Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Story by Shizukano Aizawa

Warning: AU, OOC (sepertinya sangat), typo(s), etc.

Pair: SasuSaku

Rate : T

Karangan ini asli punya saya, please no plagiarism! Thanks!

.

.

魔法の学校

(Mahou no gakkou)

DLDR

Don't Like, Don't Read

.

"We do not need magic to transform our world. We carry all of the power we need inside ourselves already."
J.K. Rowling

.

Aku menemani Sasori di akhir pekan. Aku juga sudah meminta izin pada Sasuke-senpai sebelumnya. Ia berkata untuk berhati-hati, dan memintaku untuk membawa Sasori bersantai ke bukit di belakang asrama, agar Sasuke-senpai bisa memantau kami.

Aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku harus berhati-hati pada keluargaku sendiri. Sasuke-senpai tidak mengatakan apapun, ia hanya menyuruhku berhati-hati pada Sasori. Sebenarnya aku sangat butuh penjelasan. Tapi mengingat Sasuke-senpai mengatakan bahwa akan ada saatnya untuk aku mengetahui semuanya, aku menyerah dan melakukan apapun yang ia katakan untuk saat ini.

"Sakura, sebenarnya tempat apa ini?" Aku meliriknya. Ia masih menatap pemandangan di bawah bukit. Pemandangan kota yang cukup indah. Aku bahkan akan sangat senang berada disini untuk waktu yang lama hanya untuk melihat pemandangan kota di bawah sana.

"Sekolah, Sasori." Aku tersenyum saat ia menatapku. Ia menghela napas dan kembali menatap pemandangan kota di bawah sana.

"Sekolah, ya?" Ia diam cukup lama. Aku bisa lihat senyum lemah di wajahnya. "Tapi aku tidak pernah melihat sekolah seaneh ini." Dia melirikku. Aku tidak terkejut, hanya tersenyum kikuk. Aku tahu dia akan mengatakan hal itu.

Ah! Aku butuh Sasuke-senpai. Apa yang harus ku lakukan senpai? Apa yang harus ku katakan?

"Katakan saja padanya yang sejujurnya. Lambat laun dia akan tahu juga." Sasuke-senpai berbicara. Aku tersenyum geli.

Setelah sebelumnya meminta izin menemani Sasori, Sasuke-senpai mengubah mahkotaku menjadi anting yang hanya tinggal dijepit di telingaku. Ia mangatakan itu akan menjadi alat bantu untuknya berbicara denganku karena aku tidak bisa berkomunikasi dengannya tanpa alat bantu.

Aku menghela napas sebelum menjawab Sasori. "Ini adalah sekolah sihir, Sasori." Aku tersenyum. Sasori tampak terkejut. Ia menatapku lama, seakan-akan mencari kebohongan dalam perkataanku.

Aku menadahkan tanganku, meminta salah satu pohon terdekat memberikan buahnya padaku. Peach, yang saat itu memilih untuk memberikan buahnya. Sasori cukup terkejut ketika itu terjadi. Dahan pohon memanjang, melepaskan buahnya dari dahannya, dan menjatuhkannya di atas tanganku.

"Kau bisa masuk ke sekolah ini karena kau juga pengendali, Sasori. Sama sepertiku dan yang lainnya yang berada di sekolah ini." Aku memberikan buah persik tadi padanya. Ia melirikku dan buah persik itu bergantian. "Buah itu sudah matang."

"Dia berpikir kau memberinya racun." Sasuke-senpai kembali berbicara di telingaku.

"Ah! Itu tidak beracun. Kau lihat sendiri, 'kan? Itu baru saja diberikan langsung oleh pohonnya." Sasori kini melihatku. Ia membelah buah itu. "Aku tidak mungkin meracuni keluargaku sendiri." Aku tersenyum kikuk.

"Jadi apa kau juga bisa baca pikiran?" Sasori kini menyeringai. Ia tampak kembali pada dirinya yang semula. Aku tertawa dan menggeleng.

"Tidak." Dia mengangguk kecil.

