Finally! Aku bisa update cerita ini, maaf ya semuanyaa .
Masa-masa kelas tiga kuakui memang masa yang paling sibuk, jadi aku gabisa update cepet-cepet, bahkan pas aku liat terakhir aku update sekitar setaun yang lalu ._. Sekarang tinggal nunggu hasilnya, semua kita yang seangkatan lulus semua dengan nilai yang memuaskan yaa, amiin.
Kita langsung ke cerita aja yaa, I hope you enjoy reading my story ^^
Catching Star
Disclaimer: Tite Kubo
By: Princess Sequin
"Hallo? Nona Photographer… kenapa kamu diam saja?" Hitsugaya melambaikan tangannya di depan wajah Rukia, menyadari tatapan Rukia mengosong untuk sesaat.
"Ah… iya…" Rukia kembali pada kesadarannya, "Maaf aku tidak bisa tuan… aku sedang banyak pekerjaan karena ini adalah tahun terakhirku…" secara perlahan Rukia mundur untuk pergi dari pria di hadapannya.
"Baiklah… maaf jika menganggumu…" Hitsugaya berbalik dan pergi. Renji yang melihatnya hanya menggeleng.
"Asal kamu bisa mempertahankannya, kamu sudah melakukannya dengan baik Rukia… oh ya… besok kamu ke pantai Manly sendiri ya, aku sedang ada rapat dengan ayahku" Rukia mengangguk, dan mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
"Apa?! Ada Kurosaki Ichigo juga? Kenapa aku bisa tidak tahu?" seru Rukia ketika Renji mengatakan bahwa tidak lama lagi mereka akan melakukan rapat dengan para kru, dan Kurosaki Ichigo akan menjadi ketua dari rapat tersebut.
"Aku kira kamu sudah tau… kan dituliskan di surat kontrak kalau dia jadi photographer utama… Dia baru mendarat pagi ini… dan kudengar dia orangnya sangat tegas…" kata Renji sambil memainkan pensilnya.
Rukia menunduk prutasi, rasanya baru bulan lalu dia melakukan skype dengan Ichigo, tetapi kenapa ia tidak tahu bahwa sekarang mereka tergabung dalam satu pekerjaan?
"Eh… tunggu…" Renji menghentikan permainan pensilnya, "jangan bilang kamu mengenal dia seperti kamu mengenal Hitsugaya Toushiro?"
Rukia mendongak dan menatap Renji dengan malas, "Tentu!"
"Ya Tuhan… kenapa kamu bisa mengenalnya? Jangan bilang kamu juga mengenal Bill Gates?"
Rukia memijit tulang hidungya, "Ayahku salah satu rekan bisnisnya…"
Renji tidak percaya, ya… sangat tidak percaya, sampai sampai mulutnya menganga sempurna, "Kenapa kamu malah menjadi photographer kalau kamu saja mengenal orang-orang hebat seperti itu Ruki? Kenapa kamu tidak melanjutkan perusahaan ayahmu…" yah… kata-kata Renji sama persis dengan kata-kata teman-temannya yang mendengar keputusannya untuk menjadi photographer. Tapi ia benar-benar tidak menyukai dunia seperti itu, ia merasa bisnis bukanlah tempatnya.
"Kalau aku mengikuti jejak ayahku, maka kamu tidak akan menjadi sahabatku seperti sekarang Renji…" Rukia tersenyum berusaha mengalihkan pikiran bahwa ia akan bekerja sama dengan sahabatnya sendiri, "lagipula sudah ada kakakku…"
Rapat dimulai dan diakhiri dengan lancar, semua hal yang dibahas disampaikan dengan baik oleh Ichigo, tidak heran reputasinya di dunia photography tidak pernah dianggap remeh.
Orang-orang mulai keluar dari ruang rapat, hingga akhirnya tersisa Rukia dan Ichigo. Rukia masih tidak tau dengan apa yang harus ia lakukan, karena pembawaan Ichigo saat terakhir mereka melakukan video call, dengan sekarang sangatlah berbeda.
Rukia berdiri dengan enggan dan mulai mengendap untuk keluar, hingga langkahnya berhenti ketika Ichigo memanggilnya, "Jadi seperti ini jika bertemu dengan teman lama…"
Rukia berbalik dan terkekeh, "Hai… Ichigo…" Rukia melambaikan tangannya, "aku kira kamu tidak mengenalku… hehe…"
Ichigo membuka kacamatanya dan menyenderkan dirinya pada kursi yang didudukinya, "Jangan bodoh… namamu tertera jelas disini Kuchiki Rukia…" dia tertawa kecil, "kemarilah… kita sudah lama kan tidak mengobrol…" Ichigo menepuk-nepuk kursi rapat di sebelahnya.
