Is That True? Really?

.

BL

.

Jimin x Yoongi

Bts all mem,

.

.

.

Wajah Yoongi mendekat, mata Jimin seketika menjadi berat dan menutup perlahan.

"Jika kau ingin aku menerimamu maka buatlah aku jatuh padamu!"

.

.

.

Semua member tampak bahagia keluar dari kamar hotel setalah istirahat dari perjalanan yang melelahkan kemarin. Termasuk Yoongi, ia sangat bersyukur karna Jimin yang tertidur pulas dan tidak mengganggunya. Yoongi tau memang kalau tidurnya Jimin sangat tenang sama sepertinya, tapi bisa saja kan kalau ia bangun dan melakukan hal yang tidak-tidak.

Mereka melakukan pemotretan dan merekam segala bentuk aktivitas yang dijalani. Berjemur berenang dan bermain kali ini benar-benar menjadi liburan bagi mereka, pemotretan pun terlalu mudah untuk dijalani.

Ditengah-tengah bermainnya Jin, Jimin, Jungkook dan Taehyung sedang berdiskusi tentang siapa yang akan diangkat keair dari acara berjemurnya. Mereka memiliki dua orang yang harus dipilih salah satu siapa yang akan lebih dulu diterjunkan. Kedua orang itu adalah Yoongi dan Namjoon,

"Mari menceburkan Rapmon-hyung dan Suga-hyung yang sedang bersantai, kedalam air." Seru Jimin,

"Suga-hyung, Suga-hyung, Suga-hyung." mereka saling berseru saat sudah menentukan target pertama.

Jimin berjalan lebih dulu dari yang lain sambil berkata,

"Ahh, celanaku basah kuyup." Untuk mengalihkan suasana, yang lain kembali bergerak cepat. Jimin mengangkat bagian atas sedangkan yang lain mengangkat bagian bawah tubuh Yoongi dan memasukkannya kedalam air kemudian tersenyum puas setelahnya.

Target selanjutnya sudah meluncur kedalam air demi menghindar akan orang yang akan menggendongnya paksa. Tidak lama setelah terceburnya kedua orang tadi mereka kembali melakukan pemotretan bersama. Saling berdempetan dan beruntungnya Jimin karna Yoongi mundur kearah ia berdiri. Dengan cepat Jimin merangkul Yoongi, sementara yang dirangkul tidak akan masalah karna ini tututan kerja.

.

.

.

Puas bermain dan beristirahal member memutuskan kembali kehotel penginapan, dan lagi-lagi dari semua yang telah bangun dari istirahatnya Yoongi lah yang masih asik dalam menjelajah alam mimpinya.

Keputusan kembali dibuat dengan senang hati Jimin menunggu sang pujaan hati bangun dari tidurnya. Yang lain meninggalkan Jimin seorang diri sebelum,

"Jangan kau apa-apai, hyungku." Jungkook,

"Jika ia berdecik sebal saat kembali kehotel, kau orang pertama yang kucurigai!" Hoseok,

"YA! Jangan mesum, atau kau kudoakan tambah bantet sebantet-bantetnya kau akan menjadi paling bantet diantara orang-orang bantet lainnya." Taehyung, Jimin hanya melayangkan tinjuan keudara membalas Tae,

"Jim, jangan macam-macam dengan orang tidur. Kau akan disebut pelecehan!" seru Namjoon sambil bersama Jin disampingnya,

"Baiklah, ada apa dengan kalian semua. Memang aku melakukan apa?" Jimin mengayunkan tangannya setelahnya menyuruh yang lain agar yang lain cepat pergi meninggalkannya. Dan pada akhirnya Jimin tersenyum bahagia saat semua sudah kembali.

Jimin kembali menjalankan aksinya ia beralih duduk disamping bangku yang berada disamping Yoongi tidur. Wajah damai dengan manis dan cantik dalam waktu yang bersamaan dalam sekejap dapat menenangkan jiwa Jimin. Jimin takjub dengan wajah yang dapat meluluhkannya itu.

Dulu sebelum ia tidak seberani sekarang dalam mendekati Yoongi, Jimin selalu menurut tentang apa yang dikehendaki namja pucat itu. Entah apa yang membuatnya seperti itu, hanya dengan melihat wajahnya yang memohon Jimin tidak dapat menolak bahkan dengan gumaman malas.

