[!] Words: 3k+. Menurut aku, ini chapter bener-bener ga penting~~ X'3 ya, panjang dan ga penting dan lama pula bikinnya. Oke maafkan aku readertachi untuk chapter yang mengecewakan ini, aku harap kalian masih bisa menikmatinya ceritanya X'D
Title: Are We Really Dating?
Warning: OOC, Typo, Alur yang terlalu cepat dan sebagainya~
Pairing: Kise x OC
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Sebelumnya makasih banyak buat memoryru-san, Kumada chiyu-san, banghimdaisuki-san,lucyheart-san, dan lanjuttt-san (?) yang udah review di chapter 1 dan 2, gomen tidak sempat balas review kalian waktu itu X'3
Ini balasan u/ yang review di chap sebelumnya~
UseMyImagination-san: emang agak berbelit-belit sih di bagian amnesianya, aku juga jadinya bingung sendiri -_-a. Kenapa Suzu bisa lupa, bakal di jelasin di chapter ini~ hehe X3
Kumada chiyu-san: iyaa, akhirnya kise suka nih sama suzu :') sepertinya suzu emang amnesia hoho penyebabnya bisa dilihat di chapter ini XD
Misamime-san: ini sudah update XD maaf lama banget updatenya u,u
Banghimdaisuki-san: yap~ Suzunya hilang ingatan hehe X3
Oke minna~ ini chapter 4. Selamat membaca~
Chapter 4
"...Kalian siapa?"
Suzu menutup sebagian mukanya dengan selimut. Sedangkan Kise dan yang lainnya hanya terdiam kaget.
"Kau tidak mengingatku-ssu?" tanya Kise sambil menunjuk dirinya sendiri."Ini aku, Kise Ryouta" lanjutnya. Ia dengan jelas menyadari perasaan kecewa dalam dirinya. Kenapa disaat dia sudah menyadari perasaannya pada Suzu, muncul masalah baru.
Kise menatap lekat Suzu yang nampaknya sedang berusaha mengingatnya. Ia berharap kalau Suzu bisa mengingatnya. Namun, gelengan lemah Suzu menghancurkan harapan Kise.
"Kau benar benar tidak mengingatku-ssu?!" Tanya Kise dengan nada yang sedikit tinggi. Suzu kembali menggeleng.
"Aoki Suzu-san?" panggil Akashi. Suzu menoleh ke arah Akashi yang kini ada di tempat Momoi berada sebelumnya. "Apa kau tahu sekarang kau sedang berada di mana?"
"...Sekolahku?" jawab Suzu ragu. Ia hanya bisa memastikan kalau di sedang berada di ruang kesehatan. Tapi ruang kesehatan ini tidak sama dengan yang terakhir kali ia ingat.
"Ada dimana sekolahmu ini?"
Suzu mengerutkan dahinya. Pertanyaan aneh, pikir Suzu. Orang ini sedang ada di sekolahnya. Kalau begitu seharusnya dia tahu ada di mana sekolah ini. Suzu enggan menjawabnya, namun saat melihat pandangan mata orang itu, Suzu merasa ia harus segera menjawabnya.
"Kanagawa"
Akashi menghela napasnya, Momoi menutup mulutnya kaget, mencegahnya supaya tidak bersuara, Midorima membenarkan letak kacamatanya, dan Kise menahan napasnya saat mendengar jawaban Suzu. Hening segera menyelimuti ruangan itu.
"Suzuchin... benar-benar hilang ingatan?" ucap Murasakibara memecah keheningan. Ia tidak menyangka tebakannya akan benar seperti ini.
Tolong jangan perjelas hal itu, Murasakicchi! Batin Kise kesal. Ia sama sekali tidak mau menerima kenyataan ini.
"Obasan!" panggil Suzu saat melihat seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan serba putih tempat ia berada sekarang. Bibinya, Sasaki Ayumu, masuk bersama seorang lelaki yang memakai jas putih dengan stetoskop tergantung di lehernya. Ya, dia sedang ada di rumah sakit sekarang. Kise dan Akashi membawanya ke rumah sakit setelah mereka memastikan kalau Suzu benar-benar kehilangan ingatannya. Kise segera mendatangi rumah Suzu dan memanggil Bibinya, sedangkan yang lain segera pulang setelah Akashi menyuruhnya.
