Disclaimer : All characters belongs to J. K. Rowling.
CHAPTER 4
Matahari sudah hampir tenggelam saat Hermione terbangun. Dia mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan matanya dengan keadaan ruangan yang mulai remang-remang. Sesaat dia bingung dia berada dimana. Perlahan, dia mulai bisa mengingat. Rupanya dia tertidur di sofa ruang tengah setelah kelelahan menangis. Untuk beberapa saat, dia hanya duduk terdiam dengan kepala tertunduk.
"Meoong." Hermione menoleh, memandang Crookshanks yang balas menatap tuannya dengan pandangan mata khawatir. Sejak tadi dia dengan setia menemani Hermione, dan tidak beranjak sejengkalpun dari sisi Hermione. Dia tersenyum dan mengulurkan tangan menggaruk kepala Crookshanks.
"Aku tidak apa-apa, Crookshanks, jangan khawatir. Aku hanya sedikit stress," ujarnya, seolah menjawab kekhawatiran kucing kesayangannya. Crookshanks kembali mengeong, dan melompat ke pangkuan Hermione.
"Jangan-jangan, sejak tadi kau terus di sini?" tanya Hermione. Crookshanks mendengkur seolah mengiyakan.
"Terima kasih, ya. Kau pasti lapar. Kuambilkan sesuatu untukmu di dapur," katanya sambil menendang selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya, dan beranjak ke dapur, masih menggendong Crookshanks. Namun tiba-tiba gerakannya terhenti.
Tunggu, selimut dari mana ini? Rasanya aku tidak memakai selimut saat tertidur disini. Jangankan selimut, aku bahkan tidak ingat kapan aku tertidur. Siapa yang memakaikan selimut padaku? batinnya. Bulu kuduknya merinding. Ketakutan mulai merayapinya. Gemetar, tangan kanannya meraih tongkat sihir di saku celananya.
"Tenang, Hermione, mungkin saja itu Mum atau Dad. Mungkin mereka sudah pulang tanpa membangunkanmu. Ayo, tenang. Tarik napas dalam-dalam," bisiknya menenangkan diri. Dikumpulkannya seluruh keberaniannya.
"Mum? Dad? Kalian sudah pulang?" serunya. Tak ada jawaban apapun. Seruannya seolah ditelan dinding-dinding di sekitarnya.
"Oke, tenang Hermione. Mungkin mereka ada di kamar atau kamar mandi, jadi tidak mendengar suaramu," ujarnya lagi, menyemangati diri sendiri. Dia memaksa kakinya yang mendadak lemas menaiki tangga menuju kamar orangtuanya.
"Mum? Dad? Kalian di dalam?" serunya lagi sambil mengetuk pintu kamar orangtuanya. Lagi-lagi tak ada jawaban apapun. Suasana masih sunyi. Hermione mencoba membuka pintu yang ternyata tak terkunci.
Kamarnya gelap. Hermione meraba-raba dinding, mencari sakelar lampu. Matanya mengerjap saat lampu menyala. Tak ada apapun yang aneh, keadaan kamar orangtuanya masih sama ketika ditinggalkan pagi hari tadi. Namun kenyataan iu menambah ketakutannya. Perlahan, dia berjalan menuju kamar mandi. Lagi-lagi, tak terkunci. Tak ada siapapun di dalamnya. Sepertinya orangtuanya belum pulang.
Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dia melanjutkan perjalanan, memeriksa setiap ruangan, mencari-cari orangtuanya, meski semakin lama dia semakin yakin keduanya tak ada di rumah. Dia mencari-cari apapun yang terlihat janggal. Dengan ayunan tongkatnya, dia menyalakan semua lampu di rumahnya. Saat ini, dia tak mau berada sendiri dalam ruangan gelap. Dia tak suka pikiran akan segerombolan Death Eater yang bersembunyi di kegelapan, menunggu kesempatan untuk menyerang.
Semua ruangan di lantai satu sudah dia periksa. Tak ada apapun yang aneh. Kini tinggal lantai dasar. Masih dengan tongkat teracung, Hermione melangkah hati-hati menuruni tangga, sebisa mungkin tanpa suara.
