~Author numpang nampang~
Ohisashiburi desu~ Saya balik lagi membawa chapter 4 untuk kalian hohoho~ sekedar info aja tinggal 2 chapter lagi fic ini akan tamat.. hiks hiks.. jadi sedih nih.. :( tapi tenang aja walaupun mau habis, bakal ada kejutan di chapter ini dan berikutnya.. nyan~ jadi baca terus sampe habis yah.. buat penjelasan sebenernya last chapternya itu di chapter 5.. chapter 6 nya itu cuma berisi omake doank.. eits.. tapi ini bukan sembarang omake lho.. nyesel ntar klu ga baca.. makasih buat review-review nya jujur, di fic ini emang banyak typo nya.. soalnya saya ini orangnya sangat tidak teliti.. jadi maafkan hamba.. (_ _) oke! Let's go to the story! XD
#######################################################################################################################
Warning: pairing HiruMamo, AkaMamo, SenaSuzu, HiruOC, AkaOC! gaya bahasa yang gila kayak authornya, yang jelas typonya juga ada...
Disclaimer: maunya sih Eyeshield 21 itu punya saya... gimana klu Inagaki Riichiro & Yuusuke Murata tukeran ama saya? Eyeshield 21 jadi punya saya, ntar gantinya saya kasih sandal cantik made in Indonesia lho.. sandal merk S***l*w –ditabok pake meja- oke.. Eyeshield 21 punya Inagaki Riichiro & Yuusuke Murata, jagan lupa OC nya itu punya saya loh.. punya saya.. soalnya Author kan anak baik.~ *dibacok sama Tobi gara-gara ikut-ikut dia*
Enjoy please~
*Oh Isabel~ Isabel~ Isabel~ Ritme~*
"Akaba-san, aku mencintaimu,"
"Aku juga mencintaimu, Anezaki-san,"
"Ha-hayato? Bukannya kau bilang bahwa kau mencintaiku?"
"Sakura? I-itu juga benar tapi..."
"Hayato kau pengkhianat!"
"Ternyata kau orang yang seperti itu Akaba-san, aku benci kau!"
"Tunggu dulu Sakura, Anezaki-san!"
"ARGGGHH! Hah... hah... hah..." wah wah wah... ternyata si Akaba Hayato sedang mengalami mimpi buruk rupanya... pantas pembukanya seperti itu. Akaba membuka matanya dan masih ngos-ngosan, maklum mimpinya geje gitu.. dasar dia itu penjahat! Musuh para wanita! Apa-apaan itu menyukai dua orang sekaligus! Belum pernah dilempar high heels sama author yah? *author ditabok pake jam weker sama Akaba*
"Mimpi yang aneh, pasti ini gara-gara aku bimbang memikirkan tentang perasaanku yang sebenarnya," gumam Akaba. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan melesat dengan cepat bersiap-siap berangkat sekolah.
Ditengah jalan ia bertemu dengan sosok seorang perempuan yang muncul dalam mimpinya yang kelihatan sedang kesusahan mencari sesuatu, dialah Sakura.
"Sakura?" Akaba menyapanya gadis itu.
"Ah, ohayou Hayato..." jawab Sakura lesu.
"Ada apa? Mencari sesuatu?"
"Iya, blezer mu... aku merasa sudah memasukkannya ke dalam tas. Apa jangan-jangan salah memasukkannya ke dalam tas You-kun ya?" Sakura mengobrak-abrik tasnya sampai buku-bukunya jatuh ke aspal jalan, untungnya jalan itu sepi jadi tidak banyak orang atau kendaraan yang lewat.
"Tidak apa-apa Sakura, kau bisa mengembalikannya nanti," ucap Akaba.
"Benar?" tanya Sakura tidak yakin.
"Tentu saja" Akaba tersenyum ke arah Sakura.
"Arigatou! Aku akan mengembalikannya secepat mungkin!" Sakura membalas senyuman Akaba dengan senyuman 24 karat alias senyuman super-duper lembutnya. Muka Akaba memerah, ia sadar akan hal itu dan memalingkan wajahnya.
Wajahmu memalingkan duniaku~~
terdengar lagu geje yang entah terdengar dari mana tiba-tiba muncul..
"Sama-sama, cepat pergilah ke sekolahmu nanti kau terlambat!"
"Yap! Aku duluan ya Hayato!"
