proudly present :
An EXO Fanfiction
KISS ME IF YOU CAN
Main Cast : Oh Sehun, Kim Jongin
Remake dari novel yang berjudul sama karya Charlie Philips
Terjemahan Indonesia : bacanovelonline
.
Happy Reading!
.
Sama seperti pemiliknya, Jack's Bar and Grill tempat yang penuh semangat dan gairah hidup. Saat ibu Sehun meninggal akibat pendarahan otak mendadak, tidak lama setelah ayahnya pensiun, Oh Kyuhyun perlu sesuatu untuk menggantikan kebersamaan yang sejak dulu ia jalani bersama istrinya. Akhirnya ia menemukan itu di bar ini, bersama rekan-rekannya sesama polisi yang sering menghabiskan waktu di sini.
Sehun berjalan masuk ke tempat yang sudah ia anggap sebagai rumah kedua itu dan disambut oleh tepuk tangan serta riuh gelak tawa, persis seperti di ruang redaksi tidak lama setelah perampokan yang ia gagalkan.
Kakak lelakinya, Suga, berseru, "Semua hormat pada sang pahlawan penakluk!"
"Tutup mulutmu," tukas Sehun pada kakaknya.
"Apa kau lebih senang kalau aku bilang lain kali biar kami yang mengatasi kejahatan?" tanya Suga sambil tergelak.
Tidak juga, pikir Sehun.
"Ayah, beri pahlawan kita bir."
Sehun menggeleng. Harusnya ia tahu kalau memilih Jack's sebagai tempat pertemuannya dengan Jongin adalah tindakan yang salah.
"Jangan pedulikan kakakmu dan bersantailah dulu," kata ayahnya. "Dia cuma iri karena koranmu tidak memilihnya untuk Bachelor's Blog." Kyuhyun menyodorkan gelas berisi bir berbusa dari balik meja bar.
"Kau baca sampah itu juga?" tanya Sehun.
"Sambil lewat sebelum ke kolom olahraga," gumam ayahnya tanpa memandang mata Sehun.
Sehun duduk.
"Nah, bagaimana rasanya jadi lelaki kesayangan kota ini?" tanya Suga.
Sehun menceritakan tentang sekardus sampah yang ia buang sore tadi. "Kedengarannya kau betul-betul sengsara. Kau membuang semuanya begitu saja? Kau tidak menyimpan, satu pun nomor telepon para wanita itu?" tanya Suga kaget.
"Apa aku salah kalau ingin punya kekasih waras?"
Suga memiringkan kepala. "Betul juga. Untuk para wanita waras. Seperti Yerin," ujarnya menyebut nama istri yang sudah sepuluh tahun dinikahinya.
Tidak seperti Sehun, pernikahan adalah satu hal lain yang dilakukan kakaknya dengan baik, mengikuti jejak ayah mereka. Sehun jarang menyesali semua kegagalannya, tapi kadang sulit untuk tidak membandingkan.
Suga mengangkat gelas bir dan Sehun menyambutnya untuk bersulang. Kemudian keduanya minum bir mereka dengan satu tegukan besar. "Jadi kapan jadwal kerjamu berikutnya?" tanya Sehun.
"Besok pagi. Makanya kupikir sebaiknya aku menemani Ayah malam ini." Suga memandang Sehun.
Dua bersaudara itu sering mampir ke Jack's dengan alasan ingin minum-minum. Padahal mereka sebetulnya ingin menengok ayah mereka, memastikan bahwa pria paruh baya itu tidak kesepian.
"Dengan kata lain, istrinya sedang bosan padanya," sela ayahnya, tidak sengaja mendengar komentar Suga.
Dia ada benarnya, tapi baik Suga maupun Sehun tahu Kyuhyun sangat menghargai kedatangan anak-anak lelakinya.
"Bagaimana kabar pekerjaanmu?" tanya Suga.
"Biasa saja," jawab Sehun.
"Ada kejadian yang baru dan seru akhir-akhir ini?"
Sehun menggeleng. "Selain perampokan dan Bachelor's Blog sialan itu, hidupku cukup membosankan," dustanya.
Sampai Sehun tahu lebih banyak tentang Jongin dan hubungan nenek gadis itu dengan cincin miliknya, ia merasa wajib untuk menyimpan informasi ini buat dirinya saja.
"Rupanya hidup sebagai pahlawan dan bujangan terkenal membosankan, ya? Mungkin sebaiknya dulu kau ambil risiko dan jadi polisi saja," Kyuhyun bercanda.
Ayahnya mungkin hanya menggoda, tapi lelucon itu menusuk hati Sehun.
Sehun mengalami cedera engsel pemutar lengan akibat main football semasa SMA, dan sendinya itu terluka lagi saat pelatihan di akademi polisi. Setelah operasi, para dokter memperingatkan bahwa kebanyakan polisi jarang sembuh total setelah pembedahan engsel lengan dan kemungkinannya kecil untuk bisa melakukan tugas mereka dengan aman. Belum lagi ia berisiko mengulangi cedera di bahunya yang sudah lemah.
