Semilir angin yang menerpa membuat Melody mengerjapkan kedua matanya. Cahaya kemerahan di ufuk barat menyambutnya saat kedua bola mata berwarna abu-abu itu terbuka. Gerakan kecil yang dilakukan membuat dirinya mengerang kesakitan. Ia merasa seluruh tulang di tubuhnya patah.
Perlahan gadis itu mulai duduk dan mengedarkan pandangannya k sekeliling. Keningnya berkerut saat melihat keadaan sekitar. Ya ia berada di pinggir Danau Hitam, namun keadaan di sekitar terlihat damai dan tentram. Tidak terlihat tanda-tanda bekas peperangan hebat yang terjadi di Hogwart dan sekitarnya. Kastil masih berdiri tegak di depan sana, tidak ada kerusakan sedikit pun.
Dengan sedikit terseok Melody memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan menuju ke dalam kastil. Keningnya semakin berkerut saat melihat kondisi di dalam kastil yang baik-baik saja. Erangan kecil kerap keluar dari bibir gadis itu. Hingga ia bertabrakan dengan seseorang yang semakin membuatnya mengerang kesakitan karena luka-lukanya.
"Kau tidak apa-apa?" Sebuah suara maskulin masuk ke dalam indera pendengaran Melody. Pria itu membantu Melody berdiri dan mulai mengamati gadis yang ada di hadapannya. Penampilannya benar-benar kacau, rambut panjangnya yang berwarna hitam berantakan. Terdapat luka goresa kecil di pipi kanannya. Belum lagi jubah dan kemejanya yang sobek.
Sedangkan Melody yang menyadari siapa orang yang membantunya langsung terdiam kaku. Tom Riddle. Nama itulah yang langsung terlintas di dalam kepalanya. Bagaimana bisa ia berada di jaman Voldemort muda? Astaga, kepala gadis itu terasa berputar saat mengetahuinya.
"Kau bukan siswa sekolah ini, kan?" Suara maskulin itu menyadarkan Melody dari lamunannya. Namun Melody hanya terdiam sambil memandangi pemuda yang ada dihadapannya kini.
"Aku... bisakah kau mengantarkan aku ke ruangan Prof. Dumbledore?"
"Hah... apa? Oh baiklah." Tom nama pemuda itu tersadar dari keterpukauannya saat melihat keindahan yang berada di hadapannya itu. Gadis dengan surai hitam legam namun memiliki bola mata berwarna abu-abu dengan warna biru es di sekitarnya itu terlihat begitu indah dan unik. Baru kali ini Tom melihat perpaduan yang indah seperti itu.
"Jadi bisakah kau mengantarku?" Suara datar gadis dihadapannya itu membuat Tom tersadar.
"Ah, baiklah. Ikuti aku." Ucap Tom setelah mendapatkan kembali kontrol dirinya yang tadi sempat kacau.
Mereka berjalan beriringan, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari keduanya. Baik Tom maupun Melody sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Tom mengeluarkan suaranya tidak tahan melihat kondisi gadis cantik yanh baru di temuinya itu.
"Apa yang terjadi denganmu?"
"Apa yang terjadi denganku bukan urusanmu." Sikap dingin dan tidak bersahabat yang ditunjukan oleh gadis itu membuat Tom bingung.
"Ah, baiklah kalau kau tidak ingin mengatakannya. Lalu apa hubunganmu dengan Prof. Dumbledore?"
"Sudah kubilang bukan urusanmu, aku hanya minta tolong untuk mengantarkan ke ruangan Prof. Dumbledore saja. Jika kau keberatan aku akan mencarinya sendiri." Melody berkata tanpa melihat pemuda di sampingnya itu sedikit pun. Bahkam kini Melody berjalan mendahului.
Tom mengepalkan kedua tangannya. Perasaan amarah dalam dirinya mulai terbangun membuat sihir dalam tubuhnya menguar liar. Namun gadis yang tengah berjalan dengan terpincang di hadapannya tidak terpengaruh sedikit pun. Padahal para pengikutnya bisa merasakan kekuatan sihir yang keluar jika ia marah.
Setelah mendapatkan kembali ketenangannya Tom segera menyusul gadis misterius yang sialannya begitu cantik itu. Saat mengetahui Tom berhasil mengejarnya gadis itu hanya melirik dengan tatapan datar dan memusatkan kembali pandangannya lurus ke depan.