"Lukanya di lengannya tidak parah, namun butuh beberapa hari untuk benar-benar sembuh. Tidak diperlukan penanganan khusus, kau hanya perlu mengganti perbanmu dua kali sehari untuk mencegah terjadinya infeksi" jelas Dokter tersebut sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka. Akashi, Kise, Suzu dan Sasaki membungkuk hormat dan berterimakasih pada dokter tersebut sebelum akhirnya mereka keluar dari rumah sakit itu.
"Kise-kun, aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa mengingatmu" Ucap Suzu saat dalam perjalanan menuju rumahnya. Bibinya sudah memberitahu siapa Kise, namun Suzu tetap tidak bisa mengingat siapa Kise.
Entah karena apa, tapi Suzu benar-benar merasa bersalah pada laki-laki dihadapannya ini. Suzu sudah tahu kalau ternyata ia mengalami hilang ingatan, dan ia juga tahu ada satu hal yang sangat penting yang hilang dari ingatannya. Dan ia juga yakin, satu hal itulah yang menyebabkan perasaan bersalah ini.
"Hm, tidak apa-apa. Aku bisa memakluminya kok" ujar Kise sambil tersenyum.
"Kita sudah sampai" ujar Sasaki. "Mampirlah dulu, akan kuceritakan apa yang terjadi sebenarnya" lanjutnya. Kise dan Akashi menyetujuinya dan segera mengikuti Sasaki dan Suzu masuk ke dalam rumah mereka.
Kise melihat sekeliling rumah itu dengan takjub. Rumah minimalis dengan interior tradisonal Jepang. Ini adalah pertama kalinya Kise masuk berkunjung ke rumah Suzu. Meski ia sering mengantarnya, ia tidak pernah sampai masuk ke dalam rumahnya. Bahkan, ini adalah pertama kalinya Kise berkenalan dengan Bibi Suzu.
"Suzu, istirahatlah di kamarmu. Ada yang harus bibi bicarakan dengan kedua temanmu" ujar Sasaki. "Kamarmu ada di atas, ruangan yang ada di sebelah kanan" lanjut Sasaki ketika melihat Suzu yang kebingungan. Suzu mengangguk mengerti dan Ia pun segera pergi ke kamarnya tanpa berbicara apa-apa lagi.
"Silahkan duduk, maaf kalau rumah ini sedikit berantakan" ujar Bibinya sambil tertawa kecil. Ia segera membuatkan teh untuk kedua tamunya.
Setelah menghidangkan teh untuk kedua tamunya, Bibi Suzu mulai bercerita.
"Sebelumnya, aku berterimakasih kepada Kise-kun yang sudah menemani Suzu beberapa bulan terakhir ini. Apa kau mengingat siapa Suzu sebelumnya?" tanya Sasaki.
Pertanyaan itu lagi. Rutuk Kise dalam hatinya. "Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengingat apapun tentang Suzucchi" Jawabnya dengan sedikit kesal. Bukan kesal pada Sasaki, melainkan pada dirinya sendiri.
Sasaki tertawa kecil saat mendengar jawaban Kise. "Sudah kuduga. Tidak apa-apa Kise-kun, wajar saja kalau kau tidak ingat apapun tentangnya, dulu kalian memang tidak pernah bermain bersama. Kau hanya bertemu dengan Suzu dua kali"
"Eeh?! L-lalu, kalau begitu, mengapa Suzucchi bisa mengenaliku?" seru Kise. Kalau mereka hanya bertemu dua kali, lalu bagaimana ceritanya Suzu bisa mengenalnya? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana ceritanya Suzu bisa menganggap dirinya sebagai pacar Suzu?
