Luxiana, nama calon pengantin wanitanya yang sudah di jodohkan kedua orang tuanya sejak lama. Namun, Sehun tidak pernah tahu bagaimana rupa dan paras wanita itu.
Karena Ia selalu menolak untuk melihatnya, begitu pula Luxiana yang tidak pernah tahu bagaimana sosok Sehun yang akan menjadi calon suami masa depannya.
Mereka sama-sama menolak untuk mengenal, dan Sehun rasa mungkin Luxiana juga tidak menginginkan pernikahan ini.
Tapi, bagaimana jika mereka sudah saling bertemu nanti? Akankah pemikiran itu berubah?
Dan, Bagaimana dengan perasaan hangat yang Sehun rasakan untuk pertama kalinya ketika Luhan memberikannya sebuah senyuman mempesona? Apa Ia harus melupakan itu dan mulai belajar mengenal calon istri yang di jodohkan dengannya?
Lelaki itu menarik napas dan membuangnya secara perlahan, dengan keputusan finalnya Sehun menjawab, "Baiklah, Appa. Ku rasa ini sudah waktunya aku dan Luxiana bertemu," ucap Sehun dengan mata menerawang bimbang pada pemikirannya sendiri.
..
..
.
.
.
.
.
" A Lot Like Love "
.
.
.
By BaekbeeLu Present
Main Cast : Sehun and Luhan
Other Cast : Find it by yourself
.
T + / M
Multichapter
.
AU. Romance. Drama . Fluffy .
Genderswith. Typo(s) . DLDR!
Happy Reading !
.
CHAPTER 3
..
Selamat pagi cantik.
Matahari pagi bersinar lembut dalam cuaca langit yang berawan, semilir angin musim semi yang hangat membawa serta kicauan para burung kecil yang bertengger manis di ranting pohon itu.
Luhan terbangun ketika sinar matahari itu menyapa wajah cantiknya, membuat matanya bergerak perlahan hingga terbuka sayu. Wanita itu mendesah malas dan menguap kecil. Ia bangkit dan menyibak selimut yang menutupi tubuh setengah telanjangnya.
Ingatkan jika Luhan mengenakan lingerie hitam transparan? Atau bahkan wanita itu tidak masalah jika tidur hanya mengenakan pakaian dalam atau tanpa pakaian sekalipun. Menurut Luhan rasanya lebih nyaman ketimbang tidur dengan mengenakan pakaian lengkap.
Selagi Ia hanya tidur seorang diri. Luhan berani melakukannya.
"Ranjangku terlalu nyaman untuk ku tinggal kerja," katanya dengan bibir mengerucut dan telapak tangan yang meraba sprei pink menggemaskannya.
Luhan melirik bosan pada jam weaker yang berada di atas nakas, "Masih 70 menit lagi sebelum berangkat kerja. Dan, sekarang perut mungilku perlu sarapan pagi untuk membakar semua kalori menjadi energi. Karena pasti si direktur menyebalkan itu akan memberiku banyak perintah hari ini," ujarnya menggerutu sembari memeluk perutnya yang rata.
Luhan bangkit dari peristirahatannya di ranjang, memakai sandal berbulu menggemaskan miliknya –yang mungkin di pilih oleh Sehun untuknya dan berjalan menuju kamar mandi. Mengurus semua keperluan wanitanya seorang diri.
Menjadi mandiri sudah Luhan rasakan sejak Ia masih berada di bangku kuliah. Tiga tahun hidup pada kesendirian membuatnya sudah terbiasa mengurus segala sesuatu tanpa bantuan siapa pun. Waktu satu jam adalah waktu yang pas bagi Luhan untuk menyelesaikan semuanya. Mulai dari membereskan apartement, membuat sarapan atau memasak, dan mempercantik dirinya dengan polesan make-up natural yang memukau. Wanita itu sangat gesit dalam bergerak, dan Luhan sangat senang dengan aktivitas setiap harinya yang menyenangkan ini.
Dia benar-benar sudah seperti calon istri idaman bukan?
Luhan mengakhiri gerakan tangannya ketika bibirnya sudah selesai Ia hiasi dengan cantik menggunakan lipstick baby pink ringan. Kedua mata rusanya mengerjap imut dengan senyuman kecil yang tersemat apik di wajah indahnya. Pertanda Ia puas akan make-up nya yang selalu terlihat natural namun terkesan anggun dan memukau.
Semua akan tertunduk kagum jika Ia mulai menampakkan diri nanti.
Luhan berdiri dan melihat bayangan dirinya pada cermin tinggi. Hari ini Ia memutuskan mengenakan kemeja putih polos ketat yang membungkus jelas pahatan tubuh S'Line nya, di padukan oleh rok mini mekar biru navy dengan lipatan-lipatan kecil yang terjahit rapi sebatas setengah pahanya.
Memperlihatkan pada dunia jika Ia mempunyai tubuh cantik mendamba dengan tungkai kaki yang jenjang dan ramping.
Tapi, Luhan sedikit mengerenyit heran ketika mengoreksi kembali penampilannya. Wanita itu mendengus ringan, "Apa ini tidak terlalu ketat? Bahkan kancing bajuku terlihat sesak karena kemejanya terlalu memeluk," katanya dengan memandang tajam pada celah sekitaran kancingnya yang terbuka kecil, "Tapi, syukurlah jika celahnya masih bisa menyembunyikan belahan dadaku. Itu artinya masih aman," katanya lagi dan tersenyum setelah selesai untuk menilai karyanya sendiri.
Wanita itu mulai berjalan menuruni tangga, dan memilih untuk memakai stiletto hitam dengan hak tidak terlalu tinggi. Kedua kakinya terasa semakin sempurna ketika ketukkan stiletto itu menggema halus pada tapakan jalannya.
Luhan membuka pintu apartementnya, dan Ia cukup tersentak ketika sudah ada beberapa pria berbadan kekar dengan stelan hitam mereka yang cukup mengerikan menurut Luhan. Wajah mereka semua terlihat sangat tidak bersahabat, dan Luhan merasa sedikit takut untuk itu.
Brian ada di salah satu antara beberapa lelaki itu, asisten pribadi Sehun itu paham mengapa kerutan di dahi Luhan terlihat tidak nyaman.
"Jangan pasang wajah garang kalian di hadapan nona Luhan! Kalian membuatnya takut," ucap Brian tegas, sedikit menirukan gaya bicara Sehun yang biasa memerintahnya.
Para lelaki berbadan kekar itu merunduk dan mengangguk kaku, meminta maaf kepada Luhan secara sopan hingga membuat wanita itu semakin bingung dengan kejadian apa yang terjadi pagi ini.
"Tunggu, sebenarnya apa maksud kalian datang ke apartementku?," Luhan bahkan tidak menyadari jika ucapannya barusan terdengar sedikit sombong, bahwa Ia adalah pemilik kamar apartement ini. Padahal, sebelumnya wanita itu jelas berpikir yang tidak-tidak bahwa Sehun akan menculiknya.
