3

Fools

.

.

.

Luhan tak mengerti apa yang terjadi. Ia merasa setengah sadar, perasaan sakit, sedih dan terkejut datang tanpa jeda. Ia hanya bisa terisak, tanpa tahu mengapa dan apa yang ia tangisi. Semuanya sangat tiba-tiba hingga ia bingung, apa yang sebenarnya terjadi.

Berbagai pertanyaan menghantam pikirannya, tak mengizinkannya untuk bernafas sejenak dan menenangkan batin.

"Turunlah."

Luhan tersentak mendengar suara itu. Tanpa kata ia meraih tasnya dan turun, menatap lemah pada Shia yang masih lelap di gendongan Sehun. Mereka masuk tanpa suara. Sehun menyamankan Shia ke dalam balutan selimut hangat setelah melepas sepatu dan jepit rambutnya.

Semua barang bawaan sudah dibawa masuk, tergeletak diam di atas meja, dan Sehun menemukan Luhan masih berdiri kaku.

"T-terimakasih." Suara itu bergetar. "Kau bisa pulang. Hati-hati di jalan."

"Kau tidak ingin menangis?" Luhan tersentak mendengar pertanyaan itu, ia mengangkat wajahnya dan mendapati Sehun tengah menatapnya dengan tatapan datar yang tidak ia kenal. Luhan menggeleng lemah meskipun dadanya sudah sangat sesak, serasa ingin meledak.

Tenggorokannya tercekat menyakitkan, namun ia berusaha mengelak. Berusaha tak peduli meski itu malah membuatnya makin tersakiti.

"Apakah pria brengsek itu ayah anakmu?"

Luhan memalingkan wajah dengan air mata meleleh. "Hentikan omong kosongmu. Dia bukan—" Luhan tercekat isakannya sendiri. "Dia bukan—" Mata basahnya makin perih.

"Kau pikir kau bisa membodohiku?"

Luhan tersentak saat Sehun merengkuhnya ke dalam pelukan. Sebuah pelukan yang erat, begitu kuat sampai Luhan merasakan tulangnya nyaris remuk. Tapi pada akhirnya, ia menyerah. Tangisan mulai terdengar begitu menyakitkan. Tangan ringkih mencengkeram erat kemeja yang mulai membasah.

Luhan memejamkan matanya, sepenuhnya menumpukan berat tubuh pada pria yang memeluknya ini. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada keras yang bernafas tak teratur itu. Tak ada usapan menenangkan baik di punggung ataupun puncak kepalanya, namun Luhan merasa ia lebih baik dengan itu semua. Suaranya ia tahan mati-matian, menyisakan isakan yang mencekik nafas.

"Kenapa dia harus datang…" Luhan tanpa sadar mengucapkan pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di pikirannya. "Mengapa setelah sekian lama dia datang, mengapa dia datang…" Luhan meracau, tak tahu mana yang harus ia keluarkan lebih dulu untuk melegakan dada. Tubuhnya kaku, menahan isak dan perasaan sakit yang begitu dalam. Ia merasa begitu lelah.

Entah berapa lama waktu yang ia habiskan untuk menangis dan memberi pukulan lemah pada Sehun, ia jatuh dalam ketidaksadaran dengan nafas berkejaran. Bebannya terlalu berat dan ia tak punya tenaga tersisa untuk menahannya.

Sehun melepaskan pelukannya perlahan, lantas menatap tak suka pada wajah Luhan yang basah dan memerah. Tangannya bergerak menyentuh bagian bawah mata yang membengkak. Ekspresi wajahnya tak terbaca. Ia menggendong tubuh ringkih Luhan, membawanya ke kamar di pintu kanan. Ia mengedarkan pandangan pada ruangan kusam itu, ranjang dengan kasur tipis dan sprei pudar, lemari tua yang mungkin hancur jika Sehun melampiaskan kemarahan, dan kondisi yang benar-benar menyakitkan mata.

Sehun menyeringai tipis. "Berniat baik setelah semua penderitaan ini?" Kekehan sinis mengisi keheningan.

Sehun membaringkan Luhan ke ranjangnya dan menyelimuti wanita itu dengan selimut seadanya. Ia duduk di sisi ranjang, mengusap perlahan rambut Luhan yang lepek karena keringat. Ia merendahkan tubuh dan mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan kecil pada bibir yang dingin dan memucat itu. Telapak tangannya mengelus pelan sisi wajah Luhan yang tirus. Lumatan kecil diberikan dengan hati-hati, namun begitu terlihat Sehun menahan diri mati-matian.

Tautan itu terlepas bersamaan dengan suara dering panggilan.

"Semuanya berjalan lancar? Apakah Luhan—"

"Pria itu datang." Suara di seberang sambungan terpotong diam. "Katakan pada Tuan Seo untuk memaksa wanita tua itu menerima uangku."

"Bagaimana keadaan Luhan?"

Sebelah tangan yang bebas mengelus sisi wajah Luhan perlahan, merapikan anak rambut yang berantakan. "Dia pingsan." Jawabnya singkat, karena setahunya, Luhan tak akan bisa tertidur dengan perasaan sekacau itu.

"Tinggalkan dia sekarang."

Sehun mengulas senyum separuh mendengar nada penuh penekanan itu. "Tenanglah, aku tidak akan mengambil kesempatan lebih jauh." —setidaknya hanya untuk saat ini.

"Kau harus tahu di mana batasanmu saat ini."

Panggilan itu terputus.

"Tidurlah sejenak, Luhan…"

Sebuah kecupan kecil mendarat di kening berkeringat.

.

.

.

Jika seseorang bertanya, apakah Luhan masih menyimpan perasaan, atau apakah Luhan masih menaruh harapan pada seseorang di masa lalu. Jawabannya tidak. Ia belajar untuk menatap ke depan, meninggalkan semua kenangan pahit di belakang pintu memori yang ia kunci mati. Semua orang yang berkata bahwa mereka mencintainya meninggalkannya, membuangnya saat ia sendirian dan sangat membutuhkan.

Luhan pastilah dungu jika masih menengok kebelakang, berharap suatu saat mereka akan kembali.

Ia masih hidup, ia masih bekerja keras, ia masih menangis dan tertawa sampai saat ini hanya untuk sebuah alasan sederhana; kebahagiaan buah hatinya. Luhan bertahan untuk memastikan putri kecilnya mendapatkan hidup yang layak, mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintainya, tanpa perlu mencecap semua rasa sakit yang ia rasakan. Cukup dirinya, ia hanya ingin meninggalkan kebahagiaan untuk matahari kecilnya.

Tapi, ternyata kehidupan masih belum sebaik itu padanya. Masih belum cukup puas membuatnya terombang-ambing.

