Don't Deserve Your Love
Cast : Kai, Sehun, etc
Terima kasih untuk yang sudah berkenan review , follow and fav ff ini.
Hanya sedikit mengingatkan kalau nama Kai akan di pakai saat dia sedang dalam posisi sebagai mafia dan nama Jongin dipakai saat ia menyamar menjadi namja biasa di depan Sehun.
Hanya tulislah karyamu sendiri, itu lebih baik dari pada kamu menghina karya orang lain.
No edit, typo bertebaran.
KaiHun Lovea
.
.
.
.
.
.
Tao memperhatikan foto di tangannya dengan seksama, foto itu baru saja di serahkan oleh anak buahnya beberapa saat yang lalu. Matanya memicing, berusaha melihat dengan jelas wajah lelaki yang di cium oleh Kai itu, namun tetap saja nihil, tak ada satupun dari foto itu yang memperlihatkan wajah lelaki itu dengan jelas.
"Kau yakin dia adalah kekasih Kai dan bukan mainan sesaatnya?" tanpa menoleh pada anak buahnya, Tao bertanya.
"Kai belum pernah seperti ini sebelumnya, jadi aku yakin lelaki itu pasti orang yang penting untuknya."
Tao mengangguk, apa yang di katakan anak buahnya benar, seorang Kai tak pernah terlihat begitu perhatian dengan orang lain. Inilah saat yang sangat Tao tunggu, menghancurkan seorang Kai lewat orang yang disayanginya.
"Segera cari tahu tentang lelaki itu dan kalau ada kesempatan culik dia. Aku sungguh tak sabar menantikan kehancuran seorang Kai." Tao menyeringai, ia membayangkan Kai yang akan terlihat begitu frustasi ketika tahu kalau kekasih hatinya berada di dalam genggaman musuh besarnya. "Kali aku akan pastikan kau akan jatuh berlutut meminta ampun padaku Kim Kai."
Sementara itu orang yang tengah menjadi bahan pembicaraan sedang duduk dengan tenang di kursinya, di depannya berdiri seorang laki-laki bertubuh jangkung yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kai, apa benar kemarin kau pergi berkencan dengan lelaki itu?"
Kai menatap balik lelaki itu, raut wajahnya begitu datar saat ia menjawab pertanyaaan tersebut. "Maksudmu Sehun?"
"Siapa lagi?" Johnny menatap gusar pada Kai, "Kai, aku tahu posisiku di sini hanyalah sebagai anak buahmu, tapi kali ini saja biarkan aku berkata seperti ini sebagai temanmu. Tinggalkan Sehun."
"Apa hakmu melarangku untuk dekat dengannya?" tanya Kai dingin.
"Tidak ada. Aku hanya merasa selain dia yang terlalu biasa untukmu, dia juga tak akan memberikan keuntungan bagi organisasi kita."
"Selain itu?" Kai meraih gelas berisi wine di hadapannya dan menyesapnya perlahan, kentara sekali ia sedang menikmati suasana yang agak tegang saat ini.
"Dia hanya akan merepotkan kita. Kau tahu kalau banyak musuh-musuhmu yang terus mengintaimu, berusaha mencari tahu titik kelemahanmu, dan kalau mereka melihatmu bersama dengan Sehun, maka mereka juga akan mengincarnya."
"Johnny, aku akan mengajukan satu pertanyaan untukmu." Kai meletakkan gelas berisi wine itu di atas meja. "Bagaimana kalau aku yang menginginkan hal itu terjadi?"
"Apa?" mulut Johnny terbuka lebar. "Apa kau sudah gila?"
Kai bangkit dari duduknya dan tanpa basa basi ia segera melayangkan satu pukulan keras ke perut Johnny dan lelaki malang yang tak siap dengan serangan tiba-tiba itu langsung terhuyung-huyung kebelakang sebelum jatuh dengan keras di lantai. "Meskipun kau temanku, aku tak akan segan-segan mematahkan rusukmu jika kau berani berkata seperti itu lagi di depanku."