"Ia menyukaimu. Ia langsung menyukaimu saat pertemuan pertama kalian. Aku tidak tahu apa terjadi saat itu, aku hanya tahu kalau kau pernah melindunginya dari anak-anak yang menganggunya. Dan setelah itu dia pun mulai sering memperhatikanmu dari jauh. Ah, dia juga sangat sedih ketika tahu kau akan pindah kembali ke Tokyo"
Kise menatap Sasaki tidak percaya. Apa semua itu benar-benar terjadi? Kise bahkan tidak pernah sadar, kalau saat itu, seseorang selalu memperhatikannya.
"Lalu bagaimana dengan ingatannya yang hilang itu?" Tanya Kise
"Fugue Disosiatif." Jawab Sasaki. Akashi nampak tidak kaget sedikit pun, seolah-olah ia sudah tahu sebelumnya.
"Apa itu?" tanya Kise sambil melirik Akashi yang duduk di sampingnya.
"Fugue Disosiatif atau Gangguan Disosiatif adalah peristiwa hilangnya memori yang biasanya disertai dengan meninggalkan rumah lalu menciptakan identitas baru. Seringkali disebabkan oleh trauma saat masa kecil." Jelas Akashi.
Kise membelalakkan matanya kaget. "Benarkah? memangnya Suzucchi punya trauma apa saat kecil?"
Sasaki tersenyum kecil mendengar pertanyaan Kise. "Semenjak kecil, Suzu tidak pernah berhenti menjadi korban bully di sekolahnya. Keluarganya berada, namun tidak seharmonis keluarga lainnya. Orangtuanya berpisah saat Suzu berumur tiga tahun, dan tak lama kemudian Ayahnya tertangkap basah sudah melakukan korupsi. Beliau masih dipenjara hingga saat ini. Nah karena keadaan keluarganya yang seperti itulah, Suzu selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya dan tentu saja itu membuat Suzu tertekan"
Sasaki menyesap teh nya perlahan. "Kejadian itu ternyata terus berlanjut hingga SMA. Aku yang tidak pernah mendengar cerita dari Suzu sebelumnya, sangat kaget ketika wali kelasnya memberitahu hal itu padaku saat rapat orang tua. Setelah pulang dari rapat itu, Aku bertanya pada Suzu namun Suzu hanya mengatakan semuanya baik-baik saja dan tidak menganggunya. Tapi firasatku mengatakan kalau hal itu tidak benar dan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan benar saja, beberapa hari kemudian Suzu tiba tiba saja menghilang dari rumah"
"...Suzucchi kabur?!" tanya Kise.
"Tidak, ia tidak kabur. Seperti yang Akashi-kun bilang, itu adalah akibat dari Gangguan Disosiatif."
Kise menghela napasnya. Sulit sekali untuk mempercayai semua ini.
"Dua hari setelah itu, aku mendapat telepon dari rumah sakit kalau Suzu baru saja mengalami kecelakaan. Suzu selamat, hanya mendapat luka kecil di kepalanya, namun ada yang aneh dengan Suzu saat itu. Ia yang biasanya terlihat pendiam tiba-tiba saja menjadi lebih banyak bicara. Dan saat itu ia terus menanyakanmu, Kise."
"Persepsinya terhadap orang-orang dan benda di sekitarnya menjadi tidak nyata. Ketika dokter menanyakan siapa Kise itu, Suzu menjawab kalau kau adalah pacarnya. Itu terus terulang selama satu minggu sehingga akhirnya akupun terpaksa memindahkan sekolahnya ke tempat kau bersekolah."
"Begitu ya. Dengan begini semuanya sudah jelas. Lalu bagaimana sekarang? Apa dia akan kembali dipindahkan ke Kanagawa?" tanya Akashi.
Kise yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan penjelasan Sasaki sambil menundukkan kepalanya, segera menegakkan kepalanya kembali. Kenapa Suzu harus kembali ke Kanagawa? Bukankah ia tetap bisa bersekolah di Teikou?
Sasaki tertawa kecil saat melihat Kise yang cukup panik. "Tidak akan, aku akan tetap menyekolahkannya di Teikou. Lagipula, sepertinya ada seseorang yang tidak ingin Suzu pindah kembali" ujarnya sambil menatap Kise.
Menyadari kalau orang yang disebutkan oleh Sasaki adalah dirinya, Kise terkekeh pelan sambil menggaruk pipinya dengan telunjuknya.
