We Love You, hyung..
Kim Tae Hyung-BTS, Byun Baek Hyun-EXO (GS), Park Chan Yeol-EXO, Jung Dae Hyun-BAP, Yoo Young Jae-BAP (GS), Park Jimin-BTS, Kim Jong In-EXO, Do Kyung Soo-EXO (GS), Min Yoon Gi-BTS (GS), Kim Jun Myeon-EXO, Zang Yi Xing-EXO (GS), Jeon Jung Kook-BTS, Kim Seok Jin-BTS (GS).
.
.
.
EXO - BTS
.
.
kritik saran di butuhkan.
.
NO BASH ^^
Ketika pagi menjelang Taehyung terbangun dari tidurnya ketika ibunya Jimin membuka pintu kamar untuk membangunkan mereka. Taehyung sempat kebingungan ketika melihat seisi kamar, tapi kemudian dia baru menyadari kalau sekarang ia sedang berada di rumah Jimin, bukan di rumahnya lagi. Taehyung tersenyum miris.
Setelah mereka bangun, lalu membersihkan diri dan kemudian mempersiapkan diri pergi ke sekolah, ibunya Jimin memberikan bekal untuk mereka masing-masing.
Selama di perjalanan menuju sekolah, tidak ada percakapan sama sekali dan itu membuat Jimin merasa aneh dan tidak betah. Karena bukan kebiasaan mereka berangkat dan pulang sekolah bersama dengan hanya diam saja sepanjang jalan.
Ketika Jimin melirik Taehyung, Taehyung ternyata justru sedang menatap kotak bekal di tangannya yang di berikan oleh ibunya Jimin dengan mata berbinar. Dan hal itu membuat Jimin menatapnya semakin aneh dan kebingungan.
"kenapa kau menatap kotak bekalku seperti itu? Jangan katakan kau tidak pernah di buatkan bekal oleh ibumu" gumam Jimin menduga.
Taehyung menoleh ke Jimin, lalu dia tersenyum simpul "tapi kau benar. ibuku terlalu sibuk dengan suaminya dan adik-adikku, mana sempat ia membuatkanku bekal"
Jimin menatap Taehyung heran setelah mendengar sebutan 'suaminya' untuk ayahnya sendiri "kau membenci ayah tirimu juga? Jadi memang benar kalau ayah tiri itu jahat?"
"tidak" Taehyung menggeleng "dia sangat baik, dia tidak pernah memarahiku"
"lalu kenapa kau bicara seakan kau tidak menyukai ayah tirimu?" tanya Jimin heran.
"tapi aku bicara benar, ayahku memang tidak pernah memarahiku, karena dia sibuk bekerja dan hanya memperhatikan ketiga adikku, jadi mana sempat dia memarahiku, memperhatikanku saja tidak" jelas Taehyung. Ketika berkata seperti itu, ia merasa hatinya sedikit sakit.
"itu tandanya kau memang tidak menyukai ayahmu, bodoh" sanggah Jimin, tapi Taehyung tetap menggeleng.
"aku tidak"
"kau iya!"
"tidak"
"ya terserah" dan akhirnya Jimin mengalah. Tapi meski begitu tidak ada sahutan dari Taehyung lagi.
Jimin menatap sahabatnya sebentar. Sahabatnya ini memang aneh dan konyol. Dia bilang kalau dia tidak membenci ayahnya tapi dia bicara seolah tidak menyukai Ayahnya. Tapi jika Jimin berada di posisi Taehyung, mungkin juga akan merasa seperti itu. Jadi Jimin hanya tersenyum prihatin dan tangan kirinya menepuk bahu Taehyung seolah menyalurkan kekuatan yang Jimin miliki.
"jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang jika kau tidak masuk sekolah?" tanya Jimin setelah menyadari beberapa meter lagi mereka akan sampai di depan pintu gerbang sekolah.
"Tentu saja mencari pekerjaan" sahut Taehyung seadanya.
Kemudian Taehyung membuka almamater sekolah dan melipatnya lalu di simpan ke dalam tas. Dan sekarang Taehyung hanya mengenakan kaos biasa dan celana hitam panjang, dia tidak berpenampilan seperti anak sekolah lagi.
"kau yakin?" Jimin mulai sedikit ragu, walaupun Taehyung sudah mengatakannya kemarin malam.
"tentu, aku tidak mau disebut pengangguran"
Akhirnya Jimin pun mengangguk mengerti. Kemudian dia merangkul dan mengacak rambut Taehyung sebentar sambil tersenyum jahil. Taehyung hanya diam menahan kekesalannya karena rambut yang sudah ia rapihkan menjadi berantakan, dan mau tak mau Taheyung harus membetulkan rambutnya kembali. Tanpa dengan ocehan atau omelan apapun seperti yang biasa ia lakukan.
"jika kau sudah mendapatkan pekerjaan, jangan lupa cerita padaku"
"dan kau juga harus berjanji jangan katakan apapun tentangku pada siapapun" kata Taehyung yang mulai berjalan menjauhi Jimin yang akan masuk ke area sekolah.
"memang siapa yang peduli denganmu" canda Jimin sambil melambaikan tangan. Taehyung hanya membalas dengam senyuman lebar khasnya kemudian berjalan ke tempat-tempat yang menjadi tujuannya saat ini.
Sedangkan di rumah keluarga kecil Chanyeol, Baekhyun sudah di sibukkan lagi dengan kebutuhan kedua anaknya yang akan berangkat sekolah. Mulai dari menyiapkan pakaian, sarapan juga bekal, belum lagi mengurus Jiwon.
Ini benar-benar pagi yang sangat sibuk bahkan lebih sibuk bagi Baekhyun karena harus mengerjakan seorang diri. Karena biasanya ia selalu di bantu Taehyung, anak pertamanya.
"ibu" suara Jackson mengalihkan perhatian Baekhyun yang sedang menyiapkan bekal.
"ya sayang?"
"dimana hyung?" tanya nya.
"hyung sebentar lagi turun, kau sudah minum susumu sayang?"
"bukan Jesper hyung ibu, tapi Taehyung hyung. Jackson tidak melihat Taehyung hyung dari kemarin malam, hyung kemana, bu?"
Pertanyaan Jackson membuat Baekhyun menghentikan aktifitasnya sebentar. Baekhyun menatap anaknya yang sudah mengenakan seragam TK itu. Apa yang harus Baekhun jawab? Wajah polos Jackson membuat Baekhyun tidak tega untuk membohonginya.
