Gomawo, Saranghae!

.

.

.

04

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa, pernikahan yang dijalani Baekhyun dan Chanyeol sudah memasuki bulan ke enam.

Baekhyun masih sama dengan pekerjaannya, hanya Chanyeol yang berubah lebih sibuk dari sebelumnya. Tugas luar kota sering diambil pria yang berstatus suaminya itu.

Dan sudah menjadi kebiasaan Baekhyun, dia baru akan beranjak tidur, ketika Chanyeol sudah kembali ke apartemen mereka. Kecuali bila pria tinggi itu mengatakan bahwa dia akan menginap.

Komunikasi mereka pun menjadi semakin terbuka. Baekhyun bisa membicarakan apa saja dengan suaminya itu. Timbal balik yang di berikan Chanyeol pun tak pernah membuatnya kecewa. Chanyeol yang terbaik dalam segala hal.

Hah!

Banyak yang mengatakan padanya, betapa beruntungnya dia mendapatkan sosok Chanyeol. Yang tak pernah menuntut apapun darinya.

Benar!

Dia sangat beruntung di dampingi Chanyeol selama ini, karena tak hanya kasih sayang saja yang di tunjukkan pria itu padanya, tapi juga perhatian dan pengertiannya. Baekhyun tak bisa membayangkan, bagaimana jika yang datang enam bulan yang lalu bukan Chanyeol. Tentu semua akan berbeda dari apa yang sekarang terjadi padanya.

Lalu setelah enam bulan berlalu, adakah yang menjadi lebih dari hubungan mereka sebelumnya?

.

.

.

Klek

Chanyeol mendongakkan kepalanya, menatap siapa yang saat ini berdiri di ambang pintu ruangannya.

Baekhyun berdiri disana dengan bantal dalam pelukannya.

"Ada apa?" tanya Chanyeol heran.

Baekhyun terlihat berpikir sejenak, tampak bingung, jawaban apa yang harus dia berikan pada suaminya itu. Hubungan mereka memang bisa dikatakan sudah dekat dari sebelumnya, namun mengetuk atau bahkan masuk ke dalam ruang kerja Chanyeol, yang juga merangkap kamar tidur suaminya itu, Baekhyun tak pernah melakukannya. Ini yang pertama baginya.

Chanyeol berdiri dari duduknya, lalu mendekati Baekhyun dan membimbing istrinya itu untuk duduk di sofa single yang terdapat di sudut lain ruangan itu.

"Kenapa?" tanyanya sabar.

"Diluar hujan, petirnya... ehm...aku takut petir." Baekhyun ragu mengungkap hal itu.

Chanyeol menatap keluar melalui celah yang tersisa karena tirai tak tertutup rapat. Benar, sudah sejak sore tadi hujan, dan kilatan serta petir bersahutan di luar sana.

"Kau mau tidur disini? Atau kita tidur di kamarmu?" tanya Chanyeol.

"Disini." Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan memohon. Bukan tanpa alasan dia menjawab seperti itu. Kalau mereka tidur di kamarnya, kemungkinan besar Chanyeol meninggalkannya di tengah malam itu sangatlah besar. Terlebih dia tak tahu kapan hujan reda dan petir tak lagi mengeluarkan suara. Tidak! Dia tak ingin ketakutan sendirian.

"Baik. Kau naik dulu ke ranjang. Aku akan melihatmu dari sana. Ada pekerjaan yang masih belum selesai, aku akan menyusulmu nanti." Chanyeol berdiri dari duduknya, kembali ke meja kerjanya.

Sedangkan Baekhyun terlihat ragu ketika melangkah ke ranjang Chanyeol.

Di luar hujan cukup deras, kilat di sertai petir masih terdengar bersahutan. Memang tidak keras suaranya, namun tetap saja selalu berhasil membuat Baekhyun menggigil ketakutan.

"Apa kau masih lama disitu?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol cemas. Dia sudah berbaring miring di ranjang Chanyeol.

"Ehm. Ini harus selesai malam ini, besok pagi presentasi. Pejamkan matamu, aku melihatmu dari sini." Sahut Chanyeol tanpa menatap Baekhyun, dia masih sibuk dengan kertas kerjanya.

Baekhyun mengerti, rasanya tidak sopan kalau dia terus mengganggu Chanyeol dengan rengekannya.

Benar kata Chanyeol, suaminya itu melihatnya, jadi tak ada yang perlu dia takutkan.

Perlahan, Baekhyun mulai memejamkan matanya, berusaha mengusir semua ketakutannya, namun...

Jdeeerrr

"Aaaaaaaaa!"

Chanyeol berdiri dari duduknya dan langsung berlari menghampiri Baekhyun yang sudah menjerit dan kini menggigil ketakutan.

Pria itu langsung menghambur memeluk Baekhyun.

"Ssstttt..."

Pria itu dengan sabar mengusak punggung Baekhyun, menenangkan istrinya yang masih menggigil ketakutan dan terisak lirih.

