Title: Day Dream
Author :Lee hyora
Pairing: Kyuwook, Haewook
Cast : Ryeowook, Kyuhyun, Donghae, Eunhyuk, Sungmin
Rated: T
Genre: Friendship, Romance, sad,
Warning: Yaoi fanfiction. Typo. If you don't like, don't read.
_DayDream_
"Kyuhyun-ah.. bertahanlah… AKU MOHON!" Harap Ryeowook. Ia berusaha menggapai Kyuhyun, berenang sekuat mungkin dengan sisa tenaga nya.
'Kyuhyun-ah…' Suara itu semakin menggema dengan jelas di telinga Kyuhyun. Detak jantung nya mulai berdetak dengan cepat. Semakin Kyuhyun merapatkan mata, suara Sungmin semakin jelas memanggil nya.
Tidak.
Suara Sungmin memanggil nama Kyuhyun bukan untuk mengajak Kyuhyun mengikutinya, tapi menyadarkan Kyuhyun. Suara Sungmin memerintahkan nya untuk bangun dan membuka mata.
'Kyuhyun-ah…Bangunlah. Sadar lah. Buka mata mu!'
"Kyuhyun-ah….!" Ryeowook pun ikut menjerit memanggil nama Kyuhyun di dalam hati nya.
Kyuhyun yang tadi sudah kehilangan kesadaran, kini berusaha membuka mata nya yang berat dan tertutup rapat. Kyuhyun berusaha untuk bernafas sekali lagi. Gelembung besar keluar dari mulut nya mencari udara. Seberkas cahaya menyilaukan penglihatan Kyuhyun. Di rasakan nya sebuah genggaman tangan menarik pergelangan tangan nya.
Tangan itu merambat memeluk pinggang Kyuhyun, seolah menarik Kyuhyun dari kematian yang hampir mengambil nyawa nya sekali lagi.
Tangan itu, tangan kecil Ryeowook yang dengan sisa tenaga nya berhasil menggapai tubuh Kyuhyun dan membawanya ke permukaan air. Dengan susah payah Ryeowook menarik tubuh Kyuhyun ke pinggir kolam, yang walaupun tubuh nya kurus tapi tetap membuat Ryeowook kesusahan.
"Kyu… … bangun. Buka matamu." Ryeowook yang telah berhasil mengangkat tubuh Kyuhyun dari dalam kolam, sibuk menepuk-nepuk pipi Kyuhyun menyadarkan nya.
Ryeowook menekan perut Kyuhyun, berusaha mengeluarkan air yang mungkin saja tertelan oleh namja itu. Tak banyak membantu, Ryeowook mengembungkan pipi, mengambil udara sebanyak yang ia bisa dan mendekatkan wajah nya ke wajah Kyuhyun. Namja mungil itu mendekatkan mulut mereka, memberiakan Kyhyun nafas bantuan.
Beberapa kali Ryeowook melakukan itu, bergantian sambil tetap menekan perut namja tinggi itu sampai Kyuhyun mengeluarkan semua air yang di telan nya. Kyuhyun terbatuk karena air yang di keluarkan nya menyakiti tenggorokannya. Kini nafas Kyuhyun sudah mulai teratur.
"Kyu….kau sudah sadar?" Ryeowook berteriak girang melihat Kyuhyun yang mulai membuka mata sedikit demi sedikit. Air mata bahagia muncul di sudut mata Ryeowook. Tapi sedetik kemudain dia heran dengan reaksi pertama Kyuhyun setelah sadar.
"Sungmin hyung… kau baik-baik saja kan?" Ucap Kyuhyun dengan suara lirih. Tubuh nya menggigil kuat. Dingin karena seluruh tubuh nya telah basah. Tangan nya meraba jantung nya sendiri yang berdetak dengan cepat. Jantung nya juga terasa sakit, seperti hendak keluar dari tubuh Kyuhyun. Ia merintih kesakitan. "Ackk.."
"Kyu…" Ryeowook yang awal nya senang melihat Kyuhyun telah sadar berubah cemas ketika melihat wajah Kyuhyun yang meringgis sakit. "Gwenchana…? apa yang sakit?"
Dengan pandangan yang masih kabur, Kyuhyun berusaha melihat ke arah namja yang mendekap nya. Tangan Kyuhyun terangkat ke atas menggapai wajah namja itu. Kyuhyun melihat namja itu mengembangkan senyum, namun mata nya basah karena air mata.