Pagi itu Luhan terbangun dalam kondisi lelah, ingatan mimpi samar berisi kilas balik masa lalu berputar di kepalanya. Membuatnya mendesah pelan. Apa yang terjadi semalam? Pria brengsek datang dan bertindak seakan dia seorang malaikat, dan ia menangis di pelukan Sehun?

Oh, astaga… Apa yang ia lakukan semalam?

Luhan hanya menjawab sekenanya saat pagi itu Shia bertanya tentang hari kemarin. Menyematkan senyum yang ia usahakan terlihat senormal mungkin. Luhan hanya berharap, pria brengsek itu mundur dan tak lagi mendekatinya. Luhan tak akan memaafkannya jika pria itu datang menemui putri kecilnya.

Berniat baik, dia bilang?

Air mata Luhan meleleh mengingat kalimat itu. Setelah tujuh tahun berlalu, niat baik itu baru datang? Betapa menggelikan, hatinya sudah membatu untuk menerima niat baik itu.

"Luhan, kau baik-baik saja?" Suara Kyungsoo membuyarkan lamunannya. Luhan hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang terlontar entah keberapa kalinya hari ini.

"Tidakkah kau lelah bertanya seperti itu?"

"Aku tak akan mengulang kalimat seperti kaset rusak jika kau menjelaskan padaku apa yang kau maksud dengan pria brengsek itu datang!"

Kyungsoo nyaris berteriak, tangannya meremat gagang kayu yang bersentuhan dengan krim beraroma bawang yang meletup di atas api kompor. Pagi ini Luhan datang dengan mata sedikit membengkak dan raut wajah kuyu yang mengerikan dan Kyungsoo tahu itu bukan tidak apa-apa. Luhan hanya berkata 'pria brengsek itu datang' setelah Kyungsoo bertanya mengapa.

Luhan mendesah lelah dan Kyungsoo merasa sedih dengan itu.

"Aku baru saja membenahi hati, mencoba menerima Sehun; Shia menyukainya entah karena apa dan kau tahu seberapa penting kebahagiaan Shia bagiku. Kami menghabiskan waktu bersama kemarin, dan di penghujung hari, pria itu datang." Luhan menjeda, ia menunduk membuat wajahnya terbingkai bayangan gelap.

"Dia berkata dia berniat baik dengan membayar uang sewa rumah; kau pikir setelah nyaris tujuh tahun berlalu semuanya akan menjadi berarti? Aku seakan ingin berteriak padanya, semua itu tak akan berarti apapun. Apa maunya?! Aku tidak bisa mengenyahkan pikiran bahwa dia datang untuk mengambil Shia dariku; dan tidak; tidak setelah ucapan menyakitkannya dulu."

"Dia bukan anakku, Luhan! M-malam itu aku yakin aku tidak menidurimu! Kita mabuk, bukan? Ya, kita mabuk. Dan bukan tidak mungkin kau tidur dengan laki-laki lain."

Oh, Luhan mendesis sinis mengingat kalimat pengecut itu.

Luhan merasakan rematan pelan pada sisi bahunya, dan dia tersenyum kecut melihat wajah sedih Kyungsoo. Luhan melepaskan tangan itu dan kembali memberi fokus ke kompor yang menyala. "Tenanglah, Soo. Aku akan baik-baik saja."

Luhan tahu, dia menjadi pembohong untuk kesekian kali.

.

.

.

Seorang pria berambut hitam gelap duduk di kursi kebesarannya dengan tangan memegang bindel berkas yang cukup tebal. Matanya menatap dingin pada foto yang ada di halaman pertama berkas itu, di samping data diri dan deret detail lainnya. Sementara itu, seorang pria jangkung berjubah putih dengan stetoskop mengintip dari saku berdiri di sampingnya dengan raut wajah datar, meski tak menyembunyikan sepercik rasa khawatir di sana.

"Seung Ho, Yoo. Semuanya ada di sini, Park Chan Yeol?" Suara rendah itu membisik. Penekanan pada namanya membuat pria jangkung itu meremat kepalan tangan.

"Ya, Paman Seo yang menyiapkannya dan setelah aku periksa, tak ada yang tertinggal. Catatan kepolisian ada di berkas selanjutnya." Chanyeol tampak gelisah dengan kalimatnya, dan Sehun bertahan dengan seringai tipis di sudut bibir.

"Dia penganggu." Kata Sehun tanpa nada berarti. "Apa yang sebaiknya aku lakukan?" Sehun membanting pelan berkas itu dan beralih menatap Chanyeol; seolah benar-benar bertanya. Namun sorot matanya berkata lain.

Chanyeol bertahan dengan wajah datarnya. "Terlalu cepat, kali ini saja," Chanyeol menyembunyikan nada memohonnya di balik kalimat persuasif, tapi apa itu berarti Sehun yang sedang ada di hadapannya ini tidak akan menyadarinya? "Biarkan semuanya berjalan seperti seharusnya. Luhan bukan wanita yang suka menilik kebelakang, kau tahu sorot matanya benci dengan pria ini."

"Tapi bukan berarti Yoo Seung Ho tidak akan mengacaukan semuanya. Apa yang akan dipikirkan gadis kecil itu ketika tahu sosok yang ia tunggu selama ini muncul begitu saja?"

Ingatan Chanyeol terlempar pada putri tunggal Luhan itu.

"Kau tahu, hal yang paling fatal adalah menganggap remeh seseorang. Dan ketika dia menyerang balik saat kau lengah, dan kau kalah,"

Sebuah pena tergenggam dalam tangan pucat, suara keretak kecil terdengar sebelum pena hitam itu meluncur cepat dan menancap pada lukisan di dinding seberang. Lukisannya sendiri, yang terpajang angkuh dengan nuansa smoke-white. Mata pena itu menancap tepat di tengah dahi, dan Chanyeol hanya menatap tanpa arti.

"lantas apa yang kau dapat?" Sehun meraih pena lain dan menulis beberapa deret kalimat di sebuah buku bersampul perak abu-abu. Tulisan itu selesai, buku tertutup dan Sehun menatap Chanyeol dengan sudut bibir terangkat.

"Suruh Paman Seo mengganti lukisan itu, aku ingin latar belakangnya menjadi hitam. Dan jika dia bertanya," Sehun mengalihkan pandangan ke buku perak abu-abu yang baru saja ia tepikan. "katakan semuanya, apa adanya. Biarkan dia tahu. Dan kita lihat apa yang akan dilakukannya. Kau bisa pergi."

Tanpa suara Chanyeol melengang pergi, meninggalkan Sehun yang kini tengah menyandarkan tubuh dengan mata terpejam. Ruangan gelap itu hening selama beberapa saat, hanya hembusan halus udara dingin AC yang terdengar bersama detikan jarum jam.

Mata Sehun terbuka tiba-tiba. Nafasnya sedikit terengah dan ia langsung mengambil buku perak abu-abu yang ada di atas meja. Ia membukanya dan membaca isinya lembar demi lembar. Raut wajah gelisahnya berangsur datar, dan ketika ia melihat tancapan pena pada lukisan dinding seberang, ia memejamkan mata dan mendesah panjang.