Baekhyun benci rasa ini, dia sudah sering berusaha melawan ketakutannya, namun tetap saja, setiap kali hujan turun dan petir bersahutan, dia memilih bersembunyi diantara kedua orangtuanya, dan itu dulu, saat dia masih tinggal serumah dengan kedua orang tuanya. Sekarang, pada suaminyalah dia mencari pelindungan dari perasaan takutnya itu.

"Aku disini. Aku akan melindungimu. Tenanglah!" ujar lembut Chanyeol. Baekhyun mengeratkan pelukannya pada tubuh besar Chanyeol.

Perlahan, Chanyeol membawa Baekhyun yang masih menyembunyikan dirinya dalam pelukannya itu untuk berbaring. Tampaknya, tugasnya tak akan selesai malam ini. Karena sepertinya, Baekhyun enggan untuk di tinggalkan.

"Jalja sayang."

.

.

.

Baekhyun membuka matanya perlahan saat sinar matahari pagi yang masuk melalui celah tirai yang tak tertutup rapat mengusiknya dengan hangat. Pagi ini, dia melihat pemandangan yang berbeda. Bukan lagi lemari berbentuk kotak di sudut kamarnya, atau pun foto pernikahannya yang tertempel di dinding kamarnya.

Pagi ini, wajah tampan suaminya 'lah yang di dapatinya begitu matanya terbuka. Pria itu terlihat masih terbuai dalam mimpi indahnya.

Semalam, setelah jatuh terlelap, Baekhyun bermimpi begitu indah. Dia sedang berada di sebuah taman dengan dua lengan besar memeluknya dari belakang dan dada yang begitu bidang dijadikannya tempat untuk bersandar. Dia merasakan kenyamanan saat lengan itu melingkupinya dan memberinya kehangatan. Dan rupanya seperti ini keadaannya ketika matanya terbuka, Chanyeol memeluk erat dirinya, melindunginya dari rasa takut yang semalam sempat menderanya.

Hhhhh...

Baekhyun perlahan membebaskan tangannya, kemudian dengan berani menyusuri setiap jengkal wajah Chanyeol dengan telunjuk rampingnya.

Mulai dari dahi, kedua alis tebalnya, bulu matanya yang terlihat panjang dan lentik, lalu hidungnya yang tinggi, kemudian hendak menuju bibir tebal Chanyeol ketika tiba-tiba tangannya di genggam oleh suaminya.

Baekhyun tersentak, dia berusaha membebaskan dirinya namun Chanyeol justru mempererat pelukannya.

"Semalam kau sudah menggangguku dengan rengekanmu, sekarang... Saat aku benar-benar ingin tidur, kau menggangguku lagi, kau ini mau apa sayang?"

Chanyeol membuka matanya, kemudian menggesekkan hidungnya pada hidung Baekhyun dengan gemas.

"A... Ehm... " Baekhyun berusaha mengalihkan tatapannya dari Chanyeol. Tindakan yang baru saja dilakukan suaminya itu padanya, berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Chanyeol memperhatikan perubahan yang terjadi di wajah Baekhyun. Dimana sekarang, di kedua pipi istrinya terlihat semburat merah jambu. Malu sepertinya.

Chanyeol merapatkan dirinya, kembali memperhatikan raut keterkejutan di wajah istrinya.

Wajah mereka nyaris tak berjarak kini. Chanyeol menatap Baekhyun dalam, kemudian perlahan semakin mendekatkan wajahnya kepada Baekhyun.

Sepersekian detik kemudian, bibirnya sudah mendarat diatas bibir Baekhyun.

Dan merasa tak mendapat protesan dari tindakannya, nalurinya sebagai laki-laki meminta lebih dari hanya sekedar bibir yang menempel.

Pelan tapi pasti, Chanyeol membuka bibirnya, meraup kasar bibir tipis Baekhyun, membuat gadis itu sontak meremat baju tidur suaminya.

"Eeeuuuhhmm." Desah lirih Baekhyun, bibirnya terasa kebas akibat lumatan bertubi-tubi yang dilayangkan Chanyeol pada bibirnya.

Tak cukup hanya seperti itu, ciuman Chanyeol turun ke leher istrinya. Mengecupnya perlahan dan berulang-ulang, lalu dengan kurang ajar, tangannya menyentuh dada Baekhyun dan meremasnya gemas. Ukurannya memang tak besar, namun terasa begitu pas dalam genggamannya.

"Aaaaahhhh." Desah Baekhyun, tubuhnya terasa panas merasakan sentuhan itu.

Namun sepersekian detik berikutnya, pikiran Chanyeol di hantam kesadaran. Dia merasa ada yang salah atas tindakannya. Tidak! Seharusnya tak seperti ini.

Detik selanjutnya, Chanyeol melepaskan Baekhyun.

"Aku mandi!" Ujarnya lirih sambil turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandinya.

Sementara Baekhyun, perempuan itu masih kesulitan mengatur nafasnya pasca perbuatan Chanyeol yang pagi ini berhasil membuatnya nyaris menjerit, merasakan sesuatu yang baru pertama dirasakannya.

Perasaannya, saat Chanyeol tak hanya menjamah bibirnya namun juga lehernya, sangat luar biasa, dadanya berdegup cepat dan rasanya begitu menyenangkan. Namun perasaannya berubah seketika saat Chanyeol meninggalkannya begitu saja.