'Sungmin hyung… apa itu kau? dia siapa? malaikat? kenapa dia menangis…' Kyuhyun membatin. Kesadaran nya belum kembali sepenuh nya. Ia berhalusinasi melihat Sungmin. Rasa sakit masih menjalari sebagian tubuh dan jantungnya.
"Sungmin hyung…uljima.." Ryeowook mengernyitkan kening mendengar Kyuhyun memanggil diri nya dengan nama Sungmin. Kyuhyun bahkan menghapus air mata Ryeowook masih dengan menyebut nama Sungmin.
"Ani, Kyuhyun-ah.. ini aku Ryeowook." Ryeowook kembali tersenyum seraya menggengam tangan Kyuhyun yang berada di pipi nya.
Kyuhyun menatap Ryeowook bingung. Dada nya sakit dan ia kembali meringis. Ia meremas bajunya yang basah tepat di jantung nya.
Deg.
"Acchkk…"
"Kyuhyun-ah…?! kau kenapa…? jangan tidur lagi, bangun Kyuhyun-ah!" Ryeowook mengguncang-nguncangkan tubuh Kyuhyun. Ia tak rela jika Kyuhyun kembali tak sadarkan diri. Tapi usaha nya berbuah nihil. Kyuhun benar-benar merasa sakit di dada nya. Ia bahkan bisa mendengar suara detak jantung nya sendiri.
Deg.
Detak jantung yang berirama menyakitkan itu memaksa Kyuhyun untuk menutup mata nya. Lagi. Kyuhyun tak sadarkan diri. Ryeowook masih berusaha membangunkan Kyuhyun ketika di rasakan nya cairan kental keluar lagi dari hidung nya. Tangan nya merambat ke bawah hidung, menyeka darah itu kasar.
Cairan berwarna merah itu berpindah tempat ke jari tengah Ryeowook. "Darah?
Ryeowook diam menatap tangan nya yang penuh darah. Kepala nya terasa berat dan pening melihat darah itu. Pandangan nya mulai mengabur, hingga tubuh nya limbung dengan posisi kepala nya di atas dada Kyuhyun.
Jelas terdengar suara jantung Kyuhyun di telinga Ryeowook seolah mengajak nya untuk datang ke alam yang tak di ketahui Kyuhyun dan Ryeowook. Kedua kelopak mata Ryeowook terasa sulit untuk di buka, hingga akhir nya mata namja itu tertutup sempurna. Ryeowook ikut tak sadarkan diri.
_DayDream_
Ryeowook bangun dengan rasa sakit di sekujur tubuh nya. Kepalanya masih begitu pusing, bahkan untuk mengangkatnya Ryeowook harus menahan sakit.
Usahanya untuk duduk pun gagal. Ia menyerah dan memilih tetatp tidur terlentang. Bola mata nya berputar ke segala arah, memperhatikan ruangan tempat nya berada sekarang. Tak perlu bertanya lagi, dia tahu tempat itu. Dia sudah terlalu sering berada di ruangan serba putih itu, bau nya yang khas dan selang infus yang tertancap di tangan nya.
"Dokter cantik… kenapa aku bertemu dengan mu lagi?" Suara Ryeowook lirih bertanya pada seorang dokter yang sejak tadi berdiri di samping ranjangnya.
Dokter berpakain putih itu tersenyum hangat. "Bukan kah aku yang harus nya bertanya pada mu Tuan Kim? kenapa kau bisa sampai datang lagi ke tempat ini?"
"Molla…. aku juga tidak ingin." Ryeowook mem-pout-kan bibir nya kesal. Ia memalingkan wajah nya melihat tirai yang bergerak pelan. Dia tidak suka tempat itu.
Dokter itu mendesah maklum. Ini bukan pertama kali nya bertemu dengan Ryeowook. Jauh sebelum hari ini mereka sudah saling mengenal dengan baik, karena dia adalah ddokter yang selalu merawat Ryeowook ketika namja itu sakit. Ia membetulkan selimut yang menutup tubuh Ryeowook yang sudah berpakain layak nya pasien yang lain.
"Dia…dimana, temanku itu?" Ryeowook berusaha bangun di bantu oleh suster nya itu. Ia ingat bagaimana bisa kembali ke tempat itu.
"Dia ada di ruang perwatan khusus."
