Awalnya Ninna seneng nulis chappy ini.

Tapi lama lama kok sedih ya...

Check This Out... Crusyal Memory

Chappy 4

Habis baca... Don't Forget To Review...Ok,!

3

2

1... Action... Happy Reading!

Kudo Widya-chan Edogawa: Terima kasih... Wah maaf kalau fic ini membuatmu bingung... Konfliknya di tunggu aja ya...

Sugar Princess71: Gpp kok, Ninna jga brharap Shinichi and Ran bisa menikah beneran... Syukurlah klau kmu suka,! So sweet, benarkah?

Peri Hitam: Syukurlah bsa bwt kmu senyam senyum gax kepalang,... Thank's atas kritikanya... Chappy ini bsa bkin kmu senyum senyum gak ya?

Kaito: Good Chapter? Thank you... Arrigato

Terima Kasih banyak atas Reviewnya,...

Entar Review lagi ya,!

Disclaimer: Only Aoyama Gosho Seorang

Pair: Shinichi x Ran... 4evER

Crusyal Memory

Chapter 4

Hari sudah pagi. Matahari sudah tinggi. Burung burung sudah berkicau. Namum pasangan suami istri muda ini masih terlelap di atas ranjang. Dengan posisi, Shinichi tidur sedikit telungkup dengan satu tangan memeluk Ran. Sedangkan Ran tidur biasa. Tubuh keduanya di tutupi selimut. Perlahan lahan Ran menggeliatkan tubuhnya sambil sedikit mengerang. Kemudian sedikit demi sedikit Ran membuka matanya. Begitu matanya terbuka, ia menoleh ke sampingnya. Ran hanya tersenyum mendapati suaminya masih tertidur lelap sembari memeluk dirinya. Lalu Ran meraih jam weker yang ada di meja di sebelah kirinya.

"Jam setengah 7..." gumam Ran melihat jam weker tersebut. Lalu ia kembalikan ke tempat semula. Perlahan lahan ia menyingkirkan tangan Shinichi yang memeluknya. Lalu mulai bangkit dari tempat tidur untuk mulai melakukan aktifitas paginya. Aktifitasnya yang pertama tentu saja membangunkan sang suami yang masih terlelap.

"Shinichi... Bangun Shin,... Ini sudah pagi..." kata Ran mengguncang guncangkan tubuh Shinichi. Namun Shinichi tidak terbangun ia hanya menggeliatkan tubuhnya. Wajar saja sih kalau Shinichi masih ingin tidur. Semalam ia sangat lelah karena memecahkan dua kasus sekaligus. Ran hanya menghela nafas pendek.

"Shinichi... Cepat bangun, ini sudah jam setengah tujuh lho..."

Melihat tidak ada reaksi apa apa dari Shinichi. Ran menjadi kesal. Terkadang Shinichi memang mirip ayahnya, susah sekali di bangunkan. Ran pun melangkah ke arah jendela. Kemudian ia membuka tirai jendela yang masih tertutup sehingga sinar matahari dapat masuk ke kamar mereka. Ia lalu duduk di sebelah Shinichi yang masih tertidur. Ran kembali mengguncang guncangkan tubuh Shinichi.

"Aku tahu, kau lelah karena semalam memecahkan dua kasus... Tapi kau harus bangun Shinichi..."

"Ralat Ran... Salah satu kasusnya masih belum terpecahkan..." kata Shinichi yang masih telungkup. Namun ia mendengarkan ucapan Ran sebelumnya.

" O... iya benar. Bukannya hari ini kau ada janji dengan Ins Megure untuk memecahkan kasus itu... Cepat Bangun Shinichi..." Seru Ran yang mulai mencubiti lengan Shinichi.

"Iya... Iya... aku bangun..." Jawab Shinichi keras. Lalu ia mulai duduk di atas tempat tidur dengan wajah masih mengantuk.

"Hi...hi...hi..." Ran hanya tertawa melihat wajah Shinichi. Lalu ia mengambilkan handuk untuk Shinichi.

"Cepat mandi sana..." suruh Ran sembari meletakkan handuk Shinichi di pundak suaminya.

Lalu Shinichi bangun dan melangkah ke kamar mandi.

"HOAHMMM..." Shinichi menguap lebar lalu membuka pintu kamar mandi. Sedangkan Ran ia mulai membersihkan tempat tidur mereka.

