Be With You

A fanfiction by mashedpootato

.

.

Character(s) : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongdae, Kim Minseok, Doh Kyungsoo, Kim Jongin, Hwang Hojun (oc)

Pairing(s) : Park Chanyeol/Byun Baekhyun, Kim Jongin/Doh Kyungsoo, mention of Kim Jongdae/Kim Minseok

Genre(s) : Romance, enemy to lover, slow burn, mutual-pining

Additional tag(s) : mention of MPREG, typos, some chapters are unbeta-ed so please bear with it

Rating : M

Disclaimer : Tulisan ini hanya sebuah karya fanfiksi, penggunaan nama dan karakterisasi dalam tulisan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tokoh di dunia nyata.

.

.

.

Chapter 4 : (Not So) Beautiful Goodbye

.

.

.

Ada sebuah gerbang pagar berwarna biru muda di taman kanak-kanak dimana Baekhyun pernah bersekolah. Berbahan logam besi tua dengan tinggi sekitar satu setengah meter, dan meninggalkan suara berderit nyaring setiap kali seseorang membukanya.

Baekhyun ingat itu semua. Karena dirinya di masa kecil menghabiskan sepanjang sore setelah kelas berakhir menatap gerbang tersebut. Tubuh mungilnya duduk di undakan sekolah sambil memeluk ransel merah di pangkuan. Dan hanya ketika ibunya muncul di ambang gerbang dengan langkah tergesa-gesa pada pukul 4 sore setiap harinya, Baekhyun pun tersenyum lebar dan berlari menyambutnya.

Teman-teman Baekhyun selalu bertanya mengapa ia hanya memiliki satu orang tua. Dan selalu pula Baekhyun menjawab, 'karena ibuku sudah cukup hebat, jadi aku tidak membutuhkan dua orangtua seperti anak-anak pada umumnya.'

Namun sebenarnya, Baekhyun kecil tidak benar-benar tahu jawaban sebenarnya atas pertanyaan itu. Pernah sekali ia mempertanyakan hal itu pada sang ibu, dan seketika ia menyesal telah melakukannya. Ibunya seketika nampak muram dan sedih. Dan saat itu pulalah Baekhyun berjanji untuk tidak pernah lagi mengajukan pertanyaan yang sama.

Hanya ketika ia menginjak umur 14 tahun lah, ia tahu segala kebenaran dari ibunya.

Ayah biologis Baekhyun pergi meninggalkan ibunya ketika Baekhyun berusaha enam bulan. Saat itu mereka dalam kondisi keuangan yang sulit, dan pria itu merasa tak ingin terus terjebak dalam tanggung jawab keluarga tersebut. Ia menganggap istri dan anak lelakinya sebagai beban yang selama ini memerangkap dirinya.

Hingga pada akhirnya, ia pergi begitu saja.

"Dimana dia sekarang?" Baekhyun ingat dirinya bertanya saat itu.

"Eomma tidak tahu pasti, tapi eomma dengar ia telah menikah dan memiliki keluarga yang baru saat ini." Jawaban Byun Songyeon tanpa Baekhyun duga terdengar begitu tenang.

Baekhyun bungkam, hingga sentuhan lembut di rambutnya membangunkan lamunan kecilnya.

"Apa kau membenci ibumu ini?" Tanya ibunya pelan. Wanita itu tersenyum lembut, senyuman yang orang bilang sangat mirip dengan yang Baekhyun miliki.

"Mengapa eomma bertanya begitu?" Tanya Baekhyun tak mengerti.

"Tidakkah Baekhyunie ingin memiliki keluarga yang utuh? Tidakkah Baekhyunie menyesal hanya memiliki seorang ibu, nak?"

Baekhyun tidak suka mendengar pertanyaan itu dari ibunya. Karena pada kenyataannya, pertanyaan tersebut menyakitinya lebih dari fakta bahwa ayah biologisnya telah menelantarkan mereka berdua.

"Kumohon jangan berkata seperti itu, eomma. Itu membuatku sedih..." Lirih Baekhyun. "Aku tidak membutuhkan siapapun selain eomma. Semua ini sudah sempurna."

Namun siapa yang tahu, bahwa fakta yang baru diketahuinya itu meninggalkan luka yang cukup dalam pada diri Baekhyun. Ada bagian di dalam dirinya yang merasa ditinggalkan, diabaikan, dan tidak diinginkan.

Dan selama bertahun-tahun pula Baekhyun bertanya-tanya, apa yang kurang pada dirinya hingga ia tidak cukup untuk bisa menahan sang ayah pergi.

Perlahan, kenangan masa lalu itu buyar dari benak Baekhyun, membawanya kembali ke dunia nyata. Tatapannya menerawang jauh, melihat sepasang ayah dan anak lelakinya yang tengah membawa anjing mereka berlari ringan di jalan setapak bersalju. Sesekali gaung tawa mereka terdengar dari kejauhan, dan itu membuat Baekhyun tersenyum.

Dengan segera, diraihnya buku sketsanya untuk mengabadikan momen yang ada tersebut.

Baekhyun harus mengakui pagi itu terasa lebih membosankan dengan Chanyeol yang mengabaikannya sejak insiden semalam. Keduanya menjalankan aktifitas pagi tanpa banyak bicara. Sebisa mungkin menghindari satu sama lain ketika melakukan kegiatan mereka masing-masing.

Chanyeol memutuskan untuk menuju ke kedai Kyungsoo pagi itu. Chanyeol tidak mengatakannya pada Baekhyun, namun ia menduga pria tinggi itu ke sana untuk mencari koneksi internet dan sinyal yang lebih stabil untuk menghubungi pihak asuransi yang berjanji akan datang hari ini.

Sementara itu, merasa tak memiliki kegiatan untuk dilakukan, Baekhyun pun membawa ponsel dan sketch booknya ke kursi malas di teras belakang.

Ketika tangannya masih disibukkan menggambar, ponsel di saku jaketnya bergetar oleh pesan beruntun yang masuk karena akses sinyal yang muncul tiba-tiba.

Baekhyun mengerutkan kening ketika membuka pesan yang terakhir terkirim untuknya.

KJD: where the fuck are you, bitch? Ibumu meneleponku, ia bilang kau tidak ada di apartment mu. Ponselmu juga sangat sulit dihubungi. Ia sangat khawatir, dasar kau anak durhaka!

Baekhyun menghela nafas, dengan segera mengetikkan pesan balasan sebelum sinyal yang ada hilang kembali.

You: aku akan menceritakannya besok. Sampaikan pada Joohyun bahwa aku mengambil cuti untuk hari ini.

Tidak butuh waktu lama hingga rentetan balasan Jongdae muncul di layar ponselnya.