"Aku mau kesana….!" Ryeowook melepas paksa selang infus di tangan nya, bangun dari ranjang nya dan beranjak pergi ke luar kamar . Tak menghiraukan larangan dari dokter itu.
"Tuan Kim, kau masih harus banyak istirahat…"
"Bye… dokter cantik." Ryeowook tetap melenggang pergi sambil melambaikan tangan ke belakang kepada dokter nya. Suster itu menggelengkan kepala melihat tingkah Ryeowook yang sejak dulu tak pernah mau mendengarkan nya. Dia memang seperti itu, tak pernah bertingkah seperti pasien yang lain nya.
Mau tak mau, dokter itu harus mengikuti Ryeowook. Tak mungkin membiarkan nya berkeliaran di rumah sakit dalam keadaan nya yang tak baik.
Ryeowook tak perlu bertanya dimana ruang perawatan khusus untuk Kyuhyun, dia hanya perlu tahu perawatan khusus apa yang dijalani Kyhyun saat ini. Ryeowook berjalan cepat, mengkhawatirkan teman nya itu.
"Apa yang mereka lakukan pada Kyuhyun?" Ryeowook menoleh pada dokter itu yang juga berdiri si samping Ryeowook di depan ruangan yang di dalam nya Kyuhyun terbaring lemah. Wajah nya begitu pucat dan tubuh nya kaku.
"Dia mengalami hipotermia. Suhu tubuh Tuan Cho turun drastis hingga dibawah 35°C, kami harus melakukan rewarming untuk menaikkan suhu tubuhnya."
"Hipotermia? Bagaimana bisa…?"
"Itu karena kondisi tubuh Cho Khyuhyun-ssi yang sangat lemah dan beban psikis yang di deritanya. Terlebih lagi saat seseorang menemukan kalian, tubuh kalian sudah basah kuyub, ruangan yang dingin, cuaca yang buruk, dan pakaian yang basah mempercepat penyakit itu menyerang teman mu itu."
"Beruntung, kau tidak apa-apa Kim Ryeowook-ssi. Bahkan aku terkejut saat tahu kondisi tubuh mu jauh lebih baik dari pada teman mu itu. Padahal tubuh mu jauh lebih kecil dari nya. Kau benar-benar kuat." Lanjut dokter itu.
"Noona meledek ku…" Ryeowook mendelik tajam pada yeoja itu yang sedang menahan tawa karena ekpresi wajah Ryeowook. Memanggilnya dengan panggilan yang biasa ia lakukan pada yeoja tersebut.
"Ani… tapi itu benar kan?"
"Sampai kapan Kyuhyun akan seperti itu?"
"Kyuhyun-ssi mengalami hipotermia berat, jadi… dia akan mengalami koma untuk sementara waktu hingga suhu tubuh nya kembali normal."
Bagi penderita hipotermia parah, pasien akan tidak sadarkan diri, badan menjadi sangat kaku, penglihatan mata menjadi kabur, mengalami hipotensi akut, dan pernapasan sangat lambat hingga tidak kentara. Seharusnya Ryeowook meyadari itu semua ketika Kyuhyun merasakan sakit di jantung nya dan mulai berhalusinasi dengan memanggil nya dengan nama Sungmin.
Bukankah itu gejala jika seseorang mengalami hipotermia?
Bodoh nya kau Kim Ryeowook.
Ryeowook terus memperhatikan Kyuhyun dari kaca kecil di dinding ruangan itu. Di dalam sana beberapa dokter sibuk meningkatkan suhu tubuh Kyuhyun dengan alat-alat yang tertancap di tubuh nya. Melihat itu semua Ryeowook merasa tak tega. Sungguh hati nya ikut merasa sakit karena dia lah yang menyebabkan Kyuhyun seperti itu.
Ryeowook memegang dada nya. Perih itu yang dirasakan nya. Teman yang di sayangi nya sedang terbaring tak berdaya di dalam sana.
Diam-diam dokter yang di kenal Ryeowook sejak lama itu memperhatikan bagaiman cara Ryeowook menatap Kyuhyun dengan penuh perasaan. Baru kali ini Ryeowook memperlihatkan kasih sayang nya yang dalam pada seseorang.
"Noona… selama Kyuhyunnie sakit, aku titip dia pada mu ya?"
"Kau menyayangi nya Ryeowook-ah?" Ryeowook mengangguk. Yeoja itu sekali melihat ke arah Kyuhyun. Dia tahu dengan pasti kondisi kesehatan mereka berdua. Dia cukup meyesal jika persahabatan itu akhirnya nanti akan berakhir karena kematian. Dokter itu membuang nafas sedih.