Sehun bangkit, menyambar jas yang tersampir berikut ponsel dan kunci mobil. Langkah cepat terdengar bersama debaman halus dan suara passcode terkunci.

Sehun memanggil seseorang dengan ponselnya.

"Chanyeol."

Desahan terdengar dari seberang telefon dan seiring kalimat yang meluncur dari sana, Sehun mempercepat langkah.

.

.

.

Shia tak pernah memberi tatapan iri dan sedih ketika teman-temannya dijemput ayah mereka, atau berdua dengan ibu sekaligus. Ia tak memberi tatapan iri, setidaknya meski hatinya sedikit tercubit oleh perasaan jahat itu. Ia tahu keadaan keluarganya, dan berusaha tak meminta lebih.

Walau sejujurnya, jika ia ditanyai dan dipaksa memberi jawaban jujur; mungkin ia akan berteriak ia menginginkan sesosok pria dewasa mengusak rambutnya, membacakan cerita sebelum tidur bersama Mamanya, atau sekadar hanya mengatakan "Baik-baik di sekolah, jadi anak baik yang pintar, oke?". Dalam bayangannya, mungkin menyenangkan mendengar kalimat itu meluncur dari orang selain ibunya di rumah.

Atau mungkin, saat seorang teman lelaki membuatnya menangis, sosok pria itu akan menggendongnya, menenangkan tangisannya sembari memarahi teman lelakinya yang nakal itu. Shia tersenyum kecil. Ia duduk di bangku tunggu depan menunggu ibunya menjemput.

"Shia sedang menunggu siapa?" Suara cempreng anak laki-laki membuat Shia menoleh. Bibirnya mencebik lucu ketika salah satu teman kelasnya mendekat dengan wajah menyebalkan dan permen lolipop mahal yang seolah tengah dipamerkan.

"Menunggu Mama." Jawab gadis kecil itu sembari memalingkan wajah. Pertanyaan itu tak pernah berakhir dengan baik.

"Mama? Kau selalu menjawab dengan Mama saat aku tanyai, memang ayahmu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, ya? Hee, kasihan sekali. Ayah dan ibuku selalu menjemputku bersama, dan mereka akan mengajakku jalan-jalan sampai malam."

Shia merengut, matanya melotot kecil, mencoba menahan air mata yang hendak tumpah. "Pasti Seojun tidak punya waktu mengerjakan tugas dari Kim Saem." Shia mencoba tegar dengan ucapannya, walau sebenarnya sangat terdengar gadis yang rambutnya terikat berantakan itu menahan tangis.

Seojun jahat, batin gadis kecil itu.

Anak lelaki itu melepas emutan permen lolipopnya dan mendekat dengan senyuman jahil menyebalkan. "Tidak, ayah selalu punya waktu untuk mengajariku mengerjakan tugas dan selalu benar semua. Apa Shia juga begitu? Apa ayah Shia juga mengajari Shia mengerjakan tugas?"

Shia menggeleng sangat pelan. "Mama yang mengajari Shia."

"Hee… Mama lagi? Shia selalu bercerita tentang Mama terus, memangnya—"

"Apa Shia menunggu terlalu lama? Maafkan Papa, ya?"

Shia terkejut ketika ia diraih kedalam pelukan seseorang dan keningnya dikecup pelan. Tunggu, siapa tadi? Shia membulatkan matanya ketika pria yang mempunyai mata tajam itu tengah tersenyum hangat.

"Pa—"

Pria itu mengedipkan sebelah matanya, dan Shia langsung berbinar. Matanya berkaca-kaca dan percikan senang luar biasa terbias dari sana.

"—pa. Papa."

Shia menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu kokoh berbalut setelan biru navi yang elegan. Gadis kecil itu berbisik. "Paman Sehun, terimakasih, ya?"

Sehun tersenyum kecil, mengangguk tanpa suara.

"Oh, apa kau teman Shia?" Sehun menyapa anak lelaki kecil yang nampak bengong itu. Sudut bibirnya terangkat, sesekali menjahili anak kecil tidak akan terbilang sebagai tindak kriminal, kan? Ia mendengar percakapan polos dua anak kecil ini tadi.

"E-eum, namaku Kang Seojun."

"Siapa yang menjemputmu?" Sehun bermain dengan nada suara dan raut wajah mengintimidasi, ia nyaris terkekeh melihat anak lelaki di depannya sedikit menundukkan wajah.

Sehun mendapatkan jawabannya ketika wanita dengan balutan pakaian konservatif mendekat terburu. Wanita itu memberi senyuman yang sejujurnya terlihat sedikit mengerikan karena terlalu lebar dan dibuat-buat.

"Ah, apakah Seojun melakukan sesuatu pada putri Anda, Tuan?" Wanita itu tampak berbinar dan nada bicaranya. Sehun tersenyum sopan meski sudut bibirnya sangat kaku.

"Tidak, Nyonya Kang."

"Saya tidak pernah melihat Anda sebelumnya, apakah ini pertama kalinya Anda menjemput putri Anda?"

Sehun membenarkan posisi Shia dalam gendongannya, menepuk pelan punggung kecil itu dengan ringan. Memberi gestur menenangkan karena ia mendengar isak tertahan yang sangat perlahan. Sehun tersenyum samar.

"Saya terlampau sibuk akhir-akhir ini hingga membiarkan Shia dijemput Mamanya. Shia, sapa Nyonya Kang, heum?"

Sehun merasakan bahunya diusak wajah mungil itu, dan senyuman teduh lolos dari bibirnya. Sementara wanita bersama Nyonya Kang di depannya ini nampak terkejut dengan kalimat yang ia ucapkan. Shia mengangkat wajahnya, sedikit berbalik dan menatap wanita itu dengan senyum lebar yang cerah dan manis.

"Selamat siang, Nyonya Kang."

"Apakah Anda suami Nyonya Luhan?!" Wanita itu bertanya kaku, raut wajah tak tercaya terlukis di sana dan Sehun sedikit tak suka bagian wanita itu mengabaikan sapaan Shia.

Sehun hanya memberi senyum kalem sebagai jawaban. Membiarkan wanita di depannya ini berspekulasi sendiri dengan apa yang ia lihat dan dengar. Karena jika ia dengan tegas menjawab ya, bukan tidak mungkin Luhan akan marah jika mengetahui hal ini. Dan Sehun tak tahu harus mengatakan apa sebagai penjelasan.

"Kalau begitu kami permisi dulu. Selamat siang."

"A-ah, silakan. Selamat siang."

Mereka berdua beranjak dari sekolah dasar itu menuju mobil yang sudah terparkir apik. Shia tak dapat menyembunyikan senyuman dan Sehun hanya bisa terkekeh karenanya. Mereka masuk dan begitu mendapat terpaan sejuk dan aroma harum yang lembut, Shia mendesah suka. Sehun baru saja akan memasangkan sabuk pengaman, namun Shia sudah duduk manis dengan sabuk terpasang rapi.

