Odyssey

Detective Conan/Case Closed (c) Aoyama Gosho

Odyssey (c) Ai-Kazoku06

Rated : T (?)

Genre : Adventure, Fantasy

Warning: Abal, alur ngawur, typo, kenistaan author, gaje, terlalu ngayal, lama update, bikin sakit mata, niatnya yaoi, lupa-kayaknya OOC banget

Chapter 3 : Biduanita Berduri dan Belati Pemburu

.

.

.

Happy Reading!

.

Perlahan Shinichi membuka kelopak matanya. Pengelihatannya masih samar dan begitu juga pendengarannya. Tubuhnya terasa berat dan kaku, seperti ada yang menimpanya. Iris mata Shinichi bergerak pelan mencari siapa saja walau masih samar, namun tidak didapati satu orang pun di sana. Bahkan Ody yang selalu menempel padanya pun tidak ada.

Dengan masih mengumpulkan kekuatan dan kesadaran, Shinichi bangkit dari tidurnya.

"Ukh!" kepala Shinichi terasa sakit. Berdenyut keras dan lama. Tangan kanannya menompang dahinya, Shinichi merasa ada yang aneh pada dirinya.

Terdengar suara pintu dibuka, menampakkan seorang laki-laki cukup tinggi dengan kulit agak gelap dan rambut pirang pucat. Dengan membawa nampan berisi air dan semangkok bubur, orang itu tersenyum pada Shinichi yang sudah sadar.

"Kau siapa?" gumam Shinchi pelan. Namun masih dapat didengar oleh orang itu.

Meletakkan nampan tersebut pada meja kecil yang ada di dekat tempat tidur, orang itu duduk di tepian kasur tempat Shinichi terduduk, "Aku Bourbon. Namamu Kudo Shinichi bukan?" jawab orang bernama Bourbon tersebut.

"Bourbon," Shinichi terdiam sejenak. Dia pernah mendengar nama itu, bahkan pernah melihat orang ini. Tetapi Shinichi tidak ingat kapan dia bertemu orang ini. Dan juga Shinichi tidak ingat kenapa dia ada di sini. "Kaito," Shinichi terhentak, "Kaito dan Ody di mana?"

Bourbon yang melihat kepanikan Shinichi pun menenangkannya dengan menyodorkan segelas air putih dan menyuruhnya minum, "Tenanglah, minum ini dulu." Ucap Bourbon. Setelah menunggu Shinichi tenang barulah Bourbon menjawab, "Apakah Kaito adalah saudara kembarmu itu? Dan Ody itu adalah peliharanmu? Kalau itu mereka menuju ke kota untuk mencarikanmu obat."

"Tetapi kata mereka kalau kau sudah sadar kau boleh menyusulnya ke kota. Tentu saja aku akan mengantarmu." Lanjut Bourbon. "Tetapi pertama-tama makanlah ini dulu. Kau tidur kurang lebih sehari penuh."

Odyssey

Bourbon menyuruh Shinichi beristirahat sejenak sementara dirinya bersiap-siap.

Bourbon tidak bercerita banyak bagaimana Kaito dan Ody bisa meninggalkan mereka. Dan bagaimana keadaan Ran dan gadis bernama Aoko itu? Apa mereka berempat baik-baik saja? Shinichi terus berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum kehilangan kesadaran. Yang dia ingat hanyalah pandora yang memanggilnya. Shinichi sejak bangun tadi terus bertanya-tanya, kenapa pandora memanggilnya? Apa dirinya memiliki hubungan khusus dengan pandora? Apa hanya karena pandora adalah permata khusus untuk summoner? "Lebih baik aku nanti bertanya pada Nakamori-san."

Merasa sudah baikan, Shinichi akhirnya memutuskan untuk keluar kamar. Baju yang dia kenakan masih sama seperti kemarin, sepertinya Shinichi tidur menggunakan baju yang sama sejak kemarin. Saat keluar kamar, Shinichi mendapati ruangan yang cukup nyaman dengan Bourbon yang mengasah katar miliknya.

"Sudah merasa baikan?" Bourbon meletakkan katarnya di meja dan beranjak mendekati Shinichi.

Shinichi mengangguk, "Bisakah kita berangkat sekarang? Aku khawatir dengan keaadan adikku."

Bourbon tertawa kecil, "Terburu-buru sekali."

Malu ditertawakan, Shinichi hanya membuang muka, menyembunyikan semburat merah di pipinya.

Melihat bagaimana keadaan Kodo Shinichi di hadapannya ini Bourbon hanya tersenyum lembut, "Baiklah, kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Sebelum itu tunggu aku menyiapkan barang-barangku. Aku ingat mau ambil beberapa misi di kota." Kata Bourbon seraya berjalan mendekati meja dan menyiapkan katar miliknya dan item-item berharga lainnya.

"Misi? Untuk apa?" tanya Shinichi.

"Untuk apa?" Bourbon tertawa geli, "untuk mendapatkan uang tentu saja. Jangan bilang Kudo-san tidak pernah menjalankan misi satu kali pun?" tanya Bourbon bercanda.

"Tidak pernah."

"EH!" Bourbon benar-benar terperanjat mendengar jawaban polos Shinichi, "misi mudah seperti mencabut rumput atau mengurus ternak atau menjaga toko atau misi mudah yang lainnya tidak pernah?"

Kali ini Shinichi menggelengkan kepalanya.

