Langit tampak gelap walaupun matahari telah muncul. Awan hitam pun melingkupi seluruh kawasan Sanctuary pagi ini. Ketegangan yang mencekam juga tak kunjung surut diantara keduabelas kuil. Bahkan sampai sekarang, tak ada seorang gold saint pun yang keluar dari kuilnya. Status siaga masih tetap terjaga sejak Dewi musim semi itu datang ke Sanctuary. Walaupun begitu, mereka tetaplah terhubung dalam telepati demi memperkuat keamanan bersama.
"Kawan-kawan.. Apa kalian benar-benar yakin ini aman?"
"Jujur saja, aku juga agak curiga Saga."
"Mau bagaimana lagi? Athena sendiri yang menyuruhku mengijinkannya lewat."
"Tapi cosmonya terasa sangat mencekam. Sebenarnya apa yang dipikirkannya sampai cosmonya sangat menekan kita?"
"Entahlah. Urusan para Dewa selalu saja misterius bagi kita."
"Aphro, bagaimana kondisi disana?"
"Dewi itu baru saja lewat Shura."
"Yah, berharap saja ia tak bermaksud jahat."
"Santai kawan-kawan.. toh Athena juga bisa menjaga dirinya sendiri."
"Santai gundulmu Deathmask. Aku beneran ga pingin kehilangan Athena untuk yang kedua kalinya."
"Ini siapa sih yang ngomong? Suara kalian sama tau."
"Namanya juga kembar kale."
"Hahahaha.."
"Ngapain malah ketawa Mil? Situasi serius nih.."
"Sori Los, gue g sengaja nginjek topengnya DM."
"Heh? Ngapain topengku ada dikuilmu?"
"Eh.. anu.. Sori deh Mask, ntar gua balikin. Penjem bentar ye.. buat.. err.."
"Enak bener lu pinjem g ngomong-ngomong! BALIKIN OI!"
"G USAH TERIAK NAPE!"
"U juga teriak Gaaaa..!"
"Ni Kanon kale."
"Berisik! Diam!"
"Ampun mbak (?) Shaka.. Salahkan si DM nih yang triak-triak mulu."
"U juga triak Non!"
"Cukup!"
"Iye iye.. tuh si tanduk kudanya dah keliatan ampe sini."
"Awas lu Death! Beraninya hina kakak gue!"
"Cukup lia, ayo awasi sekitarmu!"
"Argh!"
Camus mendengus mendengar isi telepati yang semakin lama makin aneh. Walaupun ia ingin keluar dengan segera, namun situasi kali ini tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan teman-temannya begitu saja. Keamanan Athena dan seluruh saint memang menjadi prioritas baginya. Walaupun itu berarti harus mendengarkan komentar-komentar aneh teman-temannya melalui telepati.
Jujur saja, Camus merasa sangat khawatir dengan kondisi junjungannya dan Pope. Jika saja ia menuruti keinginannya tadi, pastinya ia tak akan pernah membiarkan Dewi musim semi itu melewati kuilnya.
Camus mendesah sambil berjalan masuk ke dalam perpustakaan di kuilnya. Ia sangat beruntung karena Athena mendengarkan keinginannya untuk memiliki perpustakaan sendiri. Memang sejak kecilnya ia sudah memiliki hobi membaca. Tak heran jika ia tergolong salah satu saint terpintar di Sanctuary.
Camus mengambil sebuah buku hardcover berwarna hitam tebal di ujung perpustakaannya dan meletakkannya diatas meja baca bundar di tengah perpustakaan itu. Sambil terus berusaha mengabaikan percakapan dalam telepati, ia membaca buku tebal itu dengan sangat teliti. Buku itu menceritakan tentang sejarah Dewa-Dewi Yunani. Ia sudah bertekad untuk mencari tahu lebih jauh tentang Dewi musim semi itu.
"Aku tak menyangka jika Hades bisa secinta itu pada Persephone."
"Apa?"
Ah, Camus lupa jika ia masih terhubung dalam telepati sehingga apapun yang dibacanya maupun komentarnya pasti diketahui seluruh gold saint yang lain.
"Well, kami bisa mendengar semua yang kau baca melalui pikiranmu Camus. Jika kau membutuhkan privasi..um.. lebih baik kau menutup pikiranmu sementara."
"Bener tuh kata Aiolos. Tapi sebenernya penting juga sih kalo kita tahu tentang hal ini."
Camus mendesah. Ia sangat menyesali kecerobohannya membuka pikiran seperti itu. Jika ia sampai memikirkan hal-hal yang privasi baginya tadi, entah gosip apa yang akan tersebar di Sanctuary. Dengan segera Camus mengatur cosmonya menjadi berlapis agar ia dapat mendengar telepati namun juga menutup pikirannya agar tak terbaca semua orang.
"Umm.. Dari apa yang dibaca Camus tadi, aku rasa Dewi Persephone tidak akan membahayakan Athena."
"Yah, kecuali ia dalam kondisi marah sekarang."