Sehun sangat sedih saat ia terpaksa keluar dari akademi polisi dan menghancurkan masa depan yang diharapkan ayahnya bagi kedua anak lelakinya. Bercanda atau tidak, Sehun tidak butuh diingatkan bahwa ia sudah mengecewakan ayahnya. Setiap hari ia jalani dengan perasaan gagal. Karena itulah ia tidak mungkin mengaku kepada ayahnya bahwa, meskipun dulu ia pernah sangat mencintai pekerjaannya sebagai reporter, sekarang ia merasa pekerjaannya terlalu rutin.
Ini komentar yang menyedihkan tentang kehidupan saat kejahatan seperti perampasan, perampokan, dan penganiayaan menjadi terlalu biasa sehingga tidak membangkitkan perhatiannya lagi. Awalnya Sehun memulai pekerjaannya dengan penuh semangat untuk melaporkan berita dan membuat dampak yang tidak mungkin bisa ia lakukan sebagai polisi. Dulu ia berharap dengan melaporkan kejahatan ia bisa meningkatkan kesadaran masyarakat dan mungkin menggugah kemarahan, sehingga pada akhirnya bisa membantu untuk menyelamatkan nyawa atau menangkap penjahat. Namun kenyataannya ia justru menemui siklus kejahatan tiada akhir. Pengulangan tak kunjung henti dari sisi jahat manusia. Ia tidak menolong siapa pun atau mengubah keadaan. Ia hanya menyebarkan kata-kata.
Mungkin itulah sebabnya ia sangat menikmati menulis fiksi. Ia bisa menentukan alur cerita, tokoh-tokohnya, dan yang terpenting, hasil akhirnya. Ia mungkin tak bisa membuat perbedaan di dunia, tapi ia tidak bisa mencari kepuasan yang setara dengan yang ia dapatkan dari menulis.
Masalahnya adalah, ia belum menemukan kesuksesan dan pengakuan dalam fiksi seperti yang sudah ia dapatkan dalam jurnalisme dan pelaporan berita. Dan dalam keluarga yang diisi para lelaki sukses, Sehun tidak mau gagal.
"Kalau aku belum menikah, mungkin aku baru saja menemukan wanita impianku," kata Suga, tatapannya mendadak terpaku ke pintu depan.
Sebelum Sehun sempat membalikkan badan, ia tahu siapa yang baru saja melangkah masuk ke bar itu dan perasaan ingin melindungi yang belum pernah ia alami mendadak melandanya.
Ia melirik sekilas pada Jongin; yang memakai gaun musim panas warna pastel, dan memastikan firasatnya benar. Kacamata gadis kutu buku yang dia pakai sangat berlawanan dengan pakaian menggodanya, membuatnya tampak seperti kontradiksi yang menarik. Gadis yang istimewa. Unik.
"Mungkin aku akan menyambut kedatangannya di Jack's." Suga bergerak untuk menghampiri gadis itu dan Sehun menaruh tangannya dengan tegas di bahu kakaknya.
"Dia bersamaku."
Suga berhenti. "Tadinya kupikir tidak ada wanita liar yang membuatmu tertarik?"
Sehun berubah kaku. "Apa dia kelihatan seperti wanita liar bagimu?"
Suga tertawa. "Santailah. Aku sudah menikah dan bahagia, ingat?"
Sehun mengendurkan pegangannya. "Biar aku yang traktir minumanmu yang kedua," ujarnya pada sang kakak, berharap bisa meluruskan sedikit salah paham tadi tanpa perlu mengakui bahwa ia sudah bersikap menyebalkan karena gadis yang nyaris belum ia kenal.
"Sehun?" Jongin memanggil namanya sambil berjalan menghampiri mereka.
"Kau bisa ambil birmu yang kedua sekarang," kata Sehun pada kakaknya.
Suga nyengir. "Nanti saja, Sehun."
"Maaf aku terlambat," kata Jongin.
"Sama sekali tidak. Bagaimana kalau kita ke meja di belakang?" saran Sehun. Tempat sepi tempat mereka bisa berdiskusi tentang cincin itu dan kalung neneknya tanpa terdengar orang lain.
"Kedengarannya bagus."
"Apa kau tidak akan mengenalkan teman kencanmu pada kakakmu?" sela Suga, cengiran lebar merekah di wajahnya.
Karena tidak bisa berkelit lagi, terpaksa Sehun memperkenalkan keduanya. "Kim Jongin, ini kakakku Oh Suga." Merasakan tatapan ayahnya ke arah mereka Sehun melanjutkan, "Dan lelaki tua di balik meja bar adalah ayahku, Kyuhyun."
"Senang berkenalan dengan kalian berdua. Aku bisa lihat kemiripan kalian." Senyum hangat Jongin memancar untuk ketiga lelaki itu.
