Lavender Boy.
.
.
.
Chap 3
.
.
.
Satu bulan sudah. Dan Fang menyesali segala tindakan tanpa pikir panjangnya kala itu. Dimana ia menyelamatkan seorang pemuda yang bahkan sejak hari itu tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya. Tapi mau disesali bagaimanapun saat ini Fang hanya mengikuti instingnya untuk segera menyelamatkan pemuda yang seusia dengannya waktu itu.
Sampai saat ini Fang bahkan masih mengingat setiap rentetan omelan panjang dari Ochobot yang membuatnya merasa bersalah dan bodoh karena tidak mengikuti peringatan kawan pirangnya itu.
"Demi Tuhan, Fang! Apa yang baru saja kau lakukan tadi!?, apa kau ingin mati!?." Mengingatnya wajah Fang keruh.
"Aku baru saja memberitahu mu dan apa yang nyatanya kau lakukan? Kau melanggarnya bahkan sebelum ada semenit aku peringatkan!" Andai Ochobot tau betapa Fang sangat menyesal.
"Aish! Kalau sudah begini aku harus selalu mengawasi mu dan tidak boleh meninggalkanmu barang sebentar saja! Kau tau itu!?." Kalau tau Fang yakin tidak akan lepas kendali. Tapi mau gimana lagi semua sudah terjadi.
Dan lagipula sesungguhnya yang Fang sesali adalah bagaimana bisa ingatan buruknya tentang masa lalu kembali begitu saja? Apa karena fakta dirinya dulu pernah mengalami hal yang sama?. Ah, memikirkannya entah kenapa membuat kepalanya mendadak pening.
Si pemuda berparas tampan namun cenderung manis itupun kembali menghela nafas. Iris violetnya yang indah menatap ke sekeliling dengan waspada. Oh! Tentu saja begitu, karena pemuda tersebut saat ini tengah berusaha menghindar dari para begundal berjuluk Bfive.
Ya, para pemuda yang berstatus sebagai penguasa sekolah. Ke lima pemuda tampan bersaudara yang secara - tidak - sengaja sudah Fang lawan. Karena insiden heroik yang ia lakukan saat baru pertama kali menginjakkan kakinya disekolah paling terkenal dipulau rintis ini.
Fang tanpa sadar mengerucutkan bibirnya lucu. Sembari berdoa dalam hati semoga saja Ochobot sang sahabat satu-satunya kini tengah mencari dirinya. Karena bagaimanapun tidak ada yang berani berteman dengan Fang setelah para Bfive mengumumkan akan membuat perhitungan dengan siapa saja yang berani berteman dengan si ungu manis. Kecuali si pemuda pirang satu-satunya itu yang baru Fang ketahui seminggu yang lalu jika Ochobot dan Bfive ternyata saudara sepupu.
Haahhh!
Fang menghela nafas berat. Dan kembali mendumal dalam hati apa yang akan dilakukannya setelah ini. Tidak mungkin kan dirinya tetap bersembunyi diruang praktek kimia jika waktu terus berjalan dan jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Ceklek!
Eh?!
Suara ruangan pintu tuang praktek yang dibuka membuat Fang hampir saja terlonjak kaget. Untung saja kepala bermahkotakan sewarna anggur miliknya tersebut tidak terjeduk bagian bawah meja. Sialan! Rutuk Fang dalam hati.
"Keluarlah, aku tau kau bersembunyi di sini."
DUK!!
"Aduh!!."
Fang kembali terlonjak kaget hingga kali ini kepala mungil itu sukses mencium bawah meja. Suara ringisan jelas terdengar dari bibir ranum miliknya. Dan mau tidak mau Fang pun akhirnya keluar dari persembunyiannya, sampai netra violetnya bersibobrok dengan sepasang iris merah yang tajam.
"Sudah ku duga kau pasti bersembunyi disini."
Fang mendengus malas meski dibalik itu ia menyembunyikan rasa takut. Apalagi melihat seringai dari salah satu begundal disekolah mereka itu, Halilintar.
"Mau apa lagi sekarang? Belum puas ya pembalasan kalian selama satu bulan ini?!." Sindiran pedas khas Fang akhirnya keluar juga.
Jangan tanya kenapa? Karena semenjak berurusan dengan Bfive, Fang bersumpah dirinya sering sekali mengeluarkan tenaga ekstra jika sudah berhadapan dengan mereka plus stok kesabaran yang gampang sekali menipis.
Dan Fang diam-diam bergidik ngeri saat Halilintar kembali menunjukkan seringainya yang kali ini semakin lebar. Mendadak ia merasakan firasat buruk.
"Tentu saja belum. Tapi kalau kau ingin semua cepat berakhir hanya ada satu cara jalan keluarnya sugar."
