Disclaimer: Naruto and all of its characters belong to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

.

.

.


3 + 1 = 7

Oleh LuthCi


Dia bisa mengatakan bahwa dia mengerti. Seorang Uzumaki Naruto sangat mengerti konsekuensi dari keputusan sang mantan guru. Keputusan untuk Sasuke tetap berada di desa ini dengan hukuman yang sebenarnya bukanlah hukuman. Mungkin, jika Sasuke adalah tokoh jahat lainnya, pasti ia akan sangat bahagia dengan hukuman ini. Tapi, ini adalah Sasuke, yang berarti ia akan sangat membenci hukuman ini dan mungkin memilih untuk mati dibanding menjalani hal ini.

Naruto termenung dalam, mendongak melihat langit dari bawah teduhan pohon yang cukup besar di halaman. Menunggu waktu sampai sore terdengar sebentar, namun untuknya pada hari ini, detik terasa bagaikan jam, apalagi menunggu sore, terdengar masih sangat lama dibanding biasa. Tetapi Naruto masih termenung, masih mendongak menatap langit sembari berpikir penuh akan apa yang harus ia lakukan dan bagaimana ia harus bersikap.

Karena Sasuke adalah sahabatnya, yang berarti sudah seharusnya Naruto terus ada di sampingnya.

.

.


Hatake Kakashi termenung dalam. Ia terus memikirkan apa yang harus ia katakan–tepatnya bagaimana cara ia menyampaikan–mengenai hukuman untuk Sasuke.

Menjadi guru dari Uchiha Sasuke tentu sangatlah melelahkan. Fisik, raga, terutama jiwa. Memikirkan bagaimana dia hidup selama ini membuat jantungnya berdegup. Takut, sangat takut, jika apa yang selama ini Sasuke lakukan tanpa sepengetahuannya ternyata jauh lebih buruk dari dugaan sehingga membuat jiwa Sasuke kotor, bahkan berkerak hitam dengan begitu tebal. Yang ia takutkan adalah Sasuke terjebak terlalu dalam di lubang hitam yang selalu ia agungkan. Katakan itu dendam, katakan itu sesuatu yang harus (dan memang selama ini) ia perjuangkan. Yang ia tahu, Sasuke adalah muridnya yang sesungguhnya paling polos dan lugu. Karena memang Sasuke adalah anak malang yang dunianya direbut paksa dalam waktu satu malam. Ia telah mencoba memahami itu, tapi tetap saja, tidak bisa.

Semua yang Sasuke lakukan masih terlihat salah di matanya walaupun telah ia paparkan semua alasannya. Karena itu, Kakashi masih terus menerus merenung, memikirkan cara agar ia dapat menyampaikan hal yang ingin ia sampaikan tanpa harus dengan cara gamblang.

Bagaimana pun caranya, Kakashi harus dapat mengatakan hal ini sore nanti, agar mereka (terutama Sasuke) cepat mengerti.

.

.


"Sakura!" panggil Tsunade pada Sakura yang kini berjalan di lorong rumah sakit dengan papan jalan di dekapan.

"Ah? Ada apa Shisou?" Sakura menghentikan langkahnya sebelum menjawab. Ia terdiam untuk masih menunggu Tsunade yang kini berlari-lari kecil mengejarnya.

Tsunade berhenti tepat di hadapan Sakura, "Sudahkah Kakashi katakan padamu mengenai keputusanku untuk menjodohkanmu dengan Gaara?"

Ah, masalah ini. Sakura merasa sedang tidak ingin membahas hal ini. Setidaknya tidak hari ini, di mana seluruh pikirannya tersita pada Sasuke yang akan mendengar hukumannya sore nanti. Karena hatinya terlalu khawatir akan tidak kuat saat mendengar penolakan dari mulut si bungsu Uchiha, walau ia telah mendengar ratusan penolakan darinya, namun hal itu belum cukup membuatnya kuat dan kebal dengan penolakan lainnya.

"Sudah, kemarin Kakashi-sensei sudah memberitahuku hal ini. Memangnya Gaara-san sudah setuju?"

—Sakura diam-diam mengharapkan jawaban tidak dari Tsunade agar perjodohan ini akan dibatalkan.

"Ia setuju." Tsunade menatap Sakura dengan ketus dan alis terangkat. "Memang bukan Gaara yang menyetujuinya secara langsung, tetapi para petua Suna menyetujui hal ini karena kubilang kau muridku, dan dulu juga kau sempat ke Suna untuk menolong mereka saat mereka diserang Akatsuki, bukan? Jangan bilang kau kini menyesal atas perjodohan ini."

