FROM ME TO YOU
Masih tertinggal banyanganmu yang telah membekas
Direlung hatiku
Aku takkan bisa menghapus dirimu
Meski kulihat kini kau disebrang sana.
Biarkan aku menjaga perasaan ini
Menjaga sengenap cinta yang telah kau beri
Engkau pergi aku takkan pergi
Engkau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu
(yovie & Nuno #menjaga hati#)
Masashi kishimoto
By
Pingki954
Narusasu beloved pair
.
.
.
Suara sendok yang beradu dengan piring, memecah suasana sepi di rumah mewah nan raksasa itu, karena terlalu sepinya bahkan terdengar suara air yang sekali-kali jatuh dari kran yang bertemu dengan tembaga. Dan detik suara jam yang mengalun menambah suram suasana malam.
Kiba duduk gelisah, makanan disini mewah tapi lidahnya hambar, sekali-kali ia melirik Sasuke yang terlihat santai dengan makan malamnya. Ia tidak sanggup melihat ke sebrang tempat duduknya, tidak dipungkiri hatinya senang bertemu pria yang sangat ia kagumi. Tapi pria itu mengeluarkan hawa yang aneh.
Kemarin saat ia di hubungi Sasuke untuk makan malam, hatinya langsung bersorak senang. Ia tahu lelaki berambut putih itu sudah dimiliki oleh temannya. Baginya cinta tidak harus memiliki, lagian entah kenapa sejak bertemu dengan Naruto ia jadi memikir ulang tentang cintanya.
"Kau sekarang tinggal dimana, Kiba?"
"U…a-aku…" Entah kenapa ia gugup dengan pertanyaan lelaki yang penuh kewibawaan di depannya.
"Basement murah, beberapa jam dari rumah ini, tuan Sui." Lelaki yang bernama Sui itu menyipitkan matanya tidak suka ke arah Sasuke yag menjawab pertanyaannya. Kiba makin gelisah lirikan tajam lelaki berambut putih itu jelas ditunjukkan padanya.
Ia melemparkan sendoknya begitu saja, Kiba bahkan kaget namun Sasuke bersikap pura-pura. Dia terlihat sangat santai dengan suasana panas ini.
"Aku akan kembali ke ruangan kerjaku!" suaranya keras menggema, membuat Kiba tertegun antara terpesona dan sedih. Lelaki itu jelas tidak menyukai kehadirannya.
"Kenapa anda tidak minum-minum dulu untuk menghormati Kiba, dia tamu,kan?"
"Eer Sasu, ~kurasa aku." Kata-katanya berlepotan, baru kali ini ia merasa tidak enak pada sesuatu, rasanya Kiba ingin cepat-cepat keluar dari atmosfir yang membunuh ini.
Sui menarik dasinya sembarangan, hingga berantakan dan ia mengacak-acak rambutnya sendiri, Kiba terbengon pria ini memang sangat keren di matanya. Sekarang ia mengerti kenapa ia sangat menyukai laki-laki dewasa itu.
"Iya, kenapa tidak." Senyum dipaksakan muncul di bibirnya. Sasuke kembali tidak peduli. Ia berdiri lalu merapikan meja makan, Kiba cepat-cepat membantu lelaki putih itu. Kesibukan mereka di perhatikan dalam diam oleh Suigetsu, matanya yang sendu tidak luput dari pandangan Kiba. Mata itu jelas bukan untuknya.
Mata kelabu yang indah itu nampak terluka memandang temannya, ia tidak pernah tahu kalau lelaki yang ia kagumi sangat dalam perasaannya pada Sasuke, lalu apa Sasuke tidak tahu? atau sebenarnya lelaki itu tidak mau tahu!
Lalu ia ingat lelaki yang ia temui sebulan yang lalu, lelaki yang beraroma oli. Lelaki tampan yang sanggup menggetarkan hati, tubuh dan ranjangnya di malam hari.
Naruto tidaklah kaya, pekerjaannya juga tidak mengagumkan. Ia sering memanfaatkan orang lain ah… ia tidak tahu kenapa lelaki itu yang mampu menjeratnya dan Sasuke.
Tapi Sasuke tidak berhak berlaku kejam pada tuan Sui, kalau Naruto adalah halangannya ia bersumpah akan menjauhkan lelaki itu dari kehidupan bahagia tuan Sui dan Sasuke. Temannya.
.