Ia yakin, ia merasakan, bahwa seorang Min Yoongi memang sangat cuek pada yang lain atau pun dirinya namun ia memiliki sisi perhatian. Seolah-olah menyalurkan kasih sayang dengan cara lain, dengan caranya sendiri. Ini lah yang membuat Jimin luluh dan jatuh serta berkeinginan melindungi tubuh yang lebih kurus darinya itu.

Matanya tidak berhenti memandangi Yoongi, sampai terdengar,

"Eenngghh." Jimin tersenyum lebar, hyung manisnya telah mengeluarkan tanda-tanda akan bangun.

"Sudah bangun, hyung?"

"Emh, mana yang lain?" Yoongi bertanya saat ia membuka matanya hanya menemukan Jimin berbaring menyamping memandanginya.

"Sudah kembali." Sahut Jimin beranjak dari berbaringnya untuk duduk dihadapan Yoongi,

"Kenapa tidak membangunkanku?" ikut beranjak duduk dihadapan Jimin sambil mengucek matanya.

"Tidak ada yang berani membangunkan beruang betina tidur, semua tau itu." Dengan nada mengejek dan kekehan lembut keluar dari mulut Jimin.

"Ckh!" Yoongi berdiri dan berjalan meninggalkan Jimin yang kebingungan,

"Kemana, hyung?"

"Pulang kekorea, jelas kepenginapan. Kau bodoh atau apa?"

"Ahh."

Jimin tersenyum miring lalu melesat cepat mengimbangi kaki Yoongi berjalan. Entah dapat ide dari mana Jimin ingin menggoda Yoongi dengan menyenggol tubuh Yoongi dengan pinggangnya, dan bagusnya mereka berada ditepi kolam tadi,

Byuuerrrr….

"Ahh, hyung-ku. Hyung manisku kenapa kau begitu ceroboh. Ooh tidak hyung cantikku akan tenggelam, hyuuuuung" Jimin mundur beberapa langkah lalu kembali berlari dan melompat keair.

"YAK! BARU SAJA AKU KER—"

Byuuerrrr….

Setelah jatuh keair seakan drama yang diperlambat Jimin berjalan menghampiri Yoongi dengan gerakan minta dibunuh. Yoongi melotot, apaan sudah menyenggol bilang ceroboh sekarang macem kura-kura kehilangan istri pikir Yoongi.

"Hyuung!" Jimin mendekat lalu menunduk meraih pinggang Yoongi dan mengangkatnya membuat mata Yoongi semakin melebar.

Hei, ini tidak dalam dan Yoongi tidak akan tenggelam kenapa sibantet ini melakukan hal berlebihan atau_ dibuat-buat? Dan sialnya Yoongi berdebar, wajahnya bersemu merah. Bagaimana tidak wajahnya berada diatas wajah Jimin sekarang, belum lagi tangan yang melingkat dileher serta pinggang Jimin yang dilingkari kakinya sendiri.

"Ya! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Jimin menggeleng dengan cengiran yang hampir menyobek kedua sudut bibirnya? Oke itu berlebihan!

"Hyung, aku menyukaimu_"

"_tidak aku mencintaimu!" Yoongi tidak ingin tau bagaimana kondisi wajahnya kini, wajah menganganya dengan pipi yang merona padam. Ia juga belum bisa mengartikan arti ucapan Jimin tadi, Yoongi baru bangun jatuh keair lalu mendengar kata-kata singkat namun dapat berbahaya atau membahagiakan dalam sekejap. Apa Yoongi bermimpi?

"Aku kira kau menyukai Jungkook!"

Ucapan polos yang tidak sengaja terlontar sungguh Yoongi tidak berniat mengatakan itu. Jimin terkekeh, membuat Yoongi malu besar ingin ia memeluk leher Jimin dan menyembunyikan wajahnya dibahu itu. Namun hanya dapat menahannya jika saja Yoongi melakukannya yang ia dapati bukan bahu melainkan wajah Jimin.

"Jungkook menyukaimu, dan aku hanya menganggapnya sebagai adik. Kau cemburu?"

"Hah? Bagaimana bisa?" Yoongi melupakan perkataan lain dan penasaran tentang Jungkook yang disebut Jimin tadi.