Rukia kembali dan duduk di kursi yang dimaksud Ichigo, Ichigo mengangkat satu alisnya karena heran, "Kenapa sih? Kamu seperti orang yang tidak pernah mengenalku… apa aku tadi mempresentasikan rapat dengan begitu keren sehingga kamu seperti itu?"
"Ya kuakui…" Rukia menunduk, dapat dilihat dengan jelas kalau Ichigo sangat senang dengan pengakuan yang diberikan oleh Rukia, terbukti dengan senyuman lebar yang langsung ia keluarkan ketika Rukia mengatakannya, siapa pula yang meragukan wibawanya saat presentasi tadi? Pikir Rukia saat itu, "kenapa tidak bilang jika ingin ke Australia? Aku sangat terkejut ketika Renji mengatakan bahwa kamu akan memimpin rapat hari ini…"
Ichigo mengacak pelan rambut Rukia, "Tadinya aku ingin memberimu kejutan… tapi ternyata kita menjadi partner dalam pekerjaan ini… eh ya, kenapa kamu merubah penampilanmu menjadi seperti ini? Hahaha… ini seperti bukan dirimu…"
Rukia menghela nafas megingat kejadian dimana Renji membawanya ke salon secara dadakan,
"Kamu belum melihat jika aku sudah menggunakan make up… hahaha…" Rukia tertawa geli karena mengingat wajahnya pada saat memakai make up, "ini ide Renji, kamu ingat kan? Orang yang sering aku ceritakan itu? Dia bilang dengan ini aku bisa bekerja pada project ini tanpa ketahuan…"
"Oleh Toushiro?" tanya Ichigo to the point, "lalu kemarin bagaimana? Apa dia berhasil mengenalimu?"
Rukia menggeleng, "Para kru mengenaliku sebagai Lucia, yah… Matsumoto tau kalau namaku sebenarnya Rukia, tetapi aku memintanya untuk mengnalkanku sebagai Lucia… jadi kamu juga harus memanggilku dengan nama Lucia…"
Mendengar jawaban Rukia, Ichigo tertawa, "mungkin dengan seperti ini kamu bisa memaafkannya… kita harus makan siang bersama, masih banyak hal yang ingin aku bicarakan…" Ichigo menutup laptopnya dan beranjak berdiri.
Rukia ikut berdiri dan Ichigo merangkulnya, "Apa kamu makin pendek Rukia? Hahaha…" Rukia langsung menyikut Ichigo saat mendengar tawanya yang terbahak, "Awas kau…" ancamnya.
"RUKIAAAA!" langkah mereka berhenti ketika Renji tiba tiba masuk ke ruangan meeting dengan wajah panik, "ah… maaf… aku kira kamu hilang makanya aku panik… maaf mengganggu, silahkan lanjutkan aktivitas kalian…" Renji kembali dengan jalan mengendap.
Rukia menggeleng melihat prilaku sahabatnya selama ia di Australia, "Dasar…"
Pada jam ini, Matsumoto menjadwalkan Hitsugaya untuk menjemput Ichigo di Sky-e, kantor dimana tempat Rukia bekerja. Saat mobilnya berhenti, matanya tertarik pada orang yang baru saja melewati mobil tersebut, ia tau itu Rukia, itu pasti Rukia, Hitsugaya benar-benar yakin walaupun potongan rambutnya sedikit berbeda, tapi apa yang sedang ia lakukan disini? Pikirnya.
Hitsugaya turun dari mobilnya dan mulai mengejarnya, ini adalah kesempatannya, dan ia tidak tau kapan lagi ia bisa bertemu dengan Rukia.
"RUKIA!" seru Hitsugaya yang membuat Rukia langsung menolehkan kepalanya.
Menyadari kehadiran Hitsugaya, Rukia mempercepat jalannya agar Hitsugaya menganggap bahwa orang yang ia panggil sebagai Rukia bukanlah Rukia, walaupun ia menyadari kebodohan yang ia lakukan, menengok saat Hitsugaya meneriakan namanya, ini adalah pertama mereka bertemu setelah 4 tahun tidak bertemu, maksudnya bukan sebagai Hitsugaya dan Lucia, melainkan Hitsugaya dan Rukia.
