Hanazono yuri: udah di lanjut kaka...

Zarachan: hohoho kalo dikasih duit author update tiap hari wkwk *digampar

SantiDwiMw: Udah kaka... silakan baca...

Lvenge: ciecie yang udah ga takut wkwkwk *coleksasuke

Niji no haru: ho'oh udah dilanjut kok. Makasih ya :D

Azuma Sarafine: lebih kreatif yang bikin gamenya kak, author Cuma berbagi ceritanya wkwk

Uchihaliaharuno: wkwk mbak ojo ngomong bencong e aku tersinggung /lhoh/ iya mbak, mungkin wajah yuriko terlalu manis buat dilupain wkwk suwun mbak ripyune, emang saiki rodok eror. Aku bahkan ga nrima pemberitahuan juga nek enek ripyu

Lala Yoichi: udah der :v reader maksudnya

Firza290: kayaknya hidup km penuh halangan ya wkwk ho'oh, maunya aku edit trus ganti namaku. Tapi kayaknya banyak yang gak iklas nanti wkwkwk nah kan, bukan enak lagi itu -_- surga dunia kalo bisa jilatin mulut sasuke xD

Williewillydoo: yah mau bagaimana lagi, kalo dengan menjadi kambing author bisa cipokan sama sasuke sungguh author rela /halah/ wkwkwk. Silakan baca

Hyugadevit: semoga juga ada waktu luang buat apdet wkwk terima kasih ripyunyaaa :*

Sakulov: ho'oh karena udah ngedeketin akhir jadi harus dibikin tersipusipu gitu :D. Makasih ripyunyaaa

Euri-chan: syukurlah kamu nemu fic ini wkwk itu kambing sebenere milik pain. Yuriko juga punya kandang sendiri. Tapi terkadang kambingnya emang dilepas buat jalanjalan di dalam.

Kana: -yah karena itu sudah rejeki Itachi buat nyipok sakura wkwkwk ho'oh sasusaku cipokan, atau lebih tepatnya sasuke nyipok saku krn dikira saku kambing wkwkwk Tapi aneh juga sih kalo inget Sasu meluk saku karna dikira kambing. Padahal secara tubuh beda bgt. Hmmm, oh jadi km lbih rela sasu ciuman sama kambing ketimbang aku? ok fine *pundung

Wowwoh. geegee: kenapa? Kenapa? Author hanya menginginkan ciumannya, itu saja -_- ini maksudnya perubahan apa? Perubahan sasusaku? Atau perubahan fanfic jadi lebih baik atau buruk? xD

Makasih semua ripyunya minna, tanpa kalian author ga bakal semangat lanjutin ini /alaydikit/


.

.

.

TRUE LOVE SWEET LIES

CHAPTER 4


.

Jadi ini sudah hampir satu bulan lebih Sakura menginap satu gedung dengan para detektif itu. Sakura berbaring di kamar sambil memeluk gulingnya, pikirannya menerawang jauh tepat di hari mereka bertemu. Itachi yang menyamar sebagai tuan Wakaba, sempat membuat Sakura tertarik dan akhirnya berciuman. Dan juga saat akhirnya dia tahu kalau Itachi berkomplot untuk mendapat SD Cardnya. Atau saat bagian paling mengerikan, yakni penculikannya. Sakura mendengus, bukan, bukan karena merasa lucu karena ia diculik, namun ia mengingat Sasuke dan itu membuatnya mendengus berkali-kali. Kalau boleh jujur, kumpulan detektif ini sangat aneh dengan sifat mereka yang bertolak belakang. Apalagi Sasori maupun Gaara yang jarang berada di kantor. Bahkan Sakura tidak bisa menebak keakraban masing-masing.

Drrrt drrrt

Sakura mengambil ponselnya yang bergetar.

Dari: Sasuke

Subjek: -

Kau tidak akan percaya apa yang aku dapatkan. Datang ke kamarku.

Sakura mengerjapkan matanya. Ia mengerutkan dahinya mencoba menebak apa yang telah Sasuke dapatkan hingga pria itu mengiriminya sebuah pesan. Sakura lantas keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Sasuke yang hanya terletak tepat di sebelahnya. Sementara itu Sasuke mondar mandir sambil sesekali mengintip dari balik pintu. Saat ia melihat Sakura berada di depan pintu, pria pantat ayam itu langsung membukakan pintunya membuat Sakura sedikit terkejut.

"Masuklah." Sasuke berjalan dan duduk di ranjangnya. Sakura mengangguk lalu mengikuti pria itu dan duduk di sampingnya. "Lihat." Sasuke mengangkat sebuah bingkisan dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah kamera SLR. "Whoaa, keren! Bukankah itu kamera Mikon keluaran baru?" Sakura mengerjapkan matanya kagum saat Sasuke memamerkan kamera yang bermerek sama dengan miliknya. "Hn." Sasuke tersenyum bangga.

"Kau tahu aku merasa cemburu sekarang!" Sakura menggembungkan pipinya lalu menatap Sasuke, "Um, bolehkah aku mencobanya?"