Tom menggeram rendah. Lagi-lagi gadis itu mengacuhkannya dan bahkan menganggapnya tidak ada. Di saat seluruh anak perempuan di Hogwart berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya tapi gadis ini menunjukkan sikap yang sebaliknya. Bahkan Tom sempat melihat kilatan api kemarahan dan kebencian di mata gadis itu saat menatapnya.
"Kita sudah sampai." Tom memecah keheningan. Ia kemudian mengetuk pintuk, beberapa saat kemudian Prof. Dumbledore keluar dari ruangannya.
"Ah Mr. Riddle ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf Prof. saya mengantarkan tamu untuk anda." Jelas Tom berusaha bersikap sopan meskipun kemarahan selalu menguasainya setiap kali bertemu dengan guru transfigurasi ini.
"Ah terim kasih kalau begitu. Dan Miss..."
"Melody Delacour, Sir." Jawab Meldoy cepat.
"Baiklah mari masuk Miss Delacour." Melody langsung masuk ke ruangan Prof. Dumbledore.
"Terima kasih atas bantuannya Mr. Riddle selamat malam." Prof. Dumbledore langsung masuk ke ruangannya dan menutup pintu. Meninggalkan Tom yang kini tengah dikuasai oleh rasa penasaran yang begitu tinggi. Namun akhirnya ia memutuskan untuk kembali melanjutkan tugas patrolinya.
"Ah baiklah Miss Delacour apa yang bisa saya bantu?" Tanya Prof. Dumbledore sambil menghidangkan secangkir teh di hadapan Melody.
"Saya minta tolong kepada anda agar mengembalikan saya jaman tempat saya berasal."
"Jaman tempatmu berasal?" Kedua mata Prof. Dumbledore naik dengan penuh antusias.
"Iya Prof. saya bukan berasal dari jaman ini. Saya terlempar ke jaman ini setelah mematahkan tongkat Elder." Jelas Melody.
"Tongkat Elder? Bagaimana bisa?"
Melody mengeluarkan tongkatnya kemudian menempelkan ujung tongkat tersebut ke pelipisnya. Sebuah cahaya putih berbentuk gelembung keluar dari pelipisnya. Gelembung tersebut memeperlihatkan gambaran dari memori yang ada di dalam kepala Melody. Salah satu bakat alamiah yang dimiliki Melody dan Prof. Dumblerdore di buat takjub.
"Merlin, ini benar-benar mengagumkan dan... Aku tidak tahu bahwa ada bakat seperti ini. Stop, hentikan aku tidak mau melihat lagi apa yang terjadi di masa depan lebih jauh." Mendengar itu Melody langsung mengibaskan tongkatnya ke arah gelembung kenangan itu.
"Jadi Miss Delacour apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Sir, bisakah aku melanjutkan pendidikanku di sini? Maksudku, sambil anda mencari cara saya bisa menghabiskan waktu saya dengan belajar disini."
"Baiklah kalau begitu, aku akan membantumu untuk masuk ke Hogwart kembali. Kita harus membuat skenario agar Armando bisa menerimamu di sekolah ini." Prof. Dumbledore terlihat berpikir cerita apa yang akan di katakannya kepada sang kepala sekolah. "Ah bagaimana jika kau menjadi kerabat dekatku yang tinggal di Perancis. Namun karena keadaan di sana yang tengah perang kau terpaksa pindah ke Hogwart."
"Baiklah Prof. Saya setuju dengan anda."
"Ayo kita ke ruangan Armando dan setelah itu kau harus segera ke Hospital Wings untuk mengobati luka-luka itu." Ada tatapan khawatir di mata Prof. Favorit saudari kembarnya itu saat melihat rembesan darah di kemeja putih yang dipakai oleh Melody.
Di ruangan Kepala Sekolah Prof. Dumbledore langsung menceritakan kondisi Melody kepadanya. Untung saja Prof. Dippet percaya dan menerima Melody untuk melanjutkan pendidikannya di Hogwart di tingkat enam.
"Tapi kau harus mengikuti test dan seleksi besok pagi Miss Delacour." Ucap Prof. Dippet.
"Saya bisa mengerjakan test itu saat ini juga Prof."
"Apa kau yakin bisa mengerjakannya dengan kondisi yang seperti ini?"