Namun ternyata perkiraannya salah, Hitsugaya tetap percaya bahwa perkiraan benar dan menarik lengannya dari belakang, "Lepaskan!" sentak Rukia pada pemilik tangan yang tengah menariknya.
"Rukia… kamu tidak mau mendengarkan aku? Bahkan setelah 4 tahun kita tidak bertemu?" lirih Hitsugaya tanpa melepaskan genggamannya pada Rukia, ia telah membuat kesalahan fatal karena membiarkan Rukia pergi tanpa penjelasannya, nomor handphonenya diganti dan e-mail lamanya dinonaktifkan. Yah… meski 4 tahun telah berlalu, ia tidak pernah tidur nyenyak memikirkan gadis yang dikenalnya semenjak taman kanak-kanak ini. Kali ini dia tidak akan membiarkannya pergi, untuk kedua kalinya.
"Aku bilang lepas… biarkan aku pergi…" tegas Rukia tanpa menatap Hitsugaya, dia benar-benar ingin kabur namun genggaman Hitsugaya terhadap lengannya begitu erat.
"Aku telah membuat kesalahan fatal pada waktu itu, menuruti agensiku dan melupakan perasaanmu… bahkan tidak mengejarmu untuk memberikan penjelasan, namun asal kamu tau, bahkan hingga saat ini aku tidak memiliki perasaan pada Hinamori…" tanpa menghiraukan permintaan Rukia, Hitsugaya mulai menjelaskan.
Tidak dirasanya lagi perlawanan dari Rukia, tanda bahwa ia mendengarkan. Seselesainya Hitsugaya berbicara Rukia mendengus sinis, "Itulah keahlian lelaki jaman sekarang… dan aku percaya hal itu juga yang membuatmu dapat menjadi artis besar… acting…" ganggaman Hitsugaya merenggang tepat setelah Rukia mengatakan kata 'acting' di hadapannya, ia tidak menyangka, apa yang telah ia perbuat banyak membuat gadis di hadapannya ini berubah.
Rukia langsung menarik lengannya dari genggaman Hitsugaya dan pergi tanpa melihat ke belakang. Bertemu dengan Hitsugaya sebagai Rukia hanya membuatnya ingin menangis karena mengingat masa lalu.
"Aku gagal…" Hitsugaya menyesap kopinya dengan wajah murung, "Aku mengubahnya dan dia tidak memaafkanku… menurutmu apa yang harus kulakukan?"
"Kamu bertemu dengannya?" tanya Ichigo pura pura tidak tahu jika Rukia bekerja di kantor yang baru saja ia singgahi dan Hitsugaya mengangguk.
Ichigo menatap sahabatnya dengan tatapan kasihan, ia akui ini kesalahannya, namun ia juga telah melihat betapa berusahanya Hitsugaya untuk meminta maaf pada Rukia, nyaris setiap hari ia mengirimi pesan singkat pada Rukia namun tidak ada jawaban karena fakta bahwa ia telah mengubah nomor handphone dan e-mailnya. Berhenti dari situ, Ichigo tau sahabatnya tidak pernah berhenti memikirkan Rukia, baik melalui tatapannya pada Rukia pada saat ia melakukan skype dengan Rukia ataupun saat Hitsugaya melihat photo lama yang masih disimpannya. Hitsugaya Toushiro masih mencintai Kuchiki Rukia.
"Jangan menyerah kawan!" kata Ichigo menepuk pelan punggung Hitsugaya, "ini semua butuh proses…"
"Oh ya, besok aku akan diundang ke majalah Sky-e untuk wawancara, kau juga ikut?" tanya Hitsugaya, mengalihkan pembicaraan yang ada.
Ichigo menggeleng, "Aku photographermu, bukan managermu… aku juga perlu jalan jalan Shiro…"
Hari terasa begitu panjang bagi Hitsugaya karena memikirkan apa yang baru saja ia alami kemarin, ia harus bergerak cepat karena ia tidak memiliki banyak waktu, ia harus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk memohon maaf pada Rukia. Apalagi dengan kejadian kemarin, ia tidak bisa pulang dengan tenang tanpa membawa maaf dari Rukia.
"Kita sampai…" lamunannya terhenti ketika ia sampai di tempat yang ia tuju, Matsumoto bersiap, menyelipkan tas di lengannya dan keluar dari mobil. Menyadari Matsumoto telah membukakan pintu untuknya, ia keluar dan mengikuti jalan managernya menuju ruangan dimana ia akan diinterview, memang, di depan pintu masuk sedang cukup ramai dengan fans-fans yang ingin bertemu dengannya tetapi ada body guard yang membuatnya lebih mudah untuk masuk.