KJD: you better tell me EVERYTHING byun fucking baekhyun atau aku akan menghantuimu dengan segala cara yang tidak pernah kau bayangkan! Dan jangan khawatir. Kantor diliburkan. Banyak jalanan masih belum dibuka hingga saat ini

Memanfaatkan sinyal yang masih ada, Baekhyun memutuskan untuk mengakses portal berita di internet, dan benar saja apa yang dikatakan Jongdae. Jalan-jalan di kota masih banyak yang ditutup karena badai semalam. Transportasi umum dihentikan, dan bandar udara berhenti beroperasi sejak kemarin sore. Seketika ia memikirkan kondisi ibunya yang sudah jauh-jauh datang ke apartment nya hanya untuk mendapati putranya tidak ada di sana.

Baekhyun membuka pesan baru dan mengetikkan pesan pada ibunya.

New message to: Mom ❤

You: aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku sedang dalam trip kerja dan akan segera pulang.

Tidak lama kemudian pesan jawaban masuk dari ibunya.

Mom ❤: aku tidak khawatir. Btw, ibu memakan coklat yang ada di laci dapurmu. Dimana kau menaruh remote televisinya?

Baekhyun memutar bola matanya, sama sekali tidak kaget membaca pesan balasan dari sang ibu.

You: di rak bawah meja.

Baekhyun meletakkan ponselnya di pangkuannya, namun beberapa saat kemudian ia kembali merasakan getaran tanda pesan masuk. Ia kira itu adalah pesan dari ibunya yang mengomeli isi kulkasnya yang kosong, namun ternyata itu dari seseorang yang lain.

Kyungsoo: mau makan siang di tempat kami? Aku memasak terlalu banyak dan Chanyeol juga masih di sini. Balas jika kau membaca ini

Baekhyun tidak berpikir dua kali untuk mengetikkan jawaban.

You: coming.

.

.

.

Baekhyun ingat Kyungsoo pernah mengatakan bahwa ia dan Jongin tinggal di bangunan rumah di belakang kedai mereka. Namun untuk benar-benar mengunjunginya, ini adalah pertama kalinya bagi Baekhyun.

Rumah Kyungsoo dan Jongin adalah sebuah rumah perpaduan modern dan mediteran dengan perpaduan kayu pinus halus dan kaca dimana-mana. Dengan aksen kayu yang memberikan efek menghangatkan suasana, meski dengan dinginnya cuaca yang amat menggigit hari itu.

Baekhyun meraih sekaleng bir yang sengaja ia bawa dan membukanya.

"Kau mau?" Baekhyun menyodorkan sekaleng bir utuh yang lain kepada Kyungsoo.

Lelaki mungil itu menggeleng. "Tidak. Aku harus menolaknya."

"Oh, maaf. Kau tidak meminum alkohol?" Tanya Baekhyun sedikit kaget.

Kyungsoo tertawa nyaring seraya menggeleng pelan. "Sebenarnya aku juga minum alkohol. Namun aku harus berhenti untuk sementara waktu karena suatu alasan. Well, paling tidak hingga beberapa bulan ke depan."

Baekhyun memandangnya dengan tatapan memicing penuh tanya. "Apa kau…"

"Hamil." Kyungsoo mengatakannya lebih dulu.

"Oh my God! Really?!" Baekhyun terlonjak kaget, nyaris menumpahkan separuh dari isi kaleng birnya ke lantai.

Kyungsoo tak bisa menahan tawa melihat ekspresi itu. Mengangguk oleh antusiasme yang ditularkan Baekhyun.

"Ya, aku seorang lelaki carrier. Aku tengah memasuki masa mengandungku yang ke lima minggu saat ini."

"Oh my God, bagaimana bisa aku tidak sadar! Maksudku- of course you are a carrier! Harusnya aku sadar lebih awal." Pekik Baekhyun, mencengkeram rambutnya sendiri dengan ekspresi kaget yang dramatis.

"It's okay. Aku bisa paham itu. Perutku belum mulai membesar, dan tentu saja kau sulit mengetahuinya dengan semua sweater dan jaket yang aku kenakan."

Baekhyun tersenyum lembut. "Ya, dan setelah memperhatan baik-baik, kurasa seharusnya aku tetap menyadarinya. You're literally glowing. Of course you're pregnant."

Baekhyun menggeleng tidak percaya dengan dirinya sendiri seraya duduk di sisi kosong sofa untuk kembali meminum birnnya.

"Bagaimana denganmu, Baek? Apa kau sudah mengeceknya? Memastikan kau carrier atau bukan?"

Lelaki yang ditanya menggeleng. Meletakkan dagunya ke sandaran sofa dengan tatapan menerawang ke luar jendela.

"Aku tidak benar-benar peduli pada hal tersebut, jadi aku belum melakukan tes pengecekan apapun hingga saat ini. Sebenarnya aku sudah merencanakan untuk melakukan tesnya, berhubung aku sempat memiliki sebuah hubungan yang cukup serius dengan seseorang. Namun dengan kondisi hubungan kami sekarang, aku sudah tidak peduli lagi apakah aku seorang carrier atau bukan."

"Well, siapapun orang yang tengah kau bicarakan, ia pastilah seorang brengsek." Tanya Kyungsoo kesal, berusaha menaikkan mood Baekhyun yang nampak jelas menurun drastis.

Baekhyun tersenyum miris. "Yang paling parah di antara yang terparah."

"Well, I'm glad you left him then." Kyungsoo tersenyum, memberi semangat dengan menepuk bahu Baekhyun pelan. "Paling tidak kau sudah punya Chanyeol sekarang."

"W-what?!" Baekhyun seketika menyemburkan bir dimulutnya, dan terbatuk tanpa henti.

"Oh my God, oh my God, I'm sorry." Kyungsoo segera meraih tisu dan membantu mengelap bajunya yang basah.

"It's okay. It's okay." Baekhyun berusaha melakukannya sendiri.

Baru setelah ia mengeringkan kekacauan yang ia buat, ia mengambil nafas, dan mulai menjelaskan.

"Aku dan Chanyeol bukan seperti yang kau kira, Kyungsoo. Kami hanya rekan kerja biasa. Tidak lebih, dan tidak kurang."

"Oh." Kyungsoo seakan baru tersadar. Memandang Baekhyun dengan mata lebarnya yang di atas rata-rata. "Aku kira kalian memiliki hubungan yang lebih. Bukan berarti suatu hubungan seperti - um, kau tahu - tapi paling tidak, sesuatu yang lebih dari rekan kerja."

"Well," Baekhyun menarik nafas dalam dan mengalihkan pandangannya dengan senyuman dingin. "Nope."