"Aku anggap itu sebagai pujian," sahut Kyuhyun. "Nah, nona cantik, apa kau salah satu wanita lajang yang mencari kesempatan untuk menggaet bujangan terbaru kota ini?" Ia mengangguk ke arah anak lelakinya.
Sehun meringis.
Jongin menggeleng dan tertawa. "Oh, tidak. Bukan gayaku. Aku dan Sehun akan membahas masalah bisnis."
"Apa benar?" tanya Suga, kedengaran terlalu senang di telinga Sehun. "Karena adikku baru saja membuatku mengira ada sesuatu yang lebih serius di antara kalian berdua."
Sehun tidak tahan lagi. Ia menaruh satu tangannya di lekuk punggung Jongin, membimbingnya ke meja di ujung, jauh dari keluarganya yang selalu ingin tahu.
"Maafkan aku. Ayah dan kakakku kelihatannya mengira segala hal adalah urusan mereka juga."
"Kau pikir nasibmu buruk? Harusnya kau bertemu nenekku." Jongin menggeleng dan tertawa.
"Kau mau pesan makan atau minum?"
Jongin mengedikkan bahu. "Es teh dan keripik saja."
"Itu gampang." Sehun permisi sebentar, menyampaikan pesanan ke ayahnya yang berjanji akan mengirimkan minuman dan keripik ke meja mereka.
Sehun kembali ke meja mereka lalu mengambil tempat di seberang Jongin. Karena tempat duduk yang sempit, lututnya menggesek lutut gadis itu di bawah meja.
"Nah, aku harus bertanya." Jongin diam sejenak dan menggigit bibirnya yang dipulas lipstik tipis. "Apa yang dimaksud kakakmu tadi, kau membuatnya mengira kita punya lebih dari sekadar hubungan bisnis?" Gadis itu meletakkan dua sikunya di atas meja dan mencondongkan badannya mendekat.
Mata Jongin, yang sekarang Sehun bisa lihat berwarna cokelat keemasan penuh rasa penasaran dan tertuju hanya padanya.
Ia orang yang bicara terus terang. Sehun suka hal itu.
"Yah, aku tadi bilang kepadanya bahwa kau bersamaku, dan bukan itu saja, aku juga tertarik lebih dari sekadar urusan bisnis."
"Oh begitu." Seulas senyum terukir di bibir Jongin.
Senyum senang.
"Coba cerita tentang siapa dirimu," kata Sehun, tidak sabar ingin tahu lebih jauh tentang kepribadian Jongin.
"Tidak banyak yang bisa diceritakan. Aku petualang yang suka menjelajah dunia dan perancang situs Web."
Untuk bagian petualangnya, Sehun tidak begitu peduli. Tapi perancang situs Web, itu membuatnya sangat tertarik. "Situs apa saja yang sudah kau kerjakan, supaya aku bisa melihatnya?"
Seorang pelayan wanita yang sudah bekerja untuk Kyuhyun selama bertahun-tahun menyela obrolan mereka sebentar untuk meletakkan minuman dan sekeranjang keripik tortilla di meja.
"Coba kuingat dulu," kata Jongin saat mereka kembali berdua lagi. "Aku sudah merancang cukup banyak situs Web kecil yang mungkin kau tidak tahu, tapi aku juga yang merancang laman di Web Hot Zone dan Athlete's Only. Apa kau pernah dengar tentang keduanya?" tanyanya.
"Aku penggemar berat bisbol. Apalagi Renegades, jadi tentu saja aku tahu tentang agensi olahraga terbesar di Manhattan. Dan kalau boleh kutambahkan, aku sangat terkesan dengan portofoliomu." Sehun mengangkat gelas dan menyentuhkannya ke gelas Jongin sebelum meneguk bir dinginnya.
"Oh, terima kasih," jawab Jongin, kelihatan senang. "Tapi kalau kau memang rajin membukanya, kau mestinya tahu dua situs itu sedang dalam perbaikan. Saat ini kami sedang mengerjakan keduanya di balik layar."
"Kami?"
"Baekhyun, asistenku. Desain dan hal-hal kreatif itu bagianku, sementara tugasnya adalah terus memperbarui situs saat aku bepergian." Jongin membetulkan letak kacamatanya. "Sekarang giliranmu bercerita tentang dirimu, Tuan Lajang," kata Jongin menggoda Sehun.
"Apa kau belum cukup melihat betapa asyiknya hidupku saat di tempat sampah tadi?"
Jongin tertawa. "Betul juga ya. Meskipun harus kuakui, senang melihat ada lelaki yang tidak diperbudak oleh limpahan perhatian dari banyak wanita."
Mereka melanjutkan obrolan dengan santai. Sementara mereka makin mengenal satu sama lain, meja-meja di sekitar mereka mulai penuh. Untunglah, kerumunan tamu itu akan membuat ayah Sehun sibuk, dan kelihatannya rekan kerja Suga baru saja datang, membuat kakaknya juga tidak bisa mengganggu mereka lagi.
