View utama restauran mahal ini adalah lautan Indah yang di dominasi warna biru. Sinar matahari tidak terik siang ini, langit tampak begitu bersahabat dengan warna birunya yang indah tanpa gumpalan kapas putih ataupun abu-abu. Dan Tao tak berhenti mengagumi pemandangan yang tersuguh di hadapannya itu.

Kris membawanya ke restauran ini untuk memulai sarapan yang sangat amat terlambat, yang sebenarnya lebih tepat jika disebut makan siang. Sebuah restaurant yang menyediakan western food, setidaknya dirinya tidak akan begitu rewel dengan cita rasa khas Sri Lanka mengingat di mana saat ini mereka berada.

Restauran ini pasti sangat mahal, batin Tao seraya mengamati sekelilingnya. Ia berada di sebuah gazebo yang di dominasi warna kayu lembut ala musim panas, dengan 1 meja makan dan di kelilingi tanaman hijau yang asri. Sudah pasti Restauran ini dirancang untuk lebih privasi bagi pengunjungnya. Secara eksklusif menyajikan pemandangan laut sebagai view utama.

Tersenyum saat angin membelai wajahnya lembut, memainkan helai rambutnya, membuatnya menutup mata untuk menikmati angin sepoi-sepoi yang segar. Dan sebuah kecupan di pipinya membuat Tao membuka kedua matanya kembali.

"Kau suka pemandangannya?" Kris berdiri di samping kanan kekasihnya, Tao mengangguk.

"Restauran ini pasti sangat mahal" ucapnya.

"Tidak semahal harga yang harus ku bayar untuk bisa bersama mu" tersenyum. Kris sukses membuat Tao merona merah karena malu.

Lelaki itu terkekeh, mencubit gemas pipi kenyal kekasihnya yang memerah. Menggiring Tao untuk duduk selagi menunggu pesanan mereka.

Pemuda manis itu tersenyum tipis tanpa Kris sadari. Selagi pria itu berkutat dengan ponselnya, Tao merekam dengan baik cara berpenampilan Kris saat ini yang terkesan sangat segar dan santai.

Setelah serba putih dengan celana pendeknya, rambutnya ditata yang menampilkan image muda dan segar. Bahkan meski tak ber merk pun akan tetap terlihat mewah jika Kris yang memakai. Kekasihnya memiliki selera yang sangat bagus dalam berpakaian. Bahkan pakaian yang dikenakannya saat ini pun sepertinya atas dasar pilihan Kris.

Tidak tahu kapan ia membelinya, ia sudah menemukannya tersedia di atas tempat tidur saat keluar dari kamar mandi.

Jika Kris berpakaian serba putih yang sangat serasi dengan kulit putih bersihnya, maka dirinya mengenakkan celana pendek di atas lutut berwarna biru dan kaos hitam ketat bertuliskan 'Berlin' dibagian dada.

Pesanan datang dan Tao tidak bisa mencegah perutnya yang berbunyi minta diisi. Ia menunduk malu karena pelayan masih berada di sana untuk menata hidangan, Kris terkekeh kecil, menyapa helai lembut Tao dan mengusapnya kecil.

"Habiskan, aku ingin Taozi ku gemuk. Akan lebih empuk saat menyentuhnya, ya 'kan?"

.

.

Suasana pantai tergolong sepi, tak banyak wisatawan ataupun penduduk lokal yang berada di sana mengingat jika saat ini belum memasuki jadwal liburan. Pantai itu begitu Indah dan cantik, bahkan dikala senja menjelang, keindahannya masih memukau.

Tao lebih memilih untuk duduk bersila dibibir pantai, membiarkan kulitnya bersentuhan langsung dengan pasir pantai yang lembut. Menyandarkan kepalanya di bahu Kris, menyamankan posisinya di samping lelaki itu dengan tangan bergandengan. Ia bisa melihat tangan besar berurat itu menenggelamkan tangannya yang lebih kecil.

"Kau ingin apartemen mewah atau rumah di tepi pantai?" suara Kris yang lembut menyapa telinganya. Tao tersenyum tipis.

"Rumah di tepi pantai"

"Mobil atau sepeda?"

"Sepeda"

"Penghangat listrik atau pelukan?"

"Pelukan" ia tertawa kemudian.

"Kalau begitu aku akan memikirkan untuk menjual beberapa aset dan membangun rumah di tepi pantai"

Tao mencubit pipi tirus Kris gemas. "Cukup menggombalnya Kris Wu. Kau memiliki janji yang harus ditepati"

Melepaskan kedua tangan Tao di pipinya, Kris menggenggam tangan lembut itu lagi dan mengubah posisinya menghadap si manis yang kini menunggu.

"Kau ingin dengar yang mana dulu?"

"Dari awal"

Tao menunggu, menelisik ke dalam manik abu-abu indah kekasihnya. Dan Kris mulai berbicara.