"But he's such a nice man, don't you think?" Tanya Kyungsoo, membuat Baekhyun dengan cepat mengikuti arah pandang lelaki tersebut ke luar jendela. Ke arah Chanyeol yang kini sibuk memotong kayu dengan Jongin secara bergiliran, tertawa satu sama lain selayaknya teman yang telah lama saling mengenal.

"Ya, ia cukup bisa diandalkan. Dan ia orang yang sangat mudah bersosialisasi. Ia tipe seseorang yang selalu merasa senang ketika ada banyak orang di sekitarnya." Ujar Baekhyun dengan tatapan menerawang.

Kyungsoo mengangguk mengerti.

"Bagaimana denganmu, Baek? Orang tipe seperti apa dirimu?"

"The boring one." Baekhyun tertawa pelan. "Aku sangat canggung dalam bersosialisasi, dan lebih banyak menikmati waktuku sendirian dibanding tempat ramai. Aku orang yang sangat penyendiri."

"Really? Jadi bisa dibilang, kau dan Chanyol sangat berbeda satu sama lain."

"Ya, begitulah." Tanggapan Baekhyun terdengar lebih sedih dari yang ia rencanakan. Karena pada dasarnya itu juga adalah hal yang Baekhyun pikirkan selama ini. Betapa berbedanya dirinya dengan Chanyeol.

"Namun aku rasa kalian cocok satu sama lain." Celetuk Kyungsoo, membuat Baekhyun menolehkan kepalanya dengan cepat. Terlalu cepat, hingga ia yakin dirinya mendengar suara bergemeretak dari lehernya.

"A-apa?"

Kyungsoo mengangkat bahunya, memberi senyuman berbentuk hati yang nampak tulus.

"Kalian memiliki karakter yang sangat berbeda satu sama lain, namun di sisi lain aku melihat kalian bisa saling melengkapi. Ia memiliki semangat yang berapi-api, dan kau nampak bisa menenangkannya. Kau sedikit kaku dan penakut, namun ia bisa membangkitkan kepercayaan dirimu. Mungkin dia nampak senang di antara keramaian orang, namun percayalah, ia nampak paling bahagia ketika ia bersamamu. Ia banyak memperhatikanmu dalam diam, kau tahu."

Sungguh? Baekhyun tidak menyadari semua itu. Namun jika ia ingat ia memang banyak bergantung pada Chanyeol akhir-akhir ini. Dan Chanyeol... Ia memperhatikan hal-hal kecil yang Baekhyun butuhkan. Ia mengetahui bagaimana ia membutuhkan topi untuk melindungi telinganya yang kedinginan. Ia mengingat makanan apa yang bisa dan tidak bisa Baekhyun makan; menyingkirkan asinan ketimun jauh-jauh dari Baekhyun ketika mereka makan di luar. Serta hal-hal kecil seperti melambatkan langkahnya agar langkah pendek Baekhyun tidak jauh tertinggal darinya, dan mengulurkan tangan setiap kali kaki ceroboh Baekhyun nyaris terpeleset di jalanan licin yang beku. Dan mungkin, masih banyak lagi.

"Kami memiliki sedikit perselisihan semalam." Ujar Baekhyun tanpa pikir panjang. Seketika teringat dengan apa yang tengah terjadi di antara dirinya dan Chanyeol.

Entah mengapa ia tiba-tiba ingin menyampaikan kegelisahannya ini. Dan juga, entah mengapa ia merasa Kyungsoo adalah orang yang tepat untuk mendengarkannya saat ini.

"Sungguh?" Tanya Kyungsoo lembut tanpa menunjukkan kekagetan yang berlebih sama sekali.

"Ya, bukan sesuatu yang besar. Namun hal seperti ini jarang terjadi. Kami terbiasa berselisih; saling berteriak dan mencaci maki satu sama lain. Namun tidak pernah hal seperti ini terjadi. Biasanya perselisihan di antara kami akan berakhir begitu saja setelah beberapa waktu, sedangkan kejadian semalam seperti menyisakan angin dingin di antara kami bahkan hingga hari ini."

Kyungsoo menyadari ekspresi muram dan kesal di wajah Baekhyun ketika menyampaikan ceritanya, jadi ia memberikan tepukan pelan di pundak, berusaha menenangkannya.

"Well, mungkin yang kalian butuhkan hanya mencoba berbicara dengan satu sama lain." Ujar Kyungsoo hati-hati. "Kau tahu, saling mengerti dan memahami sudut pandang satu sama lain sangatlah penting dalam merawat sebuah hubungan. Bukan hanya hubungan percintaan, namun juga dalam pertemanan dan keluarga."

"Entahlah. Aku rasa kami hanya akan berakhir berteriak pada satu sama lain pada akhirnya." Jawab Baekhyun dengan cebikan bibir kesal, mengarahkan death glare ke arah Chanyeol di luar jendela seakan hal tersebut akan dapat menyakitinya.

Kyungsoo tertawa. "Tidak ada salahnya dicoba. Semuanya tidak akan berakhir jika kalian sama-sama mempertahankan ego kalian. Saling mendengarkan. Kurasa hanya itu satu-satunya cara. Oh, daging panggangnya sudah siap. Bisa tolong panggilkan yang lain untuk segera bersiap makan?" Tanya Kyungsoo tanpa menoleh, dan Baekhyun tak memiliki pilihan lain kecuali menuruti perintahnya.

"Sure."

Ketika Baekhyun tiba di halaman belakang, ia hanya menemukan Chanyeol di sana tanpa ada tanda-tanda keberadaan Jongin. Baekhyun sesaat memanfaatkan waktunya mengamati Chanyeol yang sibuk, nampak tidak menyadari kehadiran Baekhyun di belakangnya.

Sungguh, jika dipikir-pikir, dewi Fortuna agaknya sangat menyayangi pria tinggi itu. Bagaimana tidak. Ia terlahir dari keluarga yang berada, memiliki karir yang bagus, kemampuan bersosial yang hebat dan - Baekhyun tidak mau mengakui yang satu ini - memiliki tubuh dan paras yang menawan.

Sedangkan, berbanding terbalik dengan Chanyeol, Baekhyun cenderung memiliki tubuh yang terlampau ramping dan penuh baby fat di sana-sini. Terlebih di bagian sisi perut, paha, dan belakang tubuhnya. Joohyun, asisten Baekhyun di tempat kerja, berkata bahwa itu semua adalah bagian dari daya tariknya. Namun bagi Baekhyun yang tidak memiliki banyak kepercayaan diri, ia tidak yakin ucapan itu cukup benar.