"Jadi kau mau melihat foto kalung nenekku?" tanya Jongin.
Sebelum ia sempat menjawab, gadis itu sudah mengeluarkan sehelai foto dari tasnya dan mengulurkannya pada dia. Wanita tua dalam foto itu berambut merah dan matanya kelihatan berkilat-kilat jail. Sedangkan kalung yang dia kenakan memang tampak mirip dengan cincin miliknya.
Namun justru pakaian wanita tua itu yang menarik perhatian Sehun. "Semoga kau tidak menganggap pertanyaanku ini aneh, tapi kenapa nenekmu memakai daster dipadu dengan perhiasan semahal ini?"
Tawa Jongin adalah jenis yang menulari orang di sekelilingnya, dan ia sering tergelak sesuka hati. "Aku juga sering bertanya begitu dalam hati. Ada beberapa perhiasan yang tidak pernah Nenek pakai di luar rumah. Dia bilang karena benda-benda itu punya nilai sentimental yang lebih dibandingkan perhiasan lainnya. Apa kelihatannya cocok dengan cincinmu?"
Sehun mengeluarkan cincinnya dari kantung dan menyodorkannya pada Jongin. Jongin mencondongkan badannya mendekat, mengamati cincin yang Sehun pegang dengan ibu jari dan telunjuk. "Persis!" seru Jongin. "Boleh aku melihatnya?"
"Silakan."
Gadis itu mengulurkan tangan dan Sehun memasukkan cincin itu ke jarinya, lalu menatapnya senang saat dia mengagumi cincin yang dia kenakan. "Benda yang unik," gumamnya. "Sama seperti kalungnya." Ia tersenyum lalu meletakkan cincin itu di tengah meja di antara mereka.
Dia tidak mengecek lambang dalam cincin itu seperti yang dilakukan oleh editor gaya di korannya, dan itu membuat Sehun yakin bahwa minat Jongin lebih didasari oleh niat pribadi dan bukan uang. "Sudah berapa lama nenekmu memiliki kalungnya?"
Jongin mengedikkan bahu. "Seingatku dia sudah memilikinya sejak dulu sekali. Kakekku memberikannya bertahun-tahun yang lalu," ujarnya muram sambil mengenang. "Apa si pemilik toko memberitahumu sesuatu tentang cincin ini?"
Sehun menggeleng. "Wanita itu tidak bilang apa-apa. Cincin itu hanya tergeletak di nampan bersama beberapa perhiasan lain yang boleh aku pilih."
Jongin bersedekap. Tangannya yang halus dengan kuku dicat merah muda pucat, dan beberapa gelang tergantung di pergelangan kanannya. "Kurasa kau pasti ingin tahu kenapa aku sampai susah payah mencarimu."
"Pikiran itu memang pernah terlintas di benakku."
"Aku ingin membeli cincin ini darimu untuk hadiah ulang tahun ke delapan puluh nenekku."
Tadinya ia sama sekali tidak tahu apa maksud Jongin menemuinya, tapi mendengar keinginan gadis itu untuk membeli cincinnya betul-betul di luar dugaannya. Berarti satu orang lagi tertarik pada benda yang awalnya kelihatan norak dan tak berharga ini.
Sehun berdeham. "Maafkan aku, tapi aku saja tidak tahu berapa harga awal yang harus kupasang untuk ini. Menurut editor gaya di koran, tempat kerjaku, harga cincin ini jauh lebih mahal daripada yang kukira ataupun kuharap waktu aku memilihnya dari nampan itu."
Jongin memiringkan kepalanya. Meski terhalang lensa kacamata, ia memandang Sehun tajam dan bergeming, menunjukkan bahwa dia sudah membuatnya kesal.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi waktu aku tanya padamu apa yang kau tahu tentang cincin ini?" tanya Jongin.
"Kau tanya, apa yang si pemilik toko bilang tentang cincin ini dan aku menjawab." Ia hanya tidak mengakui ia sudah mendapatkan informasi lebih banyak lagi.
Sehun tidak suka menjadi pihak yang diinterogasi dan ia menggeliat gelisah di kursinya. "Hai, aku kan belum cukup mengenalmu, jadi mana bisa aku menceritakan semua rahasiaku padamu," ujarnya mencoba bercanda.
Gadis itu mengernyit. "Kau sudah mengenalku cukup baik, buktinya kau bisa bilang kau tertarik padaku," ia mengingatkan, lalu bersandar lagi di kursinya, menunggu Sehun untuk bicara lebih banyak.
Ia tidak, membiarkan Sehun lolos dengan mudah.
Ia juga ada benarnya. Sehun memang tertarik padanya. Apalagi melihat payudaranya yang tampak dari balik gaun berpotongan dada rendah itu, menampilkan lebih dari sekadar belahan dada seksi untuk dipandang.