"Dan jangan lupa, bagaimanapun dia tetap Ratu Dunia Bawah. Ia pun memiliki hak yang sah dalam mengatur pergerakan para specter."
"Dan kekuatan yang enggak nanggung-nanggung dari Hades."
"Wah, tumben kau cerdas Mil.."
"APA!?"
"Cukup!"
Camus mulai frustasi sendiri mendengar berbagai macam percakapan-percakapan miring dari kawan-kawannya itu. Sambil menghela nafas, ia mengembalikan semua buku yang tadinya akan ia baca. Entah kenapa, mood membacanya tiba-tiba saja hilang.
Sambil berusaha mengabaikan percakapan-percakapan yang terus berlangsung dalam benaknya, Camus berjalan keluar dari kuilnya menuju teras yang menghubungkan Aquarius dengan Pisces. Ia menatap Papacy nanar. Berharap masalah apapun yang dihadapi junjungannya itu bisa segera terselesaikan dengan damai.
.
.
Disclaimer:
Saint Seiya - Masami Kurumada
Warning: SS Omega, Soul of Gold dan Next Dimension dianggap tidak ada.
.
Chapter 4: Kerja Sama
.
The Sacrifice
.
.
Gerimis mulai turun ketika Dewi berkerudung hitam itu berjalan semakin dekat ke teras Papacy. Senyumnya mulai mengembang ketika ia melihat Athena tengah menunggunya disana. Ya, Sahabat terbaiknya itu tengah menunggunya dengan sukacita yang terpancar dari matanya.
"Selamat datang Persephone." Sapa Athena.
"Ah, Athena.. Sudah beratus-ratus tahun lamanya kita tak berjumpa seperti ini. Terakhir kali melihatmu, kau tengah menghadap Hades di pertemuan itu." Jawabnya ringan. Kerinduan yang besar sangat jelas terlihat dimatanya ketika ia memandang sang Athena. Mereka berpelukan singkat ketika bertemu dan saling berbasa-basi ringan layaknya manusia.
Athena mengajaknya masuk ketika hujan semakin lebat dan udara semakin dingin. Mereka memasuki sebuah ruangan khusus yang sudah dipersiapkan oleh Shion sejak tadi. Shion pun menunduk memberi hormat ketika kedua Dewi itu melewatinya.
"Jadi, apa yang membawamu kemari?" Tanya Athena sambil menyuguhkan teh hangat. Persephone membuka tudung hitamnya sambil menghela nafas ketika Athena menanyakan hal itu.
"Aku hanya ingin mengetahui kondisimu." Jawabnya kemudian.
Athena tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu. Ia duduk berhadap-hadapan dengannya sementara sebuah meja persegi kecil menengahi mereka.
"Bagaimana kau bisa mengingatku? Dengan tubuh manusia itu, seharusnya kau tak bisa mengingat masa lalumu bukan?" Tanya Persephone.
Athena tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. "Iya memang. Hanya saja aku seolah-olah mengingat cosmomu dan tiba-tiba saja merasa sangat dekat. Aku belajar sangat banyak mengenai bangsa kita –para Dewa. Aku bahkan tak ragu untuk manggil Zeus 'ayah' karena aku mengenali cosmonya walaupun aku tak mengingatnya."
"Oh." Jawab Persephone tersenyum. "Aku agak ragu ketika pertama kali datang kemari. Aku takut kau tidak dapat mengingatku dan aku terpaksa harus memulai semuanya dari awal."
Athena tersenyum sambil menghirup tehnya. Cosmonya terus menerus melingkupi ruangan itu bersamaan dengan como Persephone. Mereka membuat sebuah perlindungan sehingga siapapun tidak akan bisa mendengar mereka dari luar.
"Jujur saja aku heran, Athena." Kata sahabat Dewi Perang itu. Alis Athena sedikit terangkat mendengar penyataan itu tiba-tiba keluar.
"Bagaimana mungkin kau mau melakukan semacam.. 'itu' hanya untuk para saintmu?" Tanya Persephone akhirnya.
"Itu.."
"Cinta" Sela Persephone yang tampak hafal dengan jawaban klasik Dewi Perang dihadapannya.
"Ah, kau juga mencintai manusia sepertiku bukan, Persephone? Aku yakin kau mengerti bagaimana perasaanku terhadap mereka." Jawabnya sambil memandang sahabatnya itu.
"Memang kau benar. Tapi tak sampai seperti ini. Bagaimana jika kau kalah pada pertempuran berikutnya?" Tanya Persephone khawatir. Namun ia melihat Athena hanya duduk dengan tenang tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku tahu kau selalu menang dalam setiap pertempuran, Athena. Namun, jika kau melakukan ini, maka peluangmu untuk menang pada pertempuran berikutnya akan sangat tipis. Apalagi lawanmu itu suamiku. Pria kejam dan kasar yang bahkan tak mau mengakui kekalahannya sendiri!" Kata Persephone. Kebencian yang ditunjukkannya pada Hades mau tak mau sedikit mengagetkan Athena.
"Aku pikir kau akan mencintainya seiring berjalannya waktu kalian tetap bersama." Kata Athena.
