A/N : GOMEEEN! Saya updatenya lama. Cerita ini juga enggak seberapa lucu atau seru. Udah deh, daripada saya curhat lama-lama (Soalnya banyak banget yang mau saya curhatin sebenarnya) tapi entar readernya pada pergi, langsung aja. Cekidoooot!


Neko Kurapika

.

.

Disclaimer : Hunter x Hunter © Yashihiro Togashi

.

.

Author : Nemurase Hime

.

.

Chapter 4 : Genei Ryodan #4

Senritsu mendorong pintu cafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan Gon, Killua, dan Leorio dengan tergesa-gesa. Dia sangat berharap teman-temannya berhasil mendapatkan informasi tentang Kurapika. Matanya menjalar untuk mencari tiga sosok yang familiar, dan menemukan mereka disudut ruangan. Dia segera berlari ke tempat teman-temannya dan duduk disalah satu bangku yang kosong.

"Dimana Killua ?" Tanya Senritsu begitu sampai dimeja teman-temannya dan sadar kalau remaja berambut Silver itu tidak ada ditempatnya.

"Tadi dia bilang mau beli persediaan coklatnya yang habis." Jawab Gon. Senritsu mengangguk mengerti, dia melirik jamnya, Tidak ada waktu untuk menunggunya... dan langsung memulai topic pembicaraan.

"Jadi ? Apa kalian menemukan sesuatu tentang Kurapika ?" Tanya Senritsu. Kedua orang didepannya menggeleng dengan wajah menyesal.

"Bagaimana dengnmu ? Bukankah kau yang mengajak kami bertemu dari awal ?" Tanya Leorio pada Senritsu.

Senritsu menarik napas dalam-dalam, "Yah...sebenarnya aku punya beberapa kabar. Baiklah…jadi begini, ketika aku mencari Nona Neon dipameran kemarin…."

~~NK~~

Killua Zaoldyeck melirik jam tangannya, ia memegang bungkusan coklat di tangan lainnya. Sial, aku terlambat. Gumamnya dalam hati dan mulai mempercepat langkahnya.

BRUKK!

Tubuh Killua bertubrukan dengan seseorang, bungkusan coklatnya hamper jatuh ke tanah kalau saja dia tidak menangkapnya dengan cepat. Killua hendak berbalik pergi dan mengabaikan orang yang ditabraknya kalau saja dia tidak melihat rambut merah gelap yang lumayan familiar.

"Awww...punggungku..." Keluh suara feminim yang berasal dari orang yang ditabraknya.

Killua tanpa sadar memasang posisi bertahan ketika melihat siapa yang menabraknya, "Kau..."

Wanita itu mengangkat kepalanya ketika mendengar suara yang cukup familiar, belum sempat dia mengucapkan satu kata pun, benda tajam sudah melayang kearahnya. Wanita itu menghindarinya dengan mudah, ia melompat beberapa meter menjauhi Killua. Ditengah keramaian Kota YorkShin ini, nampaknya belum ada yang sadar kalau ada 2 orang sedang bertarung. Selain karena penduduk yang lewat disekitar mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing, gerakan mereka berdua terlalu cepat untuk diikuti oleh mata biasa.

"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Killua ketus, jelas terlihat kalau dia tidak terlalu menyukai wanita didepannya.

"Aah...kau tidak tau ya kalau ini kota uang ?" Jawab wanita itu sambil membersihkan debu tidak terlihat dari bajunya, "Lagipula, apa yang dilakukan Penerus keluarga Zaoldyeck disini ?"

"Bukan urusanmu." Jawab Killua dengan nada dingin. "Lakukan apa yang kau mau, tapi jangan coba-coba berpikir untuk menggangguku."

Wanita itu tersenyum, "Tenang saja. Aku lebih pintar untuk itu. Aku tau mana yang bisa diganggu dan mana yang tidak."

Puas akan jawaban wanita itu, Killua berbalik pergi. Kalau saja dia mau menetap untuk beberapa detik lebih lama, dia akan melihat—ketika wanita itu sedikit mengangkat bajunya untuk membersihkan debu yang tersisa—sebuah tato laba-laba dengan nomor 4 terukir dibadannya.

~~NK~~

"Mustahil! Jadi hilangnya Kurapika sama sekali tidak ada hubungannya dengan Genei Ryodan ?" Teriak Leorio, menarik perhatian dari seluruh pengunjung restaurant, pria itu tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya sambil membungkuk dan meminta maaf.

Para pelayan menatap Leorio dengan sinis, tapi pria itu mengabaikan mereka semua, ada masalah yang lebih penting sekarang. "Ya...kau bisa bilang begitu." Kata Senritsu sambil menghela napas, ia menarik napas kembali dan melanjutkan, "Aku bicara dengan pemimpin Genei Ryodan kemarin, dan dia bilang dia tidak ada hubungannya dengan menghilangnya Kurapika. Aku rasa dia tidak berbohong."

"Tunggu! Kau berbicara dengan Pemimpin Genei Ryodan ? Dengan Kuroro ?" Tanya Leorio panik "Itu berbahaya!". Senritsu hanya mengangguk, dia sudah tau itu berbahaya.