Sasuke mengangguk lalu dengan senang hati menyerahkan kameranya, "Hn."

Klik

"Ahhh! Suara ini! Model terbaru digital ini masih memiliki rasa analog... Aku sangat menyukainya." Sakura tersenyum sumringah sambil kembali mencobanya.

"Aku tahu." Sasuke tersenyum miring sambil terus mengamati gadis di hadapannya. "Tapi mengapa kau memiliki ini?" Sakura tiba-tiba menoleh, dan senyuman Sasuke yang sedari tadi merekah hilang. "...Hanya karena aku menyukainya." Jawab Sasuke. "Kau hanya menyukainya?" Sakura mengangkat kedua alisnya mengulangi jawaban dari Sasuke. Sementara Sasuke segera memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan semburat tipis di pipinya, "Ya, memangnya ada masalah?"

Sakura tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak.. Aku sepenuhnya mengerti. Karena itulah yang pernah aku alami juga. Maksudku, kau hanya tidak bisa menjelaskan bagaimana kau mencintai atau mengapa kau tertarik pada sesuatu."

"B-benar.."

"Oh, aku tahu. Bagaimana kalau kita mengambil foto bersama? Karena ini adalah model baru, aku yakin kau tidak sabar untuk menggunakannya, benar kan?"

"...Aku mungkin bisa di akhir minggu ini." Ujar Sasuke yang masih enggan untuk menatap Sakura.

"Kalau begitu ayo pergi!"

Riiingg riiiingg

Sasuke meraih ponselnya dan menjawab panggilan yang baru saja masuk, "Hallo? Baik, kami akan segera kesana." Sasuke mengalungkan kameranya lalu berdiri, "Ayo ke kantor."

"Ah iya."

.

.

Di kantor.

"Ini dia." Kata Sasuke sambil berjalan menuju meja Pain.

"Oh, maaf..." Pain merapihkan berkas-berkas di mejanya dan lalu menoleh kearah Sakura, "Aku sudah mencoba menghubungimu, tapi kau tidak mengangkatnya."

Sakura mengangkat kedua alisnya lalu merogoh saku dan mengambil ponselnya. "Maaf, aku tidak menyadarinya."

"Tak apa, aku hanya ingin bertanya beberapa pertanyaan tentang foto yang telah kau ambil." Pain kembali melihat ke mejanya, "Um, yang mana tadi, Itachi?"

"Aku baru saja memberikannya padamu." Itachi melenggang menuju meja Pain diikuti Sasori.

"Oh, ini dia." Sasori mengangkat selembar poto yang ikut tertata bersama berkas-berkas milik Pain. Setelah itu pandangan mereka beralih dan tertuju pada kamera yang menggantung di leher Sasuke. "Darimana kamera itu?" Itachi mencoba menyentuhnya, namun Sasuke menepis tangannya. "Itu milik Sakura kan?" tanya Sasori.

"Bukan, itu milik Sasuke." Kata Sakura. Pain menoleh kearah Sakura lalu menoleh kearah Sasuke, "Benarkah?" Tanya Pain. "Aku tidak tahu kau memiliki kamera." Itachi menambahkan, pasalnya dia tidak tahu kalau Sasuke membeli kamera tersebut. "...Siapa yang peduli." Sasuke merespon datar.

"Apa Sakura yang memintamu?" Sasori menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum menggoda.

"Tidak." Sasuke membantah singkat.

"Hey, kupikir ini adalah sesuatu yang bagus. Ketertarikan yang sama benar-benar bisa mendekatkan orang." Pain menyentuh dagunya, ikut memamerkan senyuman menggodanya.

"A-aku hanya berpikir akan lebih baik kalau aku mengasah kemampuan menfotoku. Semenjak aku adalah seorang detektif dan semacamnya..." kata Sasuke.

"Apa itu yang Sakura katakan padamu?" Itachi ikut tersenyum miring.

Sasuke tiba-tiba merona, "Tidak ada urusannya dengan dia!"

Sasuke terus membantahnya namun semakin liar juga rekannya menggodanya, dan yang Sakura bisa lakukan hanya tersenyum. Bagaimanapun juga, meski benar atau tidak ketertarikannya akan fotografi juga ternyata membuat Sasuke tertarik, Sakura tentu merasa senang.

.

.

Hari berikutnya. Sakura menerima telepon dari sahabat baiknya ,Ino, yang sudah sekian lama tidak ia jumpai. Mereka memutuskan untuk bertemu di bar yang terletak di lantai bawah, mengingat Sakura tidak boleh meninggalkan gedung itu terlalu jauh.

Clink

"Ino!" Sakura menghambur dan memeluk gadis pirang yang sudah duduk disana. "Sakura! Mo, aku sangat mengkhawatirkanmu! Itu seperti seolah kau tiba-tiba terjatuh ke dalam perut bumi dan menghilang!" Ino memeluk balik tubuh Sakura dan melayangkan kekhawatirannya.

