Previous Chap :

"Itachi, kuserahkan masalah ini padamu. Aku ada urusan." Ujarnya cepat. Lalu tanpa basa-basi lagi ia langsung keluar dari markas Akatsuki, meninggalkan semua temannya yang terheran-heran.

Saat pintu sudah tertutup, Tobi langsung khawatir sendiri. "Aduuh... kacamata Leader-sama masih ada di Tobi nih! Tobi takut dimarahiii...!"

"Lalu apa susahnya untuk kau mengejarnya, eh?" Tanya Sasori yang sedikit jengkel dengan nada suara annoying milik Tobi.

"Karena Tobi suka sama kacamatanya! Ahahaha~!" Sambil tertawa-tawa ia memakai kacamata Pein dengan seenaknya.

.

.

Normal POV

Hinata dibawa oleh tarikan Ino dan Tenten ke sesuatu tempat yang tidak terlalu jauh dari taman kota. Tapi, tentu saja harus nyempil, sepi, serta tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang.

Sesampainya di tujuan, mereka melepaskan kedua tangan Hinata dengan kasar. Sebisa mungkin Hinata membuat dirinya menjadi terduduk, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar.

Wajahnya memucat.

"A-Aku... di mana?" Tanyanya. Salah satu tangannya sibuk sendiri menghapus airmatanya yang terus mengalir karena kesakitan telah ditarik-tarik.

Karin yang mendengarnya langsung berdiri. Dengan gerak menyebalkan ia berjalan mendekat dan menaikkan salah satu sudut bibirnya.

"Hai, Hinata-chan! Bagaimana kabarmu? Kok nangis? Aku akan melindungimu!" Karin berbicara dengan Hinata menggunakan suara orang lain yang sengaja ia buat-buat.

Hinata terdiam, lalu Karin kembali melanjutkan.

"Apa teman barumu selalu berkata seperti itu padamu?"

Hinata mulai menunduk, ia tidak mengerti apa yang sedang dimaksud olehnya.

'Teman baru? Apa teman baru yang dimaksud Karin itu Pein?' Batin Hinata, karena teman satu-satunya di sekolah adalah Pein seorang.

Apa kedekatannya dengan Pein yang membuatnya seperti ini? Kenapa Karin dan lainnya tidak memperbolehkannya mempunyai teman satu pun?

Akhirnya Karin berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. Diambilnya dagu Hinata agar ia sedikit mengadah.

"Apa... dia akan ke sini untuk menolongmu?" Karin mendengus, lalu mengubah raut wajahnya menjadi seperti marah. "JANGAN BERHARAP YA!"

.

.

.

NERDS

"Nerds" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Pein Rikudou x Hinata Hyuuga]

Romance, Friendship, Drama

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

FOURTH. Orang Baik

.

.

Sesudah dibentak seperti tadi, pilihan satu-satunya yang dimiliki oleh Hinata adalah diam. Masalahnya ia sama sekali tidak mempunyai keberanian apapun untuk melawan Karin.

Hinata hanya berpegang teguh dengan pendapatnya. Menurutnya ia harus terus begini sampai akhirnya mereka capek sendiri atau bosan—sehingga ia akan memberhentikan pembully-an ini.

Sedikit puas berteriak-teriak, Karin kembali berdiri seperti mengatur pernafasannya. Marah-marah kan juga bikin capek.

"Hei, Karin... kenapa kau suka menyiksa Hinata sih? Aku saja sudah bosan menyiksanya..." Tanya Tenten yang terduduk di bangku kayu.

"Eh, kau tidak tau ya? Karin benci sama Hinata itu karena Suigetsu—mantan pacarnya yang suka sama Hinata. Kan mereka putus hanya karena Suigetsu sering bertanya-tanya tentang Hinata!" Seru Ino kepada Tenten.

"BERISIK! Jangan bahas masalah itu!" Mendengar teman-temannya membicarakan tentang kenangan buruknya, Karin semakin kesal. Bentakan Karin yang barusan langsung membuat Ino dan Tenten terdiam.

Karin mengembalikan pandangannya kepada Hinata. Lalu, tiba-tiba saja bayangannya beralih ke Suigetsu. Lagian, kenapa dia harus marah? Semua yang dikatakan Ino itu benar kok. Tak lama kemudian, Karin menggeram.

"SIAL! Si bodoh itu kenapa bisa suka sama orang seperti ini, hah?"