"Ryeowook-ah… kau harus menjaga nya baik-baik, setelah dia sadar nanti." Ryeowook tersenyum penuh arti pada yeoja yang sudah di anggap noona nya sendiri itu.
"Arraseo…" jawab Ryeowook lemah.
"Kyuhyun masuk rumah sakit?"
"Ne…dan kau tahu itu karena apa?"
Donghae yang awal nya tak terlalu antusias dengan pembicaraan nya dan Eunhyuk itu kini menoleh kepada sahabat nya itu. Eunhyuk pun menceritakan semua nya yang terjadi pada Kyuhyun. Donghae mendengarkan dengan cermat cerita Eunhyuk dan perlahan ia mulai emosi.
Tentu nya pada tiga preman yang memang menjadi penyebab apa yang terjadi pada Kyuhyun dan Ryeowook. Donghae memang sudah mengenal mereka bertiga. Bukan sebagai teman, tapi sebagai musuh bebuyutan.
Donghae mengepalkan tangan nya emosi. " Mereka cari mati!"
"Kau mau kemana?" Eunhyuk mengikuti Donghae yang berjalan keluar dari rumah besar nya.
"Tentu saja memberi mereka pelajaran! hanya aku yang berhak membunuh Kyuhyun. Jika sampai Kyuhyun mati karena mereka, aku tak pernah memafkan itu!" Donghae takut rencana nya untuk membalas dendam pada Kyuhyun gagal.
Eunhyuk yang berjalan di belakang Donghae berusaha menyamakan langkah Donghae dan menahan teman nya itu. Ia sudah bergidik ngeri setiap ingat rencana Donghae yang ingin membalas Kyhyun. Tapi apa daya Donghae terlalu keras kepala dan tak pernah mau mendengarkan nya. Sebagai teman, Eunhyuk hanya bisa mengikuti apa yang Donghae mau.
"Donghae-ya.. bukan kan itu lebih bagus? jadi kau tak perlu bersusah payah melakukan balas dendam mu itu."
Donghae menghentikan langkah nya dan memutar tubuh melihat Eunhyuk di belakang nya. "Kau tahu seberapa benci nya aku pada anak itu kan? Tapi aku tak ingin dia semudah itu mati. Dia harus terlebih dulu merasakan sakit nya di campak kan orang yang di cintai nya!"
"Tapi apa harus seperti ini cara nya. Dengarkan aku Donghae… Sungmin hyung, dia mati bukan karena Kyuhyun!" Eunhyuk memegang bahu Donghae, berusaha menyadarkan Donghae. Sama seperti hari-hari sebelumnya.
"Berhenti mengatakan itu!" Donghae mendorong Eunhyuk ke belakang hingga namja itu hampir terjungkal ke belakang.
Donghae benci setiap ada yang mengingatkan diri nya tentang Sungmin hyung. Dan bagaimana hyung nya itu pergi meninggalkan diri nya untuk selama-lamanya, dan bagi Donghae itu semua karena Kyuhyun.
Kening namja itu berkerut dan urat di sekitar nya ikut menegang. Tangan nya masih mengepal seraya ia mendudukkan diri nya di trotoar jalan. Hatinya terluka setiap kali mengingat hyung nya itu. Hyung yang begitu ia cintai. Donghae menggigit bibir bawah nya menahan emosi dan tangis nya bersamaan.
Eunhyuk yang tak tega ikut duduk di samping Donghae. Dia tahu seberapa besar luka yang di rasakan Donghae. Sudah lama ia mengenal Donghae. Dan ia hanya perlu duduk di samping teman nya itu untuk menenangkannya jika sedang bersedih.
"Tinggalkan aku sendiri…!" sentak Donghae. Eunhyuk melirik ke arah Donghae memastikan apa yang baru di dengar nya.
"Tinggalkan aku sendiri, dan jangan ikuti aku lagi…" Lagi kata-kata itu keluar dari mulut Donghae. Namj itu berlalu dari hadapan Eunhyuk.
Meskipun Eunhyuk tidak bisa membiarkan Donghae pergi dalam keadaan kacau seperti itu, toh dia tetap menurut dan tak mengekor di belakang Donghae lagi.