Suigetsu tidak ingat berapa gelas berisi alcohol yang masuk ke mulutnya, ia adalah peminum ulung. Sejak remaja ia adalah pemuda nakal yang sering mencoba berbagai tantangan, jadi minum-minum adalah hal biasa yang ia lakukan.
Tapi entah kenapa alcohol kali ini bikin tubuhnya gerah, tubuhnya menginginkan Sasuke yang ada d sebelah tubuh Kiba. Cemburu? tentu saja.
Sejak kedatangan lelaki itu dua jam lalu ia berhasil merebut perhatian Sasuke, lelaki putih yang ia sukai begitu perhatian pada Kiba padahal ia sudah menunjukkan kekesalannya, rasa cemburunya, namun Sasuke sama sekali tidak peka.
Dan lihat bagaimana ia memilih tempat duduk, mengapa lelaki itu tidak mau duduk di sampingnya? Mengapa ia memilih duduk di samping lelaki yang kelihatan bodoh itu, tingkahnya memuakkan! Pura-pura Kikuk dan gugup, apa ia sedang mencari perhatian Sasuke lebih lagi? Apa ia sengaja bikin hatinya panas?
Dan alcohol semakin banyak masuk kedalam perutnya. Setelah itu gelap… yang ia ingat adalah rasa kepuasan di bawah perutnya.
…
Sasuke mengeringkan kedua tangannya setelah selesai membersihkan peralatan makan, samar-samar suara geraman nikmat terdengar di telinganya, ia menyeringai saat sebuah ide yang ia rencanakan berhasil. Dan ia jadi ingin melihat apa yang akan terjadi besok pada mereka bertiga.
Ia melihat kembali bungkus plastik yang berisi pil, pil-pil itu sudah di taruh di dalam gelas Kiba dan tuan Sui. Lalu dengan gaya santai ia bakar bungkusan tersebut.
Lalu tiba-tiba ia tersentak! Sudah berapa lama? Ia bahkan lupa, bagaimana sekarang keadaan pamannya. Ia buru-buru mengambil ponselnya berharap nomor rumah pamannya tidak berubah.
Kalau bisa ia terkekeh ia pasti akan tertawa mendengar bertapa cerewet pamannya, ia berterima kasih masih ada yang mengkhawatirkannya.
'paman bahkan ingin ke Tokyo, saat temanku bilang kau hilang'~ hilang, ya? Ia jadi ingat pada si pirang, ia tidak menceritakan bahwa ia kembali bertemu Naruto, tau karena pria itulah ia menghilang. Ngomong-ngomong di mana lelaki itu? Apa ia ada di basement Kiba?
Ia mengeratkan jas besarnya mengusir hawa dingin, perlahan ia melangkah keluar dari dapur, sekilas ia melihat ke ruang tamu, sebuah sofa di sana sedikit bergerak dan menimbulakan bunyi. Ia tersenyum.
"Berterimakasihlah padaku, Kiba! Bersenang-senanglah di sini dan aku akan kembali mengambil milikku." Setelah itu ia mengambil kunci mobil dan keluar, ia berharap bisa kembali sebelum mereka berdua nanti menyadari ketidak hadirannya.
…
Ia kembali mengeratkan jas di tubuhnya, bibirnya mengulum senyum saat melihat lelaki berkulit tank itu duduk di dekat jendela sambil menghisap rokok. Ia hanya memakai single dengan celana pendek salah satu kaki besarnya ia selojorkan di atas meja, sekali-kali ia menghembuskan nafas yang penuh asap rokok ke udara.
"Naruto." Sasuke mendekat perlahan dan duduk di samping pria kekar itu, saat menyadari siapa di sampingnya Naruto buru-buru mematikan rokoknya, Sasuke kembali tersenyum ia senang lelaki itu masih ingat kalau ia sama sekali tidak menyukai bau rokok.
Ia sandarkan kepalanya di bahu Naruto salah satu jarinya menekan-nekan tubuh hitam milik lelaki itu, Naruto sama sekali tidak terganggu.
"Kau kemari dengan apa? mobil?" Sasuke mengangguk tanpa suara, perlahan Naruto mengusap lembut rambutnya membuat ia tenang, rasanya ia ingin tidur dalam dekapan pria itu selamanya.