"Lalu kenapa kau bisa tahu aku berpikir kau memberiku racun?" Ia diam sejenak, berpikir. Namun kemudian seringaiannya semakin mengembang. "Atau seseorang berada di sekitar kita saat ini? Dia bisa menghilang?" Aku tertawa.

"Tidak, tidak! Itu hanya intuisi." Sasori tersenyum dan kembali mengangguk.

"Jadi," ia diam cukup lama. Aku menunggu, "apa orang tuamu juga bisa sihir?" Aku menghela napas dan mengangguk. "Ah! Tentu saja. Tidak mungkin kau bisa sihir jika orang tuamu tidak bisa." Ia tertawa pelan.

"Oh ya, aku juga ingin bertanya tentang King dan Queen." Ia tidak lagi menaruh perhatian pada pemandangan di depan kami dan buah persiknya. Sasori bahkan mengubah posisi duduknya menghadapku. "Apa kalian menikah? Atau-" Aku sontak terkejut. Terbatuk karena menjilat ludahku sendiri. Iuwh!

"Tidak!-"

"-Ya." Si bodoh ini! Aku merutuki Sasuke-senpai karena berbicara di telingaku. Ia merusak konsentrasiku. "Kau bisa bilang kita sudah menikah. Itu juga cukup bagus." Sabar Sakura.

"Tidak, tidak! King dan Queen itu hanya pengganti OSIS. Di sekolah ini, King dan Queen dipilih oleh dua mahkota. Aku tidak tahu pasti siapa yang membuat mahkota ini, tapi guna King dan Queen juga menjadi pengganti Kepala Sekolah. Jadi, jika terjadi sesuatu dengan para murid, mereka bisa berkonsultasi dan memberitahunya pada King dan Queen. Jika King dan Queen tidak bisa menyelesaikan masalahnya dan merasa masalah tersebut terlalu sulit, Kepala sekolah akan turun pada saat itu." Aku tersenyum, menjelaskan sedikit panjang. Aku bisa mendengar Sasuke-senpai mendengus di telingaku.

"Ah. Ku pikir kalian adalah pasangan." Sasori tersenyum cukup lebar. Sepertinya dia cukup senang tahu bahwa aku bukan pasangan Sasuke-senpai.

Aku baru akan mengatakan padanya untuk tidak mengkhawatirkan itu, tapi Sasuke-senpai lebih dulu berbicara.

"Jangan katakan apapun tentang pasangan, padanya. Akan lebih baik jika dia berpikir kita berpacaran." Aku mengerutkan keningku. Bingung. "Kau akan tahu nanti."

"Ta-tapi aku menyukai Sasuke-senpai." Aku akhirnya berbicara asal.

"Bagus. Dan katakan padanya aku juga menyukaimu. Kita baru berpacaran kemarin." Si bodoh ini. "Aku tahu kau mengatakanku bodoh, Sayang. Aku akan menghukummu nanti. Jadi katakan sekarang. Dia mulai tidak percaya." Aku tersenyum paksa. Sial.

"Da-dan Sasuke-senpai juga menyukaiku." Aku memperlihatkan reaksi malu-malu. "Kami baru berpacaran kemarin."

"Dia memaksamu?" Sasori berkata datar. Tapi aku tidak terkejut. Kami tinggal bersama sejak saat ia ditemukan. Sedikit banyaknya, ia pasti tahu bahwa aku berbohong.

"Dia tidak berbohong. Dan aku tidak memaksanya." Sasuke-senpai akhirnya memilih untuk muncul. Kenapa kau muncul di saat yang tidak tepat, senpai? "Sepertinya kalian menghabiskan banyak waktu berdua hari ini. Boleh aku bergabung?" Aku menatap Sasuke-senpai sedikit tajam.

"Aku sebenarnya ingin mengatakan tidak. Tapi mengingat kau adalah King dan pasangan Sakura. Baiklah. Aku juga ingin bertanya banyak hal." Sasuke-senpai dan Sasori tersenyum tipis bersamaan. Aku bisa melihat kilatan aneh di mata mereka.

"Bagus." Dan kami duduk bertiga di kursi panjang itu dengan Sasuke-senpai yang duduk di tengah.