Donghae berjalan pelan, fokus nya tak tertuju pada arah depan tapi pada aspal jalan itu. Ia hanya mengikuti kemana langkah kaki membawa nya. Tanpa tearasa ia sudah berjalan begitu jauh dari rumah nya. Dan kini ia berdiri di sebuah rumah yang tak asing bagi nya.
Tidak.
Donghae tidak pernah masuk ke dalam sana, dia hanya beberapa kali lewat atau sekedar membuntuti si pemilik rumah. Donghae melihat ke dalam rumah melalui pagar besi. Aneh, biasanya rumah itu akan terlihat terang benderang dari luar, karena seperti nya si pemilik rumah menyalakan semua lampu di rumah nya.
Tapi berbeda dengan malam ini. Rumah itu begitu gelap.
Donghae memuatari rumah itu Mencari jalan lain agar bisa melihat lebih jelas. Kalau beruntung Donghae akan menemukan jalan masuk lain ke rumah itu selain pagar besi tinggi yang ada di depan rumah.
Dari sisi lain rumah itu, sebuah cahaya lilin berpendar di sebuah ruangan. Donghae juga mendengar suara seseorang bernyanyi. Penasaran, tanpa pikir panjang Donghae masuk melewati pagar tembok ke dalam rumah itu.
saengil chukha hamnida saengil chukha hamnida
saranghaneun Ryeowookkie saengil chukha hamnida
Lagu itu. Tubuh Donghae terpaku melihat siapa yang mnyanyikan lagu itu.
"Ryeowook? apa yang di lakukannya?" Donghae berjalan mendekati Ryeowook yang duduk di depan sebuah meja yang di atas nya terpajang sebuah pigura ke dua orang tua nya. Ada sebuah cake ulang tahun juga di atas nya. Ryeowook mengatupkan tangan mengucapkan harapan di ulang tahu nya malam itu.
Tapi saat bersiap meniup lilin di atas cake itu, Ryeowook memutar kepala nya melihat dari jendelan yang terbuka seseorang berdiri di luar sana.
"H-hyung…" Ryeowook berujar takut.
Donghae menatap intens pada Ryeowook. Awal nya Donghae berniat mengganggu namja itu tapi keinginan itu memudar begitu saja melihat wajah polos Ryeowook.
'Dari jauh, kau terlihat seperti Sungmin hyung… Ryeowook-ah..'
"Kau.. kau ulang tahun malam ini?" Tanya Donghae dengan tatapan aneh.
"N-ne.. hyung." Jawab Ryeowook bingung. Dia merasa risih dengan tatapan aneh yang Donghae tujukan pada nya. Tentu saja Donghae merasa aneh karena Ryeowook merayakan ulang tahun nya sendirin. Dimana Appa dan Eomma nya?
"Hyung.. masuklah. Kau datang dari mana..? Ryeowook berusaha mencairkan suasana.
"mwo? ah… itu, aku…" Donghae hanya bisa menjawab pertanyaan Ryeowook dengan cengiran aneh karena dia datang bukan sebagai tamu yang baik. Dia masuk tanpa ijin dan meloncati pagar. Ryeowook masih menunggu jawabannya.
"Kau sendirian?" Donghae mengalihkan pembicaraan seraya melihat sekeliling rumah itu . Gelap. Fokus nya kini kembali teralihkan ke arah cake di depan nya. Mereka berdua duduk di lantai.
"Huum…" Ryeowook mengangguk pelan. Mata nya tertuju pada bingkai foto kedua orang tua nya. "Ini… malam kelima ku merayakan ulang tahun sendiri."
"Mereka… kemana?"
"Mereka sudah pergi hyung…" Senyum miris muncul di wajah manis Ryeowook. Tangan nya memeluk kedua kaki yang ia tekuk.
"Empat tahu lalu, Appa… meninggalkan ku, untuk selamanya. Dia menyusul Eomma yang sudah terlebih dahulu pergi." Suara Ryeowook parau seperti ingin menangis menceritakan tentang orang tua nya pada Donghae. Donghae melingkarkan tangan nya di pundak Ryeowook, menenangkan nya.
Tak ada beda antara dia dan Ryeowook. Sama-sama hidup sendiri dan sebatang kara. Dia bahkan sudah lupa kapan ia dilahir kan. Yang Donghae ingat dia hanya hidup bersama sungmin selama ini.