"Maaf, maaf." Sakura melepaskan pelukannya lalu duduk di samping Ino, "Banyak yang terjadi akhir akhir ini. Dan aku baru saja pulang dari Tim—um, dari luar negeri." Sakura menggigit bibirnya, hampir saja dia keceplosan tentang kasus penculikan kemarin.

"He, luar negeri?"

"Ini dia, Sakura." Kiba muncul dari balik meja dan memberikan segelas bir pada Sakura. "Apakah dia temanmu?" tanya Kiba lagi.

"Yep, kami sudah menjadi teman baik semenjak SMA." Kata Sakura.

"Aku Yamanaka Ino. Senang bertemu denganmu." Ino meraih tangan Kiba dan mengedipkan sebelah matanya.

"Demikian juga aku..." balas Kiba.

"Hentikan itu nona." Kata Sakura, "Kamu sedang tidak bekerja sekarang, ingat?"

Ino terkekeh lalu melepas tangan Kiba, "Maafkan aku. aku sudah terbiasa seperti ini."

"Terbiasa?" Tanya Kiba.

"Aku bekerja di Club K, tepatnya sekitar pojokan sana." Ujar Ino sambil memainkan gelasnya yang hampir kosong.

"Jangan bilang kau adalah host nomor satu yang sedang dibicarakan?" kata Kiba.

"Oh, kau mendengar tentang aku?" Ino tersenyum, "Siapa namamu?"

"Inuzuka Kiba."

"Kau harus libur dan mengunjungiku kapan-kapan, Kiba."

Kiba tertawa, "Aku tidak bisa menjamin itu."

"Sungguh, Ino, bisakah kau melupakan pekerjaanmu sebentar saja?" Sakura mengernyikan dahinya, bagaimana tidak, sedari tadi dia hanya melihat dua pasangan itu menatap saling menggoda. "Ahaha, maaf maaf." Ino terkekeh, sementara Kiba segera pergi melayani pelanggan lain, "Jadi kenapa kau pergi keluar negeri?" Ino mendadak bertanya.

"Um, hanya untuk pekerjaan."

"Sendiri?"

"Um, tidak... Aku pergi bersama seseorang dari kantor..."

"Seorang pria?"

Sakura mengumpat. "Sayangnya dia membenci wanita, jadi dia tidak terlalu baik denganku." Sakura mulai menceritakan tentang kondisi Sasuke untuk menjernihkan kesalah pahaman di otak Ino.

"Menabur garam untuk menghindari setan... Benda X?" kata Ino.

"Tapi sekarang dia lebih bersahabat. Dan kami akan pergi mengambil foto bersama minggu ini."

"Itu terdengar menyenangkan. Terlebih untuk orang yang baru kau kenal di kerjamu." Ino bertopang dagu, menatap dalam ke arah mata Sakura.

"Apa?"

"Sakura apa kau yakin tidak memiliki perasaan padanya?" tanya Ino.

"Y-ya, aku yakin."

"Tapi terdengar meragukan."

"Hentikan!?"

Semakin keras Sakura membantahnya, semakin cepat pula jantungnya berdetak. Dan itu karena Ino terlalu bicara bodoh. Meskipun Sakura menyukainya, tentu saja Sasuke tidak akan membalas perasaannya.

.

.

.

Akhirnya weekend, hari dimana Sakura dan Sasuke memutuskan untuk pergi bersama. Mereka berdua memiliki kamera masing masing yang tergantung di lehernya. Dengan senang hati Sasuke mengarahkan kameranya dan mengambil banyak jepretan, "Bagaimana?" Sasuke menunjukkan hasil potonya. "Komposisinya sudah bagus, tapi masih sedikit buram." Kata Sakura.

"... Benarkah?" Sasuke kembali mengamati hasil jepretannya. "Jika kau menahan kameranya dengan tangan kirimu, gambarmu tidak akan buram saat kau mengambilnya." Kata Sakura.

"Seperti ini?" Sasuke mengikuti arahan Sakura dan menahan kameranya dengan tangan kiri. "Tidak, sedikit lebih kesini..." Mereka berdua bergidik saat kedua tangan mereka saling bersentuhan. "Ma-maafkan aku!" Sakura menjauhkan tangannya.

"Hn, tak apa..." Sasuke terlihat sedikit tersipu dan kemudian mulai kembali mengambil gambar. "Bagaimana dengan yang ini?" tanyanya.

"Ya, sudah lebih baik."

"Baiklah..." Sasuke tersenyum tipis sembari memandangi hasilnya.

Sebenarnya Sakura merasa lucu melihat Sasuke begitu serius dalam mengambil gambar. Dan tidak dirasa bibir tipis Sakura menyunggingkan senyuman.

"Hn.." Sasuke menoleh kearah anak kucing yang duduk mengamatinya, "Kau ingin aku mengambil gambarmu?" Sasuke berjongkok di hadapan kucing berwarna putih tersebut dan mulai mengambil fotonya. Sasuke terlihat sangat menikmatinya. Sakura tidak pernah melihatnya terlihat begitu senang. Dia terlihat serius saat dia mengintip dari kameranya.

