sannnnnnhelloowelcome back bersama author gendheng kita ini yaitu...ami chan #backsound
jeng jeng jengggggg
hehe mon maap ni author nya nggak ada rajin rajinnya nulis nii...maklum author nya mageran
akhirnya setelah sekian waktu yang tidak dihitung author pun kembali dengan chap baru,yang tentu saja tetap tidak jelas...nah langsung aja ya
maklum namanya juga newbie
.
.
.
WITH LOVE
disclaimer :masashi kishimoto
rate:T
warning:gaje, typo, eyd, ooc, dll
Pair:rahasia dunks, tebak aja dulu request juga boleh
.
.
.
naruto memandang keluar jendela lebar, menatap langit biru, dirinya nyaris lupa bahwa saat ini dia berada di paris untuk mengerjakan proyek ayahnya, jika bukan karna jendela lebar yang sengaja didesain agar mampu melihat menara eiffel yang menjulang tinggi mungkin naruto akan segera masuk kekamar mandi dan berangkat kesekolah, nampaknya dia mulai terbiasa dengan kehidupannya sebagai murid sma
naruto menatap kamar bernuansa putih tulang yang nampak begitu itu dengan senang. dia rindu kamar ini dan nuansa kota paris yang sangat disukainya, meskipun banyak negara yang sudah dikunjunginya namun entah kenapa dia sangat suka berada di paris,jejeran butik mewah dan aroma toko roti yang amat menggugah selera.bagi naruto paris adalah rumah keduanya karna dia cukup lama tinggal disini dan rasanya dirinya amat enggan tiap harus meninggalkan kota yang penuh daya tarik itu.
'ah senangnya bisa kembali'
tok tok tok
"kami sudah menyiapkan air panas miss"ucap salah satu maid yang tinggal di kediaman naruto di paris tersebut dari balik pintu.
"siapa yang menjadi sekretaris ku haku?"tanya naruto menyingkap selimut tebalnya, memperlihatkan naruto dengan gaun tidur mewah yang nampak begitu elegan, bahkan untuk sekedar tidur.
"sekretaris yang akan membantu anda selama disini adalah naruko nohara akan sampai kesini dalam 15 menit"
"pergilah"ucap naruto yang merasa tak memerlukan informasi apapun lagi, naruto segera melesat kekamar mandi.
.
.
.
naruto duduk memandang kearah lembaran lembaran kertas yang sengaja dibawanya dari Jepang untuk membantunya mengerjakan proyek di paris ini, naruto bahkan mengabaikan sakit kepala yang mulai menderanya yang nekat membaca kertas kertas didepannya didalam mobil meskipun dirinya tau bahwa dia tak sanggup membaca dalam mobil.
naruko melirik lewat spion mobil, melihat naruto yang memijit keningnya.
"anda baik baik saja namikaze sama?"tanya naruko membuat naruto tersenyum kecil.
"aku baik baik saja ruru, boleh kupanggil begitu? "tanya naruto menatap naruko yang fokus menyetir mobil mewah tersebut.
"aku suka panggilan itu, ketika kecil aku sering begitu"ucap naruko tertawa kecil.
"hei aku juga dipanggil begitu oleh iruka nii san,yah kurasa panggilan itu unik, dan juga lucu"ucap naruto mengedikan bahunya dan kembali melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda.
"sebaiknya namikaze sama tak membaca didalam mobil, itu bisa membuatmu pusing"ucap naruko.
"kau mengatakan hal yang sama dengan kakakku"ucap naruto tersenyum lebar teringat pada kurama.
"oh ya? ibuku sering mengatakan hal itu padaku ketika kecil jadi aku terbiasa mengucapkannya ketika melihat orang yang membaca dalam mobil"ucap naruko tersenyum lebar
"kakakku mengucapkan hal itu padahal tak mungkin aku membaca di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan super"gumam naruto namun masih dapat didengar oleh naruko membuat naruko tertawa kecil.
"kau umur berapa ruru san? kau terlihat jauh lebih tua dariku? "tanya naruto, berdasarkan penglihatan naruto, naruko jelas memiliki sifat yang dewasa yang seperti dipengaruhi oleh umurnya.
"aku 25"
"waw kau jauh lebih tua dariku, kita selisih 10 tahun"ucap naruto yang nampak cukup terkejut, namun ucapan ini membuat naruko jauh lebih terkejut, diam diam naruko menghitung dalam hati.