"Kenapa Paman Sehun yang menjemput Shia?"

Sehun menjalankan mobilnya membelah jalanan kota yang ramai kendaraan.

"Paman sudah bilang pada Mamamu, Shia keberatan?"

Shia menggeleng serta merta, tak pernah dan tak akan pernah keberatan. Cengiran khas terbit dan Sehun mendaratkan cubitan gemas pada pipi berisi Shia. "Shia tidak keberatan, kok. Apa Mama sedang sibuk di sana?"

"Hmm, sepertinya…" Meski sejujurnya, ia berpikir Luhan sedang tidak ingin banyak menampakkan diri di tempat umum.

"Hei, Shia, apa tidak ada latihan paduan suara sore ini?"

Shia menggeleng. "Tidak ada. Kata Kim Saem kami membutuhkan waktu istirahat, katanya tidak baik jika setiap hari kami menyanyi. Kenapa Paman Sehun bertanya begitu?"

Sehun mengerling. "Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat setelah ini? Kita akan pergi kemana pun yang Shia inginkan."

Sehun tak kuasa menahan kekehan renyah saat melihat anggukan semangat Shia. Sehun mengelus puncak kepala Shia dengan sayang. "Shia mau!"

Sejujurnya Sehun tak pernah punya referensi kemana ia akan pergi dengan seorang gadis kecil bersamanya. Ajakan itu meluncur spontan karena tiba-tiba ia merasa ingin menghabiskan waktu dengan Shia; tidak setiap waktu Luhan dengan ikhlas hati mengiyakan tawaran menjemput putri kecilnya. Semua hal yang gadis kecil ini lakukan selalu mengundang senyuman dan juga rasa sendu dalam hatinya.

Mungkin karena ia seperti bercermin dengan masa lalunya ketika melihat Shia?

Pertanyaan tentang tempat pertama yang ingin dikunjungi terlontar, dan Sehun tersenyum mendengar jawaban yang ia dapatkan.

"Toko buku. Shia ingin membelikan buku untuk ulang tahun Mama nanti."

Sehun membawa Shia ke toko buku besar di salah satu pusat perbelanjaan dan sedikit banyak ia kagum melihat Shia tampak tak tertarik dengan deret toko yang memajang berbagai benda yang dilewatinya. Sehun membuat catatan kaki kecil dalam benak; jika gadis kecil ini sudah memikirkan ibunya, semua hal yang ada di sekitarnya mungkin hanya memiliki peran sebagai pelengkap. Persis seperti Luhan.

Shia tampak kebingungan saat tiba di sana, pengunjung tampak tumpah ruah dan rak-rak tinggi memenuhi pandangan. Sehun segera menggendong gadis manis itu dan mendapatkan kecupan kecil di pipi. Sehun terkekeh dan mencubit pipi gembil itu.

"Buku seperti apa yang ingin Shia beli?"

"Heungg, apa Paman Sehun bisa membantu Shia? Shia tidak tahu harus membeli buku seperti apa, karena setiap Shia bertanya Mama selalu menjawab suka semuanya."

Rengutan lucu di bibir merah ceri itu membuat Sehun gemas. "Baiklah, kita berkeliling sejenak. Oke?"

Mereka berputar cukup lama mencari buku nyaris ke semua bagian dan selama itu pula Shia selalu menggeleng saat Sehun menyodorkan beberapa judul buku. Mereka berhenti sejenak di bagian buku bergambar. Shia tampak sangat antusias dengan apa yang di bacanya. Dan Sehun merasa dirinya sangat ringan melihat antusiasme gadis kecil itu.

"Paman Sehun, bagaimana jika kita membeli buku itu?"

Shia menunjuk buku resep dengan kover menggiurkan di salah satu rak dan seketika mereka berpandangan. Kekehan kecil berbeda warna suara terdengar di tengah keramaian. Mengapa mereka seolah lupa dengan pekerjaan Luhan berkutat dengan pisau dapur dan harum rerempah?

Buku tebal bersampul mengkilat itu diam di pelukan Shia dan Sehun masih betah menggendong; berat badan Shia tak ubahnya sekarung kapas bagi pria dewasa sepertinya.

"Apa Shia ingin beli buku yang lain untuk Shia sendiri?"

Shia menggeleng kalem dan memberikan cengiran khasnya. "Tabungan Shia tidak akan cukup."

Sehun mengulas senyum sendu mendengar hal itu, sebelah tangan yang tidak menyangga berat tubuh mengusak rambut Shia yang ikatannya terlepas. "Paman Sehun bisa membelikannya untuk Shia."

"Mama bilang sesuatu akan lebih berarti jika kita membelinya dengan uang kita sendiri, terlebih itu untuk hadiah orang yang kita sayangi."

Oh, darimana gadis kecil ini bisa menyusun kalimat seperti itu?

"Shia bisa menyimpan tabungan Shia untuk besok, dan biarkan Paman yang membayarnya hari ini."

"Tapi—"

"Bukankah tidak baik menolak kebaikan seseorang, heum?" Perintah tersembunyi apik di balik kalimat dan nada persuasif tanpa cacat. Shia tampak ragu dengan ucapannya dan Sehun masih menunggu.

"Shia bisa mengembalikannya dengan cara lain." Sehun berkata pada akhirnya.

"Heung?" Shia memiringkan kepalanya tak mengerti. "Cara lain?"

Sehun mengangguk, mereka berjalan menuju kasir pembayaran di bagian depan toko. Sehun melihat sekilas harga buku yang tercetak pada label di bagian bawah. "Sehari Shia memanggil Paman Sehun dengan sebutan Papa, artinya Shia sudah membayar sepersepuluh harga buku ini, bagaimana?"

Sehun tak tahu mengapa ia melakukan hal konyol itu, tapi ia merasa benar ketika melihat Shia terkikik ceria. "Paman Sehun benar-benar suka dengan Mama, ya?"

Sehun hanya tersenyum dan mencuri cubitan gemas. "Sudah berapa kali Shia menanyakan hal yang sama, heum?"

Shia menggeleng kecil dengan senyuman manis. "Memangnya Paman Sehun menyayangi Shia?"

Pertanyaan sederhana itu terlontar dengan nada candaan, tapi dari ekor matanya Sehun tahu benar; banyak harapan yang ada di sana dan tatapan mata itu tak pernah bisa berbohong. Sehun menatap ke depan, dan tahu Shia masih memperhatikannya.

"Shia tahu, seseorang pernah memberitahu; bahwa ibu dan anak adalah satu pasang yang tak pernah bisa dipisahkan. Jadi, jika Paman mencintai Mamamu, apa Shia masih perlu bertanya apakah Paman menyayangimu atau tidak?"