"Taehyung hyung sedang menginap di rumah temannya" jawab Baekhyun asal. Tidak mungkin jika Baekhun mengatakan kalau Taehyung tidak tinggal disini lagi. Jackson sangat dekat dengan Taehyung. Tidak hanya Jackson, tapi Jesper dan Jiwon juga.
"lalu kapan hyung pulang?" tanya Jackson lagi, dan pertanyaan ini membuat Baekhyun mati kutu.
Baekhyun berusaha memutar otak untuk mencari jawaban agar Jackson tidak bertanya tentang kakaknya lagi. Jadi Baekhyun hanya menjawab "nanti hyung akan pulang" lalu Baekhyun menyuruh Jackson untuk segara memakan sarapannya.
Tak lama Chanyeol datang tergesa dengan dasi yang belum sempat terpasang. Pagi ini Chanyeol lagi-lagi hampir bangun kesiangan karena Baekhyun lupa menyalakan alarm. Di tambah Baekhyun yang semalam baru bisa tidur melebihi jam tengah malam.
Tapi Chanyeol tidak bisa menyalahkan Baekhyun karena dia tahu istrinya begitu sibuk mengurus ketiga puteranya. Hal itu dapat Chanyeol lihat. Sejak Taehyung tidak ada di rumah, Baekhyun jadi melakukan pekerjaan rumah sendiri.
Baekhyun melihat Chanyeol yang datang, ia tersenyum sebentar lalu menghampiri dan memasangkan dasi yang menggantung asal di leher Chanyeol. Lalu Baekhyun memberikan kotak bekal yang sudah ia siapkan untuk suaminya.
"sayang, kau masih ada waktu untuk mengantar Jesper dan Jackson ke sekolah kan? Aku masih harus memandikan Jiwon dan membereskan dapur. Aku takut anak-anak terlambat" pinta Baekhyun.
Chanyeol diam dan berpikir sejenak, lalu ia mengangguk. Lagipula sekolah anak-anaknya tidak terlalu jauh dari kantor tempat Chanyeol bekerja.
"apa kau sangat sibuk? apa aku harus menjemput Taehyung nanti setelah pulang?" tanya Chanyeol. Melihat kondisi Baekhyun yang sedikit berantakan karena belum sempat membersihkan diri membuat Chanyeol tak tega.
Tapi Baekhyun segera menggeleng "jangan, biarkan dia disana. Lagipula sebentar lagi akan ada ujian semester, dia harus fokus dan tidak boleh di ganggu. Aku masih sanggup melakukan semua, seorang ibu harus bisa melakukan semua kan"
Chanyeol menatap istrinya yang berdiri di hadapannya. Chanyeol sedikit ragu karena mendengar dari suara nafasnya saja Baekhyun sudah tampak lelah. Tapi Baekhyun berusaha meyakinkan dan Chanyeol mau tidak mau harus mengalah dan percaya.
Setelah semua siap, Jesper dan Jackson juga sudah siap dengan perlengkapan untuk sekolahnya, mereka segera bergegas pergi. Dan Baekhyun harus melanjutkan pekerjaan rumah yang masih menumpuk.
###
Mencari sebuah pekerjaan memang benar-benar sulit. Apalagi jika yang melamar pekerjaan masih berstatus pelajar sekolah menengah dan usianya masih begitu muda. Itu yang di rasakan Taehyung.
Sudah beberapa kali, mungkin lebih dari 15 kali ia masuk ke beberapa toko atau kedai untuk menawarkan jasanya bekerja di tempat itu, tapi dia di tolak mentah-mentah karena dengan alasan yang sama, masih terlalu muda.
Beberapa pemilik toko takut berurusan dengan polisi karena kasus mempekerjakan anak di bawah umur, selain itu usia yang masih muda adalah usia yang rentan untuk sulit mengendalikan emosi. Mereka takut ketika pesanan pembeli tidak sesuai dengan harapan, mereka protes lalu yang muda sebagai pelayan tidak terima dan malah memicu perdebatan sehingga membuat pelanggan enggan untuk datang kembali.
"aku mohon tuan, aku menerima berapapun gaji yang anda berikan asal aku bisa bekerja disini" Taehyung membungkuk 90° memohon agar pemilik kedai mau memberinya pekerjaan.
"maaf nak, aku tidak bisa. Kecuali jika kau sudah lulus sekolah dan usiamu sudah 20 tahun" sahut pria tinggi yang di ketahui sebagai pemilik kedai.
"tapi aku sudah tidak sekolah lagi" Taehyung tetap memaksa. Berusaha meluluhkan hati pemilik kedai.
Selain itu langit sudah tampak jingga dan Taehyung tidak mau usahanya seharian ini tidak membuahkan hasil.
"sayang tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor 8!" terdengar suara seorang wanita dari dalam pantry. Mungkin dia adalah istri dari pria yang ada di hadapannya. Pikir Taehyung yang masih membungkuk.
"aku sibuk sayang, kau kan bisa mengantarnya sendiri" balas pria itu.
"kalau begitu kau kesini membersihkan popok Jisoo dan siapkan makanan untuk Taeoh. aku yang melayani pelanggan" titah wanita di dalam pantry itu tidak mau kalah.
"aishh, dasar wanita. Kalau begitu kenapa tidak jadi pria saja" desis pria itu tampak kesal.
"aku masih bisa mendengar ucapanmu!" teriaknya dan tubuh pria itu langsung membeku dan menampakan senyum kikuk.
Membersihkan popok? menyiapkan makanan untuk anak? Itu hal yang biasa Taehyung lakukan ketika masih tinggal di rumah ibunya. Selama ibunya sibuk membersihkan rumah atau pergi keluar untuk berbelanja, Taehyung yang selalu menjaga adik-adiknya.
Dan mendengar perintah wanita itu, sebuah ide muncul dari otak Taehyung.
"aku bisa merawat dan mengasuh anak kecil" ucap Taehyung tiba-tiba.
Pria itu menatap Taehyung heran. Ketika datang ke kedai ini Taehyung bersikap layaknya pembeli, kemudian dia menawarkan diri untuk bekerja di tempat ini dan sekarang menawarkan diri menjadi pengasuh. Lalu selanjutnya apa?
Pria itu terdiam sambil menatap sosok anak laki-laki di depannya "tunggu sebentar, tetap diam disitu" perintah pria itu sebelum masuk ke ruangan lain, tapi sesaat ia berbalik "dan berdiri tegap, aku tidak ingin bertanggung jawab jika punggungmu sakit" ucapnya dan kemudian masuk ke dalam.