"Aku tidak akan membahas itu sekarang. Aku hanya ingin mendengar jawabanmu yang tadi pengakuan dan permintaan kau tau sendiri artinya bukan? Dan, akutidakmenerimapenolakan!"

"HAH! Kau gila? Turunkan aku!" Jimin menurunkan Yoongi tapi hanya sedikit bergeser dari tempat awal membuatnya semakin dekat pada wajah Jimin.

"Aku tidak akan menurunkanmu, sampai kau memberiku jawaban." Lagi Jimin menurunkan Yoongi sedikit, demi sedikit agar wajah Yoongi lebih dekat dengan wajahnya.

"Okay! Paling tidak beri aku waktu untuk berpikir! Jim, JIM, JIIM, JIIIM!" teriakan tadi kalian tau sendiri karna apa.

Jimin tersenyum dan menurunkan tubuh Yoongi, tangan mereka belum beralih dari tempat awal. Dimana tangan Yoongi bertengger dibahu Jimin sedangkan tangan Jimin dipinggang Yoongi. Yoongi mencoba menetralkan kecanggungannya.

"Jim?" tatapan sayu itu menatap lembut kearah manik Jimin, membuat Jimin luluh dan keluar dari sifat mesumnya. Tangan Yoongi tidak diam dan mengelus halus tengkuk Jimin. Yoongi tersenyum lembut sangat lembut, dan Jimin membalas dengan hal yang sama.

Wajah Yoongi mendekat, mata Jimin seketika menjadi berat dan menutup perlahan.

"Jika kau ingin aku menerimamu maka buatlah aku jatuh padamu!" Jimin mendengarnya, tersirat kejujuran dalam ucapan itu. Selepasnya Jimin merasakan terpaan hangat nafas teratur Yoongi membelai kulit wajahnya, membuat ia semakin tidak ingin membuka mata.

"Dan_" mengucapkan tepat didepan kedua belah bibir Jimin,

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

/BUGH/

"AKKHHG."

"JANGAN PERNAH MELAKUKAN HAL-HAL ANEH SEPERTI TADI, BYUNTAE-YA!" Yoongi beranjak pergi meninggalkan Jimin yang kesakitan.

Yang terjadi sebelumnya? Setelah mengatakan 'Dan_' yang belum pasti tadi, Yoongi membuka mata dan tersenyum jahat lalu mengayunkan lututnya dengan keras ke 'Masa depan Jimin.' Ternyata kegunaan tangan yang bertengger tadi hanya untuk menahan kepala Jimin.

"Yak! Hyung_akh. Kenapa_kaumelakukannyaHAH! Bagaimana bisa aku menggagahimu malam ini jika begini jadinya? Aiiissh! Sial ini sangat sakit."

"IN-

-YOUR-

-DREAM!" teriak Yoongi tanpa memalingkah wajahnya.

.

.

.

Jimin datang tertatih memegangi area bawahnya, ia datang sesudah Yoongi selesai mandi. Yoongi yang sedang memainkan ponselnya disofa teralihkan dengan melihat Jimin yang terlihat kesakitan. Ia mengulum tawa sampai tawa itu meledak saking merasa lucunya,

"Apa yang kau tertawakan? Ini sakit, serius!" Yoongi kembali mengulum tawanya, dan memalingkan kepala kembali fokus pada ponsel digenggamannya.

Setelah ditertawakan tadi, Jimin berlalu kekamar mandi saat ia keluar Jimin sudah menemukan Yoongi yang tertidur diatas ranjangnya. Ia menghembus nafas panjang, Jimin sedang berpikir tentang pengakuannya tadi, apa Yoongi menganggapnya serius?

Tidak ingin ia merasa penasaran berkepanjangan Jimin berencana membangunkan Yoongi. Ia tidak peduli apa reaksi Yoongi nanti, Jimin hanya ingin mengatakan bahwa ia sungguh-sungguh akan hal itu.

Memulai dengan mengguncang halus tubuh Yoongi, kemudian memanggil-manggil hyung manisnya itu,

"Hyung, bisa kau bangun sebentar saja? Hyuuuuung!" Yoongi terbangun namun malas untuk duduk, ia hanya menggumankan hal yang tidak jelas ditelinga Jimin. "Sebentar saja hyung, ayolah!." Lanjutnya lagi.