Sehun menoleh, memberi senyum kecil.

"Sekarang Paman yang bertanya; apa Shia menyayangi Paman?"

Gadis kecil itu terkekeh kecil, lapisan cairan bening membuat matanya berkaca-kaca. "Shia sayang sekali dengan Paman Sehun."

Sehun tertawa dan memberi kecupan kecil. "Kalau begitu, Shia harus memanggil dengan?" Sehun bermain dengan senyuman di bibirnya.

Shia tersenyum lebar sampai membuat ujung matanya menyipit cantik. "Shia ingin es krim setelah ini, boleh tidak, Papa?"

"Oh astaga, kenapa Shia menggemaskan sekali, heum?" Hanya satu alasan yang terlintas di benaknya, ia tak akan melepaskan Shia maupun Luhan kepada siapapun. Sudah sejak lama ia mengklaim sepasang ibu dan anak itu sebagai miliknya, dan cepat atau lambat, hal itu tak akan terganggu gugat.

Mereka keluar dari toko dan sesuai dengan permintaan Shia, mereka beranjak menuju toko es krim yang berada di satu lantai di bawah mereka. Shia tampak betah dalam gendongan Sehun dan Sehun sama sekali tak keberatan, ada sesuatu hangat yang tak ia mengerti menelusup dalam dadanya saat berdekatan dengan gadis berwajah manis ini.

"Es krim apa yang Shia suka? Cokelat? Vanila? Stroberi?" Sehun bertanya sembari melihat papan menu yang terpampang menggiurkan. Seorang gadis berseragam cokelat diam di balik konter denga senyum sopan, menunggu mereka memesan.

"Apa Shia bisa minta es krim rasa matcha?"

Sehun tampak terkejut dengan jawaban itu, setahunya gadis tujuh tahun akan lebih menyukai rasa-rasa dominan manis yang akan terasa menggelitik ketika ia yang mencecap. "Tentu saja. Tapi, matcha? Tidakkah Shia ingin sesuatu yang lebih manis?"

Shia mengulas cengiran manis yang membuat sudut matanya menyipit, dan Sehun mendengar pekik tertahan gadis pelayan tentang 'menggemaskan'. "Kalau begitu dengan saus cokelat dan wafer!"

Sehun meloloskan kekehan kecil. Satu cubitan bersarang di cuping hidung bangir kecil itu. "Satu matcha dengan topping saus cokelat dan wafer, dan satu moccachino tanpa topping."

Mereka duduk di salah satu meja yang ada di bagian luar; Shia berkata sesuatu tentang dekorasi musim semi meriah yang dimulai dari lantai dasar. Shia mengoceh tentang bulan April dan sederet tanggal-tanggal istimewa di dalamnya.

"Mama ulang tahun tanggal 20 April, dan Shia sudah berlatih keras menyanyikan bagian solo milik Shia. Papa harus datang, ya? Menemani Mama dan menyediakan tissue, karena Mama sangat cengeng. Selalu menangis ketika melihat Shia di atas panggung melakukan sesuatu."

Sehun mengangguk kalem, meski perasaannya membuncah mendengar kata ganti yang diucapkan tanpa hambatan; meluncur mulus tanpa beban dari bibir kecil itu. Perasaan ingin memiliki semakin besar, dan Sehun tak tahu sampai kapan ia akan bisa menahan semua ini. Gadis kecil di depannya ini terlihat begitu cerah dan manis, nyaris semua fitur fisik ibunya diturunkan dengan sempurna, terbalut dengan garis wajah yang akan menegas jika Shia menginjak dewasa nanti.

Mungkin tak akan ada yang menyangka, gadis semanis ini tumbuh di lingkungan keras dan berat untuk gadis seusianya. Sehun sekali lagi merasa bercermin dengan dirinya sendiri.

"Lalu, bukankah Shia berkata Shia juga merayakan ulang tahun di bulan April?"

Shia mengangguk pelan, mengemut sendok es krimnya. "Tanggal 16 April nanti. Biasanya Mama akan membuat kue yang saaangat enak saat Shia ulang tahun. Kenapa?"

"Berarti kita bertiga merayakan ulang tahun di bulan yang sama." Sehun tersenyum geli ketika melihat Shia mengabaikan es krimnya, beralih mendekat dengan wajah berbinar.

"Benarkah?" Sehun ingin tertawa sebenarnya, mengapa gadis kecil ini sangat menggemaskan?

"12 April nanti." Mata Shia membulat dengan binar membias. Terlihat sangat cerah dan indah.

"Shia harus membelikan sesuatu kalau begitu…" Shia tampak berpikir sangat keras namun sebelum gadis manis itu menemukan jawabannya, Sehun berkata.

"Bukan membelikan," kata Sehun, ia tersenyum melihat Shia mengerjap. "Buatkan sesuatu, bagaimana? Bunga kertas mungkin?"

Shia memberikan senyuman lebar. "Shia akan membuat yang paling bagus kalau begitu."

"Kalau begitu terimakasih, Sayang…"

Shia terkikik ceria dan Sehun mengulas senyum lembut.

"Es krim Shia masih banyak, heum?"

"Eum."

"Boleh mencobanya?"

"Kalau begitu Shia juga mau mencoba milik Papa."

Mereka menghabiskan es krim masing-masing. Shia baru saja akan bangkit setelah es krimnya habis sampai Sehun menyela lebih dulu. "Shia tunggu di sini sebentar, oke?"

Gadis kecil itu mengangguk patuh, meski tak mengerti mengapa Sehun pergi ke konter dan berbicara dengan nona muda penjaga konter itu. Nona pelayan itu tampak merona dan memekik kecil dan berlari ke dalam dengan sangat cepat, kembali dengan cepat pula dan memberikan sebuah benda kecil.

Saat Sehun kembali dengan benda itu, Shia berbinar. Sehun tertawa tanpa suara. Sehun berdiri tepat di belakang gadis kecil yang kakinya mulai berayun semangat. Sehun menarik lepas karet lembut berpita yang semula mengikat untaian rambut lebat kacau itu, melakukannya sepelan mungkin.

"Itu sisir milik nona tadi?" Shia menggigit bibir menahan senyuman, dan Sehun meliriknya bersama kekehan kecil.

"Hm-mm, bukankah ikatan rambut Shia terlepas? Kalau rambut Shia tertarik, katakan saja, oke?"

"Eum."

Sehun menyisir rambut hitam kecoklatan itu dengan pelan, dan di luar dugaan meskipun tampilannya cukup berantakan Sehun tak kesulitan melakukannya. Menariknya ke atas dan membentuk ponytail tinggi. Sehun tersenyum tertahan melihat apa yang ia lakukan.

"Selesai."

"Terimakasih, Papa." Shia memberikan senyuman lebar yang menggemaskan. Gadis kecil itu tampak sangat bahagia dengan hal kecil yang Sehun lakukan.