Seperti biasa Donghae akan mulai kacau jika mengingat Sungmin. Tapi kini Donghae merasakan perasaan nya lebih tenang karena berada di dekat Ryeowook.
"Sekarang… pasti mereka sudah berada di atas sana, di Surga!" Tunjuk Ryeowook ke arah langit. Senyum manis terkembang di wajah polos nya.
Sekelebat pikiran muncul di otak Donghae. 'Apa Sungmin hyung juga ada disana…?'
"hyung…kenapa diam?"
"Aniya. Malam ini, aku akan menemani mu merayakan ulang tahun mu…" Ia tersenyum hangat pada namja kecil itu. Entah sejak kapan dia merasa senang di dekat Ryeowook.
"Akan terlihat aneh kalau kau menyanyikan lagu itu sendirian…kau seperti orang gila." Ejek Donghae.
Ryeowook memanyunkan bibir nya. Dia tak merasa hal itu aneh, terlebih lagi karena tak ada teman yang bisa dia ajak merayakan ulang tahun. Tak ada satupun orang yang mengingat hari ulang tahun nya selain orang tua nya sendiri.
Donghae mengambil cake dengan lilin yang masih menyala diatas nya itu. Sesudah menyanyikan lagu ulang tahun untuk Ryeowook, Donghae menyuruh namja kecil itu untuk sekali lagi mengucapkan doa nya. Dan beberapa detik kemudian ruangan itu menjadi gelap sepenuh nya.
Mereka kini diam sambil duduk bersandar di tembok, menikmati malam itu sambil melihat bias cahaya rembulan yang sedikit menerangi tempat mereka duduk.
"Kau tak apa-apa kan? Bukankah kau kemarin masuk rumah sakit…?" Donghae seketika itu ingat tentang kejadian yang menimpa Kyuhyun juga menimpa Ryeowook. Tangan nya terulur menyentuh wajah Ryeowook perlahan. Semburat merah pun nampak di wajah Ryeowook karena nya. Untunglah ruangan itu gelap sehingga Donghae tak bisa melihat nya.
"Gwenchana hyung…aku tidak apa-apa…" Gugup Ryeowook. Dada nya tiba-tiba terasa sesak dan jantung nya berdebar kencang mendapatkan tatapan lembut Donghae.
Ryeowook tersenyum manis sekali. Senyum yang terlalu manis dan menghayutkan Donghae dalam perasaan yang dia tidak tahu. Dia gugup melihat senyum Ryeowook yang terkena cahaya bulan. Sungguh pemandangan yang indah, menurut Donghae.
"Syukurlah…kau baik-baik saja…." Donghae menahan gugup nya tapi mata lekat menatap Ryeowook. Ryeowook yang begitu mirip dengan Sungmin.
Donghae ikut tersenyum melihat wajah ceria Ryeowook. "Kenapa kau sudah pulang, seharus nya kau banyak beristirahat disana."
"Aku yang memaksa pulang. Aku tidak suka rumah sakit…. tapi sungguh aku tidak apa-apa hyung. Jeongmal..." Ryeowook menjelaskan pada Donghae yang terlihat tidak suka karena ia keluar dari rumah sakit padahal dia belum sembuh.
"Ayo ikut denganku.." Donghae menarik tangan Ryeowook. Mangajak nya ke suatu tempat. Ryeowook mengikuti dengan pasrah.
—-
Donghae membawa Ryeowook ke suatu tempat yang sangat sepi jauh dari pemukiman. Hanya ada beberapa gundukan tanah ditempat itu.
"Aku tidak tahu ulang tahun ku kapan, aku tidak ingat. Yang aku ingat adalah tanggal hari dimana seseorang meninggalkan ku…" Donghae berjongkok di depan gundukan tanah yang membentuk seperti sebuah bukit kecil. Membersihkan dedaunan kering di sekitar gundukan itu atau sebut saja sebuah makam.
"Dia siapa hyung…?
"Dia. Dia adalah hyung ku… Sungmin hyung." Air mata kembali menggantung di mata Donghae. Perih hati nya tak bisa tertahan lagi. Mendengar nama Sungmin, Ryeowook membulatkan matanya.
Dia ingat sekarang, dari bibir Donghae lah dia pertama kali mendengar nama Sungmin.
"Sama seperti mu. Aku juga seorang diri di dunia ini. Dulu, aku masih punya dia. Tapi, sekarang tidak lagi…dia juga pergi." Suara Donghae hampir hilang karena menahan kesedihan nya. Donghae tak bisa lagi menahan air mata nya yang menetes perlahan. Terlalu menyakitkan mengenang Sungmin malam itu.