"Kau tahu apa pekerjaan ku, setiap detiknya nyawa dipertaruhkan. Senjata, menyelundupkan barang-barang, hewan, minuman keras, tapi kau tahu aku tidak akan pernah menjual narkoba"

"Ya, aku tahu"

"Aku selalu mengatakan padamu ingin memiliki bisnis yang bersih, dengan membeli atau menanam saham. Dan beberapa orang tiba-tiba muncul untuk menawarkan kerja sama"

"Siapa orang-orang itu?"

"Pimpinan beberapa katel narkoba. Mereka membutuhkan kerja sama ku agar bisnis mereka berjalan lebih aman. Dengan imbalan besar, dan tentu saja aku menolak"

"..."

"Berulang kali mereka berusaha membujuk ku, tapi selalu ku tolak. Dan sepertinya mereka marah, mereka mulai mencari masalah dengan ku, memaksa agar aku menerima tawaran kerja sama itu"

"Dan kau memutuskan untuk meninggalkan ku?"

Kris mengangguk. "Katel narkoba lebih berbahaya dari sekelompok jagal. Aku mendapat laporan jika mereka merencanakan sesuatu padamu, dan lagi saat itu musuh lama ku muncul untuk memanfaatkan situasi"

"Musuh lama? Siapa?"

"Itu tidak penting. Aku sudah menyelesaikan semuanya, ya setidaknya.

Siapapun yang berada didekat ku akan berada dalam bahaya. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu, jadi aku menjauh agar mereka yakin jika kita tidak memiliki hubungan lagi"

"Apa rencana itu berhasil?"

"Sebenarnya aku terkejut dalam waktu 1 bulan mereka percaya jika hubungan kita sudah berakhir"

"Lalu luka di bahumu?"

"Baku tembak itu hal yang biasa. Saat itu aku berada di China, mereka mengejar ku sampai ke sana. Aku mengerti kenapa mereka benar-benar ingin aku bergabung, jaringan ku luas, relasi ku berada di mana-mana, dan pasar yang ku kuasai tidak main-main. Jika aku bergabung, mereka akan mendapatkan banyak informasi tanpa batas"

"Apa semuanya sudah berakhir sekarang?"

"Sudah, ku rasa. Situasinya lebih terkendali, aku tidak bisa jika lebih lama tidak melihat mu"

"Yah, rencana yang bagus. Meninggalkan ku sendirian begitu saja"

Kris tersenyum timpang, merengkuh tubuh tipis Tao masuk ke pelukannya. Mengusap rambut hitamnya yang lembut, dan memberikan ciuman di sana.

"Lalu saat di club, apa penyebabnya?" Tao mendorong dada Kris pelan, kembali menatap kekasihnya.

"Mereka dari kelompok Sixth Gun. Aku tidak berniat mengambil pelanggan mereka, dan mereka marah padaku dan yah, keributan di club itu terjadi"

"Pelanggan?"

"Aku memasok senjata ke beberapa Negara, dan beberapa diantaranya adalah wilayah mereka. Aku hanya pedagang, tidak mungkin menolak pembeli, benar 'kan?"

Tao memanyunkan bibirnya seraya mengangguk kecil. Merasakan usapan di pipinya, ia kembali menatap Kris di hadapannya. Lelaki itu menatapnya sendu.

"Aku ingin mengajak mu ikut bersama ku, Taozi. Kita pergi bersama mengelilingi banyak tempat baru, kau dan aku"

Tao mengerjap, menatap bingung. "Apa maksud mu?"

Menarik nafas, Kris meraih kedua tangan Tao dan menggenggamnya.

"Aku mau kau ikut dengan ku. Untuk waktu yang lama aku tidak bisa berdiam diri di satu tempat saja. Bisnis ku meluas, banyak keuntungan dan masalah yang diciptakan yang mengharuskan aku untuk berkeliling dari Negara ke Negara. Dan aku tidak bisa jika harus meninggalkan mu sendiri, aku tidak sanggup jika harus berpisah lagi darimu dan lebih lama lagi. Ikutlah dengan ku, kita akan melihat banyak tempat baru, dan yang terpenting kau berada di dekatku agar aku bisa melihat dan menjaga mu"

Mengerjap, Tao berusaha memahami ucapan Kris, dan sedetik kemudian matanya membulat lucu.

"T-tunggu, maksud mu kau mengajak ku berkeliling bersama mu?"

Kris mengangguk, mengeratkan genggamannya.

"Tapi bagaimana dengan kuliah ku? Pekerjaan part time ku? Teman-teman dan orangtua ku?" ia bertanya panik.

"Aku yang akan mengatur semuanya, dan semuanya akan baik-baik saja"

"T-tapi Kris... "

"Kumohon, pergilah bersama ku"

Tao memalingkan wajahnya, kebingungan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi ia menginginkan untuk bersama Kris, tapi di satu sisi ia mencemaskan kehidupannya.

"Bagaimana jika aku malah merepotkan mu dan membuat masalah nanti?"