Sehun mengerang pelan dan berusaha keras untuk memusatkan perhatian pada perhiasannya saja. "Kelihatannya, cincin ini adalah bagian dari satu set perhiasan di tahun 1950-an." Ia belum bisa menemukan tanggal yang pasti. Tapi kalau ia menjual cincin ini pada Jongin, seperti permintaan gadis itu, ia akan kehilangan hubungan yang ia punya pada kisah itu.
Sama seperti kehilangan hubungannya jika ia mengembalikan benda ini begitu saja pada Siwon. Ia belum siap memberitahu Jongin tentang Im Siwon yang mendadak tertarik untuk mendapatkan kembali cincinnya. Sehun masih menguji kejujuran gadis itu dan ia tidak tahu bagaimana perasaan Jongin mendapati bahwa ada saingan untuk memperoleh cincinnya. Lagi pula, ia tidak mau perhatian Jongin terpecah saat mengungkapkan informasi padanya.
"Jadi harganya jauh lebih tinggi daripada tampilannya," ujar Jongin sambil berpikir serius. "Mungkin hal itu juga berlaku untuk kalung nenekku. Siapa sangka benda itu berharga mahal? Oke, bagaimana kalau kita minta juru taksir untuk menilai cincinmu lalu kita diskusikan harganya?" Rupanya ia orang yang tidak mudah untuk ditolak.
Ia gadis yang berpikir logis. Dan cerdas. Sehun suka gadis yang memiliki kombinasi keduanya. Namun itu tidak akan menolong situasinya. Karena jika mereka membawa cincin ini ke ahli perhiasan profesional untuk ditaksir nilainya, maka si juru taksir mungkin akan mengenalinya. Atau lebih buruk lagi, dia mungkin akan menyadari bahwa cincin ini berhubungan dengan peristiwa kriminal yang belum terungkap bertahun-tahun lalu dan membuyarkan hak eksklusif Sehun atas kisah ini. Sehun harus mempertimbangkan dengan baik dari segala sudut sebelum mengambil keputusan apa pun.
Si cantik yang logis ini mungkin akan mengerti. Dia bahkan mungkin juga memiliki informasi yang berhubungan dengan kedua perhiasan itu dan masa lalu mereka. Sehun sekarang tahu bahwa dia amat menghargai kejujuran.
"Nenekmu tidak tahu kalungnya berharga mahal?" tanya Sehun.
Jongin mengedikkan bahu. "Dia tidak pernah bilang dan aku tidak pernah tanya. Karena aku memang tidak pernah punya alasan untuk bertanya. Uang tidak penting buatku selain sebagai alat untuk membantu hobiku bepergian. Kau suka bepergian juga?"
Sehun menggeleng. "Tidak terlalu."
Kekecewaan melintas di mata gadis itu sebelum ia melanjutkan. "Ada tempat-tempat di dunia ini yang tidak akan bisa kaubayangkan. Aku suka sekali melihat keindahan dan warna-warni negara, penduduk, serta kebudayaan yang berbeda-beda." Pipi Jongin memerah saat ia menjelaskan hasratnya.
Sehun ingin melihat hasrat itu ditujukan padanya saja, bukan ke tempat-tempat asing yang membuat gadis itu pergi jauh.
"Ah, sudahlah," kata Jongin seolah baru tersadar. "Kembali keurusan kita. Aku jadi ingin tahu bagaimana kakekku bisa memiliki sesuatu yang dulu jadi bagian dari koleksi yang mahal."
"Berarti nenekmu tidak pernah cerita tentang itu?" tanya Sehun padanya.
"Tidak."
Sehun juga penasaran. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab, membuat ia jadi semakin tertarik pada perhiasan itu dan sejarahnya. Terlebih pada Jongin. Paling tidak sekarang ia punya jalan untuk tahu lebih banyak. Ia bisa mengorek keterangan dengan mendekati Jongin. Bukan hal yang sulit, pikirnya, sambil memandang gadis itu. Dan itu memang sesuatu yang ingin ia lakukan, terlepas dari hubungannya dengan perhiasan.
Nenek Jongin tidak bercerita banyak tentang sejarah kalungnya yang berharga. Karena dia memang tidak tahu? Atau karena dia menyembunyikan sesuatu?
"Bisakah kau tanya pada kakekmu?" tanya Sehun.
"Kakekku meninggal lima belas tahun yang lalu," kata Jongin lembut, matanya berkaca-kaca.
"Aku ikut berduka cita."
"Terima kasih. Tapi Nenek orang yang tangguh. Dia orang yang sangat aktif sepanjang hidupnya dan dia tidak berniat untuk berhenti setelah Kakek meninggal. Jadi dia menjalani masa berkabung kemudian setelah itu dia bangkit dan melanjutkan hidupnya."
Sehun tersenyum lebar. "Dia kedengarannya penuh semangat. Mirip kau."