-Normal POV

Sasuke dan Sakura sudah kembali ke ruangan King dan Queen setelah sebelumnya mengantar Sasori ke ruang medis. Sasuke memberitahunya banyak hal. Pemuda raven itu bahkan membohonginya dengan mengatakan bahwa ia dan Sakura tengah menjalin hubungan. Masih belum jelas apa yang menjadi penyebab Sasuke menjauhkan Sakura dari pemuda merah itu, tapi Sasuke sangat tahu bahwa dia adalah pemuda yang berbahaya. Tsunade dan Shizune bahkan meminta Sasuke untuk terus memantau perkembangan pemuda merah itu.

"Belum saatnya Sakura. Kau akan segera tahu jika semuanya menjadi jelas. Aku, Shizune -sensei dan Tsunade-sensei perlu info lebih banyak tentang anak itu." Sasuke membuka suara saat ia mendengar isi pikiran Sakura. Gadis itu sangat ingin tahu kenapa ia harus dijauhkan dari Sasori. Pasalnya sejak dulu, mereka tidak mengalami kejadian apapun. Sasori bahkan tampak baik-baik saja dan tidak berbahaya.

"Itu karena dirinya yang sekarang juga tidak sadar jika dia pengguna Void. Kau hanya harus tahu ini, dia memiliki dua kepribadian yang berbeda." Sakura tampak terkejut saat Sasuke mengatakannya. Sasuke hanya menatap datar gadis itu, menatap perubahan raut wajahnya. Walau ia tidak perlu melakukannya karena sudah tahu pasti dari membaca pikiran gadis gulali itu, ia tetap melakukannya. Melihat perubahan raut wajah Sakura menjadi hal baru yang menyenangkan untuknya. "Aku hanya baru mendapat info itu dari Tsunade-sensei." Sakura masih tak bergeming. Ia masih terkejut. "Karena itu aku memintamu berhati-hati."

'Tapi kenapa?" Sakura akhirnya bersuara.

"Karena kau target yang sangat mudah dilumpuhkan. Kau mempercayainya. Kau bisa dilumpuhkan karena kepercayaanmu itu." Sasuke akhirnya mengambil satu batu permata berwarna biru laut di laci mejanya.

"Kemari!" Ia menyuruh Sakura mendekat. Gadis itu masih tampak bingung. Bahkan saat ia akan berjalan dari tempat duduk Sasuke, ia tersandung kaki meja.

Setelah gadis itu mendekat, Sasuke menariknya, mendudukkannya di pangkuannya. "Senpai!?" Sakura terkejut. Sasuke hanya menatapnya datar. Ia bahkan tak peduli bagaimana posisi mereka saat ini.

"Berikan mahkotamu." Sakura masih terkejut, tapi ia tetap memberikan mahkotanya yang berupa anting pada pemuda itu. Ia mengubah mahkota Sakura menjadi cincin yang mengikat batu permata kecil itu.

"Tanganmu." Sasuke memerintah. Gadis itu tampak semakin bingung. Ia bahkan tak bisa berpikir lagi karena sedang duduk di pangkuan Sasuke.

Sasuke memasangkan cincin itu di jari manis Sakura. Ia menyeringai tipis. "Perfect." Ia menatap gadis itu yang memerah. "Sekarang kita sudah bertunangan."

"WTF!?" Sakura hampir bangkit dari duduknya, tetapi Sasuke menahan. Pemuda raven itu tertawa. "Aku bercanda, Sakura. Kau terlalu tegang. Kau memikirkan hal aneh karena duduk di pangkuanku?" Sakura menatapnya tajam, merutuki pemuda itu dalam hati.

"Kita tampak seperti pasangan suami istri sekarang." Sasuke lagi-lagi bercanda. Setelah puas tertawa, ia berdeham, mengembalikan keseriusannya. "Oke, lupakan! Aku akan membakar kita berdua sekarang."

"Hah!?" Sakura semakin tidak mengerti. Ia tampak terkejut saat Sasuke mengeluarkan api biru dari jemarinya. "Senpai, kau mau apa!?" Sakura hampir memukul Sasuke jika pemuda itu tidak langsung menyelimuti mereka berdua dengan api birunya.