"Hey." Panggil Baekhyun hati-hati, takut suaranya akan mengagetkan Chanyeol. "Kyungsoo menyuruhku memberitahu bahwa makan siang sudah siap. Kau diminta segera masuk."

"Hm." Jawab Chanyeol singkat tanpa menoleh. Melemparkan kayu-kayu yang baru saja dipotongnya ke atas tumpukan dan berjalan melewati Baekhyun tanpa menoleh sedikitpun.

Wow. Itu tadi menyakitkan.

Baekhyun percaya dengan saran Kyungsoo bahwa cara satu-satunya menyelesaikan ini semua adalah dengan berbicara dan saling mendengarkan.

Namun ia juga tahu itu semua tidak akan mudah dilakukan.

.

.

.

Chanyeol mengabarkan selama makan siang bahwa petugas asuransi akan datang untuk mengecek kerusakan pada mobilnya siang ini. Jadi kemungkinan besar, mereka akan bisa pulang sore hari ketika semuanya selesai diperbaiki.

Dan selama makan siang pula lah Baekhyun menimbang-nimbang kapan ia harus mengajak bicara Chanyeol untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Hingga ketika mereka kembali ke rumah danau, Baekhyun pun memutuskan untuk menyudutkannya untuk mengajaknya bicara.

"Hey, Park. Kurasa kita perlu bicara."

Chanyeol menoleh sekilas pada Baekhyun, namun tak lama kemudian mengabaikannya kembali, nampak sengaja menyibukkan diri mencari kunci mobil di ranselnya.

"Not now. Petugas asuransi sudah ada di perjalanan jadi aku harus segera memeriksa kondisi mobil yang sudah lama tidak aku cek."

Baekhyun menarik nafas seraya memejamkan mata untuk mengumpulkan kesabaran dalam dirinya. Sudah ia bilang sebelumnya. Ia tahu ini semua tidak akan mudah.

"Hanya sebentar, Park. Ini tidak akan memakan waktu hingga berjam-jam."

Di luar dugaan, Chanyeol kemudian mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun. Berbalik untuk menghadap lelaki mungil itu dan memasang wajah menunggu.

"Oke. Katakan apa yang ingin kau bicarakan."

Baekhyun menarik nafas sebelum akhirnya ia mulai berbicara. "Baiklah. Yang pertama, aku minta maaf. Maaf karena sudah berpikir dan mengatakan hal yang tidak benar tentang dirimu. Aku tidak tahu dan aku menyesal oleh semua itu." Ujar Baekhyun memandang ke segala arah kecuali pada pria di hadapannya.

Chanyeol memandangnya, dan kemudian menghela nafas.

"Oke. Aku memaafkanmu."

"Well, dan yang kedua." Baekhyun menahan Chanyeol sebelum pria itu kembali mengabaikannya. "Bisakah kau berhenti marah padaku? Maksudku, aku tahu aku telah salah bicara tentang dirimu. Namun kau hanya perlu menjelaskannya alih-alih marah padaku."

"Well, aku tidak marah. Aku kecewa. Marah dan kecewa adalah dua hal yang berbeda." Chanyeol melipat lengannya di dada, menyandarkan tubuhnya di sisi meja dan menatap Baekhyun seakan ia tak mau kalah.

"No, you're not, Park. Kau jelas-jelas marah. Dan jika memang benar, mengapa kau harus kecewa? Kau tidak perlu kecewa hanya karena aku memiliki opini tertentu terhadapmu."

Chanyeol menggeleng, nampak mulai kembali kesal. "Hentikan, Byun."

"Why? Kau boleh memiliki opini tentangku, Park. Apapun itu. Lalu mengapa aku tidak boleh beropini tentangmu? Apakah semua ini bahkan sepenting itu bagimu?"

Itu adalah rasa kesal yang berbicara dari mulut Baekhyun saat itu. Ia kesal karena tidak tahu jalan pikiran yang dimiliki Chanyeol. Ia kesal karena Chanyeol mengabaikannya.

Dan ia kesal karena ia merasa tak mengerti dengan semua yang ia rasakan saat itu.

"Ya. Itu penting untukku."

"Kenapa?" Baekhyun memandangnya tajam.

Chanyeol mengedikkan bahu, menghela nafas kesal. "Tidakkah semuanya kurang jelas? Karena aku menyukaimu, bodoh."

W-what?!

Sebuah ombak besar seakan melahap Baekhyun tanpa peringatan. Membuatnya merasa kaget, sekaligus terombang-ambing tak mengerti dengan apa yang terjadi. Baekhyun jelas-jelas tidak menduga jawaban semacam itu.

"A-apa?"

"Kau mendengarnya, Byun. Aku menyukaimu, dan karena itulah pandanganmu terhadapku adalah segalanya bagiku. Apa kini kau masih mau bilang bahwa aku tidak memiliki hak kecewa ketika orang yang aku sukai menganggap diriku serendah itu?" Tanya Chanyeol, menyunggingkan senyuman arogan di sudut bibirnya.

"Kau tidak menyukaiku, Park." Bantah Baekhyun tegas, menghentakkan satu kakinya seperti anak kecil yang marah.

Chanyeol tertawa pahit. "Kau pikir kau siapa bisa menentukan perasaanku pada seseorang. Kau bahkan tidak bisa mengartikan perasaanmu sendiri selama ini."

"Apa maksudmu?"

"Kau selalu mengelak dengan perasaanmu sendiri, Byun. Tidak dulu, ataupun sekarang." Ujar Chanyeol dingin, memandang Baekhyun tepat pada matanya.

"Akui saja, kau sudah menyadari bahwa hubunganmu dengan Hwang Hojun telah berakhir sejak lama, namun kau lebih memilih untuk berpegang pada rasa takutmu. Kau bersikukuh bahwa hubungan kalian belum berakhir, bahwa kalian masih saling mencintai, bahwa kalian masih punya harapan, ketika sebenarnya kau telah sadar bahwa semuanya tak mungkin lagi untuk diperbaiki. Kau lebih memilih berdiam diri di rumahmu, meyakinkan diri bahwa kau baik-baik saja. Kau pengecut, Byun. Akui saja itu."

Baekhyun menggigit bibir bawahnya keras. Menahan rasa sakit oleh perkataan yang Chanyeol lontarkan.

"Fuck you. Kau mengatakan bahwa aku tidak punya hak untuk mengatakan bahwa kau tidak benar-benar menyukaiku! Kau berkata bahwa aku tidak seharusnya memiliki opini yang salah tentangmu! Namun lihat apa yang kau katakan tentang diriku!"