"Mencintainya? Hah! Ia menculikku dari ibuku -Demeter dan mengelabuiku untuk memakan delima sialan itu. Bagaimana mungkin aku bisa mencintainya?"
"Baiklah, aku tidak akan berkomentar apapun jika kau tetap memutuskan untuk terus membencinya." Kata Athena.
"Maksudnya?"
"Tidakkah kau menyadarinya Persephone? Bahwa ia mencintaimu luar biasa? Satu-satunya cinta yang ia miliki hanya ia berikan untukmu, Persephone. Bahkan sejak jaman mitologi, hanya kaulah istri satu-satunya. Mungkin ia pernah selingkuh, namun ia tak pernah mencampakkanmu. Bahkan, ia mengakui kesalahannya kepadamu bukan? Walau harus kuakui ia cukup kasar dan licik." Jawab Athena. Persephone hanya terdiam. Ia sama sekali tak menyangka jika Athena yang adalah musuh suaminya itu bisa berkata seperti itu.
"Mungkin.. kau benar. Hanya saja, sikapnya yang kejam terhadap manusia membuatku muak. Tidakkah ia berfikir bahwa aku pun mencintai manusia?" Kata Persephone. Athena tersenyum sambil membenarkan posisinya.
"Namun kau berhasil membuatnya mau membangkitkan saintku bukan? Jika bukan karena cintanya padamu, ia tak akan pernah mau melakukannya. Apalagi kita tahu bahwa ia sangat membenci seluruh saintku yang telah melawannya dulu." Jawab Athena.
"Dengan bayaran." Kata Persephone.
Athena menghela nafas. "Ya, dengan bayaran." Katanya menyetujui.
"Dan bayarannya itu kau, Athena!" Kata Persephone. Ia sama sekali tak nyaman dengan sikap Athena yang menganggap ringan semuanya.
"Dia membenciku Persephone. Jauh dibanding apapun. Sudah wajar bukan jika ia memintaku sebagai bayarannya?" Jawab Athena.
"Ah, kau terlalu baik Athena." Kata Persephone sambil menghela nafas. "Entah apa yang dipikirkan.. suamiku tentangmu." Lanjutnya.
"Tapi bagaimanapun, aku berterima kasih atas bantuanmu Persephone. Jika bukan karena kau, para saint itu tak akan pernah hidup kembali." Ucap Athena tulus.
Persephone hanya tersenyum dan mengangguk. Ia meminum teh yang sudah mendingin dihadapannya. "Aku rasa kau kemari bukan hanya untuk melihat kodisiku bukan?"
Dengan tersenyum, Persephone menjawab, "Memang Athena. Aku kemari untuk menawarkan bantuan. Aku tahu menjelang hari H, kau akan membutuhkan banyak bantuan. Karena itu aku kemari sembunyi-sembunyi."
Athena membelalak kaget. "Sembunyi-sembunyi?!"
"Ah, lupakan saja, toh Hades tak akan menemukanku sekarang. Kalaupun ia mendapati aku sudah tak ada. Ia tak akan bisa berbuat apa-apa bukan? Segelmu terlalu kuat untuk dihancurkannya sendiri." Jawab Persephone.
Seolah-olah kondisi berbalik, Athena merasa sangat panik dan Persephone tenang luar biasa. "Kalau mereka menemukanmu, kau bisa dihukum Persephone! Kau menyalahi aturan dengan pergi ke dunia atas sebelum waktunya." Kata Athena sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia tahu panik tak akan menyelesaikan apapun.
Persephone menyeringai. Ia menyibak rambut hitam kemerahannya dan memandang kearah sang Dewi perang. "Baik, sekarang apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?"
"Tapi.."
"Lupakan saja Athena. Kaupikir enak berdiam diri di dunia bawah sambil memandangi arwah-arwah itu menjerit kesakitan? Aku selalu tinggal di Elysium karena hal itu dan sudah cukup bosan berada disana sepanjang hari. Lagipula, kecil kemungkinan ada yang mengetahui kepergianku. Hypnos dan Thanatos tinggal di Olympus atas perintah Hades sejak kau menyegelnya dan kembali kurang lebih seminggu dari sekarang." Jelas Persephone tenang.
Athena menghela nafas. "Baiklah. Untuk sekarang, aku ingin memperkenalkanmu dengan para saintku. Aku harap kau bisa meringankan cosmo mu agar tak membuat mereka takut atau curiga."
Persephone hanya tersenyum dan mengangguk sementara Athena menggandeng tangannya keluar dari ruangan itu.
..oOo..
Langit tetap gelap walaupun jam sudah menunjuk pukul tujuh pagi. Walaupun gerimis terus membasahi Sanctuary, hal ini tidak membuat para gold saint mengeluh karena dipanggil menghadap ke Papacy. Rasa khawatir mereka akan keselamatan sang Dewi membuat mereka sangat tergesa-gesa.
Seperti kebiasaan mereka, sebelum menghadap sang Kyouko mereka akan berkumpul di kuil Pisces agar dapat tiba secara bersamaan.