"Jangan lakukan tindakan ceroboh begitu dong. Sudah cukup Kurapika saja yang menghilang." Keluh Leorio. Senritsu hanya mengangguk sekali lagi, sebelum dia menyadari ada yang tidak beres dengan remaja berambut hitam didepannya.

"Kau kenapa Gon ? Kok diam saja ?" Tanya Senritsu, Leorio yang mendengar Senritsu juga memusatkan perhatiannya pada Gon.

"Eh..aku...aku hanya sedang berpikir." Jawab Gon sambil memutar sedotan digelasnya, "Kalau Kurapika tidak bersama Genei Ryodan. Lalu dimana dia sekarang ?"

Petanyaan itu seperti membawa kembali topik utama mereka, kedua orang dewasa itu terdiam untuk beberapa waktu. "Nona Neon juga menghilang..." Tambah Senritsu sambil menghela napas.

Ketika keheningan diantara mereka hampir tidak tertahankan, pintu cafe terbuka dan menampakkan sosok Killua dengan plastik coklatnya, memasuki cafe dengan raut muka yang nampaknya tidak terlalu senang.

"Kau kenapa Killua ?" Tanya Gon sambil sedikit bergeser agar remaja berambut silver itu bisa duduk disebelahnya. "Aku tidak apa-apa. Hanya bertemu dengan orang yang menyebalkan."

Tidak ada yang berniat untuk memaksa Killua menceritakan detail selengkapnya, yang ditanggapi Killua dengan baik, berhubung dia juga tidak ingin membicarakan pertemuannya dengan wanita itu.

"Jadi..." Killua memulai pembicaraan, "Dilihat dari raut wajah kalian, tidak ada satupun yang mendapat petunjuk dimana Kurapika, kan ?"

Killua menganggap keheningan yang menyambutnya sebagai 'Ya'. Dia menghela napas panjang. Pencarian mereka dimulai dari nol lagi.

~~Neko Kurapika~~

Sinar matahari menjalar masuk melalui kaca jendela, menyinari tempat tidur yang terletak disudut ruangan kamar Kuroro. Lebih tepatnya tempat tidur Kurapika Kuruta a.k.a Nekora. Kurapika membuka matanya, dan menemukan dirinya di tempat tidurnya, yang merupakan moment yang jarang terjadi karena Kuroro biasanya membawanya pergi entah kemana selagi dia tidur. Kucing blonde itu menguap dan menggaruk perutnya, kemudian menggoyangkan seluruh badannya ala kucing.

"Sudah bangun ?" Sebuah suara—yang pastinya suara Kuroro—terdengar oleh Kurapika bersamaan dengan terciumnya bau kopi dan roti. Kurapika membalikkan badannya dan mendapati Kuroro yang sudah berpakaian rapi berjalan menghampirinya.

Kurapika hanya mengangguk dan mengeong sebagai jawabannya, lalu melompat dari tempat tidur untuk sarapan. Kuroro mengawasi kucingnya yang entah kenapa mood-nya sedang baik hari ini. Itu bisa dilihat dari bagaimana kucing blonde itu, untuk pertama kalinya selama tinggal bersama Kuroro, tidak memecahkan apa pun saat sarapan. Yah...mereka memang jarang sarapan dirumah sih...

Kuroro memperhatikan kalau bulu dan kuku kucing itu mulai terlalu panjang, warna bulunya yang kuning keemasan juga mulai pudar (Yang sebenarnya adalah hal yang wajar, mengingat Nekora mengikuti misi bersama Genei Ryodan). Mau tidak mau, Kuroro harus mengakui kalau Nekora terlihat seperti kucing kampung.

"Hei Nekora, bukankah menurutmu ini saatnya kau untuk mandi ?" Tanya Kuroro, dan tanpa sadar menjauhkan vas bunga disamping kucing itu jauh dari jangkauan Nekora, hal ini dikarenakan terakhir kali Kuroro memintanya untuk mandi, kucing itu melemparnya dengan vas (Dan tepat sasaran pula! Hidup Nekora!). Nekora yang tadinya masih asyik minum susu, tersedak dan akhirnya batuk-batuk, ekornya bergerak kesana kemari dan tanpa sadar menyenggol gelas susunya. Gelas susu yang malang itu pun jatuh dan pecah dengan bunyi 'PRAANG' yang lumayan keras.

Dan barusan aku berpikir kucing ini membuat rekor untuk tidak memecahkan apa pun saat sarapan. Ujar Kuroro dalam hati dengan helaan napas yang dalam hati juga. Dia mulai mempertimbangkan untuk membeli peralatan makan dari plastik agar lebih awet, sebelum menyadari kalau Nekora sedang mendelik kearahnya. Kucing itu memunggunginya, tangan dan kakinya menutupi badannya, seolah hendak melindungi tubuhnya dari Kuroro. Kuroro tidak tau apakah harus tersindir atau tidak tentang hal itu.

"Dengar..." Kuroro menghela napas—Yang jarang sekali dilakukannya—dan mengangkat tangannya sejajar dengan telinga dengan posisi yang mengatakan 'Aku-hanya-ingin-berbicara-dengan-damai', "Kau itu kucingku, dan aku tidak mau kau terlihat seperti kucing kampung. Kalau kau tidak mau aku memandikanmu aku bisa menyuruh yang lain untuk melakukannya. Shalnark mungkin ?"

