Chapter 4 : Kumpulkan keberanianmu!

.

.

.

.

Proudly present

Can The Hatred Change?

-PurpleLittleMoon-

Warning! : Alur ga beres, Super duper wooper OOC -terutama Sasuke-, Rate M : bukan untuk lemon! Tapi untuk kata-kata kasar. Sangat-sangat abal.

.

.

.

.

Don't like don't read!

.

Uchiha Sasuke menuruni anak tangga dari lantai 3 ke koridor lantai dua. Ia mencari kelas 1-3 yang berada tepat di pojok koridor. Mempersiapkan mentalnya dan fisik kalau-kalau perempuan itu sangar minta ampun dan yang ada ia malah digebukin sampe bonyok.

Ia menatap ngeri kelas 1-3 yang diwalikelasi Sarutobi Asuma.

'Hahh... Kau bisa Sasuke.'

Sreeettt

Ia menggeser pintu kelas 1-3 dan...

"KYAA ADA SASUKE-SENPAI!" Teriak si 'Mommy gossip' , Yamanaka Ino.

'Cih, lagi-lagi cewek sinting yang centil.'

"Sasuke-senpai, minta nomor hapemu dong!"

"Sasuke-senpai, minta username twittermu dong!"

"Sasuke-senpai, kau tampan sekali sih! Jadi pacarku dong!"

'Dasar tidak tau malu.'

"Sasuke-senpai, foto bareng yuu-"

BRAK

"Bisakah kalian diam hah?! Kalian seperti manusia norak yang tidak punya etika! Dasar kampungan! Rendahan!" Bentak seseorang yang duduk paling pojok belakang. "Bitch," umpatnya pelan di akhir teriakan dashatnya.

Glek

Sasuke menelan salivanya dan mengurungkan niatnya untuk mengajak Sakura bicara baik-baik. Dia seperti monster yang mengamuk.

"Hei kau! Kau yang berambut aneh! Sumber keributan. Mau apa kau kemari hah?! Menganggu waktu membacaku hah?!" Bentaknya lagi.

"A-aku ingin bicara dengan Haruno Sakura." Ucap Sasuke setengah takut melihat ekspresi gadis berambut pink cerah -yang ia yakini pastilah Haruno Sakura- itu semakin garang. Sepertinya dalam hitungan detik ia akan ditelan hidup-hidup oleh kouhainya yang satu ini. Gila! Sangar banget!

"Bicara denganku? Aku tidak ingin bicara dengan orang macam kau, cowok gila!"

"Hei kumohon! Dengarkan baik-baik! Pulang sekolah, temui aku di atap sekolah. Jangan telat."

"Kau mau mengajaku bertarung hah?!"

'Matilah! Ini cewek sangar banget!'

"Nggak! Tentu saja tidak. Aku ingin mengajakmu bicara baik-baik. Jadi tolong jangan gunakan ototmu, Haruno Sakura."

.

.

.

.

"Sial... Lama banget. Jangan-jangan dia ga dateng lagi." Umpat Sasuke kesal. Sudah terasa sangat lama dia menunggu. Tapi Haruno Sakura belum juga menampakan batang hidungnya.

'Yasudah, lain kali saja bicara sama cewek sangar itu. Mungkin dia memang benar-benar tidak datang...'

Sasuke hendak bangkit dari posisi duduknya yang bersila namun...

BRUAK!

"Sakura?"

"Panggil Haruno!"

"A- ya, gomen. Maksudku, Haruno."

"Sorry telat. Abis ngehajar anak-anak SD berandalan."

'Buset sangar bener! Haelah, kalo gak patah rusuk gua lama-lama disini sama cewek sangar ini. Hiiihh! Tapi...'

"Kenapa, rambutmu somplak sebelah?"

"Oh ini?" Sakura menunjuk rambut bagian kirinya yang tadinya panjang terpangkas hingga sebahu, "anak-anak brengsek gak punya etika itu nempelin permen karet super lengket pada rambut gue, abis gue hajar, langsung gue potong rambut sialan ini."