Bau minyak, oli bercampur bersama keringat Naruto, lelaki yang mendekapnya ini belum mandi. Tapi entah kenapa ia sama sekali tidak keberatan, padahal kalau tuan Sui yang menyentuhnya dengan tubuh kotor ia pasti akan menolaknya.
Ia mendongak memandang mata biru yang ikut memandangnya dalam-dalam, dan seakan tahu apa yang di inginkan si raven, lelaki hitam itu menunduk dan mengecup bibir basah punya Sasuke kemudian menjulurkan lidahnya, menjilat dan menggunakannya untuk membuat mulut si raven nikmat.
Perasaannya membuncah, rasa rindu ia sampaikan dengan tubuhnya. Berharap Naruto tahu bertapa besar cintanya, ia ingin Naruto hanya merasa puas dengan dirinya, dia tidak ingin pria itu memperoleh ini dari pria lain selain dirinya.
Pagi menjelang walaupun matahari belum menampakkan diri, perlahan pria dengan kulit putih itu berdiri dan melilitkan jas di tubuh telanjangnya, ia lihat di sekelilingnya dan menyadari bahwa ia tidur sendiri di atas sofa, kemana si pirang itu? Apa ia mandi?
Tak pusing dengan hal itu, ia segera ke kamar mandi dan mencuci mukanya dan Naruto sama sekali tidak ada di sana. Ia harus pulang secepatnya sebelum tuan Sui dan Kiba bangun.
Setelah memakai kembali pakaian ia mencari kunci mobilnya, bibirnya naik sedikit sekarang ia tahu kenapa Naruto sudah tidak ada di sini. Sialan! Lelaki itu mencuri mobilnya.
Untunglah ia tidak pergi dengan tangan kosong setidaknya di dalam saku jasnya punya sedikit uang untuk ongkos taksi. Tanpa suara ia kembali ke dapur dan pura-pura tidur di sana.
Ketika matahari mulai memancarkan sinarnya dan suara Kiba yang berteriak, membangunkan tidurnya yang baru sesaat. Dengan malas dan memasang wajah—tidak tau apa-apa—ia melangkah ke ruang tamu, ia melihat sahabatnya yang panik luar biasa serta wajah tuan Sui yang penuh rasa bersalah.
Ia menyembunyikan seringainya. "Ada apa? Kenapa kau berteriak, Kiba?" wajah si manis itu pucat, "Kau semalam tidur di mana, Sasu?" pertanyaan ini Sui yang lontarkan.
"Kurasa karena mabuk, aku tidur di dapur." Tuan Sui mengangguk, ia Nampak lemas kemudian melewatinya begitu saja, "Aku mau mandi." Sasuke mengangguk, kemudian matanya beralih pada Kiba yang mencoba berpakaian.
"Aku mau pulang, Sasu. Ah~terima kasih sudah menjamuku tadi malam." Senyum paksa nampak di bibir pucatnya. "Tinggal disini saja, Kiba."
Wajah si manis itu semakin kacau. "Apa kau bilang?" tanyanya tidak percaya.
"Kau harus membantu ibumu, kan? Lagian bekerja dengan gaji kecil serta harus membayar tagihan rumah. Pasti merepotkan."
"Aku tidak bisa." Jawabnya cepat. Namun tanpa peduli jawaban Kiba, Sasu bertanya pada pemilik rumah yang belum benar-benar beranjak, "Bagaimana menurut anda, tuan Sui?"
Lelaki jangkung itu Nampak bergetar, ia membalikkan tubuh dengan wajah yang penuh penyesalan. Ia menatap Sasuke dan kemudian beralih pada Kiba. "Tidak apa, tinggallah di sini."
Sasuke mengulum senyum, walaupun di dalam hatinya ia minta maaf. Kiba lebih cocok dengan pria itu.
Kiba tidak mungkin menyakitinya, Kiba pasti akan mencintai bangsawan itu sepenuh hati tidak seperti dirinya yang terus melukai pria itu.
"Aku menolak!" Ucap Kiba akhirnya, ia tahu ia senang semalam di sentuh oleh pria itu, walau hanya semalam, walau karena alcohol. Ia menikmatinya.
Namun ia sedar, pria itu milik temannya. Dan orang yang di kasihinya mencintai Sasuke teramat dalam, ia tidak ingin menjadi orang ketiga diantara mereka.
"Lalu bagaimana dengan ibumu?" Kiba terdiam. "Sudah sana ambil barangmu! Aku akan menyiapkan kamar."