"Sudah lengkap?" Tanya Aiolos.
"Hanya Mu dan Aldebaran yang belum tiba." Lapor Shura setelah mengamati semua gold saint yang berkumpul.
"Aduh, mereka lama sekali. Aku udah enggak sabar nih."
"Sabar Milo. Kuil mereka yang paling jauh. Sudah sepantasnya jika mereka selalu datang terakhir." Kata Camus sambil memegang pundak sahabatnya.
"Itu mereka!" Kata Aiolia sambil menunjuk pintu masuk kuil Pisces. Dan benar saja, gold saint Aries dan Taurus itu sudah berada dipintu masuk sambil terus berjalan kearah mereka.
"Maaf kami terlambat." Kata Mu mewakili Adebaran.
"Tak apa. Baik, ayo kita berangkat ke Papacy." Balas Saga sambil memberi kode kepada Aphrodite untuk berjalan duluan memimpin mereka melewati jalan pintas.
Tak sampai sepuluh menit lamanya mereka melewati jalan sempit itu dan berdiri dihadapan pintu Papacy. Perlahan, Aiolos mengetuk pintu itu dan membuka kedua daunnya lebar agar mereka bisa masuk bersama sesuai formasi. Mereka berlutut satu kaki dan memberi hormat dihadapan sang Kyouko dan Athena dalam aula besar itu.
"Persephone, ini adalah para gold saint. Merekalah yang menyandang pangkat tertinggi dari para saint lainnya." Kata Athena sambil memandang Persephone.
Persephone memperhatikan para gold saint itu dengan tersenyum. Senang karena ia bisa bertemu para pelindung Athena yang terkenal karena kesetiaannya itu. Walaupun begitu, beberapa gold saint memandang curiga kepada sang Dewi Musim Semi dan hal itu membuatnya sedikit menyesal.
"Baik, aku rasa ada beberapa dari kalian yang kurang menerima keberadaanku disini. Aku sungguh minta maaf akan kekasaran cosmoku tadi pagi." Katanya kemudian.
Seluruh gold saint dan sang Kyouko membelalakkan matanya ketika mendengar hal itu. Tentu saja, sangat jarang ada Dewa maupun Dewi yang mau melakukan hal semacam itu dihadapan manusia. Athena hanya tertawa pelan melihat ekspresi seluruh saintnya dan sang Kyouko. Kemudian dengan singkat, ia meminta para gold saintnya itu memperkenalkan diri.
Prosesi formal itu berlangsung singkat. Segera setelah para gold saint memperkenalkan diri, mereka pun berbaris rapi di Papacy sementara Athena dan Persephone meninggalkan ruangan menuju tempat patung Athena berada.
Kepergian mereka ternyata langsung membuat seluruh barisan itu buyar seketika. Para gold saint itu pun duduk dengan santainya di hadapan sang Kyouko. Bahkan Deathmask, Milo dan Aiolia sudah tidur-tiduran di lantai Papacy. Dohko pun hanya tertawa bersama Shion yang sudah membuka penutup kepalanya sambil duduk bersama dibawah singgasana.
"Saga, Kanon, bisa kemari sebentar?" Panggil Shion.
"Ya Kyouko-sama." Jawab mereka serempak.
"Aku memiliki misi untukmu. Athena-sama menyuruh kalian memberi aksessoris di kota Athens. Dan ini adalah uang belanja kalian." Kata Shion sambil menyerahkan uang.
"Kau yakin misi itu dari Athena, Shion?" Bisik Dohko pada Shion.
"Tentu saja Dohko. Kau pikir aku membelinya untukku sendiri?" Jawab sang Pope.
Saga dan Kanon hanya berdiri membatu dihadapan mereka. Mereka sedikit (?) shock mendengar permintaan dari Pimpinan tertinggi Sanctuary itu. Membeli aksessoris? Kedua saudara kembar itu hanya memandang satu sama lain. Wajah mereka menyaratkan rasa tak percaya. Mana mungkin Athena meminta mereka membeli hal yang konyol seperti ini.
"Ba..baik Kyouko-sama." Kata mereka sebelum pergi keluar dari Papacy.
Mungkin untuk hadiah Persephone. Pikir Dohko. Namun ia bingung juga bagaimana mungkin Athena memberikan aksessoris murahan pada Persephone sementara Dewi Musim Semi itu memiliki emas dan perak yang melimpah sebagai aksessoris?
Ah, Athena pun seorang perempuan. Pikirnya akhirnya.
Shion berdiri tiba-tiba dari posisinya dan menyebabkan Dohko sedikit melompat kaget. Ketika ia memandang sang Kyouko, ia mendapati wajah Shion berubah, dan ekspresi kesedihan yang nyata nampak padanya.
"Kau kenapa?" Tanya Dohko.
"Eh?" Jawab Shion terkejut. "Aku, um.. aku harus pergi kekamarku sebentar Dohko." Lanjutnya.