Johnny memegang perutnya yang terasa sakit terkena serangan Kai. "Aku hanya tak ingin melihatnya terluka oleh musuhmu, mengertilah Kai, dia hanyalah lelaki biasa dengan paras yang biasa pula. Musuhmu hanya akan mengejekmu begitu mereka tahu seorang boss mafia yang mempunyai paras sempurna sepertimu bisa takluk pada seorang lelaki yang biasa-biasa saja. Aku tahu seleramu, dan Sehun sama sekali tidak termasuk di dalam daftar lelaki yang akan kau kencani."
"Aku tahu," Kai melangkah mendekat dan mengulurkan satu tangannya, ia membantu Johnny untuk berdiri. "Aku hanya membutuhkannya untuk memastikan sesuatu."
"Kau memanfaatkannya?"
Kai menggedikkan bahunya, "Terserah apapun yang ingin kau katakan tentang itu." tatapan mata Kai sama sekali tidak bisa terbaca, terlalu tenang dan Johnny tak tahu apa yang sedang di rencanakan oleh lelaki itu.
"Aku tak akan menghalangimu, tapi ku harap kau tidak menyakitinya terlalu dalam. Kau tahu bukan, dia hanya dari kalangan biasa dan bukan mafia seperti kita."
"Aku mengerti," gumam Kai, lelaki berparas tampan itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela di ruangan itu yang terbuka lebar. Ada banyak hal yang sedang Kai pikirkan saat ini, tapi ia tak akan mengatakannya pada siapapun. Biarlah ini menjadi rahasia dirinya sendiri. "Aku hanya berharap semua akan berjalan seperti yang aku inginkan."
Johnny mengernyitkan alisnya, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Kai, tapi ia tahu kalau Kai saat ini tak ingin berbagi dengannya, karena itu ia hanya bisa diam dan menunggu saat di mana Kai akan bercerita tentang semua rencananya tersebut.
.
.
.
.
.
.
Sehun menyentuh bibirnya perlahan, wajahnya merona saat ia memikirkan bagaimana Jongin mencium bibirnya dengan begitu lembut semalam. Bahkan tadi malam Sehun tak bisa tidur dengan nyenyak, ia selalu teringat pada perlakuan Jongin yang begitu lembut padanya. Apa ia sudah jatuh cinta pada Jongin? memikirkan kemungkinan itu, Sehun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Teringat fakta bahwa Jongin populer di sekolah membuat nyalinya ciut. Dulu saat ia mencintai Chanyeol, ia di bully seluruh sekolah yang tak suka melihat lelaki biasa sepertinya mencintai seorang lelaki tampan yang paling populer di sekolah. Sehun ingat, ia bahkan butuh waktu satu tahun untuk bisa meyakinkan ibunya untuk pindah dari sekolah itu, ibunya bersikeras kalau mereka akan tetap tinggal di sana dan Sehun tetap bersekolah di sekolah itu. Ibunya bahkan tidak percaya kalau dirinya kerap di bully, hingga saat waktu kenaikan kelas tiba dan ibunya datang ke sekolah untuk mengambil rapor milik Sehun, ibunya menyaksikan sendiri anaknya di bully oleh murid lain. Kenangan itu masih melekat di otak Sehun, bagaimana ibunya menangis meminta maaf padanya karena telah tidak mempercayainya, itu saat-saat terakhir Sehun berada di sekolah itu, sebelum kemudian ia dan ibunya pindah ke rumah mereka yang sekarang dan Sehun juga pindah ke sekolahnya yang baru.
Sehun tahu, kalau ia tak boleh membiarkan hal itu terjadi lagi, karena itu ia harus menjauh dari Jongin. Tapi sudut hati Sehun yang lain meragukan hal itu, ia tak munafik kalau ia mulai mencintai Jongin, hal ini tentunya membuatnya sedikit berat untuk menjauh dari Jongin.
"Hei, kau melamun." Baekhyun yang baru saja tiba di dalam kelas langsung menepuk punggung Sehun.
"Ya, kau mengagetkanku saja." Sehun mengelus dadanya pelan, matanya mendelik pada Baekhyun yang justru tertawa melihatnya hampir terjungkal ke belakang karena kaget.