Sakura terdiam dan mencoba tenang, "maksudmu?"

"Ayolah, Sakura. Kau muridku, aku tahu betul ekspresimu. Kau kini sudah mulai menyesalkan rencana perjodohan ini, bukan?"

Sakura masih terdiam.

"Kalau kau menyesali ini karena pemuda Uchiha itu, berpikirlah dua kali—tidak, bahkan sepuluh kali." Tsunade menolakkan kedua tangannya di pinggang. "Jelas mereka berbeda. Gaara mungkin dulu hitam, namun kini ia putih, sedangkan pemuda Uchiha itu adalah kebalikannya, ia membuang segalanya."

Sakura menunduk dalam, kata-kata dari sang guru terngiang di kepalanya. Seolah berputar cepat di dalam kepala, melekat dengan begitu erat pada setiap sisi yang ada.

"—ia membuang segalanya."

Sakura kembali mendalamkan tundukkan kepalanya. Ia peluk papan jalan dengan lebih erat, sekaligus mengeraskan genggamannya pada papan jalan dipelukan. Menarik napas panjang, Sakura berusaha menenangkan dirinya.

"Aku mengerti, Shisou," ujar Sakura yang mengetahui betul apa yang gurunya katakan adalah kenyataan yang memang harus ia hadapi. Dengan ini, ia menerima keputusan perjodohan yang ditentukan oleh sang guru dan para tetua Konoha.

.

.

...tidak apa, bukan? Bukankah kau memang tak pernah menerima ikatan yang selalu aku tawarkan, Sasuke-kun?

.

.


Ketika Haruno Sakura bersamaan dengan Hatake Kakashi masuk ke dalam ruang perawatan Sasuke, Tsunade beserta Naruto telah berada di sana. Tsunade dengan tangan melipat di dada, menatap sang Uchiha dengan satu alis terangkat menantang. Sedangkan Naruto, ia kini tengah duduk di jendela yang terbuka, pandangannya terlihat menerawang dan cenderung linglung. Hati Sakura merasa miris melihat Naruto yang tampak linglung, karena sepertinya, bukan hanya dirinya yang takut untuk mendengar penolakan dari Sasuke, bahkan walau penolakannya tidak akan mengubah apa pun.

Sasuke duduk dengan tegak di ranjangnya, matanya tertutup rapat, selimut putih khas rumah sakit menutupi tubuhnya dari kaki hingga pinggang. Bahkan ketika penglihatan dari kedua bola mata yang kini tertutup itu telah menghilang pun sisi arogan darinya masih menguar dengan sangat kental.

Sakura memilih untuk menjaga jarak dari Sasuke, karena itu ia berhenti tiga langkah dari pintu, yang berarti lima langkah dari Sasuke berada. Namun, berbeda dengan Sakura, Kakashi memilih untuk berdiri tepat di hadapan ranjang Sasuke. Mungkin karena menurutnya hal ini perlu disampaikan dengan sebuah pendekatan, walau kini lawan bicaranya adalah Sasuke sekalipun.

"Nah, nah, dengan semuanya sudah berkumpul, jadi mari kita bicarakan mengenai hukumanmu, Sasuke." Kakashi tersenyum, matanya menyipit dengan sendirinya.

Naruto dapat mengatakan Kakashi kini tengah berusaha menata betul perasaannya. Naruto dapat dengan jelas melihatnya, cara bagaimana kini Kakashi menyembunyikan kepalan tangan di dalam kantung celananya. Ia pun sangat mengerti bahwa Kakashi benar-benar telah memutuskan hal ini dan hal ini memang seharusnya disampaikan olehnya sendiri, tidak bisa diwakilkan. Dengan kebebalan Naruto yang sering menjadi bahan olok-olokan pun, Naruto mengerti bahwa penyampaian yang langsung dan tidak dapat diwakilkan oleh siapa pun ini mungkin hanyalah salah satu alasan seorang mantan guru yang sangat ingin murid-muridnya yang dulu dapat berkumpul di satu ruangan bersamaan—atau bahkan mungkin, alasan ini hanyalah suatu keegoisan seorang guru yang sangat ingin berbicara pada muridnya, Sasuke, yang akan Sasuke dengarkan dengan baik, walaupun ini adalah sebuah hukuman, karena mungkin, kalau hanya sebuah dialog biasa tidak akan didengarkan oleh Sasuke, (mantan) muridnya.