"Saya bisa mengerjakannya." Melody tersenyum meyakinkan.
Maka dengan di awasi oleh kedua Prof. itu Melody mulai mengerjakan test dari 13 mata pelajaran yang ada di Hogwart. Sama dengan di masa depan jika Hermione hanya mengambil 11 mata pelajaran sedangkan Melody mengambil semua mata pelajaran. Maka tak heran jika Melody menjadi siswa terbaik di Hogwart di ikuti oleh saudari kembarnya di peringkat kedua.
"Saya sudah menyelesaikan semuanya, Prof."
"Baiklah Miss Delacour kami akan memberikan hasilnya besok pagi." Ucap Prof. Dippet.
"Sebaiknya kau segera pergi ke Hospital Wings untuk mengobati luka-luka itu." Melody pamit dan segera pergi menuju ke Hospital Wings.
Sepanjang lorong Melody hanya melamun. Teringat saat-saat ia tengah bersama saudari dan para sahabatnya. Bahkan kenangan saat ia bersama Draco pun muncul begitu saja. Tanpa sadar air matanya menetes.
"Apa yang kau lakukan disini Miss Delacour?"
"Aku akan ke Hospital Wings." Lagi-lagi Melody menjawab Tom dengan datar.
"Baiklah, kalau begitu biar aku temani sampai kesana." Melody tidak menjawab dan membiarkan Tom berjalan di sampingnya. Biarpun gadis di sampingnya hanya diam saja tapi Tom bisa merasakan bahwa gadis itu sedang menahan sakit. Maka tanpa banyak bicara Tom langsung melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan memapahnya. "Jangan salah sangka, aku hanya membantu. Tidak bermaksud kurang ajar." Tuturnya sebelum mendapatkan protesan tajam dari gadis itu.
Saat pertama kali menyentuh gadis itu, Tom seperti terkena sengatan listrik. Membuat perasaan yang tidak pernah ia rasakan dan ia tahu apa itu namanya. Perasaan yang menggelitik perutnya namun membuat perasaannya terasa hangat. Belum pernah ia merasakan ketertarikan yang seperti ini kepada lawan jenis. Namun gadis misterius ini bisa membangkitkan sesuatu yang tidak biasa dalam dirinya.
Sesampainya disana Madam Pomfrey langsung menyambut kedatangan Tom dan Melody.
"Tolong bantu Miss Delacour duduk di ranjang Mr. Riddle tadi Prof. Dumbledore sudah memberitahuku perihal kondisi kerabatnya." Setelah itu Madam Pomfrey menghilang untuk mengambil ramuan yang di butuhkan.
"Jadi kau memiliki hubungan dengan Prof. Dumbledore?" Tanya Tom yang berdiri di salah satu sisi ranjang.
"Ya, bisa dibilang seperti itu." Jawab Melody datar.
Madam Pomfrey kembali dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. "Oh dear, bagaimana bisa gadis cantik sepertimu terkena banyak sekali kutukan hitam seperti ini." Gumamnya sambil merapalkan mantra untuk menghilangkan luka dan efek dari sihir hitam. "Mr. Riddle sebaiknya kau kembali ke asramamu, karena aku harus memeriksa seluruh tubuh Miss Delacour dan kau tidak mungkin melihatnya bukan." Tom sempat merasakan rasa panas yang menjalari wajahnya namun ia segera menepisnya.
"Baiklah kalau begitu, semoga lekas sehat Miss Delacour." Usai berpamitan Tom langsung keluar dari Hospital Wing dan kembali ke asramanya.
Melody hanya bergumam tidak jelas saat Tom berpamitan kepadanya. Lamunannya terhenti saat Madam Pomfrey menyuruhnya meminum ramuan dan setelah itu tidur agar besok pagi semua luka-luka yang ada di tubuhnya menghilang.
Melody memandangi langit-langit Hospital Wing yang tidak berubah, sama seperti yang sering dilihatnya di jamannya. Pandangannya menerawang ke peristiwa yang baru saja terjadi. Kematian Hermione, Draco, Harry dan teman-temannya yang lain begitu menghancurkannya. Dan sekarang ia berada di jaman saat Voldemort masih muda. Ingin sekali rasanya ia langsung membunuh pemuda itu namun yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan tatapan tidak suka setiap kali Voldermort muda itu muncul. Tidak ada perasaan takut yang ada hanya perasaan marah dan benci. Namun kegelapan perlahan mengambil alih kesadarannya.