Ryeowook yang ikut bersimpuh di samping Donghae memeluknya dengan perasaan gamang. Merasa aneh karena Kyuhyun pun selalu bersedih jika mengingat Sungmin.
Dia benar-benar penasaran seperti apa Sungmin dulu.
"Bagi ku dia adalah segalanya… hidup ku, dan selamanya dia adalah milik ku… " Donghae tak meneruskan kalimat nya. Lebih memilih melanjutkan kata-kata nya di dalam hati, 'tapi itu semua rusak karena kehadiran Kyuhyun…'
Flasback on
"Donghae…Donghae…! Cepat kemari.." Seorang ank kecil berteriak memanggil dongsaeng kesayangan nya itu. Tangan nya menjinjing sebuha bungkusan di tangan kana dan kiri nya.
"Waeyo hyung…" Anak yang dua satu tahun lebih kecil dari namja tadi menghampiri hyung nya dengan tatapan bertanya pada hyung nya. Tapi sekilas wajah nya berbinar melihat apa yang di bawa oleh hyung nya itu. "Ddubokki…ah, kesukaan ku hyung!"
"Hum.. makan lah. Hyung hari ini membelikan nya untuk mu. Dan ini… ikan emas yang kau mau Donghae-ya…"
"Huwaa….hyung gomawoyo .." Dengan cepat Donghae membuka kotak makanan itu dan memakan habis ddeokbokki yang di bawakan hyung yang paling di sayangi nya itu.
Lee Sungmin.
Namja tampan itu mengelus rambut dongsaeng nya dengan penuh kasih sayang.
"hyung… kenapa kau juga tidak makan?" Donghae melirik satu lagi kotak berisi ddeokbokki di pangkuan Sungmin yang masih tertutup rapat.
"Buat nanti saja…kau habiskan dulu makan mu itu." Donghae menuruti perintah hyung nya, ia mengangguk dengan mulut penuh makanan. Donghae kecil Benar-benar lucu dan menggemaskan di mata Sungmin.
Setelah menghabiskan makan siang nya itu Sungmin dan Donghae berjalan dengan riang menyusuri jalan kota yang terlalu ramai itu. Donghae yang memang nakal berlarian kesana kemari dan sering membuat Sungmin khawatir.
"Donghae! jangan lari-lari…!" Sungmin berniat mengejar Donghae, tapi langkah kaki nya terhenti ketika mendengar sebuah isakan di dalam sebuah lorong kecil.
Karena penasaran, Sungmin mengikuti datang nya arah suara untuk mengetahui suara apa itu.
"Huu..huu..Appa…Eomma…huhu…"
Sungmin terpaku mendapati seorang anak kecil yang bahkan jeuh lebih kecil dari Donghae sedang menangis tersedu disana. "Dongsaeng kecil… kau siapa? sedang apa disini?"
Takut-takut anak kecil itu mendongakkan kepala melihat Sungmin. Mata nya sembam, mungkin karena terus menangis.
"Eomma…huks.." Anak itu masih terus terisak meskipun Sungmin sudah menenangkan nya. Donghae pun sudah berdiri lagi disamping hyung nya dan melihat anak kecil itu. Bergantian melihat Sungmin dan anak laki-laki itu.
"Sssst…uljima, kau kenapa? Dimana Appa dan Eomma mu?" Sungmin menyeka air mata yang membasahi pipi anak kecil itu. Sungmin mengedarkan pandangan seperti sibuk mencari sesuatu. "Apa kau tersesat?"
Anak kecil itu mengangguk pelan. Melihat bungkusan yang di pegang Sungmin, anak itu menelan ludah sambil memegangi perut nya yang lapar. "Ahh..kau lapar. Makan lah.."
"Itu punya mu hyung…" Donghae menahan tangan Sungmin yang menyodorkan makan siang nya itu.
"Gwenchana Donghae-ya.. hyung tidak lapar." Sungmin tersenyum pada Donghae yang selalu mengkhawatirkan nya itu. Donghae yang tadi keberatan karena Sungmin memberikan jatah makan nya itu kini diam. Sungmin memperhatikan anak kecil yang tersesat itu dengan perasaan senang karena bisa membantu seseorang hari ini.
"Ireumi mwoyeyo?"