"sugoi,berarti umurumur namikaze san masih 15 tahun? menakjubkan"ucap naruko terkagum kagum melihat seorang gadis berusia 15 tahun memimpin sebuah perusahaan besar seperti namikaze corp.
"yeah tapi tou san menulis data perusahaanku 21 tahun"gerutu naruto, dia jadi merasa tua sekarang padahal baru berumur 15 tahun.
"kau tidak terlihat berusia 15 tahun namikaze sama"ucap naruko terheran heran.
"ini hanya efek make up untuk memberi kesan dewasa saja, untuk menyamarkan usiaku"ucap naruto menyentuh rambutnya yang ditata rapi.
"ah, dan satu lagi"ucap naruto membuat naruko mengangkat alisnya heran.
"jangan panggil aku namikaze sama ruru nee chan"ucap naruto dengan gaya pura pura marah yang tidak cocok untuknya membuat naruko tersenyum.
"hai naru chan"
ah sungguh gadis yang manis, naruko merasa seperti memiliki seorang adik.
.
.
.
sasuke memejamkan matanya, menutup seluruh jalan cahaya yang masuk menuju retinanya siang itu, matahari bersinar terang cahayanya cukup menusuk mata, dan siang itu sasuke mencoba untuk menikmati tidurnya diatap seperti hari hari biasanya, namun lagi lagi pikirannya kacau sudah tiga hari ini pertemanannya dengan gaara merenggang sejak terakhir mereka berdebat karna gadis pirang itu.
yah gadis pirang yang sudah menghilang sejak tiga hari lalu dan membuatnya kalang kabut, entah sudah berapa orang yang jadi korban kekesalannya, dan semuanya karna gadis pirang yang entah sedang apa sekarang dan dimana sekarang ini
'shit,menyebalkan sekali, enak sekali dia menghilang tiba'gerutu sasuke kesal,
ah rasanya atap sekolah itu jadi sangat sepi,sudah seminggu ini atap sekolah terasa ramai karna ocehan tidak jelas naruto atau sekadar pertengkaran kecil keduanya, atau terkadang sasuke hanya berbaring diam dan naruto yang berdiri memandang pemandangan dibawahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun,membiarkan ketenangan mengisi keduanya.
'tenang sekali, harusnya aku senang tidak ada yang mengganggu tidur siangku, ck'
sasuke menatap gumpalan awan yang berarak, dirinya kembali mendesah ketika teringat gaara yang mencari naruto dengan khawatir, entah kenapa dia kesal ada yang mengkhawatirkan naruto selain dirinya.
merasa perdebatan dalam kepalanya tidak memecahkan masalah sasuke pun memilih untuk menutup matanya berniat kealam mimpi mengabaikan gadis pirang yang terus berseliweran dikepalanya
ow ow mungkin kamu cemburu sasu
.
.
.
naruto duduk berkutat didepan meja kerjanya, tak ada satupun suara hanya ada suara goresan pulpen dan juga bunyi jarum jam, dirinya sibuk mengecek berkas berkas. yang menyangkut kerjasaam proyek yang akan dikerjakannya, sisa waktu nya di prancis tinggalah tiga hari,empat hari mengerjakan pekerjaannya adalah waktu yang terhitung cukup singkat untuk menyelesaikan kerjasama namun dirinya cukup mampu bernapas lega karna asisten sekaligus orang yang merangkap sebagai wakilnya-iruka- dapat dipercaya untuk menjalankan sisa proyek ini.
tok tok tok
"masuk"
"naru chan?"panggil naruko berjalan kedepan meja kerja naruto.
"apa jadwalku setelah ini ruru nee chan?" tanya naruto tanpa mengalikan perhatian dari membaca berkas berkas didepannya.
"acara setelah ini adalah rapat dengan uchiha corp"ucap naruko.
"panggil iruka nii san untuk menggantikanku"ucap naruto membuat naruko mengangkat alis heran.
"kau tidak hadir naru?"tanya naruko membuat naruto mengangkat kepalanya
"nee chan,tidak ada yang tau siapa namikaze naru lho"ucap naruto tersenyum lebar, dirinya sungguh menikmati petak umpet ini.
"ah souka"ucap naruko mengangguk faham, meskipun dia ingin bertanya alasannya namun naruko menahannya karna dia yakin naruto pasti memiliki alasan sendiri.
"aku akan memanggil umino san"ucap naruko membungkuk kearah naruto kemudian mundur perlahan.