Brian tersenyum simpul, "Kami hanya menjalani perintah, nona. Direktur Oh yang menyuruh kami untuk datang menjemput anda, dan mengantarkan anda pulang pula nantinya. Mari ikuti saya, nona" ucap Brian ramah sembari menuntun Luhan berjalan bersama mereka.
Apa? Memang siapa lelaki itu?
Luhan terkejut, sangat. Yah, tentu saja ini semakin membuatnya bingung. Apa Sehun selalu memperlakukan para sekretaris lamanya seperti ini? Mengantar dan menjemput mereka kerja? Bahkan, Luhan masih di buat tidak percaya jika Ia mendapatkan fasilitas apartement yang mewah juga banyaknya baju, sepatu, dan tas-tas mahal yang tersusun cantik dalam lemarinya.
Senikmat itukah bekerja di perusahaan ? Jika seperti itu, lalu apa alasan para sekretaris lama Sehun untuk memilih resign dari perusahaan kaya itu?
Luhan perlu mencari tahu
"Eum, Brian. Bolehkah aku bertanya sesuatu? Jika ada hal yang tidak boleh ku ketahui, kau boleh tidak menjawabnya" tanyanya ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju kantor. Luhan duduk di bangku penumpang dalam mobil van hitam mewah milik Sehun, dan Brian berada di sisi sebelahnya.
"Tentu saja, nona. Silahkan,"
Luhan menggigit bibir bawahnya bingung, sopan kah jika Ia bertanya? Tapi rasa penasaran dalam kepalanya tidak bisa berhenti untuk mendesak. Dan, Luhan ingin mengetahui segala alasan itu,
"Ah, itu. Sudah berapa banyak sekretaris yang di pekerjakan oleh direktur Oh? Apa semuanya adalah wanita?" Luhan memulai acara interview nya bersama Brian.
"Cukup banyak, sejauh ini mungkin sudah sepuluh sekretaris yang pernah berkerja di Willis Corporation . Dan, semuanya adalah wanita" dan Brian pun tak kalah menjawab Luhan bagai Ia adalah seorang narasumber.
Bedanya Luhan tidak memegang catatan kecil di tangannya, melainkan mengandalkan otak kecilnya yang penasaran.
"Sepuluh? Jadi maksudmu aku adalah yang kesebelas begitu?" Luhan melebarkan pupilnya membesar, dan Brian mengangguk mengiyakan pernyataannya.
"Apa mereka semua mendapatkan fasilitas yang sama sepertiku? Apartement? Keperluan pribadi? Dan antar-jemput seperti sekarang? Jujur, aku merasa mungkin direktur Oh terlalu baik," katanya selembut mungkin berusaha untuk tidak menyinggung soal kebaikan Sehun yang mungkin saja tersemat beberapa hal mencurigakan di dalamnya.
"Yah, sejujurnya tidak pernah sebanyak ini, nona. Dahulunya mereka hanya mendapatkan fasilitas apartement, itu pun untuk bintang tiga. Tidak seperti apartement yang anda tinggali saat ini, juga fasilitas-fasilitas lainnya. Dan, sebenarnya ini pertama kalinya saya di tugaskan oleh direktur Oh untuk menjemput seorang wanita," ucap Brian serius.
"Benarkah?!" pekik Luhan tidak percaya, Ia menahan nafas karena keterkejutan yang membuat kepalanya tiba-tiba di rasa pusing, "Apa kau mengetahui sesuatu mengapa aku di perlakukan seperti ini? Kumohon, aku sangat bingung dengan segalanya," tukas Luhan memelas. Dan, Brian hanya menanggapinya dengan senyuman simpul dan bahu acuh tidak mengerti.
Luhan mengela nafas pasrah, "Iya, mungkin aku sendiri akan tahu jawabannya nanti. Terimakasih untuk wawancaranya, maaf telah banyak bertanya padamu"
Dan pembicaraan mereka berakhir sudah saat mobil yang membawanya telah sampai di halaman utama perusahaan raksasa itu. Luhan tersenyum seperti biasa ketika seseorang yang sama di sore itu kembali membukakan pintu untuknya.
Wanita itu berjalan tenang, walau dalam hati Ia sangat gugup. Sejak Ia mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Sehun kemarin, Luhan sama sekali tidak melakukan kontak apapun dengan direkturnya itu. Dan, Luhan bingung harus berkata apa ketika mereka sudah bertemu nanti.
Haruskah Ia meminta maaf untuk kesalahan yang mungkin bukan miliknya?
Tapi, menyalahkan Sehun juga bukan pilihan yang bagus. Mungkin seharusnya lain kali Luhan harus lebih belajar untuk berpikir positif tentang lelaki itu.
Semua karyawan kantor berbaris rapi seperti biasa dari pintu utama yang terbuka lebar seutuhnya. Menampakkan seorang pemimpin perusahaan itu datang bersamaan dengan mobil mewahnya yang lain. Lelaki itu selalu luar biasa tampan, aroma maskulinnya langsung mengguar memenuhi seluruh sisi penjuru lobi. Padahal kaki jenjangnya belum menapak masuk.
Aroma seorang lelaki yang membuat setiap wanita merasa terperangah karena menyesak sensasinya. Benar-benar membuat setiap mata menatap kagum dengan jantung yang berdebar-debar.
Sehun masuk dengan langkah dan tatapan angkuhnya yang penuh kekuasaan. Lelaki itu mengenakan stelan formalnya dengan rambut yang di tata rapi ke atas. Membuat dahi seksinya menampar dunia dengan pesona yang bisa menjadikan semua wanita mengerang ingin menghujani banyak kecupan basah disana.
Luhan berdiri di sebelah Brian dengan kepala merunduk dan tubuh yang membungkuk hormat, syukurlah untuk hari ini Ia bisa memulai kebiasaan baiknya di pagi hari. Tidak ada kejadian memalukan yang akan terulang kembali di kemudian hari, itu prinsip Luhan.
Jadi Ia harus berusaha membuat harinya sesempurna mungkin.
Sehun berjalan dengan tatapan datarnya yang membingungkan, lelaki itu terus mengetuk tegas sepatu pantopel mahalnya di lantai. Dan, kemudian berhenti ketika di hadapan Luhan.
Dalam jarak dua langkah, Luhan terus merundukkan kepalanya. Menggigit bibir resah dan kaki yang mendadak lemas namun Ia berusaha menjaga agar tubuhnya tetap berdiri sempurna.
"Luhan," panggil Sehun dengan suara khasnya yang berat menyeramkan.
Luhan mengangkat kepala pelan, dan pancaran kepolosan dari binar mata rusanya langsung bertemu dengan mata elang Sehun yang menatapnya dalam. Seolah menarik Luhan menjadi bungkam dengan rasa yang membingungkan.
"Iya, Sajangnim ?" lirih Luhan halus, matanya mendadak susah berkedip.
Hening beberapa saat ketika matanya bergulir ke seluruh sisi, mengabsen setiap apa yang Luhan kenakan hari ini.