"Ampun." Bourbon menepuk jidatnya, "oh ya aku lupa, kau kan baru kabur dari rumah."

"Be-begitulah." Ekspresi wajah Shinichi langsung berubah canggung mendengar penyataan dari Bourbon yang sebenarnya hanya kebohongan belaka.

"Tetapi menurutku itu tak masalah," Bourbon menyanggul katar miliknya pada punggungnya, sementara mengaitkan kedua sabuk yang berisi beberapa item di pinggangnya, "setidaknya setelah sampai ke kota ambillah beberapa misi." Dengan tersenyum lembut Bourbon berjalan menuju pintu dan membukanya, "Ayo."

Mengangguk, Shinichi mengikuti Bourbon dari belakang.

Selama di perjalanan Shinichi dan Bourbon hanya diam saja. Tidak ada yang angkat suara sama sekali. Shinichi benar-benar khawatir dengan keadaan Ody dan Kaito. Perasaan takut menyelimuti kalau saja mereka sudah ditangkap BO, atau mungkin orang lain yang mengincar mereka. Tapi kalau dipikir-pikir kami kan baru saja tiba di dunia ini, jadi tidak mungkin sudah ada yang mengincar. Batin Shinichi meyakinkan.

"Bourbon, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Shinichi di tengah perjalanan.

Bourbon mengangguk, "Boleh saja."

"Apa kau tahu sesuatu tentang pandora?"

Dengan masih tersenyum Bourbon mengangguk lalu bertanya kembali, "Kenapa? Kau tertarik?"

Dengan perasaan canggung Shinichi mengganggukkan kepalanya.

"Pandora itu permata yang sangat terlarang. Orang biasa sepertiku tidak bisa menggunakannya. Bahkan sang raja dan ratu pun tidak bisa. Tetapi pandora selalu memilih sendiri siapa yang menjadi penjaganya. Semacam guardian menurutku."

"Bagaimana cara pandora memilih pelindungnya?" tanya Shinchi.

Bourbon mengangkat bahu, "Entahlah, rahasia kerajaan."

"Be-begitu ya."

"Tetapi yang aku dengar, pandora akan menghilang seketika dan menuju sang summoner yang dipilihnya." Lanjut Bourbon, "itu hanya rumor, tetapi kata tuan putri Sonoko tidak seperti itu."

"Apa maksudnya?"

"Pandora tidak akan berpindah ke manapun sampai summoner itu sendiri yang mengambilnya. Tetapi berhubung tidak ada satu pun summoner di dunia ini maka permata itu aman." Ekspresi Bourbon terlihat gembira.

Shinichi tersenyum canggung, "Sepertinya summoner itu job terlarang ya?"

"Tidak seperti maksudnya," kata Bourbon, "Job terlarang adalah necromancer."

"Kenapa bisa begitu?" tanya Shinichi.

Bourbon menundukkan kepalanya, sebagian poninya menutupi matanya. Kilat matanya meninggalkan cahaya gelap yang suram, "Keluarga dan kekasihku mati karena necromancer."

Mendengar jawaban Bourbon, Shinichi ikut bersedih dan berkata, "Ma-maafkan aku. Aku tidak tahu kalau–"

"Tidak apa-apa." Sahut Bourbon cepat. Senyumnya yang lembut kembali terukir pada bibirnya.

"Ngomong-ngomong Kudo-san, apa sungguh kau seorang trainer?"

"Eh?"

"Aku memang selalu melihatmu bersama Ody, tetapi aku satu kalipun tidak pernah melihatmu bertarung bersama Ody. Jadi aku ragu kalau kau seorang trainer." Ucap Bourbon yang membuat keringat dingin Shinichi bercucuran.

Gawat, kalau begini rahasiaku akan terbongkar. "A-aku baru saja mendapatkan job ini, jadi aku tidak pernah bertarung sebelumnya. Kalau menyusun strategi dalam kelompok mungkin aku bisa."

"Begitu ya."

Shinichi mengangguk mantap, meyakinkan Bourbon dengan alasan yang sebenarnya percuma.

"Bagaimana kalau kita berlatih!" usul Bourbon, "Aku tahu di dekat sini ada padang rumput yang tidak begitu luas. Tetapi nyaman untuk dibuat berlatih. Ayo!"

Bourbon menarik tangan Shinichi dan berlari menuju padang rumput yang dimaksud.

Odyssey

Padang rumput itu luas. Rerumputannya tidak begitu tinggi, mungkin hanya sebatas mata kaki. Dan udaranya juga sejuk. Tanahnya gembuk dengan angin berhembus pelan, sedikit mengibarkan helaian rambut Shinichi dan Bourbon.

"Baiklah," Bourbon tersenyum bangga, "Gunner berarti bermain dengan akurasi bukan."

Shinichi mengangguk, "Kalau masalah akurasi aku sudah terbiasa." Jawab Shinichi. Dikeluarkan pistol laras pendek dari pinggul kirinya. Sementara yang ada di pinggul kanannya dibiarkan saja.

"Makhluk yang bergerak?" tanya Bourbon.

Terlihat keraguan di wajah Shinichi, "Aku tidak tahu, tergantung kecepatannya." Jawab Shinichi.

"Kau tahu," Bourbon berjalan dan memasang katarnya pada tangan kanannya, "Katar adalah salah satu job yang menggunakan kecepatan. Kalau mereka tidak cepat maka serangan mereka tidak akan berhasil. Akurasi katar cenderung labil, tidak seperti warrior atau swordman."