"Aku rasa kau menyembunyikan sesuatu Shion. Apa kau merasa menyesal telah memerintahkan hal yang aneh pada Saga dan Kanon?" Kata Dohko sambil tertawa. Shion tersenyum gugup. Jawaban Dohko tadi sangat mendekati kenyataan. Shion melangkah pergi kekamarnya sementara Dohko mengikutinya.
..oOo..
"Ini benda itu Persephone." Kata Athena sambil menunjuk 'batu' raksasa dibelakang patung dirinya.
"Benda itu.. tersegel?" Tanya Persephone. Ia merasa agak khawatir ketika melihat Athena tersenyum sedih. "Well, tersegel permanen sebenarnya."
Deg!
"APA! Mungkinkah itu.."
"Ya, 'Cambuk Tartarus'." Lanjut Athena menanggapi pernyataan Persephone yang belum selesai.
"Athena.. sejak kapan?"
"Kemarin.. Salah satu gold saintku menemukannya."
"Kemarin? Oh, pantas saja Pandora memerintahkan para hakim itu pergi. Aku mendengarnya sekilas tentang segel. Tapi apapun itu, aku tak menyangka ia berbicara tentang.. benda ini." Katanya dengan sedikit ketakutan.
Persephone menghela nafas dan menenangkan dirinya. Ia memandang Athena prihatin sambil berkata, "Kau tahu kegunaan benda ini bukan, Athena? Dan betapa bahayanya benda ini sampai ayah memintamu menyegelnya dengan permanen?"
Athena mengangguk dan menunduk. Entah kenapa rasa sedih dan takut mulai merasuki dirinya lagi. Padahal, ia sudah belajar menerima kenyataan sejak pertama kali bertemu Hades dalam pertemuan para Dewa itu.
Athena dan Persephone duduk di salah satu anak tangga yang menghubungkan Papacy dengan patung Athena. Kemudian dengan panjang lebar, Athena menjelaskan banyak hal kepada Persephone. Terakhir, ia menjelaskan tentang misi yang ia berikan pada sang Kyouko -Shion.
"Aku rasa itu tak akan berhasil Athena." Kata Persephone setelah Athena menceritakan misinya itu.
"Tapi.."
"Sadarlah Athena! Para saint itu mencintaimu luar biasa. Kesetiaan mereka bahkan terkenal dikalangan kita Para Dewa. Tidakkah kau berfikir bahwa rencanamu itu sama sekali tak mungkin berhasil?" Kata Persephone. Ia sama sekali tak menyangka sepupunya ini dapat berpikiran seperti itu.
"Ketahuilah Athena. Bahkan jika kau berhasil membuat mereka membencimu karena menganggapmu semena-mena, mereka tak akan pernah mengkhianatimu. Bagi mereka kau segalanya. Pusat kehidupan mereka, Athena. Bahkan jika kau berhasil membuat mereka malu setengah mati dan menghancurkan nama baik mereka sekalipun, aku berani bersumpah mereka tak akan pernah mengkhianatimu. Aku melihat kesungguhan dimata mereka sejak pertama kali bertemu di keduabelas kuil itu. " Kata Persephone.
Athena menunduk. Rencananya pada Shion ternyata sia-sia. Ia berfikir jika berhasil membuat para gold saintnya itu benci padanya, maka mereka tak akan pernah merasa menderita nanti.
Persephone mendesah. "Ah.. Athena. Aku sarankan kau menarik kembali misimu pada Shion. Aku akan memikirkan rencana lain." Kata Persephone sambil memandang sang Dewi Perang. Athena hanya mengangguk dan menyetujui saran Persephone.
"Trimakasih sudah mau membantu Persephone, aku berhutang padamu."
Sang Dewi Musim Semi pun menyeringai sambil menjawab, "Kau sudah membayarnya, Athena. Trima kasih sudah menyelamatkan manusia dari suamiku." Katanya.
..oOo..
Shion menghela nafas ketika Dohko masuk bersama ke dalam kamar pribadinya. Walaupun ia senang sahabatnya mau menemaninya disini, namun ia juga takut jika ia tak dapat menahan diri untuk tidak membocorkan rahasia besar junjungannya.
"Wah, kamarmu ternyata cukup rapi, Shion." Kata Dohko sambil tertawa.
Rupanya suara tawa sahabatnya itu sedikit demi sedikit berhasil membantunya menghapus rasa sedih dihatinya. Mau tak mau, ia pun tersenyum melihat tingkah laku teman sepantarannya itu.
"Lumayanlah, untuk ukuran seorang Pope." Katanya sambil menyenggol bahu Shion.
"Ah, berhentilah meledekku Dohko. Aku bahkan tak yakin kamarmu bisa serapi ini." Balas Shion yang langsung disambut tawa Dohko kembali.
"Wah, kayaknya sekali-sekali kau harus mampir kuil Libra, Shion. Kan lumayan kalau kita bisa 'bermain' di kamarku." Kata Dohko. Shion pun merasakan pipinya memerah. Ia menggelengkan kepala berusaha mengusir bayangan-bayangan yang tiba-tiba menyerbu benaknya.