"Bajumu bagus, temui aku di ruanganku segera" ucap Sehun dengan wajah tanpa ekspresi, dan Luhan hanya tidak melihat ada sedikit tarikan senyum kecil dari sudut bibir lelaki itu.
Lelaki itu melanjutkan kembali langkahnya sebelum Luhan siap menjawab. Dan, wanita itu mengekor di belakangnya dengan membawa semburat rona merah di wajahnya.
.
.
A Lot Like Love
.
.
Dalam sebuah nuansa ruangan yang setiap tataan barangnya tersusun rapi. Ada banyak barang-barang bermerek disana, di datangkan langsung dari kota Paris yang penuh akan fashionnya yang memukau.
Ya, mungkin tidak semua barang itu tertata rapi. Tidak dengan semua benda yang berada dalam jangkauan seorang wanita cantik yang duduk malas di atas sofa. Bantal sofa yang awalnya terletak manis pun menjadi terlihat menyedihkan di atas lantai akibat ulah tangan jahilnya yang membuang semua itu dengan geraman kesal.
Wanita cantik itu mengusak rambut panjangnya yang tergerai dengan bosan. Bahkan Ia hanya mengenakan kaos putih polos kebesaran dan hot pants sepangkal pahanya, menampakkan jelas bagaimana indahnya kaki jenjang mungil itu yang berada di atas meja dekat sofa.
"Aku bosan!" teriaknya dengan suara lengkingan yang memekakkan telinga, "Astaga ! Aku ingin pulang," lalu merengek seperti bayi dengan kaki yang bergerak-gerak kekanakkan.
Dengusannya terdengar kasar, Ia membuang lagi bantal sofa terakhir yang awalnya berada di pelukannya itu kesembarang arah. Wanita itu memilih bangkit dan memungut semua barang-barang pribadinya, memasukkan semua itu kedalam tas mahalnya dan sudah siap memakai cardingan panjangnya untuk pergi.
Yah, sebelum seseorang menarik tangannya dan membawa tubuhnya dalam sebuah pelukan kasih sayang.
"Mau kemana? Aku hanya menyuruhmu untuk menungguku tidak lebih dari setengah jam sayang, tapi kau sudah menghancurkan separuh dari ruangan apartementku," ucap seorang lelaki yang menjadi pelaku dari semua rasa kekesalannya. Lelaki yang memeluknya sekarang.
Wanita itu mendorong bahu lelaki yang memeluknya tadi, membuat sang pria menjauh dari jangkauannya.
"Chanyeol ! Aku hanya ingin pulang," tangannya bersedekap di dada dengan mata puppy yang menatap tajam.
"Kau sudah mengatakannya hampir sepuluh kali, dan jawabanku masih sama. Aku tidak ingin kau pulang dulu, Baekhyun" kata Chanyeol tenang dan mengambil santai cardigan yang berada di siku kekasihnya itu.
"Aku bosan! Kau sudah mengurungku selama tiga hari sehingga aku tidak bisa bekerja, bahkan aku tidak tahu bagaimana kabar sepupu kesayanganku saat ini. Bagaimana jika Ia di culik oleh ahjussi-ahjussi mesum? Bagaimana jika sekarang Ia sedang menangis karena aku tidak memberinya kabar? Bagaimana jika-"
CUP
Satu kecupan Chanyeol daratkan di bibir tipis Baekhyun yang cerewet. Membuat sang wanita membelalakkan mata protes dan menghunjani bahu kekasihnya dengan pukulan kecil.
Chanyeol melepaskan ciuman singkatnya, ketika mulut kekasihnya siap kembali berbicara, lelaki itu menahannya kembali dengan jari telunjuk yang mendarat manis di bibir wanitanya.
"Sudah cerewetnya? Masih ingin bicara atau kau ingin aku menidurimu lagi, hm?" goda Chanyeol sembari mengelus bibir tipisnya
Baekhyun menepis kasar tangan Chanyeol dari bibirnya dan menatap tajam pada lelaki itu, "Dalam mimpimu, Richard !" tukasnya geram dengan rona merah padam yang menggemaskan.
Namun,
Setelahnya, Baekhyun memberikan Chanyeol puppy eyes andalannya yang akan meluluh lantakkan pertahanan lelaki itu, "Tapi, Chan. Aku bersungguh-sungguh ingin mengetahui bagaimana keadaan Luhan sekarang. Ia tidak bisa di tinggal seorang diri, meskipun dia adalah tipe wanita mandiri dengan segala otak keras kepalanya. Namun, tetap saja Luhan adalah Luhan. Adik kecilku yang polos dan mudah di kelabuhi oleh para penjahat di luar sana," kata Baekhyun lembut, Ia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Baekhyun memainkan kancing kemeja Chanyeol resah.
Chanyeol menarik nafas panjang dan membawa wanitanya itu ke dalam pelukan hangatnya, mencium puncuk kepala wanitanya lembut "Satu malam lagi dan besok kau sudah boleh pulang," lelaki itu mengambil dagu Baekhyun dan menatap kekasihnya itu penuh rasa kekaguman luar biasa, "Yah, walau dengan berat hati aku harus merelakanmu pulang, " aku kesepian tanpamu, Baek.
Baekhyun mendengus singkat, "Kita masih bisa bertemu di kantor, jangan terlalu berpikir jauh Chan," Baekhyun melepaskan pelukannya dan mengambil ponsel Chanyeol yang tergeletak di atas sofa, "Kalau begitu aku pinjam ponselmu untuk menghubungi Luhan ya. Ponselku kehabisan paket internet, " katanya dengan senyuman manis.
Dan, menekan beberapa nomor telepon sepupunya itu hingga tersambung pada Luhan di seberang sana.
"Hannie !"
"…"
"Ah, maafkan aku. Pacarku menculikku kemarin dan aku di kurung disini selama beberapa hari olehnya," Baekhyun melirik ke arah Chanyeol yang mendekatinya dengan senyuman yang terlihat menyeramkan, "Aku sampai meninggalkanmu dan tidak mengantarmu pulang, bagaimana keadaanmu sekarang Lulu?" Baekhyun bisa mendengar Luhan menggerutu disana. Wanita itu membayangkan bagaimana wajah merajuk sepupunya yang terlihat menggemaskan dengan bibir mengerucut, senyum Baekhyun merekah dan Chanyeol membawa tubuh mungilnya untuk duduk di pangkuan lelaki itu.
"…"
"Eoh? Kau pindah? Dimana?!, " tanyanya sedikit berteriak dan Chanyeol menarik alisnya penasaran.
"….."
"Ah, jadi begitu. Satu langkah sudah kau dapatkan, Lu. Perjuangkan terus sampai kau bisa mendapatkan semuanya ! Aku akan selalu mendukungmu, sedikit lagi maka semuanya akan kembali normal seperti dulu iya kan?, " Baekhyun tersenyum penuh arti untuk Luhan yang berada disana.
"…"
"Baiklah, nanti ceritakan padaku semuanya. Aku menyayangimu," dan itu adalah percakapan terakhir mereka.