Perlahan Sakura mengangkat kameranya dan mengarahkannya pada wajah Sasuke.

Klik

"Hn?"

Dari lensa kamera Sakura, Sasuke terlihat menoleh dan menatap kearah gadis yang baru saja menfotonya. Sasuke memalingkan wajahnya dengan dahi berkerut. "...Maaf. aku tidak bisa menahannya." Sakura membungkuk. "Kau memiliki wajah yang sempurna." Kata Sakura lagi. Tangannya menggenggam kameranya erat.

"Hentikan!" Sasuke menggosok hidungnya dengan punggung tangannya. Pipinya terlihat sedikit merona. Sakura mendengus, ia pikir Sasuke akan memarahinya. "Hehe, ayolah." Sakura melebarkan senyumnya.

Meow

"H-hey tunggu!" Sasuke berlari mengejar kucing tadi yang tiba-tiba pergi untuk menutupi rasa malunya. Dia terlalu larut dengan keadaan, dan Sakura hanya tertawa.

.

.

.

Kemudian, setelah cukup banyak mengambil gambar mereka menemukan sebuah kafe kecil yang bagus dan memutuskan untuk mampir. "Aku ingin pancakes dengan tumpukan sirup tomat diatasnya." Sasuke berucap saat pelayan datang dan bertanya pesanannya. Sirup tomat? Sakura tidak pernah mendengar seseorang memesan pancake dengan sirup tomat sebelumnya. "Aku ingin sebuah hamburger. Tanpa acar." Kata Sakura.

"Akan segera datang." Pelayan tersenyum lalu meninggalkan meja mereka.

"Apa kau begitu suka tomat?" tanya Sakura.

"...Kalau iya, memangnya kenapa?"

"Tidak.. Aku hanya tekejut." Kata Sakura.

"Tomat sangat penting untuk otak, kau tahu?" kata Sasuke, "Khususnya bagiku yang sering menggunakan otak untuk bekerja."

Sakura mengangguk sambil ber-oh-ria.

"Jadi kau benci acar?" tanya Sasuke.

"Ya, mereka sangat asam."

"Kalau kau membuang acarnya, hanya akan ada mentimun."

"Aku lebih suka mentimun. Yang alami lebih baik."

"Hmmm."

"Ngomong-ngomong, tunjukan padaku gambar yang kau ambil." Kata Sakura, "Dan aku akan memberimu saran dari seorang profesional."

"Entahlah, tapi aku merasa kesal mendengarnya." Sasuke bergumam jelas namun tetap memberikan kameranya pada Sakura. Sakura mulai melihat hasil dari jepretan Sasuke. Ada foto deretan bunga di sisi jalan.. kucing yang dia ikuti.. "Ini cukup baik." Kata Sakura. Sakura terus mengklik hasilnya hingga layar tersebut menunjukkan profilnya. Atau lebih tepatnya data tentang Sakura yang telah di kumpulkan oleh para detektif sebelum Sakura bergabung dengan mereka. Di kertas tersebut terpampang data dirinya, mulai nama, tanggal lahir, orangtua, kesukaan, atau hal pribadi lainnya. Sakura menggigit bibir bawahnya, dan jantungnya mulai berdebar cepat.

"Apa?" Sasuke menyadari Sakura tengah memperhatikannya cukup lama. "Apa ada sesuatu di wajahku?"

"Um... Ada bulu kucing di dahimu." Kata Sakura, ia beruntung bulu kucing itu bisa menjadi alasannya.

"Apa? Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumya." Sasuke mulai menggosok dahinya, namun bulu itu masih bertengger disana.

"Akan aku ambilkan." Saat tangan Sakura menyentuh dahi Sasuke, mata mereka saling beradu.

Riing riiing

Sakura menarik lengannya dan mengambil ponselnya yang berbunyi, "Halo? Tentu, aku tidak keberatan. Oh, tapi itu... Tidak, tidak apa-apa. Aku akan melakukannya." Sakura menaruh ponselnya dan menghela napas panjang.

"Ada apa?" tanya Sasuke saat menyadari perubahan pada wajah Sakura. "Aku baru saja mendapat pekerjaan. Tapi itu bertepatan dengan hujan leonid beberapa hari mendatang." Sakura bertopang tangannya dengan wajah lesu, "Aku benar-benar menunggu hari itu. Tapi sepertinya aku akan melewatkannya.."

"Hn.."

"Ah, masih ada tahun depan bukan." Sakura mengepalkan tangannya. Ia mencoba menghilangkan rasa kecewanya.

.

.

.

Sehari setelah pekerjaan Sakura.

Tok

Tok

Sakura yang masih tidur terbangun karena mendengar ketukan di pintu kamarnya. Siapa yang menganggunya pagi-pagi begini. Sakura menoleh kearah jam yang rupanya sudah menunjukkan pukul 10 siang, lalu mendengus geli. Dia pikir ini masih pagi-pagi buta.

"Aku datang." Kata Sakura

Klik

Sakura membuka pintunya dan melihat Sasuke berdiri di sana. "Sasuke-kun... Selamat pagi."

"Pagi."