"Ahh, Jiiim. Biarkan aku tidur, besok saja. Aku lelah."

"Jika kau tidak bangun jangan salahkan aku kalau, wajahmu basah karna dihujani oleh bibirku!" mendengar itu Yoongi dengan cepat bangun dan duduk tegak ditepian ranjang, matanya menemukan Jimin dengan berjongkok dihadapannya.

"Aku bangun, ini bangun, aku sudah bangun. Apa? Ada apa? Dimana? Kapan? Siapa? Mengapa? Bagaimana?"

"Oke, aku tau! Bisakah kau diam, aku juga ingin bicara!" Yoongi? Ia menguap, menggaruk kepala serta mengangguk mengiyakan.

"Soal yang tadi, hyung—"

"Apa soal itu? Apa dia baik-baik saja? Kau ingin menuntutku?" dengan polosnya Yoongi memotong ucapan Jimin belum lagi kepalanya yang menunduk kearea bawah Jimin.

"Aiihhss, hyung! Dengarkan aku bisa?"

"Okay!"

"Tentang pengakuan tadi, hyung. Itu lo aanu, aku serius. Kau benar-benar memikirkannyakan?" Yoongi terdiam untuk sesaat,

"Hmm, menurutmu? Kau seharusnya mendengarkan ucapanku, jangan hanya bergelut dengan pikiran mesummu!"

"Tunggu sebentar,—apa tentang 'aku harus membuatmu jatuh padaku?' apa itu?"

"Mungkin, dan ada satu lagi."

"Aku tau, hyung. Aku tidak akan mesum sebelum memilikimu." Yoongi mengangguk, "Baiklah, itu hal mudah. Karna kau sudah jatuh dalam pesonaku." Sambil mengedipkan mata sebelah serta mengusap rambutnya kebelakang.

"What the f(lower)?" Jimin terkekeh dan membiarkan Yoongi kembali tidur.

.

.

.

Hari selanjutnya dimulai, semua berdandan layaknya anak kecil tersesat dikebun binatang. Saat melakukan pemotretan bersama ular Yoongi dipasangkan dengan Jimin. Saat malamnya mereka makan malam bersama, dan menunjukkan isi koper setelahnya.

Saat kamera masuk kedalam kamar Jimin dan Yoongi, mereka memamerkan barang-barang masing-masing. Keduanya sama-sama tidak membawa banyak bawaan, karna itu keduanya malas membawa koper.

Acara menunjukkan barang selesai, kini beralih dengan mengisi jurnal bergambar. Awalnya Jimin menulis dengan Taehyung, namun saat Tae telah menyelesaikan jurnalnya, Yoongi datang menggantikannya. Jimin melirik sebentar dan tersenyum setelahnya mereka juga berbincang sebentar sambil mengisi jurnal didepan masing-masing.

Yoongi menyelesaikan jurnalnya dengan cepat, sedangkan Jimin masih sibuk dengan menggambar dan menulisnya. Beberapa saat kemudian Jimin akhirnya selesai, ia lihat jurnal milik Yoongi tadi. Yoongi menggambar dirinya dengan Jimin sedang menggendong ular tadi siang.

Seulas senyuman lembut menghiasi wajah tampan Jimin, melihat gambaran suga itu membuatnya sedikit bahagia.

.

.

.

Sekembalinya keduanya kekamar, Jimin menggeliat tak karuan diatas ranjangnya. Melihat itu Yoongi tidak memperdulikan, dan tetap fokus pada ponselnya,

"Hyung? Yoongi, hyung? Hyuungiie? Aissht, hyuung!"

"HYUNG!"

"Ada apa? Tidak bisakah kau diam?"

"Hyung, kau benar-benar memikirkannya atau tidak? Kenapa santai sekali?"

"Kau tidak mempercayaiku? Lalu aku harus apa? Menempel padamu? Mengganggumu? Bicara sebelum aku menentukannya? Menggeliat tak karuan sepertimu? Atau panas dingin dan malu-malu singa, seperti anak gadis baru ditembak?"

"Ckh, lupakan hyung. Lu-pa-kan." Setelah mengatakan itu Jimin membenarkan posisinya lalu berlimbun dibawah selimutnya. Yoongi terkekeh pelan melihat reaksi Jimin tadi.