.

~~~NNNN~~~

.

Beberapa saat kemudian. Pintu kamar mandi kembali terbuka. Shinichi keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk di pinggangnya. Setelah keluar dari kamar mandi, Shinichi langsung membuka lemari pakaiannya. Wajah Ran langsung bersemu merah melihat Shinichi. Ran buru buru mengalihkan pandangannya. Walaupun Ran sudah sering melihat Shinichi seperti itu. Akan tetapi wajah Ran selalu merah jika melihatnya. Cepat cepat Ran membereskan tempat tidurnya. Lalu meraih handuk. Dan bergegas untuk masuk ke kamar mandi. Shinichi hanya mengerutkan dahi melihat Ran.

"Kenapa Ran... Aneh..." gumam Shinichi.

Begitu Ran keluar dari kamar mandi. Ia sudah tidak mendapati Shinichi berada di dalam kamar. Ran cepat cepat berganti baju lalu keluar dari kamar. Pertama ia mencari Shinichi ke seluruh ruangan. Ran tersenyum mendapati suaminya itu sudah rapi dan berada di ruang tengah sedang sibuk dengan laptop dan dokumen dokumen kasusnya. Setelah menemukan Shinichi. Ran langsung menuju dapur untuk melakukan aktifitasnya yang kedua yaitu membuatkan sarapan pagi. Yah... beginilah hari hari Ran dan Shinichi setelah menjadi pasangan suami istri kurang lebih selama 10 bulan. Hari hari mereka selama 10 bulan ini hanya di isi dengan kedamaian dan cinta. Walaupun terkadang pertengkaran kecil menjadi penghias rumah tangga mereka. Namun mereka tidak pernah bertengkar lama. Paling hanya bertengkar sebentar, lalu berbaikan kembali. Shinichi bekerja menjadi detektif. Sedangkan Ran, ia menjadi ibu rumah tangga biasa, namun kadang kadang Ran masih sering mengikuti karate.

Setelah menyajikan omelette dan roti bakar di meja makan. Ran segera memanggil Shinichi untuk sarapan bersama.

"Shinichi... Ayo sarapan..." panggil Ran keras.

Merasa tidak ada jawaban dari Shinichi. Akhirnya Ran menghampiri Shinichi ke ruang tengah. Ran hanya menggelengkan kepala melihat suaminya itu masih serius mengerjakan dokumen dokumen kasusnya.

"Shinichi..." panggil Ran. Duduk di sebelah Shinichi sembari merangkul pundak suaminya itu.

"Ran... Ada apa sayang..." tanya Shinichi lembut sambil menoleh ke arah Ran.

"Ayo... Sarapan..." ajak Ran

Shinichi pun segera mematikan laptopnya dan membereskan dokumen dokumennya lalu menuju ruang makan bersama Ran. Shinichi memeluk pinggang Ran mesra. Keduanya berjalan bersama sembari mengobrol dan sekali kali tertawa bersama. Untuk menunjukan kemesraan mereka. Sesampainya di meja makan Ran dan Shinichi mengambil kursi masing masing dan bersiap untuk sarapan.

"Shinichi... Kau mau roti bakar atau omelette?" tanya Ran.

"Roti saja..." Jawab Shinichi.

Ran pun segera mengambil kan dua buah roti lalu ia letakkan di piring Shinichi. Dan menyodorkannya ke hadapan Shinichi. Keduanya pun mulai sarapan bersama.

"Bagaimana Shinichi, enak tidak?" tanya Ran di sela sela sarapan mereka.

"Masakan buatan istriku itu, pasti selalu enak..." jawab Shinichi. Lalu tersenyum.

"Kau bisa saja... Shinchi." kata Ran. Keduanya pun melanjutkan sarapan dengan keheningan.

Beberapa saat kemudian...

"Ran, aku berangkat dulu ya..." kata Shinichi pamit.

"Shinichi, kau mau ke TKP yang semalam itu?" tanya Ran.

"Iya... Ran hati hati di rumah dan jangan biarkan orang asing masuk ke dalam rumah..." pesan Shinichi.

"Iya Shinichi... Kau juga hati hati ya..."

Shinichi pun mencium singkat kening Ran. Lalu memasuki mobil hitamnya. Mobil sport hitam milik Shinichi pun keluar dari pintu gerbang rumah mereka. Lalu Ran masuk dalam rumah dan mengunci pintu...

.