Haruskah seperti ini? Tapi ini kesempatan untuk lebih dekat dengan tuan Sui, ia juga bisa tinggal di rumah mewah. Tapi…
Kiba perlahan memandang wajah tuan Sui yang memandang dengan perasaan bersalah padanya, ia tahu lelaki itu memperbolehkan ia tinggal karena rasa bersalah pada dirinya dan Sasuke.
Kenapa ia harus mabuk? Kenapa mereka melakukan hal terlarang itu? Kenapa…? Kenapa…? Rasanya kepalanya mau pecah dengan rasa penyesalan yang tinggi.
"Sudah sana ambil barangmu." Sasuke mendorong bokong Kiba dengan kakinya, lelaki berkulit manis itu akhirnya pasrah.
"Sebaiknya mandi dulu… tunggu sebentar, biar kuantar sekalian." Kiba memandang lelaki itu penuh rasa kekaguman, Sasuke diam-diam tersenyum. Akan ia jauhkan Kiba dari kekasihnya walaupun ia akan sedikit mengorban perasaan tuan Sui.
Setelah tuan Sui menghilang ke dalam kamar, Kiba kembali duduk di tas sofa ia menyentuh kepalanya yang pusing efek hangover semalam.
"Hey, Kiba."
"Eum," sahut Kiba masih memijit kepalanya. "Kau tahu nomor ponsel Naruto?" kali ini Kiba memandang ke arahnya dan melupakan sakit kepala yang ia rasa.
"Bukan karena aku ingin mencarinya, ada keluarga di Konoha yang ingin bicara dengannya?" bohong lelaki itu. Kiba menyipit matanya, "Kalian satu daerah." Sasuke mengangguk.
"Mantan istrinya menelponku." Sampai kapan ia harus berbohong? Kiba nampak terkejut mendengar berita itu, si raven menyeringai kau tidak tahu apapun tentang Naruto, kan Kiba sialan?! Ia jadi bangga mengetahui hal itu.
Kemudian lelaki itu tertawa terbahak, membuat Sasuke terhina entah karena apa? "Aku tidak sangka! Padahal ia cukup berpengalaman dalam hal bercinta dengan pria!" Kiba mengedipkan matanya. Bodoh! Ia kesal bertanya pada lelaki itu.
Cukup! ia sudah tidak mood lagi bertanya, ia membalikkan tubuhnya berniat mandi, namun tubuhnya di tarik dengan kuat oleh Kiba, hingga ia jatuh ke sofa menghimpit tubuh lelaki itu.
"Apa?" tanyanya sewot yang di sambut kekehan oleh pria itu. Lelaki itu merangkul lehernya dan menyatukan kening mereka seraya berbisik pelan di kupingnya, " Dia~ tidak punya ponsel."
Sasuke diam, tidak suka dengan kondisinya dalam dekapan pria itu. Kiba terus memperhatikan wajahnya dan dalam gerakan cepat Sasuke menghantam tangannya ke muka pria itu.
"Ooi! Sakit tolol."
"Sana mandi. Kerbau!" Ia berdiri dan berlalu dari hadapan pria itu. Kiba yang ditinggalkan memijit kepalanya lebih keras lagi. Pusing semakin mendera pasca di tampar tadi.
…
Sudah lebih dari satu minggu semenjak Kiba tinggal bersamanya dan mobilnya yang menghilang. Tuan Sui memang pernah bertanya dan ia berbohong kalau mobilnya sedang di perbaiki, ia rasa kebohongannya akan segera terungkap.
Mereka bertiga juga sudah agak nyaman tinggal bersama, walaupun Sasuke berharap mereka tuan Sui dan Kiba punya hubungan yang lebih jauh, tapi Kiba seperti menghindari dan tuan Sui kelihatan acuh. Ia pikir setelah insiden malam itu setidaknya ada yang berubah.
Padahal ia pikir kalau ia membuat tuan Sui dan Kiba tidur bersama, keadaannya akan berbalik. Hah rasanya yang ia lakukan percuma.
Ia menghela nafas berat, rasanya sepi biarpun Kiba mau tinggal bersama, namun, ia punya pekerjaan tidak seperti dirinya yang hanya di rumah. Malam ini juga gerimis, Ia memeluk tubuhnya sendiri. dingin! sama dengan hatinya.
Naruto menghilang! Kiba juga tidak tahu kemana lelaki itu.