Telepon di ruang tengah berdering tepat ketika Hermione menginjakkan kakinya di dasar tangga. Dia terlonjak kaget. Suara deringnya terdengar 10 kali lebih keras dari biasanya. Dengan tangan yang gemetar, dia mengangkat telepon.
"Halo?"
"Halo, Sayang? Ini Mum. Maaf, Mum dan Dad masih di rumah sakit, sepertinya belum bisa pulang. Kau tak apa di rumah sendiri?" Hermione menarik napas lega saat mendengar suara ibunya. Mereka baik-baik saja, pikirnya. Namun di saat yang bersamaan, ketakutannya bertambah.
"Iya, Mum. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Mum teruskan saja pekerjaannya."
"Baiklah. Pesanlah sesuatu untuk makan malammu, oke? Aku usahakan untuk tidak pulang terlalu larut."
"Oke. Dah. Hati-hati ya Mum." Hermione menutup teleponnya, tangannya bergetar hebat. Kalau orangtuanya belum pulang, lalu siapa yang menyelimutinya?
Derak ranting patah dari luar membuat Hermione terlonjak kaget. Jantungnya berdetak sangat cepat, seolah hampir keluar dari rongga dadanya. Kakinya mendadak lemas, tapi sekuat tenaga dia memaksa kakinya bergerak. Perlahan, dibukanya pintu depan. Di luar sudah gelap, namun Hermione masih bisa menangkap kilasan jubah berwarna hitam melompati pagar tanaman.
"Siapa itu? Berhenti!" teriaknya. Dia berlari mengejar sosok misterius itu, tongkatnya dilambaikan ke arah pintu untuk menguncinya. Tapi seketika matanya terpaku pada sesuatu yang tergeletak diluar pintu. Setangkai mawar merah, dengan kartu ucapan. Dengan hati-hati diraihnya mawar dan kartu ucapan tersebut, memeriksa kalau-kalau ada jebakan –racun, perangkap, atau apapun– yang terpasang. Masih dengan sikap hati-hati, dibukanya kartu ucapan, mau tak mau mengakui dalam hati kalau kartunya sangat cantik.
Tak ada tanda tangan maupun nama pengirim di dalamnya. Hanya ada tulisan 'Semangatlah! Jangan pernah menyerah!'. Pipinya merona. Ini pertama kalinya dia mendapat kartu serta bunga dari orang asing. Hermione berlari keluar halaman, mencari-cari, kalau-kalau sosok yang tadi masih ada di dekat rumahnya. Tak ada siapapun. Hanya ada jalanan lengang dalam keremangan lampu jalan. Terbersit setitik rasa sedih serta penasaran di benaknya. Dia kembali masuk ke rumah. Siapa yang mengirim bunga ini? batinnya.
"Meoong." Crookshanks mengeong menyambut tuannya. Hermione baru ingat kalau makanan Crookshanks sudah habis.
"Kau pasti sudah lapar, ya? Tunggu sebentar, aku akan ke minimarket setelah ini," ujarnya. Hermione berjalan ke dapur, mengisi vas bunga dengan air dan meletakkan mawarnya di dalam vas. Sejenak Hermione memandanginya, sebelum membawa vasnya naik ke kamar. Dia meletakkan vasnya di meja samping tempat tidur. Sebelum keluar, dia menyambar jaket dan dompet. Tongkat sihir diselipkan di saku dalam jaket. Dia melangkah menuju pintu keluar.
"Crookshanks, kau di sini saja, ya? Jaga rumah. Aku segera kembali," katanya. Dia mengunci pintu dan melangkah keluar halaman.
Udara malam terasa begitu segar. Hermione menarik napas beberapa kali sebelum melanjutkan perjalanan. Jalanan sepi, hanya ada dia seorang. Tapi dia tak peduli. Sesaat semua ketakutannya hilang, dihibur oleh mawar dan kartu itu. Meski dia tahu, dia tak boleh bertindak ceroboh –siapa tahu mawar dan kartu itu jebakan dari siapapun yang mengincar dia dan orangtuanya– tapi dia tak bisa menutupi perasaan bahagia itu. Aneh, hanya dengan satu kalimat saja, semangatnya seolah kembali lagi.