Fang melotot tidak terima saat mendengar nama panggilan yang dilontarkan si pemuda beriris ruby tersebut. Sugar? Yang benar saja!.
"Apa?!." Sahut Fang tidak sabaran. Bagaimanapun dirinya tidak boleh terpancing.
"Jadi milik ku."
Seketika Fang membatu ditempat.
.
.
.
.
Ochobot kelabakan. Ketika jam pertama pelajaran hampir dimulai tapi sang sahabat berhelai ungunya tak juga menunjukkan tanda- tanda kehadiran.
Ochobot gelisah dan sedari tadi tidak bisa duduk dengan tenang dibangkunya dan sesekali melirik ke arah pintu masuk. Dan oh shit! Pikirannya mendadak mengingat ke lima sepupunya. Tidak mungkin kan jika saat ini Fang tengah bersama Bfive.
Tidak bisa. Ochobot harus segera mencari Fang, jangan sampai pemuda manis yang sudah dia anggap seperti adiknya itu berurusan dengan Bfive terus-menerus, tidak selama ia masih bisa melindungi Fang walau sering kali kecolongan dan membuat si ungu manis mengalami masalah.
Dengan cepat si pirang pun langsung ke luar kelas dan mencari Fang, berharap bahwa pemuda itu baik-baik saja.
.
.
.
.
"Bagaimana? Apa kau menerima tawaran ku?."
Fang mendengus sinis. Mengabaikan wajah tampan pemuda beriris ruby yang menyeringai tidak jelas ke arahnya.
Menjadi miliknya? Cih! Fang tidak akan pernah semudah itu jatuh pada salah satu orang yang sudah membuat nya tidak tenang selama disekolah. Fang tidak sudi!.
"Maaf aku menolak."
Kini tidak ada cara lain selain membalas balik tatapan sang lawan. Toh, Fang bahkan dulu sering mengalami hal seperti ini. Apalagi tatapan meremehkan yang baru saja dilayangkan si tampan arogan didepannya tersebut.
Dan kini Fang yang malah menyeringai meremehkan ke arah Halilintar, dan demi apapun pemuda itu tidak terima dan iris merahnya menatap tajam.
"Kau!,"
"Apa? Kau tidak terima?," jeda. Fang semakin menyeringai tapi otak jeniusnya juga mencari jalan untuk kabur, "tapi maaf saja aku tidak berniat menjadi milik siapapun apalagi menjadi milik seseorang seperti mu!," lanjut Fang menekankan.
Halilintar mematung. Tangannya mengepal erat. Tidak! Pemuda sialan itu tidak boleh menolaknya, karena demi apapun dia tidak pernah menerima penolakan. Dan saat itu si tampan Halilintar lengah karena sebelum ia sempat mencekal lengan pemuda ungu manis itu, sang target justru sudah kabur.
"Sialan!, bagaimanapun dia harus jadi milik ku."
Halilintar mengumpat kesal. Ia akan mencari cara bagaimanapun untuk menjadikan pemuda anggur yang manis itu miliknya. Sebelum saudaranya yang lain mengambil langkah yang sama. Halilintar berniat meninggalkan ruangan tersebut. Tapi,
"Aku tidak menyangka kalau ternyata kau juga tertarik."
, suara yang amat ia kenal berhasil menghentikan niatnya untuk melangkah.
Halilintar berbalik. Dan iris rubynya yang tajam bersitatap langsung dengan iris biru muda milik si bungsu yang datar, siapa lagi jika bukan Ice.
Si mata merah mendengus, merasa konyol dengan ucapan saudara kembarnya tersebut.
"Huh, kau pikir aku tidak tau kalau kau juga tertarik padanya?," entah kenapa atmosfer diantara ke duanya sangat tidak bersahabat.
"Bagitu juga dengan Taufan dan Blaze, bahkan Gempa sekalipun," lanjut Halilintar sinis. Sedangkan Ice masih saja menatap datar seolah tidak peduli.
"Ya, tentu saja aku tertarik. Bukankah karena itu kita berlima bersaing untuk mendapatkannya?."
Halilintar terdiam, begitu juga dengan Ice. Ke duanya seolah sama-sama tengah memikirkan sesuatu.
"Maaf saja tapi dia akan menjadi milik ku." Setelahnya Halilintar benar-benar meninggalkan tempat tersebut dengan Ice didalamnya.
"Permainan bahkan baru saja dimulai." Dan Ice pun juga pergi dari sana untuk kembali ke kelas.
Tanpa Halilinar dan Ice tau jika seseorang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka meski tidak secara jelas.
Menatap ke dua pemuda kembar itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
.
.
.
.
.
TBC!!
Masih ada yang ingat sama cerita ini? :")
Pasti tidak ada hehe