Sesak…. Rasanya hatinya mengerut, kering dan layu. Ia rindu ingin bertemu dengan lelaki yang menguasai hatinya. Ia butuh Naruto untuk membasahi hati, dan jiwanya.
Kenapa mencintai seseorang begitu menyakitkan ? Kenapa ia harus memiliki perasaan seperti ini?
Sasuke menekukkan kakinya di sofa, buku yang ingin ia teruskan baca, tergeletak begitu saja di atas meja di samping secangkir kopi yang mulai dingin.
Ting-tong!
Ah Kiba pulang pikirnya malas, ia berdiri pelan lalu bergerak dengan malas ke depan pintu. Saat pintu terbuka bukanlah pria manis yang ia temui melainkan lelaki yang sudah seminggu ini ia pikirkan.
"Naruto." Sungguh rasa lega rasanya menghantamnya dengan luar biasa. Lelaki yang panggil tersenyum lebar ke arahnya, rambutnya sedikit basah begitu juga dengan pakaian yang ia kenakan.
"Wow rumah yang besar." Tanpa permisi laki-laki itu langsung masuk begitu saja.
"Mobilku di mana?" Sasuke mengikutinya, Naruto berpaling kearahnya saat ia bertanya. Lagi-lagi pria itu tersenyum tidak bersalah. Ia mendekat dan membelai rambut hitamnya, Sasuke langsung merangkulnya dan menempelkan kepala di tubuh bidang lelaki itu. Biarpun ia ikut basah ia tidak terlalu peduli.
Ia tahu ia lemah, ia selalu bisa di dominasi. Ia kadang benci dirinya seperti ini, kadang ia tidak mau kalah seperti ini, tapi akhirnya ia kalah juga.
"Ku pinjam sebentar." Lelaki pirang itu terkekeh di kupingnya.
"Itu bukan mobilku, cepat kembalikan." Naruto menyelipkan helai rambut hitamnya ke belakang telinga, sasuke terdiam saat lelaki itu mencium pipinya mesra. "Nanti, kalau aku sudah dapat uang."
Sasuke melepaskan pelukan pria itu, kesal karena ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa, kesal karena tahu pria itu memanfaatkan kelemahannya lagi, rasanya ingin menghajar lelaki itu, tapi ia tidak berdaya dengan jantungnya yang terus berdentum dengan keras. Pipinya yang merona.
Pada akhirnya ia mengaku kalo ia telah kalah dari perasaannya.
Naruto si pria pirang melihat sekeliling kemudian berdecak kagum melihat ruangan super mewah itu, sasuke kemudian menyadari keadaan Naruto yang basah, ia tergesa mengambil handuk.
"Kenapa kau tahu aku tinggal di sini, Naru?!" suaranya sedikit keras agar Naruto bisa mendengarnya karena posisinya di dalam kamar.
"Aku mengikutimu, kemarin." Nadanya santai, ia sandarkan tubuhnya di samping pintu, Sasuke melirik. Pria sialan! Padahal ia cemas selama ini tapi si dobe itu santai begitu. hatinya mengutuk tapi tubuhnya bergerak kearah pria itu dan mengeringkan rambut pria kesayangannya.
"Lalu di mana kamar si tuan kaya? Apa ia tidur di sini juga." Matanya celingak-celinguk. Sasuke menyilangkan kedua tanganya.
"Kenapa kau ingin tahu? Apa kau bermaksud mencuri lagi" Naruto melotot.
"Hey! Kau menuduhku sebagai pencuri?" Tanya nya tidak percaya. Sasuke berdecak, "Kau mencuri mobilku, di sebut apa?"
"Akukan cuma meminjamnya! Nanti ku kembalikan kalau ada uang!" elaknya, Sasuke mendengus kesal.
"Dasar! Dobe penipu!" ia melempar handuk ke muka lelaki itu, "Keringkan tubuhmu, biar kuambil baju kering untukmu."
Naruto memeluk lelaki itu, "Aku lapar bikin sesuatu dong." Lagi-lagi Sasuke menghela nafas kesal, namun ia tetap mengikuti keinginan lelaki itu.
…
Kiba cukup terkejut hari ini, tidak ia pungkiri ia senang saat melihat mobil tuan Suigetsu ada di depan toko tempatnya bekerja. Hari ini juga hujan. Apa lelaki itu mengkhawatirkannya?