"Hati-hati Sakura!" Akaba melambaikan tangannya ke arah Sakura.
~Skip time again, at Second Break Time~
Kepala Mamori terasa berat sekali, mungkin karena ada banyak hal yang ia pikirkan. Mulai dari kemunculan Sakura, perilaku Hiruma yang sedikit berubah sampai ajakan kencan Akaba, itu sudah cukup membuatnya menderita insomnia. Kantung matanya terlihat berlipat-lipat seperti L Lawliet (ngambil dari fanfic tetangga) *ketahuan deh kalo authornya nge fans ama L Lawliet XP*.
"Hei, manager sialan! Kau kenapa? Sakit? Bisa-bisanya kau sakit! Padahal sebentar lagi pertandingan persahabatan dengan Bando Spiders akan dilaksanakan!" Hiruma mengomel pada Mamori.
Belum sempat Mamori menjawab omelan Hiruma, perempuan bermata sapphire ini rubuh di depan Hiruma. Dengan cepat Hiruma langsung membawanya ke UKS, tampak diwajah lelaki itu ada sedikit kekhawatiran... siapa coba yang tidak khawatir melihat orang yang dicintainya tiba-tiba pingsan seperti itu?
Setelah beberapa menit, Mamori membuka matanya.
"Dimana ini?" tanyanya.
"Kau di UKS, manager sialan! Tiba-tiba kau pingsan, kata sensei kau kurang istirahat," jelas Hiruma.
"Arigatou Hiruma-kun.. sudah mau mengantarkanku ke UKS,"
"Hm, setelah ini pulanglah.. biar cengeng sialan yang menggantikanmu untuk sementara," perintah Hiruma.
"Ta-tapi..."
"Kalau kau sakit, aku yang repot tau! Barang-barangmu sudah dibereskan cengeng sialan.. Pulanglah."
"Baiklah kalau begitu," Mamori tersenyum pahit mendengar sang kapten memaksanya pulang.
Melihat Mamori yang seperti itu, Hiruma hanya mendengus kesal.
"Cih! Akan kuantar kau pulang!"
"Eh? Latihannya bagaimana?" Mamori kaget.
"Kan tadi sudah kubilang si cengeng sialan akan menggantikanmu mengawasi latihan mereka."
Mamori hanya menurut saja, sebenarnya ia senang sekali sang kapten mau mengantarnya pulang lagi, masih teringat jelas kejadian kemarin itu. Kehangatan tubuh Hiruma seperti masih membekas, begitu pula wangi tubuhnya. Hiruma berjalan berdampingan dengan Mamori mengantarkannya pulang.
~Pulang Sekolah~
"Ayo semangat!" teriak Suzuna dari pinggir lapangan.
"Hahhh... lelah sekali hari ini.. harus menyelesaikan pekerjaan dua orang sekaligus," Sakura mengomel kecil gara-gara Hiruma dan Manori pulang duluan dia harus menggantikan posisi mereka untuk mengawasi latihan para anggota Devil bats. Sakura ini adalah anggota tidak tetap Devil bats. Ia hanya bekerja jika memang ada posisi kosong.. sungguh merepotkan.
"Sabar Saku-nee, pasti kubantu kok!"
"Wah.. terima kasih Suzuna! Kau memang temanku yang paling baikk!" jerit Sakura sambil memeluk Suzuna.
"Wah wah.. Sena pacarmu dipeluk orang tuh," goda Monta.
"Apa-apaan sih kau Monta! Suzuna kan hanya dipeluk oleh Sakura-san! Dan apa maksudmu dia 'pacarku'?" Sena blushing sambil ngomel-ngomel ke Monta.
Yang diomeli malah menambah kecepatan larinya, Sena kesal dan mengejar Monta. Terjadilah aksi kejar-kejaran antara Sena dan Monta.. karena Sena berlari sangat cepat, Monta yang takut terkejar berusaha berlari lebih cepat dan tidak melihat bahwa di depannya ada kulit pisang, dengan kerennya Monta terpeleset kulit pisang itu dan terseret sejauh 2 meter dari TKP (?) dengan posisi muka yang terseret lebih dahulu menyebabkan wajahnya jadi penuh debu, kotor, luka, memerah, muncul air liur serta ingusnya (jorokk) dan berbentuk abstrak! Naas sekali.