Taehyung tersenyum dan berdiri tegak. Semoga pria itu mau menerima tawarannya yang terakhir. Doanya dalam hati.
Dan setelah menunggu kurang dari 5 menit, pria itu keluar sambil membawa nampan berisi beberapa mangkuk makanan.
"masuk lah ke dalam, istriku ingin menemuimu" kata pria itu kemudian melewati Taehyung untuk mengantar pesanan.
Senyuman lebar langsung menghiasi wajah lelah Taehyung. Ia membungkuk sekali lagi dan segera mengikuti perintah lelaki itu.
Dengan hati-hati Taehyung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan yang di masuki pria itu barusan. Di dalam ia melihat seorang wanita dengan seorang bayi perempuan di dalam sebuah kursi kecil mirip seperti sebuah ayunan.
"Permisi" ucap Taehyung pelan namun terdengar oleh wanita itu.
Wanita itu menoleh dan menatap Taehyung yang berdiri dekat pintu.
"ya, ada urusan apa nak?" tanya wanita itu.
Taehyung menyernyit "bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?" ucapnya dalam hati.
"eemmm, aku di suruh pria yang berdiri di depan mesin kasir untuk masuk kesini" jawab Taehyung ragu. Ia takut ketika di suruh masuk ke dalam bukannya mendapat pekerjaan tapi justru perlakuan yang kurang menyenangkan. Seperti di usir tiba-tiba misalnya. Ah kenapa ia tidak bertanya dulu kenapa ia di suruh masuk ke dalam.
"jadi kau yang mau mengasuh anakku? Apa kau yakin?" tanya wanita itu tampak ragu. Melihat postur tubuh Taehyung yang tidak terlalu tinggi atau pendek, dan wajahnya yang benar-benar menunjukkan masih sekolah.
"ii-iya, be..nar"
Suasana dapur jadi tampak hening. Wanita itu menatap Taehyung penuh selidik dan membuat Taehyung bertambah gugup karena baru pertama kali ia melakukan hal seperti ini. Bekerja di tempat dan orang yang belum ia kenali. Sampai ketika suara bunyi denting dari sebuah oven mengalihkan perhatian wanita itu.
"ahh maaf, kalau begitu tolong urus bayiku sebentar, dia habis buang air besar dan aku masih harus mengurus masakan" wanita itu langsung berdiri dan menuju tempat masakannya.
Taehyung menatap wanita itu. Wanita itu bertubuh kecil, tapi dia sanggup mengurus segala isi dapur di tambah mengasuh anaknya. Taehyung menatap kagum.
Tapi dia ingat dengan perintah wanita itu dan Taehyung langsung mendekati bayi yang letaknya cukup jauh dari posisi ibunya berdiri.
Aroma tak sedap mulai tercium ketika Taehyung dekat dengan bayi itu. Dan tanpa menunggu lebih lama, Taehyung langsung mengeluarkan tubuh kecil itu dan segera memasuki ruangan lain yang ia duga sebagai ruang ganti juga toilet.
.
.
.
Dan sekitar pukul 9 malam, kedai itu sudah mulai sepi dan itu adalah waktu mereka untuk membereskan segala perabotan di dapur dan juga meja kursi makan dan menutup kedai. Taehyung pun membersihkan seluruh meja yang ada di dalam kedai.
Ya, Taehyung mulai diterima untuk bekerja disitu. Awalnya pemilik kedai hanya ingin meminta bantuan Taehyung sebentar. Tapi beruntung hari itu pengunjung cukup ramai sehingga mereka terpaksa meminta bantuan Taehyung untuk melayani pembeli setelah kedua anak pemilik kedai tertidur.
Dan pasangan suami istri itu mengakui bahwa kehadiran Taehyung cukup membantu, apalagi mereka juga memiliki seorang anak kecil dan juga seorang bayi.
"oh iya nak, siapa namamu?" wanita itu mendekati Taehyung yang masih sibuk membersihkan meja.
"Eeee panggil V saja, nyonya" sahut Taehyung ragu. Tiba-tiba aja dia tidak ingin orang-orang mengetahui namanya.
Wanita itu terdiam menaikkan sebelah alisnya dan tak lama ia mengangguk "dimana rumahmu?" tanyanya lagi.
"eeee... Sekitar 35 km darisini"
"sungguh? sejauh itu? Kau berani pulang sendiri?"
Taehyung mengangguk "ya nyonya"
"kalau begitu cukup sampai sini saja bersih-bersih nya, kau harus segera pulang, anak sepertimu tidak boleh pulang terlalu larut, orang tuamu pasti mencarimu"
Orang tuamu pasti mencarimu.
Taehyung tersenyum miris mendengar kalimat itu. Mana mungkin orang tua yang sudah mengusirnya mau mencarinya lagi.
"hei nak? Kau mendengarkan ku?" wanita itu mengibaskan tangannya di depan wajah Taehyung dan membuat Taehyung tersadar.
"ya, maaf nyonya"
"panggil aku bibi Kim saja" sanggah wanita itu dengan cepat. "lelaki yang memperkenalkanmu tadi itu suamiku, namanya Kim Jong In"
Taehyung mengangguk mengerti.
"Ngomong-ngomong, kau mengingatkanku dengan seseorang" tiba-tiba bibi Kim memulai pembicaraan. Dan Taehyung yang awalnya hendak membereskan alat bersih-bersih pun tertunda.
"siapa bi?"
"seorang anak kecil, wajahnya mirip seperti mu, terutama senyuman nya. Tapi itu dulu, ketika aku masih perawan" bibi Kim tersenyum.
Dan jujur saja, Taehyung terpesona melihat senyuman yang di miliki bibi Kim. Senyuman itu unik, berbentuk hati.
"ah sayangnya aku lupa namanya, dulu dia sempat ingin di adopsi oleh ku, tapi tidak jadi"
"lalu anak itu dimana sekarang ?" Taehyung tanpa sadar mulai tertarik dengan pembicaraan dari bibi Kim.