PIP
"Semuanya akan kembali normal? Memang apa yang terjadi dengan Luhan? Sepertinya kalian berdua punya rahasia yang tersimpan penasaran, "
Baekhyun mengalunkan kedua tangannya di leher kekasihnya dan mengecup bibir Chanyeol lembut, "Hanya sebuah misi yang berarti bagi masa depan Luhan. Nanti kau juga akan tahu, " katanya sembari menatap Chanyeol dalam.
Chanyeol mengangguk dan setelahnya senyuman licik lelaki itu berlabuh begitu tampan di wajahnya, "Jangan menyesali undanganmu ini sayang, karena aku tidak menjamin bagaimana bisa mengontrol diriku sendiri di permainan kita nanti, " katanya sembari mengangkat tubuh mungil kekasihnya seperti koala itu dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
Baekhyun terkekeh ringan dan mengerling nakal padanya, "Buktikan jika kau bisa mengalahkan permainanku, Tuan Park" bisiknya menggoda.
"Jangan berani menantangku baby," lirih Chanyeol seduktif.
.
.
A Lot Like Love
.
.
Mendengus dan kembali mendengus. Luhan melakukan tarikan nafas pendek dan membuangnya singkat melalui bibirnya yang terbuka kecil. Wanita itu sangat sibuk sekarang.
Kedua tangannya tidak berhenti bergerak, kesepuluh jarinya terus menekan keras pada keyboard putih yang berada di laci bawah meja kerjanya. Mata rusanya yang bening menatap begitu serius pada layar cukup besar yang senantiasa menerangkan cahaya menyilaukan, bahkan kadang membuat matanya terasa perih.
Ada banyak tumpukan kertas yang berada di sebelah kananya. Beberapa lembar kertas kerja yang sangat penting dan harus di selesaikan hari ini juga. Luhan memanfaatkan kecerdasannya penuh, dalam mengerjakan beberapa laporan perusahaan itu, hingga Sehun hanya akan terima beres dan memberikan tanda tangannya nanti.
Semua pekerjaan Sehun, di bebankan padanya. Wanita itu masih sangat ingat bagaimana tampang datar menyebalkan direkturnya itu ketika memberinya seenggok perintah tadi. Hasil dari meeting besar yang bernilai mahal beberapa saat lalu. Kontrak kerja dengan beberapa perusahaan pariwisata yang berada di pulau Jeju.
Jam sudah mendekati pada waktu makan siang, dan pekerjaannya belum sempurna selesai, masih dalam kisaran 40% dari angka 100% .
"Hah, ini masih sangat banyak" keluhnya dengan menyandarkan punggungnya lemas pada sandaran kursi empuknya.
Tok Tok Tok
Luhan tersentak ketika pintu ruangannya di ketuk keras, wanita itu mengambil nafas panjang demi menghilangkan keterkejutannya.
"Masuk,"
Pintu terbuka dan seorang cleaning service yang memberikan bunga mawar untuk vas bunga kantornya tadi pagi itu muncul, "Permisi nona, Luhan. Maaf jika saya telah menganggu waktu kerja anda, "
Luhan dengan cepat mendatangi lelaki tua itu dan bertanya ramah padanya, "Eoh? Paman Kang, ada apa?"
"Saya pikir mungkin anda tidak akan ke kafetaria untuk makan siang," ucap lelaki itu sembari melirik beberapa pekerjaan Luhan yang terhambur di atas meja, Luhan meringis melihat pandangan lelaki itu, "Dan, direktur Oh memberikan saya perintah untuk mengantarkan makan siang buat anda, nona " ucap lelaki tua itu sembari memberikan Luhan sekotak bekal makanan. Luhan menerimanya bingung, "Direktur sangat baik kepada anda," katanya lagi dan tersenyum penuh makna kepada Luhan.
"Benarkah?" tanya Luhan bingung dalam mengekspresikan perasaannya, "Kalau begitu terimakasih paman, pasti saya akan menghabiskan ini semua," ujarnya dengan senyuman yang begitu manis.
Lelaki tua itu mengangguk senang dan menutup pelan pintu ruangan Luhan.
Mungkin Sehun sudah mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta yang sebenarnya, -gumam lelaki tua dalam hati dan berharap yang terbaik untuk kedua insan itu.
Luhan membawa kotak makanan itu ke atas meja yang berada dekat sofanya, dengan biasa wanita itu membukanya dan cukup tersentak melihat isi di dalamnya.
Ada secarik memo kecil yang tersemat di sana.
Kau hanya boleh makan ini. Aku tidak ingin memiliki sekretaris yang kelebihan berat badan.
- Osh
Luhan mendecih dan mengangkat bahunya tidak peduli,
"Dasar lelaki tidak tahu diri, siapa kau berani mengatur pola makanku !" gumamnya ketus dan membuang memo itu ke dalam tempat sampah, mengambil sendok pada bekalnya dan mulai mengunyah beberapa potongan sayur hijau mentah segar itu untuk masuk ke pencernaannya, "Saladnya lumayan," pujinya senang dan memakan semua itu dengan lahap.
Hening beberapa saat, yang terdengar hanyalah suara bisingan lirih dari udara yang berhembus keluar melalui AC di atasnya.
"Jangan lupa untuk berkata terimakasih padaku,"
DEG
Luhan menghentikan kunyahannya dan membatu dalam gemetaran keterkejutan. Lirihan suara tajam yang begitu horor barusan tanpa sadar membuat semua bulu halus di tubuhnya meremang.
Luhan mencoba menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tetap tenang, yah ini pasti hanya halusinasinya saja. Mungkin Ia hanya terlalu panik sehingga berpikir hal-hal berlebihan.
Luhan mencoba untuk kembali menyelesaikan kunyahannya dan mengabaikan aura horor itu. Tapi, lagi-lagi suara dingin itu kembali menghantuinya sehingga Ia merasa tak tenang dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
"Cih, ternyata wanita sepertimu memang tidak bisa berkata terimakasih"
Dengan cepat Luhan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan refleks berteriak karena sosok Sehun yang begitu dekat dengannya, dengan kehadiran yang tiba-tiba.
"KYAAAA !"
"Astaga ! Ini bukan ruangan konser, Luhan !" bentak Sehun sembari menatap wanita itu tajam dengan kedua tangan yang menutup pendengarannya.
"Sajangnim, sejak kapan anda berada di sebelah saya?," Tanya Luhan cepat bersamaan dengan tatapan horornya dan kedua tangan yang gemetar pada genggaman kotak makannya.
"Sejak kau mengatakan bahwa makanan kambing itu rasanya lumayan," kata Sehun acuh
Luhan mengkerutkan bibirnya tidak setuju dan melihat salad yang berada di tangannya dengan perasaan tersinggung.
"Kenapa Sajangnim mengatakan kalau ini makanan kambing," lirih Luhan tidak suka
"Karena semuanya adalah sayuran, apa lagi jika bukan makanan kambing ?,"
"Tapi ini makananku," cecar Luhan
"Yah, dan aku yang memberikannya untukmu"
"Seharusnya Sajangnim tidak berkata seperti itu karena makanan ini akulah yang memakannya," tukasnya lagi
"Jaga sopan santunmu ! Kau pikir, siapa pemimpinnya disini?,"
Luhan mengadahkan kepala, dan kembali merunduk takut ketika Sehun kembali membentaknya dan menatapnya penuh kekejaman. Luhan baru sadar jika apa yang di ucapkannya barusan telah melewati batas kesopanan dan etika dalam berbicara.