Nekora bergidik dan makin mendelik pada Kuroro.

"Baiklah. Machi bagaimana ?"

Nekora menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Nobunaga ?"

Kuroro segera mengelak ketika pecahan gelas melayang kearahnya (Sudah pasti Nekora yang melemparnya).Dia menghela napas lagi, Aku tidak tau kalau memelihara kucing akan serepot ini...

"Dengar Nekora..." Kuroro menghentikan kalimatnya ketika menyadari lawan bicaranya sudah tidak ada, dia melirik ke arah pintu dan melihat pintu kecil (Pintu yang ada dipintu, Cuma lebih kecil dan dibuat khusus untuk hewan peliharaan. Saya gak tau deh namanya apa.) yang dibuat khusus untuk Nekora bergoyang, menandakan kucing itu baru saja melewatinya. Kuroro tanpa sadar memijit pelipisnya, berhadapan dengan kucing itu memang tidak mudah, dan Kuroro berusaha untuk tidak ambil pusing kalau barusan ada seseorang—kucing maksudnya, berjalan pergi selagi dia masih bicara. Anak buahnya saja tidak pernah melakukan itu!

Kuroro melirik jam-nya dan segera menyambar sisa rotinya. Hari ini ada anggota Genei Ryodan yang baru yang harus disambut.

~~Neko Kurapika~~

Machi mengawasi wanita yang sedang duduk diseberangnya. Wanita itu bisa bisa dibilang cantik. Rambutnya berwarna merah gelap yang panjangnya sampai sepinggang. Matanya berwarna hijau terang, seperti warna daun yang masih muda. Hal ini membuat warna wambut dan matanya terkesan kontras, tapi entah kenapa warna rambut yang gelap dipadu dengan warna mata yang terang itu malah membuatnya terlihat lebih cantik. Karena warna rambutnya yang gelap, membuat warna matanya terlihat lebih terang dari seharusnya, dan karena warna matanya yang terang membuat warna rambutnya terlihat lebih gelap dari seharusnya. Sehingga memberikan kesan tersendiri. Dan kalau soal tubuhnya...bisa dibilang kalau wanita itu memiliki bentuk tubuh yang ideal.

Pakaian wanita itu lumayan sederhana, baju terusan selutut dengan tangan panjang tapi bagian bahunya dibiarkan terbuka, dilehernya terdapat kalung laba-laba pendek. Ia menggunakan sepatu boots tinggi yang mencapai betis. Entah kenapa Machi merasa tidak enak didekat wanita ini. Ia melipat kedua tangannya dan melanjutkan penelitiannya terhadap wanita didepannya, namun konsentrasinya terputus ketika Kuroro memasuki ruangan.

"Sepertinya kalian sudah bertemu dengan anggota baru kita ?" Tanya Kuroro, yang mendapat berbagai macam rspon dari anggota Genei Ryodan yang lain. Tapi Machi dan beberapa anggota lainnya diam saja.

"Baiklah, wanita didepan kalian ini adalah Genei Ryodan #4, namanya adalah Enbi Leviantha dan umurnya 25 tahun." Ujar Kuroro. Wanita bernama Enbi Leviantha itu tersenyum manis kepada semua anggota Genei Ryodan, "Yoroshiku Onegaishimasu."

Anggota Genei Ryodan nampaknya merespon dengan cukup baik kehadiran Enbi—nama panggilannya—karena memang Ryodan kekurangan anggota. Sementara itu, Machi bertanya-tanya apa yang salah sehingga dia tidak menyukai wanita itu sama sekali. Dan Machi menemukannya.

Wanita itu lengket pada Kuroro seperti kulit kedua, dan Machi tidak menyukai bagaimana wanita itu terus-terusan menggoda Kuroro (Meskipun Kuroro sama sekali tidak sadar kalau dia sedang digoda), atau bagaimana dia berusaha menarik perhatian Kuroro. Bukan berarti Machi cemburu, dia hanya tidak menyukai wanita itu. Ketika Kuroro mulai menjelaskan misi kali ini, Enbi berdiri didekat Kuroro sambil melipat kedua tangannya.

"Target kita kali ini adalah Crown of Freedom. Terletak di ruangan bawah tanah Istana Avians. Yang akan dikeluarkan dari kerangka besinya untuk diberikan kepada Ratu Regina Lenz Matress." Jelas Kuroro, ia menunjuk angka 10 di jam dinding, "Di malam pelantikannya, tepatnya malam ini, kita akan menyusup kedalam pesta dan mencurinya. Target utama kita adalah Mahkota itu, tapi kalian bebas mengambil harta yang lain kalau kalian mau. Satu lagi, kalian bebas membunuh siapa saja yang menghalangi."

Para Anggota Ryodan banyak yang menyeringai karena bersemangat, dan Kuroro memutuskan untuk tidak membiarkan mereka menunggu lebih lama. "Penjelasan selesai. Kalian bisa memulai misinya sekarang, dan jangan lupa untuk tidak memanggilku 'Danchou' saat penyusupan."