"Maaf, habisnya kau di sapa tidak menjawab juga, ternyata kau beneran melamun," Baekhyun nyengir. "Kau sedang melamunkan apa? apakah itu seorang lelaki?" mata bereyeliner itu mengerling dengan jahil ke arah Sehun.
"Tidak," Sehun menjawab terlalu cepat hingga Baekhyun yakin kalau tebakannya benar.
"Yah, sayang sekali ya. Padahal aku ingin menjodohkanmu dengan kakakku."
"Huh, kenapa kau ingin menjodohkan aku dengan kakakmu?"
"Entahlah, ku rasa kau orang yang baik dan kau pasti cocok denganku. Kau tahu selama ini kakakku selalu berhubungan dengan orang yang tidak baik, ia suka sekali bergonta ganti pasangan."
Sehun mendelik ke arah Baekhyun, "Dan kau ingin menjodohkan aku dengan kakakmu yang playboy itu, aku tidak mau."
"Ya siapa tahu kan dia akan berubah menjadi lebih baik setelah bersama dengan orang sebaik dirimu."
Sehun mendengus, "Aku tidak sebaik itu dan berhentilah berkhayal Byun Baekhyun, aku rasa tidak semudah itu untuk merubah sifat seseorang."
"Nah, apalagi mendengarmu berbicara seperti itu, aku yakin kau lah orang yang paling cocok untuk kakakku, walau yah... wajahmu biasa-biasa saja."
Pletak
"Aww, Sehun ini sakit." Baekhyun mengelus keningnya yang terasa berdenyut, jitakan Sehun tidak bisa di katakan pelan, dan Baekhyun yakin kalau keningnya sekarang pasti memerah. "Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Aku tahu," Sehun menolehkan wajahnya ke samping, entah kenapa kalau Baekhyun yang mengatakannya seperti itu, ia tak bisa marah.
"Jadi... bagaimana kau mau ku kenalkan dengan kakakku?"
"Entahlah."
"Kau harus mau, nanti pulang sekolah dia akan menjemputku, kau harus ikut denganku."
"Baekhyun, aku kan belum mengatakan aku mau atau tidak." Lama-lama Sehun merasa jengkel juga dengan sifat Baekhyun yang begitu memaksa.
"Ayolah Sehun, lagi pula kakakku tampan sekali loh."
"Aish, baiklah," Sehun mengalah dan membiarkan Baekhyun melompat-lompat kesenangan. "Tapi hanya berkenalan dan tidak lebih"
"Aku mengerti," Baekhyun pikir berkenalan dulu juga tidak apa-apa, karena ia yakin Sehun pasti akan langsung jatuh cinta ketika melihat ketampanan kakaknya yang tidak kalah dengan lelaki paling populer di sekolah mereka saat ini.
Setelah itu keduanya terus melanjutkan perbincangan seru tanpa menyadari seseorang yang terus mengamati mereka dari kejauhan.
"Akhirnya aku menemukannya, boss pasti senang mendengar berita ini." Lelaki itu menyelinap keluar dari area sekolah dan segera menelpon seseorang, tanpa mengetahui ada seorang lelaki lain yang mengamatinya dari atas atap sekolah.
"Sepertinya berhasil ya, baiklah permainan sebentar lagi akan di mulai." Lelaki itu memutar-mutar pistol di tangannya. "Kita lihat siapa yang akan menang kali ini Huang Zitao." Lelaki itu, Kim Kai menyeringai dan segera menjauh dari atap sekolah setelah menyembunyikan pistolnya ke balik seragam sekolahnya.
Pulang sekolah adalah saat yang begitu dinantikan oleh para murid, begitupun dengan Baekhyun yang bahkan dengan begitu semangat segera menarik tangan Sehun keluar dari kelas.
"Aish, Channie belum datang juga." Baekhyun celingak celinguk ke arah jalan dengan bibir mengerucut.
"Channie?" tanya Sehun dengan raut wajah bingung.