"Apa yang aku katakan tidak benar? Apa ada pernyataanku yang tidak sesuai dengan kenyataan? Berhenti mengelak, dan akui saja-

Baekhyun menampar wajah Chanyeol. Keras. Cukup untuk membuat keduanya keget dan bungkam seketika.

Baekhyun tidak bisa menahannya lagi.

Telinganya berdenging oleh amarah. Dan suara keras tamparan telapak tangannya ke pipi Chanyeol masih bergaung di kepalanya.

Perasaannya terluka. Tapi bukan perkataan Chanyeol yang menyakitinya; namun fakta bahwa semua yang pria itu ucapkan benar adanya. Tepat mengenai hati kecilnya yang bersembunyi dan tidak ingin didiketahui keberadaannya.

Baekhyun merasa marah, takut, dan malu.

Ia merasa dirinya ditelanjangi.

Dan orang yang berhasil melakukan itu semua adalah Park Chanyeol.

.

.

.

"Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Kyungsoo pada Baekhyun ketika dirinya dan Chanyeol mengunjungi kediaman mereka sore itu untuk berpamitan.

Bahkan hanya dengan melihat ekspresi di wajah Baekhyun serta atmosfer dingin di antara keduanya sudah cukup untuk membuat Kyungsoo tahu ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.

Tatapan Baekhyun teralih pada Chanyeol di kejauhan yang tengah sibuk berbicara dengan Jongin. Lalu tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya dengan gelengan pelan seakan berkata pada Kyungsoo,

'It's over.'

Kyungsoo memandang Baekhyun dengan tatapan bingung sekaligus tidak mengerti. Namun melihat keadaan Baekhyun saat ini, ia jauh lebih tahu untuk tidak bertanya apapun. Memilih untuk diam dan memberikan tepukan pelan di bahunya

"Aku yakin semuanya akan membaik."

Baekhyun ingin percaya ucapan tersebut. Tapi semuanya terasa begitu mustahil. Ia telah menyia-nyiakan satu-satunya kesempatan berbicara yang mereka miliki.

Ia menghancurkan hubungan baik yang telah perlahan mereka bangun.

Pada dasarnya, semua perjalanan tak terduga ini terasa bagai sebuah mimpi bagi Baekhyun. Pada suatu waktu yang tak terduga, ia terjebak oleh badai salju dengan seorang Park Chanyeol. Kala itu, tak ada yang ia harapkan selain waktu untuk bisa berjalan lebih cepat. Namun ketika semuanya telah berakhir, ia tidak percaya dirinya berharap waktu berjalan lebih lambat, dan mungkin membeku untuk selamanya.

Langkah lelaki mungil itu terasa berat di antara gundukan jalanan setapak bersalju. Sepatu bootsnya yang tidak cukup tebal melesak ke dalam tumpukan serpih es dingin sepanjang jalan. Baekhyun bisa melihat Jongin dan Kyungsoo masih melambaikan tangan pada mereka dari teras kedai, dengan janji untuk datang kembali masih terngiang di kepalanya.

Ia ingin waktu berhenti saat itu.

Seiring langkah pelannya yang terseok di antara salju, ia semakin tersadar.

Ia tidak ingin mengakhiri semuanya dengan seperti ini.

Dengan sebuah luka lebar yang menganga di antara mereka berdua.

Perjalanan menuju mobil Chanyeol terasa lebih jauh dari yang Baekhyun ingat. Tumpukan salju menyulitkan langkahnya. Dan selama itu pula pandangannya tak bisa terlepas dari punggung lebar Chanyeol.

Ia ingin meraih punggung itu. Menariknya. Dan mungkin memohon sebuah pelukan.

Entah karena kakinya yang ceroboh atau salju yang terlampau tebal melilit kakinya, Baekhyun terjatuh. Memekik pelan sebelum tubuhnya mendarat di atas salju basah.

'Kumohon membekulah.'

Tangan Baehyun menggenggam di antara salju. Dan matanya berkabut oleh air mata yang seketika membendung di pelupuknya.

'Kumohon waktu membekulah.'

"Hey. Let's go."

Baekhyun melihat sepatu boots Chanyeol berdiri di hadapannya. Pria tinggi itu kembali untuk memastikan keadaannya.

"No." Suara Baekhyun terdengar bagai rintihan.

Ada sebuah jeda di antara mereka, dan Baekhyun menggigit bibirnya dalam, menahan isak yang hampir lolos dari bibirnya.

"Why?" Tanya Chanyeol. Menuntut. Memaksa sebuah jawaban.

'Karena aku tidak ingin semuanya berakhir.'

'Karena kau membuatku bingung.'

'Karena aku merasa semuanya tidak seharusnya selesai dengan seperti ini.'

'Karena… aku akan merindukan ini semua.'

Waktu berlalu. Namun tak satupun jawaban itu Baekhyun keluarkan dari mulutnya.

Hanya ketika Chanyeol telah menunggu dan merasa yakin Baekhyun tak akan memberikan jawaban dalam waktu dekat, ia pun melepas jaket parka-nya dan membungkus Baekhyun dengan pakaian tebal tersebut.

"Kemarilah. Kau akan mati kedinginan jika terus seperti ini." Ujar Chanyeol dengan nada yang tidak Baekhyun duga terdengar lembut. "Mari bicarakan ini dengan pelan-pelan setelah kita sampai di mobil.Oh God, your hands are freezing."

Baekhyun memandangnya. Membiarkan Chanyeol membantunya berdiri dari tumpukan salju dan membenarkan parka tebal ke tubuhnya yang terlampau mungil.

Tangan Chanyeol terulur, menggenggam tangan Baekhyun tanpa meminta persetujuan. Namun alih-alih menepisnya, Baekhyun membiarkan tangan lebar itu menggenggamnya erat sepanjang langkah mereka menuju mobil.

.

.

.

"It's my fault. And I'm sorry." Ujar Chanyeol ketika keduanya telah berada di dalam mobil.

Penghangat mobil menyala, dan melihat Baekhyun yang masih diam dengan sambil menggigil kedinginan, pria tinggi itu menaikkan suhunya.

"Maafkan aku karena telah membuatmu marah, Byun. Aku telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ku ucapkan."

"Apa kau serius dengan ucapanmu tadi sore?" Suara Baekhyun terdengar lirih, masih menolak menatap lawan bicaranya.

"Terkadang kita mengucapkan hal-hal yang tidak sungguh-sungguh kita pikirkan, Byun. Sesuatu yang tidak benar-benar kita maksudkan. Sama sepertihalnya ketika kau berkali-kali mengatakan bahwa kau akan membunuhku jika aku tidak menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan deadline. Apa kau mengatakannya karena sungguh-sungguh ingin melakukannya?"