Karena emosi yang sudah menumpuk, Karin lagi-lagi berjongkok, dan membuat Hinata menatap wajahnya.

"Huh, apa bagusnya darimu? Kau hanya orang sok lemah yang selalu ingin dikasihani!" Bentak Karin pas di depan wajah cewek berkulit susu itu. "Dasar menjijikan."

"Ka-Karin... aku tidak mengerti masalahnya." Dengan cepat mata Hinata berair. "Tapi kalau kau benci denganku... aku minta ma-maaf."

"Aku benci matamu! Jangan tatap aku!"

"Karin..."

"Jangan sok baik!" Bentaknya sambil mengayunkan tangannya ke wajah Hinata dengan kasar.

Entah sengaja atau tidak, kuku jemari Karin berhasil mencakar wajah Hinata, termasuk kedua mata dan hidungnya. Untungnya Hinata masih sempat untuk memejamkan mata, sehingga matanya hanya terluka di bagian kelopak matanya.

Namun tetap saja, perlakuan kejam dari Karin membuatnya menahan sakit yang perih. Sambil menahan jeritan, Hinata berusaha membuka matanya agar ia bisa melihat ke arah Karin, tapi sepertinya luka itu tidak memperbolehkan mata Hinata terbuka.

"Karin! Jangan main fisik! Dia bisa mengadu kalau punya bukti!" Seru Sakura, kaget. Ino dan Tenten langsung berusaha menengahi Karin yang masih emosi.

Karin langsung sedikit memberi jarak ke Hinata, tapi ia terus membentaknya. "Apa? Mau marah? Marah sana!"

"Ma-Maafkan aku, Karin..." Hinata masih terus bersikeras untuk meminta maaf.

Mendengar permintamaafan dari Hinata untuk yang keduakalinya, malah membuat Karin semakin kesal. Padahal permintaan maaf itu sangat tulus.

"Sudah ku bilang..." Kali ini Karin menggeram. "JANGAN SOK BAIK!" Sedetik kemudian, Karin melepaskan pegangan Ino dan Tenten yang menahannya. Namun, saat ia akan mencakar Hinata lagi, ada sesuatu yang menahannya.

Grep!

Merasa genggaman yang mengunci penggerakan tangannya terasa menyakitkan, Karin meringis. Walaupun ia tidak bisa melihat seseorang yang menahan tangannya dari belakang, ia yakin tangan itu bukanlah milik salah satu dari tangan teman-temannya.

"...Seharusnya tangan ini cukup digunakan untuk mengurusi perkejaan rumah tangga, tidak perlu untuk melakukan kegiatan para lelaki seperti tadi."

Kalimat tadi sontak membuat orang-orang yang ada di sana kaget, terutama Hinata. Ia memang tidak bisa melihat orang itu—akibat luka di matanya—tapi, ia tetap dapat mengenali suaranya.

"Siapa kau—eh?"

Karin berbalik, namun setelah ia mengetahui siapa orang yang menahan tangannya, ia terpaku.

"K-Kau..."

.

.

~zo : nerds~

.

.

Hinata's POV

Aku hanya bisa membayangkan situasi di depan, masalahnya luka yang dibuat oleh Karin ini sedikit membebaniku untuk melihat sekitar. Karena jika aku membuka paksa mataku, pasti hanya ras perih yang terasa. Dan karena aku sangat takut dengan rasa sakit, kuputuskan untuk terus memejamkan mata dalam diam.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar banyak suara langkah yang seolah-olah meninggalkanku sendirian di sini. Setelah beberapa menit di keheningan, aku pun mencoba untuk berdiri. Tapi, berhubung aku sudah kelamaan duduk, rasa pening mulai menyerang kepalaku, membuatku nyaris terjatuh.

Namun ketika aku akan terjatuh, tiba-tiba saja ada genggaman seseorang yang menahan tangan serta tubuhku dari belakang, membuatku terus berdiri.

Aku merasakan tangannya. Dingin.

"Pe-Pein? Apakah itu kau?"

Entah kenapa aku berharap orang yang sakarang menggenggam tanganku ini adalah Pein. Masalahnya, suara sebelumnya yang sempat aku dengar itu mirip dengan suaranya.