Tidak sampai lima belas menit, papan nama 7Eleven yang bersinar terang terlihat. Hermione masuk ke dalam. Hanya ada seorang pemuda tanggung bertampang mengantuk di balik mesin kasir melayani seorang pria berusia sekitar 30-an yang membeli rokok. Dan sekitar dua-tiga orang lagi, tersembunyi di balik rak-rak tinggi. Kilasan bayangannya terlihat saat dia mengambil keranjang belanja.
Hermione melangkah perlahan menyusuri rak hingga sampai di rak makanan kucing. Dia mengambil beberapa kotak untuk persediaan seminggu. Dia meneruskan langkah menuju bagian makanan beku, mengambil sekotak pizza beku dan sekantung kentang, berkeliling lagi selama beberapa menit, memasukkan sepotong sandwich dan kopi kaleng ke dalam keranjangnya. Setelah puas, dia membawa keranjangnya ke kasir dan membayar semua belanjaannya.
Langkahnya sedikit melambat sekarang, terbebani oleh kantung belanja besar yang dipeluknya. Hermione bersyukur dia tidak mengajak Crookshanks ikut, sulit membawa seekor kucing hiperaktif berjalan-jalan sambil memeluk kantung belanja besar.
Jalanan masih sepi, sampai langkah Hermione terdengar menggema di keremangan malam. Tidak, bukan. Itu bukan gema langkahku, batinnya. Dia pun mengubah kecepatan jalannya dengan hati-hati. Jika memang benar dia dikuntit, dia tak ingin si penguntit tahu dia sudah menyadari dirinya dikuntit.
Hermione sengaja mengacaukan ritme langkahnya, berusaha membuatnya seolah disebabkan karena memeluk sekantung besar belanjaan. Dia berbelok di perempatan berikutnya, sengaja mengambil jalan memutar karena ingin melihat sosok si penguntit.
Jantungnya berdetak cepat. Ternyata dia memang benar-benar dikuntit. Wajahnya tidak terlihat, tapi dia sangat yakin itu adalah pria yang membeli rokok di 7Eleven tadi. Dia mengenakan sweter yang sama. Hermione gemetar, tangannya bersiap memegang tongkat di balik jaketnya.
Si penguntit sepertinya sudah sadar dia ketahuan karena dia mempercepat langkah. Hermione menambah kecepatan jalannya, namun sepertinya sia-sia. Hanya dalam hitungan menit, pria itu berhasil menyusulnya.
"Hei, Manis, kenapa kau berjalan sendiri? Ayo, aku temani. Seorang gadis sepertimu tidak seharusnya berjalan sendiri," ujar pria itu dengan suara parau. Hermione pura-pura tidak mendengar. Dalam hati ia menyesal, kenapa tadi dia mengambil jalan memutar. Daerah ini lebih gelap dibanding jalan yang tadi ia lewati, dinding-dinding pagar rumah membatasi kiri-kanannya. Si pria merayunya lagi.
"Ayolah, Cinta. Jangan tolak tawaranku. Disini gelap, lho. Nanti kau diganggu preman-preman jalanan," gombalnya lagi, terkekeh dengan leluconnya sendiri. Hermione masih tidak menggubrisnya, malah mempercepat langkah.
"Hei, kau gadis tidak sopan! Dengarkan kalau orang sedang berbicara denganmu!" si pria mulai jengkel. Hermione berbalik.
"Enyah dari hadapanku!" serunya jengkel tanpa menghentikan langkahnya. Namun seruannya ini sepertinya membangkitkan amarah si pria, karena si pria langsung meraih kedua tangan Hermione dan memojokkannya ke tembok. Kantung belanjaan Hermione terjatuh, begitu pula dengan tongkat sihirnya. Cengkeraman pria itu sangat kuat. Pria itu semakin mendekat. Hermione membeku ketakutan. Mulutnya seolah terkunci. Tanpa tongkat sihir, dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Jaga mulutmu, gadis kurang ajar! Apa orangtuamu tidak mengajarimu cara berbicara, hah?" bentak si pria. Pegangannya mengetat, membuat Hermione mengaduh kesakitan dan menjerit minta tolong. Si pria makin marah, dan makin mendekatkan tubuhnya.