"katakan pada iruka nii san seperti biasanya saja"ucap naruto setengah berteriak.
.
.
.
"hei jangan tidur disini"ucap ino menendang kaki lelaki berparas pucat yang tengah tertidur di sebuah bangku taman.
"nghhh"gumam pria itu membuka matanya menatap sesosok yang baru saja membangunkannya.
'ah siswi sma' pikir lelaki itu kembali menutup matanya.
"hei jangan mengabaikanku"ucap ino kesal melihat pria itu kembali tertidur.
"kau berisik sekali"omel pria itu menyunggingkan senyum manis meski matanya nampak mengantuk dan nampak aneh dimata ino, mana ada orang yanh bicara seperti itu dengan senyum manis tapi palsu diwajahnya.
"setidaknya jangan tidur disini, matahari sedang terik teriknya, kau akan terbakar disini"ucap ino memilih untuk duduk disamping pria itu.
"dan kau harusnya sekolah saat ini nona manis"ucap pria itu tetap mempertahankan senyuman diwajahnya.
"aku malas"ucap ino membuka botol air mineral yang dari tadi dibawanya dan meneguknya,udara siang ini begitu panas.
"jujur sekali"ucap pria itu menatap ino.
"kau mau? "tawar ino menyodorkan air mineral itu pada pria yang belum dikenalnya itu, tanpa menjawab pria itu menerima boto itu dan meneguknya, diam diam ino memperhatikannya.
surai hitam kelam dan kulit pucat yang nampak begitu kontras, dan juga tubuh tinggi yang dibalut setelan jas hitam rapi, ino mampu melihat bahwa lelaki itu jauh lebih tinggi darinya dan juga lebih tua, namun pria itu mempesona.
"arigatou"ucap pria itu mengembalikan botol itu pada ino.
"kenapa kau tidur disini paman? "tanya ino polos
"apa aku terlihat seperti pria berumur hingga kau panggil paman? "ucap pria itu
"begitulah"
"aku baru berumur 20 tahun dan dipanggil paman, betapa tragisnya aku"ucap pria itu tetap tersenyum ,entah kenapa ino mulai kesal melihat senyum pria itu.
"berhentilah tersenyum seperti itu"gerutu ino kesal.
"siapa namamu? "tanya pria itu
"ah kau benar aku belum memperkenalkan diri, yamanaka ino"ucap ino sedikit membungkukkan badannya.
"nama paman? "tanya ino setelah mengangkat kepalanya.
"a... "
beep beep
ucapan pria itu terpotong oleh suara ponsel ino yang berdering, membuat gadis itu mengecek pesan masuk di handphonenya, pria itu terus memperhatikan bagaimana raut ceria ino berubah setelah membaca pesan masuk itu.
"maaf paman, kurasa aku harus pergi, jaa ne"ucap ino membungkukkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan sosok pria itu.
.
.
.
"aaaaaaku bosaaannnn"rengek naruto diatas kasurnya, saat ini adalah waktu rapata dan barusan saja dia menyelesaikan seluruh pekerjaannya, mulai dari sini ia dapat menyerahkan keseluruhan berjalannya kerja sama kepada iruka, dia masih menyisakan tiga hari dari izin sekolahnya karna empat hari sebelumnya dia sudah berkerja 24 jam non stop karna dia memang merindukan pekerjaanya, workaholic sudah mengalir didalam darahnya, dan sekarang barulah terasa bahwa dia sangat merindukan kasur dan tidur panjang, namun dirinya juga tak mungkin hanya menghabiskan waktu senggangnya selama tiga hari dengan tidur, naruto butuh udara segar.
"hm tapi kalau jalan jalan sendirian pasti sepi sekali"gumam naruto menatap langit langit kamarnya.
"atau aku pulang lebih cepat saja dan pergi kerumah obaa san ya"naruto masih terus bergumam.
"hmm pilihan yang tepat, kurasa aku akan disini sampai lusa kemudian pulang kejepang"ucap naruto menyeringai senang.
'aku harus memberi hadia ruru nee chan karna sudah membantuku disini'
sementar itu ditempat lain iruka baru saja menyudahi rapat panjang dengan uchiha corp, benar benar rapat panjang yang melelahkan.
'kerja Bagus ruru sama'batin iruka penuh kebanggaan melihat hasil kerja keras naruto selama ini hingga berhasil menjadi tangan kanan minato sendiri
'ah tidak terasa gadis kecil yang kuurus suah besar saja'batin iruko terharu mengingat iruka sudah bersama naruto dari kecil.