"tentu saja dia sudah bersama orang tuanya," sahutnya cepat dengan tatapan melirik yang sedikit menyeramkan dan itu hampir membuat Taehyung terlonjak, tapi sesaat kemudian tatapan mata bibi Kim berubah meneduh "padahal anak itu sangat lucu. Ketika aku pulang sekolah kami sering bermain. Mungkin sekarang dia sudah sebesar dirimu. Ya hampir seperti itu. Tapi itu lebih baik daripada berpisah dengan ibunya"
Bibi Kim menatap lurus ke arah luar jendela yang keadaan di luar disana sudah mulai gelap. Tapi kemudian ia segera menggeleng "ah kenapa jadi bercerita, cepat beres-beres dan segera pulang sebelum bus terakhir datang dan...tunggu sebentar" bibi Kim berjalan menjauh menuju pantry.
Taehyung menatap punggung kecil itu dari kejauhan. Kemudian bibi Kim kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
"ambilah, anggap saja oleh-oleh untuk keluargamu" katanya sambil menyodorkan satu kotak ayam goreng pedas untuk Taehyung.
"tta..tapi~"
"aku tadi memasak terlalu banyak, sayang jika di buang. Kalau di simpan pun besok sudah basi, ambilah! Dan jangan lupa besok jam 7 pagi kau harus sudah ada disini"
Demi apapun ini benar-benar hari keberuntungan bagi Taehyung. Usahanya berkeliling seharian sampai keluar kota demi mendapat pekerjaan akhirnya tidak berakhir sia-sia. Walaupun ini adalah hari pertamanya dan baru beberapa jam bekerja kemudian ia di minta untuk datang ke tempat ini lagi, Taehyung merasa benar-benar di hargai oleh pemilik kedai ini. Dia benar-benar merasa beruntung karena bisa ke tempat ini.
"terimakasih bibi Kim. Aku janji besok datang ke tempat ini tepat waktu" Taehyung membungkukkan badannya beberapa kali tidak lupa dengan memasang senyuman khasnya.
"ya ya. Sekarang cepat pulang. Dan... kau ada uang untuk naik bus kan?"
"iya bi. Uangku masih cukup. Aku pamit pulang. Terimakasih Bibi Kim"
"ya.. hati-hati"
Setelah berkemas Taehyung membungkukkan tubuhnya sekali lagi kemudian ia beranjak dari tempat itu.
Bibi Kim masih memandang sosok anak muda yang semakin lama bayangan punggungnya mulai menghilang karena anak itu berlari menuju halte cukup cepat. Cukup lama dia berdiri disana sampai ia tidak sadar suaminya sudah berdiri di sampingnya.
"kalian akrab sekali. Kau tidak jatuh cinta padanya kan, du?" gumam suaminya sambil melirik curiga istrinya.
Tapi lirikannya itu justru di sambut dengan pukulan dari kain lap bekas membersihkan meja yang mengenai wajahnya.
"jangan bodoh. Dia masih anak-anak" sahutnya.
"kalau dia masih anak-anak, kenapa kau menerimanya bekerja disini? Seharusnya dia sekolah, kan? Kau tidak takut orang tuanya nanti datang lalu memarahi kita, hm?"
Bibi Kim terdiam seolah sedang berpikir.
"aku juga tidak tahu. Aku tidak menanyakannya. Aku hanya berpikir dia berhenti sekolah dan memilih bekerja, lagipula disini banyak anak sekolah yang kerja sambilan, kan?" ujar bibi Kim.
"atau mungkin dia anak dari keluarga tidak mampu, paginya sekolah dan malamnya bekerja. Begitu? Tapi kalau tidak salah dengar dia bilang kalau dia sudah tidak sekolah lagi"
"sungguh? Dia tidak sekolah? Emmm... mungkin saja. Tapi dia berjanji besok datang kesini pagi-pagi. Berarti dia memang tidak sekolah" sahutnya masih menduga "tapi tidak ada salahnya kan kita membantunya. Siapa tahu dia memang benar-benar membutuhkan pekerjaan. Lagipula dia anaknya baik. Dia juga cukup cekatan. Buktinya saja dia bisa dekat dengan Taeoh dan Jisoo padahal mereka belum sehari bertemu"
Bibi Kim mengingat saat Taehyung mulai menjalankan perintah darinya untuk mengurus Jisoo. Sebenarnya bibi Kim sedikit ragu dan khawatir takut-takut Jisoo menangis karena bertemu dengan orang yang tidak di kenal. Sama juga dengan Taeoh, anak sulungnya yang masih duduk di bangku TK juga tidak mudah di dekati orang lain. Tapi ternyata dugaannya salah, tidak butuh waktu lama mereka bisa cepat akrab. Bahkan hebatnya Taehyung bisa mengasuh Jisoo sampai tertidur.
"mungkin dia punya banyak adik, jadi sudah terbiasa mengurus anak kecil" duga suaminya dan di setujui oleh bibi Kim.
"baiklah. Sekarang cepat tutup kedai nya, aku lelah. Aku ingin cepat mandi dan tidur" bibi Kim langsung berjalan menuju tangga yang menghubungkan antara kedai dan rumahnya meninggalkan suaminya begitu saja.
"apa? Aku lagi? padahal aku sudah membersihkan dapur, pantry dan meja-meja disini" cibirnya kesal namun dengan intonasi suara rendah.
"aku masih bisa mendengar suaramu, Jong Iiiin"
###
Jimin berjalan mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Sesekali ia berhenti untuk melihat ujung jalanan yang sepi, lalu ia duduk dan berdiri lagi.
Sudah hampir 2 jam dia bersikap seperti itu sejak dia pulang sekolah. Tepatnya setelah ketidak adanya sosok Taehyung di rumah.
Jujur saja Jimin merasa khawatir takut-takut Taehyung tersesat. Atau mungkin saja Taehyung kembali ke rumahnya, tapi itu tidak mungkin secepat itu Taehyung dan ibunya berbaikan sedangkan kejadiannya saja baru terjadi kemarin.
Jimin juga sesalkan Taehyung yang tidak memiliki ponsel. Jadi dia tidak harus sekhawatir ini karena tidak dapat kabar dari temannya itu.
'kreekkkk'
Pintu gerbang rumah Jimin di buka oleh seseorang dari luar. Pandangan mata Jimin langsung terfokus pada papan kayu yang yang cukup tinggi itu. Hingga seseorang muncul dari balik pintu.
"ak~"
"yak! kemana saja jam 11 malam baru pulang? Jangan pikir kau tidak tinggal dengan orang tuamu jadi ka~" omelan Jimin berhenti ketika wajahnya di tutupi oleh bungkusan plastik "apa-apaan ini?!"