Dalam keterdiaman, Sehun tersenyum sendu. Kelegaan kecil menelusup.

"Kita kembalikan ini dan berterimakasih pada nona tadi, oke?"

Shia mengangguk, masih dengan senyuman yang tersemat.

"Jadi, setelah ini Shia ingin kemana lagi? Atau Shia ingin pulang?" Sehun bertanya ketika mereka menuruni eskalator menuju lantai dasar. Shia tampak berpikir, dahinya berkerut kecil dan Sehun nyaris terkekeh.

"Shia?" Sehun menggoyangkan telapak tangan Shia yang ia genggam, membuat gadis kecil itu tersadar dari dunianya sendiri.

"Shia ingin pulang saja, maksudnya ke restoran Nyonya Jang. Ini sudah sore dan Shia takut Mama akan khawatir." Gadis itu tampak kecewa dengan jawabannya sendiri, Sehun tersenyum penuh pengertian. Sebelah tangan yang bebas mengusak puncak rambut Shia sayang.

"Kita masih bisa jalan-jalan lagi lain kali, kita pulang sekarang?" Shia mengangguk dengan senyuman kecil. Ekor rambutnya bergoyang menggemaskan seirama dengan anggukannya.

Sehun membimbing jalan mereka, sesekali menjawab pertanyaan Shia tentang apa yang dilihatnya. Seperti biasa gadis kecil dalam genggamannya ini sangat antusias dengan sesuatu di sekitarnya.

"Papa, kenapa nona itu memandangi kita? Kenapa mereka memotret kita?" Dahi Shia berkerut ketika melihat segerombolan gadis muda tak jauh dari mereka memekik kecil dengan suara tertahan dan ponsel terangkat. Mungkin jika mereka mendekat mereka berdua akan mendengar suara shutter kamera.

Sehun tersenyum kalem, menarik dagu lancip Shia agar menatapnya. "Shia sangat cantik jadi nona-nona itu memotret kita."

Shia terkikik. "Shia cantik seperti Mama, ya?"

"Tentu," Sehun mengangguk dengan senyum tertahan, tergelitik dengan kalimat godaan polos itu. "Shia cantik seperti Mama."

Mereka baru akan mencapai pintu utama ketika tiba-tiba Shia berhenti, diam dan menarik tangan Sehun yang menggenggamnya. Sehun menoleh heran. "Shia, ada apa?"

Air muka Shia tampak mengeruh, alisnya berkerut tak nyaman. Tangan yang menenteng tas kertas berisikan buku terangkat, telunjuknya mengarah ke sesuatu di depan dan Sehun mengikuti pandangan. Sehun tak mengerti mengapa Shia menunjuk seorang pria berpakaian konservatif yang diam di tengah kerumunan. Sepersekian detik, pupil mata Sehun melebar. Sehun refleks menggenggam tangan Shia lebih erat.

"Mengapa paman itu memandangi kita sejak tadi?"

Pria berambut coklat di depan sana terdiam di tengah kerumunan, dengan pandangan aneh antara terkejut, sendu, kerinduan dan hal-hal lain yang membuat nyaris Sehun menggertakkan gigi.

Sehun berusaha menyematkan senyum saat ia menarik dagu Shia. "Seperti tadi, Shia sangat cantik jadi paman itu juga memandangi kita. Jangan hiraukan, oke? Kita harus segera pulang sebelum Mama marah."

Sehun berjalan cepat, nyaris mengabaikan langkah Shia yang terseok di belakangnya. Namun ketika mereka baru semeter melewati pria berambut coklat itu, mereka dibuat terhenti.

"Anda Oh Se Hun, benar?"

Sehun berbalik, tanpa sadar wajahnya mengeras dan memasang raut tak bersahabat yang sangat kental. Sehun mendapati tatapan pria itu tak tertuju padanya, melainkan pada gadis kecil yang ia gandeng. Sehun mengeratkan genggaman.

"Ya." Sehun menjawab singkat dengan tegas. Tak memberi pertanyaan apapun, karena ia ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan pria berambut coklat ini menghentikan dirinya juga Shia. Pria itu beralih menatapnya, senyum kaku terulas.

"Saya Yoo Seung Ho."

Sehun masih bergeming ketika lagi-lagi pria di depannya ini kembali menatap Shia. Sehun baru saja akan menarik Shia mendekat padanya ketika Shia bergerak sendiri, bersembunyi di belakang tubuhnya dengan sebelah tangan memegangi fabrik kemejanya dengan erat. Shia menyembunyikan diri, hanya mengintip dengan sebagian wajah.

Sehun takjub.

Dan pria bernama Yoo Seung Hoo itu membulatkan mata, memperlihatkan kilatan luka di netra kelabu itu.

"Jika tidak ada hal penting yang ingin Anda bicarakan, kami pergi. Bukankah tidak sopan menyela seseorang hanya untuk hal sepele?"

Sehun terang-terangan menggunakan nada tak suka. Ia tak merasakan hal baik di sini, dan yang ada di pikirannya sekarang adalah membawa Shia pergi dari sini secepat yang ia bisa. Ia tak bisa membiarkan pria ini bertindak lebih jauh. Ia tak akan membiarkan satu pun niat yang ada dalam kepala pria di hadapannya ini terwujud.

Yoo Seung Ho kembali menatap Shia, mengabaikan kalimat Sehun yang sarat peringatan.

"Siapa namamu gadis man—"

"Papa," Yoo Seung Ho membulatkan mata, tampak terpukul dan Sehun diam-diam melebarkan seringai penuh kemenangan. "Shia ingin pulang."

Sehun menunduk kecil, memberikan senyuman dan mengelus singkat punggung sempit itu. "Maaf. Kami pergi."

Sehun mengangkat tubuh ringan Shia, menggendongnya dengan lingkaran lengan protektif dan berjalan meninggalkan Yoo Seung Ho di belakang. Tangan Shia melingkar erat di lehernya dan gadis kecil itu berbisik.

"Apa paman itu pria jahat? Menyeramkan, seperti yang Shia lihat di drama sore hari."

Anak gadis manis yang masih punya sisi polos, salah satu sudut bibirnya terangkat.

Sehun menoleh, menatap Shia dengan senyuman bermain di bibirnya. "Mungkin?"

.

.

.

Luhan baru saja akan menekan panel dial pada nomor kontak Sehun ketika suara ceria yang sangat ia kenal masuk ke indra pendengarannya. Membuat beberapa pelanggan yang menyebar di penjuru ruang menoleh ke sumber suara, namun seperti sebelumnya, Luhan tak pernah peduli.

"Mama!"

Betapa manis suara itu saat memanggilnya, Tuhan…

Luhan menyambut Shia dengan pelukan kecil, menyesap aroma rambutnya yang bercampur dengan harum maskulin yang ia kenal. Tanpa sadar Luhan tersenyum tipis pada pria yang berdiri di belakang Shia. Luhan melepaskan pelukan itu.