"namikaze san"panggil seseorang menepuk pundak iruka, membuat lamunan iruka terpecah, iruka menolah mendapati perempuan berambut raven panjang berdiri di hadapannya.
"aku selalu mengira namikaze naru itu perempuan"ucap perempuan itu sambil tersenyum kecil, iruka ingat perempuan itu adalah perwakilan dari uchiha corp, uchiha itachi.
"ah kurasa anda salah orang, saya wakil namikaze sama"ucap iruka membungkuk meminta maaf.
"ah begitu,gomen kukira memang namikaze san, presentasi anda Bagus sekali "puji itachi.
"ini semua adalah hasil kerja keras dari namikaze sama"ucap iruka penuh kebanggaan
"tolong sampaikan terimakasih atas kerja samanya padanya"ucap itachi
"hai uchiha san arigatou"
.
.
.
sepi
pada dasarnya naruto sudah terbiasa. dengan sepi,minato sangatlah sibuk dan kurama juga tak pernah pulang membuat naruto lebih sering duduk sendiri di meja makan besar dan menghabiskan waktunya dengan mengerjakan pekerjaannya, seperti saat ini.
"ruru chan, mau makan ramen? "tanya iruka melihat naruto melenggang menuju ruang makan, membuat mata naruto berbinar senang mendengarnya, ketika naruto kecil dia sering kali makan ramen berduan dengan iruka sambil menonton TV diruang tengah manshion namikaze, kenangan manis dengan iruka itu membuat naruto sangat menyukai ramen.
"aku mau, tapi sayang kan bila makanan yang telah dibuat para maid jadi terbuang sia sia? "ucap naruto sedih karna harus menolak tawaran iruka yang sangat menggiurkan
"makan dua kali tidak membuatmu gemuk ruru chan"ucap iruka dengan senyumnya membuat naruto ikut tersenyum lebar.
"souka"
"bagaimana jika sambil main video game? aku punya beberapa yang kusimpan disini"ucap iruka membuat naruto berbinar begitu senang dan menerjang iruka.
"arigatou iruka nii chan~"ucap naruto senang, ah senangnya ada iruka disini
"hai hai ruru chan"ucap iruka mengusap kepala naruto dengan senyuman.
.
.
.
"aaaahhhhh aku kalah lagi"keluh naruto, padahal selama ini naruto selalu menang melawan kurama, namun ternyata dia tetap saja kalah dengan iruka, naruto melempar stik ps itu asal asalan kemudia. berbaring diatas karpet lembut diruang tengah itu.
"kau payah ruru chan"ledek iruka ikut berbaring disamping naruto, yang langsung mendapat hadiah lemparan bantal empuk yang langsung menabrak wajah iruka.
"urusai"gerutu naruto menepuk perutnya yang penuh dengan ramen.
"ini pasti karna aku kebanyakan makan, aku jadi tidak fokus "ucap naruto mengelak.
"bilang saja kau malu mengaku kalah padaku ruru chan"ucap iruka membuat naruto mendesis.
"bagaimana rapat tadi siang iruka nii?" tanya naruto
"lancar seperti biasa, kerja kerasmu selama ini terbayarkan ruru chan"puji iruka membuat senyum naruto mengambang bangga pada dirinya sendiri
"hehe aku hebat kannn"ucap naruto bangga dengan senyum lima jarinya.
"kudengar dari namikaze sama,ruru chan kembali masuk sma?"tanya iruka ragu menginta dia sudah sangat tau kebiasaan tuan besarnya yang sangat over protective pada putri bungsu keluarga besar itu.
"begitulah"ucap naruto malas,dia sudah lelah mendapati pertanyaan itu dari orang oranf terdekatnya.
.
.
.
disebuah rumah besar bernuansa Jepang yang sangat kental terlihat seorang wanita paruh baya yang dengan anggun menyesap teh hijau yang berada ditangannya.
"uzumaki sama yakin akan menyerahkan seluruh kelangsungan uzumaki corp kepada hime sama?"tanya nagato ragu ragu.
"kenapa?bukankah kau mendukungnya?"tanya mito terheran heran,ini adalah pertama kalinya nagato mempertanyakan keputusannya.