Tanpa terasa, airmata Baekhyun mengalir dari kedua sudut matanya, perempuan itu kemudian bangun dari tidurnya, lalu merapikan ranjang Chanyeol sebelum melangkah keluar dari ruangan itu.

.

.

.

Seharian ini, entah sudah berapa kali nafas Chanyeol terdengar terbuang dengan sangat berat.

Berulang kali, baik Sehun maupun Kai, yang duduk tak jauh darinya, menatap Chanyeol yang hari ini terlihat tak seperti biasanya.

Raut wajahnya terlihat tegang dan sedikit murung.

"Kau ada masalah hyung?" tanya Kai, yang jujur saja, sejak tadi sikap Chanyeol cukup mengganggu konsentrasinya.

Masalah?

Huft!

Masalah yang dihadapi cukup banyak hari ini, mulai dari dia berusaha menekan hawa nafsunya saat semalam Baekhyun terus bergerak tak tenang dalam pelukannya. Lalu kemudian pagi tadi, Baekhyun yang kembali mengusiknya dengan menyentuh lembut hampir setiap bagian wajahnya.

Chanyeol pria normal, yang ketika diberi rangsangan sedikit saja, pasti juga terangsang dan menginginkan hal yang lebih dari hanya sekedar sentuhan lembut.

Dan pagi tadi, dia merasa sudah melewati batas yang dia buat sendiri. Ciuman yang dia layangkan diatas bibir dan leher istrinya serta kekurangajaran tangannya terhadap dada istrinya tadi pagi, harusnya tak terjadi.

Chanyeol merutuki kebodohannya dan ketergesaannya akan rangsangan yang tak sengaja di berikan padanya. Hingga sepanjang pagi tadi, dia hanya diam tanpa berani melihat Baekhyun, sedikit pun. Terlalu malu karena tindakannya sendiri.

"Berbagilah kalau masalah itu membebanimu hyung." Ujar Sehun kalem. Kalau seperti ini, dia terlihat lebih dewasa dari umurnya.

Chanyeol menatap Kai dan Sehun bergantian, otaknya masih berpikir menimbang, perlu tidaknya dia menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Baekhyun pagi tadi.

"Hah! Aku hampir saja memperkosanya tadi pagi." Ujar Chanyeol setelah lima menit berlalu.

Kai dan Sehun menatap Chanyeol tak percaya.

Rekan kerjanya itu adalah sosok yang paling tenang diantara mereka bertiga. Yang tidak banyak bertingkah dan lebih dewasa pastinya dari ketiganya.

Makanya, baik Kai atau pun Sehun tak heran, ketika enam bulan yang lalu, Chanyeol memberitahu mereka akan menikah dengan calon istri temannya.

Chanyeol mempunyai pemikiran taktis yang bisa mengambil keputusan apapun secara tepat bahkan dalam keadaan terjepit sekalipun.

Kalau hari ini, mereka mendengar kabar bahwa Chanyeol hampir memperkosa istrinya, rasanya cukup mengherankan.

"Kau serius? Bagaimana tanggapan Baekhyun-ssi?"

Chanyeol kembali membuang nafasnya. Tanggapan Baekhyun? Istrinya tak menolak bahkan sepertinya juga menikmati, namun hatinya menjerit melarangnya melanjutkan apa yang sudah terlanjur dimulainya itu. Terpaksa, dengan sangat terpaksa, Chanyeol pagi tadi beranjak dari ranjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi, demi menghindari hal-hal lain mungkin terjadi setelah ciuman itu.

Chanyeol langsung mengguyur kepalanya dengan air dingin begitu masuk ke dalam kamar mandi tadi, tanpa peduli pakaian yang masih lengkap melekat di tubuhnya. Berharap dinginnya air itu, mampu mengusir segala pikiran kotornya. Namun kenyataannya, pikiran itu tetap bersembunyi di pikirannya.

"Dia menerima apa yang aku lakukan padanya. Tak berusaha menolak, hanya saja..." Chanyeol menggantung kalimatnya.

"Hanya saja?" Sehun beranjak dari duduknya, lalu mendekati Chanyeol yang terlihat stress itu.

"Aku tak bisa melakukan hal itu, tidak boleh." Chanyeol menggeleng pelan, membuang segala kemungkinan-kemungkinan yang di bayangkannya mungkin terjadi kalau dia tak berhenti tadi.

"Wae?" tanya Kai.

"Ada masanya nanti, ketika pada akhirnya aku benar-benar menyentuhnya."

"Kapan? Sampai dia mencintaimu? Hyung! Kau tahu, untuk melakukan hubungan suami istri, kita tak perlu kata cinta, asal suka sama suka, kesempatan ada, pasangan juga ada, maka semuanya bisa terjadi. Jujur saja, melihatmu yang seperti ini, teorimu terlalu rumit hyung."

Pletak...

"Ya!" seru Sehun tak terima ketika Kai memukulnya dengan kertas yang di gulungnya.