"Oh terima kasih!" Jongin duduk lebih tegak, selalu senang tiap kali ada orang yang membandingkannya dengan neneknya. Cinta tanpa syarat dan pengertian yang dicurahkan neneknya memberi Jongin rasa nyaman dan percaya diri yang justru tidak ia temukan dalam keluarganya. Semua anggota keluarganya punya prestasi menonjol sedangkan sejak dulu Jongin lebih suka berkhayal. Mereka punya tujuan; Jongin punya mimpi. Neneknya yang berjiwa bebas adalah satu-satunya orang yang bisa menerima Jongin apa adanya.
Walau Sehun mungkin belum mengerti betapa pentingnya bagi Jongin dianggap mirip dengan nenek yang ia cintai, lelaki itu bisa menyimpulkan bahwa Jongin serupa dengan neneknya. Sehun tidak suka bepergian, jadi mereka tak akan pernah bisa menjalin hubungan serius. Tapi hubungan singkat bukan masalah buat Jongin, karena sudah cukup lama ia tidak merasakannya.
Ia suka Sehun, meskipun ada sisi serius dalam kepribadian lelaki itu. Tapi tidak seperti ayah dan kakak perempuannya yang sama-sama bekerja sebagai bankir—dan ibunya si pengacara tangguh dan enerjik, yang tujuan hidupnya adalah memiliki anak-anak sempurna—Sehun tidak kelihatan seperti orang yang kaku dan serius atau tanpa belas kasihan.
Dia membuatnya tertarik dan dia lajang, satu lagi persyaratan yang Jongin tuntut, berkat Kris. Meskipun dulu saat Sehun mulai berkencan dengan Kris, dia memang tidak menjalin hubungan dengan yang lain tapi ternyata lelaki itu masih membuka hatinya untuk segala kemungkinan. Oleh karena itu sekarang ia berusaha mencari lelaki yang lebih baik.
"Halo, Bumi memanggil Jongin." Sehun menjentikkan jemari di depan gadis itu, meminta perhatiannya.
"Maaf. Aku terlalu asyik berpikir. Aku memang sering begitu." Dan membuat dirinya sering dijuluki pelamun bodoh oleh keluarganya.
"Tidak masalah, asal bukan karena kau bosan dengan temanmu malam ini," ujar Sehun, cengiran tampak di wajah tampannya.
"Jelas tidak. Sisi kreatif dalam diriku memang kerap begini." Ia tidak akan mengaku habis memikirkan Sehun. "Awalnya aku memikirkan beberapa hal dan hanyut ke duniaku sendiri. Setelah itu ide untuk situs Web yang baru muncul begitu saja di benakku. Tapi kadang aku tidak melamun tentang pekerjaanku."
"Kelihatannya kita punya kesamaan."
Gadis itu mengerutkan hidung. "Sama-sama gila?"
Sehun tergelak. "Bukan, melamun kreatif. Asal kau tahu, aku ini penulis."
"Aku tahu. Berita kejahatan."
Sehun mendekatkan tubuhnya. "Maksudku, aku juga menulis fiksi." Ia bicara perlahan, suaranya nyaris berbisik.
Sehun membuka rahasia pribadinya, dan membuat Jongin merasa istimewa karena dipercaya. Perasaan hangat menjalari tubuh dan bermuara di dadanya. "Itu hebat! Fiksi jenis apa?"
Bahu Sehun berubah santai. "Misteri. Semacam Sam Spade, begitulah."
"Hobiku membaca dan aku suka sekali cerita misteri! Bahkan—mau tahu rahasiaku? Aku ini penggemar berat Ludlum sejak dulu."
Sehun mengangguk kagum. "Gadis yang kompleks," gumamnya.
"Kau sudah punya penerbit?" tanya Jongin.
"Penerbit kecil tapi—"
"Kau punya tekad yang besar," Jongin menyelesaikan kalimatnya.
Paduan rasa lega dan kaget tergambar di wajah Sehun. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku bisa mengenali orang yang punya kesamaan denganku." Jongin menjulurkan tangan dan meletakkan telapaknya di atas tangan Sehun, ingin menegaskan bahwa ia mengerti.
Namun yang ia rasakan justru nyala kembang api. Menyentuh lelaki itu menyalakan percikan panas dalam tubuhnya. Ketertarikannya, yang sejak tadi membara tenang di bawah permukaan, sekarang meledak dengan kekuatan penuh.
Terkejut, Jongin berusaha menarik kembali tangannya, namun dengan gerakan lihai Sehun memutar pergelangan tangan dan malah menangkap telapak gadis itu. Menikmati rasa sentuhan Sehun, Jongin berubah santai, membiarkan lelaki itu memegangi tangannya.
"Apa saat ini kau sedang mengerjakan novel?" tanya Jongin, berusaha membuat percakapan mereka terus mengalir padahal semua perhatiannya terpusat pada telapak tangannya, tempat ibu jari Sehun perlahan menggambar lingkaran-lingkaran di kulitnya.
"Bisa dibilang ada sesuatu yang baru saja mendarat di pangkuanku." Ia menghela napas panjang. "Dan itu membuatku jadi ingat—sebelum. hubungan kita ini berlanjut makin jauh, ada satu hal yang perlu kau tahu."