"Tidak panas, 'kan?" Sasuke tersenyum tipis.

"Sebenarnya ini apa? Senpai ingin menunjukkan kehebatan?" Sakura tampak sedikit kesal. Sedang serius seperti ini, kenapa si senpai bodohnya itu malah sok hebat?

"Terima kasih cacianmu, Sakura. Seharian ini aku tidak mendengar kata anata darimu." Sasuke tersenyum tipis. Tapi Sakura tahu ini akan menjadi mimpi buruknya. "Dan aku tidak menunjukkan kehebatan. Mungkin kau tidak tahu, tapi kau akan tahu sebentar lagi." Sasuke sekali lagi merubah ekspresinya, terlihat serius. "Sekarang pikirkan masa lalumu dengan si merah itu." Walau tampak bingung, Sakura memikirknya.

Di depan sana, semuanya kembali terulang, masa lalunya bersama Sasori, dimana saat itu mereka berumur tujuh tahun. Mereka sedang menghabiskan waktu berlibur di villa milik keluarga Haruno. Saat itu Sakura dan Sasori sedang berada di danau di tengah hutan, bermain air dengan hanya pakaian renang. Sasori bahkan melompat dari atas batu yang cukup tinggi dengan ban pelampung di sekitar pinggangnya.

"Yahoooo!" Sasori kecil berteriak. Sakura kecil tertawa saat air hasil lompatan Sasori mengenai wajahnya.

"Sasori, gantian! Aku juga ingin mencoba!" Sasori memberikan pelampungnya pada Sakura. Gadis kecil itu naik ke atas batu yang tidak terlalu tinggi, melompat di dekat Sasori. Mereka tertawa bersama.

"Sampai sekarang pun masih datar saja, ya." Sakura menatap tajam Sasuke. Gadis itu tahu kemana arah pembicaraan pemuda itu. "Tapi kau tetap terlihat lucu, Hime." Gadis itu memerah. Sasuke menyeringai tipis. Ia sangat tahu apa yang ada di pikiran gadis itu sekarang.

"Apa kita bisa kembali lagi? Mungkin di waktu yang berbeda?" Sakura masih memerah. Tapi ia cukup terlihat kesal. "Nope." Sasuke tersenyum cukup manis. "Nah, kapan kalian selesai bermain air?" Sasuke tampak terlihat kesal. Gadis itu tak tahu apa yang membuatnya seperti itu, tapi ia tidak begitu peduli.

"Mungkin sekitar satu jam lagi. Ayah akan datang memanggil karena kami bermain terlalu lama." Sakura tertawa saat Sasuke mengerutkan keningnya. "Astaga! Percepat sekarang!" Sakura terkekeh, namun ia tetap melakukan apa yang Sasuke katakan. Kizashi Haruno datang memanggil. Namun seketika ia berhenti tepat di depan mereka berdua. Mereka terkejut.

"Kenapa ayahmu berhenti?" Sakura mengangkat bahu. Ia tampak berpikir. "Tapi, memang saat itu ayah berhenti memandang sesuatu disini. Ayah tersenyum." Kizashi tersenyum.

"Lihat!" Sakura kemudian terkejut. Ia menatap Sasuke dengan mata membulat sempurna. "Atau ayah bisa melihat kita berdua?" Sasuke sedikit terkejut, tapi ia tak memperlihatkannya. Ia mencoba membaca pikiran Kizashi, tapi ia tak bisa. Aneh. Pikirnya.

"Ayah! Ada apa? Kenapa ayah senyum-senyum sendiri di sana?" Suara Sakura kecil menyadarkan mereka. Bahkan Kizashi menatap putri kecilnya.

"Oh, maaf." Kizashi terkekeh pelan menatap kedua anak kecil itu. Ia berjalan ke arah mereka berdua. Nah, cukup sudah! Sekarang waktunya kalian naik. Kalian sudah bermain air cukup lama. Ayo, Sasori. Kau juga, gadis kecil." Sakura kecil menggembungkan pipinya.