" Jeoneun Kyuhyun imnida…" Kyuhyun kecil membungkuk pada Sungmin, begitu juga pada Donghae.
"Wahh.. kau manis sekali. Kyuhyunnie.. nama yang bagus. panggil aku Sungmin hyung, arra? dan ini Donghae hyung…"
"Ne.. hyung." Kyuhyun yang sedikit merasa aman di dekat Sungmin kini sudah tidak menangis lagi. Bahkan ia tersenyum manis pada kedua hyung yang baru di temui nya.
Dalam waktu singkat, Sungmin pun merasa dekat Kyuhyun. Tapi tidak dengan Donghae yang sedikit merasa terganggu dengan kehadiran Kyuhyun. Entahlah, rasa takut kehilangan terbesit di hati Donghae.
Dia takut kehilangan Sungmin.
"Kyuhyunnie.. apa kau ingat dimana rumah mu? hyung akan mengantar mu pulang…"
"Mollayo...Aku tidak ingat…" Kyuhyun yang tadi sudah bisa tersenyum kini kembali muram.
"Eh, kau tidak ingat. eottoke?" Sungmin berpikir keras, tidak mungkin meninggalkan Kyuhyun kecil sendirian disana.
"Hyung… aku boleh kan ikut dengan mu?" Kyuhyun merengek agar diijinkan ikut dengan Sungmin dan Donghae. Sungmin kembali berpikir. Apa tidak apa-apa membawa nya ke tempat mereka tinggal sekarang?
Setelah terlepas dari cengkraman Appa nya yang begitu jahat, Sungmin dan Donghae kini tinggal bersama di sebuah panti. Seorang wanita paruh baya dari panti itulah yang menemukan mereka berdua ketika terkapar penuh darah di bawah guyuran hujan, Brntung kedua nya masih bisa di selamatkan.
"Baiklah. Untuk sementara ini, kau bisa tinggal bersama kami… iya kan Donghae?" Sungmin meminta ijin pada dongsaeng nya itu. Sungmin yang menyadari Donghae terus diam menatap Donghae dengan tatapn lembut. Dia tahu tidak mudah bagi Donghae menerima orang lain di sekitar nya.
Dan Sungmin cukup tahu, Donghae tidak begitu menyukai kehadiran Kyuhyun diantara mereka. Tapi menolong Kyuhyun adalah sebuah kewajiban bagi Sungmin. Dia berharap Donghae akan mengerti itu.
Sejak saat itu lah Kyuhyun ada diantara Sungmin dan Donghae. Mereka bertiga hidup bersama hingga mereka dewasa. Tapi sejak saat itu juga Donghae tak pernah sekalipun menyukai keberadaan Kyuhyun. Bagi Donghae Kyuhyun adalah seorang penganggu.
Flashback off
"Hyung….Sungmin hyung… Sungmin hyung…" Donghae berkali-kali memanggil nama orang yang dicintai nya itu sebanyak yang ia mau.. Dia menyesal karena malam itu dia pergi ke tempat yang telah memisahkan kedua nya.
Sejak pulang dari tempat itu Donghae terus mengurung diri.
Hati nya hancur setiap kembali dari sana. Ia mengeratkan pelukan nya pada bingkai foto diri nya dan Sungmin. Namja itu mengelus pelan kaca bingkai yang suah basah terkena air mata nya itu.
"Hyung…bogoshipo."
"Sungmin hyung… hyung…"
—
'Sungmin hyung…Sungmin hyung…'
Seperti terpanggil, tubuh namja yang sedang terbaring lemah itu bergetar hebat. Jari-jari nya yang kaku kini bergerak satu persatu. Jantung nya berdetak kencang mendengar nama Sungmin tergiang di telinga nya.
Alis di pelipis mata nya berdenyut, dan perlahan bola mata nya berputar walau masih dengan kelopak mata yang tertutup. Nafas nya berderu pelan di balik alat bantu pernafasan yang tersambung di wajah nya.
"Donghae… Kyuhyun." Namja itu bergumam pelan seirama dengan detak jantung nya. "Kyuhyun…"
TBC…
Merasa aneh sendiri dengan chapter kali ini, huhu… tapi tetap harus di lanjutkan nulis sampai selesai.#nyemangatin diri sendiri. Dann... yang udah ikutin ini FF gaje dari awal...gomawoyo... udah nyempetin sekian menit untuk baca.#bow.