Dan Anggota Genei Ryodan menghilang dalam sekejap mata.

Machi tetap tidak bergerak dari posisinya, bahkan setelah semua anggota Ryodan yang lain sudah menghilang dari pandangan mata, dan meskipun Machi berada di pojok ruangan, Kuroro masih bisa mendeteksinya.

"Ada apa Machi ?" Tanya pemuda itu bahkan tanpa membalikkan badannya.

"Aku tidak menyukai wanita itu." Jawab Machi dengan nada suara yang mirip seperti anak berumur 4 tahun mengatakan dia tidak suka ice cream rasa mint.

"Karena apa ?" Tanya Kuroro, meskipun dia sudah tau jawabannya...

"Instingku mengatakan kalau wanita itu punya maksud tersembunyi."

...tuh kan.

"Machi.." panggil Kuroro, dia membalikkan badannya agar bisa menatap mata Machi, "Aku percaya instingmu. Tapi Leviantha membuktikan dirinya pantas jadi anggota Ryodan, dan kau tau peraturan kita." Kuroro memasukkan tangannya kedalam kantong dan berjalan mendekati Machi, "Intinya, kalau dia memang punya maksud tersembunyi seperti yang kau bilang. Kita akan membereskannya, terdengar bagus untukmu ?"

Machi mengangguk, yang kelihatan sekali terpaksanya. Kuroro hendak pergi karena menganggap diskusi mereka sudah berakhir, namun Machi menghentikannya.

"Mana kucingmu, Danchou ?" Tanya Machi ketika menyadari kalau hewan berbulu blonde yang biasanya duduk manis dibahu Kuroro tidak ada.

"Dirumah." Jawab Kuroro acuh.

"Danchou..." Panggil Machi lagi. Kuroro menoleh ke arah Machi dan menaikkan alisnya.

Machi menggerakkan pandangannya ke lantai, yang ebenarnya jarang sekali dilakukannya, "Anoo...bagaimana aku mengatakannya ya..? Itu.." setelah beberapa menit yang diisi dengan ber-'uum' ria, pertanyaan Machi keluar juga...

"Apa mungkin Danchou menyukai Nekora ?"

Kuroro hampir menganga. HAMPIR! Tapi dia berhasil mempertahankan ekspresi datarnya, meskipun dia yakin kalau ekspresi itu sudah berganti dengan ekspresi tidak percaya.

Machi ternyata masih berbicara terbata-bata selama beberapa menit sementara Kuroro masih berusaha kembali dari shocknya.

"—... kan maksudku bukan begitu! Maksudku... Danchou entah kenapa perhatian sekali dengan kucing itu, lalu cara Danchou melihatnya itu berbeda...dan..."

"Cukup Machi."

Dan Machi menutup mulutnya.

"Aku mengerti maksudmu, dan bisa kupastikan kalau aku tidak menyukai Nekora dengan 'Suka' yang kau maksudkan." Ujar Kuroro dan berputar ke arah lain, bersiap untuk pergi.

"Jadi, Danchou memang menyukai kucing itu ? Maksudku... Danchou sayang padanya ? Perasaan sayang seperti rasa sayang seorang anak yang menyayangi anjing peliharaannya yang telah menemaninya selama bertahun-tahun," Tanya Machi sambil menatap punggung Kuroro, "Rasa sayang yang seperti itu... sulit rasanya mempercayai kalau Danchou yang aku—kami, Genei Ryodan—kenal selama ini bisa mempunyai rasa sayang yang seperti itu."

Kali ini Kuroro membalikkan badannya, sehingga ia beridiri berhadap-hadapan dengan Machi. "Kau tau, mungkin aku bukan sepenuhnya berhati dingin seperti yang kalian semua kira, maksudku... aku memang tidak terlalu menunjukkannya, tapi aku menyayangi kalian semua."

Aku menyayangi kalian semua. Kalimat itu berdengung dikepala Machi untuk beberapa saat, sampai Machi akhirnya menjawab dengan suara pelan namun pasti, "Aku juga menyayangi Danchou."

"Aku tau..." Gumam Kuroro.

Dan suasana menjadi hening, meskipun bukan keheningan yang menyesakkan. Kedua pihak sama-sama nyaman dengan kehadiran satu sama lain. Sampai Kuroro memecahkan keheningan nyaman itu...

"Kau tau Machi, sebenarnya aku ingin kau melakukan sesuatu untukku, kau bisa membawa Shizuku untuk menemanimu."

"Oh ya ? Apa ?"

"Jadi, kau tau kan kalau Nekora..."

~~Neko Kurapika~~

Matahari bersinar dengan terik diluar. Kurapika menonton TV diruang tamu dengan tenang. Sambil memakan keripik kentang yang dicurinya dari dapur, Kurapika duduk manis dengan remote TV ditangan. Saat santainya terganggu ketika Kurapika mendengar suara pintu dibuka.

Apa Kuroro sudah pulang ? Kenapa cepat sekali ?

Kemudian terdengar suara langkah kaki milik dua orang.

Siapa ? Pencuri kah ?

Pintu ruang tamu terbuka.