"tentu saja mito sama, hime sama adalah perempuan yang cerdas dan juga sangat berbakat, dia sangat pantas mewarisi ini semua"ucap nagato
"lalu kenapa kau mempertanyakannya?"tanya mito
"entahlah mito sama, apabila kita menyerahkan uzumaki corp pada hime sama, maka dia pasti harus keluar dari sekolahnya, sedangkan hime sama baru saja menikmati masa normalnya"jelas nagato membuat dahi mito berkerut.
"kau benar"ucap mito mengalihkan pandangannya menatap kolam ikan koi yang berada disisi bangunan besar itu.
"setidaknya berikan hime sama waktu untuk menikmati masa remajanya uzumaki sama"pinta nagato.
"yah kau benar, tapi aku juga tidak bisa memberi waktu yang panjang,manshion ini adalah milik naruto, dan akan segera kembali padanya "ucap mito tanpa menatap nagato.
bukannya mito ingin menghancurkan masa remaja normal naruto, namun dia takut akan usianya yang kian bertambah,mito takut tak bisa menyerahkan manshion penuh kenangan ini kepada pemilik semestinya, sebelum ada yang mengambil alih manshion yang penuh kenangan ini kepada orang yang salah.
kenangannya dengan Putrinya yang ada dirumah ini harus disimpan, rumah ini adalah kenangannya dan juga keluarganya, dan mito tidak buta dia dapat melihat orang orang yang mengincar uzumaki corp, setidaknya dia dapat mengandalkan cucunya, ditangan orang seperti cucunya pasti uzumaki corp akam terjamin dengan baik, dan kenangan itu akan terus terlindungi.
.
.
.
pria berparas pucat itu melajukan mobil sportnya membelah kota, ntah kenapa perasaannya tidak enak saat ini dan kenapa dirinya terus teringat dengan perubahan raut muka gadis yang tadi siang tidak sengaja ditemuinya, bagaimana raut yang awalnya begitu ceria itu berubah begitu suram, perasaanya tidak enak sekali tiap mengingat gadis itu, ino.
apa yang kulakukan disini, harusnya aku langsung kerumah dan tidur dan mengerjakan tugas tugas kantor yang menumpuk, kenapa saat ini aku justru mencari gadis itu, pikir pria itu.dirinya nyaris saja memutar balik kemudi mobilnya ketika melintasi taman yang tadi siang didatanginya jika tidak melihat gadis bemabut pirang yang diyakininya ino sedang duduk sendirian selarut ini. pria itu segera keluar dari mobilnya menghampiri sosok ino.
"yamanaka san? "panggil pria itu ragu ragu, namun mata hitam kelam itu terkejut ketika gadis itu mengangkat kepalanya.
"siapa yang melakukan ini? "tanya pria itu berjongkok didepan gadis itu, pipi gadis itu memerah nyaris membiru pria itu dapat menduga itu bekas pukulan
ino menggeleng menolak untuk menjawab namun gadis itu mulai terisak mau tak mau membuat pria yang terus tersenyum itu panik.
"kau kenapa masih diluar, ini sudah larut malam"ucap pria itu melirik jam tangannya, pukul sebelas malam lebih, namun ino tak menjawab dia sibuk mengelap air mata yang berusaha untuk keluar dari matanya.
"ayo kuantar pulang"ucap pria itu, merasa tak ada respon apapun dari gadis itu membuat pria itu mengambil inisiatif untuk menggendong ino, namun ino tak menolak,dan saat itu pria itu melihat kaki gadis itu terluka cukup lebar membuat pria itu menggeram pelan karna marah.
ino tak tau bagaimana dirinya bisa berada di dalam mobil pria yang tadi siang bersamanya atau bagaimana bisa pria itu menemukannya.
"daijobu? "tanya pria itu tanpa menoleh pada ino, namun gadis itu tak menjawab
"rumahmu dimana? "tanya pria itu.
"jangan antar aku kerumah"ucap ino, membuat pria itu mengangkat alisnya heran.
"aku tak mau pulang dalam keadaan begini, okaa san akan khawatir "ucap ino.
"lalu kita akan kemana? "tanya pris itu mengangkat alisnya.
"antarkan aku kemari"ucap ino menunjukan gambar bangunn apartemen naruto pada pria itu.
"apartemen siapa itu? "tanya pria itu.
"temanku, tapi dia sedang diluar negeri dan hanya ada kakaknya"
"baiklah"ucap pria itu membelokkan kemudi menuju apartemen yang ditunjukkan ino, dia tau bangunan itu dngan jelas.
dan disinilah mereka sekarang menaiki tangga dengan ini dalam gendongan pria itu,setelah ino mengatakan bahwa kamar naruto ada dilantai atas.