"Ayah tidak seru!" Walau begitu, Sakura kecil tetap saja menurut.

"Kau ternyata penurut sejak kecil ya." Sasuke menyeringai tipis. Sakura hanya melirik pemuda itu bosan. "Tapi aku penasaran apa yang dikatakan ayah saat kami akan kembali ke villa. Dia seperti bergumam sendiri. Saat aku bertanya, ayah hanya tertawa, tidak berkata apapun." Sakura menjadi serius. Ia menarik Sasuke sedikit mendekat pada ketiga orang dari masa lalunya.

"Sebaiknya lakukan secepat mungkin, kalian tidak akan tahu rasanya sesakit apa." Sakura terkejut, begitu juga Sasuke. Mereka saling menatap satu sama lain. Ayahnya memang bisa melihat mereka.

"Ayah bilang apa?" Sakura kecil menatap ayahnya. Namun pria paruh baya itu hanya tertawa, menarik Sakura dan Sasori kecil dari sana.

"Ini gila!" Sakura menatap Sasuke tak percaya. Pemuda itu juga terkejut, namun apa yang dikatakan ayah Sakura lebih memenuhi otaknya.

"Kita harus membakar Sasori." Sasuke tak mempedulikan keterkejutan Sakura. Gadis itu bahkan tak bisa mengatakan apapun. "Kau ingat perkataan ayahmu? Dia tahu si merah itu memiliki sihir." Sakura tak dapat berpikir, bahkan mulutnya tak bisa mengeluarkan perkataan apapun. "Kita harus cari tahu masa lalunya sekarang. Ayahmu mengizinkan kita." Sasuke menunggu keputusan Sakura sejenak. Setelah gadis itu mengangguk, mereka berlari mengejar Sasori kecil ke villa.


Sasuke tahu ini akan terasa menyakitkan. Si merah itu tak punya batu permata seperti yang ia berikan pada Sakura. Dia akan merasa kesakitan selama mereka membakarnya.

"Aku akan mulai. Saat ia mulai terbakar, kita harus tetap berada dekat dengannya." Sakura mengangguk.

Mereka melirik Sasori kecil yang tengah bermain bersama Sakura kecil. Sasuke menatap kedua anak kecil itu, sebelah tangannya menggenggam tangan Sakura, sedangkan sebelah tangannya yang bebas, mengeluarkan api biru untuk membakar Sasori kecil.

Mereka mendekati Sasori kecil, membakar ujung rambutnya hingga seluruh tubuhnya terbakar. Sasori menjerit, ia merasa sangat kepanasan. Sakura kecil mendekatinya, terlihat berkaca-kaca. Seketika ayah dan ibu Sakura datang. Pria paruh baya itu tak lagi menaruh perhatian pada mereka berdua. Entah karena dia sudah tidak lagi melihat mereka, atau karena ia tidak bisa fokus karena jeritan Sasori kecil. Lagi pula, selain mereka berdua, semua orang yang berada di sana tidak dapat melihat api biru yang Sasuke keluarkan.

"Panas!" Teriaknya. Sasori kecil menangis. Sakura bahkan tidak bisa menahan keinginannya untuk menghentikan Sasuke saat itu juga. Tapi ketika Sasuke menatapnya, ia tahu ia tidak bisa menghentikan kegiatan itu.

"Ibu, tolong Sasori!" Sakura kecil menangis. Mebuki Haruno bahkan terlihat panik. Kizashi mengangkat Sasori kecil, membawanya ke kamarnya.

"Lakukan sebisamu untuk mengurangi rasa sakitnya, Sayang." Kizashi berbicara pada Mebuki. Pria paruh baya itu kini berganti menenangkan Sakura kecil saat Mebuki mencoba sebisanya untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Sasori.

"Sekarang waktunya!" Dan ketika kalimat itu Sasuke ucapkan, mereka tidak lagi berada di masa lampau Sakura.


"Kau monster! Kau tidak seharusnya ada di dunia ini!" Orang-orang berkata kasar padanya. Meneriakinya, melemparkan batu-batu kecil, bahkan batu berukuran besar padanya. Anak kecil itu hanya bisa menangis. Ia berlari menuju rumahnya di tengah hutan.