"Dia disini." Ujar Shizuku sambil menunjuk Kurapika, kemudian Machi muncul dari belakang Shizuku. "Ayo kita bawa." Ujar Machi. Kedua perempuan itu mengambil posisi siaga, membuat Kurapika jadi kelabakan sendiri.

Tunggu dulu! Ada apa ini !?

Shizuku mengeluarkan tali dan melangkah maju, "Ayo cepat Machi! Tahan tangan dan kakinya! Jangan lupa ikat dia! Lalu beri obat tidur, lalu—"

"Shizuku! Kita disini mau membawa Nekora ke Pet Shop, bukan menculiknya." Kata Machi sambil menghela napas.

"...maaf."

Sementara itu, Kurapika sudah berdiri didekat gelas plastik (Semua gelas kaca sudah diamankan oleh Kuroro) dan menggunakan ekornya untuk mengangkat gelas itu dengan pegangannya, siap melempar benda itu kearah Machi dan Shizuku.

"Wow...tenanglah kuci—maksudku, Nekora-Chan. Kami hanya akan membawamu ke salon. Jangan khawatir." Bujuk Machi dengan senyum yang lebar, Kurapika merinding ketika senyum Machi mengingatkannya kepada Hisoka.

"Machi. Wajahmu mengerikan." Komentar Shizuku, yang sekarang sedang duduk sambil memegang salah satu buku Kuroro (Kesempatan dalam kesempitan amat ya...). Sementara Machi memarahi Shizuku karena asyik membaca buku semenatara mereka punya 'misi' untuk menangkap Nekora dan membawanya ke salon, Kurapika berjalan berjingkat-jingkat ke jendela ruang TV, hendak kabur dari duo yang mau membawanya. Dari dulu, Kurapika memang tidak menyukai sesuatu yang berhubungan dengan salon, dan dia juga tidak suka orang lain mencuci rambutnya. Kurapika bisa mencucui rambutnya sampai bersih sendiri, tanpa bantuan orang lain.

Ketika Kurapika hampir berhasil untuk kabur, Machi menggunakan benang nennya dan dengan seenaknya untuk menjegal Kurapika. Membuat kucing itu mengutuk dalam hati. Setelah itu, Kurapika diikat oleh benang nennya Machi, seolah Kurapika adalah tahanan yang melakukan kejahatan besar. Kemudian dibawa paksa ke salon.

~~Neko Kurapika~~

"Nekora-chan, diamlah sebentar!" Ujar perempuan petugas salon di Love Animal Pet Shop yang, berdasarkan dari tanda pengenalnya, bernama Irisviel. Kurapika bersumpah untuk melempar botol shampoo disebelahnya ke arah Irisviel kalau dia menyuruhnya diam sekali lagi. Wajah Irisviel nampak lebih tua dari seharusnya karena dia kerutannya sudah bertambah karena ulah Kurapika.

Irisviel sepertinya mempunyai pikiran sama dengan Kurapika, karena tangan wanita itu meremas gunting kuku digenggamannya kuat-kuat, nampaknya Irisviel ingin sekali melempar benda itu kekepala Kurapika kalau itu yang perlu dilakukan agar kucing ini bisa diam. Ironisnya, padahal baru 4 jam yang lalu Irisviel tersenyum cerah sambil membelai kepala Kurapika dan mengatakan kalau Kurapika adalah kucing yang manis dan mempunyai bulu dengan warna yang sangat indah.

Kurapika mengutuk dalam hati ketika Machi mengikatnya dengan benang nen sehingga Irisviel bisa memotong kuku panjangnya. Hilanglah sudah senjata milik Kurapika satu-satunya.

Kemudian, Irisviel berusaha keras untuk memasukkan Kurapika ke bak mandi, yang tentu saja Kurapika memberontak habis-habisan, babak kejar-kejaran itu akhirnya selesai setelah satu setengah jam. Irisviel berhasil mencelupkan Kurapika ke bak mandi 2 kali, meskipun hanya beberapa detik, itu cukup untuk membasahi semua bulu pirang Kurapika dengan shampoo.

Machi terlihat ingin sekali menarik rambutnya kuat-kuat karena frustasi, sementara Irisviel ingin sekali mengambil pisau dan membunuh kucing ditangannya detik itu juga. Bahkan Shizuku sudah kelabakan dan memutuskan untuk bersembunyi di kamar mandi dengan alasan panggilan alam mendadak.

Kali ini, ketika Machi dan Irisviel hendak mengambil pita biru untuk Kurapika. Kurapika segera meloncat dari tempat duduknya dan berlari menjauh. Irisviel berteriak sambil mengutuk keras-keras sebelum berlari mengejarnya. Kurapika hendak meloncat ke atas lampu gantung, namun langkahnya terhenti ketika kakinya tersandungut kabel...

~~Neko Kurapika~~

Kuroro Lucifer melangkah ke lapangan terbuka yang menjadi tempat berkumpul mereka, dia tanpa sadar melirik bahunya yang kosong, biasanya Nekora sudah akan duduk manis dibahunya dengan mata menjalar kemana-mana. Hanya saja kali ini, Nekora masih bersama Machi dan Shizuku. Ketika Kuroro melihat anak buahnya sudah berkumpul, matanya mencari-cari sosok dua wanita yang ditunggu-tunggunya dari tadi. Kemana Machi dan Shizuku ?