"Kalau itu kau, pasti hal itu wajar. Baru sekali bertemu saja, sudah main sosor pada Luhan, dan langsung berakhir di ranjang. Tak heran kalau pemikiranmu selalu berujung kesana." Komentar Kai yang kini posisinya sama dengan Sehun, duduk di hadapan Chanyeol.

"Apanya yang salah? Kami saling menyukai dan bahkan aku bisa membuatnya menjerit berulang kali. Kalian berdua harus mencobanya, biar tahu rasanya kepuasan saat membuat seorang wanita menjerit nikmat dibawah kalian." Sahut Sehun bangga dengan wajahnya yang super menyebalkan.

Membuat baik Kai ataupun Chanyeol, menatapnya jengah.

Bukan cerita yang baru bagi mereka, seperti inilah Sehun. Dia tak akan hanya diam saja ketika menyukai seseorang, motto hidupnya bicara atau tidak sama sekali.

Jadi ketika dia menyukai seorang gadis, dia akan berterus terang. Urusan ditolak atau di terima, dia tak terlalu ambil pusing. Dan lagi, Sehun tipe orang yang mudah jatuh hati tapi juga mudah sekali bosan. Oleh sebab itu, hubungan yang dijalaninya, tak lebih dari satu bulan.

"Kau dan Chanyeol hyung serta aku, jelas berbeda Sehun-ah. Jangan kau samakan. Chanyeol hyung punya komitmen jelas, bahwa sebelum Baekhyun-ssi benar-benar mencintainya, tak akan terjadi hal yang lebih dari sekedar pegangan tangan saja mungkin, ehm... mungkin harus di tambah dengan ciuman bibir, karena sepertinya sebulan yang lalu kau pernah diciumnya, hyung. Makanya dia terlihat stress hari ini, karena apa? Karena merasa sudah melampaui batasannya."

Chanyeol mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Kai.

"Hah! Sampai kapan? Hyung! Kau tahu, kadang perempuan itu butuh tindakan dulu untuk dapat merasakan sesuatu. Percaya padaku, sekali saja coba kau ajak dia bercinta."

Chanyeol menatap Sehun, mendengarkan dengan jengah ajaran sesat Sehun.

"Kalau dia sudah merasakan nikmatnya bersatu denganmu, aku yakin dia akan terus mencarimu. Aaaauuucchh!"

Plak!

Sehun mengaduh kesakitan, Kai memukul kepalanya lagi dengan gulungan kertas yang sama.

"Jangan dengarkan dia hyung. Tetap berpegang teguh pada prinsipmu, aku akan tetap mendukungmu." Ujar Kai menyemangati Chanyeol.

"Sekali-kali, dengarkan ak...ok...ok... aku diam." Sehun memberi isyarat mengunci mulutnya, saat Chanyeol dan Kai menghadiahinya tatapan super tajam.

.

.

.

"Kau ini kenapa? Sejak datang, yang dilihat ponselnya terus. Lima detik sekali sepertinya. Kau ada janji dengan yang lain?"

Baekhyun menatap Luhan, kemudian menggeleng lalu tersenyum kecil.

Siang ini, dia memang ada janji makan siang dengan Luhan, setelah untuk beberapa minggu terakhir ini, dia kembali harus menerima bahwa sahabatnya yang super sibuk ini, tak berada di Seoul.

Dia merindukan sahabatnya itu, hanya saja ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Alasannya sesekali mengechek ponselnya adalah karena hingga waktu menunjukkan nyaris pukul dua, tak satu pun pesan dia terima dari suaminya. Padahal biasanya, di jam-jam luangnya, Chanyeol selalu berusaha mengiriminya pesan, entah itu hanya ucapan 'Hwaiting', atau hanya sekedar ucapan selamat makan siang. Bahkan tadi pagi, setelah dia turun dari mobil Chanyeol, pria itu langsung pergi tanpa berpesan padanya seperti biasanya.

'Hati-hati dalan melakukan setiap pekerjaanmu, Baekhyunnie. Sampai bertemu nanti.'

Kalimat itu selalu diucapkan Chanyeol, lengkap dengan senyum tampannya. Tapi pagi ini...

Greb

Luhan menyentuh dan menggenggam erat tangan Baekhyun.

"Kau ada masalah?"

Baekhyun menggeleng pelan.

Luhan mendengus perlahan.

"Bisakah kau tak bohong padaku? Aku mengenal baik dirimu Baek-ah. Kalau kau tak ada masalah, kau tak mungkin seperti ini. Katakan, apa masalahmu?"

"Bukan masalah besar Luhannie. Aku masih bisa menyelesaikan dengan baik pekerjaanku, kau tak perlu khawatir."

"Kau yakin ini hanya masalah pekerjaan?"

Baekhyun mengangguk sambil menyesap orange juicenya.

"Baiklah! Anggap aku percaya ini, makanlah!"

Baekhyun tersenyum dan mulai memakan makanan yang di pesannya tadi dan sepertinya sudah mulai dingin.

"Bagaimana hubunganmu dengan Sehun-ssi, Luhannie?"

Luhan menghentikan kunyahannya, kemudian menatap Baekhyun, lalu dengan acuh mengendikkan bahunya.