"Iya Channie, itu nama panggilan kakakku, nama panjangnya Chan..." Sebelum Baekhyun sempat menyelesaikan kalimatnya, lelaki berparas cantik itu malah meringis dan memegangi perutnya. "Aduh Sehun, perutku mulas, aku akan ke toilet dulu, kau tunggu di sini ya jangan kemana-mana aku akan segera kembali. Kalau ada lelaki berbadan tinggi menghampirimu itu pasti kakakku." Setelah mengatakan itu Baekhyun langsung berlari menjauhi Sehun.
"Baek dia memakai baju warna apa?" Sehun menoleh ke arah Baekhyun dan mengumpat saat menyadari lelaki itu bahkan sudah menghilang dari sampingnya. "Aish, anak itu. siapa suruh tadi dia makan sambal terlalu banyak." Sehun menolehkan lagi pandangannya ke arah jalan, bertepatan sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depannya dan seorang lelaki bertubuh tinggi keluar dari dalam mobil itu. Dahi Sehun berkerut, Baekhyun tadi bilang kalau kakaknya berbadan tinggi, apa ini orangnya? Tapi kenapa wajah mereka tidak mirip?
"Maaf, apa kau kakak Baekhyun?" tanya Sehun ragu saat lelaki itu tiba di depannya.
Lelaki itu menyeringai, satu tangannya merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sapu tangannya. "Kau boleh memanggilku seperti itu, kau kekasih Kai bukan?"
"Apa?" mata Sehun terbelalak lebar, kekasih Kai? "Siapa itu Kai?"
Grep
"Ummm..." Sehun memberontak saat lelaki itu dengan tiba-tiba menarik tubuhnya mendekat dan kemudian menutup hidungnya dengan sapu tangan, dan sesaat kemudian tubuh Sehun sudah terkulai lemas di pelukan lelaki itu. "Kau ingin membodohiku dengan mengatakan kau tidak tahu dengan Kai, kau terlalu bodoh kalau berpikir dirimu lebih pintar dariku." Lelaki itu mengangkat tubuh Sehun dan bergegas membawanya masuk ke dalam mobil, ia harus bergerak cepat sebelum anak buah Kai menyadarinya.
Dan tak lama setelah mobil yang membawa Sehun pergi, Baekhyun muncul dan lelaki manis itu langsung mengomel ketika tidak melihat Sehun di tempat itu. "Aish Sehun, aku membencimu, kenapa kau pergi padahal kau kan sudah janji, tapi tak masalah lain kali aku akan mengikat tubuhmu agar kau tak bisa menghindar dariku lagi. Dan saat itu aku akan pastikan kau pasti akan bersama dengan kakakku dan bukan yang lain."
.
.
.
.
.
Brakk
Kai menatap ke arah Johnny yang masuk ke dalam ruangannya dengan cara menendang pintu hingga terbuka. "Aku butuh alasan yang kuat darimu karena kalau alasanmu tidak kuat aku akan menendangmu sama seperti kau menendang pintu itu."
"Kau tadi tidak ke sekolah?" tanya Johnny dengan napas yang masih sedikit tersengal.
"Aku ke sana, tapi hanya sebentar. Apa kau datang dengan menendang pintuku hanya untuk mengatakan itu?"
"Sehun di culik," kata Johnny dengan cepat, ia tahu kalau ia tidak cepat-cepat mengatakannya bisa jadi ia akan di tendang oleh Kai.
Wajah Kai tetap datar setelah ia mendengar ucapan Johnny, "Begitu? Kali ini musuhku yang mana yang berani menculiknya?"
"Tao."
Bahkan sebelum Johnny mengatakannya, Kai sebenarnya sudah tahu kalau ialah dalang di balik penculikan Sehun. "Hmmm..."
Johnny terlihat begitu frustasi ketika melihat raut wajah Kai yang masih begitu tenang. "Seharusnya kau ijinkan aku atau anak buahmu yang lain untuk menjaga Sehun, sehingga penculikan ini tidak akan terjadi Kai. Tapi kau terlalu meremehkan musuh kita dan sekarang lihatlah kenyataannya, mereka bahkan berani menculik Sehun."
"Tak akan ada yang terjadi pada Sehun."
"Apa?"