"Sedang apa di sini?" Pein itu meloncati pertanyaanku, seperti pertanyaan tadi hanyalah basa-basi belaka. Tapi, karena mendengar jawabannya, aku tidak perlu lagi menebak. Dugaanku benar.

"Jalan-jalan..." Aku berbohong sambil tersenyum. Aku tidak ingin membebani siapa-siapa.

Mendengar jawabanku, ia menghela nafas. "Rumahmu di mana? Aku akan mengantarkanmu."

"A-Aku bisa sendiri kok!" Tolakku pelan—padahal pada saat ini aku lagi tidak bisa melihat sama sekali.

Sebenarnya aku ingin berusaha menjadi gadis yang tegar di depannya, tapi rasanya sedikit mustahil kalau tubuhku terus-terusan gemetar sejak Karin mencakarku.

Tapi tiba-tiba ada sebuah tangannya seperti mendorongku ke depan, saat aku pikir akan terjatuh, aku malah menabrak sesuatu yang seperti...

Punggungnya.

"Kyaaaaa!" Teriakku kaget, merasa diriku seperti sedang terbang udara.

"Tidak usah banyak bicara. Di mana alamatmu?"

.

.

~zo : nerds~

.

.

Normal POV

Sesudah memberikan alamatnya ke Pein, Hinata hanya bisa diam saat orang itu membawanya ke rumah. Tidak tau kenapa, di punggung Pein ia terus merenungi perbuatan Karin kepadanya. Ia tidak marah ataupun kesal. Tapi, ia tetap tidak mengerti kesalahannya pada Karin, sehingga membuatnya dibenci seperti ini.

Hal itu terus memenuhi pikiran Hinata, sampai ia merasa dadanya sesak sendiri. Walau kedua matanya masih terpejam, Hinata menangis. Dia senderkan kepalanya ke pundak Pein, berniat berhenti memproduksi airmata. Tapi tampaknya ia tidak bisa.

Pein menghela nafas.

Ia tau bahwa gadis itu sedang menangis. Tapi jujur saja, ia tidak tau harus berbuat apa—karena selama duapuluh tahun dirinya bernafas, ia sama sekali belum pernah menenangkan satu perempuan pun.

"Sudahlah, untuk apa kau nangis..."

Cuma itu yang bisa ia katakan.

Hinata yang tersadar pun buru-buru menghapus airmatanya. "A-Aku bukan nangis kok..." Elaknya.

"Kau pikir aku gampang dibohongi?" Tanya Pein—yang lebih mirip dengan pernyataan.

Lalu Hinata mencoba tersenyum. Sepertinya bayangannya tentang Karin segera terhapus hanya karena mendengar suara yang ada di pelukannya ini. Lalu saat Hinata menegakan kepalanya, ia merasakan ada helaian jabrik milik seseorang yang menerpa wajahnya.

Rambut Pein.

Hinata tertawa kecil saat ia meraih rambut pein yang jabrik. Karena gemas, ia mengacak-acak pelan rambut oranye itu tanpa izin dari yang punya.

"Tsch, aku memang menggendongmu, tapi aku tidak mengizinkanmu untuk memegang rambutku."

"Rambutmu lucu..."

Menanggapi komentar aneh barusan, Pein mengernyit sebenar. "Terserahlah."

Tentu saja Pein hanya mengiyakan. Sudah jelas ia lebih memilih untuk mendengarkan suara tawa Hinata, dibandingkan airmatanya yang seperti menahan beban itu.

Lalu, saat tangan Hinata yang masih bermain di rambutnya itu menyentuh telinganya, Hinata tidak merasakan sebuah kacamata yang biasanya ada di sana. "Pein, apa kau sedang tidak memakai kacamata?"

"Aku lupa."

"Sayang sekali, ya? Coba saja aku bisa melihatmu..."

'Sama saja seperti cewek-cewek lainnya.' Pikir Pein.

"Hmm... apa mukamu seperti bajak laut yang kejam? Atau sebuah professor pintar yang selalu mengurung diri di lab nya?" Hinata mulai menduga-duga, dan hal itu membuyarkan pikiran Pein sebelumnya.

Malahan hal tadi membuat Pein tersenyum geli dan nyaris tertawa olehnya. Sekarang, barulah Hinata harus menyesal tidak bisa melihat senyuman serta tawanya.

.

.

~zo : nerds~

.

.