"Dia benar-benar luar biasa saat di ranjang." Bisik Luhan diiringi dengan senyumnya.

Baekhyun tersenyum kecil. Dia dan Luhan memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Baekhyun begitu lembut namun tegas di beberapa kesempatan, sedangkan Luhan, dia terlihat sangat mandiri dan begitu bebas. Cerita seperti ini, bukan yang pertama kali di dengar Baekhyun dari Luhan, sudah dari sejak lama dan sudah berulang kali. Namun sepertinya kali ini, hubungan Luhan dan sahabat suaminya a.k.a Sehun, sudah berjalan lebih lama dari kebiasaan Luhan bila sedang menjalin hubungan dengan laki-laki. Luhan membatasi, tak lebih dari satu bulan untuk setiap kali dia berhubungan dengan laki-laki.

"Dia benar-benar memuaskan dahagamu sepertinya."

Luhan tersenyum mendengar komentar Baekhyun.

"Bolehkah aku jujur Baekkie? Hmmm... dia selalu berhasil membuatku menjerit berulang-ulang."

"Mau sampai kapan kau akan seperti ini Luhannie?" tanya Baekhyun sambil menatap Luhan.

"Sampai aku puas membuat pria-pria di Korea ini kelimpungan." Sahut Luhan santai.

Baekhyun meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat. Masa kelam sahabatnya itu, dia tahu benar. Sudah sangat sering dia menasehati Luhan, namun tak pernah di gubris.

Luhan orang baik, hanya saja masa lalunya yang kelam, yang membuatnya menjadi seperti ini. Laki-laki bagi Luhan hanya sebuah mainan, dimana ketika dia merasa bosan, dia bisa membuangnya tanpa di pungut kembali.

"Luhannie!"

"Jangan memberiku nasehat kalau kau tak mau sakit hati karena aku tak mendengarmu. Cukup lihat aku."

"Aku akan mendoakanmu dan Sehun-ssi. Semoga ini yang terakhir dan semoga dia 'lah orang terpilih yang dapat membimbing dan mencintaimu dengan tulus."

Luhan terkekeh pelan.

"Beberapa bulan yang lalu, kau juga berdoa seperti itu, tapi lihatlah hasilnya? Kau tahu Baekhyunie, semua pria itu sama, mereka itu brengsek. Dia menginginkan sesuatu dari seorang wanita dan ketika sudah mendapatkannya, dia akan meninggalkannya begitu saja. Sudah ada dan banyak buktinya, kau juga menjadi salah satu korban kebrengsekan pria bukan?"

Baekhyun menarik nafasnya pelan, lalu menghembuskannya tak kalah pelan. Kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi.

Detik berikutnya, Baekhyun membuang mukanya keluar jendela.

Pria itu memang brengsek. Pria yang menjanjikan kebahagiaan untuknya dan membangun mimpi bersamanya. Dan hingga detik ini, dia pun tak pernah tahu, apa alasan pria itu meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan dan kejelasan apapun.

Tapi, tak semua pria seperti itu, buktinya Chanyeol. Pria itu manis dan begitu baik padanya. Selama enam bulan ini, bahkan dia tak melihat cela pada diri Chanyeol. Kecuali sepanjang hari ini.

Baekhyun kembali membuang nafasnya, lalu meraih ponselnya, berharap Chanyeol menghubunginya, namun hasilnya masih sama. Pria itu, tak juga menghubunginya.

To : Dearest Hubby

Baekhyun sudah membuka aplikasi pesan singkat, sudah mengetikkan nama suaminya pada kotak penerima pesan, namun tak ada satu pun huruf yang dia ketik.

Entah sejak kapan, dia menjadi sangat menantikan pesan singkat yang di kirim suaminya.

"Ya!" pekik Baekhyun keras karena tiba-tiba Luhan merampas ponselnya dari genggamannya.

"Dearest Hubby? Waaaaaahhhh! Kau yang menamainya seperti ini? Romantis sekali." Luhan tersenyum meledek.

"Kembalikan Luhannie!" pinta Baekhyun, namun Luhan mengacuhkannya.

"Ehm... Apa yang akan kau tulis disini? Ehm... Biar ku bantu mengetik."

"Aniya. Jangan melakukan apapun Luhannie. Kembalikan!" Baekhyun mendelik tajam.

Luhan tersenyum simpul, lalu mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya. Dia tahu batasannya sebagai seorang teman dekat.

Baekhyun menerima ponselnya sambil mengerucutkan bibirnya.

Drrrrtttt... Drrrrtttt...

Senyum Baekhyun nyaris terkembang, namun kembali luntur saat tahu siapa yang menghubunginya.

"Yeoboseyo?"

"..."

"Nde. Aku akan segera kembali. Mian bujangnim."

"Luhannie, aku harus kembali ke kantor. Hubungi aku nanti, aku pergi dulu. Saranghae." Pamit Baekhyun sambil tak lupa melayangkan satu kecupan pada pipi Luhan.

"Nde. Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Pesan Luhan yang dibalas Baekhyun dengan senyum lebar dan acungan jempol.