"Lalu bagaimana cara katar menajamkan akurasi mereka?"

Bourbon merekatkan pengait pada pergelangannya dan tangannya, "Mungkin akurasi tidaklah penting. Menurutku hal itu bisa diurus. Karena sekitar delapan puluh persen serangan kami akan mengenai musuh. Sama dengan fighter, kami tipe hand-to-hand, kalau serangan kena maka gerakan selanjutnya pasti berhasil. Kalau meleset maka reksikonya cukup besar."

"Apa bedanya? Katar hanya menggunakan belati dan fighter tangan kosong."

"Tentu saja beda Kudo-san." Bourbon tersenyum lebih lembut, "Katar juga main jarak. Kapan harus melompat mundur dan kapan harus mendekat dan menyayat musuh. Semua itu diperhitungkan. Job ini tidak memiliki keuntungan banyak, jadi hanya sedikit yang memilih job ini." Jelas Bourbon, "tetapi sekali seorang katar sudah mencapai master job, maka kecepatannya akan mengalahkan assasin, ketangkatasan mengalahkan thief, akurasi mengalahkan gunner, dan kekuatan mengalahkan fighter. Tentu saja masalah pertahanan job ini sangat lemah. Jadi kalau terkena serangan besar habislah sudah."

"Master job itu apa?"

"Sebenarnya master job itu bukan apa-apa," jawab Bourbon seraya mengayunkan tangan kanannya. Melarasakan otot-otonya dengan berat katar dan aliran belatinya, "itu hanya julukan. Dan sama sekali tidak penting."

"Begitu."

Bourbon berbalik menatap Shinichi. Senyumnya mengembang, tangan kanannya yang tersampir senjata katar diposisikan di depan dadanya, "Kalau begitu ayo berlatih."

"EH!" Shinichi tertegun atas ajakan Bourbon, "A-aku?"

Mengangguk, Bourbon mengulurkan tangan kanannya. Katarnya mengkilap, memantulkan cahaya dari sinar matahari, "Tidak sulit bukan. Kau hanya perlu melawanku."

"Tentu saja sulit!" protes Shinichi, "A-aku tidak pernah bertarung sebelumnya."

"Satu kali pun?" Shinichi mengangguk. Sorot matanya meyakinkan Bourbon kalau dirinya benar-benar tidak pernah bertarung sebelumnya.

"Tidak ada cara lain." Bourbon berjalan santai mendekati Shinichi, "aku harus memancingmu."

"Memancingku?"

Sedetik kemudian Shinichi merasakan hembusan angin tipis melintang melewati lehernya. Shinichi tidak bisa bergerak, tubuhnya kaku. Sayatan tadi terasa seperti membekukan darahnya, Apa itu tadi?

Saat tersedar, Shinichi sudah mendapati wajah Bourbon tidak jauh dari batang hidungnya sendiri, tersenyum licik dengan isyarat mata mengerikan, "Satu saran, dalam bertarung kau tidak boleh memiliki belas kasihan. Kau harus memiliki nafsu membunuh agar kau menang."

Terkejut, Shinichi berjalan mundur secara perlahan. Pegangan kedua tangannya pada pistol terasa merenggang dan licin. Beruntungnya Shinichi diberi sarung tangan pada perlengkapan bajunya sehingga keringat tidak begitu berefek banyak.

"Kenapa Kudo-san? Kau terlihat takut." Dilangkahkan kaki Bourbon. Perlahan mendekat pada Shinichi.

"Ka-kau berusaha membunuhku." Seharusnya aku tidak mengikutinya tadi.

Bourbon mengangkat kedua tangannya, membentuk pose tidak tahu, "Sudah aku bilang bukan tadi. Agar kau menang kau harus memiliki nafsu membunuh."

"Aku tidak ingin melukai siapapun." Kata Shinichi, suaranya bergetar ketakutan.

"Kau terlalu naif Kudo-san."

"Aku tidak naif. Aku memang tidak ingin melukai siapa pun." Teriak Shinichi, "Bisakah kita hentikan ini?"

Senyuman Bourbon semakin menjadi-jadi, sedetik kemudian Bourbon menghilang dari pandangan Shinichi.

Terkajut, Shinichi terdiam di tempat. Dia masih bingung, apakah harus melawan Bourbon atau kabur. Kalau dia melawan, Shinichi takut akan mengenai bagian vital Bourbon dan membunuhnya. Tetapi kalau Shinichi tidak melawan, dia bisa mati membusuk karena katar milik Bourbon. Dan lagi Shinichi juga tidak yakin kalau dia menyerang maka pelurunya akan mengenai Bourbon, tidak, bahkan menggoresnya pun tidak bisa. Kecepatan Bourbon terlalu tinggi. Shinichi dapat tahu dari derap kakinya pada rerumputan, dan lagi Bourbon berlari secara acak, tidak memutarinya maupun mendekatinya. Gerakannya tidak bisa diprediksi. Ini lebih sulit dari yang aku duga!

Shinichi merasakan derap langkah Bourbon mulai mendekat. Dengan hanya mengandalkan insting, Shinichi pun berlari menjauhi Bourbon, menuju ke tempat persembunyian, mungkin hutan yang ada di hadapannya bisa dia gunakan.