Sasuke hanya bisa melongo mendengar penjelasan Sakura. 'Cewek apaan yang bisa dengan seenaknya motong rambut, somplak-somplak gitu lagi. Horror nih cewek satu, gimana kalau perjodohannya bener-bener jadi? Haduh, bisa KDRT tiap hari nanti.' Pikir Sasuke.

"Heh! Kenapa bengong?"

"Engga. Eh, lo punya kalung kaya gini ga?" Sasuke memperlihatkan kalungnya. Namun hal gila yang terjadi malah Sakura melepas kancing kemejanya.

"H-hei! Stop! Lo mau apa Haruno?!"

"Bukannya lo mau liat kalung gue?"

Tidak. Tidak. Kancing kemejanya semakin terpangkas. Sasuke tidak tahan! Ia menutup matanya dan...

"HAAAAAGGHHHH!" Ia terbangun dari mimpi buruknya. (Cuma mimpi loh! Haha. *digampar readers*)

"Sial... Hah... Hah... Hah... Mimpi sialan... Hah... Haagh!" Sasuke masih ngos-ngosan dan berusaha mengatur napasnya yang rasanya seperti akan habis detik itu juga. Walau hanya mimpi, tapi rasa takutnya benar-benar nyata dan bahkan keringat bercucuran dengan deras dari pelipisnya.

"Sial... Kau... Hah... Hah..." Napasnya masih tersengal. Rasanya Sasuke tidak akan pernah tidur lagi jika mimpinya seperti itu.

"Sasuke-kun ayo bangun nanti terlambat!" Teriak suara familiar yang setiap hari membangunkannya.

"Ha'i Kaa-san!"

Sasuke menyibak selimut yang membuat suasana pagi ini semakin memanas. Sial, karena semalaman berpikir tentang Haruno Sakura, Haruno Sakura, dan Haruno Sakura ia malah mimpi Haruno Sakura. Mana sangar banget lagi.

Hahh, daripada mati kepanasan di pagi hari lebih baik dia mandi dan, sekolah. Dan. Dan. Dan. Mengajak Haruno Sakura bicara. Dan. Dan. Dan. Semoga Haruno Sakura tidak segarang itu...

.

.

.

.

"Hai teme! Tampangmu kok kusut?" Teriakan meriah yang bikin Uchiha Sasuke tiba-tiba meriang itu berlangsung bersamaan dengan beban berat yang tiba-tiba muncul di punggungnya. Yap, Naruto 'merangkul'nya dengan tenaga badak.

"Bukan urusanmu."

"Heee! Kau dingin sekali sih teme. Kenapa? Kau terlalu senang mau dijodohkan dengan Haruno Sakura sampai begitu hm?"

"Jangan ungkit masalah itu lagi. Aku sudah muak."

"Mu...ak? Memang apa yang kau lakukan hm? Apa kau... Kau... Jangan-jangan ka-"

"Urusai! Kau membuat moodku makin hancur tau."

"Hee, aku kan cuma menebak teme. Oh iya, nanti jadi ngajak ngomong Haruno Sakura ga?"

DEGH!

'Kalau dijawab 'ya' nanti susah mempertanggungjawabkannya. Kalau dijawab 'tidak' mau ditaro dimana marga Uchiha dan tampang sekece ini? Cih!'

"Tidak tau."

Ya, itu kata yang terucap dari Uchiha Sasuke yang sedang galau saat ini. Antara ya dan tidak. Antara mati di tangan Sakura dan harga diri terinjak.

"Ah, cemen kau! Masa gitu aja 'tidak tau'? Kau gak laki ah!"

'Sial kau dobe.'

"Apa susahnya sih cuma tinggal bilang, 'aku ingin bicara padamu' selesai. Kau banci gentong (inget ff-ku yang Sasuke si Anak Malang) teme! Kau cup-"

"Baiklah!" Bentak Sasuke frustasi mendengar perkataan sahabatnya (baca : kacung pribadinya) yang bikin kuping panas. Dan rasanya ingin sekali dia menyumpal 'motor-mouth' 'sahabat'nya yang diturunkan dari sang mama tercinta, Kushina.

"Hehehe! Good luck ya teme. Aku mau ngeceng ke kelas 1 dulu. Jaa...!"