"Ma-maafkan saya, Sajangnim. Saya hanya ….. hanya …..," matanya melirik gelisah kesembarang arah
Sehun membuang helaan nafasnya kasar dan bangkit dari tempat duduknya di samping Luhan. Lelaki itu berkecak pinggang penuh luapan amarah, dan sekarang Ia mulai bisa memahami sekretarisnya ini.
Luhan memang cantik? Yah, Tapi dia punya kepala batu dan argument yang tidak bisa untuk di bantah. Dan, baru kali ini Sehun mendapatkan sekretaris dengan model sifat seperti itu. Namun, anehnya Ia tidak punya niat sama sekali untuk menyakiti Luhan.
Mungkin bukan sekarang, mungkin nanti.
"Setelah ini selesaikan semua laporanmu, besok kita akan berangkat untuk rapat penting, " ujarnya kembali dalam mode tenangnya.
"Rapat ? Kemana ?," Tanya Luhan hati-hati
Sehun mentolehkan kepalanya ke samping ;ke arah Luhan yang sedang duduk manis dengan tatapan mata rusa yang kebingungan, dan lirikan Sehun sepenuhnya jatuh pada satu objek pemandangan yang mempertontonkan sedikit belahan dada Luhan yang mengintip malu-malu di balik celah kemejanya yang terbuka.
Astaga ! Sehun langsung gemetar melihatnya dan meneguk salivanya kasar. Tubuhnya mendadak terasa panas seakan ada api yang mulai mengelilinginya ;membakar gairahnya.
Tidak sia-sia ternyata aku memilihkan baju itu untuknya, gumam Sehun penuh kesetanan. Dia memang seorang lelaki yang sangat licik.
"Sajangnim ?," Tanya Luhan semakin bingung. Wanita ini hanya terlalu lugu untuk tidak mengerti kemana arah tatapan Sehun yang sebenarnya.
Sehun berdehem kikuk, dan dengan tidak rela mengalihkan kembali pandangannya. Menerawang ke arah pintu ruangan Luhan yang membosankan.
"Jeju, persiapkan semua kebutuhanmu malam ini. Besok pagi pesawat kita berangkat," jelasnya dan mulai meninggalkan Luhan dalam keresahan.
"Ta-tapi Sajangnim ! Saya punya sedikit …."
BRAK ! Pintu itu terkatup sempurna
"Phobia dengan ketinggian," lanjutnya pedih dan merasa ingin menangis.
Sejak kecil Luhan punya ketakutan tersendiri akan ketinggian, Ia akan merasa gemetar dan susah bernafas jika phobianya kembali kambuh, hingga membuat tubuhnya terus mengeluarkan keringat dingin.
Biasanya setiap berpergian kemana pun itu ;menggunakan pesawat, Luhan akan selalu punya seseorang yang menemani ketakutannya di sebelahnya. Dulu Baekhyun melakukan itu untuknya ketika Ia pertama kali ingin menginjakkan kaki di Korea, dan sekarang setelah sekian lama Ia tidak pergi-pergi lagi…
Siapa yang akan membantu menenangkannya di sebelahnya? Siapa yang akan bersedia meminjamkan tubuhnya untuk Luhan peluk? Siapa yang rela tangannya terasa kebas untuk Luhan genggam selama dalam perjalanan penerbangan?
Siapa ? Tidak mungkin Luhan meminta Sehun ;direkturnya untuk melakukannya kan ?
"Ahh, bagaimana ini ? Apa aku harus meminta resign di hari ketiga aku berkerja ?" katanya frustasi memikirkan nasibnya sendiri esok.
.
.
A Lot Like Love
.
.
Dan keesokkannya tiba, dimana sekarang Luhan masih dalam pikirannya yang kebingungan. Sejak pagi Ia hanya bermondar-mandir tidak jelas dengan menggigit kuku jarinya gelisah.
Semuanya sudah Ia persiapkan sesuai apa yang Sehun perintahkan kemarin, dan Luhan pun sudah sangat cantik dengan stelan airportnya yang begitu memukau. Hanya saja, Ia masih belum bisa menyelesaikan masalah mentalnya sendiri nanti.
Luhan mendadak menjadi takut, Ia butuh seseorang untuk menenangkan ketakutannya.
Tapi siapa yang bersedia ?
Bell apartementnya berbunyi nyaring, membuat Luhan belum apa-apa sudah merasakan sesak nafas yang kentara. Wanita itu berjalan cepat dan membukakan pintu apartementnya.
Ada Brian bersama beberapa pengawal di belakangnya, Luhan memasangkan senyum paksa yang terlihat biasa ;kendati hatinya kacau bukan main.
"Barang-barang anda, nona ?" kata Brian meminta izin kepada si pemilik untuk mengangkat semua bagasinya.
Luhan mengangguk, "Dan, dimana Sajangnim ? Beliau juga dalam satu penerbangan yang sama dengan kita, bukan ?" katanya berharap Sehun juga berada di penerbangan yang sama dengannya nanti.
Jika bukan Sehun, dan tidak ada pilihan lain. Luhan berharap Brian menjawab Iya akan pertanyaannya.
Asisten pribadi Sehun itu mengangguk dan tersenyum, "Sajangnim sudah menunggu anda di mobilnya," kata-kata Brian barusan jika di ucapkan pada wanita lain, maka wanita pasti itu akan bersorak ria dan sangat bahagia ;bagai ucapan dari seorang pelayan kepada kekasih cantik dari Tuan nya. Namun, sayangnya Luhan bukanlah tipe wanita yang seperti itu.
Mereka berjalan hingga mobil van milik Sehun terlihat menunggu di lantai dasar basemant, seorang lelaki kembali membukakan pintu untuknya dan memuji Luhan begitu cantik. Luhan membalas singkat dengan ucapan terimakasih, dan duduk di sebelah Sehun yang sedang sangat fokus dengan ponsel yang berada di genggamannya. Terlihat begitu serius, namun Luhan bisa melihat ada senyuman kecil yang tersemat tampan di wajah lelaki itu.
Senyuman yang tulus.
Bahkan kehadiran Luhan mungkin tidak di sadari olehnya.
Ternyata Ia juga bisa tersenyum, mungkin kekasihnya sedang memberinya kabar di luar sana –gumam Luhan menebak-nebak, ada rasa sedikit mengganggu ketika ungkapan itu mengalun dalam hatinya.
Mobil langsung berjalan laju, dan Luhan membuang mukanya menghadap ke arah jalanan Seoul yang di jatuhi oleh beberapa kelopak bunga musim semi. Tanpa sadar, Ia meremas hatinya sendiri yang sedikit terasa sesak ;entah untuk alasan apa. Luhan juga tidak mengerti.