"makanan"
"kau membeli makanan? Memangnya kau sudah dapat pekerjaan?"
Taehyung berjalan melewati Jimin begitu saja tanpa merespon. Dengan santainya Taehyung duduk di teras dan membuka sepatunya.
"Yak bocah! aku bicara padamu!" Jimin menyusul Taehyung. "kenapa kau baru pulang kau sudah dapat pekerjaan? Cepat ceritakan padaku"
Taehyung mengangkat wajahnya menatap Jimin yang berdiri di depannya "aku lelah. Ceritanya nanti saja" sahutnya kemudian berdiri dan masuk ke dalam dengan wajah lesunya.
"hei!. Setidaknya kau bersihkan dirimu dulu baru boleh masuk kamar!" teriak Jimin saat melihat Taehyung hendak masuk kamarnya.
Dan teriakan itu langsung di balas lirikan malas dari mata Taehyung. Mau tidak mau ia harus menurut, setidaknya ia masih tahu diri jika sedang menumpang di rumah orang lain.
###
"jadi kau bekerja di kedai? Bukankah tempat seperti itu ada di luar kota yang lebih ramai?" tanya Jimin setelah mendengar cerita sambil menyantap ayam goreng pedas yang di bawa Taehyung.
"ya. Daripada aku tidak mendapat pekerjaan sama sekali" sahutnya "tapi tempat itu lebih mirip cafe. Karena tempatnya cukup besar dan bagus tapi karyawannya hanya ada dua, aku dan seorang perempuan, tapi hari ini dia tidak masuk karena kata pemilik kedai dia sedang cuti sakit. Jadi ya aku bisa disebut dewa penolong karena aku datang di saat pemiliknya benar-benar sibuk"
Jimin melirik mencibir ketika mendengar kata 'dewa penolong' sebagai sebutan Taehyung. Seharusnya yang pantas mendapat gelar dewa penolong itu pemilik kedai, bukan dirinya.
"jadi besok pagi-pagi kau mulai berangkat kesana?"
Taehyung mengangguk "ya. Karena jarak dari rumahmu ke halte 30 menit, lalu sampai ke tempat kerjaku hampir satu jam. Aku tidak boleh terlambat di hari pertama bekerja"
Mendengar ucapan Taehyung membuat Jimin memutar tubuhnya menghadap ke langit-langit atap. Sambil menyantap potongan daging ayam Jimin berpikir sejenak.
Jarak rumahnya sampai ke tempat kerja Taehyung memakan waktu satu setengah jam, begitu pula jarak perjalanan pulang. Itu berarti memakan waktu 3 jam. Kalau saja Jimin memiliki kendaraan pribadi seperti sepeda motor pasti waktu perjalanannya sedikit lebih cepat, tapi mengingat usianya masih di bawah umur berarti belum boleh menggunakan kendaraan bermesin. Jimin hanya bisa menghela nafas.
Tapi Jimin ingat kalau dia masih punya sepeda dan setidaknya itu lebih baik bukan daripada harus lelah berjalan kaki. Jimin pun kembali memutar tubuhnya menghadap ke Taehyung yang berbaring di lantai sambil membaca komik.
"bagaimana kalau besok kita naik sepeda? Aku akan mengantarmu sampai ke halte, lalu aku akan menjemputmu di halte setelah pulang sekolah" usul Jimin.
Taehyung melepas pandangan matanya dari gambar bacaan komik, menatap Jimin bertanya-tanya "maksudmu kita berangkat pagi-pagi? kalau kita berangkat sepagi itu, kau menunggu di sekolah sampai jam pelajaran mulai selama satu setengah jam? Bukankah itu merepotkan? Ya maksudku kau seharusnya punya waktu istirahat lebih lama"
"jangan pikirkan soal itu. aku bisa menunggu bel masuk sambil tidur di ruang kesehatan, setidaknya kau punya waktu istirahat yang cukup juga"
Di balik wajahnya yang tertutup komik, diam-diam Taehyung menyunggingkan bibirnya, tersenyum mendengar ucapan Jimin. Dia tidak menyangka sosok teman yang ia kenal sebagai anak yang sedikit pemalas bisa begitu perhatian.
"Hei jangan salah sangka, yang tahu masalahmu dengan keluargamu hanya aku, secara tidak langsung aku bertanggung jawab soal keadaanmu, setidaknya kau baik-baik saja sampai masalah antara kau dan keluargamu selesai" jelas Jimin karena ia melihat tatapan Taehyung dari balik buku komik yang sedang di baca tampak tatapan dan senyuman yang menurutnya aneh dan mengerikan.
"ya aku mengerti"
Sesuai dengan perjanjian kemarin malam, ketika matahari masih belum belum menyinari langit pagi sepenuhnya, Taehyung dan Jimin sudah bersiap dengan tas masing-masing.
Karena kondisi Jimin yang masih mengantuk, membuat Taehyung yang harus mengendalikan sepeda lebih dulu, sementara Jimin hanya berdiri di belakang sambil berusaha menahan keseimbangan tubuhnya dengan memegang bahu Taehyung.
Untung saja tubuh Jimin tidak begitu tinggi jadi tidak memberatkan Taehyung yang mengendalikan sepeda.
Dan ketika tiba di halte, tepat saat Taehyung menyerahkan sepeda kepada pemiliknya, sebuah bus yang tidak begitu penuh datang dan mengharuskan Taehyung cepat-cepat berpisah dengan Jimin. Taehyung segera berlari dan masuk ke dalam bus.
"hati-hati! Selamat jalan! sampai bertemu nanti malam!" teriak Jimin sambil melambaikan tangan ke arah bus yang sudah berjalan.
Untung saja keadaan bus cukup sepi, jadi tidak ada yang melirik menatap Jimin yang berteriak di pagi hari dengan tatapan yang aneh.
.
.
Sesuai dengan perkiraan semalam, Taehyung tiba di kedai tempat kerjanya satu jam setelah menaiki bus umum. Setibanya disana keadaan kedai masih tutup dan dari sela jendela kedai yang tertutup tirai dari bambu Taehyung melihat pemilik kedai, paman Kim, sedang merapihkan meja dan kursi. Taehyung langsung mengetuk pintu dan membuka pintu kedai yang sudah tidak terkunci.
"ah, kau sudah datang" suara sapaan bibi Kim dari tempat lain mengejutkan Taehyung. Taehyung tidak menyadari kalau bibi Kim juga ada Disana.