Terlambat, gerakan Shinichi terlalu lambat. Bourbon sudah berada di hadapannya, bersiap menusuk Shinichi. Namun Shinichi sudah tahu kalau Bourbon akan muncul di hadapannya dan menusuknya. Dengan kemampuan seadaannya Shinichi menghindar ke sisi kiri dan melompat mundur.

DOR! DOR! DOR!

Tiga peluru telah dilepas Shinichi. Namun semua itu meleset. Sebagai gantinya, pipi kanan Shinichi terkena sayatan katar Bourbon, walau hanya kecil namun tetap terasa perih.

"Kudo-san, kau sudah memutuskan untuk melawanku?" seru Bourbon entah dari mana.

"Ya!" balas teriak Shinichi, menajamkan pendengarannya–mengidentifikasi di mana letak Bourbon dan sejauh mana dari posisinya, "aku memutuskan untuk ingin tetap hidup dan menemui Kaito dan Ody!"

Lima puluh meter, arah jarum jam dua. Bersembunyi di balik semak-semak. Shinichi menemukan posisi Bourbon hanya dengan mendengarkan suaranya. Ditegakkan tubuhnya, tidak melakukan pergerakan. Tetapi bagaimana aku menembaknya tanpa membidiknya terlalu lama?

Shinichi masih terdiam dan berpikir keras. Alisnya saling bertautan, pegangan pada pistolnya menguat. Seketika Shinichi mendapatkan ide, walau masih bereksiko tetapi Shinichi menggantungkan keberuntunganna pada rencana ini.

Merasa sudah siap Shinichi pun kembali berlari menuju hutan.

"Oh, masih ingin tetap kabur?" seru Bourbon. Namun Shinichi tidak membalas ucapan Bourbon.

Dia masih di sana. Dengan penuh keyakinan, Shinichi menodongkan pistolnya pada posisi di mana Bourbon berada.

DOR! DOR! DOR!

Tiga peluru tadi menembus semak-semak. Namun dapat Shinichi dengar derap langkah Bourbon yang menjauh dari semak-semak sebelum peluru tadi dapat mendekatinya, sial, meleset.

Bourbon yang sudah bersembunyi di tempat lain mulai tersenyum puas, Hebat, hanya mendengar suaraku dia sudah tahu posisiku. Aku tidak bisa meremehkannya sekarang.

Dengan penuh keyakinan Bourbon berdiri, tubuhnya yang cukup maskulin tersebut sedikit melakukan renggangan kecil, "Saat untuk serius ."

Di saat yang bersamaan, Shinichi sudah sampai pada hutan yang dituju. Dengan napas tersenggal-senggal Shinici mencari pohon yang cukup tinggi dengan dedaunan lebat dan ranting yang dapat menyembunyikannya. Menoleh ke sana kemari dan Shinichi mendapati pohon yang dicarinya.

"Hup!" Shinichi melompat, lompatannya cukup lebih tinggi dari lompatannya dari dunianya yang biasa. Shinichi berhasil meraih dahan pohon tersebut dan menanjaknya. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Shinichi menyusun dahan dan dedaunan tersebut sehingga dapat menutupi tubuhnya namun meninggalkan beberapa ruang untuknya membidik.

Merasa sudah yakin, Shinichi pun mengacungkan pistolnya ke langit dan,

DOR!

Satu tembakan dia lepaskan untuk menarik perhatian Bourbon.

Sekarang tinggal menunggu dia datang. Semoga dia tidak menyadariku di sini. Shinichi berjongkok, bertumpu pada lutut kanannya. Pendengaran dan pengelihatannya ditajamkan, was-was kalau Bourbon tiba-tiba muncul.

Namun tanpa diduga, Bourbon benar-benar muncul. Dia berjalan santai di jalan setapak yang terlihat dari tempat persembunyian Shinichi. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Was-was kalau Shinichi menembaknya dari arah yang tak tentu.

DOR!

Satu tembakan berhasil dilepas, menggores lengan Bourbon sehingga mengeluarkan segumpal darah walau tidak banyak. Masih dengan keterkejutannya, Bourbon berbalik badan. Memprediksi darimana asal tembakan tadi. Tetapi nihil, Bourbon tidak menemukan tanda-tanda ada orang bersembunyi.

"Di mana dia?" gumamnya penuh kesal.

DOR! DOR! DOR!

Tiga peluru hampir tepat mengenai sasaran. Satu peluru menggores pipi Bourbon, satu peluru lagi mengenai lengan kanannya dan satu tembakan lagi mengenai pundak kanannya. "Dia, mengincar tangan kananku!" umpat Bourbon. Dia berlutut seraya tangan kirinya memegangi luka yang ada di lengan kanannya. Berusaha menghentikan pendarahan.

Yosh, dengan begini dia tidak akan bisa menggunakan katarnya. Batin Shinichi sedikit penuh percaya diri. Dengan begini mungkin kecepatannya akan berkurang.

Tanpa Shinichi duga ternyata Bourbon sudah berada di belakangnya, bersiap menendang Shinichi dengan kaki kanannya.

Sial! Sejak kapan dia menemukanku!

Terlambat untuk menghindar, tendangan Bourbon sudah telak mengenai wajah kanan Shinichi. Sehingga menjatuhkannya dan membawa rasa sakit yang tiada tara.

"Hebat juga!" Shinichi berusaha menatap Bourbon yang berjongkok di hadapannya. Namun rasa sakit pada tulang pipinya membuatnya mati rasa, "berusaha melumpuhkan tangan kananku sehingga aku tidak bisa menggunakan katar. Bukan ide buruk, aku cukup salut dalam caramu berusaha melumpuhkan musuh."