~~~NNNN~~~

.

Begitu Shinichi pergi. Ran melanjutkan aktifitasnya. Yaitu membersihkan rumah. Pertama ia mulai mencuci pakaian. Ran masuk ke kamarnya untuk mengambil pakaian kotor. Lalu segera memasukkannya ke mesin cuci. Sembari menunggu cucian. Ran mengerjakan pekerjaan lainnya. Menyapu lantai kemudian mengepel lantai. Tak lupa Ran juga membersihkan lantai dengan menggunakan penghisap debu. Selesai berurusan dengan lantai. Ran kembali mengecek cuciannya. Ternyata cuciannya sudah setengah kering. Ran tinggal menjemurnya di belakang rumah. Yah... beginilah aktifitas Ran selama Shinichi bekerja. Begitu melelahkan dan sangat membosankan. Akan tetapi Ran sangat menikmati tugasnya menjadi seoarang istri. Ketika Ran merasa lelah. Ia memutuskan untuk beristirahat dulu di ruang tengah. Kemudian menyalakan tv. Begitu tv menyala ternyata yang muncul adalah acara pacuan kuda. Melihat itu, Ran jadi teringat akan ayahnya.

"Pasti sekarang ayah sedang menonton acara pacuan kuda ini..." gumam Ran. Kemudian ia berpikir sejenak. Eh belum tentu... sekarang di rumah kan ada ibu. Pasti ibu melarang ayah menonoton acara pacuan kuda. Batin Ran.

Ran hanya tersenyum melihat kehidupannya sekarang. Ia sudah menikah dengan Shinichi dan hidup bahagia. Begitu juga dengan orang tuanya. Ayah dan ibu nya sudah tinggal bersama lagi. Walaupun keduanya masih suka bertengkar. Minggu lalu saja, ketika Ran dan Shinichi mampir ke kantor detektif Mouri. Mereka mendapati Kogoro dan Eri sedang adu mulut cukup sengit di kantor detektif. Gara gara itu Ran dan Shinichi merngurunkan niat mereka untuk berkunjung. Keduanya memilih pulang diam diam.

.

~~~NNNN~~~

.

" Ya ampun ... sudah jam setengah dua siang..." seru Ran kaget ketika ia melihat jam dinding. Pasti sekarang Shinichi sudah berhasil memecahkan kasusnya dan sebentar lagi dia akan pulang. Pikir Ran

"Aku harus segera menyiapkan makan siang..." gumam Ran. Lalu bangkit dari sofa. Ran pun berjalan menuju dapur. Lalu ia membuka kulkas. Untuk mengecek persediaan bahan makanan. Namun ketika Ran membuka kulkas yang ada di dalam kulkas hanyalah sebotol air dingin. O... iya semalam kan aku belum belanja. Ingat Ran

"Aku harus pergi belanja..." Setelah mengambil beberapa uang. Ran keluar dari rumah untuk pergi berbelanja ke supermarket yang letaknya tiga blok dari rumahnya.

Setelah berjalan cukup jauh. Akhirnya Ran sampai juga di jalan raya. Hanya tinggal menyeberang saja Ran sudah sampai di Supermarket. Begitu lampu hijau menyala. Ran bergegas menyeberang dengah hati hati. Namun tanpa di sadari Ran. Ada sebuah truk yang melaju kencang dan ugal ugalan datang ke arahnya.

"KYAAA..."

BLAAARRR...

.

~~~NNNN~~~

.

"Suara apa itu..." Yumi yang sedang berpatroli di daerah situ pun terkejut mendengar suara yang sangat keras.

"Ada kecelakaan... Ada kecelakaan..." kata orang orang heboh.

"Ada kecelakaan." Gumam Yumi. Yumi pun langsung turun dari mobil patroli dan mengikuti orang orang yang menghampiri korban kecelakaan itu.

"Permisi...Permisi..." Yumi menerobos orang orang yang mengelilingi korban kecelakaan itu.

"Astagaaa... RANNN..." Seru Yumi. Melihat Ran tergelatak tak sadarkan diri di jalan dengan berlumuran darah di tubuhnya. Darah keluar dari kepala bagian belakangnya. Sebagian muka dan sekujur tangan Ran pun penuh dengan darah. Uang yang di pegang Ran pun jatuh berceceran.

Yumi pun langsung berlutut mendekati Ran. Untuk memeriksa keadaan Ran.