Taehyung tersenyum dan membungkuk sopan. "apa aku terlambat, bi?"
"tidak, kau tepat waktu" sahutnya "kau sudah sarapan?"
Taehyung mengangguk "ya"
Bibi Kim tersenyum dan senyuman itu membuat tubuh Taehyung membeku beberapa saat setelah menatap senyuman dari bibir wanita yang memiliki paras manis dengan sepasang bola mata bulat yang begitu indah dan menggemaskan. Andai Taehyung lahir lebih dulu dari bibi Kim, mungkin dia akan melamarnya hari ini juga. Itu yang Taehyung bayangkan. Sebelum sebuah topi hitam dengan bordiran logo yang sama dengan nama kedai mendarat di kepalanya. Paman Kim yang melakukannya. Ah ya, bibi Kim sudah lebih dulu di miliki oleh paman Kim.
"pakai ini. Dan ini supaya kau benar-benar terlihat sebagai karyawan disini" ujar Paman Kim sambil memberi apron juga dengan bordiran yang sama dengan topi hitam yang sudah di pasangkan di kepalanya. Tidak lupa Taehyung membungkuk berterimakasih.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka menyusul kedatangan Taehyung barusan. Seorang perempuan berambut hitam sebahu dengan pakaian berwarna sepadan dengan warna rambutnya. Di dada sebelah kirinya terdapat ukiran bordir yang sama dengan nama kedai. Taehyung menduga dia perempuan yang juga bekerja di kedai milik paman dan bibi Kim.
"selamat pagi paman, bibi. Maaf aku baru masuk hari ini" perempuan itu memegang tali tasnya dan membungkuk hormat.
Kemudian dia menegakkan tubuhnya. Lalu sekilas memandang Taehyung yang berdiri di antara paman Kim dan bibi Kim.
"ah selamat pagi. Kondisimu sudah membaik?" tanya bibi Kim ramah. Perempuan itu tersenyum kecil dan mengangguk.
"V, perkenalkan dia Yoongi. Dia seniormu disini" sambung paman Kim.
Taehyung sempat bingung mendengar nama panggilan untuknya dari paman Kim. Tapi seketika dia baru menyadari kalau nama itu dia sendiri yang meminta. Taehyung langsung membungkuk ke arah perempuan berambut hitam sebahu di depannya.
"salam kenal. namaku V, mohon kerjasamanya" ucap Taehyung bersungguh-sungguh tidak lupa dengan memasang senyum khasnya yang menurut orang-orang terdekatnya senyuman itu begitu lucu.
Tapi respon perempuan bernama Yoongi hanya membungkuk sedikit dan tersenyum tipis. Sehingga Taehyung langsung berasumsi bahwa perempuan ini tidak begitu bersahabat.
"Yoongi kemari, bantu aku di dapur" bibi Kim melambai ke arah Yoongi dan Yoongi pun menurut mengikuti langkah bibi Kim menuju dapur.
"dia memang pendiam hanya dengan orang yang baru di kenal. Tapi nanti juga kalian akan dekat, jadi sikapnya yang dingin jangan di bawa ke hati. Oke?" paman Kim mencoba sedikit menghibur dengan menepuk bahu Taehyung. Pria itu mengerti dengan keadaan yang terjadi barusan. Jadi dia tidak ingin ada selisih paham antara kedua kedua karyawannya.
"iya tenang saja paman. Aku mengerti"
###
"astaga.. punggungku sakit sekali.. " Baekhyun terduduk lelah di atas sofa dengan gagang mesin penghisap debu yang di genggam di tangan kirinya.
Ini sudah keluhan yang kelima sejak dia memulai membersihkan rumah di mulai pagi tadi. Bangun pagi, membuat sarapan, menyiapkan pakaian, memandikan Jiwon, sekarang membersihkan rumah masih di jalankan dan nanti dia harus mencuci pakaian belum lagi membersihkan halaman rumah yang cukup luas -tapi karena keluarga mereka menggunakan jasa tukang kebun jadi itu tidak termasuk- lalu menyiapkan makan siang kemudian merapihkan pakaian dan menemani Jiwon bermain lalu menjemput Jesper dan Jackson di sekolah kemudian harus membuat makan malam.
Sungguh, sebenaenya Baekhyun bukan tipe pemalas yang selalu mengeluh jika harus membersihkan rumah. Semua wanita atau bahkan semua orang apabila di suruh membersihkan rumah dua lantai seluas kurang lebih 150m persegi sendiri pun juga akan merasakan apa yang dia rasakan sekarang. Apalagi dia adalah seorang ibu dari empat anak dan mereka masih di bawah umur.
Oh astaga seharusnya dia menuruti aturan pemerintah untuk membuat jarak usia yang cukup jauh jika ingin memiliki anak lagi. Jadi setidaknya ada yang membantunya.
Baekhyun sebenarnya ingin menggunakan jasa bersih bersih rumah jadi pekerjaannya sedikit ringan, namun melihat pengeluaran dana perbulan keluarga kecilnya cukup besar jadi Baekhyun harus irit dan memilih melakukannya sendiri.
Baekhyun memang memilih melakukan pekerjaan sendiri. Oh tidak, sebenarnya tidak semua pekerjaan rumah dilakukan sendiri. Selama ini kegiatan Baekhyun memang selalu ada yang membantunya, siapa lagi jika bukan Taehyung putra pertama yang lahir dari pernikahan pertamanya.
Setiap pagi di saat Baekhyun menyiapkan sarapan, Taehyung yang membantu adik-adiknya mandi dan mengenakan pakaian, juga mempersiapkan perlengkapan sekolah. Dan saat pulang sekolah Taehyung membantunya memandikan adiknya atau membantu membersihkan dapur setelah makan malam.
Baekhyun mengakui keberadaan Taehyung cukup membantunya. Dan mungkin Taehyung berpikir bahwa dia yang tertua dari saudaranya, jadi adalah suatu kewajiban seorang anak membantu orang tuanya.
Tapi setelah Taehyung tidak tinggal di rumah ini lagi, diam-diam Baekhyun merasa kehilangan. Sambil menghilangkan penat, Baekhyun membayangkan kalau putra sulungnya saat ini justru bermanja dan membantu ibu tirinya di rumah ayah kandungnya. Mengasuh dan bermain dengan adiknya yang lain disana.