"Ada masalah apa?"

"Apa maksudmu?"

"Matamu berkantung." Kata Sakura.

"Begitu juga kau."

"I-itu karena aku bekerja sepanjang malam dan baru saja bangun..." Sakura menjawab malu, lalu matanya menatap turun, dia melihat Sasuke membawa sebuah amplop tebal di tangannya. "Ini.." kata Sasuke sambil menyerahkan amplop tadi. "Untukmu." Kata Sasuke saat melihat Sakura kebingungan.

"...Untukku?" tanya Sakura. Sakura menerima amplop tersebut lalu membukanya, dan emeraldnya bergetar saat melihat amplop itu ternyata berisi foto hujan meteor semalam. "Ini..." Sakura menatap Sasuke. "Untuk berterima kasih padamu pada hari itu." Kata Sasuke.

"Tunggu..." Sakura tak sempat berucap karena Sasuke segera pergi dan menutup pintunya. "Berterima kasih padaku...?" Sakura bergumam. Gadis berambut pink tersebut lalu duduk di ranjangnya dan melihat satu persatu foto yang diambil Sasuke. Beberapa dari mereka terlihat kaku. Dia terjaga sepanjang malam untuk mengambil ini? Hanya untukku? Beberapa foto terlihat tidak fokus, beberapa terlihat goyang. "Pffft, yang ini sangat gelap, aku bahkan tidak bisa melihat satu bintang pun. Oh tapi yang satu ini sangat indah." Sakura tersenyum membayangkan bagaimana wajah serius Sasuke saat mengambil semua ini, Sakura tertawa. Setiap lembar foto itu, berisi perasaan sepenuh hatinya. "Terima kasih, Sasuke-kun." Desis Sakura.

.

.

.

Hari berikutnya. Investigasi dimulai kembali setelah Sasuke berhasil menemukan posisi dari Anko. "Wow, ini cukup mengesankan karena kau mampu meng-hack lokasinya." Ujar Sakura.

"Hn."

"Oh, dia bergerak." Kata Sakura lagi saat melihat Anko mulai berjalan.

"Ayo."

Sasuke dan Sakura mengikuti Anko dan mereka terhenti di sebuah jalan dimana hanya terdapat banyak gedung yang tak lain adalah hotel. Dari semua tempat mengapa disini? Batin Sakura. Sakura melihat sekitar, merasa sangat tidak nyaman. Apalagi banyak wanita dengan pakaian terbuka berjalan dengan pria. "Ap-" Sakura berjenggit saat Sasuke memeluk pinggangnya. "Hush. Atau kita akan terlihat mencurigakan." Bisik Sasuke.

"B-benar.." Sakura mengangguk gugup. Dengan keadaan seperti ini, sangat sulit untuk percaya bahwa Sasuke sebenarnya membenci wanita. Sakura pikir sikapnya yang seperti ini lah yang membuatnya benar-benar seorang detektif profesional. Jantung Sakura berdebar kasar dan mereka kembali berjalan mencari Anko.

Sakura membelalakkan matanya saat melihat Anko masuk ke dalam sebuah Love Hotel. Jadi apa yang akan mereka lakukan sekarang? "Ayo masuk." Sasuke menarik pinggang Sakura sembari berbisik. Sakura tidak yakin dengan hal ini, dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi saat Sasuke mengajaknya masuk ke dalam Love Hotel. "Tidak mau!" kata Sakura. "...Apa?" Sasuke mengerutkan dahinya saat Sakura menolak dan mencoba melepaskan rangkulannya. "...Kau sedang tidak berpikir tentang hal kotor bukan?" tanya Sasuke.

"T-tentu saja tidak!" Sakura membantah, tapi tetap saja masuk ke dalam Love Hotel bersama seorang pria... Sakura menghembuskan napasnya, "Baiklah, ayo masuk."

Ketika di dalam mereka tidak melihat Anko berada di lobi. Jadi Sasuke memutuskan untuk bertanya pada resepsionis. "Apa ada sebuah kamar kosong di sebelah kamar yang baru saja dipesan?" tanya Sasuke. "Dipesan?" si resepsionis balik bertanya. "Oh, maksudmu wanita yang baru saja datang dan pergi lewat sana?"

"Dia pergi?" tanya Sasuke. Sang resepsionis menunjuk kearah pintu yang menuju kearah parkiran. "Dia membodohi kita!" Sasuke dan Sakura segera berlari menyusul Anko keluar dari hotel, namun Anko terlanjur menghilang. "Sialan, kemana dia pergi." Sasuke mengumpat sambil melihat ke sekeliling. Tempat itu sangat sepi dan mencekam.

Duk

"Ugh..."

Mereka kembali mengedarkan pandangannya bersamaan saat mendengar sebuah erangan muncul dari dekat mereka berdiri dan benar sekali, tak jauh dari tempat mereka Anko telihat terlempar sangat keras ke aspal, wanita itu di serang dengan brutal oleh seorang pria. Sebenarnya apa yang terjadi?

"Hentikan!"