"paman siapa namamu? "tanya ino ketika menyadari bahwa dari tadi dia tak tahu nama pria itu.
"sai"ucap pria itu kembali dengan senyuman manis yang jarang luntur itu.
"ah sai"gumam ino sedikit gugup mendapati bahwa dia dipaksa berada didalam gendongan ala bridal style oleh sai ketika dia nekat untuk berjalan sendiri meski kakinya sakit.
"kita sudah sampai"ucap sai
"turunkan aku"ucap ino merajuk, dia tak mau kedapatan berada dalam gendongan seorang pria
"tidak,kau tidak bisa berjalan"ucap sai menolak
"itu hanya luka kecil"rajuk ino mulai menarik narik jas sai
"kakimu itu lemah, kau saja tak bisa berjalan "ucap sai dengan santai memencet bel di depan apartemen itu.
"siapa yang kau bilang lemah hah? "ucap ino tak teria dengan ucapan sai, matanya melotot marah saat ini memandang sai yang bahkan tidak menatapnya
"siapa yang ribut ribut didepan pintu tengah malam hah? "sebuah suara membuat ink terkejut, tak perlu menoleh pun ino tau ini suara kurama, secara reflek gadis itu menutui wajahya yang berada di gendongan sai, ini akan sangat memalukan, pikir ino.
"aku mengantan nona manis ini"ucap sai dengan senyum manis yang membuat kurama sedikit merinding melihatnya, kurama menoleh melihat gadis yang tengah menyembunyikan wajahnya.
'ah ino'
"apa matamu bemasalah tuan? bagaimana bisa kau bilang dia manis"ucap kurama menarik sudut bibirnya berniat sedikit usil disana.
"aku ini cantik tau"ucap ino reflek berteriak pada kurama.
"ah kurasa mata anda bermasalah, bagaimana dia bisa jadi jelek dimatamu?mau kuantar kedokter mata?"ucap sai tidak menyingkirkan senyum manisnya membuat dahi kurama berkedut.
"kurasa matamu pasti sudah tak ada, dia tak ada manisnya sama sekali "ucap kurama mulai sebal pada pria di depannya.
"ah sayang mataku masih ada ditempatnya"ucap sai membuat kurama kian kesal, mendengar percakapan dua pria itu mau tak mau membuat ino tertawa, baru kali ini ada yang berani mengatakan hal semacam itu pada kurama.
"bawa dia masuk"ucap kurama kesal kembali masuk kedalam apartemen itu diikuti oleh sai dan ino.
"taruh dia dikamar itu, ini kotak p3k nya, aku mau tidur karna sudah malam jadi kau yang mengurusnya"ucap kurama kesal membanting pintu kamarnya.
"wah kakakmu pasti pms"ucap sai dengan senyum manisnya,menurunkan ino diatas kasur naruto.
"dia bukan kakakku tapi kakak temanku"ucap ino memutar bola matanya.
"kau kenapa bisa seperti ini? "ucap sai mulai mengeluarkan isi kotak p3k yang diantarkan kurama tadi.
"bukan urusanmu "ucap ino cemberut, dirinya tidak mood untuk membicarakan hal itu.
"kau kenapa bisa diluar larut malam begitu? "tanya ino.
"ntah aku juga tak tau"ucap sai tersenyum tetap fokus pada luka luka ino, membuat ino bingung namun dirinya memilih tidak bertanya dan membiarkan keheningan nenyeruak.
"kau mau langsung pulang?"tanya ino ketika sai selesai mengobatinya.
"aku ada urusan setelah ini"ucap sai bengkit dari duduknya.
"ah souka,jaa ne"ucap ini ketika melihat sai menutup pintu perlahan. sepeninggal pria itu ino menarik selimut hingga lehernya dan jatuh terlelap.
.
.
.
TBC
to be continue
ahah maaf ya author ini sangat lah mageran bahkan sekedar untuk mengetik:((
terimakasih pada yang sudah review yaa, author sangat senang klo ada yang ngereview:))#namanyajuganewbie
sejujurnya author menulis ini dengan rasa aneh
*tulis*
*membatin*
*ini kenapa jadi naruto semua*
*tambahin apa ya*
*tulis tulis*
*jadi ino semua*
*T_T*
*author menyerah*
tapi tenang author sudah punya ending donk buat cerita ini.
jadi jangan lupa untuk review ya, biar author semangat hehheh
with love
ami chan