'Dasar, temen kurang ajar. Hahh... Sasuke, berharaplah kalau Haruno Sakura tidak seperti yang di mimpi semalam. Tapi biasanya mimpi itu sebagian dari kenyataan. Tidak, tidak. Mimpi yang itu harusnya salah, ya salah.'

Jadi Sasuke, berharaplah Haruno Sakura tidak sesangar yang ada di mimpimu. Atau... Bahkan lebih sangar?

.

.

.

.

"Ehem..." Sasuke berdehem dengan gaya -sok- coolnya berdiri diambang pintu geser kelas 1-3. Entah berdehem untuk apa, siapa dan maksudnya apa, dia mulai melangkahkan kakinya ragu-ragu ke dalam kelas.

"KYAAA ADA SASUKE-SENPAI, GIRLS!" Teriak si 'Mommy Gossip' Ino.

'Sial, ini mirip sama yang ada dimimpi lagi!'

"KYAAA! Sasuke-senpaiii!"

"KYAAAAAA! QAQA GANTENGS!"

"Senpai foto bareng yukk!"

"Senpai bagi pin dong!"

"KYAA SASUKE-KUN!"

Bermacam-macam ekspresi ucapan kalimat pun terlontar. Mulai dari yang SKSD, alay, malu-malu sampai yang gak tau malu. Dan justru hal itu yang membuat Sasuke semakin ngeri. Ia takut mimpinya jadi kenyataan.

Kakinya terus melangkah mendekati meja pojok kanan belakang. Dimana sesosok gadis berambut soft pink sedang membaca buku tanpa terganggu sedikitpun karena teriakan ricuh orang-orang yang menurut Sasuke sudah gila itu.

"Hai." Sapa Sasuke kikuk.

Haruno Sakura, gadis berambut soft pink itu mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca. Sasuke sedikit lega karena Sakura tidak berteriak dan membentaknya secara membabibuta.

"Kau, yang waktu itu kutabrak ya? Gomenasai." Ucap Sakura tenang lalu kembali membaca buku berjudul 'Sunshine Becomes You' karya Ilana Tan, salah satu penulis favoritnya.

Tersentak.

Itu yang Sasuke rasakan.

'Dia minta maaf? Oke, mungkin waktu itu dia emosi. Dan hei, minta maaf? Padahal dimimpiku dia seperti babi hutan garang yang ingin mencabut nyawaku. Hidup memang gila.'

"A-ah ya, lupakan soal itu. Bisakah kita bicara pulang sekolah di taman belakang?"

Yap. Dia sengaja mengganti 'atap' dengan 'taman belakang' karena takut kejadiannya sama dengan yang ada di mimpinya.

"Hmm... Ya. Anggap saja itu penebusan dosaku karena membentakmu, senpai."

Kau. Beruntung. Uchiha. Sasuke.

Haruno Sakura sedang dalam mood yang sangat baik hari ini.

"Jangan sampai telat." Lalu dengan menjaga image -sok- coolnya yang tidak boleh musnah dari wajahnya ia berjalan keluar kelas 1-3 dengan perasaan lega.

'Setidaknya Haruno Sakura tidak sesangar yang ada di mimpiku' Pikirnya.

Tarik nafas dalam-dalam

SLUURP

Buang perlahan

HUAH...

Persiapkan dirimu untuk pulang sekolah nanti Sasuke. Siap-siap untuk menerima segala konsekuensi, rangkai kata-kata, dan persiapkan mental sekuat mungkin.

TBC

A/N : hai hai! Maaf updatenya lama-_- lagi kena WB jadi segini aja dan maaf gak bagus. Dan, ini serius deh. Pada bilang gak cocok rate M? Iya sih Kei nyadar. Tapi bahasanya akan sedikit-sedikit kasar. Dan genre angst, nanti sekitar chapter 5/6 Sakura akan nangis bombay. Haha. Jadi gimana nih minnasan? Turunin rate, atau tetap M? That's your choice. Dan... Silahkan review yang banyak nyak nyak! Biar cepet update. Khekhekhe... Ok sekian. Wait for the next chapter yaa! :D

Salam peluk cium

PurpleLittleMoon