Kuroro melihat-lihat sekali lagi, kalau dipikir-pikir, Enbi juga tidak keihatan. "Kemana para wanitanya ?" Tanya Kuroro pada anggota Genei Ryodan yang lain. Mereka mengangkat bahu. Kuroro melihat jam tangannya dan menautkan alis. Tidak ada waktu. Mahkota itu tidak akan berjalan sendiri ke tangannya. "Apa boleh buat. Kita masuk saja dulu, biarkan mereka menyusul."

Dengan ini, anggota Genei Ryodan yang lain—yang telah bersiap untuk menyelinap ke dalam pesta ulang tahun Ratu yang ke 50—menghilang dalam sekejap mata. Kuroro mengecek arlojinya sekali lagi dan merasakan perasaan aneh menjalar ke dadanya. Perasaan itu adalah Khawatir. Tepatnya perasaan khawatir terhadap seekor kucing pirang tertentu. Mereka seharusnya tidak memakan waktu selama ini!

Sambil merapikan kerah kemejanya, Kuroro Lucifer yang berpakaian rapi siap mencuri Mahkota Ratu. Pemuda itu melangkah menuju gedung istana, dengan mudah melewati para pengawal dengan kartu undangan palsu. Penjaga gerbang mempersilahkan Kuroro untuk masuk, dan mau tidak mau sedikit terkesan dengan selera artistik siapa pun yang merancang aula ini. Aula itu besar, cukup untuk menampung sekitar 2000 orang, lantainya terbuat dari marmer hitam yang terlihat berkilau tertimpa lampu-lampu, di dindingnya terdapat banyak lukisan-lukisan terkenal milik pelukis ternama yang mungkin seharusnya berada dimuseum, disekiling mereka juga banyak patung sebesar manusia yang dipahat dengan detail luar biasa. Ruangan yang didominasi oleh warna putih, merah, dan hitam itu entah kenapa mengingatkannya dengan Istana Kartu.

"Kuroro-kun!" Suara feminim yang cukup familiar membuat Kuroro membalikkan badan kesumbernya. Dia mendapati sosok Enbi Leviantha berlari kecil ke arahnya. Tubuhnya dibalut oleh gaun hitam diatas lutut dan tidak berlengan yang lumayan ketat, menampakkan bentuk tubuhnya, wajahnya yang bisa dibilang cantik semakin memancarkan kecantikannya dengan make up warna gelap. Rambutnya yang berwarna merah terang terlihat semakin terang ketika dipadukan dengan baju gelapnya, ditambah dengan cahaya lampu yang membuat rambut merah itu seperti api yang membara. Enbi sepertinya benar-benar berdandan untuk acara ini.

"Hei..." Kata Kuroro dengan nada datar ketika wanita itu memeluk lengannya. "Haiii!" Jawab Enbi sambil terseyum lebar. Ia terlalu antusias jika dibandingkan dengan Kuroro yang masih berwajah datar, matanya menjelajahi aula dengan seksama. Enbi mengencangkan pelukannya dilengan Kuroro, menarik pria itu lebih dekat kepadanya, Kuroro sendiri nampaknya masih menjalajahi ruangan dengan matanya, mencari-cari sesuatu atau tepatnya seekor kucing.

"Jadi..." Kata Enbi pada Kuroro, pria itu menoleh dan memperhatikan Enbi sepenuhnya yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang Kuroro artikan—entah benar atau tidak—tatapan penuh harap. "Bagaimana ?"

Kuroro menautkan alis 'Jadi bagaimana' apanya ?

Dengan agak bingung, Kuroro menjawabdengan suara sepelan mungkin sehingga hanya dapat didengar oleh Enbi yang berada disebelahnya," Misi dimulai pada saat puncak acara. Bukankah kau sudah mengetahuinya ?"

Seketika itu juga Enbi merengut. "Aku bukan bicara soal itu!" Katanya kesal namun tetap menjaga volume suara dalam kategori normal, mengingat mereaka sedang membicarakan rencana mereka ditengah penyusupan, perhatian tak perlu adalah hal terakhir yang mereka inginkan.

Kuroro mengangkat alis, menatap wanita itu dengan pandangan tanya.

Enbi menghela napas dan melepaskan tangan Kuroro, kemudian mundur beberapa langkah sehinga Kuroro bisa melihat seluruh tubuhnya dengan jelas. "Aku membicarakan penampilanku." Kata Enbi sambil memutar badannya, membiarkan Kuroro mengamati keseluruhan penampilannya.

Kuroro menatap Enbi dengan pandangan yang tidak berubah, lalu dengan nada suara yang terlampau dingin dia menjawab "Cukup bagus."

Enbi menganga mendengarnya, dia menghabiskan 3 jam didepan lemari untuk memilih bahunya dan 5 jam didepan kaca untuk memoles dirinya untuk Kuroro! Dan kata-kata 'Cukup bagus' sama sekali bukan yang diinginkan oleh Enbi. Dia berharap pria itu akan memujinya, paling tidak dengan kata-kata 'Kau terlihat menakjubkan' atau semacamnya.