Anggota lain cuma terpukau melihat aksi Monta tadi. Bukannya dibantu Monta malah ditepuk tangani, semua ingin Monta melakukan hal itu lagi. Dan terjadilah aksi kejar-kejaran antara anggota Devil Bats vs Monta yang berubah mode jadi King Kong. Sakura dan Suzuna sweatdrop di pinggir lapangan. Ternyata, jika sesekali tidak ada Hiruma dan Mamori pun lumayan juga.
Latihan sore selesai! Semuanya langsung berlarian ke ruang klub tak lupa mereka mengambil air mineral.
"Kurasa kalian tidak perlu memata-matai Mamo-chan, ia aman bersama You-kun," ucap Sakura pada Sena dan Suzuna.
"Tidak! Kami tetap harus memata-matai, setidaknya izinkan kami memata-matai Akaban!"
"Apa kalian benar-benar mau melakukan ini?"
"Tentu saja! Serahkan pada aku dan Sena!" Suzuna berlari sambil menyeret Sena untuk pergi memata-matai Akaba. Sakura hanya terdiam, ia merogoh-rogoh kantung roknya dan menemukan sebuah alat pelacak dan penyadap berbentuk wrist band berwarna merah dan ungu yang dimasukkan plastik.
'Apa aku harus melakukan ini?' tanya Sakura dalam hati.
Saat gadis ini pulang sekolah, ia bertemu dengan Akaba di jalan.
"Hayato!" Sakura berlari menghampiri Akaba.
"Ada apa Sakura?"
"Maaf.. aku masih belum bisa menemukan blezer mu.." wajah gadis itu terlihat murung.
"Sudah kubilang tidak apa-apa kan? Kau bisa mengembalikannya kapan saja,"
"Tapi aku merasa tidak enak hati padamu... aku sudah meminjam blezermu tapi tidak cepat-cepat mengembalikannya.."
"Hahhh..." Akaba menghela nafas sebentar dan memegang kepala Sakura, lalu berkata,
"Tenanglah.. aku tidak keberatan kok,"
"Hmm... ah! Bagaimana kalau kuberikan ini sebagai ganti blezer yang kupinjam!" Sakura mengeluarkan wrist band yang telah dipasangi alat pelacak dan penyadap tadi, kemudian memberikannya pada Akaba.
Akaba memperhatikan wrist band itu, ada gambar gitar disana dan motif jaring laba-laba. Sepertinya Akaba menyukainya, ia langsung mengenakan wrist band itu di lengan kanannya.
"Jangan dihilangkan ya! Pakailah terus dan jangan dilepas juga.." kata Sakura sambil tersenyum.
Akaba pun membalas senyuman Sakura, "Tentu saja, arigatou Sakura.."
"Sama-sama.. kau kelihatan pantas mengenakan itu!"
"Hahahaha... terima kasih pujiannya, ah! Saatnya aku pergi... aku ada janji dengan seseorang.." Akaba langsung berlari meninggalkan Sakura sendiri.
Sakura meraih ponselnya dan menghubungi Hiruma.
"Moshi-moshi, You-kun.. aku sudah memberikan wrist band itu pada Hayato,"
Terdengar suara dari seberang ponsel itu,
"Bagus sekali.. Sakura, selanjutnya serahkan padaku," jawab Hiruma.
Sakura termenung seorang diri sambil melihat wrist band yang ada di lengan Akaba itu. Ia tidak tahu apa perbuatan yang ia lakukan itu baik? Ia bingung sekali.. pandangan mata Sakura terasa kosong dan hanya menatap jalan yang dilewatinya itu tanpa tahu arah tujuannya.
Sakura berjalan tak tentu arah sejak pulang sekolah tadi hingga sekarang. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, sejak tadi pula ponselnya terus berbunyi tapi ia tidak mau mengangkatnya. Banyak hal yang dipikirkan Sakura, sampai akhirnya ia terhenti karena melihat sesuatu. Itu Mamori dan Akaba! Kenapa mereka disini? sepertinya mereka membicarakan sesuatu, Sakura mencoba lebih dekat lagi.
"Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu, aku sudah lama sekali ingin bertemu denganmu sejak hari itu," ucap Akaba
"Apa maksudmu?" tanya Mamori heran.
"Kau lupa? Dulu kau pernah bernyanyi di Taman Sakuramori saat masih kecil waktu itu kita sedang bermain! Tapi sebelum aku sempat menanyakan namamu, kau tiba-tiba pergi dan tidak pernah kembali lagi, kau adalah cinta pertamaku.." raut muka Akaba terlihat sedih.