Pria berjas hitam yang memukuli Anko menoleh kearah Sasuke yang berlari mendekatinya. Hal berikunya yang Sakura lihat adalah Sasuke yang menubrukkan dirinya pada pria itu. Mereka terjatuh dan berguling di aspal. Sementara Anko terkapar di sampingnya.

"Apa kau baik-baik saja?" Sakura berlari mendekat dan mencoba menyadarkan Anko. Anko menarik lengan Sakura dan bergumam tidak jelas. "Apa? Apa yang kau katakan?" Sakura mendekatkan telinganya namun tetap tak bisa mendengar perkataan Anko.

"SAKURA!"

Sakura mendengar teriakan Sasuke dari belakangnya, dia menoleh dan melihat pria berjas hitam itu mendekat kearahnya. Namun ketakutannya membuatnya membeku di tempat. Sakura memalingkan wajahnya, dia menutup matanya sangat erat... Namun tak berapa setelah itu, rasa hangat menyelimuti tubuhnya.

Duk.

"Arrgh!" Sasuke mengerang, ia memeluk Sakura dan menumbalkan dirinya sendiri.

"S-sasuke-kun?!"

"Jangan bergerak!"

"Tapi..." Sakura melihat darah keluar dari sudut bibirnya, lalu melihat pria berjas tadi kembali mengangkat kakinya tepat di belakang Sasuke. Sakura membelalakkan matanya namun Sasuke segera menutupinya. Dalam ketegangan itu Sakura kembali menutup matanya dan mencengkram lengan Sasuke. Saat pria berjas itu hampir melayangkan tendangannya sekali lagi pada Sasuke ponselnya berbunyi. Dan dengan ekspresi kesal pria itu menurunkan kakinya. Pria itu dengan pelan menjawab panggilan yang mengganggu kesenangannya, dan kemudian melompat ke balik dinding lalu menghilang.

"Kau baik-baik saja?" Sasuke melepaskan tangannya yang menutupi mata Sakura. "Bagaimana denganmu?" tanya Sakura balik. Sasuke mendengus, "Aku baik-baik saja."

Lagi, Sakura mampu merasakan hangat napas Sasuke di telinganya. Dan setelah itu Sakura tersadar bahwa Sasuke masih memeluknya. "Um.." Sakura bergumam. "Apa?" tanya Sasuke, "O-oh, maaf." Dengan cepat Sasuke melepaskan Sakura. Mereka berdiri dengan gerakan kikuk.

"K-kita harus membawanya kesuatu tempat." Kata Sakura sambil memandang kearah Anko yang benar-benar sudah kehilangan kesadarannya.

"Hn.."

"Aku akan memanggil ambulan." Kata Sakura. "Tidak, kita tidak bisa." Kata Sasuke ia lalu mengeluarkan ponselnya, "Aku akan memanggil ketua."

.

.

.

Pain mengarahkan Anko untuk dirawat di rumah sakit dimana temannya bekerja disana. Namun sampai saat ini Anko masih belum sadarkan diri.

"Apa yang dokter katakan?" Sasuke mendekati Pain yang baru keluar dari ruangan.

"Dia bilang tidak terlalu baik." Jawab Pain, "Hal paling buruk adalah kemungkinan dia tidak bisa bertahan."

"Lalu apa yang akan terjadi dengan pangeran?" tanya Sasuke. "Dia baru berusia 5tahun. Jika Anko menculiknya, berarti pangeran sedang sendiri di luar sana."

"Aku pikir Anko memiliki anak buah." Kata Pain.

"Maksudmu, pria yang duduk di sebelahnya saat di dalam mobil?" tanya Sakura.

"Itu mungkin saja." Ujar Pain. "Dan itu berarti kasus ini lebih serius dari yang Tayuya bayangkan."

"Pria yang menyerangnya... dia bukan seorang amatir.. Jadi jika pria itu juga sedang mencari si pangeran..." Sasuke diam, dia terlihat berpikir keras. "Tidakkah kau mencium hal aneh dalam kasus ini?"

"Seperti apa?" tanya Pain.

"Aku tidak bisa menjelaskannya. Hanya saja aku merasa sesuatu sedang berjalan tidak beres." Tutur Sasuke.

"Aku mengerti apa yang kau maksudkan." Pain menerawang jauh, "Tapi kita belum harus menganalisisnya terlalu jauh. Saat kau berusia sama denganku, berpikir terlalu banyak akan menyebabkan insomnia."

"Kau benar-benar..." Sasuke menggeram. Sepertinya Pain memang tidak mengerti apa maksud dari perkataannya.

"Ngomong-ngomong istirahatlah, Sasuke." Kata Pain. "Kau tidak akan bisa berpikir jernih saat kau kelelahan."

"Tapi...!"

"Lakukan apa yang aku katakan. Aku akan berjaga disini."

.

.

.

Sakura pergi ke atap rumah sakit dan melihat Sasuke berdiri disana sendiri. Kepalanya mendongak menatap langit. "Aku membawakanmu jus tomat." Kata Sakura. Sasuke menoleh dan menerimanya, "Terima kasih."