"Ayah! Ibu!" Ia berteriak, mengetuk pintu tak sabaran.

"Hei, ada apa, nak? Kenapa kau berlari seperti ini? Ada apa denganmu? Kenapa luka-luka seperti ini?" Pria paruh baya terkejut saat membuka pintu. Ia menarik sang anak masuk, mengambil beberapa obat dari dalam lemari penyimpanan. "Apa mereka melemparimu lagi?" Sang ayah berjongkok di depannya, menatapnya dengan senyum lembut penuh rasa kasihan. Ia membersihkan luka-lukanya, mengobatinya.

"Hn." Sasori kecil mengangguk sambil menangis.

"Masa lalu Sasori!" Sakura terkejut. Gadis itu menatap Sasori kecil yang sedang diobati. "Apa paman itu ayahnya?" Sasuke hanya diam. Ia memilih untuk fokus. Seketika semua menjadi putih, menyilaukan pandangan mereka.

"Senpai, kenapa ini?" Sakura kembali bertanya, menyipitkan matanya untuk menghalangi cahaya.

"Kita masuk ke dalam masa lalu Sasori." Sasuke tampak tidak terganggu dengan cahaya putih itu. "Dia merasa kesakitan, kita tidak bisa tinggal lama di dalam satu masa lalunya. Semuanya akan terus beralih seperti acara televisi yang di pilih acak." Sakura mengangguk mengerti.

Sekarang mereka sedang berada di masa lalu Sasori saat ia di usir dari rumah pamannya. Anak kecil itu menangis tersedu-sedu. Rambutnya tidak terlihat rapi, bajunya terlihat robek di sana-sini, celananya tampak kusam, ia bahkan tidak punya sendal untuk dipakai.

"Paman, bibi, buka pintunya!" Ia memukul keras pintu rumah, menangis.

"Pergi kau, monster! Kau tidak diterima di rumah ini! Kau membunuh adik dan adik iparku! Kau monster pembawa sial! Kau bahkan membunuh sebagian orang di kota kecil ini!" Pamannya bahkan tidak membuka pintu. Ia berteriak dari dalam rumah. Sasori menangis sejadi-jadinya.

"Bukan, bukan aku yang membunuh ayah dan ibu. Paman, tolong aku!" Sasori kecil menangis. "Bukan aku yang membunuh orang-orang." Ia terisak.

"Pergi kau!"

Sakura tampak menahan air matanya. Ia tidak ingin melihat ini. Ia bahkan tidak tahu Sasori punya masa lalu seburuk itu. Walau Sasuke fokus pada masa lalu pemuda merah itu, ia masih bisa membaca isi pikiran gadis di sampingnya. Ia menggenggam tangan Sakura lebih erat, berharap bisa sedikit membantu gadis itu.

Cahaya putih kembali memudarkan masa lalu Sasori, menggantinya dengan bagian masa lalu yang baru.

"Kalian membakar rumahku! Membakar ayah dan ibuku!" Sasori kecil berteriak. Ia menahan tangis, menahan amarah. Di depan sana, rumahnya terbakar. Beberapa orang menyiram minyak, dua di antaranya memegang obor api.

"Kalian membunuh orang tuaku!" Ia mengulang perkataannya, menangis sambil berteriak. Matanya berubah, tidak lagi terlihat bersahabat. Orang-orang yang semula mendekatinya untuk ikut membakarnya, terlihat mundur ketakutan.

Ranting-ranting pohon di sekitar mereka terdengar patah. Berterbangan mendekati Sasori. Ranting-ranting itu berubah menjadi ranting dengan ujung yang sangat tajam, siap menembus tubuh mereka. Tidak butuh hitungan detik, tempat itu berubah menjadi pembantaian massal. Rumput hijau dihiasi genangan darah. Ranting pohon menancap pada tubuh manusia, tidak menyisakan satu orang pun kecuali dia, Sasori yang sedang tertawa senang.