"Hahaha! Jangan memikirkan hal yang macam-macam Shion" Kata Dohko sambil terus tertawa. Ah, sahabatnya satu ini memang hobi tertawa. Dohko berjalan mengelilingi kamar itu sekedar melihat-lihat. Ia memberhatikan begitu banyak barang antik pemberian Athena yang ditata rapi di sebuah meja.
Shion berbalik memunggungi Dohko dan duduk diatas kasurnya. Tanpa terduga, Dohko menerjangnya sampai posisi mereka tumpang tindih. "Kau tahu? Aku merindukanmu Shion. Kau sahabatku. Dan akan selalu menjadi sahabatku." Katanya sambil terus memeluk Shion erat.
Shion merasakan pipinya menghangat. Tanpa ia sadari, tangannya pun membalas memeluk sahabatnya itu. Matanya tertutup merasakan kehangatan tubuh Dohko. Sudah lama ia tak pernah merasakan kehangatan seperti ini. Tak lama kemudian mereka pun bangun dari tempat tidur itu dan tertawa bersama. "Trimakasih Dohko." Kata Shion sambil tersenyum.
"Ehem.. kami melihatnya loh."
Sebuah suara dari pintu mengagetkan mereka. Deathmask dan Aphrodite rupanya tengah berdiri didepan pintu sambil memasang ekspresi jail diwajahnya. Sementara dibelakang mereka, berdiri kedelapan gold saint lainnya –Saga dan Kanon pergi ke Athens-.
"Kalian! Apa yang kalian lakukan?!" Tanya Shion panik.
"Tidak ada kok Kyouko, hanya menyaksikan adegan, umpf!"
"Tidak Kyouko, saya sebenarnya hanya ingin menutup pintu ini. Tapi karena tak ingin mengganggu hubungan.. err.. aktivitas kalian, jadi saya biarkan saja. Eh, kepiting ini malah ngajak yang lain." Jelas Aiolos sambil membungkam mulut Deathmask.
"Sungguh! Ini bukan seperti yang kalian pikirkan!" Kata Shion dengan pipi memerah. Ia memandang Dohko sambil memberi pandangan minta tolong. Namun sepertinya ia meminta pertolongan dari orang yang salah. Dohko yang dipandangi oleh Shion justru tertawa lebar sementara ia berjalan kearah pintu dan berkata, "Jika kalian sudah mengerti apa yang kami lakukan, sebaiknya kalian keluar dan jangan mengganggu!" Katanya.
Wajah Mu bersemu merah sementara ia langsung menunduk dan berjalan pergi. Camus dan Aiolos tersenyum malu sementara Milo sudah bagaikan udang rebus karena menahan tawa. Keadaan Shion pun tak jauh beda dari Milo, hanya saja ia menahan malu. Apalagi ketika melihat muridnya bersikap seperti itu. Tak lama kemudian, kesepuluh gold saint itupun meninggalkan ruangan. Dan alhasil, ruangan itu menjadi sepi seketika.
Pletak!
"Aw.. sakit tau." Kata Dohko setelah menerima jitakan sepenuh hati dari Shion.
"Santai saja Shion. Toh usahaku berhasil. Jika aku tak berkata seperti itu, mungkin Deathmask dan kawan-kawannya justu akan meledek kita bukan?" Kata Dohko sambil menutup pintu.
"Tapi kau memberi mereka bayangan yang salah tentang apa yang kita lakukan Dohko." Balas Shion sambil mendesah. "Well, mungkin beberapa diantara mereka. Aku yakin Shaka, Camus dan gold saint sebangsanya tidak akan berfikiran macam-macam." Kata Dohko tanpa dosa.
Shion menghela nafas. Sudah resikonya punya teman tak sadar umur seperti ini. Tapi bagaimanapun, ia tetap menyayangi Dohko. Dan memikirkannya selalu berhasil membuat Shion seolah-olah melupakan masalahnya.
Sebuah ketukan dipintu mengagetkan mereka. Apa lagi yang dilakukan bocah-bocah itu? Pikir Dohko sambil mendengus jengkel.
"Kyouko-sama. Athena-sama memanggil anda."
..oOo..
Shion berlari menuju halaman belakang Papacy, tempat Dewi junjungannya dan Dewi Musim Semi itu berada. Langit sudah mulai cerah dan gerimis sudah berhenti. Angin sepoi-sepoi pun bertiup mengenai wajahnya. Tak lama kemudian, Shion tiba ditempat tujuannya. Ia menunduk pada sang Athena memberi hormat.
"Aku memanggilmu kemari untuk dua hal, Shion." Kata Athena memulai duluan.
"Ya, Athena-sama."
"Pertama, aku menarik kembali misi yang sudah kuberikan padamu. Apakah Saga dan Kanon sudah terlanjur pergi?"
Shion tersentak. Tiba-tiba saja ia merasa gagal menyelesaikan misinya dan sang Athena kecewa padanya. "Ya Athena-sama. Saya mohon maaf jika saya tak dapat menyelesaikan misi dari anda" Kata Shion menyesal.