"Bukankah kau bilang Sehun hanyalah orang biasa dengan wajah yang biasa, Tao tidak akan tertarik padanya dan kalau ia sebodoh yang aku duga, ia tak akan menyakiti Sehun."
"Apa maksudmu?"
"Kita lihat saja nanti, sekarang siapkan anak buah kita, kali ini aku akan memberikan pria itu pelajaran." Kai bangkit dari duduknya dan meraih pistol di atas meja. "Ayo..."
Johnny menatap punggung tegap Kai dengan tatapan penuh tanya, "Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku Kai, akhir-akhir ini kau begitu sulit di tebak."
Namun Kai tak sekalipun punya niat untuk menjawab pertanyaan Johnny, ia hanya diam dan terus meneruskan langkahnya.
Di tempat lain, Sehun yang sudah sadar dari pingsannya, kini tengah duduk di lantai di sebuah ruangan, kedua tangannya terikat dengan erat, tak jauh darinya duduk seorang lelaki dengan angkuhnya. Sehun melirik takut-takut ke samping, ada puluhan orang bersenjata yang mengelilinginya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Sehun sungguh sangat takut akan kemungkinan buruk yang mungkin saja akan menimpanya.
"Jadi ini kekasih Kai?" suara laki-laki yang tengah duduk di kursi itu memecah keheningan yang terasa begitu mencengkam bagi Sehun.
"Ya, boss."
Laki-laki itu bangkit dari duduknya, langkahnya begitu tegas saat ia mendekati Sehun yang terus menundukkan wajahnya, tangan kasar laki-laki itu menarik dagu Sehun, memaksa lelaki itu untuk mendongak.
"Shit..." lelaki itu mengumpat saat ia menatap dengan jelas wajah Sehun. "Si brengsek itu, dia pasti telah menjebak kita." dengan kasar ia mendorong Sehun hingga terjatuh ke lantai. "Persiapkan senjata kalian, aku yakin sebentar lagi kita akan kedatangan tamu tak di undang."
"Apa maksud boss?"
"Kalian lihat wajahnya?"
Semua tatapan kini tertuju pada Sehun yang masih terbaring di lantai.
"Dia..."
"Ya, Kai pasti sengaja memancing kita dengan menggunakan lelaki ini. Seseorang seperti Kai tak akan mungkin tertarik dengan lelaki sepertinya."
Air mata menetes di pipi Sehun, ia tahu kalau wajahnya memang tidaklah tampan tapi mendengar dirinya yang di manfaatkan oleh siapapun lelaki bernama Kai itu, rasanya begitu menusuk jantungnya, terasa begitu menyakitkan.
"Tentu saja, aku kenal Kai, seleranya tidaklah sejelek ini."
"Wah wah wah, kau sepertinya memahamiku dengan baik ya Huang Zitao."
Semua mata kini teralih ke arah pintu di sana berdiri dengan angkuhnya seorang Kim Kai ditemani oleh Johnny. Tak terkecuali Sehun yang ikut menatap tak percaya pada orang itu. "Jongin..." bisiknya lirih.
"Kai, kau datang..." Tao melangkah mundur satu langkah, meraih pistolnya dan mengarahkannya pada Sehun. "Kau maju satu langkah lagi maka nyawa lelaki ini akan melayang."
"Begitu kah yang kau pikirkan?" Kai melangkah satu langkah lagi. "Lakukan saja apapun yang kau mau."
"Sial.." Tao mengumpat, semua sesuai dugaannya Kai sengaja memancing dirinya menggunakan lelaki ini dan tentang nasib lelaki ini, tentu saja seorang Kai yang terkenal berdarah dingin tak akan pernah peduli. "Berhentilah maju Kai, kau lihat jumlah anak buahku lebih banyak darimu."
"Begitukah?"
Dan saat itulah Tao tersentak kaget menyadari banyak sinar laser merah yang terarah padanya dan juga anak buahnya.
"Sehun pejamkan matamu."