"Mulai hari ini, aku menitipkan Suzu pada kalian ya. Terutama pada kau, Kise-kun. Tidak apa kan?" tanya Sasaki.
"Tentu saja-ssu" jawab Kise sambil tersenyum tipis.
Suzu duduk di pinggir kasurnya dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamarnya. Sangat berbeda dengan kamarnya yang sebelumnya. Ia mulai merasa penasaran bagaimana dirinya selama mengalami amnesia tersebut.
Matanya menangkap sebuah buku berwarna pink yang tergeletak di atas meja. Ia beranjak mengambil buku tersebut dan kembali duduk di kasurnya.
Buku harian milikku? Batin Suzu saat membaca lembar pertamanya.
...aku akhirnya menemukannya! Tapi dia sama sekali tidak mengingatku! Dasar Ryota bodoh! Pacar macam apa dia itu.
Suzu mengerutkan dahinya. Bukan aku sekali! Batinnya saat membacanya.
...Bibi lagi-lagi menyuruhku ke rumah sakit untuk menjalani terapi. Memangnya aku kenapa? Hhh.. padahal hari ini Ryota akan bertanding.
...Ryota sudah tidak menghindariku. Tapi dia tidak pernah menganggapku sebagai pacarnya. Rasanya sakit.
...Ada surat dari fans Ryota di lokerku. Mereka terus menyuruhku untuk menjauhi Ryota. Momoi-san bilang aku harus memberitahu Ryota. Tapi aku tidak mau.
Suzu menghela napasnya. Ia masih tetap menjadi korban bully ya
...Akhir akhir ini aku merasa aneh. Kejadian-kejadian yang tidak aku tahu muncul di kepalaku. Rasanya seperti aku pernah mengalaminya. Aneh sekali.
Suzu mengangkat alisnya. Nampaknya saat itu ia sudah mulai bisa mengingat masa lalunya.
...Lagi-lagi mereka mengangguku. Ah, kejadian ini pun rasanya aku pernah mengalami hal seperti ini. Mungkin ini De javu ya?
Tulisan itu berhenti pada tanggal kemarin. Suzu menutup buku itu dan menyimpannya di tempatnya semula. Rasanya aneh melihat tulisannya yang seperti itu. Apa dia benar-benar menjadi orang lain beberapa bulan kebelakang?
Suzu beruntung karena dirinya menulis buku harian. Karena dengan begitu ia setidaknya mengetahui bagaimana keadaannya di sekolah. Siapa teman-temannya, dan bagaimana kebiasaannya.
Tapi kenapa kejadian 'diganggu' itu selalu saja menghampiri dirinya? Dulu karena masalah keluarganya, dan sekarang karena dia dekat-dekat dengan Kise? Beruntunglah besok hari libur sehingga ia tidak perlu ke sekolah. Ia tidak tahu harus bagaimana ia bersikap saat di sekolah nanti.
Ah ngomong-ngomong, jika mengingat bagian saat dirinya mengaku kalau dia adalah pacar Kise, rasanya memalukan. Suzu yakin Kise merasa kebingungan saat itu.
"aku harus meminta maaf pada Kise-kun nanti" gumam Suzu.
Tak lama setelah itu Suzu dapat mendengar panggilan bibinya yang menyuruhnya untuk turun Karena Kise dan Akashi akan segera pulang. Suzu segera keluar dari kamarnya dan menghampiri Bibinya.
"Sesekali bermainlah kemari, aku akan sangat senang kalau kalian dan yang lainnya datang berkunjung" ujar Sasaki.
"Un, aku akan mengajak yang lainnya nanti" ujar Kise. "Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu Sasaki-san, Suzucchi" lanjut Kise.
"Ano, Kise-kun..!" panggil Suzu. Kise menoleh ke arah Suzu.