"Aku mendapatkan ini juga." Sakura menunjukkan kotak P3K yang ia dapat dari suster dan Sasuke menatap Sakura dengan pandangan kosong. "Apa itu sakit?" tanya Sakura, Sasuke mengedipkan matanya, ia tersadar dari lamunanya. "Bibirmu berdarah." Kata Sakura lagi. Sasuke menyentuh ujung bibirnya dan mengendik nyeri. "Kau benar." Kata Sasuke.

Sakura mulai membasahi kapas dengan antiseptik hingga dia mengingat sesuatu. Hal seperti ini menakuti Sasuke saat itu. "Bisakah aku merawatnya?" tanya Sakura. "Ini bukan masalah besar." Kata Sasuke.

"Besar bagiku. Kau terluka karena diriku. Jadi aku ingin melakukannya untukmu." Sakura mengerutkan dahinya lalu mulai menekankan kapas tersebut di luka Sasuke, namun setelah itu Sakura sadar dengan apa yang ia lakukan. Sementara Sasuke diam. Pria itu terlihat tenang.

"Aku lega.." dengus Sakura.

"Hn?"

"Kukira kau akan merasa ketakuan padaku seperti yang kau lakukan dulu." Sakura tersenyum, tangannya masih menekan luka di bibir Sasuke. "Aku minta maaf untuk itu." Kata Sasuke.

"Tak apa." Sakura menarik tangannya. "Um..."

"Hn?"

"Apakah yang Itachi bilang waktu itu katakan benar? Tentang apa yang pelayan wanita itu lakukan padamu..."

"Hn, itu terjadi saat kami masih tinggal di Amerika. Bisakah aku menceritakan ini padamu?"

"Tentu."

Sasuke duduk bersandar di kursi dan mulai bercerita. "Karin sangat cantik dan baik... Dan aku sangat tertarik untuk selalu menatapnya. Tapi..."

Kepribadian Karin berubah semenjak orangtua Sasuke dan Itachi meninggal. Karin berhenti bekerja dan mengambil warisan mereka.

"Dia membawa pria ke rumah bersamanya... Dia menyadari kalau aku melihatnya, dan dia mencoba menyerangku. Dia menciumku secara paksa dan aku tidak bisa menghapus perasaan mengerikan itu... Jadi setiap kali wanita menyentuhku, itu akan membuatku mengingat perasaan menjijikkan dulu."

Sakura menggenggam ujung bajunya, sekarang ia mengerti dengan jelas ketakutan Sasuke. Dan baginya itu normal, kalau dirinya juga mengalami pelecehan seperti Sasuke, ia tidak yakin apakah bisa kembali bangkit, "Aku minta maaf.. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan."

"Itu bukan salahmu, Sakura. Dan aku tidak yakin mengapa, tapi aku tidak keberatan saat kau melakukannya." Sasuke menggoyangkan jus tomat di tangannya.

"Apa?"

"Saat kau menyentuhku, aku merasa tidak terganggu. Ini aneh.." Sasuke bergumam dengan senyuman tipisnya.

Memang aneh.. Dan Sakura ingin tahu kenapa. "Mungkin itu hanya karena kau tidak berpikir kalau aku adalah seorang wanita?"

"Bukan itu..."

"..."

"Tapi kau adalah pengecualiannya." Lanjut Sasuke.

"Pengecualian?"

Sasuke mengatakannya dengan nada biasa, namun itu tetap membuat sesuatu di dalam diri Sakura bergejolak. Apakah Sasuke pikir Sakura sebagai orang yang spesial? Karena jika itu benar, Sakura tentu akan merasa senang.

.

.

.

Malam itu setelah kembali dari rumah sakit, Sakura hampir saja tertidur di kamarnya sampai dia mendengar teriakan.

"Hentikan!"

"Kau yang seharusnya berhenti!"

"Semua yang kau lakukan padaku hanyalah menganggapku seperti seorang bocah!"

"Bukan itu permasalahannya!"

"Kalau begitu apa?!"

Kedua suara itu. Apakah itu Sasuke dan Itachi? Sakura mengusap mata ngantuknya dan berlari ke arah ruang tamu dan menemukan pintunya yang sedikit terbuka.

"Kita sudah sampai sejauh ini." Sasuke meninggikan suaranya, "Kita harus mempertimbangkan resikonya dan..."

"Dan ini KARENA kita sudah sejauh ini kita harus bisa menahan diri!" Itachi membalas dengan nadanya yang tidak kalah tinggi.

Sakura mengintip ke dalam ruangan, dan tetap berdiri di dalam bayangan. Mengamati si kembar yang sedang berkelahi. Tak ada siapapun, hanya ada mereka bertiga sekarang di gedung ini. Sasori sibuk dengan syutingnya, sementara Gaara masih belum datang sejak kemarin.

"Kita tidak tahu siapa yang kita lawan." Kata Itachi, "Kalau mereka tahu kita panik, mereka akan dengan mudah menjatuhkan kita di tangan mereka!"

"Jadi maksudmu kita harus diam dan tidak melakukan apapun?" tukas Sasuke.