Dan tepat saat Sehun memejamkan matanya terdengar suara tembakan yang terdengar beruntun. Lelaki itu meringkuk di lantai dan makin erat memejamkan matanya, hingga beberapa saat kemudian suasana berubah sunyi. Hanya terdengar suara langkah kaki mendekat dan kemudian berhenti di dekatnya, Sehun masih tak berani membuka matanya bahkan ketika ia merasa tali yang mengikat tangannya sudah terlepas.
"Kau sudah boleh membuka matamu."
Perlahan Sehun membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah tenang Jongin. Tidak, itu bukan Jongin, tadi Sehun mendengar dengan jelas kalau lelaki yang menculiknya memanggil lelaki di hadapannya ini dengan sebutan Kai.
"Kau... siapa?"
Kai mengernyitkan satu alisnya. "Jongin tentu saja, kau pikir siapa lagi?"
Satu tetes air mata mengalir lagi di pipi Sehun, perlahan ia berusaha bangkit dari berbaringnya, ia menepis tangan Kai yang berniat membantunya untuk berdiri. "Aku bisa sendiri."
Kai mengamati Sehun yang berdiri menunduk di hadapannya. "Kau baik-baik saja."
"Seperti yang kau lihat," Sehun enggan menatap wajah Kai, ia terus menunduk, walaupun hatinya menjerit, mengatakan kalau ia tidak baik-baik saja, hatinya tidak baik-baik saja, ini terasa menyakitkan untuknya. "Aku mau pulang..." Sehun berpaling dan kemudian menjerit ngeri ketika melihat beberapa sosok tubuh terbaring tak bernyawa di lantai lengkap dengan darah yang menggenangi lantai.
Kai menarik tubuh Sehun ke dalam dekapannya. "Kau laki-laki yang keras kepala," geramnya pelan. Masih dengan Sehun yang berada di dalam dekapannya ia menuntun langkah Sehun untuk keluar dari tempat itu. "Kalian bereskan semuanya." Ucapnya pada anak buahnya yang menunggu dalam diam perintah darinya.
"Baik boss."
.
.
.
.
.
Sehun hanya diam ketika Jongin membawanya ke apartemen lelaki itu, ia bahkan tak protes sama sekali ketika Jongin membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya.
"Buka pakaianmu dan mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu."
"Kai..."
"Panggil aku Jongin seperti biasanya Sehun."
Sehun kembali diam, membuka kancing seragam sekolahnya dan kemudian membuka pakaiannya begitu saja di depan Jongin yang membelalakkan matanya. Apalagi ketika Sehun tanpa malu melepaskan juga celananya hingga lelaki itu telanjang di depannya.
"Sehun, apa yang kau lakukan?" suara Jongin terdengar lebih serak dari biasanya.
"Aku mau mandi."
"Ya aku tahu," erang Jongin. "Tapi kau bisa kan melepaskan pakaianmu di dalam kamar mandi?" tak tahukan Sehun kalau adiknya mulai bangun ketika melihat tubuh telanjang Sehun.
"Apa bedanya aku buka di sini dengan di dalam?"
"Huh?"
Aku tetaplah lelaki jelek yang hanya dimanfaatkan oleh orang-orang sepertimu." Sehun terisak pelan.
"Sehun..."
"Apa karena aku jelek dan tubuhku tidak menarik seperti orang lain, hingga orang lain merasa berhak untuk menyakitiku."
"Sehun dengarkan aku..."
"Hiks... aku membencimu..." Sehun masuk ke dalam kamar mandi dengan isakannya yang terdengar begitu memilukan.
Jongin mengerang pelan, ia dengan cepat mengunci pintu kamarnya dan kemudian melepas seluruh pakaiannya. Persetan dengan Johnny yang mungkin akan marah padanya, tapi saat ini yang ia pikirkan hanyalah Sehun.
Sehun berada di sana, telanjang di bawah shower dengan posisi tubuh yang membelakangi, dari tempatnya, Jongin bisa melihat bentuk tubuh Sehun yang berlekuk sempurna dengan bulatan padat yang terlihat begitu mengundang untuk ia sentuh.
Jongin berjalan maju tanpa ragu, ia memeluk tubuh Sehun dari belakang dan membiarkan tubuhnya ikut basah bersama Sehun.