Muka Enbi yang tadinya berseri-seri langsung berubah total, wanita itu mendengus dan membalikkan badan, dan ketika dia hendak melangkah pergi, seseorang yang memanggil nama Kuroro menarik perhatiannya. Enbi berbalik dan melihat Machi dan Shizuku mendekati Kuroro dengan seekor kucing ditangannya.

"Da—maksudku, Kuroro-san, ini Nekora nya sudah siap dipotong kuku dan dimandikan." Kata Machi sambil mengangkat kucing itu dengan kedua lengannya, wanita itu sebisa mungkin menahan diri untuk memanggil Kuroro 'Danchou' agar tidak membuat kecurigaan. Sementara itu, Nekoranya sendiri masih melototin Kuroro, sepertinya dia siap membunuh Kuroro karena memaksanya ke salon.

Kuroro memperhatikan kucingnya yang kini sudah lebih bersih dan rapi, bulunya yang panjang sudah dibersihkan dan dirapikan, kukunya juga sudah dipotong (Kuroro sangat bersyukur untuk itu, artinya dia tidak perlu mengkhawatirkan cakar Nekora untuk beberapa minggu mendatang), dan dikepala dan ekornya diberi pita berwarna biru.

"Emm...kami memberinya pita agar lebih manis." Jawab Shizuku. "Kau suka kan, Danchou ? Maksudku...Nekora kan terlihat lebih manis sekarang..." Timpal Machi.

Kuroro bertanya-tanya kenapa ada ekspresi kemenangan di wajah Machi dan Shizuku. Seolah-olah memberikan pita kepada Nekora merupakan suatu pencapaian besar (Dan memang itu adalah pencapaian besar, mengingat apa yang dilalui Shizuku dan Machi). Namun dia mengabaikannya .

Kuroro memperhatikan Nekora (Yang sampai sekarang masih menatap Kuroro dengan tatapan siap membunuh) dan menyadari kalau perkataan Shizuku dan Machi ada benarnya. "Hmm..." Kuroro bergumam pelan dan menyeringai kecil, "Kau benar, dia terlihat lebih manis." Kata Kuroro. Segera setelah kata-katanya keluar, ekspresi kesal luar biasa bisa terlihat diwajahnya. Jelas sekali kalau kucing itu tidak suka dibilang manis, apalagi oleh Kuroro.

"Ngomong-ngomong Danchou, ini tagihannya..." Kata Shizuku sambil menyerahkan selembar kertas. Kuroro mengambil kertas itu dan membaca isinya, dan mata Kuroro hampir meloncat keluar dari tempatnya.

"Tunggu dulu! Biaya salon Nekora semuanya 300 juta !?" Pekik Kuroro kaget, meskipun dia berhasil menjaga volume suaranya agar tetap pelan.

"Tidak. Biaya salon Nekora hanya 400 ribu, kalau saja kucingmu ini tidak tersandung untaian kabel dan membakar setengah gedung Pet Shop-nya, biayanya tidak akan semahal itu." Ujar Machi dengan wajah dan nada yang tenang, seolah dia hanya sedang membicarakan cuaca hari ini dan bukannya seekor kucing yang membakar setengah gedung dengan lima lantai. Kuroro tidak tau kalau Machi dan Shizuku sudah latihan terlebih dahulu untuk memberi tau berita ini.

Kuroro melirik Nekora yang saat ini sedang menikmati kemenangannya, ekspresi puas nampak jelas diwajahnya karena berhasil membuat Kuroro menderita. Entah kenapa Kuroro sama sekali tidak terkejut kalau kucingnya bisa membakar setengah gedung Pet Shop. Sambil menahan diri untuk menghela napas sekali lagi, ia mengambil Kurapika dari tangan Machi dan mengelus lehernya, "Setidaknya dia terlihat jauh lebih manis sekarang." Ujar Kuroro dan menikmati ekspresi kesal yang mulai timbul diwajah Nekora ketika dia mengelus kepalanya.

Sementara itu, tak jauh dari trio Genei Ryodan plus kucing satu ekor, Enbi Leviantha berusaha keras menahan amarahnya atau tepatnya rasa cemburu yang membuat darahnya mendidih. Berani sekali kucing itu! Enbi menghabiskan 7 jam untuk berdandan demi Kuroro dan tidak mendapat pujian, hanya sekedar 'Penampilanmu bagus' dan tidak lebih! Tapi Kucing itu mendapat pujian dari Kuroro!

Enbi berbalik dan melihat pantulan dirinya dikaca jendela disampingnya, dia terlihat luar biasa malam ini. Pernyataan itu didukung oleh berpuluh pasang mata yang memandangnya dengan kagum. Enbi menghela napas untuk menenangkan amarahnya. Setelah beberapa kali mengambil napas, Enbi melirik ke arah Kuroro dan melihat kucing sialan itu sudah berpindah ke bahu Kuroro yang sedang berbicara dengan salah satu penjaga istana. Kucing itu masih merengut dan Kuroro masih berusaha membujuknya. Enbi berbalik dan berjalan pergi.