"Mungkin." Baekhyun mengalihkan wajahnya ke luar jendela dengan wajah yang merileks, membuat Chanyeol sedikit tersenyum.

"Namun tetap saja, apa yang kau katakan itu sangatlah jahat, Park. Aku berhak marah denganmu." Keluh Baekhyun dengan nada muram.

"Aku benar. I fucked up. And I'm sorry."

"Lalu mengapa kau mengatakan itu semua? Jika kau memang kau tidak sungguh-sungguh berpikir begitu tentangku, lalu mengapa kau berbicara seperti itu?"

Untuk pertama kalinya sejak mereka berada di dalam mobil, Baekhyun memandang lawan bicaranya. Tatapan keduanya bertemu. Dan untuk pertama kalinya pula, Baekhyun melihat keraguan di wajah Chanyeol yang selama ini dipenuhi kepercayaan diri.

"Aku rasa aku merasa sedikit kesal padamu." Chanyeol kembali berujar setelah menghela nafas panjang. "Aku merasa kau telah menutup dirimu terlalu lama hingga menyiksa dirimu sendiri, dan itu membuatku kesal. Dan tanpa kusadari, aku telah mengatakannya dengan cara yang salah."

Baekhyun kembali teringat oleh ucapan Chanyeol tentang dirinya yang keras kepala, dan pengecut. Semua itu masih menyisakan rasa sakit, seberapapun ia mengakui hal itu benar adanya.

"Tapi kau tahu? Kau mengatakan hal yang benar, Park. Aku memang seorang pengecut."

"Hey, dengar." Ujar Chanyeol lembut, meraih jemari Baekhyun ke genggaman tangannya. "Kau bukan seorang pengecut, Byun. Jangan buat ucapan tak mendasarku mempengaruhi dirimu. Karena itu semua tidaklah benar."

Baekhyun mengangkat wajahnya pelan, dan Chanyeol memberikannya sebuah senyuman lembut.

"Kau berhak menunjukkan apa yang kau rasakan. Apa yang kau pikirkan. Rasa takutmu, keraguanmu; tak apa untuk menunjukkan itu semua, Byun. Karena itu semua nyata sebagai bagian dari dirimu. Memiliki semua sifat itu dalam dirimu tidak akan membuatmu menjadi seorang pengecut. Karena lihatlah apa yang telah kau lakukan, kau melakukan segalanya dengan baik meski dengan dirimu yang seperti itu.

Baekhyun mencebikkan bibir. Pandangannya seketika berkabut oleh matanya yang mulai berkaca-kaca.

"Maafkan aku karena telah menampar wajahmu." Lirih Baekhyun menyesal.

"Hey, it's okay. Aku berhak atas tamparan itu. Aku… telah mengatakan hal yang sangat jahat, ya kan?" Chanyeol terkekeh pelan, mengusap rambut Baekhyun lembut dengan secercah ekspresi menyesal di wajahnya.

'Bagaimana mungkin aku akan bisa tidak memikirkanmu ketika kau memberikan semua efek ini padaku?'

"Apakah aku pernah mengatakan padamu betapa kau memiliki wajah yang cantik?" Ujar Chanyeol seraya menghapus pelan sisa air mata di pipi Baekhyun.

Baekhyun termenung, bersandar pada sentuhan lembut itu.

"Aku tidak bercanda dengan ucapanku saat itu, kau tahu." Ujaran Chanyeol nyaris terdengar bagai gumaman. "Ketika kita pertama kali bertemu. Saat itu aku berkata bahwa kau nampak sangat cantik dan seksi hingga kemudian kau pun marah bahkan sebelum aku sempat memberikan sapaanku padamu. Aku sudah bertingkah kurang ajar, aku tahu itu. Namun kau juga harus tahu, aku sama sekali tidak berbohong saat itu."

"Seriously?" Tanya Baekhyun skeptis. Dahi berkerut dengan tatapan tidak yakin dan kesal yang dibuat-buat.

"Kenapa kau memandangku dengan wajah tak yakin seperti itu? Aku serius!" Ujar Chanyeol sambil tertawa.

"Aku selalu melihat kau menggoda orang-orang selain diriku di tempat kerja, Park. Bagaimana mungkin aku bisa percaya denganmu!"

Tawa Chanyeol semakin nyaring mendengarnya. "Tidakkah kau menyadari sesuatu, Byun? Aku menggoda orang lain hanya ketika kau sedang ada di dekatku. Aku sedang berusaha membuatmu cemburu. Namun kurasa itu hanya menurunkan levelku sendiri di matamu."

Baekhyun tersenyum. Ia menyukai suasana di antara mereka yang seperti ini. Keduanya tenggelam dalam diam. Hingga Baekhyun memutuskan untuk kembali memecah keheningan di antara mereka beberapa saat setelahnya.

"Apa kau benar-benar menyukaiku?"

Demi Tuhan, pertanyaan itu sungguh sangat memalukan. Namun Baekhyun terlanjur melontarkannya sebelum memberikan waktu bagi kepalanya untuk berpikir.

"Tentu saja." Jawab Chanyeol enteng. "Tapi aku berkata begitu bukan untuk memaksamu memberikan jawaban. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyukaimu, Byun Baekhyun. Hanya itu. Dan sejujurnya, aku merasa jauh lebih tenang setelah mengatakan ini semua kepadamu."

Nafas Baekhyun tercekat. Sekali lagi, terjangan ombak itu kembali menyapu dirinya. Namun kali ini, alih-alih merasa itu semua kan membunuhnya, Baekhyun justru merasakan ketenangan.

"Maaf telah mengacaukan pikiranmu dengan pengakuanku yang tiba-tiba. Aku sungguh tidak merencanakan semuanya terjadi seperti ini. Dan apapun yang ingin kau katakan padaku, aku harap kau tidak mengatakannya sekarang. Pikiran kita tengah kacau saat ini, dan besar kemungkinannya bagi kita menyesali apa yang akan kita ucapkan."

Tangan Chanyeol terasa hangat di jari Baekhyun yang dingin. Dan tak ada yang lebih diayukuri oleh Baekhyun lebih dari itu semua.

Baekhyun sendiri bisa mengerti dengan apa yang Chanyeol coba katakan. Ia menyampaikan perasaannya ketika Baekhyun dalam keadaan yang tidak stabil setelah baru saja berpisah dengan mantan kekasihnya. Dan jelas itu bukanlah sesuatu yang cukup bijak untuk dilakukan.

Namun begitu, jauh di dalam dirinya, Baekhyun juga merasa yakin bahwa apa yang ia rasakan pada Chanyeol bukan disebabkan oleh rasa bingung pada dirinya.

"Hey, you okay?" Suara Chanyeol membuyarkan rentetan pikiran Baekhyun.