"Ada apa ini... Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Yumi.

"Kak... Yumi ada apa?" tanya rekan Yumi yang mengikuti dari belakang Yumi.

"Astagaaa... Dia kan Ran Kudo, istrinya Shinichi Kudo." Kata Polwan itu kaget melihat Ran berlumuran darah. "Apa yang terjadi?" tanyanya.

"Tadi kakak ini menyeberang... Tiba tiba ada Truk yang menabraknya... Truk itu ngebut sekali..." Jelas seorang anak perempuan yang ada di sekitar situ.

"Lalu di mana Truk itu sekarang?" tanya Yumi.

"Truk itu melarikan diri setelah menabrak gadis ini..." Jelas seorang ibu ibu.

"Apa...?"

"Mike... cepat telpon ambulance.!" Suruh Yumi pada rekannya.

Polwan yang bernama Mike itu langsung mengambil Hp dan menelpon ambulane.

"Tolong kirim ambulance sekarang, di sini terjadi kecelakaan... Di blok 5 Beika...Baik..." Polwan itu langsung menutup hp nya. "Kak Yumi, sebentar lagi ambulance datang..." kata Mike pada Yumi.

Ui... Ui... Ui... Beberapa saat kemudian terdengar suara sirene ambulance datang mendekat. Orang orang yang berkerumunan di sekitar situ pun mulai menyingkir untuk memberi jalan pada ambulance.

Ran pun diangkut ke dalam ambulance Yumi pun ikut bersama ambulance.

"Mike... Tolong kau beritahu Shinichi Kudo kalau istrinya mengalami kecelakaan. Kalau tidak salah sekarang Shinichi Kudo sedang memecahkan kasus bersama Ins. Megure. Di taman dekat sini. Suruh dia langsung ke Rumah Sakit Beika Pusat..." kata Yumi sebelum ambulance berangkat.

"Baik..." Mike pun langsung melaksanakan apa yang di perintahkan Yumi. Ambulance pun berangkat menuju Rumah Sakit.

.

~~~NNNN~~~

.

'Deg' Shinichi yang sedang berusaha memecahkan kasus di TKP. Tiba tiba merasa dadanya sesak. Ia merasa nafasnya sulit keluar. Tiba tiba bayangan wajah istrinya muncul dalam benak Shinichi. Ran... Kenapa tiba tiba perasaanku tidak enak. Batin Shinichi.

"Bagaimana Shinichi? Kau sudah tahu pelaku sebenarnya dari ketiga tersangka itu?" tanya Ins. Megure tiba tiba.

"Shinichi..." panggil Ins Megure lagi. Karena Shinichi tidak menyahut.

"Eh...Iya, Inspektur, ada apa?"

"Kau sudah tahu pelaku sebenarnya?"

"Oh... Itu. Sepertinya pelakunya adalah laki laki bernama Fujimoto itu Inspektur..."

"Kenapa?"

"Karena hanya laki laki itu saja yang alibinya sulit di pastikan..."

"Benar Inspektur..." kata Takagi yang berdiri di sebelah . "Menurut Fujimoto, semalam sekitar pukul 9 sampai 10 malam. Ia sudah berada di rumah dan tidak keluar rumah lagi. Akan tetapi tadi kami menghubungi rumahnya. Adik Fujimoto bilang bahwa Fujimoto baru pulang pukul 3 pagi..." Kata Takagi sembari membaca catatan polisinya.

"Hmm... " Ins Megure tampak sedang berpikir.

"Shinichi Kudo..."

Shinichi yang merasa di panggil pun menoleh. Begitu juga dengan orang orang yang ada di situ. Tampak polwan yang bernama Mike tengah berlari ke arah Shinichi.

"Mike... ada apa?" tanya Chiba. Mike berusaha mengatur nafasnya yang terengah engah.

"Shinichi Kudo. Istrimu mengalami kecelakaan, saat ini ia sudah di bawa ke Rumah Sakit bersama Kak Yumi."

"APAAA... KECELAKAAN?" Shinichi sangat terkejut mendengar berita ini. Ins Megure, Takagi dan Chiba pun ikut terkejut.

"Iya... sepertinya saat Ran sedang menyeberang. Ia di tabrak oleh sebuah truk... Saat ini ia di bawa ke Rumah Sakit Beika Pusat."

Shinichi langsung berlari ke arah mobilnya. Mobil Shinichi melaju kencang menuju Rumah Sakit Beika Pusat. Yah... Suami mana yang tidak cemas mendengar bahwa istri yang di cintai mengalami kecelakaan. Apalagi sebelumnya perasaan Shinichi sudah tidak enak. RAN... Batin Shinichi. Shinichi pun menyetir semakin cepat.

.