Sebenarnya ia tidak mau memanggilnya, tapi entah kenapa tiba-tiba saja ia dengan spontan memanggil Kise. Suzu terdiam sesaat, mencari kata-kata yang ingin ia ucapkan. "Etto... terimakasih sudah mengantarku. Terimakasih juga untuk Akashi-kun. Maaf sudah merepotkan kalian berdua" ucap Suzu sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Tenang saja Suzucchi, tidak usah seperti itu. Kita kan..." jeda sesaat. "...teman. Jadi tidak usah ragu-ragu seperti itu padaku, juga yang lainnya" lanjutnya sambil tersenyum.
Suzu membalas senyum Kise dan melambaikan tangannya saat Kise mulai berjalan ke luar rumahnya.
"Ah, kalau ada apa-apa hubungi aku ya! no teleponku sudah ada di handphonemu kok" seru Kise. Suzu mengangguk mengerti. Kise-kun orang yang baik. Pikirnya.
Dua hari berlalu, dan hari ini adalah waktunya sekolah.
Suzu memakai seragamnya malas. Demi apapun juga ia tidak mau pergi kesekolah! Ia sudah meminta Bibinya untuk mengijinkannya tidak sekolah selama satu minggu ini. Tapi Bibinya tidak mau mengijinkannya. Suzu harus bagaimana? Ia masih bingung dengan keadaannya yang tiba-tiba berbeda seperti ini.
"Suzucchi~ ayo kita berangkat sekolah!" suara Kise tiba-tiba saja terdengar dari depan pintu rumahnya. Suzu bisa mendengar Bibinya yang mempersilahkan Kise untuk masuk dan naik ke lantai atas. Tak lama kemudian, ia dapat mendengar suara pintunya yang diketuk.
"Suzucchi? Apa kau sudah siap untuk berangkat?"
Suzu kembali merapikan ikatan rambutnya dan menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya. "Kise-kun..?" panggil Suzu.
"Ah, kau sudah siap? Ayo berangkat-ssu. Kau tidak boleh telat di hari pertamamu sekolah~" ujar Kise.
Hari pertama? mou~ Ini kan bukan hari pertamanya masuk sekolah! "Aku... tidak mau sekolah" ucap Suzu.
"Eeh?! Kenapa-ssu?"
Suzu tidak menjawab pertanyaan Kise. Ia benar-benar tidak mau pergi ke sekolah. Ok, ini mungkin sangat kekanak-kanakan, tapi Suzu tidak bercanda, ia tidak mau pergi ke sekolah. Suara bel rumahnya terdengar, Bibinya mempersilahkan seseorang masuk.
"Momocchi sudah datang" ucap Kise. Momocchi? Apa yang dia maksud itu Momoi-san? Kalau aku tidak salah ingat, perempuan berambut pink yang kemarin kan? Pikir Suzu.
"Ah, Ki-chan sudah ada di sini ternyata. Dimana Suzu?" tanya seorang perempuan yang Kise panggil Momocchi tadi.
"Dia tidak mau keluar dari keluar dari kamarnya"
"Suzu-chan~ apa aku boleh masuk?" tanya Momoi sambil mengetuk pintu kamarnya. Suzu ragu sesaat, tapi akhirnya ia membukakan pintunya sedikit. Tanpa memperlihatkan dirinya, Suzu mempersilahkan Momoi untuk masuk.
"Ki-chan tidak boleh ikut masuk, kau harus tunggu di bawah!" seru Momoi.
"Eeh?! Baiklah baiklah, tapi kalian harus cepat kalau tidak mau terlambat" kata Kise dan segera turun.
"Nah, Suzu-chan―" perkataan Momoi terhenti saat melihat Suzu yang tampil 'berbeda' dari biasanya. "Eeh~ Suzu-chan kawaii !" seru Momoi sambil memeluk Suzu.
"E-eh?" gumam Suzu bingung. Momoi melepas pelukannya.
"Kau tahu? Sebelumnya kau tidak pernah mengikat rambutmu, apalagi diikat dua seperti ini. Dan aku baru tahu kalau kau memakai kacamata. Apa selama ini Suzu-chan memakai lensa kontak? Aah, teman-teman pasti terkejut melihat kau yang seperti ini!" ucap Momoi semangat. Suzu merasakan wajahnya memanas. Padahal sudah seperti biasanya Suzu mengikat rambutnya dengan gaya twintails seperti ini, tapi baru kali ini ada yang benar-benar memujinya.