.

.

.

Keesokan harinya, mereka kembali melakukan pemotretan, tepatnya dipulau Manukan. Jimin masih kesal dengan Yoongi. Tapi gara-gara tampilan Yoongi yang terlihat sangat manis membuatnya menahan diri untuk tidak menggoda hyung manisnya itu.

Diluar dugaan setiap pemotretan bersama, Yoongi selalu berada didekat Jimin, belum lagi ia juga yang paling banyak merangkul yang lebih muda. Jimin sih nyaman-nyaman saja, namun acara kesalnya kan jadi hancur.

Bohong jika yang dirangkul tidak bahagia Jimin semakin mengambang senyuman saat itu. Jarang-jarang bukan Yoongi berperilaku seperti ini? Pikirnya.

Sorenya pemotretan menggunakan tema 'a summer sunset' kebanyakan dilakukan balkon suite room tersebut, agar dapat melihat sunset. Setelah selesai yang lain beranjak kedalam, sedangkan Yoongi masih tinggal dibalkon.

Jimin yang tadinya ingin ikut masuk kembali, ingin menemani Yoongi ceritanya. Jimin menyandarkan tubuhnya pada pagar. Yoongi merasa terganggu karna Jimin dihadapannya menghalangi pemandangannya.

"Ya! Duduklah disini jangan menghalangi pandanganku. Lihatlah sunsetnya sangat indah, kau tidak ingin melihatnya?" protes Yoongi sambil menepuk bangku disebelahnya.

"Ada yang lebih indah dari itu, hyung. Aku sedang memandanginya sekarang." Sambil memiringkan kepala dan tersenyum memandangi Yoongi.

"Kau sedang menggodaku, rayuan tidak akan mempan agar aku jatuh pada orang camkan itu. Cepatlah duduk disini!" Yoongi kembali kesal, tangannya tidak hentinya menepuk bangku disebelahnya.

"Hmm, kau sangat ingin aku duduk disampingmu rupanya." Jimin melangkah mendekat, ia dorong bangku tadi agar lebih dekat dengan Yoongi, dan duduk disebelahnya.

"Aku serius hyung, ada yang lebih indah dari. Aku tidak sedang merayumu!" seru Jimin setelah duduk.

"Ya ya ya, terserahmu." Jimin hanya terkekeh membelasnya.

Keduanya terdiam untuk waktu yang lama, Jimin dengan senyum lembutnya, dan Yoongi dengan dengkuran halusnya. Jimin menyadari Yoongi yang tertidur menunduk langsung mengalihkan pandangnnya kesamping. Melihat Yoongi yang tertidur adalah hal yang menyenangkan baginya.

Tidak lama memandanginya, Jimin mendekatkan wajahnya kebahu Yoongi. Jimin tidak menyadari ini entah kenapa ia mencium lekat-lekat bahu Yoongi. Menghirup kuat aroma khas yang dikeluarkan dari Yoongi, membuatnya semakin nyaman disamping namja cantik itu. Diraih Jimin kepalanya agar menyandar dibahunya. Lalu kembali memandang kedepan.

Ponsel Jimin bergetar ada pesan masuk, lantas ia cepat membukanya. Ternyata dari grup chat 'NamJin' aneh rasa karna ia belum dikeluarkan. Jimin mekira isinya hanya Namjoon yang sedang merayu Jin seperti biasa, ternyata tidak sebuah foto yang dikirimkan Jin didalamnya.

Jimin dan Yoongi tidak menyadari bahwa dari tadi Jin dan Namjoon sedang memerhatikan mereka berdua. Namjoon yang tidak mau kalah ikut merangkul Jin disampingnya, sedangkan Jin sedang asik memotret momen indah didepannya.

Tersenyum, itu yang dilakukan Jimin saat memandangi fotonya, foto bersama Yoongi yang bersandar dibahunya dan sunset yang memperindah foto tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih, Jimin menjadikan foto tadi sebagai lockscreen diponselnya.

.

.

.

Selama dua hari kedepan para member diberi waktu bebas, dan sayangnya Jimin sakit dihari-hari menyenangkan itu. Entah dapet angin dari mana Yoongi merasa iba dan memilih tinggal menemani Jimin dari pada ikut mencari tempat-tempat menyenangkan lain dikotakinabalu.