"Shia menghabiskan waktu dengan Paman Sehun, heum? Kemana saja Shia satu siang ini?" Luhan mencubit hidung bangir Shia dengan gemas, cengiran itu tampak lebih manis dari biasanya.

"Kami ke toko buku, membeli hadiah untuk Mama dan makan es krim. Mama harus ke sana! Es krimnya enak sekali."

Luhan terkekeh, membawa Shia merapat ke tubuhnya sebelum memandang Sehun dengan tatapan melembut. "Terimakasih, Sehun. Aku benar-benar berterimakasih."

Sehun tahu ucapan terimakasih itu tak hanya sebatas untuk satu siang ini, namun untuk hal-hal di hari lalu. Sehun mengulas senyum teramat tipis beserta anggukan. Hatinya serasa disiram air dingin menyadari senyuman wanita di depannya ini terulas tanpa paksaan, bisakah Sehun mengatakannya tulus dari dalam hati?

"Hanya sesuatu kecil yang aku lakukan untuk gadis manis ini."

Shia terkikik, membuat perhatian Luhan teralih. Luhan menatap penuh rasa ingin tahu. "Ada apa? Mengapa Shia tersenyum seperti itu?"

"Tidak ada. Pa—" Shia tampak teringat dengan sesuatu, dan saat gadis kecil itu menoleh ia mendapati Sehun membuat gestur sstt dengan telunjuk dan satu mata berkedip jenaka. Shia mengulum senyuman.

"Paman Sehun membantu Shia memilih buku untuk Mama, dan Mama tidak boleh tahu sampai tanggal 20 nanti!" Shia memeluk tas kertasnya erat-erat dengan raut wajah memperingatkan, membuat tawa Luhan bergemerincing seperti lonceng angin. Sangat manis dan ringan. Adakah hal yang lebih menggemaskan daripada menyembunyikan sesuatu hal yang sudah disebutkan gamblang sebelumnya?

"Baiklah-baiklah. Kita pulang sekarang?"

"Biarkan aku mengantar kalian." Kata Sehun. Luhan mengangguk kecil sebelum mengatakan sesuatu tentang tas di loker dan beberapa perintilan kecil. Shia mengikuti ibunya dengan ocehan ceria, dan Sehun diam di tempat memandangi pasangan ibu dan anak yang serasi itu.

"Tuan Oh? Tuan Sehun? Bagaimana aku harus memanggil?"

Sehun menoleh ketika seseorang mendekat. Seringai sangat tipis terulas tanpa kentara. Bagaimana reaksi Luhan setelah ini? Batin Sehun menggumam kecil.

"Sehun. Panggil aku Sehun." Jawabnya.

Wanita itu, Kyungsoo, tersenyum tipis sambil menghentikan pekerjaannya membersihkan salah meja dari sisa kekacauan pelanggan.

"Aku hanya ingin bertanya satu pertanyaan singkat—lagipula kita belum terlalu mengenal satu sama lain." Sehun diam, mendengar saksama kalimat yang akan diucapkan sahabat Luhan itu.

"Jangan menyia-nyiakan Luhan, ya? Dia wanita sok kuat yang sulit menerima orang baru," Dalam hati Sehun menggumam bahwa ia sangat memahami itu. "tapi melihat ia bisa tersenyum begitu ringan padamu, itu hal yang berat; kau tahu maksudku."

Sehun terkekeh. "Jika kau bertanya apakah aku hanya main-main dengan Luhan, jawabannya tidak." Kalimat itu meluncur mulus, tegas tanpa cacat. "Aku tidak akan membuang waktu untuk seseorang yang tidak aku cintai."

Kyungsoo mengangguk kalem. "Aku memegang ucapanmu."

"Sehun, kita bisa pulang sekarang."

Luhan datang dengan Shia mengekor di belakang. Sehun mengulas senyum tipis.

"Tentu."

Tak banyak pembicaraan yang terjalin selama perjalanan. Shia masih membuka mata dan sepasang orang dewasa itu sepakat tanpa suara tak akan membiarkan Shia mendengarkan obrolan-obrolan yang tak seharusnya didengar.

Luhan tahu banyak sekali yang ingin Sehun katakan padanya, itu tergambar jelas. Luhan nyaris bisa membaca raut wajah itu dengan gamblang, meskipun ada sedikit bagian gelap yang tak ia mengerti sampai sekarang. Sepanjang hari, Luhan merasa gelisah setiap kali lonceng pintu berdenting. Ia akan menoleh cepat jika dalam jangkauan, dalam hati bergumam berharap pria itu tidak datang.

Dan sejujurnya, ia lega bisa pulang dengan sedikit tenang. Mungkin ia harus langsung mengunci pintu begitu ia sampai nanti.

Mobil berhenti, dan mereka turun tanpa suara. Luhan membuka kunci dan mempersilakan Sehun masuk lebih dulu, kalimat tawaran itu meluncur mulus dan ketika Luhan hendak masuk ke ruang dalam entah melakukan apa, Sehun menyela.

"Luhan, tinggallah sebentar," Luhan tertegun ketika wajah tegas itu tak menguarkan kehangatan. "dan Shia, bisakah Shia mandi sendiri sekarang?" Namun saat beralih pada Shia, senyuman kecil tersemat di sana.

"Tentu saja!" Shia berlari kecil masuk ke ruang dalam, dan setelah beberapa saat keheningan. Suara gema nyanyian terdengar samar-samar bersama gemericik air.

Sehun dan Luhan duduk berseberangan, duduk kaku tanpa tergoda untuk merebah ke sandaran sofa. Luhan memalingkan pandangan, dan Sehun masih betah menatap lekat pada wanita di depannya ini.

"Terimakasih untuk hari in—"

"Yoo Seung Ho menemui kami."

Luhan menatap Sehun dengan raut wajah terkejut, bibirnya mulai bergetar dan ia nampak kesulitan berbicara. Sehun menghela nafas pelan melihatnya.

"A-apa mak—"

"Saat aku membawa Shia pulang, dia menatap kami dari kejauhan—atau katakan dia menatap Shia. Dia membuat kami berhenti, memperkenalkan diri dan nyaris berbicara dengan Shia jika Shia tidak mengatakan ia ingin pulang."

Luhan melihat kepalan tangan erat di atas paha Sehun, urat pembuluh darah muncul di sepanjang lengannya yang tak terlindung fabrik kemeja yang digulung sampai siku. Luhan melihat kemarahan di sana.

"Shia ketakutan melihatnya. Apakah dia belum pernah muncul sama sekali tujuh tahun ini?" Sehun tahu apa yang ia katakan adalah pertanyaan retorikal.

Luhan menunduk, menangkup wajahnya dengan dua telapak tangan. "Oh Tuhan…" Luhan membisik.