Sakura sangat terkejut. Ia bahkan tidak bisa berpikir lagi. Gadis itu bahkan masih tak sadar mereka sudah kembali ke dunia mereka. Ia juga tidak sadar masih duduk di pangkuan Sasuke. Pemuda itu hanya diam. Ia tahu Sakura sangat terkejut. Tapi ia sudah punya cukup informasi penting saat ini yang bisa ia sampaikan pada Tsunade.

Pintu terbuka lebar, menyadarkan gadis itu. "King, Queen, anda berdua di-" perkataannya terhenti. Mulut pemuda itu terbuka lebar. Wajahnya mulai dihiasi semburat merah.

"Ah, Suigetsu." Sasuke sadar apa yang membuat wajah pemuda itu memerah, ia hanya menyeringai tipis. "Tsunade-sensei meminta kami datang ke ruangannya, 'kan?" Sakura masih tak sadar bahwa ia duduk di pangkuan Sasuke. Pikiran tentang masa lalu Sasori memang sudah tidak begitu ia pikirkan. Ia hanya merasa sedikit heran kenapa wajah pemuda berambut putih itu memerah.

"Apa kau sakit, Suigetsu-san?" Sakura sedikit khawatir. Ia berpikir pemuda itu sedang tidak enak badan. Sasuke menahan tawa. Polos sekali. Pikirnya.

"Aaa... tidak." Wajah Suigetsu semakin memerah. Saat gadis itu menatap Sasuke dengan pandangan heran, ia sadar. Matanya membulat sempurna. Sakura cepat-cepat berdiri dari sana. Kini wajah gadis itu yang memerah. Sasuke terkekeh.

"Ma-maafkan aku." Sakura meminta maaf pada Suigetsu. Pemuda itu hanya menggeleng.

"Aku yang seharusnya meminta maaf karena mengganggu waktu kalian berdua, King, Queen." Suigetsu tertawa kecil, merasa bersalah. Ia menggaruk belakang kepalanya.

Wajah Sakura semakin memerah, malu karena kedapatan duduk di pangkuan Sasuke, dan kesal karena Sasuke yang hanya diam saja dan tertawa. Sial.

"Terima kasih informasinya. Kau bisa kembali, Suigetsu." Sasuke tersenyum tipis. "Dan, ya. Kau sedikit mengganggu waktu kami berdua." Sakura membulatkan matanya. Tidak percaya dengan perkataan Sasuke barusan. Jika tidak ada Suigetsu, senpai-nya ini sudah pasti tidak akan berada di ruangan itu lagi karena ia tendang.

Setelah satu dua kata, Suigetsu pergi, menyisakan mereka berdua dalam diam.

"Nah, tidak perlu repot-repot menendangku. Itu hukumanmu karena tidak memanggilku dengan sebutan anata." Sasuke menyeringai tipis, berdiri dari duduknya. "Tsunade-sensei memanggil kita, jadi sebaiknya simpan cacianmu untuk nanti, Hime." Sakura makin terlihat kesal, namun ia tetap menuruti perkataan Sasuke, menemui Tsunade-sensei bersama-sama.


To be Continued

A/N :

Maaf kalau kesannya saya lama update. Banyak alasannya sih.

Pertama karena memang ide ceritanya gak ada, terus ya karena sibuk urusan sekolah, terus juga ada beberapa cerita yang malah ide saya lebih kesana dari pada cerita yang ini. ^^

Alasan lainnya sih, ya karena kalau saya tetap lanjut, takutnya hasilnya malah gak bagus. Jadi lebih dipikirin matang-marang dulu sebelum update. Maaf ya. XD

Untung yang udah nunggu-nunggu, maaf nih / ojigi/

Ya udah, gak mau banyak curhat. Tetap makasih sama yang udah mau nungguin, ngikutin cerita ini, sukain cerita ini, bahkan yang jadi sider pun. Hahaha. But, big thanks nya buat yang mau review. Soalnya liat review dari kalian, nambah semangat saya buat terus berkarya, nulis cerita-cerita baru. Ya, artinya masih ada yang suka cerita saya. Hahahaha XD

Ya udah sekian!

Enjoy! Mind to RnR?