.

.

.

Baekhyun melangkah keluar dari kantornya tepat pukul delapan malam. Persis ketika kakinya menginjak pelataran kantornya, mobil Chanyeol datang menghampirinya.

Baekhyun mendesah pelan sebelum masuk ke dalam mobil itu.

"Baekhyun-ah!" pekik Joy.

Baekhyun menurun kaca mobilnya.

"Ini! Seohyun eonni lupa menyerahkannya padamu. Kau harus menyelesaikannya minggu depan."

"Minggu depan?"

"Eoh. Bukunya harus terbit bulan ini, Baek-ah."

Baekhyun tersenyum kaku.

"Sudah ya. Bye. Selamat menikmati malam kalian!" Joy berlari kecil meninggalkan mobil Chanyeol dengan tak lupa melambaikan tangannya.

Baekhyun ikut tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Beberapa saat kemudian, mobil Chanyeol mulai berjalan meninggalkan gedung perusahaan Baekhyun.

Suasana di dalam mobil itu, tak jauh beda dengan pagi tadi. Tak ada suara berarti kecuali hembusan nafas dari kedua makhluk berlainan jenis yang duduk di dalam mobil itu.

Baekhyun memilih menatap keluar jendela, dan kalau kalian lihat, perempuan itu menatap keluar dengan mata berkaca-kaca.

Hatinya tiba-tiba merasa sakit luar biasa. Dulu dia mungkin pernah bertengkar dengan kekasihnya, tapi tak pernah sesakit ini bahkan ketika kekasihnya itu sama sekali tak mengiriminya kabar. Kenapa hari ini begitu berbeda?

Mungkin karena sudah terbiasa dengan perhatian-perhatian kecil yang di berikan Chanyeol padanya setiap hari, di enam bulan terakhir ini. Makanya, ketika pria itu terkesan mengacuhkannya, hatinya yang cukup sensitif itu, terluka.

Dia tak menyukai keadaan ini, yang membuatnya terlihat rapuh dan cengeng tapi...

"Aku ingin ke sungai Han." Ujarnya lirih tanpa mengalihkan tatapannya pada Chanyeol yang terlihat mengerutkan dahinya.

Meski sedikit heran, Chanyeol tetap menuruti keinginan Baekhyun. Stirnya di putar ke arah sungai Han.

.

.

.

Mobil Chanyeol berhenti di pinggir sungai Han, setengah jam kemudian.

Begitu mobil berhenti, Baekhyun langsung turun dan berlari mendekati sungai yang dibatasi pagar itu.

Di sana, Baekhyun mengeluarkan semua airmata yang sejak tadi di tahannya.

Cukup lama dia berada di sana dan Chanyeol hanya menatap Baekhyun dari kejauhan.

Dia bukan tak tahu apa yang terjadi pada istrinya, dia sangat memahami Baekhyun lebih dari siapapun.

Chanyeol bukan bermaksud mengabaikan Baekhyun, hanya saja setelah kejadian tadi pagi, dia tak merasa pantas melakukan apapun pada Baekhyun. Sikapnya tadi pagi, menyalahi aturan yang dia buat sendiri ketika dia memutuskan untuk menikahi perempuan itu.

Beberapa saat setelah puas menumpahkan airmatanya, Baekhyun menghampiri Chanyeol.

"Sebenarnya apa salahku? Sejak pagi tadi kau mengabaikanku. Kau pernah mengatakan kita tim, apapun yang kita rasakan atau ada ganjalan apapun di kita, kita harus mengungkapkannya. Tapi kau, kau tak mengatakan apapun, bahkan... Huks... Huks... Bahkan... Huks... Huks..."

"Mian!"

Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Chanyeol.

"Aku tak menerima permintaan maafmu. Aku butuh penjelasan dari sikapmu hari ini!" Baekhyun menggeleng pelan dan berseru.

Chanyeol hanya diam memperhatikan Baekhyun.

Sedangkan Baekhyun menunggu dengan terisak pelan.

Dan beberapa saat kemudian...

Dengan gusar Baekhyun mendekatkan dirinya pada Chanyeol, lalu sedikit menarik dasi milik suaminya itu, hingga Chanyeol sedikit membungkuk ke arahnya. Lalu...

Chup

Bibirnya mendarat diatas bibir Chanyeol. Hanya sebentar, namun hal itu berhasil membuat mata Chanyeol terbuka lebar.

Dia tak menyangka Baekhyun akan melakukan hal ini.

"B-baekhyunie!"

"Apa ini cukup untuk membuatmu memberiku penjelasan?"

Chanyeol menatap istrinya dalam, perempuan di hadapannya ini, kadang terlihat manja layaknya anak kecil, namun tak jarang terlihat begitu dewasa. Baekhyun, akan selalu menuntut jawaban atas setiap pertanyaan yang diajukannya, wanitanya itu, tak pernah takut memprotesnya.

Hup

Chanyeol mengangkat tubuhnya Baekhyun, dan mendudukkannya di kap depan mobilnya. Lalu, dengan kedua tangannya, dia memenjara tubuh mungil istrinya.