"Ah, tidak Shion. Persephone lah yang menyarankanku untuk menarik misi itu darimu. Mulai sekarang, kamilah yang akan mengurus hal itu." Kata Athena dengan senyum.
Shion merasa lega. Ia berfikir bahwa itu semua salahnya. Namun ia juga bersyukur karena tak harus menyelesaikan misi yang sangat sulit baginya.
"Kedua, seperti kataku kemarin. Aku akan melakukan sesuatu terhadap 'batu' yang tersegel permanen itu. Dan aku mohon dengan sangat agar kau merahasiakan apapun yang kau saksikan, Shion."
"Baik Athena-sama." Jawabnya kemudian.
Athena mengangguk sekali sebelum Persephone menarik tangannya menuju ke tempat 'batu' itu berada. Shion pun mengikuti Athena dan Persephone dengan cepat. Kemudian, Apa yang terjadi dihadapannya benar-benar tak bisa dipercaya. Athena dan Persephone menyayat pergelangan tangannya masing-masing dan bersiap menuangkan darahnya pada batu itu.
Shion hendak bertanya, namun ternyata Athena menjawabnya lebih dulu, "Segel permanen tak bisa dibuka begitu saja Shion. Sebenarnya, pembuat segel ini bukan hanya aku. Aku bersama Zeus dan Poseidonlah yang membuat segel ini. Namun diukir atas namaku karena segel ini disimpan dipuncak tertinggi Sanctuary -yang adalah daerah kekuasaanku. Karena itu dibutuhkan darah dua sampai tiga Dewa atau Dewi untuk bisa membukanya." Jelas Athena kepada Shion.
Sebuah cahaya yang luar biasa menyilaukan muncul dari batu itu ketika menyentuh darah Persephone dan Athena. Mau tak mau, Shion pun menutup wajahnya jika ia tak ingin buta.
"Kyouko-sama, Athena-sama!"
Jeritan banyak orang mengagetkan Shion. Ketika ia menoleh kebelakang, berdirilah dihadapannya ketigabelas gold saint termasuk Saga dan Kanon yang sepertinya telah kembali dengan cepat.
"Apa-apaan ini?! Cepat kembali ke dalam Papacy!"
"Tapi Kyouko-sama, Athena.."
"KEMBALI SEKARANG!" Perintah Shion dengan amarah. Tentu saja. Hal ini merupakan rahasia bagi para gold saint, namun mereka malah berkumpul disini.
"Ta..tapi.." Shura hendak membantah ketika sebuah tangan menariknya dari belakang. Dohko memandang Shion curiga sambil menarik Shura kembali. "Kau berhutang penjelasan, Shion." Kata Dohko sebelum mendesak mereka untuk pergi kembali ke Papacy.
Namun desakan Dohko untuk membawa mereka kembali ternyata sia-sia. Keduabelas gold saint itu –kecuali Dohko- berdiri menghadap Patung Athena. Cahaya yang menyilaukan tadi, sedikit demi sedikit mulai menghilang. Dan hal itu membuat Shion semakin panik.
"Kami akan melindungi Athena dengan atau tanpa izinmu Kyouko-sama." Kata mereka bersamaan. "PERGI! Kalian tak mengerti apapun. Ini perintah Athena!" Jerit Shion panik.
"Pergilah para gold saint." Suara Persephone menggelegar dari balik patung Athena. Cosmonya tiba-tiba kembali menekan dan mendorong tubuh mereka mundur.
"Apa-apaan ini!" Kata Saga sambil berusaha melawan cosmo itu.
"Kau mengkhianati kami?!" Tanya Shura penuh amarah.
"Kau tak jauh berbeda dari suamimu, Persephone. Kau licik!" Jerit Milo. Cosmo itu pun semakin menekan mereka. Para gold saint akhirnya menyatukan kembali cosmo mereka seperti dulu pada Aiolos yang sudah bersiap dengan panahnya.
"Bodoh! Sepertiga bumi akan menghilang jika kalian menembakkan itu!" Jerit Shion dan Dohko bersamaan. "Tidakkah mereka berfikir betapa besarnya kerusakan yang akan terjadi?!" Tanya Shion dengan panik luar biasa.
"Berhenti gold saint!" Suara Athena yang terdengar lemah bergema dari balik patung Athena bersama Persephone. "Cukup. Kembalilah ke Papacy. Benar kata Shion, kalian tidak mengerti apa-apa." Kata Athena sambil menahan cosmo para gold saint itu dengan cosmonya sendiri. Seketika itu juga, cosmo mereka mereda. Bukan karena kemauan mereka. Namun karena gold cloth itu patuh pada sang Athena. Ya, para gold cloth itu menahan cosmo mereka sampai menjadi sangat kecil.
"Ta.. tapi.. Athena-sama"
"Cukup Shaka. Turutilah perintahku, kalian semua. Kembalilah ke Papacy dan tunggu aku disana." Perintah Athena dengan tegas.
"Ba.. baik." Jawab mereka kemudian.