"Ukkhh," Shinichi berusaha bangkit, namun kaki kiri Bourbon sudah terlebih dahulu menekan kepalanya ke tanah.

"Jangan bergerak dulu," Bourbon melepas katar yang ada pada tangan kanannya, kemudian memakainya pada tangan kiri, "aku masih belum selesai."

"Angkat kakimu dari kepalaku brengsek."

Terkejut, Bourbon tidak menduga kalau Shinichi bisa memanggilnya brengsek, "Aku tidak menduga Kudo-san bisa memanggilku seperti itu," senyum Bourbon mengembang saat katar sudah benar-banar terpasang pada tangan kirinya, "tapi itu tidak masalah, karena sebentar lagi Kudo-san tidak akan melihat matahari lagi."

Bagaimana ini? Shinichi mulai frustasi. Tangannya berusaha meraih pistol, namun terlalu sakit sehingga tak bisa digerakkan sama sekali.

Apa aku akan mati di sini sebelum kembali ke duniaku sendiri?

Apa yang harus aku lakukan?

"Selamat tinggal, Kudo-san." Bourbon melakukan gerak menusuk pada Shinichi, mengincar tengkuk kepalanya.

Panggillah aku, Shinichi-dono.

"IXIIOONNN!"

Mendadak suara menggelegar petir membahana di seluruh padang rumput dan hutan sekitarnya. Langit yang tadinya berwarna biru cerah dengan awan tipis sebagai penambah keindahan digantikan oleh awan hitam yang sangat tebal. Angin yang tadi berhembus pelan dan menyejukkan berubah menjadi angin kencang, seperti akan terjadi tornado yang sangat kuat. Suara dedahanan daun yang saling bergesekan menambah kesan mengerikan akan cuaca yang mendadak berubah drastis.

"ADA APA INI!" seru Bourbon panik. Dirinya yang tadi mau menusuk Shinichi pun tak dilakukan karena perubahan alam sekitar yang seperti kematian.

Dari jalan setapak yang mengarah ke utara, terlihat cahaya biru cerah yang mengkilat sangar sekaligus menakjubkan. Berlari ke arah Bourbon dengan kecepatan tinggi. Dengan ekor dan surai petir yang menyelimuti tubuhnya menambah kengerian pada sosok yang perlahan mendekat.

"IXIIOONNN!" Bourbon terpekik ngeri saat mendapati makhluk yang menghampirinya adalah Ixion, makhluk mistis pengendali petir dan kilat yang berwujud kuda.

Ixion berhenti berlari dan terkikik tepat di hadapan Bourbon, mengangkat kedua kaki depannya seakan menakuti Bourbon yang terkejut. Tanduknya yang runcing mengeluarkan petir kecil dan dilemparkan pada Bourbon. Membuat Bourbon terpental cukup jauh dan menghantam sebuah pohon yang cukup besar dan menghancurkan pohonnya.

"Kuh," Shinichi berusaha berdiri. Kepalanya masih sedikit pening dan berat. Ixion yang tahu akan keadaan pemanggilnya pun berusaha menundukkan kepalanya, menawarkan diri untuk membantu Shinichi berdiri. "Terima kasih." Kata Shinichi.

Bourbon berusaha bangkit. Hantaman tadi benar-benar hampir membuatnya mati. Dengan kekuatan seadanya dia berusaha berdiri. Rasa sakit yang ada pada tangan kanannya semakin parah. Sekilas Bourbon dapat melihat Shinichi yang mengelus lembut surai Ixion, seakan tidak memiliki rasa takut. "Kudo-san..."

Shinichi yang mendapati keadaan Bourbon pun hanya menatap tajam, "Bourbon," Shinichi menarik napas panjang, dan mengeluarkannya dari mulut secara perlahan, "maafkan aku, tetapi aku benar-benar tidak ingin kita bertarung. Aku tidak ingin melukai siapa pun."

"Kudo-san, kau," bibir Bourbon kaku, tidak percaya dengan Ixion yang berada di belakang Shinichi, melindunginya dan mengawasi Bourbon.

Shinichi mengangguk, "Ya, aku seorang summoner. Mengejutkan bukan? Aku sendiri masih tidak percaya."

Bourbon yang sudah bisa berdiri tegap pun mencoba berjalan mendekati Shinichi. Ixion yang melihat tingkah Bourbon semakin waspada. Suara Ixion terdengar mengancam walau hanya ringikan kecil.

"Tenanglah," Shinichi mengelus surai Ixion yang berwarna biru donker, "aku yakin dia tidak akan menyerangku lagi. Ya kan, Bourbon?"

Odyssey

"Jadi, kau ke Kuil Azure dan meminta bantuan Odyssey untuk mencari job-mu yang sesungguhnya bersama kembaranmu? Dan kau mendapatkan gunner dan summoner?" tanya Bourbon memastikan. Lukanya sudah sembuh karena meminum potion dalam jumlah banyak. Begitu juga Shinichi, meninggalkan tanda tanya besar bagi Shinichi, bagaimana bisa cairan merah dengan rasa hambar bisa menyembuhkan segala macam luka fisik dalam waktu sepersekian detik.

Shinichi mengangguk, Ixion duduk manis dan menjadi sandaran bagi Shinichi. "Aku sendiri sebenarnya tidak percaya kalau aku adalah seorang summoner, karena sebelumnya aku adalah manusia biasa."