Tinggal bersama pria itu sungguh berat, harus memendam perasaan besarnya. Padahal dulu hampir saja ia melupakan pria itu saat bersama Naruto. Tapi karena malam itu perasaannya semakin besar.
Ia juga merasa sakit saat Suigetsu pura-pura lupa kejadian itu, harus menghindarinya padahal mereka selalu bersama.
Pria bergigi runcing itu keluar dari mobil saat melihat Kiba. Lalu tersenyum menawan membuat Kiba merona di sana.
"Jadi bantu aku pilih, ya Kiba." Permintaan itu rasanya seperti pedang yang menancap di hatinya, sesaat tadi hatinya berbunga-bunga karena pria menawan itu menjemputnya di tempat kerja. Tapi pria besar itu datang hanya untuk minta tolong.
"Aku tidak tahu selera Sasuke seperti apa?" lalu kenapa Tanya padanya ia juga tidak tahu selera lelaki itu! Tapi jauh di lubuk hatinya ia juga ikut senang kalau tuan ini mau berhubungan yang lebih serius dengan temannya.
Cincin katanya, 'sungguh Sasu kau sangat beruntung' walaupun hatinya yang jadi korban, akan ia relakan.
"Um Kiba. Aku tahu aku telah melakukan kesalahan padamu, aku bodoh! Aku minta maaf sekali lagi." Kiba melirik lelaki ini yang terus mengemudi, matanya yang menawan memandang sekilas dirinya dengan perasaan bersalah. Dan seperti di hantam palu yang besar Kiba pura-pura tertawa.
"Haha… tak usah kau pikirkan, aku sudah terbiasa! Kau lupa kalau dulu aku bekerja di mana." Senyum terpaksa itu benar-benar di upayakan Kiba, agar terlihat natural. Tapi sungguh hatinya sakit.
"Aku mencintai Sasuke, aku ingin bersamanya."
"Aku tahu." Rasanya Kiba ingin berteriak jangan pada lelaki ini, ia ingin bilang ia tidak ingin membantunya memilih cincin, jangan menikah dengan sasuke! Tapi semua tidak ia lakukan walaupun hatinya semakin perih saat melihat sebuah toko cincin di hadapannya. Hujan semakin deras, langit menjadi kelam sekelam hatinya.
…
Langkah Kiba makin pelan, rasanya ia tidak mau pulang ke rumah ini, Suigetsu berdiri menunggu lelaki itu. Hari sudah menjelang malam, sinar sudah redup.
"Ada Apa?" tanyanya, Kiba tersentak lalu menggeleng lemah ia mempercepat langkahnya.
"Aneh." Kiba mengernyit, "Kenapa?"
"Tidak biasa Sasuke lupa mengunci pintu?" pria itu melihat kearah lantai yang basah. "Ada orang yang datang, kah?" Kiba ikut heran. Lelaki tinggi itu masuk tergesa-gesa takut terjadi sesuatu pada Sasuke pria yang sangat ia cintai, kiba mengikuti arah langkah suigetsu.
Pluk…
Kotak cincin yang Suigetsu genggam jatuh ke lantai, tubuhnya begetar hebat melihat pemandangan di dapurnya. Kiba juga ikut terkejut ia menutup mulutnya.
Tubuh putih kontras Sasuke tercemar dengan kulit cokelat di belakang tubuhnya, mereka seharusnya tidak melakukan hal itu di sini. Saat mereka menyadari kehadiran orang lain, Sasuke cepat-cepat mendorong lelaki di belakangnya dan mengambil baju sembarangan menutupi area pribadinya.
Si lelaki berkulit cokelat berdecak, ketika kesenangan tidak di dapatnya. Sebelum ia berhasil menarik celananya ke atas sebuah tinju melayang ke wajahnya.
"Brengsek! Lelaki sialan!" kutukan dan pukulan bertubi-tubi mendarat di tubuh telanjangnya. Suigetsu mengeram tubuhnya gemetar, giginya gemelatuk! ia marah, sangat marah. Ia kehilangan akal rasanya ia ingin membunuh lelaki yang berani menyentuh kekasihnya. Merasa di khianati, di permainkan dan di permalukan.
Sasuke mendorong tubuhnya melihat ketidak berdayaan Naruto yang terus di pukul, ia berdiri tiba-tiba di hadapan Naruto menghadang tuan Suigetsu. "Cukup!" katanya, tapi karena Suigetsu masih kalap tanpa ia sadari ia melayangkan sebuah bongeman pada wajah mulus Sasuke.