~~~NNNN~~~

.

Sesampainya di rumah sakit. Shinichi langsung bertanya ke bagian informasi. Lalu ia menuju ke UGD. Tampak Yumi sedang berdiri di depan ruang UGD.

"Kak Yumi..." panggil Shinichi.

"Shinichi..."

"Kak Yumi... Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Ran bisa mengalami kecelakaan..." tanya Shinichi cemas dan khawatir.

Yumi pun menjelaskan apa yang terjadi pada Shinichi.

"Lalu bagaiman keaadaan Ran sekarang?"

" Aku belum tahu, dokter masih memeriksanya."

"SIAALLL..." kata Shinichi mengepalkan tangannya dan membenturkan tangannya di dinding. Ia sangat terpukul dengan kejadian ini. Saat ini Shinichi hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Istrinya.

"Kak Yumi... siapa yang sudah menabrak Ran?" tanya Shinichi.

"Menurut orang orang sekitar... Ran di tabrak sebuah truk. Namun truk itu pergi melarikan diri..."

"Apaaaa..." Shinichi benar benar geram mendengar sang pelaku melarikan diri.

"Shinichi..."

Shinichi langsung menoleh. Tampak Kogoro dan Eri berlarian menghampirinya.

"Kenapa ayah dan ibu bisa..."

"Aku yang menghubungi Tuan Kogoro..." sela Yumi.

Shinichi mengangguk mengerti. Namun Shinichi juga kaget, melihat bukan hanya Kogoro dan Eri saja yang meghampirinya. Ada juga Yusaku dan Yukiko. Yang seharusnya berada di Amerika.

~~~NNNN~~~

"Hei Bocah... Apa yang sebenarnya terjadi..." tanya Kogoro pada Shinichi. Sebelum Shinichi menjawab. Yumi kembali menjelaskan semuanya.

Kogoro, Eri, Yukiko dan Yusaku terkejut mendengar semua itu. Mereka lebih kaget lagi mendengar sang pelaku melarikan diri. Eri dan Yukiko tidak mampu lagi menahan air mata mereka untuk keluar.

"Kenapa ayah dan ibu bisa ada disini?" tanya Shinichi pada Yusaku dan Yukiko.

"Kemarin ayahmu ada pertemuan di Hokaido. Setelah pertemuan itu. Kami mampir ke Tokyo. Waktu kami ke tempat Kogoro. Tiba tiba Kogoro mendapat telpon dari seorang polwan. Yang mengatakan kalau Ran-chan mengalami kecelakaan..." Jelas Yukiko menahan isak tangisnya.

"Yang menelpon tadi adalah aku... Karena semuanya sudah di sini... Aku permisi dulu..." kata Yumi.

"Kak Yumi...Bisakah tolong selidiki siapa pelaku yang sudah menabrak Ran..." pinta Shinichi.

"Iya Shinichi... Pasti kami akan menyelidikinya" kata Yumi. Lalu meninggalkan rumah sakit.

.

~~~NNNN~~~

.

"Yumi, apa yang terjadi..." tanya Miwako begitu Yumi sampai di lokasi yang di tinggalkan Shinichi tadi.

Yumi pun menceritakan semuanya pada sahabatnya itu.

"Kasihan... Ran" gumam Miwako.

"Lalu bagaimana keadaan Ran?" tanya Takagi.

"Aku belum tahu... Waktu aku meninggalkan Rumah Sakit, dokter belum selesai memeriksanya."

"Inspektur... Shinichi meminta agar kita menyelidiki siapa yang telah menabrak Ran..." kata Yumi pada Inspektur Megure.

Ins. Megure hanya mengangguk. "Takagi, Chiba... Periksa TKP tempat Ran kecelakaan. Interogasi semua orang yang ada di sekitar situ. Dan cek semua truk yang ada di Beika..." perintah Ins. Megure.

"Siap..." Takagi dan Chiba pun segera meluncur ke tempat kejadian.

~~~NNNN~~~

T...B...C