A/N : Kehabisan ide buat bikin judul chapter, udah lah peduli amat. Selamat membaca :D
Sudah tiga hari lamanya Lucy tidak masuk dan sudah tiga hari juga sepedaku belum ditemukan. Terpaksa aku meminjam sepeda ayah, karena terlalu banyak pikiran aku mengambil jalan yang salah. Seharusnya belok kiri tetapi aku belok kanan, akhirnya aku tersesat.
Benar-benar sial, pikirku. Sudah kehilangan sepeda tersesat pula, aku melihat sebuah rumah kecil yang sudah tak layak ditinggali. Dengan seksama aku memperhatikan rumah tersebut dan aku terkejut, dibelakang rumah tersebut ada sebuah sepeda berwarna biru. Tidak salah lagi, itu sepedaku! Tapi mengapa ada disini ya?
Karena penasaran, aku memutuskan untuk masuk kedalam rumah tersebut. Beberapa kali aku mengetuk pintu tapi tak ada yang membuka, karena pintunya tidak terkunci akupun masuk dan lalu menutup pintunya. Isi rumah tersebut cukup rapi, dari sebuah ruangan aku mencium aroma makanan yang sedang dimasak. Bau tersebut mengantarkanku ke sebuah dapur yang berantakan. Seorang wanita sedang memasak bubur, dia menggunakan seragam sekolah Fairy Tail. Aku sangat mengenalinyam ya…Aku tau dia siapa.
"Hai, Lucy" Sapaku menepuk pundaknya
"Gray?" Dia menengok kebelakang dan kini menatapku
"Kenapa belum berangkat?"
"Aku harus memasak bubur dulu supaya ayahku bisa makan"
"Ibumu mana?"
"Ibu sudah meninggal. Ayahku sakit keras dan sekarang ia terbaring lemas di ranjang"
Mendengar Lucy bercerita seperti itu, aku menjadi merasa bersalah karena menanyakan hal itu padanya. Selesai memasak Lucy menuangkan bubur tersebut ke mangkuk lalu membawanya ke kamar ayahnya. Aku sendiri mengikutinya dari belakang, melihat kondisi ayah Lucy yang seperi itu, aku hanya bisa merasa iba saja.
Dengan sabarnya Lucy menyuapi ayahnya perlahan-lahan, ketika ayahnya tersedak, Lucy menepuk-nepuk punggung ayahnya dengan pelan. Melihatnya kesulitan seperti itu aku meneteskan air mata.
"Gray? Kenapa kamu menangis?"
"Aku tidak menangis! Mataku kemasukan debu" Kataku sambil mengusap air mataku
"Jelas-jelas kamu menangis. Oh iya, sepedamu ada di halaman belakang rumahku, beberapa hari yang lalu kamu meninggalkannya bukan?"
"Ya, terima kasih"
"Bagaimana kau bisa ke rumahku?"
"Aku nyasar" Jawabku singkat
"Begitu ya…Bagaimana kalau sekarang kita berangkat ke sekolah bersama-sama?"
"Tentu" Ucapku sambil tersenyum
Kami berdua pergi ke halaman belakang, aku menaiki sepedaku sedangkan Lucy sendiri meminjam sepedaku. Ini pertama kalinya juga aku bersepeda bersama perempuan. Rasanya begitu menyenangkan, kami bersepeda dengan santai padahal kami sudah hampir terlambat.
Untungnya gerbang sekolah belum ditutup, aku dan Lucy berlari bersama menuju kelas dan sampai di kelas bersamaan. Semua orang yang melihat kami datang bersamaan nampaknya kaget, bahkan ada beberapa orang yang berbisik membicarakan kami berdua. Sialnya pelajaran pertama adalah matematika. Saat aku dan Lucy meminta maaf Pak Mystogan menatap kami berdua.
"Gray, Lucy karena kalian terlambat berdirilah diluar kelas sampai pelajaran saya berakhir. Lalu, saat pulang sekolah kalian harus membersihkan halaman sekolah. Mengerti?"
"Mengerti pak" Jawab kami kompal
Tanpa disuruh aku dan Lucy keluar dari kelas, kami berdua berdiri dan saling terdiam, karna lelah berdiri akupun duduk di lantai.
"Ternyata kita terlambat ya…"
"Karena aku kamu terlambat"
"Jangan selalu menyalahkan diri sendiri, tidak apa-apa kok"
"Benar kamu tidak mempermasalahkannya?"
"Ya…Lagipula aku ini tidak perhitungan orangnya"
"Gray? Kau tau? Aku senang bisa bersepeda berduaan denganmu tadi"
"Aku juga senang. Justru aku bersyukur karena terlambat, jika aku tidak salah ambil jalan tadi kita tidak mungkin kan bersepda berdua? Kapan-kapan kita lakukan lagi, kau mau kan?"