Naruto tidak dapat memutuskan dengan pasti, ia hanya dapat mereka-reka apa yang ada di pikiran Kakashi. Namun, yang Naruto yakini adalah saat ini, entah dirinya, Kakashi, apalagi Sakura, sedang berharap penuh untuk tidak mendengar penolakan lainnya dari seorang Uchiha Sasuke.

"Jadi, Uchiha Sasuke, hukuman atas pengkhianatanmu pada Konoha dan segala kejahatan atas Konoha yang telah kau lakukan adalah—"

Tsunade, Naruto, dan Sakura menatap Sasuke lekat-lekat, ingin mengetahui setiap detil pergerakan Sasuke kala mendengar hukuman dari Kakashi.

"—tetap di sini, di Konoha."

Kakashi mengakhiri ucapannya dengan nada berhati-hati yang dipaksa untuk terdengar tenang dan santai. Matanya lurus menatap Sasuke yang ada lurus di hadapannya.

"Cih." Sasuke menyeringai ketus. "Apa-apaan ini." Sasuke menghilangkan seringai di bibirnya seketika. "Hukuman sampah."

Kakashi tersenyum mendengar penuturan Sasuke, lalu melanjutkan penjelasannya. "Kau akan tetap berada di Konoha, tidak diperkenankan selangkah pun keluar dari wilayah Konoha kecuali atas izin langsung dariku."

Sasuke menutup mulut rapat, membuka telinga untuk mendengarkan detail hukuman atas dirinya lebih jauh.

"Kau akan menetap di rumahmu, berhubung rumahmu adalah satu-satunya rumah yang paling besar dan cukup untuk ditinggali bertiga dan—"

"—tunggu," potong Sasuke kala Kakashi tengah menjelaskan. "Apa kau bergurau?"

Kakashi mengeluarkan kedua tangannya dari kantung celana, lalu melipat kedua tangannya di depan dada seraya tersenyum. "Aku tidak sedang bergurau, Sasuke. Kau akan tinggal bertiga dengan Naruto dan Sakura. Sakura akan mengobati matamu dan mengontrol perkembangannya setiap hari, sedangkan Naruto akan menjaga kalau-kalau kau berbuat macam-macam nantinya, dan tentu saja itu berarti kau dan Naruto akan tidur dalam satu kamar, menyenangkan bukan?"

Kedua alis Sasuke saling terkait, "Apa kau gila?"

Kakashi tertawa halus. "Tentu saja aku masih waras sepenuhnya. Kalau kau tidak tidur bersama Naruto, nanti kau bisa me—"

"—kau Hokage, bukan?" potong Sasuke sebelum Kakashi melanjutkan ucapannya. Kakashi bernalar bahwa yang dimaksudkan oleh gila yang Sasuke ucapkan bukanlah mengenai keputusan tinggal bertiga dengan Naruto dan Sakura, melainkan mengenai keputusan ini yang ia ambil dengan statusnya sebagai Hokage. Kakashi pun mengerti ketidakobjektifan hukuman ini.

"Memberikan hukuman seperti ini bukankah akan—" Sasuke menghentikan perkataannya, "lupakan." Tak perlu dilanjutkan hingga selesai, Kakashi tahu benar bahwa Sasuke penasaran akan alasannya.

Tsunade menatap Sasuke heran. Ia telah salah menduga. Ia pikir Sasuke akan protes mengenai hukuman rumah yang harus ia tinggali bertiga, belum lagi satu kamar dengan Naruto, hal itu pasti adalah sesuatu yang mengusiknya. Namun, apa yang ia pikirkan ternyata salah karena pada kenyataannya Sasuke justru lebih tertarik membahas citra Kakashi di mata rakyat desa (ya, bahkan Tsunade pun tahu apa yang akan Sasuke katakan jika ia tidak menghentikan ucapannya secara tiba-tiba). Lalu, yang membuat Tsunade tertarik adalah bagaimana mungkin seorang Uchiha Sasuke—

peduli?

Kakashi tersenyum dengan begitu tulus. Kedua tangannya memegang besi pinggir ranjang Sasuke yang terletak dekat dengan tempatnya berdiri. "Bukankah itu sudah jelas, Sasuke—

.

.

—karena kau selamanya adalah anakku."

.

.