Karna tidurnya yang lama Jimin tidak menyadari bahwa Yoongi duduk disampingnya menunggu Jimin bagun. Saat hari sudah siang Jimin baru bangun, Yoongi berdiri dan meletakkan tangannya pada dahi Jimin.

"Ahh, demammu belum turun. Aku akan meminta staff, memanggilkan dokter kesini." Samar-samar Jimin dengar, saat tubuh Yoongi ingin menjauh ia mengangkat tangan untuk meraih tangan Yoongi.

"Hyung, jangan kemana-mana. Temani aku, emh? Kita bisa pergi bersama saat aku sudah sudah baikan nanti." Yoongi tersenyum dan kembali duduk.

"Kau tau, aku tidak kemanapun. Ini sudah siang, yang lain sudah berangkat tadi pagi."

"Benarkah? Ahh, baguslah. Hyuung, kepala chimchim sakit."

Yoongi memutar bola matanya, bagaimana manusia berotot ini bisa bertingkah seperti anak 5 tahun saat sakit, pikirnya. Tidak ingin Jimin kecewa, Yoongi menopang dagunya dengan tangan diatas ranjang sedangkan tangan yang bebas memijat lembut dahi Jimin. Jimin tersenyum penuh kemenangan mendapat perlakuan lembut dari Yoongi.

Beberapa saat kemudian,

"Hyuuung?"

"Hhmm?"

"Ciiiuum!"

"YAK!"

..

..

..

Bersambung.

Dulu aku adalah manusia yang selalu menangih akan vote/review/komentar. Namun kini aku sadar, sadar akan "sebagus apa memang ffku sehingga sangat menuntut seseorang untuk memberikan salah satu dari ketiganya?" Jika kau tidak memberi vote/review/komentar aku iklas kau bisa mendoakan ku menjadi lebih baik sebagai gantinya, agar aku memberi bacaan yg lebih baik untukmu. Aku tidak memaksamu lagi hanya saja jangan protes akan jalan cerita yang kubuat. Aku memang pemula, bukan seorang yang menulis bertahun-tahun lamanya, aku baru memulai tahun ini. Aku memiliki segunung kekurangan, typo yang tak ada habisnya dan banyak kesalahan-kesalahan lain. Aku sangat menerima komentar membangun ataupun tentang kesalahanku, tapi aku tidak ingin menjadi lemah hanya karna seorang yang merasa kesal akan jalan cerita tadi.

Udah update lama, jam sekolah bertambah, malas ngetiknya nambah juga, ditambah culcol gak jelas lagi. Maafkeun daku yang belum dewasa ini.

Buat;

| shuu-ie: senengkan udah kissue2an, inget rate beb nc? Nanti2 aja yeth love yaa! | pinkerbell97: biarkan sibantet berkembang, udah lanjut yeth | minyoonlovers: bilik itu kamar kan yah? oke deh udah lanjut | candytopuppy: sama daku juga suka+greget kalo sibantet mesumin yungi | kamong jjong: yes, good! Biarkan byuntae lebih byuntae sebyuntae-byuntaenya. | an.2794: gantung? Biar pada penasaran kan yah, udah next yah | restikadwii07:dinikmatin aje yak keun. |mr yoon: kita semua disini tau kalau sichim gak bisa control kemesumannya bhak. Kasian tapi suka? Bagus, makasih semangatnya chuchuchu~~ | xieayuweliu: pengalaman kali siemak bhak | binniehwan: kawinin please, please kawinin kumooohoon kawiniin mereka! Makasih semangatnya, chuchuchu~~ | siscamistalove: -kehabisan kata2- mixxkmbb: udah dilanjoot nih, mesumnya gak bakal ketinggalan kuyy | a y p: udah yeth, makasih semangatnya chuchuchu~~ | dd: pencerahan? Makasih sarannya, itu sengaja sih sebenarnya. Tapi kalo gak nyaman, namti bakal daku perbaiki dich2 lain yookeeh! Makasih semngatnya chuchuchu~~ ini udah lanjt yah, iya nih daku sibuk sekolah, jam sekolah nambah tapi untung kita punya hari sabtu yang bebas, sebisanya nyempetin buat kok. Err,malah curcol. Makasih sekali lagi |

Selamat menjalani aktifitas, see you…