..
..
"Luhan, pakai sabuk pengamanmu," Sehun sudah memperingatkan wanita itu untuk ketiga kalinya namun sejak tadi Luhan hanya diam seribu bahasa dan tidak banyak bergerak.
Ia duduk tak tenang, kakinya serasa gemetar dan Luhan sedang berusaha menguatkan ketahanan tubuhnya saat ini. Bahkan rasanya, pendengarannya mendadak tuli. Luhan tidak bisa memahami suara-suara apa saja yang berlalu dalam pendengarannya.
"Nona, anda baik-baik saja ?" seorang pramugari mendatangi Luhan, dan menepuk pelan pundak wanita itu.
Akhirnya, Luhan bisa menemukan sedikit kesadarannya. Wanita itu tersenyum sedikit dan mulai memakai sabuk pengamannya.
"Saya baik-baik saja," katanya walau mata rusa itu terus menerawang gelisah dan keringat dingin sebesar biji jangung mulai turun dari pelipisnya.
Pramugari cantik itu sebenarnya hanya beralasan, berpura-pura memberi perhatiannya pada Luhan kendati sebenarnya Ia lebih melirik kepada Sehun. Pramugari itu mengangguk dan berlalu ketika Luhan selesai berucap, juga setelah Ia berhasil memberikan Sehun tatapan nakal yang membuat lelaki di sebelah Luhan itu mengeluarkan smirk tampannya.
Mungkin Ia akan di sewa malam ini sebagai pemuas nafsu lelaki itu di Hotel nanti.
Oh, siapa yang tidak ingin bercinta dengan lelaki sepanas Oh Sehun ? Nilai lebihnya, dia sangat KAYA .
Sehun memasang sebuah earphone di telinganya dan mulai memejamkan mata untuk sedikit mendapatkan waktu istirahat. Pesawat sudah mulai melaju untuk lepas landas, dan hampir semua penumpang melakukan hal yang sama seperti yang Sehun lakukan.
Terkecuali Luhan, yang mulai bernafas gelisah dengan mata terpejam rapat penuh gemetar. Kedua tangannya menggenggam erat sisi pegangan di kursinya. Wajah cantiknya mendadak pucat pasi dengan banjirnya keringat dingin. Luhan ingin menangis tapi Ia masih berusaha menahan semuanya.
Dan, akhirnya waktu take off itu tiba. Pesawat melaju dalam kecepatan penuh untuk mencapai atas, posisinya begitu menanjak naik.
"Hah….Hah…..Hah…" Luhan terus menghela nafas hebat dari mulutnya yang terbuka kecil, giginya bergetar menggigil. Oksigen serasa semakin sulit di dapatkannya.
Dia butuh ketenangan ! Jika tidak ingin wanita itu berakhir mati ketakutan nantinya.
Sehun yang berada tenang di sebelahnya perlahan mulai merasa terusik akibat pergerakan Luhan yang gelisah. Lelaki itu membuka mata hendak protes dan mencabut kasar earphonenya.
"Luhan, tidak bisakah kau…..Astaga ! Luhan !," pekiknya terkejut melihat Luhan seperti menahan sebuah rasa kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Sssh…ssshhh…hah…hah….." desis Luhan sudah tidak bisa lagi menyembunyikan gemetaran ketakutannya, wanita itu mulai menangis dalam matanya yang terpejam rapat.
"Luhan, kau mendengarkanku? Jawablah! Ada apa?!" Sehun mulai merasa kalut melihat kondisi wanita itu. Ia memegang erat pundak Luhan dan mengguncang tubuh wanita itu, "Buka matamu, Luhan! Buka matamu!,"
Luhan mencoba membuka matanya perlahan, ada gurat ketakutan yang sangat kentara dalam retina matanya, "Sa-sajangnim…" lirihnya lemah dan tercekat, air mata terus membanjiri wajahnya.
Sehun tidak tahan melihat lemahnya kondisi wanita ini, lelaki itu langsung membawa Luhan dalam dekapan hangatnya. Memeluk erat Luhan yang langsung membalas pelukannya dan terhisak dalam dekapannya yang hangat.
Tangannya yang kokoh mengerat pada bahu sempit Luhan begitu posesif, "Jangan takut, kau aman bersamaku," kata Sehun lembut sembari mengusap punggung gemetar itu dengan pelan. Mencoba menenangkannya.
"Se-sehun, ma-maafkan aku….." Luhan tidak peduli jika Sehun ingin memarahinya setelah ini, sekarang ketenangan lebih di butuhkannya dari pada yang lain.
"Pengecualian untuk ini, aku tidak akan marah," gumam Sehun.
Senyum Luhan tersemat manis di wajahnya yang perlahan terasa tenang dan aman. Kedua tangannya masih setia mengerat pada pelukan Sehun, matanya mulai terasa berat.
"Hm, terimakasih," gumamnya dalam suara lirih yang bahagia dan setelah itu Luhan jatuh tertidur nyaman dalam dekapan direkturnya sendiri.
Sehun seperti orang yang kehilangan petunjuk arah. Bertanya-tanya pada hatinya sendiri. Mengapa Ia harus melakukan hal seperti ini kepada Luhan? Mengapa Ia bersikap seolah wanita ini adalah seseorang yang berarti untuknya? Mengapa Ia harus melakukan ini? Siapa Luhan untuknya?
Sehun tidak bisa menemukan jawaban itu pada hatinya sendiri, menurutnya mungkin Luhan punya sebuah ketakutan akan penerbangan dan sayangnya Sehun tidak mengetahui itu sejak awal. Ia melakukan ini hanya sebagai bentuk dari rasa bersalahnya, mungkin tak apa jika sekali ini Ia berbuat tulus untuk seorang wanita bukan?
Yah, anggap saja seperti itu sampai mereka tidak menyadari jika mereka sebenarnya sudah saling membuka hati satu sama lain. Dan, itu masih kaku.
Tinggal menunggu waktu yang akan menjawabnya, jika selama itu tidak ada orang lain yang akan berperan sebagai sosok penghancur segala kedekatan mereka.
..
..
Mengalami beberapa kejadian yang sedikit terlihat romantis tadi, tentu seharusnya Luhan merasa bahwa dia harus memiliki perasaan canggung ketika berhadapan kembali secara sadar di depan direktur tampannya itu.
Lelaki itu sudah bersedia menyempatkan waktu istirahatnya untuk sekedar menjadi obat penawar dari rasa ketakutan Luhan akan ketinggian di dalam pesawat. Merelakan pundak sebelah kanannya terasa sedikit kebas hanya karena dalam dua jam perjalanan tadi sekretaris cantiknya itu tertidur pulas seperti putri salju disana ;dipundaknya, memejamkan matanya dengan nyaman.
Yah, Seharusnya Luhan punya sedikit rasa malu pada dirinya sendiri yang kelemahan terbesarnya harus di ketahui oleh lelaki angkuh seperti Oh Sehun. Mungkin lelaki itu akan memanfaatkan kelemahannya itu suatu hari nanti.