"Biarkan Rukia yang mengerjakannya…" perhatian Hitsugaya teralih ketika mendengar nama Rukia disebut, ia memasukan tangan pada jasnya dan mendengar lebih jauh. Ternyata gadis itu memang bekerja di kantor ini… Hitsugaya mengangguk-ngangguk sendiri mendengarnya.
"Tapi Mr. Urahara bilang dia sedang mengerjakan tugas akhir, kau tau sendiri kan Rukia sudah dia anggap sebagai anaknya, kalau kita seenaknya menyuruh dia, aku tidak yakin kita akan bekerja lebih lama disini, lagipula dia sudah mengurus pemotretan Hitsugaya Toushiro, kamu masih mau menyuruhnya?" alis Hitsugaya terangkat ketika ia mendengar bahwa Rukia tengah mengurus pemotretannya, benarkah itu? Kenapa dia belum bertemu dengannya? pikirnya dalam hati.
Pikirannya berhenti ketika Matsumoto memanggilnya berkali kali, "Toushiro? Kamu tidak apa apa? Kamu bisa melakukan ini? Interview akan segera dimulai." tanyanya dengan wajah heran.
Ia tersenyum dan mengangguk, "Aku tidak apa-apa…" jawabnya untuk meyakinkan managernya, dan memulai interviewnya.
"Matsumoto…" panggil Hitsugaya saat sudah sampai di hotel, "aku tadi dengar dari karyawan Sky-e bahwa ada karyawan bernama Rukia bekerja untuk kita, apakah itu benar?" tanyanya.
"Hmm… Setauku, dia photographer magang yang memang kita pilih langsung, dia meminta kami untuk memanggilnya dengan nama… ah! Lucia! Kamu ingat dia? Dialah Rukia…" mata Hitsugaya melebar ketika mendengar jawaban Matsumoto, jadi selama ini? Orang yang selalu berbicara gelagapan dengannya adalah Rukia?
"Begitu rupanya…" Hitsugaya menghela nafasnya, "dia bahkan sampai mengubah penampilannya agar aku tidak mengenalnya…" gumamnya, "terima kasih Matsumoto"
Matsumoto mengerutkan alisnya tanda ia tidak mengerti, namun karena ia telah cukup mengenal bossnya, ia tidak akan bertanya, karena ia tahu tidak akan ada jawaban dari pertanyaannya.
Keesokan harinya, seperti yang telah dikatakan Renji, Rukia pergi ke pantai Manly sendiri, ia tidak bisa terus merepotkan sahabatnya tersebut, ini adalah pekerjaannya dan ia harus bersikap profesional karena telah menandatangani kontrak, lagipula Renji sudah memberinya jalan keluar akan masalahnya, jadi ia tidak boleh merepotkan dia lebih jauh.
"Kenapa tempat pemotretan sepi, apakah aku telat?" gumam Rukia pada dirinya sendiri, ia melihat ke arah sekitar namun belum ada satu pun kru yang datang, ia melihat jam namun waktu masih menunjukan pukul sembilan tiga puluh, artinya masih tiga puluh menit lagi sampai pemotretan dimulai.
Rukia mulai berjalan, sambil melihat ke arah sekitar siapa tau ada kru yang dikenalnya sedang melintas, namun hasilnya nihil. Yang ada ia diteriaki orang-orang karena terus berjalan padahal lampu lalu lintas sedang menunjukan warna hijau.
"Aaaaaaaa!" ia hanya bisa teriak karena kekagetannya melihat mobil mobil yang melaju ke arahnya.
To Be Continued
Semoga kalian suka yaa :) Aku udah nulis beberapa chapter ke depan karena aku udah libur, jadi mudah-mudahan aku bisa cepet nyelesain cerita ini dan updatenya ga ngaret ngaret lagii...
Sekarang aku mau balesin review yaa
: Maaf banget aku baru update . mudah-mudahan kamu suka ceritanya yaa ^^
Snow: Mungkin jawaban Snow ada di chapter ini, karena di chapter ini, mereka mulai saling ketemu, maaf ya updatenya lama .
Rin: Ini udah di lanjut^^ maaf ya updatenya lamaa .
Terima kasih karena udah mau review cerita Sequinn, please review untuk saran cerita ke depannya :) Sekali lagi terima kasih^^
