi hikaru, Tantei Fath, Wim are, mihae-chan, Hikaru Reisa, Audhitaputri, eureka eklesius, eliza halianson, Akane Uzumaki, Guest 5, zielavenaz96, diella, Misti Chan, akbar123, Mara15, fujisawa suzuchan, Kyuubi no Baka, Alyads, Restyviolet, and all silent readers~

Answer :

Adiknya Hana : Mushi akan munculin nanti ya, ditunggu aja :)

Reunian bersama : Wah! Ide bagus, tapi hanya beberapa dari mereka saja yang baru punya anak :) nanti akan Mushi buat kok, tapi untuk yang sekarang reunian sama Gaara dulu XD

Mengenai Romance berkurang? Huee! Mushi sepertinya udah habis stock keromantisan NaruHina. Mushi harap di chap ini romancenya sudah bagus nyehehe :D

Panjangin lagi : Kalau untuk masalah ini Mushi belum tahu bisa atau nggak ya hehe XD

Konfliknya nanti Mushi buat di dua chap selanjutnya, ini berkaitan dengan pekerjaan Ino sekarang XD

Liburan sekeluarga : Wuah! Iya, iya pasti Mushi buat kok, Arigatou buat idenya TOT7

Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi

Kalau begitu Akhir kata kembali

SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7

JAA~