Bourbon ingin sekali memeluk Shinichi dan meyakinkan kalau kita semua adalah manusia biasa di sini. Namun Bourbon dapat merasakan kalau manusia biasa yang dimaksud Shinichi tidaklah sama dengan manusia biasa yang dimaksud Bourbon, seperti suatu hal yang asing dan tidak mungkin. Namun Bourbon menahan keinginannya untuk memeluk Shinichi, karena Ixion sudah mengeluarkan suara menyebalkan yang menandakan kalau dirinya masih dendam dengan Bourbon. Merasa cukup wajar, Bourbon hanya bisa mengalah. Sejak awal ini memang salahnya dan dia tidak bermaksud sungguh-sungguh, dia hanya ingin menguji Shinichi, hanya itu saja.

"Ngomong-ngomong Bourbon, apa jarak kota dari sini masih jauh?" tanya Shinichi.

"Tidak begitu jauh, tetapi lebih baik kita istirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Kau terlihat sangat kelelahan." Jawab Bourbon, direbahkan tubuhnya pada rerumputan yang empuk.

"Benar juga," Shinichi mengalihkan perhatiannya pada Ixion, mengelusnya dan mengakibatkan Ixion terpejam penuh kenyamanan, "terima kasih sudah menolongku, sekarang waktunya untukmu kembali."

Ixion yang mendengar pernyataan Shinichi hanya dijawab dengan dengusan protes, "Tenanglah aku pasti baik-baik saja, aku hanya belum terbiasa jadi jangan khawatir." Ujar Shinichi menenangkan Ixion, "Nah, sekarang selamat istirahat Ixion. Dismiss."

Ixion pun berubah menjadi transparan dan pecah seperti kepingan kaca yang terbawa angin dan menjadi serbuk peri yang halus. Bourbon yang melihat bagaimana menghilangnya Ixion hanya berdecak kagum. Sementara Shinichi hanya tersenyum lembut.

"Kau hebat Kudo-san." Puji Bourbon.

Shinichi hanya mengibaskan tangan kanannya, "Kau bicara apa Bourbon, justru kau yang hebat. Kalau kau tidak menantangku bertarung seperti tadi, mungkin aku masih menjadi pengecut sampai detik ini. Oh, dan panggil saja aku Shinichi. Kalau Bourbon terus memanggilku Kudo nanti keliru memanggil kembaranku juga."

"Benar juga, kau punya kembaran ya. Kalau begitu mohon bantuan untuk ke depannya Shinichi." Bourbon tersenyum selembut mungkin. Senyuman menawan yang pernah Bourbon punya.

"Eh, i-iya." Shinichi membalas senyuman Bourbon walau agak canggung.

Mereka cukup lama terdiam, Bourbon tiduran sambil menatap langit, sementara Shinichi hanya duduk bersila sambil memandang lurus entah ke mana. Semuanya terasa tenang, begitu yang sekarang dipikirkan Shinichi. Menghabiskan waktu bersama Bourbon bukanlah kerugian menurut Shinichi. Malah yang terjadi Shinichi belajar banyak. Bourbon mungkin ingin menyampaikan kalau dunia ini berbahaya dengan menggunakan dirinya sebagai salah satu bahaya tersebut dan rela menerima reksiko kalau dia terluka. Awalnya Shinichi tidak tahu kenapa Bourbon begitu baik padanya, namun itu tidaklah penting bagi Shinichi. Untuk menolong seseorang tidaklah butuh alasan bukan?

"Bourbon," panggil Shinichi, "adakah sihir di dunia ini untuk memindahkan orang dari satu dunia ke dunia lain?" tanya Shinichi. Raut wajahnya mendadak muram.

Bourbon yang tak dapat melihat wajah Shinichi –karena dia tiduran– pun menjawab, "Aku tidak tahu. Kalau pun ada maka sesuatu hal yang terlarang pasti akan terjadi. Dan mungkin akan merusak kedua dunia tersebut. Tetapi menurutku tidak mungkin ada sihir seperti itu. Sihir telepostasi saja terdiri dari begitu banyak baris kata sihir, ribuan atau jutaan kata malahan. Tidak mungkin ada yang bisa menguasai semua kata rumit tersebut."

"Begitu ya," Shinichi menunduk, helaian rambutnya menutupi iris matanya yang sebiru laut, "kalau begitu aku tidak bisa pulang." Gumam Shinichi seakan berbisik.

"Kau bicara apa Shinichi-kun?" tanya Bourbon memastikan. Bourbon merasa barusan mendengar bisikan Shinichi yang rasanya sedih.

Shinichi menggeleng cepat, "Tidak." Shinichi berdiri dan sedikit menolehkan kepalanya, tidak memperlihatkan wajahnya pada Bourbon "Aku ingin mencari air dulu dan beberapa buah-buahan. Bourbon tunggu di sini saja ya." Setelah berpamitan Shinichi pun langsung berjalan ke arah hutan yang ada di belakangnya.

"Ya, hati-hati dengan monsternya ya, Shinichi-kun." Seru Bourbon setengah berteriak pada Shinichi.

Shinichi hanya membalas dengan lambaian tangan kanan. Tidak menoleh atau pun melirik Bourbon.