"Saat aku memutuskan menikahimu, aku bersikap cukup keras pada diriku sendiri. Aku membuat peraturan tak tertulis untuk diriku sendiri. Bahwa aku tak akan melakukan apapun padamu kecuali hanya memegang tanganmu. Tapi pagi ini, aku sudah bertindak di luar kendali. Aku merasa bersalah karena melakukan hal yang tak seharusnya ku lakukan padamu."

Dari tatapan matanya, Chanyeol terlihat bingung. Itulah yang bisa disimpulkan Baekhyun saat ini.

Chanyeol terdengar mengambil nafasnya berat lalu membuangnya, kemudian pria itu mengurut pelan pelipisnya.

"Kenapa tak mengatakannya? Kenapa mendiamkanku? Kau tahu, aku berpikir macam-macam. Aku pikir aku melakukan kesalahan apa sampai kau sama sekali tak menghubungiku. Rasanya aneh, biasanya kau mengirimiku pesan singkat, tapi seharian ini tak ada sama sekali. Seharusnya kau mengatakan apapun itu yang membuatmu tak nyaman, bukan malah menghindar."

Chanyeol menatap Baekhyun dan mengangguk mengerti.

"Mian."

Baekhyun mengangguk.

"Kau mengatakan padaku, kalau ada apa-apa aku bisa mengatakan padamu. Tapi kau sendiri seperti ini." Baekhyun menyentuh pelan rambut Chanyeol, dia kemudian menyisir rambut itu dengan jari-jari rampingnya.

Chanyeol tersenyum tipis, lalu menarik tangan Baekhyun dari rambutnya dan mengecupnya pelan.

"May i kissing you? Just kiss, nothing else."

Baekhyun memperhatikan kedua mata Chanyeol, cukup lama sampai kemudian dia mengangguk pelan.

Detik selanjutnya...

Ciuman itu benar-benar terjadi.

Chanyeol begitu lembut menggerakkan bibirnya di atas bibir Baekhyun. Sesekali menyesap, kemudian mengigit kecil bagian atas maupun bagian bawahnya.

Dan Baekhyun, perempuan itu tak mampu menahan gejolak perasaannya sendiri. Dimana dia menemukan kenyamanan pada setiap gerakan lembut Chanyeol diatas bibirnya.

"Eeeehhhmmm..."

Baekhyun meremat kuat kemeja Chanyeol, saat lidah suaminya semakin memaksa masuk ke dalam mulutnya.

Chanyeol semakin menarik tubuh Baekhyun agar merapat padanya. Tubuhnya panas dan dia ingin lebih dari ini. Beruntung logikanya masih dapat mengendalikan nafsunya, hingga detik berikutnya, dengan enggan dia melepaskan tawanannya pada bibir istrinya.

Mereka saling berpandangan, nafasnya mereka saling berlomba, memburu dan terdengar semakin berat.

Beberapa saat kemudian, Chanyeol memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya.

Baekhyun menatap wajah suaminya dengan kagum, pria ini, pria dihadapannya ini, terlihat sangat tampan bila sedang memejamkan matanya seperti ini.

Perlahan, Baekhyun melakukan hal yang sama seperti tadi pagi. Menyusuri setiap jengkal wajah Chanyeol dengan jari-jarinya.

Chanyeol masih memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut istrinya, yang mampu menghadirkan debaran-debaran lembut di dalam hatinya.

Chanyeol menangkap jari lentik Baekhyun, sesaat setelah jari itu menyentuh bibirnya.

Kedua matanya terbuka lebar. Menatap Baekhyun lembut, lalu tersenyum kecil.

"Aku tak ingin melewati batas lagi, Baekhyunie, meskipun sangat ingin. Kajja kita pulang!"

Chanyeol menurunkan Baekhyun, lalu menghela istrinya itu untuk masuk ke dalam mobilnya.

Setelah memastikan Baekhyun duduk dengan benar, Chanyeol pum berlari kecil memutari mobilnya, lalu duduk di samping istrinya, di balik kemudinya.

Baekhyun, memperhatikan setiap gerakan kecil yang dilakukan Chanyeol, mulai dari memutar kunci mobil, menekan pedal gas, kemudian memutar stir hingga mobil yang mereka tumpangi kembali berjalan.

'Tuhan! Ijinkan cinta ini tumbuh untuknya. Aku ingin memilikinya, juga ingin dimilikinya.'

.

.

.

Baekhyun berdiri di depan kaca, di kamar mandinya. Memperhatikan bagaimana dirinya dari pantulan cermin di depannya.

Satu jam yang lalu, bibirnya terasa menebal saat Chanyeol tak hanya mengecapnya namun juga menyesap dan menggigitnya. Dan kalau boleh jujur, saat itu, perasaannya teramat sulit dia gambarkan.

Hatinya berdebar kencang dengan perasaan membuncah tak menentu. Tubunya terasa lemas namun gairahnya membumbung tinggi.

"Hah!"

Tok... Tok... Tok...

Baekhyun menoleh, lalu mengikat bathropenya, kemudian melangkah cepat untuk membuka pintu kamarnya.