"Masalah terbesar ku adalah saat aku tidak bisa bersama mu"

Tao melihat keseriusan di sepasang manik abu-abu. Membuatnya tak tahu harus menjawab apa. Tao mengerti jika Kris tulus padanya, karena perasaannya pun begitu.

Tangan besar itu mengusap pipinya, dan tangannya yang lain menarik pinggangnya. Duduk di atas pangkuan, meremas bahu lebar kekasihnya. Di matanya penuh dengan pertimbangan dan keraguan.

Kris mencium bibir mungil di hadapannya lembut, tak ingin membuat kekasihnya kebingungan. Dan Tao menyambutnya, perlahan seperti ciuman pertama mereka.

.

.

.

Tubuhnya bergerak kala kesadarannya mulai terpanggil. Menguap lebar, Tao merenggangkan otot tubuhnya lagi, mengerjap lemah.

Tempat tidurnya yang empuk berubah menjadi keras, dengan alis yang bertaut ia mengangkat kepalanya dan menemukan wajah Kris yang terlelap.

Ah ya, bagaimana dirinya lupa jika semalam ia tertidur di atas tubuh Kris setelah kelelahan 'bertempur'. Dan seingatnya dirinya nyaris selalu terbangun dengan keadaan telanjang bulat.

Salahkan kekasih tampannya yang selalu menggoda dan memulainya. Tao tidak yakin, sudah berapa kali mereka melakukannya hari ini?

Apakah karena mereka telah lama berpisah sehingga Kris tidak merasa puas menyentuhnya?

Oh sial! Apa yang kau pikirkan Zitao? Kenapa kau menjadi mesum seperti Kris?

Si manis itu mengacak rambutnya kesal. Mendengus, ia memencet hidung mancung Kris sebagai pelampiasan. Tidak bersungguh-sungguh, tentu ia tidak mau ditinggalkan lagi.

Menatap wajah tampan itu cukup lama, memperhatikan bentuk tubuh atasnya yang masih terlihat sisa keringat, lalu pada kedua tangannya yang melingkar di pinggangnya.

Tao melepaskan pelukan itu perlahan, bergerak dengan hati-hati. Berniat untuk menyingkir dari tubuh kekasihnya, tapi pergerakannya terpaksa terhenti saat merasakan sesuatu yang mengganjal di bagian bawah tubuhnya.

Berdecak kesal, Tao mengarahkan tangannya ke bagian bawah bokongnya, menggenggam gumpalan otot yang sudah mengecil dan mencabut benda itu dari lubangnya. Seperti kran bocor, cairan putih kental yang lengket meluber keluar dari lubang kecilnya.

Tak lupa membenahi selimut agar Kris tidak kedinginan, kemudian memungut pakaian yang paling dekat dengan kakinya, memakainya tanpa peduli atasan piyama biru itu milik siapa. Tapi setidaknya ukurannya yang besar di tubuhnya, piyama itu jelas milik Kris.

Tao membuka tirai kamar mereka, kemudian pintu kaca balkon dengan cara menggesernya, segera saja angij malam menerpa tubuhnya yang hanya terbalut piyama biru gelap.

Bibir mungilnya tersenyum saat melangkah mendekati pagar balkon. Pemandangan pantai di malam hari tak kalah Indah, langit sangat cerah, dan hal ini tidak akan pernah ia temukan di Seoul.

Tao memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang membelai kulit dan wajahnya. Kemudian membukanya kembali, menyadari jika ia tak akan pernah melihat tempat seindah ini jika dirinya tak mengenal Kris.

Sejak lelaki itu muncul di hadapannya, hidupnya tak pernah membosankan lagi. Kris memang berbahaya, jalan hidupnya sangat berbahaya, tapi ia menemukan kenyamanan saat bersamanya.

Kris menbmemberinya banyak hal, tapi bukan itu yang dicari. Ia melihat perasaan tulus yang nyata, seseorang yang sangat menginginkan dirinya, seseorang yang tak berpura-pura di hadapannya.

Tao mengusap kedua matanya segera merasakan matanya yang mendadak buram. Menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.

Ia sudah membulatkan tekad.

Membalikkan tubuhnya, ia melihat sosok Kris yang sudah merubah posisinya menjadi miring menghadap balkon. Senyumnya berkembang, berlari kecil dengan kaki telanjang, Tao nyaris lompat ke tempat tidur, menyelinap ke balik selimut dan masuk ke dalam pelukan Kris.

Pria tampan itu refleks merengkuh Tao ke dalam pelukannya, matanya masih terpejam. Dengkuran halus meluncur dari bibirnya, menandakan jika ia masih berada di alam mimpi.

Tao memejamkan matanya dengan senyum di bibir, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kris. Dirinya akan memberikan jawaban esok, saat pagi menjelang dan Kris yang terenyum tampan mengucapkan "Selamat pagi" padanya.

.

.

.

END

.

.

Ini bener2 tamat ya, kalau pas lagi ada ide nanti gw update sepotong2 kaya kemarin :3

Ciao!

Regards, Skylar

25.12.2016