"Mu-mungkin kau salah orang, Akaba-san!"
"Tidak! Aku yakin itu pasti kau!" Akaba memeluk Mamori erat.
+Sakura POV+
DHEG!
Dadaku terasa sakit, ada apa ini? Kakiku juga tak bisa digerakkan. Aku hanya bisa terdiam melihat Hayato memeluk Mamo-chan, tiba-tiba Hayato memegang dagu Mamo-chan dan mulai mendekatkan wajahnya seperti mau menciumnya, Tidak! Jangan lakukan itu! Ingin rasanya untuk menutup mataku tapi mataku tak mau tertutup, ingin mencoba lari tapi kakiku tak mau mengikuti perintahku. Apa yang harus kulakukan?
Tanpa terasa aku menjatuhkan tas yang sedang kupegang, sesuatu yang hangat mengalir dari dipipiku apa ini? Ah.. ini air mata, tapi kenapa aku menangis? Aku benar-benar tak mengerti. Hayato dan Mamo-chan tampak sangat terkejut melihatku,
"Sa-Sakura!" teriak Hayato.
Dalam sekejap aku mulai berlari menjauh dari mereka. Aku berlari tak tentu arah sambil terus mengeluarkan air mata, sekilas aku seperti melihat Hayato mengejarku. Kuharap ini hanya mimpi.. karena apa yang kulihat tadi benar-benar membuatku sedih.. saat hampir mendekati perempatan lampu merah, aku melihat sosok Hiruma tapi aku terus berlari dan...
+Hiruma POV+
Sial! Kenapa aku bisa melihat adegan seperti itu! Padahal tadi aku hanya berniat untuk mencari si cengeng sialan, mana sekarang si cengeng sialan itu lari lagi! Kalian semua pasti bertanya kenapa aku bisa tahu cengeng sialan ada disana? itu karena ada alat pelacak yang kutempel dijepitan rambut miliknya, dan saat kulihat lagi alat pelacak yang ada pada wrist band itu terlihat dan bukan cuma itu, alat pelacak yang kupasang digantungan ponsel milik manager sialan juga terlihat.. jadi aku mengeceknya untuk memastikan bahwa mereka bertiga ada di tempat yang sama. Tak kusangka akan melihat kejadian seperti itu. Tapi kenapa si mata merah sialan itu ikut mengejar Sakura? Cih! Aku tidak tahu yang jelas sekarang aku harus mengejar Sakura!
Si cengeng sialan itu mulai menyeberang jalan.. Tapi, tunggu dulu! Lampu untuk menyebrang menyala merah! Gawat sepertinya ia tak sadar kalau sekarang waktunya kendaraan untuk jalan, cih! Dari kejauhan aku melihat ada sebuah truk dengan kecepatan tinggi melesat ke arah cengeng sialan. Tidak ada waktu lagi, kumohon Tuhan sekali ini saja aku memohon padamu tolong berikan aku kecepatan agar bisa menyelamatkan Sakura, kumohon... apapun akan kuberikan asalkan Sakura bisa selamat aku tidak peduli. Aku terus berlari kearah Sakura lalu...
+Normal POV+
Sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi ke arah Sakura, ia hanya terdiam sepertinya tubuhnya kaku siap untuk menanti ajalnya.
"SAKURA!" jerit Akaba.
Tiba-tiba seseorang dengan tubuh dan lengan yang kekar menyambar tubuh Sakura yang ketakutan itu. Ternyata orang itu Hiruma! Ia memeluk tubuh Sakura dan menyeretnya ke pinggir jalan, sedangkan truk tadi oleng da menubruk lampu lalu lintas.
"Y-You-kun.." Sakura memperhatikan Hiruma yang memeluknya dengan erat.
"Kau tak apa Sakura? Syukurlah," Hiruma memeluk Sakura lagi dengan lebih erat, seperti takut akan kehilangan gadis berambut karamel itu.
"Se-sesak You-kun, aku tidak apa-apa.. bagaimana dengan You-kun?" Sakura berusaha melepaskan pelukan Hiruma.
"Aku tidak apa-ap–" tubuh Hiruma mulai lemas, Sakura yang panik langsung bangkit dan melihat darah segar menghiasi wajah sang kapten.