Odyssey

Shinichi merasa sudah berjalan cukup jauh dari padang rumput tempat di mana Bourbon berada. Kakinya mebawanya melangkah entah ke mana, Shinichi hanya ingin menjauhi Bourbon untuk sementara. Entah di mana dirinya sekarang Shinichi tidak peduli. Dirinya merasa kecewa sekaligus putus asa, harapannya untuk pulang terasa hancur mendengar pernyataan Bourbon tadi. Shinichi tidak mau terus menerus terjebak di dunia ini dan membuat teman masa kecilnya terus menunggu lebih lama.

"I am whispering in the wish. Even the quite dream, is meaning such me young. I find and drop the tears. Of our heart~~"

Langkah Shinichi terhenti, dirinya takjub mendengar nyanyian yang begitu indah. Merdu dan menenangkan. Seperti jiwanya tiba-tiba tertidur dalam kedamaian. Namun Shinichi tidak tahu maksud dibalik nyanyian itu. Nyanyian yang indah namun berduri.

Penasaran, Shinichi mencari darimana asal suara yang menakjubkan tersebut. Shinichi bahkan hampir menginjak beberapa hewan kecil hanya karena melawati semak-semak yang bukan jalan semestinya. Sampai beberapa goresan kecil menghiasi kulitnya, Shinichi tidak peduli dengan tanaman beracun yang sudah melumpuhkan tangan kanannya. Dia ingin bertemu dengan seseorang yang suaranya sangat merdu. Sangat sempurna.

Dan di sinilah Shinichi, menatap takjub pada seorang hawa yang sedang telanjang bulat bermandikan air di genangan air yang cukup besar dengan daun kecil dan beberapa kelopak bunga yang indah. Sangat mengagumkan. Helaian rambut yang berwarna pirang pucat tersebut menggerai indah dihiasi butiran air. Layaknya tiara seorang ratu, wanita itu terus bernyanyi walau menyadari kehadiran Shinichi.

Dengan penuh keyakinan, Shinichi melangkah menuju genangan air tersebut, seakan tersedot oleh rayuan nada dari sang wanita.

Wanita itu membalikkan badannya, nanyiannya terus dilantunkan sampai Shinichi sudah ada di hadapannya. "Eh," wanita itu memeluk Shinichi yang sudah hilang kesadaran, "jadi kau orang yang diinginkan boss?"

Shinichi tidak menjawab pertanyaan dari seseorang yang diketahui ternyata Vermouth, salah satu musuh yang seharusnya dijauhi Shinichi.

Kembali Vermouth meneliti setiap lekuk wajah Shinichi. Kulitnya berwarna tan dengan iris biru yang seindah langit, atau mungkin laut, yang jelas Vermouth terpaku pada pemuda di hadapannya. Menurut Vermouth anak ini manis.

"Namamu?" tanya Vermouth, walau nyatanya dirinya sudah tahu nama dari orang di hadapannya.

"Kudo Shinichi."

"Kudo Shinichi," Vermouth tersenyum puas, "Beri tahu aku Kudo Shinichi, job-mu apa?"

"Gunner dan Summoner."

"Summoner," Vermouth terhenyak sejenak, namun senyumnya kembali mengembang secepat mungkin, "pantas boss menginginkanmu."

Diulurkan tangan Vermouth menggapai wajah tampan Shinichi, "Hei Kudo Shinichi," Vermouth membelai manja pada pipi sekaligus helaian rambut Shinichi, semakin memperkuat sihir raunnya, "maukah kau mengikutiku?"

Shinichi mengangguk, tentu saja dalam bawaan sihir Vermouth.

"Bagus," Vermouth menjijit sejenak dan mencium bibir Shinichi sekilas, "Saat aku datang, ikutlah bersamaku selamanya, ya?"

Odyssey

"Shinichi." Panggil seorang gadis berseragam SMA dengan warna dominan biru, berjalan berdampingan dengan laki-laki yang memperhatikan sekitar.

"Hm?" orang yang bernama Shinchi tersebut melirik sekilas gadis yang ada di sampingnya.

Gadis itu berkata sesuatu hal. Sepertinya dia bercerita, begitu panjang sampai gadis itu tak sengaja menabrak beberapa orang yang berlalu lalang. Shinichi hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu. Dan terkadang merespons cerita gadis tersebut. Namun, Shinichi tidak dapat mendengar satu kata pun yang gadis itu ucapkan, bahkan apa yang dirinya sendiri ucapkan.

Seketika semuanya terhenti. Shinichi yang satu-satunya bisa bergerak hanya kebingungan. "Ada apa?" tanyanya entah pada siapa. Shinichi berjalan menghampiri gadis yang berjalan berdampingan dengannya tadi.

"Siapa? Gadis ini?" gumamnya. Paras gadis itu cantik dengan helaian rambut kecoklatannya yang tergerai terhembus angin. Wajahnya terlihat ceria, senyumnya anggun dan lembut. Shinichi sejenak merasa nyaman memperhatikan gadis yang ada di hadapannya walau gadis itu terdiam kaku. Sayangnya Shinichi tidak tahu siapa gadis ini. Seakan ingatannya yang penting telah terhapus dan dihancurkan.

Seketika semuanya hitam. Hitam legam. Gadis yang diperhatikannya tadi berubah menjadi hamparan debu yang tertiup angin. Orang-orang di sekitarnya juga hilang layaknya gadis yang diperhatikan Shinichi. Dan terakhir disusul dengan lingkungan sekitar Shinichi.