"Aku tidak pernah berkata seperti itu. Aku hanya bilang kau harus tenang."

"Aku sudah.."

"Kalau begitu kau seharusnya mengerti. Apa yang coba kau lakukan terlalu berbahaya."

"...Berbahaya? Kau hanya tidak mempercayaiku, hanya itu!"

"Sasuke..."

"Kau pikir aku ini sepenuhnya tak bisa diandalkan, Itachi! Aku tahu kau selalu berpikir bahwa aku ini tidak berguna!"

"Aku tidak pernah berkata seperti itu! Aku hanya..."

Sasuke mengacuhkan Itachi dan berjalan keluar ruangan.

"Sasuke-kun..."

Sasuke menoleh sebentar ke arah Sakura dan kembali melangkah pergi. Sakura mengingat saat dimana mereka bertengkar saat Sasuke mencoba untuk meng-hack kamera pengawas. Dan sekarang mereka kembali terlihat seperti saat itu. Jika mereka kembar, Sakura mampu menebak bahwa mereka saling membenci satu sama lain.

"Sebenarnya ada apa ini?" Sakura berjalan mendekati Itachi.

"Tidak ada. Kami hanya berbeda pendapat dalam kasus ini."

"Apa kau yakin hanya itu? Aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekedar hal itu."

"Apa maksudmu?"

"Um.." Sakura bergumam, ia tidak tahu bagaimana memulainya.

"Ini hanya masalah pekerjaan. Bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan." Kata Itachi

Itcahi berniat pergi meninggalkan ruangannya, namun Sakura memegang tangannya. Menghentikan langkah darinya. "Kenapa, Itachi?"

"Kenapa apa?"

"Kalian berdua kembar..."

Ekspresi Itachi berubah perlahan. Itachi mengamati wajah Sakura dan menghela napasnya. "Jika aku memberitahumu. Apa yang bisa kau lakukan?"

"...Aku tidak tahu. Tapi hal itu sangat menggangguku. Melihatnya terluka, dan melihatmu sedih.."

"..." Itachi kembali mendesah dan mulai bercerita, "Aku pikir ini KARENA kami adalah kembar."

"Apa?"

"Kami adalah kembar jadi kami memiliki umur yang sama, benar kan? Tapi aku adalah yang tertua. Dan aku hanya ingin melindunginya."

"Itachi..."

"Saat keluarga kami tinggal di Amerika, kami memiliki segalanya. Kami beruntung. Tapi saat kami berada di SMP, kedua orangtua kami meninggal. Dan hidup kami berubah drastis. Tiba-tiba, kami ditinggalkan tanpa siapa pun. Tapi aku tidak pernah ingin berbagi kesedihanku dengannya. Aku tak pernah menangis sekali pun di hadapannya. Aku tidak ingin membebani Sasuke. Hanya itulah yang aku bisa lakukan saat itu"

Sakura tiba-tiba teringat sesuatu yang Sasuke katakan selama perjalanan mereka. 'aku akan membuktikan padanya bahwa aku tidak membutuhkan bantuannya.'

"Tapi Sasuke tidak menyukai apapun yang aku lakukan. Aku yakin kau sudah menyadarinya sekarang. jadi meskipun itu hanya beberapa menit, aku masih tetap kakaknya. Aku adalah kakak Sasuke..." Itachi tersenyum miris.

Itachi telah banyak melindungi Sasuke sepanjang waktu.

"Itu sangat bagus..." Sakura bergumam jelas.

"Apa?"

"Aku pikir, dia akan menyadarinya suatu hari nanti. Dia akan menyadari bagaimana baiknya dirimu. Hal itu mungkin akan memerlukan sedikit waktu, tapi aku yakin hal itu akan terjadi."

"Sakura..."

"Karena kau adalah seorang kakak yang peduli dengan adiknya. Dan dia akan mengerti suatu hari nanti. Dia akan menyadari bagaimana beruntungnya dirinya karena memiliki seseorang yang sangat peduli dengannya."

Pandangan rumit terdampar di wajah tampan Itachi, seperti bingung antara menangis atau tertawa. "Memangnya siapa kau ini, seorang penyemangat?"

"Oh, maaf. Seperti nya aku terbawa suasana." Sakura menggaruk kepalanya kikuk.

"Tapi sepertinya sekarang aku mengerti mengapa Sasuke membuka dirinya padamu."

"Dia tidak sepenuhnya membuka dirinya untukku. Tapi dia memang sedikit banyak berbicara denganku." Kata Sakura, "Ah, tapi jangan khawatir aku tidak akan memberitahu dia bagaimana perasaanmu."

"Memang seharusnya begitu."

Sakura dan Itachi saling melempar senyum dan Sakura keluar ruangan untuk mengejar Sasuke.


Tbc


Jadi karena bentar lagi author akan mulai sibuk membahas pernikahan kakak, author akan berusaha menyelesaikan fic ini. Hanya tinggal 3chapter tersisa. Wkwk

Terima kasih sudah membaca! Dan terima kasih reviewnya!