"You-kun... YOU-KUN!" Sakura menjerit histeris, tubuhnya lemas dan hanya bisa memegangi tangan Hiruma yang lemas itu.
Terdengar sirene ambulance berbunyi dari kejauhan, segera melesat ke arah Hiruma yang sedang terkapar itu. Para petugas dari ambulance itu mengangkat Hiruma masuk ke ambulance sementara Sakura ikut masuk ke dalam. Melihat itu Akaba hanya bisa terdiam dan berusaha menopang Mamori yang tiba-tiba tertunduk lemas. Mereka berdua memutuskan untuk menyusul Hiruma ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit terdekat, Hiruma segera dibawa ke ruang ICU sedangkan Sakura diobati luka-lukanya. Untungnya Sakura hanya mengalami luka ringan sepertinya Hiruma sukses melindungi Sakura. Tapi Sakura hanya bisa menunduk dan berjalan ke depan ruang ICU, disana ia mulai menangis menumpahkan semua perasaannya saat itu. Beberapa menit kemudian, Akaba datang bersama Mamori. Mereka berdua hanya terdiam melihat Sakura yang terisak-isak menangis dengan hebatnya sampai matanya memerah.
"Se.. mu.. a ini.. hiks... salahku... hiks.. You-kun..." Sakura mengeraskan suara tangisannya.
Akaba terdiam karena kini ada dua orang perempuan yang menangisi Hiruma, dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Yang paling menyakitkan baginya adalah melihat tangisan Sakura, entah kenapa saat melihat Sakura menangis seperti melihat seseorang yang ada di masa lalunya. Akaba membantu Mamori untuk duduk, lalu berjalan ke arah Sakura. Saat ia akan menyentuh pundak Sakura...
"JANGAN SENTUH AKU!" teriak Sakura.
Akaba mengurungkan niatnya untuk menyentuh Sakura, ia berjalan ke arah Mamori lagi dan duduk di sebelahnya berusaha menenangkan Mamori. Tiba-tiba anggota devil bats datang dan berkumpul disana menanyakan kondisi Hiruma. Akaba menjawab berdasarkan apa yang ia tahu. Suzuna mendekati Mamori dan berusaha membuatnya diam, Kurita dan Musashi berjalan mendekati Sakura.. mereka tahu bahwa yang paling sedih diantara mereka semua adalah Sakura. Hanya Sakura yang mengetahui kesedihan dan kepahitan yang dialami Hiruma sampai saat ini begitu pula sebaliknya dengan Hiruma. Jadi meskipun yang sakit hanya Hiruma tapi Sakura juga bisa merasakan kesakitannya.
Pintu ruang ICU terbuka dan muncul seorang dokter dari dalam.
"Siapa disini keluarga dari Hiruma-san?" tanya dokter tadi.
"Kami semua ini adalah teman sekaligus keluarganya," jawab Musashi
"Baiklah kalau begitu, Hiruma-san tidak mengalami luka serius hanya gegar otak ringan saja.. tapi ia masih belum bisa dijenguk sekarang, mungkin besok." Jelas dokter tadi. Semua menghela nafas pertanda lega, Mamori juga sudah mulai berhenti menangis. Tapi Sakura masih terisak, ia takut kehilangan Hiruma itulah yang diketahui oleh Musashi.
"Dokter, tolong izinkan beberapa dari kami masuk ke dalam, setidaknya untuk membuat anak ini tenang," pinta Musashi.
"Hmm.. baiklah kalau begitu, tapi hanya dua orang saja," kata dokter itu lagi.
"Kalau begitu aku dan Sakura-chan yang akan masuk," Musashi membantu Sakura untuk berdiri.
"A-aku juga ikut.." pinta Mamori.
"Jangan! Kau tidak boleh masuk!" Sakura melarang Mamori menemui Hiruma dan mulai berjalan masuk ke ruangan itu ditemani Musashi.
Mamori mulai menangis lagi, sedangkan yang lain berusaha membuat Mamori diam. Mereka yakin saat itu Sakura hanya sedang emosi karena kejadian itu yang membuatnya nyaris kehilangan sahabat terdekatnya itu. Akaba kemudian mengantarkan Mamori pulang sambil terus merasa menyesal karena membuat Sakura terluka.