Lelaki yang lebih kecil mengangguk, dan Chanyeol tersenyum seraya mengusap rambut Baekhyun pelan.

"So," Chanyeol menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, mencari posisi nyaman untuk memegang setir. "Aku rasa ini akhir untuk saat ini? It's been a nice journey with you, Byun. Thank you."

"No, Park. Thank you." Baekhyun berusaha tersenyum, dan Chanyeol bisa menangkap keraguan itu.

"Hey, kau tidak perlu memikirkan apapun, Byun. Anggap semuanya tidak pernah terjadi dan mari lakukan semuanya kembali seperti biasa."

Baekhyun mengangguk. Dan ia merasakan sakit ketika genggaman tangan Chanyeol perlahan melepaskannya.

.

.

.

New message to: KJD

You: It's not even a break up. But why the pain is more than that...

.

.

.

Udara dingin menyapa tubuh Baekhyun tepat ketika ia melangkah keluar dari mobil Chanyeol. Si pemilik mobil membuka bagasi, menyerahkan tas Baekhyun dengan senyuman tipis yang berkesan dipaksakan.

"Thank you." Lirih Baekhyun. Dalam hati mempertanyakan apakah itu adalah ucapan terimakasih untuk ransel yang Chanyeol ulurkan atau sesuatu yang lain.

"No problem." Ujar Chanyeol dengan senyuman ramah.

Apakah senyumannya memang selalu semempesona ini?

"So. Goodnight, Byun."

Baekhyun memandang pria di hadapannya, berharap menemukan tanda-tanda bahwa ia akan mengatakan sesuatu yang lain. Namun ia tidak menemukannya.

"Goodnight, Park."

Chanyeol kembali ke dalam mobilnya. Mengangkat satu tangannya untuk memberi lambaian sekilas yang dijawab dengan anggukan oleh Baekhyun. Untuk sesaat, Baekhyun mengira Chanyeol akan mengucapkan sesuatu. Namun pada akhirnya tidak ada ucapan apapun di antara mereka.

Mobil melaju menjauh dan Baekhyun masih berdiri di depan bangunan apartment nya. Bayangan berbaring di kasur dan selimut hangat apartmennya seketika tak lagi menjadi hal yang menggoda di benak Baekhyun.

It's so cold.

Sejak kapan musim dingin terasa sedingin ini?

Baekhyun berdiri di depan pintu kamar apartment nya dan menekan kode yang diingatnya di luar kepala. Hanya ketika ia perlu meraih gagang pintu untuk membukanya, ia seketika terdiam.

Rasa sepi, dan menyesal menerjangnya bagai hembusan angin cepat.

Ia merasa dirinya telah kehilangan sebuah kesempatan besar yang hanya ia miliki sekali seumur hidup.

Ia merasa Chanyeol adalah kesempatan satu-satunya yang ia miliki untuk bisa dicintai seseorang. Dan mungkin, adalah kesempatan satu-satunya pula untuk bisa mencintai seseorang.

Lalu mengapa ia mengabaikan kesempatan itu?

Mungkin karena Chanyeol benar.

Ia pengecut yang selalu mengelak dari perasaannya. Pengecut yang mengedepankan egonya untuk bisa nampak kuat.

Atau mungkin, ia terlalu takut.

Ia takut mengatakan perasaannya, hanya untuk tersakiti pada akhirnya.

Baekhyun membiarkan dirinya menangis di depan pintu, merasa tersesat dan kesal dengan dirinya sendiri. Namun tiba-tiba pintu apartemennya terbuka dari dalam dengan ayunan cepat. Baekhyun terlonjak kaget. Tapi seketika rasa lega menyapu dirinya kala melihat sosok ibunya lah yang membuka pintu.

"Kenapa tidak masuk? Eomma mendengarmu menekan lock pintu dan bertanya-tanya apa yang membuatmu lama sekali di sini-Oh astaga. Baekhyunnie, mengapa kau menangis, sayang?"

Dan entah oleh rasa rindu atau frustrasi, air mata yang sempat mengering seketika membanjiri mata Baekhyun kembali. Dengan isakan, ia berhambur ke pelukan ibunya yang hanya bisa merengkuhnya dengan bingung.

"Hey, it's okay, sweetheart. It's okay… apa kau sudah makan? Kau lapar? Eomma malas memasak, jadi mari kita pesan pizza. " Ujar ibunya santai. Benar-benar tipikal seorang Byun Songyeon.

Membutuhkan satu box pizza berukuran besar (half pepperoni cheese and half Hawaiian) dan satu bucket es krim strawberry untuk membuat Baekhyun cukup tenang malam itu. Mata sembab dan memerah, namun perut kenyang yang cukup untuk membuat ia berhenti menangis.

Televisi menyala di hadapan mereka, menayangkan siaran ulang drama akhir pekan. Nyonya Byun meraih remote untuk mengecilkan volumenya, lalu emposisikan tubuhnya untuk memusatkan perhatian pada putra lelaki satu-satunya.

"So, what happened, huh?" Ujarnya pelan, tangan terulur untuk mengusap sisi rambut Baekhyun.

Baekhyun tidak suka ketika ibunya memperlakukan dirinya seperti anak kecil, dan mereka berdua sadar akan fakta tersebut. Namun ada kalanya mereka tahu bahwa terkadang, tak apa untuk menjadi kecil kembali di depan seorang ibu, terlebih ketika dirimu merasa sedang sedih dan kecewa seperti saat ini.

"Aku tidak menyangka eomma masih di sini ketika aku kembali. Apa eomma tidak menghubungi samcheon untuk menjemput?" Tanya Baekhyun, alih-alih menjawab pertanyaan ibunya.

"Ia menawarkan untuk menjemput ketika aku mengabarkan bahwa kau sedang tidak di rumah. Tapi cuacanya buruk sekali jadi aku memintanya menjemputku lain hari. Lagipula aku ingin bertemu putraku setelah sekian lama ia tidak memberi kabar karena sibuk. Dan kurasa insting eomma untuk tetap tinggal cukup benar, bukankah begitu?" Ada nada menggoda di suara nyonya Byun ketika ia mengatakan itu, namun ketika Baekhyun mengangkat wajahnya, ia menemukan ibunya tersenyum lembut padanya. Senyum seorang ibu.

"Samcheon pasti menderita dan kelaparan saat ini." Komentar Baekhyun.

"It's okay. Bertahan hidup beberapa hari dengan stok ramyun tidak akan bisa membuatnya mati." Jawaban ibunya membuat keduanya tertawa.