Shinichi benar-benar bingung, namun dirinya hanya terdiam. Dirinya menyadari kalau ada yang tidak beres, dirinya atau pun kekosongan yang ada di sekitarnya. Dilangkahkan kaki jenjangnya menyusuri kegelapan tersebut. Nihil, Shinichi tidak menemukan apapun.

"Kudo Shinichi." Suara berat yang terdengar misterius memanggil namanya. Shinichi menghentikan langkah kakinya dan menatap sekeliling.

"Siapa?!"

Teriakan Shinichi memantul di kegelapan. Tidak ada yang merespon. Malahan tiba-tiba sejumput tangana bayangan merayap melalui kaki kiri Shinichi.

Ketakutan, insting mengatakan agar dirinya untuk kabur. Meninggalkan bayangan yang semakin menggila banyaknya.

Tenaga Shinichi melemah. Tangan-tangan itu semakin melahap dirinya. Ingin berteriak minta tolong tetapi tak ada satu pun suara yang dapat Shinichi keluarkan, seperti ada yang mencekiknya.

Terakhir yang Shinichi ingat adalah, dirinya mengulurkan tangannya meminta tolong sebelum kegelapan benar-benar memakannya. Dan samar-samar Shinichi dapat mendengar suara.

"Terima kasih atas makanannya."

Odyssey

Perlahan kelopak mata Shinichi terbuka. Menyamankan kontras cahaya dengan pupilnya. Dengan tangan kanannya, Shinichi mengucek matanya yang sedikit berair karena terlalu lama tidur.

"Shinichi!" seorang laki-laki yang berambut berantakan tiba-tiba saja memeluk Shinichi. Disusul dengan macan tutul yang langsung menendang laki-laki tadi.

"Bodoh! Biarkan Shin sadar dulu, jangan asal peluk dasar pencuri durjana!" teriak macan tutul yang diketahui sebagai Ody.

"Kucing keparat, suka-suka aku mau peluk Shinichi. Lagipula, kau kan tidak ada hubungannya dengan kami sebenarnya." Protes laki-laki tadi yang ternyata adalah Kuroba Kaito.

Shinichi yang melihat pemandangan baru pada acara bangunnya hanya kebingungan. Dia melihat seorang laki-laki yang mungkin lebih tinggi darinya mempunyai wajah yang sangat mirip dengan miliknya, seperti melihat cermin kalau Shinichi boleh mengakui. Dan satu lagi Shinichi melihat seekor macan tutul yang memiliki dasar putih dengan bintik hitam, sedang berteriak – atau mungkin menasehati laki-laki yang ada di hadapannya.

"Apa Shinichi-kun sudah sadar?" tanya gadis yang tiba-tiba masuk ke kamar tersebut.

Shinichi sejenak terkejut melihat gadis yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan gadis yang ada pada mimpinya. Dan di belakangnya diikuti gadis yang wajahnya sama dengan gadis yang masuk pertama, hanya rambutnya sedikit acak-acakan. Apa mereka kembar?

"Dia baru saja sadar," ucap Ody, "tetapi sepertinya belum sadar sepenuhnya."

"Syukurlah. Untung saja Bourbon secepatnya membawa Shinichi ke kota." Seru gadis itu. Kesenangan dan Kelegaan benar-benar tersirat pada ekspresi wajahnya.

Bourbon? Shinichi ingat, dia orang yang merawatnya kemarin. Kemarin? Kemarin lusa? Atau lebih dari itu? Shinichi tidak begitu ingat, yang Shinichi tahu orang bernama Bourbon itu mengajaknya bertarung untuk menguji sampai mana kemampuan job-nya.

"Hei Shinichi, bicaralah. Masa dari tadi Cuma aku yang terus menjawab." Seru Kaito, mendekatkan wajahnya pada Shinichi.

"Tidak apa-apa Kaito. Mungkin Shinichi masih bingung." Ujar gadis yang menurut Shinichi manis – atau bisa kita bilang Mouri Ran.

Nakamori Aoko – gadis yang ada di belakang Mouri Ran mengangguk setuju, "Ran-chan betul. Eh, mungkin kita bisa mempertemukan Shinichi dan Kaito pada Putri Sonoko. Kau tahu, tuan putri kan suka cowok tampan."

Ran hanya tertawa kecil, "Kau benar, tetapi kita tunggu kondisi Shinichi membaik dulu."

"Suzuki Sonoko maksud kalian?" tanya Kaito memastikan. Dan disahut dengan anggukan mantap dari gadis pelindung di hadapannya ini.

"Sangat mengejutkan." Kaito tertawa datar. Walau dirinya sudah bertanya dalam kesekian kalinya untuk memastikan.

"Anou," Shinichi mulai angkat bicara. Semua orang yand ada di ruangan tersebut mulai mengalihkan perhatiannya pada laki-laki berwajah manis ini. Ody yang ada di pangkuan Shinichi hanya tiduran.

"Ada apa Shinichi-san?" tanya Ran tersenyum lembut.

"Kalian ini siapa?"

.

.

.

Bersambung. . .

.

.

NGAHAHAHAHAHAHA! SHINICHI GAK KENAL KALIAN SEMUA! MAMPUS LU MAMPUS!*Diinjek reader*

Well, maafkan saya karena lama update. Saya harus menyiapkan banyak hal untuk persiapan di enam bulan mendatang. Saya malas basa basi banyak banget. Ah, dan maafkan saya kalau update saya lama banget. (Maklumi kegiatan anak SMK yang mau prakering kerja)

.

Mind to Review?