"Tentu saja aku mau"
Lucy menampakkan senyum bahagia. Syukurlah aku sudah bisa membuatnya tersenyum. Siang telah tiba, bel pulangpun berbunyi menandakan saatnya untuk pulang, ketika semuanya pulang aku dan Lucy menyapu halaman sekolah. Banyak sekali sampah disana, saat sedang asyik-asyiknya menyapu, ada seseorang yang membuang sampah botol plastik. Botol plastik itu menggelinding ke arah Lucy, sudah kuduga Jenny lah yang membuang sampah tersebut. Kalian tak perlu tau siapa dia, aku malas menceritakannya.
"Petugas kebersihan baru nih"
"Apa sih maumu?" Tanyaku malas
"Gray aku dengar kamu sekarang dekat dengan Lucy, itu bohong bukan?"
"Itu benar, kenapa? Kamu cemburu?"
"Tidak perlu marah seperti itu. Aku heran deh, kamu kok mau-maunya sih sama cewek miskin dan bau kayak dia? Kamu kan tampan dan pintar, mana cocok dengannya?"
"Terserah apa katamu, dan ingat Jenny! Lucy itu memang miskin tapi dia itu baik, dibandingkan kamu Lucy lebih baik darimu dan dia itu tidak bau!" Jawabku membela Lucy
"Hah? Lucy lebih baik dariku? Pliss deh…Otakmu beku ya Gray?" Ledeknya
"Hey Jenny! Jangan mentang-mentang kamu populer, pintar dan kamu itu anak orang kaya kamu boleh meledek Lucy! Dasar jelek!"
"Apa?! Kamu mengatai aku jelek?! Sepertinya Lucy sudah meracuni pikiranmu"
"Kamu ini bisa diam gak sih?!"
"Bagaimana aku bisa diam melihatmu bersama gadis miskin sepertinya?!"
"Kalian berdua. HENTIKAN!"
Spontan aku dan Jenny langsung terdiam setelah Lucy berteriak kearah kami, Lucy menghebuskan nafasnya lalu melanjutkan perkataannya.
"Jenny, aku minta maaf jika aku membuatmu cemburu, kamu benar aku tidak pantas dekat dengan Gray. Gray kamu jangan membelaku, aku tak pantas dibela olehmu"
"Bodoh! Untuk apa kamu minta maaf padanya? Harusnya dia yang minta maaf!"
"Gray!" Lucy menyuruhku untuk diam
"…."
"Baguslah, Lucy ingat perkaatnku jika kamu masih mendekati Gray, aku tidak akan mengampunimu" Jenny berkata sambil memegang dagu Lucy
"Baiklah…"
"Lucy jangan dengarkan dia!"
Jenny pergi meninggalkan kami berdua, ia nampaknya sangat senang karena sebentar lagi Lucy akan menjauhiku. Selesai menyapu Lucy keluar sekolah terlebih dahulu, aku sendiri mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba Lucy berhenti berjalan dan aku juga berhenti berjalan.
"Ada urusan apa kamu mengikutiku?"
"Kumohon jangan dengarkan perkataan Jenny"
"Tapi Gray dia benar, aku tidak pantas dekat denganmu"
"Untuk apa mempedulikan perkataannya! Lucy tatap wajahku"
"Kenapa aku harus menatap wajahmu lagi?" Lucy membalikkan badannya dan kini matanya menatapku
"Lucy, bagiku kamu itu berharga. Setiap orang memang berbeda, tapi perbedaan itu untuk dihargai bukan dicela. Aku tidak mempedulikan status sosialmu, jadi seharusnya kamu juga tidak perlu mempedulikan status sosialku"
"Maaf, aku tetap tidak bisa. Perkataanmu benar, tapi aku tak bisa…Lupakan saja aku. Sayonara Gray…"
PLAKKK! Aku menampar pipi Lucy hingga ia kesakitan. Ya ampun! Mengapa aku melakukannya? Lucy menangis karena ditampar olehku. Bodohnya dirku…
"Gomen Lucy, aku tidak sengaja"
"…."
"Kamu tidak mau dekat denganku karena ancaman Jenny. Iya kan?"
"Bukan karena acamannya! Aku memang seharusnya tidak dekat denganmu, dekat denganmu hanya akan membuatmu repot saja. Lagipula, sekarang aku membencimu!"
Giliran Lucy yang menampar pipi kananku, setelah menamparku Lucy berlari sambil menangis. Aku masih memegang pipiku, hatiku terasa sangat sakit. Apa aku akan kehilangan Lucy? Tuhan kumohon, aku tak ingin kehilangan Lucy, aku menyayanginya…
Bersambung…
A/N : Pengen cerita sedikit nih. Adegan yang pas Lucy dan Gray terlambat bersama itu beneran lho, tapi bukan author sih yang mengalaminya melainkan teman author, hukuman berdirinya juga beneran, tapi hukuman nyapu halaman sekolah itu tambahan hehehe…Riview please :v