"Ada apa?" tanya Jongin, mendadak waspada melihat sikap serius Sehun.
"Cincin ini bukan hanya mahal—tapi mungkin juga barang curian."
"Apa? Curian? Bagaimana?" tanya Jongin, benaknya langsung dipenuhi pertanyaan. Kalau cincin ini ternyata curian, lantas bagaimana dengan kalung neneknya? Perutnya langsung mual.
Lelaki itu menggeleng. "Aku tidak tahu. Waktu aku mencari sekilas informasi di Internet, aku mendapati bahwa cincin ini bagian dari satu set yang dicuri pada tahun 1950-an di New York. Aku harus melakukan riset lebih jauh. Dan itu satu alasan tambahan kenapa aku belum bisa menjual cincin ini padamu."
Jongin perlahan mengembuskan napas panjang dan melepaskan tangannya dari genggaman Sehun. Ia tidak bisa konsentrasi saat Sehun menyentuhnya dan ia perlu berpikir jernih. "Aku tidak ingin kau melakukan apa pun yang bisa menyakiti nenekku. Aku yakin dia tidak tahu apa-apa tentang ini dan dia bisa hancur karena sedih."
"Sungguh?"
"Sungguh apa?" Jongin memiringkan kepala, tidak paham maksud pertanyaan Sehun.
"Sungguh kau yakin nenekmu tidak tahu apa-apa tentang sejarah kalungnya?"
"Aku sangat yakin tentang hal itu," jawab Jongin tegas. "Dengar, aku bisa bicara pada nenekku tentang kalungnya, tapi jangan terlalu berharap dia punya semua jawabannya. Dan sebelum kau bertanya—tidak, aku tidak percaya bahwa kakekku pencuri," kata Jongin, sadar akan pertanyaan logis Sehun berikutnya.
Sehun mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. "Aku tidak akan bilang begitu. Bisa saja kakekmu menjadi pemilik dari tangan kedua, ketiga, atau bahkan keempat," ujar Sehun, meskipun ia tidak menyingkirkan kemungkinan itu.
Jongin mengangguk. "Aku tidak ingin membuat nenekku sedih dengan memberitahunya bahwa ada kemungkinan kalungnya adalah benda curian." Jongin mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja, nyaris putus asa memikirkan cara untuk mengorek informasi tanpa melibatkan neneknya secara langsung. "Mungkin Jessica tahu sesuatu."
Sehun mengangkat alis. "Siapa Jessica?"
"Sahabat Nenek. Mereka seperti Frick dan Frack. Itu Thelma dan Louise di generasi mereka."
Sehun menggeleng dan tertawa. "Makin banyak aku mendengar tentang nenekmu, makin yakin aku akan menyukainya."
"Kebanyakan orang memang begitu." Jongin terdiam sejenak, lalu memandang mata Sehun. "Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang perhiasan ini. Mungkin kau salah dan keduanya bukan barang curian. Mungkin mereka tiruan benda yang asli atau apalah."
"Bisa jadi," Sehun setuju. "Tunggu. Apa maksudmu kita harus mencari tahu? Aku reporter. Aku yang akan menyelidiki dan nanti aku mengabarimu."
"Aku ahli komputer. Aku bisa tahu lebih banyak dengan beberapa kali mengklik tetikus dibanding kau seminggu bertanya ke sana kemari. Lagi pula, kalau kita kerja sama kita akan mendapat hasil lebih cepat. Menurutku kita saling membutuhkan."
Sehun mengerang dan kelihatan sedikit kesal mendengar gagasan itu. Hanya sedikit. Karena percikan rasa tertarik masih membara di antara mereka. Jongin bisa melihat itu di matanya dan cara dia begitu sering memandang dadanya dengan tatapan kagum.
Jongin tidak merasa besar kepala akan hal itu. Apalagi karena ia juga punya perasaan yang sama pada Sehun. "Oh ya, Sehun? Ada satu hal lagi yang perlu kau tahu. Kalaupun nanti cincin itu ternyata palsu, aku masih berminat membelinya untuk nenekku."
"Kurasa kita bisa menambah keras kepala dan gigih ke dalam daftar sifatmu?"
Gadis itu beringsut lebih dekat ke meja, meletakkan kedua sikunya di atas. "Aku bisa sangat pintar membujuk saat aku mau."
"Aku ingin melihatmu saat sedang beraksi." Tatapan Sehun berpindah dari bibir ke dadanya lalu naik lagi. "Jadi apa rencanamu sekarang?"
"Yah, karena kita akan bekerja sama, kurasa aku juga bisa membantumu dalam hal lain," jawab Jongin.
"Aku menyimak…"
"Jadi begini, aku sangat mahir dalam melakukan pekerjaanku dan aku terpikir, meskipun bukumu diterbitkan oleh percetakan kecil, kau perlu situs web. Apalagi kalau kau ingin melompat naik ke tingkat penulis-penulis besar."