Tapi yang terjadi adalah Luhan dengan biasa bersikap seolah apa yang terjadi tadi bukanlah hal yang patut untuk di persulitkan. Ia bersikap kembali pada mode tenangnya dan mengabaikan Sehun yang terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Siapa tadi yang menolong Luhan? Apa itu aku? Monolog Sehun kebingungan.
"Astaga, musim semi adalah waktu yang paling pas mengunjungi pulau Jeju ini !," katanya sembari bersorak kegirangan saat pandangannya melihat hamparan taman kehijauan dan bunga-bunga yang begitu luas. Ia sudah membayangkan bagaimana asiknya saat kedua tangannya nanti menyentuh semua kelopak-kelopak cantik itu, atau kedua kaki kecilnya yang berlari-lari riang mengitari taman disana.
Luhan sudah menyusun semua kegiatan yang ingin di lakukannya, Ia ingin bersikap sedikit pamer pada sepupunya yang cerewet itu.
"Kita datang bukan untuk liburan, Luhan" terang Sehun sembari menatap wanita di sebelahnya itu dengan delikan tajam menjengkelkan.
Menjengkelkan untuk Sehun karena Luhan tidak tahu diri dalam mengingat kebaikannya tadi, melupakannya.
Sedangkan Luhan? Khayalannya seketika buyar ketika kalimat tegas Sehun barusan menyadarkannya. Yah, dia tidak akan punya waktu untuk bersenang-senang.
"Iya, Sajangnim. Saya mengerti," kata Luhan sungkan sembari merundukkan kepalanya. Memberi sedikit hormat pada direkturnya, tapi tetap saja setelah itu mata Luhan kembali memandang ke arah luar.
Masih pada hamparan taman bunga juga sepanjang lautan biru yang terbentang indah, "Mungkin aku tidak bisa mengunjungi kalian. Mungkin nanti saat aku pergi bersama Baekhyun sepupuku," gumam Luhan sedih dalam hatinya.
Mobil jemputan bandara yang membawa mereka telah sampai pada sebuah villa mewah nan nyaman. Bangunan cukup besar yang menjulang tinggi, namun terlihat sederhana dalam arsitekturnya yang di rancang sedemikian mengagumkan. Banyak lampu keemasan yang bisa Luhan pantau dalam jarak beberapa meter itu.
Villa itu terlihat seperti Hotel bintang lima, karena bentuk bangunannya yang begitu indah. Jelas Luhan mengetahui siapa pemilik bangunan besar ini.
Kadang Luhan berpikir, sekeras apa perjuangan orang tua direkturnya dulu yang bisa memiliki beberapa kekayaan yang tersebar dimana-mana? Dan Luhan juga berpikir, sanggupkah direkturnya itu menangani harta sebanyak ini seorang diri sebagai pewaris tunggal?
Apa kepalanya tidak pusing memikirkan harta yang berlimpah?
Itu hanya sebuah pikiran polos seorang Luhan, karena jika pun Ia mengetahui segalanya maka Luhan tidak ingin ikut ambil pusing dalam memikirkan bagaimana orang-orang kaya bisa mengelola harta mereka. Luhan lebih suka kehidupannya yang mandiri.
Karena menjadi kaya tidak bisa menjamin hidupnya mendapatkan sebuah ketulusan.
"Terimakasih,"
Luhan menutup pintu kamarnya dan menyusun koper pink besarnya dekat pinggiran ranjang. Ia mengamati semua sisi yang berada pada kamar yang akan di tinggalinya selama tiga hari kedepan itu.
"Ini cantik," nilainya memuji tata letak ruangannya dan menjatuhkan tubuhnya pada ranjang yang di lapisi oleh sprei putih lembut itu.
Perjalanan tadi cukup menguras tenaga dalam tubuh mungilnya sehingga menjadikan dirinya merasa lelah, padahal Ia sudah tertidur pulas selama di perjalanan tadi. Matanya terasa memberat, mungkin tidur beberapa jam tidak apa-apa.
Baru saja kedua mata rusa itu akan terpejam dengan sempurna, namun suara deringan dari ponselnya yang berbunyi membuat Luhan harus kembali terbangun dan dengan segera mengangkat panggilan itu.
Seseorang yang begitu di rindukannya.
"Halo, Mama"
.
.
A Lot Like Love
.
.
Beijing, China
Ada hamparan taman bunga beraneka jenis mawar yang begitu luas. Mulai dari bermacam warna hingga setiap jenisnya pun ada disana. Tanah seluas setengah hektar itu seperti di taburi cat warna yang bercampur dan melekat bagai pelangi. Aroma harumnya menyeruak begitu menyegarkan, mengundang beberapa kumbang dan kupu-kupu datang mengelilinginya, menari dengan riangnya.
Para pelayan wanita dengan telaten memilah beberapa mawar yang sudah bisa di petik dan di bersihkan durinya, mempunyai kelopak besar-besar dan padat. Setiap tangkai yang di petik itu akan di bawa ke keranjang bunga, menjadi bahan dasar dari parfum rumahan untuk seorang tuan putri muda.
Seorang wanita dewasa dengan umur empat puluhan mendatangi salah satu pelayan rumahnya itu, mengambil satu tangkai mawar merah dengan kelopak merah darah yang besar-besar. Wanita itu membawa penciumannya untuk menghirup sedikit wewangian yang tecipta dari sana, matanya terpejam dan senyuman yang masih cantik itu terukir begitu sempurna.
"Putriku pasti akan marah jika Ia tahu aku mencium mawar kesayangannya seperti ini," kekehnya ringan dan kembali meletakkan bunga itu di keranjang.
"Tapi, nyonya. Kapan nona akan kembali lagi ke rumah ini? Saya sangat merindukan nona muda," kata salah satu pelayan senior yang sudah sangat lama berkerja di keluarga ini.
Wanita itu tersenyum lembut, "Bibi pasti juga sangat merindukannya ya?," gumamnya dan kembali menarik nafas panjang, " Hah, Sudah berapa tahun anakku itu tidak pulang ke rumah, apa Eropa membuatnya lupa ingatan pada tanah kelahirannya sendiri?"
"Mungkin nona memiliki kekasih disana, Nyonya," gurau Bibi itu ringan, membuat wanita dewasa yang tak lain adalah sosok seorang Ibu dari nona muda yang sedang mereka perbincangkan ini tertawa kecil.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, "Itu tidak mungkin, Bibi. Kau sangat tahu bahwa putriku itu lebih suka menjadi penyendiri dari pada bergaul dengan para lelaki tampan di luar sana. Kadang dia membuatku khawatir, sepertinya anakku tidak suka laki-laki. Oh tidak, jangan sampai itu terjadi !," ucapnya terlalu berlebihan.