Bukh!
Tubuh Sasuke melayang dan jatuh di atas pangkuan Naruto, Suigetsu sadar ia terpaku saat melihat perbuatannya. Naruto menggeram marah saat melihat sebuah bekas lembam merah di pipi mulus Sasuke.
"Arrrrgggg! Sialan kau brengsek!" Naruto langsung menerjang pria itu dan membalas pukulan yang lebih keras, ia sekarang bahkan tidak sedar kalau perbuatannya bisa menyebabkan lelaki itu mati.
Suigetsu berusaha menahan tangan lelaki itu, tapi kekuatan Naruto si pria yang hidupnya selalu keras lebih kuat darinya. Hidungnya hampir patah saat Naruto menonjoknya terlalu keras.
Udara terasa menyesakkan, gejolak darah dingin yang mengalir di tubuh Naruto berbeda dengan Suigetsu yang tenang, tanpa ragu-ragu ia mengambil sebuah pisau dapur. Sasuke berteriak keras "Hentikan!"
Namun lelaki itu tidak mendengarkan, tubuh Suigetsu yang terletak di lantai terkejut dengan perbuatan itu, Kiba yang masih syok tanpa sedar menerjang dan berdiri di depan Suigetsu merentangkan kedua tangannya.
"Naruto." Tubuhnya bergetar karena takut melihat wajah penuh amarah Naruto, jarang sekali ia lihat lelaki itu marah. Kiba mengepalkan tangannya takut kalau pisau itu menembus perutnya, nafas Naruto memburu, dada telanjangnya naik turun. Setelah berlalu beberapa detik Naruto dapat mengatur emosinya ia melempar pisau itu sembarangan dan meludah darah yang terasa pahit di mulutnya, kemudian membenarkan celananya dengan benar.
Tubuh Kiba merosot, Suigetsu masih sempat menangkap tubuh Kiba, ia juga syok ia pikir akan mati tadi. Sasuke yang masih terduduk di lantai menggenggam kuat baju di tangannya yang ia pakai menutupi daerah pribadinya.
Saat Suigetsu menatap tubuh putih polos situ, amarahnya membuncah. Sakit, tubuhnya emang sakit karena pukulan tadi, tapi hatinya jauh lebih sakit karena di khianati. Cintanya yang besar ternyata dianggap sampah oleh lelaki itu. Ia berdiri dengan perasaan tidak karuan.
"Pergi!" teriaknya keras. Kiba lagi-lagi terkejut. "Pergi kau dari rumahku! Lelaki jalang!" tunjuknya pada Sasuke dengan gemetar.
Naruto kembali berdecih, ia mendekat kearah Sasuke yang masih terbengong di lantai, wajah memar lelaki itu nampak suram karena rasa bersalah. Naruto mengambil baju bermaksud memakai di tubuh Sasuke yang tidak bergerak sama sekali.
Melihat hal itu di depan matanya emosi Suigetsu bertambah. "Jangan pernah memakai apapun yang ku berikan padamu! Kau datang tanpa membawa apa-apa! Pergi pun begitu!" Naruto memandang tajam, mulutnya tersenyum meremehkan.
Ia melempar baju itu kearah Suigetsu walaupun tidak sampai, mengambil kemejanya sendiri dan memakaikan pada Sasuke yang masih kaku di lantai.
Ia menarik tubuh Sasuke, namun lelaki itu terus bergeming. Naruto kembali meludah darah yang terkumpul di mulutnya, ujung sudut bibirnya sobek.
Karena kesal, ia mengangkat tubuh Sasuke dan membawa pergi.
Suigetsu kemudian merosot di samping Kiba, tubuhnya kembali bergetar hebat. Setelah itu ia tidak bisa menahannya ia menangis tertahan. Kiba mengelus tubuh besar itu dan membawa dalam pelukannya.
"Aku mencintainya Kiba! Sungguh sangat mencintainya."
Tbc
Ah terimakasih atas respon yang kemarin, sepertinya ada yag menolak dan menerima usul ending kemarin. Dan terimakasih juga atas beberapa saran yang kuterima di kotak ripiu.
Mungkin akan ku pakai saran tersebut ^^
Makasih sekali
(pingki954)