Baekhyun merasakan sesuatu di dalam dirinya, hatinya seperti tercubit hingga membengkak dan rasanya sedikit sakit. Atau memang sangat sakit. Membayangkan anaknya justru lebih menyukai tinggal bersama keluarga yang lain ketimbang tinggal bersama dirinya yang padahal sudah di rawat sejak kecil.
Dia cemburu. Cemburu membayangkan putranya akrab dengan ibunya yang lain, cemburu membayangkan putranya membantu ibunya yang lain, cemburu membayangkan putranya justru bermain dan mengasuh adiknya yang lain. Baekhyun bertanya-tanya apa Taehyung sebenarnya tidak menyukai keluarga dari pihak ibunya? Apalagi melihat perilaku Taehyung akhir-akhir ini yang tidak begitu banyak bicara dan lebih memilih menjauh untuk menyendiri. Dan bahkan Baekhyun tidak menyangka kalau Taehyung bisa setega itu mencelakakan adiknya sendiri yang padahal masih bayi!
Apakah Taehyung memang sengaja melakukan itu agar bisa tinggal di rumah ayah kandungnya dan bermanja dengan ibu tirinya disana? Tapi kenapa?
Apakah ada yang salah dengan asuhannya selama ini? Baekhyun tidak tahu. Dia hanya melihat perkembangan anak-anaknya dan meyakini bahwa seluruh puteranya tumbuh berkembang dengan baik dari luar.
Baekhyun merasa kepalanya begitu sakit membayangkan itu. Sampai-sampai sesuatu yang bening bergerak di ujung kedua kelopak matanya yang kemudian turun melewati pipinya. Dalam hatinya bergumam, untuk putera sulungnya, semoga kau kembali ceria dengan kehidupanmu tanpa bersama ibu kandungmu ini.
Kemudian Baekhyun bangkit kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia tidak punya banyak waktu istirahat karena pekerjaannya tidak akan selesai jika hanya terus melamun. Sekaligus terus membayangkan kehidupan bahagia putera sulungnya yang padahal tanpa Baekhyun ketahui, puteranya kini sebenarnya sedang susah payah banting tulang menghidupi kebutuhan sehari-hari.
###
"kau beristirahatlah, mumpung sekarang pembeli tidak terlalu ramai" titah paman Kim menghampiri Taehyung yang sedang merapihkan kursi yang baru saja di tinggal pelanggan.
"nanti saja paman, aku belum lelah" sahut Taehyung yang menghentikan aktivitasnya dan menatap paman Kim sambil tersenyum. Namun tangannya masih membersihkan meja yang terbuat dari kayu.
Paman Kim menatap Taehyung sebentar, padahal ia melihat banyak peluh di dahi dan pinggir mata remaja itu.
Siang ini pembeli di kedai memang belum begitu ramai karena belum saatnya jam istirahat kantor, tapi kedatangan pembeli yang bergantian datang dan pergi juga tidak bisa di bilang sepi. Dan paman Kim terus memperhatikan kegiatan Taehyung sejak pertama datang, Taehyung cukup termasuk cukup rajin jika di bandingkan dengan anak seumurannya. Di terus mencari sela apapun yang bisa di kerjakannya tanpa harus di suruh. Dan paman Kim tahu kalau sejak pagi Taehyung belum sempat duduk walau hanya untuk beristirahat sebentar. Tapi yang namanya remaja yang memiliki sebutan darah muda yang semangatnya selalu berkobar memang kadang sulit untuk di beri nasehat padahal untuk kebaikannya sendiri.
"baiklah. Kalau sudah lelah langsung istirahat saja, tapi lapor dulu padaku. Oke?"
"baik paman"
Kemudian paman Kim berlalu meninggalkan Taehyung.
Taehyung menegakkan punggungnya sebentar, lalu melihat keadaan sekeliling kedai. Saat ini kedai memang belum begitu ramai, tapi masih ada beberapa pelanggan yang sedang duduk menikmati sajian dari kedai.
Taehyung mengambil sapu tangan di dalam saku celananya. Ia baru menyadari kalau wajahnya sudah di penuhi keringat, padahal di dalam kedai menggunakan AC. Pantas jika paman Kim menyuruhnya Istirahat karena paman Kim mengira Taehyung benar-benar lelah.
Masih dalam membersihkan keringatnya tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Taehyung berbalik dan mendapati seniornya, Yoongi, datang dengan membawa sebotol minuman dingin rasa buah.
"minumlah, ini gratis" botol minuman itu di berikan pada Taehyung.
Taehyung terdiam sebentar, lalu ia menerima botol minuman itu walau sedikit ragu.
"terimakasih, noona"
"ya" sahutnya singkat dan berlalu begitu saja. Tapi kemudian dia berbalik "kalau lelah istirahat saja. Jangan memaksakan"
Masih dengan ekspresi dinginnya Yoongi kemudian pergi menjauhi Taehyung.
Gadis bersurai hitam pendek itu benar-benar dingin, pantas saja kulitnya sangat putih hampir menyamai warna salju kutub dengan suhu -20°, gumam Taehyung dalam hati. Apakah semua gadis mempunyai sifat dingin dan menyebalkan seperti itu? Atau apakah jangan-jangan gadis itu tidak menyukainya? Lalu kenapa ia memberikan minuman kemasan secara cuma-cuma? Taehyung menggeleng tak peduli.
Dia pun membawa minuman itu lalu berjalan menuju pantry setelah meminta ijin kepada paman Kim. Karena hanya di dalam pantry saja mereka boleh beristirahat. Kalau beristirahat di luar bersama para pelanggan tentu saja tidak beretika.
Di dalam pantry ada bibi Kim yang sedang menyiapkan bahan-bahan daging ayam yang akan di masak nanti. Juga seorang bayi perempuan yang duduk sedikit jauh dari posisi bibi Kim berdiri.
"hai Jisoo" Taehyung tersenyum lebar menyapa bayi yang menyadari kehadirannya. Bahkan Taehyung langsung memilih mendekati Jisoo setelah ia mencuci tangannya.
Bayi Jisoo tidak gemuk, tapi cukup berisi dan hanya berisi di pipinya. Jisoo memiliki mata yang begitu bulat, tidak seperti orang asia biasa yang memiliki mata sipit dan tentu saja Taehyung begitu gemas melihat Jisoo. Jisoo juga memiliki kulit yang putih. Mirip sekali dengan bibi Kim. Dan kalau sudah besar nanti pasti akan seperi bibi Kim kedua.