Para gold saint itu pun kembali ke dalam Papacy setengah hati. Wajah mereka didominasi rasa khawatir yang jelas terlihat. Shion mendesah berat ketika melihat anak-anaknya itu sudah meninggalkan tempat itu. Hampir saja. Pikirnya. Jika semua ini ketahuan, seluruh rencana Athena jelas akan gagal total.
"Shion."
Sebuah panggilan dari Dewi Musim Semi itu membuat Shion bergegas berlari menuju belakang patung Athena. Cahaya yang muncul tadi sudah sepenuhnya menghilang. Setibanya disana. Ia terkejut melihat tubuh Athena tergeletak lemas sementara Persephone masih duduk dengan tegak.
"Apa yang terjadi?!" Tanyanya panik.
"Bukan apa-apa Shion. Hanya saja, sebagai penyegel awal, seharusnya Athena tidak boleh melepaskan segel ini walaupun hanya ia yang bisa. Itu sudah menjadi perjanjian diantara Zeus, Poseidon dan Athena. Karena itu para Dewa menyebutnya sebagai segel permanen. Untung saja aku berhasil menyelamatkan nyawanya ketika tubuhnya terhisap kedalam 'batu' itu." Jelas Persephone.
Shion menganggguk sambil mengucapkan trimakasih pada sang Dewi Musim Semi. Ia menoleh dan memandang batu itu. Ukiran segel Athena masih ada disana walaupun sudah tinggal sedikit lagi sebelum hilang sepenuhnya.
"Dan segelnya?" Tanya Shion.
Persephone menggeleng, ia menatap Athena sedih sambil menjawab, "Athena terlalu lemah untuk meneruskan mengikis segel itu bersamaku. Namun darah Athena sudah cukup banyak untuk melemahkan segel itu. Besok, sahabat kami yang lainnya akan tiba disini untuk membantu kami. Aku harap kalian bersikap baik padanya karena ia tak menyukai manusia seperti kami." Kata Persephone.
Shion mengangguk dan memapah Athena yang tak sadarkan diri kembali ke Papacy bersama Persephone dibelakangnya. Dan sesuai dugaannya, seluruh gold saint panik seketika saat melihat junjungan mereka. Mereka menatap tajam kearah Persephone namun ia tak meresponnya dengan apapun.
Tak menghiraukan kata-kata dan tatapan mereka, Shion dan Persephone memasuki kamar Athena dan membaringkannya diatas tempat tidur. Kemudian dengan perlahan, Shion menjelaskan banyak hal pada para gold saint dengan tetap menyembunyikan identitas asli 'batu' raksasa itu. Ia hanya mengatakan 'benda yang ditemukan Camus' dan berusaha menyakinkan mereka bahwa Athena aman dan tidak bisa diganggu. Ia memberi tahu mereka tentang kabar akan datangnya satu lagi sahabat Persephone dan Athena. Para gold saint pun kembali ke kuilnya masing-masing setelah meminta maaf akan kesalahpahaman mereka pada sang Dewi Musim Semi.
Langit sudah memerah ketika Athena bangun dari tidurnya. Ketika ia keluar dari kamarnya, ia melihat Persephone tengah duduk diteras Papacy sambil menikmati teh yang disuguhkan Shion. Ketika ia melihat Athena berjalan kearahnya, bangunlah Persephone sambil tersenyum kearah sang Dewi Perang. Athena membalas senyumnya sambil duduk bersebelahan dengan Persephone, menikmati keindahan langit sore.
"Besok ia akan datang." Kata Persephone.
"Ya.." Jawab Athena sambil menghela nafas. "Semoga saja ia bisa bekerja sama dengan baik." Lanjutnya.
Persephone mengangguk sambil meminum tehnya dan bertanya, "Apakah Hades sudah menentukan tanggalnya, Athena?"
Athena tersenyum sedih dan mengangguk. "Tiga minggu dari sekarang." Jawabnya.
"Well, tak lama lagi kita akan berpisah lagi.. Aku menyayangimu Athena." Kata Persephone sambil memandang sahabatnya itu.
"Aku pun begitu, Persephone." Jawab Athena sambil tersenyum.
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Ketika jam menunjuk pukul setengah enam sore. Berdirilah Athena di teras itu dan melingkupkan cosmonya kekeduabelas kuil. Persephone tersenyum mengetahui apa yang dilakukan sahabatnya. Ia memegang tangannya dan dengan kelembutan yang sama membaurkan cosmonya kedalam cosmo Athena. Mendukungnya. Dewi Kebijaksanaan itu hanya tersenyum sambil mengucapkan trima kasih. Ia pun menyadari sekarang, bahwa ia tak berdiri sendiri ditengah masalah ini.
..oOo.. To Be Continued ..oOo..
Kritik dan saran lagi-lagi amat ditunggu. ^^
Thanks buat yang udah baca dan yang udah review..
(Sungguh! Review membuat para author jadi semangat nulis... )
Dan akhirnya.. masi to be continued.. #plak
Semoga fic ini bisa semakin baik seiring berjalannya waktu.. #amiinn.. dan bagi yang mau nyumbang ide, bisa lewat PM atau review..
See u next chap…!
Thanks for Reading!