Angin sore berhembus begitu menenangkan. Beberapa dari angin-angin tersebut membentuk kelompok kecil yang berkomplot untuk menyelinap dari sela-sela jendela ruang pasien yang tidak tertutup rapat. Sekelompok angin yang telah masuk tersebut kemudian menyaksikan keberadaan dua manusia di sana, seorang wanita behelaikan rambut merah muda dan pria berambut hitam kebiruan yang duduk di pembaringannya.

Uchiha Sasuke masih diam di tempatnya, tidak bergerak, tidak pula berargumen. Yang ia tahu semua orang kini telah meninggalkan ruangannya, kecuali Haruno Sakura. Sasuke memutuskan untuk tetap diam, tidak ingin membuka mulut atau pembicaraan, enggan bertanya, ia hanya ingin diam saja.

Di sisi sana, tepat tiga langkah dari ambang pintu dan lima langkah dari sang pemuda, Haruno Sakura menunduk seraya mengeratkan pegangan pada papan jalan di pelukan.

"Terima kasih, Sasuke-kun."

Sakura mengerti bahwa bukan lagi waktunya untuk memanggil Sasuke dengan sebuah suffix yang tidak lagi pantas untuk ia tambahkan. Karena kini mereka telah dewasa, dan jarak mereka pun telah berbeda dari sebelumnya. Namun, untuk kali ini, Sakura merasa ia perlu untuk menambahkan suffix tersebut pada nama sang Uchiha.

Sakura menarik napas dalam-dalam seraya mendalamkan tundukkan.

Sakura sangat tahu bahwa Sasuke mengerti atas apa ia berterima kasih, tetapi entah mengapa, Sakura masih merasa perlu untuk menjelaskan apa yang ia terima kasihkan.

"Terima kasih karena memilih untuk diam, padahal kau memiliki kesempatan yang begitu besar untuk menghancurkan hati Kakashi-sensei tadi kalau kau mementahkan ucapannya."

"—karena kau selamanya adalah anakku."

Ucapan Kakashi masih terngiang di telinga Sakura. Sakura menyadari bahwa Kakashi mempertaruhkan segalanya di kalimat itu. Sakura amat sangat menyadari bahwa benteng yang selama ini Kakashi bangun dan selalu Kakashi coba untuk tunjukkan pada dunia bahwa benteng itu kokoh akan runtuh begitu saja jika Sasuke membantah kalimatnya. Tak perlu membantah, Sasuke tertawa atas kalimat itu pun cukup membuat pertahanan Kakashi runtuh dan bisa membuatnya gila detik itu juga. Karena itu, Sakura sangat berterima kasih atas keputusan Sasuke untuk diam dan tidak mengatakan bahkan berekspresi apa pun.

Namun, hanya seorang Sasuke sendirilah yang tahu bahwa ia mengiyakan dalam hati. Karena Sasuke tahu bahwa Kakashi adalah sosok guru yang dulu ia begitu kagumi, yang kini sudah mulai menua karena ia sendiri pun kini sudah mulai dewasa.

"Hn," gumam Sasuke sebagai jawaban atas ucapan terima kasih Sakura.

Sakura merasa hatinya lega luar biasa saat mendengar jawaban Sasuke, walaupun jawaban itu hanyalah sebuah gumaman yang ia tidak berani untuk terlalu banyak mengartikan. Sakura memberanikan diri untuk menatap Sasuke. Bibirnya tanpa sadar membentuk senyuman yang sudah lama tidak ia lakukan dengan begitu tenang.

Sakura hampir melupakan bagaimana sebuah gumaman kecil dari Sasuke dapat memutar balikkan kondisi hatinya dan dunianya. Namun kini, ia diingatkan kembali, bahwa gumaman dari Sasuke memang selalu berarti banyak hal untuknya (bahkan walau ia tidak berani untuk mengartikan sekalipun).

"Aku permisi," ucap Sakura dengan langkah ringan meninggalkan Sasuke dengan sekelompok kecil angin yang tengah sibuk memainkan helaian rambut hitamnya.

.

Yang Sakura tahu, mungkin, Sasuke belum benar-benar membuang segalanya.

Bahkan mungkin, walau ia tidak berani berharap terlalu jauh, masih ada harapan untuk mereka, tim tujuh, untuk kembali seperti sedia kala.

.

...bukankah itu akan menjadi indah, Sasuke-kun?

.

.


Bersambung.

Mampus aye mabok. Banyak banget kalimat panjang yang gak bisa saya cut. Ya udah lah yaaa, adakah yang mau kasih pendapat? Makacii.

Review?

[story only: 2001 words]