"Apa yang kau lakukan?" Sehun memberontak, "Apa tak cukup bagimu untuk memanfaatkanku Jongin?"
"Aku senang kau memanggilku Jongin dan bukan Kai."
"Masa bodoh, sekarang singkirkan tubuhmu dariku."
"Kalau kau masih bisa marah-marah padaku, itu artinya kau baik-baik saja." Jongin melepaskan pelukannya di tubuh Sehun, ia memutar tubuh Sehun hingga kini keduanya berhadapan saling tatap di bawah tetesan air yang terus mengalir dari shower.
Kedua tangan besar Jongin menangkup kedua pipi Sehun dengan lembut. "Apa kau ingin mendengar apa alasanku yang sebenarnya?"
"Apakah ada jaminan kalau yang kau katakan adalah sebuah kejujuran?"
"Tak ada, tapi ku harap kau percaya padaku." Jongin sedikit menunduk untuk mencicipi bibir Sehun sebentar.
"Soal apa yang dikatakan Tao padamu, aku tak akan mengelaknya, ya, aku memang memanfaatkanmu untuk memancingnya keluar."
Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Sehun mendengar ucapan Jongin. "Apa aku serendah itu di matamu?"
"Hanya itu satu-satunya cara bagiku untuk memancingnya keluar dari persembunyiannya, aku tahu ini akan menyakiti hatimu, tapi tak ada cara lain. Dan aku yakin kalau ia tak akan menyakitimu sampai aku datang untuk menyelamatkanmu."
"Karena semua orang merasa aku bukan orang yang layak untuk di cintai?"
"Sehun..." Jongin menyatukan keningnya dengan kening Sehun. "Jangan pernah berpikir kalau kau tak layak untuk di cintai."
"Tapi Chanyeol sudah membuktikannya, begitupun dirimu..."
"Siapa Chanyeol?"
"Bukan siapa-siapa."
"Baiklah, kita tak akan membahasnya sekarang, tapi yang perlu kau tahu Sehun, kau sangat pantas untuk di cintai."
"Untuk apa di cintai kalau hanya untuk di manfaatkan."
"Kau marah karena aku memanfaatkanmu?"
"Tentu saja, kau pikir siapa yang tidak akan marah kalau dimanfaatkan? Aku mungkin memang jelek tapi aku punya hati yang juga bisa merasakan sakit, Jongin."
Jongin melepaskan tangkupan tangannya di pipi Sehun, kini kedua tangannya beralih menangkup bokong padat Sehun, dengan mengerahkan sedikit tenaganya, ia mengangkat tubuh Sehun dan secara alamiah Sehun mengaitkan kedua kakinya di pinggul Jongin, untuk sesaat tubuh keduanya tersentak pelan saat junior keduanya secara tak sengaja bersentuhan, namun Jongin tidak menjauhkan tubuh Sehun darinya, ia malah makin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Sehun.
"Aku minta maaf untuk apa yang telah aku lakukan padamu, aku telah membahayakan dirimu."
Jongin mengecup ujung hidung Sehun sebelum bibirnya bergerak untuk melumat bibir Sehun dengan lembut, ciuman itu tidak lama karena Jongin lebih memilih untuk menciumi leher Sehun di iringi dengan kecupan-kecupan ringan di leher yang basah tersebut, air masih mengalir dari shower dan makin menambah basah tubuh keduanya.
"Jongin..." Sehun meremas rambut Jongin saat lelaki itu menghisap lehernya dengan cukup kuat.
"Aku memang sengaja memanfaatkanmu untuk memancing Tao keluar, tapi kedekatan yang kita jalani selama ini bukan sebuah kesengajaan Sehun. aku memang menginginkannya...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"... Karena aku sudah jatuh ke dalam hatimu sejak pertama kali aku melihatmu."
.
.
.
.
.
TBC
Aku ngetik Imperfect love tapi ternyata ini duluan yang selesai, jadi ga apa-apa ya yang ini duluan aku publish sementara aku nyari ide untuk ff imperfect love.
Mohon reviewnya ya.
Salam kaihun hardshipper
KaiHun Lovea