"Sudah kubilang, tutup mulutmu! Akan kubuat kau berhenti menjerit!" bentaknya marah. Dia mendekatkan mulutnya yang berbau alkohol ke bibir Hermione yang berusaha mati-matian menghindar. Air mata mengalir deras di pipinya.
"Jauhkan tanganmu darinya, dasar Muggle busuk!" sebuah teriakan mengejutkan mereka berdua. Si pria marah karena merasa terganggu. Dia berbalik tanpa melepaskan pegangan tangannya, dan mendapati sesosok jangkung berbalut jubah hitam berdiri di hadapannya. Setengah wajahnya tertutup tudung jubah.
"Jangan ikut campur! Ini bukan urusanmu! Sekarang, pergilah dari sini sebelum kau menyesal!" ancamnya. Pegangan tangannya sudah terlepas sekarang, dalam usahanya mengusir sosok tak dikenal ini. Hermione merosot di dinding, kakinya terlalu lemas untuk sekedar berdiri. Namun pikirannya masih bisa mencerna apa yang barusan didengarnya. Penolongnya ini, siapapun itu, seorang penyihir. Hanya penyihir yang menggunakan kata Muggle.
"Justru kau yang seharusnya menyesal, dasar sampah! Kau terlalu kotor untuk menyentuhnya!" Hermione rasanya mengenal suara mengejek dan seringai itu. Dikuasai amarah, si pria menyerang sosok berjubah tiba-tiba sambil menghunus pisau lipat dari kantungnya.
"Kurang ajar!" teriaknya. Namun sosok berjubah itu tidak kalah gesit.
"Stupefy!" teriaknya. Sebuah kilasan cahaya merah membelah kegelapan malam, langsung menghantam dada si pria yang membelalak terkejut. Tubuhnya ambruk seketika, pingsan.
"Te...terima kasih," ujar Hermione, masih gemetar karena shock. Juga ketakutan. Setahunya, tak ada penyihir lain yang tinggal di daerah situ selain dia. Siapa orang misterius ini? Jangan-jangan… Death Eater? Tapi dia tidak memakai topeng. Jubahnya juga berbeda. Lalu, siapa?
"Lain kali gunakan tongkatmu. Kau berani melawan sepasukan Death Eater, tapi tidak berdaya menghadapi sampah kecil seperti dia? Ke mana perginya penyihir sok tahu berambut keriting dari Gryffingdor ini?" Jawaban yang sinis. Hermione terkejut. Rasanya dia mengenal suara orang ini, juga cara bicaranya yang penuh ejekan. Tapi dia tak bisa mengingatnya.
"Siapa kau? Jangan-jangan, kau murid Hogwarts juga?" tanya Hermione penuh selidik. Shocknya hilang, berganti dengan kecurigaan. Dia memungut tongkat sihirnya, berdiri memandang penolong misteriusnya.
"Seharusnya kubiarkan Muggle busuk tadi menyerangmu," seringainya lenyap. Suara ejekan berganti dengan kata-kata tajam. Dia berbalik.
"Sana pulang. Jangan sampai kau diganggu lagi oleh cecunguk kecil yang lain. Aku tak mau kalau harus sampai menolongmu lagi," sindirnya.
"Tunggu! Jangan pergi dulu!" seru Hermione sambil mengejar penolongnya. Jubah hitam si penolong terenggut, tudungnya terlepas. Tampaklah rambut pirang keperakan yang berkilauan ditimpa lampu jalan. Hermione terkejut setengah mati.
"Malfoy?"
yaaa...haa!!! Cliffhanger!!! Gimana, gimana?? Reviewnya ditunggu pisan, lho!!!