~~Neko Kurapika~~

Ketika misi dimulai, Kurapika diungsikan ke salah satu pojok Istana Avians yang jarang dilalui orang. Meskipun Kurapika tidak mau, namun Kuroro mengatakan kalau akan susah untuk membereskan pengawal ber-nen sambil menjaganya diantara kepanikan yang akan terjadi. Kurapika merasa dia menjadi beban bagi Genei Ryodan dan Kuroro, namun dia membuang jauh-jauh pikiran itu karena memang seharusnya Kurapika menjadi beban bagi Genei Ryodan mengingat tujuan utamanya adalah membunuh semua anggota Ryodan.

Setelah kepanikan didalam aula mencapai puncak, Kurapika merasakan seseorang mengangkatnya. Semuanya terjadi begitu cepat bagi Kurapika, ia sedang mendengarkan bunyi dari aula dengan seksama sebelum tiba-tiba pandangannya terhalangi oleh sesuatu yang berwarna hitam dan bunyi-bunyi dari aula terdengar sayup. Lalu Kurapika merasakan dirinya dibawa sampai akhirnya dia ditempatkan di sebuah gedung tua dengan tangan dan kaki diikat dan mulutnya disumpal dengan kain. Dipojok ruangan, terdapat sarung hitam yang dipakai oleh penculiknya untuk membawa Kurapika ke gedung tua ini.

Ternyata, ketika Kurapika berada di luar aula, dua orang pria berbadan cukup kekar memasukkannya ke dalam sarung dan membawanya ke gedung tua ini.

"Hei, apa kita benar-benar perlu mengikat dan menyumpal kucing ini ? Memangnya kucing ini bisa apa sih ?" Tanya Penculik pertama.

"Aku tidak tau. Tapi Boss berkata kalau kita harus mengikat dan menyumpalnya, dia bilang kalau kucing ini cukup memberontak. Aku tidka mengerti apa maksudnya." Jawab Penculik kedua.

Kurapika sedikit bingung dengan bahasa kedua penculiknya yang menggunakan aksen yang aneh, kalau dipikir-pikir, mereka mirip orang asing. Kurapika menghela napas dalam hati dan mengabaikan kanehan penculiknya dan berkonsentrasi pada kenyataan kalau dalam satu hari ini dia sudah diculik dua kali (Yang pertama oleh Machi dan Shizuku), dan diikat berkali-kali. Berapa banyak sih kesialan yang bisa diterima orang dalam satu hari ? Lagipula orang bodoh macam apa yang mau menculik seekor kucing ?

Setidaknya penculiknya tidak tau apa yang Kurapika bisa lakukan, paling tidak dia bisa memikirkan usaha pelariannya dengan lebih mudah. Kurapika berusaha melihat keluar jendela, dan matanya membelalak ketika melihat pemandangan yang tidak familiar didepannya. Kurapika tadi berasumsi kalau dia dibawa tidak jauh dari Kota YorkShin maupun Kerajaan Avians yang letaknya tidak jauh dari Kota YorkShin. Kurapika hampir setahun bekerja di YorkShin, dia hapal betul daerah YorkShin dan sekitarnya, namun pemandangan didepannya sama sekali tidak mirip dengan YorkShin ataupun keadaan disekitarnya.

Selain itu, sinar matahari bersinar terang diluar, bisa dipastikan kalau sekarang ini tengah hari, padahal Kurapika berada di pesta Pelantikan Ratu Regina tengah malam. Mungkinkah dia pingsan karena kehabisan udara ketika dimasukkan ke dalam sarung hitam waktu itu ?

Berapa lama dia pingsan dalam sarung itu ?

Yang lebih penting, sudah seberapa jauh dia dari YorkShin ?

Kuroro...

To Be Continued

.

.

Siapa Enbi ? Apa dia memang punya maksud tersembunyi seperti kata Machi ? Siapa yang menculik Kurapika ? Karena apa ? Apa Kuroro bisa menemukan dan menyelamatkan Kurapika ? Apa dia mau ?

.

.

'Till Next Chapter!

A/N : Akhirnya perjalanan panjang saya berakhir juga (Lebay!). Jadi, bagaimana ? Oh iya, saya gak sempet balas semua review (Soalnya numpang wi-fi temen buat ngepostnya), tapi tetep saya baca kok! Jadi tetep review ya! Sekedar Info, nama Enbi Leviantha saya ambil dari lagu Vocaloid dan 7 Deadly Sins. Enbi berasal dari lagu Vocaloid yang judulnya 'The Tailor Shop at Enbizaka'. Enbi juga pelafalan orang jepang untuk envy (Cemburu/iri), saya ambil nama ini karena Enbi adalah orang yang pencemburu. Sedangkan untuk 'Leviantha', ini merupakan nama iblis yang berkaitan dengan 7 Deadly Sins, sama kayak nama belakangnya Kuroro, yaitu Lucifer (Yang merupakan iblis yg berkaitan dengan Pride/Vanity), Leviantha berkaitan dengan Envy.

Ngomong-ngomong, saya belum menentukan ending buat cerita ini *Ditendang*, jadi saya mau nanya reader mau ending yang gimana

a. Happy Ending

b. Sad Ending

c. Ending gantung (Alias entar dibikin sekuel dari cerita ini)

d. Ending campur/gaje (Sad sama happy ending digabungin *emang bisa ya ?*)

Review, ne ?