Samcheon, atau 'paman', tidaklah benar-benar seorang paman yang sebenarnya untuk Baekhyun. Sudah sekitar empat tahun sejak pria paruh baya bernama Lee Dongjun tersebut menikah dengan ibunya. Jadi bisa dibilang posisinya adalah seorang 'ayah' baru bagi Baekhyun. Namun meski waktu berlalu, ia masih belum bisa memanggilnya dengan sebutan tersebut.

Baekhyun tumbuh dewasa tanpa sosok seorang ayah, jadi tak ada siapapun yang bisa memaksa dirinya memanggil seorang pria sebagai seorang ayah hanya karena ia menikahi ibunya. Ia adalah suami ibunya, namun itu tidak menjadikan ia ayah untuknya.

Lee Dongjun adalah seorang pria paruh baya yang penuh perhatian pada ibunya. Ia adalah seorang pria yang baik. Baekhyun bisa melihatnya dari kebahagiaan yang terpancar di mata ibunya setiap kali mereka bersama. Namun terkadang, Baekhyun hanya tidak mengerti pada beberapa hal.

"Eomma, bagaimana eomma tahu bahwa Lee samcheon adalah seseorang yang tepat?" Tanya Baekhyun, meletakkan bucket es krimnya dan menyandarkan kepalanya ke bahu sang ibu.

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu, hm? Kau biasanya tidak pernah tertarik dengan hubungan percintaan ibumu ini." Ujar nyonya Byun dengan senyuman yang ia wariskan pada putranya.

"Entahlah. Aku hanya… tidak pernah mengerti. Setelah apa yang 'pria itu' lakukan pada eomma, mengapa eomma masih memiliki keberanian untuk mencintai orang lain?"

'Pria itu', adalah ayah biologis Baekhyun. Suami pertama dari Byun Songyeon. Seorang pria yang menelantarkan istri dan anaknya untuk menikah dengan wanita lain dan membentuk sebuah keluarga baru.

"Maafkan aku, eomma. Tapi bukankah itu adalah sesuatu hal yang bodoh? Memberi kesempatan pada diri sendiri dilukai untuk yang kedua kalinya?"

Baekhyun menduga ibunya akan marah. Atau paling tidak kesal dengan pertanyaan lancangnya. Jadi ia sama sekali tidak mengira kala tangan ibunya meraih jemarinya lembut, dan mengusapnya pelan.

"Jatuh cinta bukan berarti kau mengakui dirimu lemah, Baekhyunnie. Jatuh cinta bukan berarti merelakan diri kita disakiti. Jatuh cinta adalah memberikan sebuah kebebasan dan kesempatan untuk hati kita untuk bisa bahagia."

Baekhyun terdiam. Berusaha memproses ucapan sang ibu, hingga tiba-tiba beliau kembali berbicara.

"Maafkan eomma."

Baekhyun terhenyak. "Mengapa eomma meminta maaf?"

"Karena apa yang eomma alami telah mempengaruhi pandanganmu tentang cinta." Ibunya tersenyum sedih. "Jangan sampai masa lalu membuat dirimu menganggap cinta adalah sesuatu yang menakutkan, nak. Kau bertanya bagaimana aku tahu Dongjun adalah orang tepat untukku, bukan? Jawabannya adalah, eomma tidak benar-benar tahu apakah ia orang yang tepat. Yang eomma tahu hanyalah eomma bahagia ketika kami bersama dan eomma melihat kesempatan untuk bahagia pada dirinya. Dan selama kita masih bisa meraih kesempatan itu, maka apa yang harus kita lakukan adalah mengejarnya. Sesederhana itu."

"Kalau begitu… kemungkinan besar aku telah menyia-nyiakan kesempatanku…" Lirih Baekhyun ketika ibunya telah selesai berbicara.

Ibunya memandang Baekhyun tak mengerti. Hingga pada akhirnya ia menceritakan segalanya. Tentang Chanyeol, tentang kerjasama project perusahaan, tentang dirinya yang sangat memperhatikan Baekhyun, badai salju, pernyataan cinta, dan maaf serta perpisahan yang mereka lalui. Baekhyun ingin menangis untuk yang kesekian kalinya malam itu, namun ia menahannya untuk bisa menyelesaikan cerita panjangnya.

"It's not fair…" Keluh Baekhyun, membiarkan kepalanya berbaring di pangkuan ibunya, sementara jemari wanita paruh baya itu membelai rambutnya pelan.

"Tidak, sayang. Ini adalah yang paling adil untuk kalian berdua…"

"Bagaimana eomma bisa berkata begitu? Ia pergi tanpa memberi kesempatan padaku untuk menyampaikan pendapat! Ia tidak membiarkanku mengatakan pendapatku tentangnya! Tidakkah ia ingin tahu bagaimana perasaanku padanya?! Apakah aku menyukainya atau tidak?!"

"Well, karena jika kau mengatakannya, itu tidak akan adil untuknya, putraku. Ia benar. Kau tengah ada dalam kondisi yang kacau. Ia sudah seharusnya meminta maaf karena mengatakan perasaannya dalam kondisimu yang tengah bingung. Dan ia juga benar dengan mengatakan bahwa ia tak ingin mendengar tanggapan apapun darimu. Paling tidak saat ini, ketika emosimu tengah kacau. Mungkin bisa saja kau akan mengatakan apa yang memang kau rasakan. Namun besar kemungkinannya emosimu yang akan bicara di saat seperti ini. Biarkan hati dan pikiranmu beristirahat, nak." Jawab ibunya tenang, seketika membuat Baekhyun merasa bersalah telah membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi.

"Aku menyukainya, eomma. Sangat." Lirih Baekhyun setelah beberapa detik berlalu. Matanya basah dan ia menyekanya sebelum air matanya kembali tumpah.

"I know. Namun katakan itu ketika kau telah benar-benar meyakininya. Untuk sekarang, beristirahatlah. Kau harus bekerja esok pagi, bukan? Ibu akan menginap dan memasakkan sarapan untukmu besok pagi."

Baekhyun ingin mengatakan banyak hal yang memenuhi pikirannya saat itu. Namun pada akhirnya ia hanya mengangguk mengiyakan, menemukan dirinya tak memiliki cukup tenaga untuk memberi bantahan apapun.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Author's note:

Boring gak chap ini? D:

Sorry for the late update, dan terimakasih banyak buat kalian yg sudah menyempatkan diri buat ninggalin komentar, kritik dan saran di kolom review. Itu semua sangat membantu aku buat memperbaiki tulisan-tulisanku ke depannya.

By the way, sebentar lagi fic ini tamat hehe. See you on the next update!

xo,

mashedpootato

P.s. let's be friend on twitter ( bobohu1004) and instagram ( mashedpootato11)!