Saat pintu kamarnya terbuka, dia mendapati Chanyeol berdiri disana, dengan setelan celana pendek dan kaosnya.

"Aku mau pesan jajangmyeon. Kau mau?" tanya Chanyeol sambil memperhatikan Baekhyun dari atas ke bawah.

Mendapat tatapan siap menerkam seperti itu, Baekhyun merapatkan bathropenya. Lalu mengangguk, mengiyakan tawaran suaminya.

"Ok!" sahut singkat Chanyeol sambil berlalu dari hadapan Baekhyun.

Terlalu lama berada di depan Baekhyun yang hanya memakai bathrope, yang Chanyeol yakini di dalamnya sang istri tak memakai apapun, tak akan baik untuk kerja pikiran dan jantungnya.

Jadi, Chanyeol memilih pergi sambil menelpon sebuah kedai penyedia makanan siap antar.

.

.

.

"Ehm!" Chanyeol berdehem keras ketika akan menyantap mie hitam yang baru dipesannya.

Dihadapannya, duduk sang istri, menghadap menu yang sama dan sibuk membuka satu bendel tumpukan kertas putih, membaca sambil menikmati jjajangmyeonnya. Pemandangan itu cukup mengganggu Chanyeol. Makan dan kerja tak bisa dijadikan satu, ada waktunya sendiri. Kalau makan jangan sambil bekerja, kalau bekerja jangan makan, begitu prinsipnya.

Ketika Chanyeol berdehem keras, Baekhyun mendongakkan kepalanya.

"Kau mau minum?" tanyanya pada sang suami.

"Apa naskah itu lebih menarik dari makananmu?"

Baekhyun menatap Chanyeol, kemudian beralih pada naskah dan makanannya. Selanjutnya dia memilih menutup naskahnya dan melanjutkan makannya.

Teguran Chanyeol mungkin pelan, namun tetap saja hal itu cukup mengena di hatinya. Apalagi ekpresi wajah Chanyeol yang terlihat tak menyukai caranya makan sambil bekerja.

Acara makan malam mereka berakhir lima belas menit kemudian. Baekhyun duduk di depan TV dengan naskah di pangkuannya.

Bila tadi saat makan dia tampak sibuk dengan naskahnya, namun sekarang dia terlihat berkonsentrasi pada layar datar di depannya yang sedang menyiarkan acara yang bintang tamunya adalah boyband favoritnya, TVXQ.

"Aaaaahhhh! Kenapa mereka semakin tampan!" pekiknya keras, yang tentu saja membuat Chanyeol keluar dari kamarnya.

"Kau kenapa?" tanyanya sambil mendekati sang istri. Baekhyun tak menjawab, hanya tangannya yang memberi isyarat pada Chanyeol untuk menatap layar TV di hadapannya.

"Mereka favoritku sejak lama, sejak mereka debut berlima sampai sekarang ketika mereka sudah terpisah."

Chanyeol mengerutkan keningnya lalu mengambil tempat duduk di samping istrinya itu. Dari tempatnya duduk, Chanyeol dapat melihat betapa antusiasnya Baekhyun terhadap dua orang yang tengah meliuk-liukkan tubuhnya disana.

"Kau pernah melihat konser mereka secara langsung?" tanya Chanyeol yang dihadiahi Baekhyun dengan gelengan kepalanya.

Nonton konser? Sebelum berangkat, ayahnya sudah pasti berdiri di depan pintu melarangnya dan kakaknya keluar dari rumah. Kekagumannya pada boyband itu, hanya dapat dia salurkannya di kamar, dengan kakaknya. Mereka biasanya memutar lagu dari TVXQ dan menggoyang-goyangkan lightstick layaknya menonton konser secara langsung. Huft!

"Appa dan eomma selalu tak memberi kami ijin setiap kali kami ingin melihat konser mereka, jadi ya seperti ini biasanya. Dengan Sooyoung eonni, aku biasanya berteriak-teriak sendiri di dalam kamar."

"Sampai sekarang seperti itu?"

Baekhyun menatap Chanyeol, lalu menggeleng.

"Sudah tak ada temannya teriak-teriak di kamar karena mereka."

"Kau ingin berada di tengah-tengah warna merah itu?"

"Dulu iya. Tapi seiring berjalannya waktu dan larangan yang terus menerus kami terima, akhirnya aku berpikir, cukup bagiku mengagumi mereka dari sini. Melihat mereka masih berdiri di stage, itu satu kebahagian yang tak terganti bagi seorang fangirl seperti aku."

Chanyeol mengangguk-angguk mengerti. Bukan hanya Baekhyun, adiknya juga penggemar salah satu boyband terkenal di negara ini. Bukan boyband yang sama dengan Baekhyun memang, namun kelakuan Yeri kalau dikamarnya sendiri, sama persis seperti apa yang diceritakan Baekhyun pernah terjadi di hidupnya.

Apakah semua fangirl memiliki kegilaan yang sama terhadap idolanya? Jawabannya adalah Iya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Note : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian pada cerita ini. saya harap kalian masih bisa mengikuti alur ceritanya.

Big love for you guys 3

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^