Tapi melihat Jisoo membuat Taehyung mengingatkannya dengan adik bungsunya, Jiwon. Jujur saja Taehyung benar-benar merindukan adik-adiknya walau mereka selalu membuatnya kerepotan. Taehyung selalu memikirkan bagaimana kondisi mereka disana mengingat orang tuanya begitu sibuk. Tidak hanya untuk ketiga adiknya, Taehyung juga mengkhawatirkan kondisi ibunya apakah baik-baik saja setelah harus mengurus ketiga adiknya sendiri. Tapi... Apakah ibunya juga mengkhawatirkan kondisinya sekarang yang tidak tahu harus hidup seperti apa nantinya setelah pergi dari rumah? Taehyung tidak tahu.
Mengingat hal itu membuat mata Taehyung sedikit panas. Kejadian yang baru berselang beberapa hari yang lalu dan masih terekam penuh dalam ingatannya dan benar-benar mebuat Taehyung merasakan sesak di dalam tubuhnya.
"kau menangis, V?"
Taehyung terkejut karena tiba-tiba saja seseorang mengajaknya bicara. Dia mengira kalau itu adalah Jisoo, tapi Taehyung baru ingat kalau Jisoo masih berusia 14 bulan. Sampai kemudian Taehyung menyadari kalau ternyata bibi Kim berdiri dan sedikit membungkuk di sebelahnya.
"ah tidak, bi. Aku tidak menangis"
Taehyung berbohong, air matanya sudah berkumpul di balik kelopak mata dan siap meluncur mulus ke kedua pipinya jika saja dia tidak langsung cepat-cepat mengusap kelopak mata dengan jarinya.
"sungguh?"
"ya..Aku tidak apa-apa" sahutnya dengan menampilkan senyum lebar khasnya. Senyum yang seolah tidak ada beban sama sekali.
Bibi Kim menghela nafas pelan, lalu tersenyum menatap remaja laki-laki yang sedang bercanda dengan putrinya. Dia tahu kalau Taehyung sedang berbohong, bibi Kim bukan lah gadis kecil yang langsung percaya dengan ucapan seseorang, apalagi jika ucapannya itu tidak sesuai dengan fakta.
"ibu, aku pulang...!" seru seorang anak kecil yang baru saja memasuki pantry. Dia melepaskan tasnya dan sedikit melemparkannya ke atas meja.
Kaki kecilnya berlari mendekati bibi Kim dan tanpa hitungan detik bibi Kim langsung mendapat kecupan gemas di pipinya oleh anak sulungnya itu.
"hallo V hyung!" anak itu menyadari keberadaan Taehyung dan langsung menyapanya. Ia juga mendekati Taehyung dan tanpa meminta ijin anak itu langsung duduk di atas pangkuan Taehyung sebelum dia menyapa dan mencium adik kecilnya "halo juga Jisoo".
"Taeoh, jangan seperti itu. V hyung sedang istirahat sayang. Ambi kursimu sendiri" tegur bibi Kim.
Taeoh menggeleng cepat "aku mau duduk disini saja, ibu"
"tapi kau harus mengganti pakaianmu dulu"
"aku tidak akan bermain di luar" Taeoh masih tetap tidak mau mengalah.
"Taeoh, ayo kita bermain" ajak Taehyung tiba-tiba.
Taeoh menoleh dan tersenyum sumringah "ayo hyung, kita bermain iron man!"
"oke, tapi tunggu... apa ini? ummhhh bau asam" kata Taehyung mencoba berekspresi aneh setelah mencium aroma dari pakaian Taeoh.
Taeoh ikut mencium pakaian di lengannya seolah tak yakin dengan ucapan Taehyung "tidak, ini masih wangi"
"tapi ini memang bau, ayo ayo cepat ganti baju. Iron man itu sangat wangi, dia tidak bau"
"hmm..baiklah aku ganti baju. Tunggu disini, jangan kemana-mana ya" Tae oh segera turun dari pangkuan Taehyung, lalu dia berlari menuju salah pintu yang menghubungkan letak pantry kedai dengan rumahnya.
Bibi Kim yang tadi kembali menyiapkan bahan makanan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya juga kedekatan nya dengan Taehyung. Taeoh justru lebih cepat menurut jika di suruh Taehyung daripada dirinya.
"V" sambil membawa 1 wadah besar berisi adonan, bibi Kim duduk di kursi seberang tempat Taehyung duduk "aku ingin bertanya sesuatu. apa kau punya saudara?"
"Iya"
"berapa?"
"aku punya 3 adik"
Mata bibi Kim terbelalak "sungguh? Jadi kalian empat bersaudara? Wah hebat sekali" ucapnya kagum. Tidak heran jika Taehyung cukup baik bisa dekat dengan merawat anak kecil.
"apakah bibi Kim ingin punya empat anak juga?" tanya Taehyung usil.
"empat anak?" bibi Kim terdiam berpikir. Taeoh putra sulungnya begitu lincah dan aktif, belum lagi Jisoo yang sudah bisa berjalan kemana-mana jika tidak di jaga dengan pagar mainan khusus atau di simpan di atas kursi dorong khusus bayi. Lalu bagaimana jika di tambah 2 bayi? Belum lagi merasakan sakit saat melahirkan. Bibi Kim segera menggeleng cepat "ah tidak, terimakasih"
Taehyung tersenyum lebar membayangkan bibi Kim dan paman Kim kerepotan mengurus anak daripada mengurus kedai. Tapi kemudian senyum itu pudar perlahan. Karena tiba-tiba saja Taehyung langsung membayangkan sosok Taeoh yang periang kemudian merasa kesepian seperti dirinya "ya, lebih baik jangan.."
"V hyung! Ayo kita bermain!" dan akhirnya Taeoh muncul dari balik pintu dengan kostum iron man nya siap beraksi.
.
.
.
.
Bersambung.
baiklah kayaknya semakin kesini ceritanya mulai aneh dan membosankan ya, juga banyak typo bertebaran. aku minta maaf TT
dan oh iya aku lupa mungkin ada yang belum tau siapa anak-anak yang namanya di pakai di cerita ini. sebenarnya anak-anak itu cukup terkenal di instagram karena memiliki wajah yang mirip dengan member exo, dan aku tau anak-anak kecil dan menggemazkan itu juga dari akun-akun chanbaek shipper dan kaisoo shipper. kalo penasaran tinggal searching aja ^^
oke chapter ini cukup sekian dan sampai jumpa di chapter selanjutnya :*