Luhan mengangkat wajahnya, tanpa peduli mungkin ia terlihat kacau dengan mata mulai memerah. "Apa kau masih menanyakan hal itu setelah melihat seperti apa diriku kemarin?"

Sehun terdiam.

"Aku yang akan menjemput Shia mulai sekarang—"

"Sehun, kau tidak perlu—"

"Dan katakan padaku bagaimana caranya aku tenang jika kalian nyaris diambil dariku?!"

Sehun menyentak kalimatnya, tanpa sadar meninggikan suara. Sehun menarik nafas, memijit hidungnya dengan sebelah tangan dan menatap Luhan dengan tatapan sendu.

"Aku tahu kau belum menerimaku sepenuh hati, tapi seperti yang pernah aku katakan; aku tak akan berhenti. Aku tak bisa membiarkan seseorang mengacaukan ini semua, tidak Yoo Seung Ho atau siapapun itu." Luhan memejamkan mata, tanpa suara membiarkan air matanya meleleh. Luhan mendengar suara langkah mendekat, dan tahu-tahu, wajahnya ditangkup sepasang tangan besar yang hangat.

Sehun mendekatkan wajahnya sampai dahi mereka bersentuhan.

Dan untuk pertama kalinya, Luhan merasa baik-baik saja dengan sentuhan seintim ini.

"Aku menyayangimu, aku menyayangi Shia." Luhan memegang fabrik yang melekat di tubuh Sehun, gugup merasakan hembusan nafas hangat yang sangat dekat dengannya.

"Kau bisa mengambil waktu sampai kapanpun untuk bisa membalas perasaanku. Tapi aku tak bisa berdiam diri saat seseorang datang ingin mengambil kalian dariku, yang bahkan belum aku miliki sepenuhnya. Aku tidak bisa menerimanya." Sehun terdengar sendu dengan kalimatnya.

"Tidak akan ada yang mengambil kami." Luhan melirih.

"Kau tahu, Luhan. Kau sudah terlalu lama berjuang sendirian," Luhan kembali melelehkan air mata, bersama samar suara Shia yang bergema. "bisakah kau membiarkan aku yang melakukannya untukmu sekarang? Aku sangat menginginkanmu, aku sangat ingin Shia bisa memanggilku ayah dengan bangga di depan teman-temannya."

Luhan benar-benar terisak mendengar susunan kalimat itu. Hatinya masih bimbang, ia masih terombang-ambing. Semuanya masih berwarna abu-abu dan dari kejauhan ada arak awan badai yang mendekat dengan perlahan.

Tapi tak bisa dipungkiri, sudut hatinya terketuk. Setitik cahaya mulai membuka matanya yang selama ini buta.

.

.

.

Di sebuah ruangan gelap, seorang wanita berpakaian hitam berjalan menyusuri lorong berdebu berbekal sorot cahaya yang masuk melalui celah-celah bangunan. Debu aerosol berterbangan dalam sorot cahaya itu. Bau apak memenuhi keseluruhan atmosfer dan tak ada satupun suara berarti di sana.

Kecuali ketukan sepatu boots bersol tebal dan suara denting benda metal dari kejauhan. Pintu kayu nyaris lapuk di ujung lorong dibuka perlahan, kepala wanita itu melongok ke dalam. Matanya sedikit menyipit ketika melihat cahaya terang berpendar dan memantul di keseluruhan dinding ruangan yang berwarna putih, steril dan mengkilap. Kecuali bagian tengah di mana seorang pria bermasker tengah berkutat dengan sesuatu yang tergeletak di meja tinggi. Wanita itu mendengus tanpa suara ketika aroma alkohol dan antiseptik bercampur dengan aroma menyengat lain, melayang-layang di udara.

Pria itu menoleh.

"Apa?" Suara berat sedikit teredam bungkaman masker.

Wanita itu menggeleng pelan, melirik ke sudut ruangan di mana satu pintu terbuka lebar dan sesuatu di dalam pintu itu terlihat samar-samar; jeruji besi mengkilap dan sesuatu yang bergerak-gerak.

Wanita itu kembali menatap sang pria yang masih memberi perhatian.

"Hanya mengingatkan waktu makan siang sudah tiba. Aku memasak kentang goreng dan sup ayam bawang." Pria itu memutar bola matanya malas.

"Kau dan selera anehmu itu."

"Hei!" Wanita itu memekik tak terima. "Mereka enak dan steril, oke? Oh sial, sia-sia saja aku datang jauh-jauh dari sayap baratku yang nyaman ke sini. Mencemari hidungku dengan ruang baumu dan membuat aroma masakanku terasa memualkan. Oh persetan! Aku benci padamu!"

Pria itu terkekeh. Mengangkat dua tangan berbalut sarung tangan karet yang masih memegang benda metal mengilap yang terkotori sesuatu yang selalu disebut wanita itu dengan saus, matanya mengerling jenaka.

"Satu bagian lagi dan aku akan datang ke sayap baratmu, oke?"

"Jangan lupa bereskan pekerjaanmu dan aku tak menerima seseorang bau datang ke bagian sayapku. Aku pergi, jangan terlalu lama atau aku akan menghabiskan semuanya sendirian."

Pria itu kembali berkutat dengan pekerjaannya, jemari panjangnya menggerakkan benda dalam pegangan dengan teliti dan hati-hati, tak ubah pemahat kayu professional yang tengah mengerjakan mahakarya.

"Kau tak akan menghabiskannya ketika teringat dengan timbangan akhir bulan nanti."

"Dan kau mulai menyebalkan."

"Pergilah, bukannya kau benci dengan ruangan bauku?"

Wanita itu memutar bola matanya malas. "Bisakah kau mengikat mereka lebih erat?" Wanita itu kembali melirik pintu di sudut ruangan. "mereka berisik sekali."

"Oke oke, akan aku lakukan, Sayangku…"

"Hei, kau tahu. Kita mendapat dua nama lagi untuk bulan depan."

Pria itu terhenti sejenak. "Aku tahu."

Pintu kayu lapuk tertutup.

.

Tbc

.

Saya menulis ini sambil mendengarkan Lucid Dream dari Monogram. :"D Recommended banget!

Terlambat sekali? Oh, dari jaman bahula saya udah suka ngaret. Btw, yang penasaran Yoo Seung Ho, dia aktor Korea. Aktor kesukaannya Chiseulla (nggak paham sebenernya kenapa dia suka aktor ini). Bukan Kris ya, dia punya peran sendiri nanti (sepertinya sih).

Phosphorescent saya pending, nggak ada waktu buat ngubek-ubek memori lama ketika jadwal Mid dan presentasi dst dst serasa membunuh pelan. Dua minggu kedepan full, tapi diusahakan membayar hutang Fic. Tapi nggak janji yaaaa…

Terimakasih sudah membaca Fic (dan curcol) saya. ^^

.

Anne, 2018-02-25