Mata Sehun membelalak kaget, dan tahu bahwa pikiran lelaki itu pasti tadi mengarah ke daya tarik sensual di antara mereka berdua, Jongin tergelak kecil. "Sementara kita menggali informasi tentang sejarah perhiasan ini, aku akan membuatkanmu situs Web. Kalau kau suka hasilnya, kita bisa perhitungkan honorku untuk membayar harga cincinmu. Jadi bagaimana menurutmu?"
"Dan kalau ternyata cincin itu curian dan harus dikembalikan?" tanya Sehun.
Jongin tidak ingin berpikir tentang itu. "Aku orang yang optimistis. Tapi kalau kau berkeras untuk bersikap lebih pragmatis dan mempertimbangkan segala kemungkinan, jika itu yang terjadi, kau tidak usah membayar hasil kerjaku."
"Kenapa kau mau bekerja tanpa dibayar?" tanya Sehun, tidak percaya.
"Sejujurnya? Karena salah satu persyaratanku dalam merancang situs Web apa pun adalah mengenal klienku dengan baik. Dan aku ingin mengenalmu lebih baik."
Semburat merah membuat tulang pipi Sehun berwarna gelap.
"Jadi kau tertarik, kan?" tanya Jongin, dan sebelum lelaki itu sempat menjawab ia langsung menambahkan penjelasan yang biasa ia berikan untuk memikat para kliennya. "Kau harus sadar bahwa keberadaan Internet sangat penting di zaman sekarang. Dalam kasus penulis buku seperti kau, kalau aku bisa mengenal baik bukan hanya dirimu tapi juga hasil karyamu, aku bisa menyampaikan siapa sejatinya dirimu ke para pembacamu. Dan ada pula alasan-alasan dasar kau harus punya situs Web. Kau harus terhubung dengan para pembacamu lewat situs Web sosial lainnya untuk membawa mereka kembali ke situsmu. Dan kau butuh S.E.O yang bagus. Aku sangat ahli mengerjakan semua itu." Jongin menggerak-gerakkan kedua tangannya penuh semangat sambil menjelaskan alasannya, berharap Sehun akan tahu dan memahaminya dengan jelas seperti dirinya. "Bagaimana?"
Sehun menggeleng. "Maaf, tapi begitu mendengar kata S. E. O kau membuatku bingung."
Jongin tidak menyangka lelaki itu akan menolak. Kekecewaan terasa pahit di tenggorokannya dan jantungnya berdegup kencang.
"Tapi aku langsung setuju saat kau bilang, aku ingin mengenalmu lebih jauh," sambung Sehun dengan suara rendah.
Lexie mengembuskan napas lega, mengambil sehelai serbet kertas, meremasnya jadi bola dan melemparnya ke Sehun. "Menyebalkan, menjebak aku seperti itu."
Sehun tersenyum lebar. "Itu balasannya karena sudah menjebak aku duluan dengan gaya menggodamu tadi."
"Asal tahu saja, aku ahli menyelesaikan apa yang aku mau sampai tuntas," ujar Jongin, lalu mengambil tasnya. Ia mengeluarkan sehelai kartu nama dan mengulurkannya pada Sehun. "Di sini ada e-mail dan nomor ponselku, jadi kau bisa menghubungiku kapan saja. Kurasa pekerjaanmu tergantung dari ada peristiwa apa di kota ini, jadi kau yang meneleponku, oke?"
Ia menerima kartu itu, jemarinya sengaja mengusap tangan Jongin. "Oke."
"Tapi kalau misalnya kau berniat untuk menghindariku dan melakukan penyelidikanmu sendiri, beri aku cara untuk menghubungimu juga."
"Gadis pintar." Bibir Sehun tersenyum kagum. "Jangan meneleponku ke kantor. Aku ingin merahasiakan hal ini." Ia mengambil serbet kertas dan menulis alamat serta nomor ponselnya di situ, lalu menyerahkannya pada Jongin.
Jongin berusaha membayar pesanan mereka, tapi Sehun menolaknya mentah-mentah. "Aku yang traktir. Kalau tidak, ayahku akan mengira dia sudah gagal membesarkanku jadi lelaki yang punya tata krama."
"Kalau itu alasannya, mana bisa aku protes? Terima kasih. Malam ini menyenangkan, Sehun." Jongin bangkit berdiri.
Ia juga bangkit. "Teman. Jadi begitukah status kita sekarang?"
Sehun meletakkan tangannya di lekuk punggung gadis itu. Ia mengantarnya menuju pintu, menyelinap di antara meja-meja dan kerumunan orang di bar. Begitu tiba di pintu, Sehun membungkuk dan berbisik di telinga Jongin. "Harapanku sebetulnya lebih daripada itu."
Jongin berbalik. Wajah berhadapan, napas mereka nyaris jadi satu, dan ia menjawab, "Kuharap juga begitu," sebelum lenyap di malam musim panas yang hangat.
.
End for This Chapter