Tapi saat mendengar kata 'teman-teman', rasa gugupnya pun muncul lagi.
"Momoi-san... aku harus bagaimana? Aku sama sekali tidak ingat teman sekelasku" kata Suzu pelan. Ia benar-benar takut kalau teman satu kelasnya menganggapnya aneh.
"Apa kau tidak mau sekolah karena mengkhawatirkan itu? Suzu-chan tenang saja, Akashi-kun dan Sasaki-san sudah memberitahukan keadaanmu pada pihak sekolah. Jadi mungkin... nanti akan menjadi seperti saat Suzu-chan baru pindah kemari?" ujar Momoi sedikit tidak yakin.
Bagaimana ini... pikir Suzu. Kalau sudah seperti ini, ia tidak mungkin merepotkan lagi yang lainnya. Momoi dan Kise sudah cape-cape mau mengunjungi rumahnya. Akashi dan Bibinya sudah mau repot-repot membantu memberitahukan keadaannya pada pihak sekolah. Rasa khawatir Suzu tidak hilang dan malah semakin menjadi, tapi ia tahu kalau ia tidak boleh seperti ini terus. Ia harus bersekolah―sebagai ganti karena ia sudah merepotkan orang-orang di sekitarnya.
"Baiklah, aku akan masuk hari ini" ucap Suzu pada akhirnya.
"Hmm, itu baru Suzu-chan! Ayo kita turun, Ki-chan pasti akan terkejut melihatmu yang seperti ini" kata Momoi sambil tersenyum senang. Lagi-lagi Suzu merasakan wajahnya memanas. Bagaimana penampilannya? Apakah sudah rapih?
"Ki-chan, kami sudah siap!" kata Momoi dan mendorong Suzu ke hadapan Kise yang menunggu mereka di depan rumah Suzu. Suzu mundur selangkah dan menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Kise. "Kawaii desu ne?" tanya Momoi.
Kise mengedipkan matanya dua kali dan menatap Suzu yang ada di hadapannya. "U-un, Suzucchi manis" ucap Kise gugup. Ia bisa merasakan wajahnya yang memanas dan juga jantungnya yang berdebar lebih kencang. Siapa sangka ternyata Suzu bisa lebih manis lagi daripada biasanya?
Momoi tertawa kecil melihat Kise. "M-momocchi tidak usah tertawa seperti itu-ssu! Ayo kita berangkat!"
"Hai~ hai~" ujar Momoi yang masih tidak bisa menahan tawanya. Merekapun segera berangkat setelah sekali lagi berpamitan pada Bibi Suzu. Di sepanjang perjalanan, Suzu tidak berbicara apapun dan hanya beberapa kali tertawa saat melihat tingkah konyol Kise saat berdebat dengan Momoi.
"Ah, minna! Ohayou gozaimasu~" seru Kise saat mereka tiba di gerbang sekolah. Akashi, Kuroko, Aomine, Murasakibara dan Midorima yang menunggu mereka menoleh ke arah Kise. Dan, sosok Suzu di belakang Kise langsung menarik perhatian mereka. Mereka menatap Suzu dalam diam. Mereka sempat meragukan apakah Suzu yang dihadapan mereka masih sama dengan yang sebelumnya, atau sudah berganti orang tanpa mereka ketahui?
"mou~ kenapa kalian memperhatikan Suzucchi seperti itu!" seru Kise saat melihat yang lainnya terdiam sambil memperhatikan Suzu. Bahkan, Aomine yang biasanya berkomentar pun ikut-ikutan diam.
"Suzu-chin kawaii~ lebih manis dari biasanya~" ujar Murasakibara diikuti anggukan Kuroko.
"E-Ehm, Murasakibara benar" Kata Midorima sambil memalingkan wajahnya. Sifat tsundere-nya muncul kembali.
"Yaah mereka benar. Tapi yang lebih penting kau menjadi lebih pendiam. Semoga saja Kise tertular sifatmu itu supaya dia tidak berisik lagi" ujar Aomine.