Setibanya di rumah keluarga Hyuuga, Pein menurunkan Hinata. Ia bantu gadis itu supaya bisa duduk di kursi yang tersedia di depan rumahnya. Lalu, Pein memencet bel yang terpasang di sebelah pintu rumah.

Ternyata rumah keluarga Hyuuga ini tidak besar seperti rumah milik keluarga murid Konoha High School lainnya, tapi tidak juga terlalu kecil.

Sambil menunggu pintu dibuka, niatnya Pein ingin merokok. Tapi ia menahan keinginannya agar tetap menjaga image-nya di depan Hinata. Karena masih tidak terdengar jawaban apa-apa dari dalam rumah, Pein kembali memencet bel.

Setelah beberapa menit menunggu, ia menghela nafas. "Apa di rumahmu ada orang?"

"Dari suaranya sih sepertinya tidak ada. Kalau aku pulang lebih cepat daripada yang lain, biasanya aku sering menunggu mereka datang di luar. Sama seperti ini."

Pein langsung mengernyit, sedikit bingung dengan penjelasan Hinata. "Kau tidak punya kunci duplikat?"

"Punya."

"Terus apa masalahnya?"

"Aku tidak mau sendirian di rumah. Aku takut."

Pein menatap kedua mata Hinata yang terpejam. Seingatnya, ia biasa mendengar kalimat itu dari mulut seorang perempuan yang sedang memancing laki-laki untuk masuk ke rumahnya. Tapi ia sangat yakin bahwa Hinata mengatakan hal itu dengan jujur, bukan karena ada maksud lain di baliknya.

Tapi, seharusnya Hinata juga tau... siapa orang yang ada di depannya.

Bagaimanapun juga Pein adalah laki-laki.

Orang yang tanpa Hinata ketahui bukanlah sebaik apa yang ia pikirkan.

"Yaudah, kemarikan kunci duplikatnya."

"Eh? U-Untuk apa?"

"Membuka pintu rumahmu. Apa lagi?"

"Ta-Tapi..."

"Aku akan menemanimu sampai orang tuamu datang, sekalian mengobatimu. Lukamu itu harus segera diobati."

"Me-Menemaniku?" Dengan cepat wajah putih itu memerah seperti tomat. Kemudian ia pun menunduk. "Ma-Maaf, tapi ka-kata Ayah aku tidak boleh membawa laki-laki masuk ke rumah..."

Untuk beberapa detik Pein mengerti larangan tersebut, tapi ia malah menyunggingkan senyumannya. Entahlah senyuman atau sebuah seringai. Sesuatu yang sama sekali tidak bisa dilihat oleh Hinata.

"Apa kau berpikir aku seperti orang yang Ayahmu bayangkan saat ia memberi larangan itu?"

"Bu-Bukan sih..." Jawabnya. Menurutnya, Pein yang sekarang di depannya itu adalah orang yang sangat baik—buktinya orang itu mau menolongnya.

"Nah, izinkan aku masuk."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Fuuhh, akhirnya chap 4 kelar juga~! Moga-moga kalian tetep suka, ya? Ohya, kayaknya aku harus Hiatus sampe bulan Mei deh. Mau UN soalnya... hiks. Doain, ya?

-edited : 28/02/12-

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

Cikichii, Shaniechan, UchihaHinataHime, Hina bee lover, Ind, dini, Yuuaja, Ichi chan, mayraa, Aiwha Katsushika, Zie'rain-drizZle, Lollytha-chan, Deidei Rinnepero13, Haru, Shinkuna'me, Vytachi W. F.

.

.

Pojok Bales Review :

Pas lupa sama kacamatanya, Pein mau nyelamatin Hinata, ya? Iya, tapi belum ketauan loh. Chap berapa Pein bakalan baik sama Hinata? Sepertinya di sini sudah :) Interaksi PeinHina-nya bagus, ngga dipaksain. Terimakasihh. Chap 3 masih pendek. Aku akan usaha manjangin lagi ^^ Flame ngga usah digubris. Terimakasih banyak ya, semua :') Sasuke sama Naruto kok ngga muncul. Heheh. Apa perasaan Pein sudah lumayan mencair? Maybe? ;) Tobeco di chap 3-nya bener-bener ngga tepat :p Hehe. Tobi pake topeng ngga? Aku sih bayanginnya ngga :)

.

.

Next Chap :

.

.

Review kalian adalah semangatku :'D

Mind to Review?

.

.

THANKYOU