"Tapi nona sangat cantik, Nyonya. Sama persis seperti anda dulu saat masih menjadi seorang aktris muda, tidak mungkin jika nona tidak di gemari banyak lelaki di Eropa,"
Sang nyonya mengangguk dan memberikan senyumnya, "Tapi tipenya tidak pernah berubah, Bi. Anakkku lebih suka pria Asia untuk hidup bersamanya, tapi sampai sekarang pun dia tidak memiliki lelaki special untuk di perkenalkan padaku dan Ayahnya sendiri. Untuk itu aku dan suamiku sudah memiliki calon yang tepat untuk mendampingi kehidupannya nanti,"
"Lelaki yang anda ceritakan dulu itu? Seorang bocah lelaki yang pernah di tolongi oleh nona semasa kecilnya?," yah, seorang anak lelaki yang jatuh dari sepedanya dulu.
"Iya, anak lelaki itu," senyum penuh makna tergambar pada wajahnya, "Mereka akan mengingatnya dengan segera, untuk itulah kita perlu untuk segera mempertemukan mereka. Pasti keduanya akan sama-sama terkejut jika sudah bertemu nanti. Ah, Aku sudah tidak sabar menantinya menikah!," pekiknya girang dan mereka tertawa renyah secara bersamaan.
"Nona akan menjadi putri paling cantik saat mengenakan gaun pengantinnya. Belum lagi sosok calon suaminya begitu tampan,"
"Mereka sempura, Bibi. Mereka berdua sempurna," kedua wanita itu mengangguk yakin sembari berjalan memasuki mansion. Seorang lelaki dewasa dengan umur sama namun terlihat lebih dewasa menghampiri keduanya.
"Saya permisi dulu, Nyonya," pelayan itu meninggalkan tuan rumah penuh rasa hormat.
Sepasang suami-istri itu melanjutkan kembali langkah mereka dan duduk di sofa pada ruangan keluarga. Sepertinya mereka butuh pembicaraan yang cukup penting.
"Bagaimana? Apa kau sudah menghubungi Sehun?" langsung saja sang istri memberikan pertanyaan pertamanya.
"Sudah, dan sesuai rencana Sehun menyetujui untuk segera bertemu dengan Luxiana,"
"Ah, benarkah?! Luxiana pasti juga sudah tidak sabar menanti siapa calon suami tampannya. Astaga ! Aku ingin mereka cepat di pertemukan, yeobo," satu pelukan istrinya berikan pada suaminya yang langsung menyambutnya hangat. Ekspresi mereka begitu bahagia.
"Secepatnya, pasti Yeobo. Dan, bagaimana dengan Luxiana? Apa kau sudah mengatakan padanya?"
"Hm, dia masih di sibukkan oleh jadwal wisudanya. Tadi aku sudah menghubunginya dan ingin berbicara mengenai pertemuan itu, tapi sepertinya dia ada kesibukkan mendadak sehingga belum sempat untukku mengatakannya. Bagaimana menurutmu?"
Lelaki itu menarik nafas panjang dan membuangnya jengah, "Sudah kuduga dia masih mencoba untuk menolak, tidak ada cara lain yeobo"
"Maksudmu?," tatapan penuh rasa penasaran Ia berikan pada suaminya.
Lelaki itu balas menatap istrinya dalam, dan memberikan senyumannya yang setia terlihat menawan.
"Aku sudah sangat merindukan putriku untuk pulang ke rumah. Sudah cukup watunya untuk mencari kebebasannya sendiri. Sekarang adalah waktu kita untuk kembali menjemputnya pulang," gumamnya dan memberi jeda dengan membuang nafas sebentar, "Tanpa memberitahu Luxiana, kita pertemukan saja dia dengan Sehun. Di Perancis dua minggu lagi, di hari wisudanya. Itu adalah jalan terakhir untuk kita membawanya pulang," putusnya final.
Dua minggu lagi, pertemuan itu akan terjadi. Lantas, bagaimana sosok Luxiana yang sampai sekarang bahkan Sehun tidak ingin mengetahuinya ? Sedangkan di tempat lain, Oh Sehun sendiri sudah memikirkan langkah apa yang harus di ambilnya untuk membuat perjodohan itu mungkin bisa di batalkan.
Mungkinkah dia akan melakukan hal setega itu, dengan memanfaatkan hati seorang wanita ?
..
..
"Aku perlu Luhan untuk membantuku mengurus semuanya, di pertemuan itu nanti,"
..
..
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Countinue
..
..
02 April 2017
Annyeong ^^
Welcome to April again guys. HunHan Month :*
.
Sebelumnya, Cuma mau bilang alasan kenapa Baekbeelu lama update. Karena minggu lalu Laptopku harus masuk service T.T ini karena aplikasinya yang semuanya gak mau di buka, termasuk APP dan semua file FFN ku :""
Belum lagi harus di Instal Ulang untuk pemulihannya, dan Alhamdulillah ini file FFN nya gak ada yang ke format. Semuanya lengkap, jika pun kemarin semua file FFN ku ke format, maka pasti Baekbeelu udah gak akan lanjut nulis lagi. Hiatus panjang mungkin, tapi syukur deh gak jadi kekeke
..
Oh, Ya di Review sebelumnya banyak yang bilang kalau sosok Luxiana ini adalah Luhan ya ? Kok kalian bisa berpikir seperti itu ? Boleh dong ya, Baekbeelu minta alasannya di Review Ch 3 ini ^^ siapa tahu teka-teki kalian terjawab di Chapter depan *eeh
..
MAU IKLAN NIH GUYS !
Sudah pada tahu belum kalau Author HunHan GS INA ada project buat April ini? Sebagian pasti sudah tahu ya :") karena infonya sudah Baekbeelu sertakan di postingan instragram kemarin. Dan tepatnya, minggu ini adalah minggu pertamanya PROJECT kita di mulai. Udah ada Apriltaste dan Sehooney yang Publish new FFN kan? Udah pada baca belum ? Baca ya jgn lupa REVIEW nya ^^
.
Jadi gini, Kami para author dengan bangga mempersembahkan sebuah project untuk bulan April ini, dimana setiap HHS pasti tahu bahwa ini adalah bulannya kita. Ulang tahunnya HunHan juga perayaannya HunHan. Project ini di ikuti hampir sebagian oleh Author HH GS, dimana GENRE utama yang kita ambil adalah ANGST ya bukan Romance, setiap FanFiction yang akan di publish ada yang Oneshoot, ada juga yang Multichapter. Jadi, sediakan tissuenya dengan segera sebanyak mungkin di setiap minggu ya *bhaks…
Dan ini adalah minggu pertama, di minggu kedua nanti juga akan ada Author berbeda yang Publish new FF ya. Begitu pula minggu-minggu yang akan datang ^^
..
BaekbeeLu ikut gak? Ya pastinya ikut dong, udah di siappin kok Cerita baru yang akan menggetarkan hati kalian, mungkin sedihnya melebihi DMWD sih *smirk* .
..
Oke, mungkin itu aja dulu ya cuap-cuap aku hahaha. Jangan lupa Review setianya sayang-sayangku ^^ hari ini Baekbeelu update bareng AUTHOR YANG TERKENAL AKAN KEPEMESSANNYA 'XIUGARBABY' 'LOLIPOPSEHUN' dan 'SEHOONEY' , kuy mampir ! :D
..
..
Big Love,Thanks :*