"Hidoi-ssu! Aku tidak berisik, Aominecchi!" seru Kise.
"Ah, kau baru saja membuktikan kalau kau memang berisik" balas Aomine.
"Aoki-san, ikut aku." Ujar Akashi. Menghentikan pertikaian Kise dan Aomine. Suzu hanya menatap bingung Akashi dan menganggukkan kepalanya ragu. Ia melirik Momoi yang ada di sebelahnya. Momoi hanya memberi isyarat kalau ini akan baik-baik saja.
"Suzucchi mau dibawa kemana, Akashicchi?!" tanya Kise curiga.
"Hentikan rasa cemburumu yang berlebihan itu, Kise. Aku akan membawanya ke ruang guru" ujar Akashi. "Kalian cepatlah pergi ke kelas masing-masing, 10 menit lagi bel masuk berbunyi." lanjutnya.
"A-aku tidak cemburu, Akashicchi! Aku kan hanya bertanya. Lalu Kenapa juga kau selalu berkata seolah perkataanmu memang selalu benar" gumam Kise kesal.
"Kise, Aku bisa mendengarmu"
Kise tersentak kaget. Akashicchi mengerikan! Batinnya dan segera menyusul yang lain sebelum Akashi melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya.
Bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Suzu dan Akashi masih diam di ruang guru sementara Sensei―wali kelas Suzu― sudah masuk ke kelasnya begitu bel berbunyi. Suzu beberapa kali menatap Akashi yang duduk dihadapannya.
"Ada apa?" tanya Akashi. Suzu tersentak kaget.
"Ng... apa Akashi-kun tidak masuk kelas?" tanya Suzu hati-hati.
"Aku akan masuk ke kelas setelah ada Sensei yang menjemputmu" jawab Akashi. Suzu mengangguk pelan dan keheningan tercipta lagi diantara mereka. Suzu menghela napasnya lega saat sensei datang dan suasana tegang tadi pun segera hilang setelah Akashi kembali ke kelasnya.
"Sensei sudah menceritakan semuanya pada teman sekelasmu. Jadi kau tidak usah khawatir" Suzu mengangguk. Semoga saja perkataan senseinya itu benar.
Sensei segera masuk ke dalam kelas dan Suzu mengikutinya. Ia berdiri di depan kelas dan memperhatikan semua teman sekelasnya. Di pojok belakang, terlihat Momoi melambai-lambaikan tangannya pada Suzu. Suzu tersenyum melihatnya.
"Nah, Aoki-san, apa ada yang ingin kau sampaikan terlebih dahulu?" tanya Sensei.
Suzu terdiam sesaat, mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. "ng.. ini mungkin terdengar sedikit aneh, tapi aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi. Namaku Aoki Suzu, salam kenal dan mohon bantuannya, Minna" ujar Suzu sambil membungkukkan badannya.
Ia dapat mendengar kata 'benar-benar berbeda' 'berubah' dan sebagainya dari bisikan teman-teman sekelasnya. Tapi bukan dalam arti yang negatif, beberapa dari mereka tersenyum dan mengangguk pelan yang Suzu artikan sebagai 'tidak apa-apa, ini lebih baik'
Suzu tersenyum lega. Setidaknya pikiran buruknya selama ini tidak terwujud dan nyatanya teman sekelasnya menerimanya dengan senang hati. Ia pun segera duduk setelah Sensei menyuruhnya.
"Semuanya baik-baik saja kan? Sudah aku bilang kalau Suzu-chan tidak perlu khawatir" ujar Momoi.
"Iya. terimakasih banyak, Momoi-san" ucap Suzu. Ia berharap tidak ada hal buruk yang akan menimpanya di lain hari.
tsuzuku! ^^
Aku gak tau kenapa Suzu jadi kayak anak kecil begini -_-" padahal niat awalnya cuma mau bikin si Suzu jadi lebih pendiem, eh begitu dibaca ulang kok Suzunya malah jadi begini :|
Ya, makasih udah baca, semuanya! 'w')/ aku tunggu pendapat kalian tentang chapter ini ya hoho X3