Keesokan harinya Melody terbangun dengan perasaan yang sedikit membaik. Tubuhnya sudah jauh lebih baik daripada kemarin. Luka-lukanya sudah tertutup hanya menyisakan bekas luka yang samar namun nyaris tidak terlihat. Disaat sedang termenung sambil dudu tiba-tiba Prof. Dumbledore dan Prof. Dippet masuk menemuninya.
Prof. Dumbledore membawa seragam, tas serta buku-buku pelajaran yang dibutuhkan oleh dirinya. Pantas saja Hermione begitu mengangumi Prof. yang satu ini.
"Selamat pagi Melody, bagaimana keadaanmu?" Tanya Prof. Dumbledore.
"Jauh lebih baik, Sir. Terima kasih."
"Aku kemari ingin memberikan hasil testmu kemarin Miss Delacour dan kau berhasil membuatku bedecak kagum. Kau mendapatkan nilai O untuk ketiga belas mata pelajaran. Benar-benar mengagumkan." Seru Prof. Dippet.
"Terima kasih banyak Prof. Dippet."
"Cepatlah ganti pakaianmu dengan seragam ini. Karena kita akan memperkenalkanmu saat sarapan." Perintah Prof. Dumbledore.
"Dan tentu saja melakukan penyeleksian untukmu Miss Delacour." Sambung Prof. Dippet sambil melangkah keluar di ikuti oleh Prof. Dumbledore. Sedangkan Melody langsung membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan seraman yang baru diberikan oleh Prof. Dumbledore.
Selanjutnya mereka bertiga berjalan menuju ke Aula Besar. Melody yang berjalan mengikuti Prof. Dumbledore langsung menjadi pusat perhatian seluruh siswa yang sudah memenuhi Aula Besar. Melihat itu Melody dengan sengaja mengangkat dagunya dan berjalan dengan penuh percaya diri. Melody memang senang menjadi pusat perhatian, karena ia yakin sekali memiliki hal yang membuat orang lain memperhatikannya.
Professor Dippet berdiri di atas podium untuk memperkenalkan Melody dan melakukan proses seleksi dengan Sorting Hat.
"Kau dari masa depan? Hmmm benar-benr menarik."
"Karena sebuah kecelakaan." Jawab Melody datar.
"Memiliki bakat unik dan pengetahuan yang luar biasa. Wow, aku baru melihat yang seperti ini. Aku sarankan kau masuk ke asrama Slytherin."
"Tidak, bisakah anda memasukan aku ke asrama Gryfindorr saja, please?"
"Ah sayang sekali padahal melihat apa yang ada di dalam dirimu Slytherin adalah yang terbaik. Tapi baiklah Gryfindorr." Teriak sang Sorting Hat.
Anak-anak asrama Gryfindorr bertepuk tangan dan menerima kehadiran Melody dengan suka cita. Setidaknya kali ini Melody tidak kembali masuk ke asrama lamanya, Slytherin. Kali ini ia memilih Gryfindorr karena ingin merasakan bagaimana rasanya berada di asrama yang di tempati oleh saudarinya.
"Hai selamat datang di Gryfindorr. Aku William Potter." Seorang pemuda bersurai coklat gelap dengan mata berwarna hijau meneduhkan. Ia benar-benar mirip dengan Harry hanya saja tanpa kacamata.
"Hai Will, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?" Melody kini sudah duduk di bangku kosonh yang sudah disediakan oleh William.
"Tentu saja Melody." Bahkan senyumannya pun sangat Harry.
"Dan aku Bill Weasley." Timpal pemuda besurai merah dengan bola mata berwarna biru. Dan dia benar-benar seperti Ron, jika Hermoine ada dia pasti akan berteriak heboh, gumamnya sedih.
"Aku Aldric Longbottom dan dia Louis Lupin." Astaga ada kakeknya Neville namun penampilannya lebih gagah dan tampan dan kakek dari Prof. Regulus Lupin. Aku gila.
Melody menyapa mereka semua dengan ramah. Hari pertamanya berjalan dengan baik, ternyata siswa Gryfindorr ramah tidak seperti Slytherin. Pantas saja Hermione begitu mencintai Gryfindorr.