~Keesokan harinya~
Pagi itu Hiruma membuka matanya, ia sudah dipindahkan ke ruang VIP untuk dirawat lebih lanjut. Dilihat sosok Sakura yang sedang tertidur disampingnya sambil terus menggenggam tangan lelaki itu. Tampak pula Musashi yang sedang tertidur di sofa yang ada di dekat jendela. Dibelainya rambut gadis itu dengan lembut, ia tahu pasti Sakura sangat menkhawatirkannya terlihat jelas matanya yang sembab itu. Sakura selalu melakukan hal itu, selalu tidur disamping Hiruma.. memegang tangannya saat ia sakit sehingga Hiruma merasa nyaman dan bisa beristirahat.
'Ia benar-benar tidak berubah,' pikir Hiruma.
Sakura terbangun dari tidurnya.
"You-kun kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Sebelah mana? Maafkan aku..." mata Sakura mulai berlinangan air mata lagi.
Hiruma bangkit dan mengambil posisi duduk sambil bersandar pada bantal, lalu berkata, "Hei hei.. kalau kau bertanya sebanyak itu bagaimana aku bisa menjawabnya? Dasar cengeng.. aku tidak apa-apa, tak usah khawatir.. bagaimana denganmu?" Hiruma menyeka air mata Sakura.
"Aku... hiks... tidak apa-apa... hiks.." Hiruma kemudian memeluk Sakura.
"Sudah diamlah... terima kasih sudah menangis untukku, kau tahu jantungku terasa mau copot tau melihatmu di tengah jalan hampir terlindas truk sialan itu.. kau tidak berniat mati lebih dulu dariku kan? Kekekekeke," terdengar tawa khas Hiruma itu. Tentu saja itu membuat Sakura merasa tenang, ia membalas memeluk Hiruma.
"Kau sudah bangun Hiruma," Musashi mendekati ranjang tempat Hiruma duduk itu.
"Seperti yang kau lihat orang tua sialan," jawab Hiruma.
"Syukurlah kalau begitu.. yang lain khawatir padamu tuh, terutama Sakura dan..."
"Siapa?" tanya Hiruma penasaran.
"Anezaki-san."
"Eh?" Hiruma heran dengan ucapan Musashi.
"Ah iya! Aku minta maaf, kemarin aku menyuruh Mamo-chan untuk tidak masuk ke ruangan tempat kamu menginap... habisnya dokter hanya mengijinkan dua orang untuk masuk, jadi..."
"Cih! Tapi tak apalah.. aku masih belum siap bertemu dengannya, woy orang tua sialan pergilah keluar belikan aku permen karet yang biasanya!"
"Lho kok?"
"Sudah cepat pergi sana! Aku juga ada perlu dengan anak ini," ucap Hiruma.
Musashi menurut dan berjalan keluar, meninggalkan Hiruma dan Sakura berdua.
"Bagaimana soal mata merah sialan itu.. dia memeluk manager sialan semalam," Hiruma mulai cemas.
"Entahlah.. aku juga tidak tahu harus berbuat apa.. yang jelas kita berdua tidak bisa bergerak sekarang.. aku tidak ingin melihat Hayato dulu, lagipula kau juga masih sakit.. aku harus merawatmu kan?"
"Berarti.. kita bergantung pada si cebol sialan dan cheer sialan itu?"
"Begitulah..."
~Ditempat lain~
"Sekarang... tinggal kita yang bergerak ya, Sena?" Suzuna menendang kerikil kecil di jalan, ia dan Sena sedang berjalan menuju rumah sakit tempat Hiruma dirawat. Sekarang hari Minggu, jadi mereka berdua memutuskan untuk menjenguk Hiruma.
"Mungkin.. tapi setidaknya, kita harus bergerak lebih aktif lagi, kau lihat sendiri kan kemarin tentang apa yang terjadi?"
"Ya, tak kusangka Akaban akan melakukan hal itu.. apalagi sampai melihat You-nii kecelakaan, untung saja kita mengikuti sembunyi-sembunyi Akaban dan Mamo-nee... dan yang menelpon ambulance itu... Sena kan?"
"Ya" lelaki kecil ini hanya menerawang jauh ke depan. Dan akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Di depan rumah sakit mereka bertemu Akaba dan Mamori.
"Akaban? Mamo-nee?" Suzuna mengangkat alisnya, heran dengan kedatangan dua orang yang tak terduga itu.
"Ohayou, Suzuna.. Sena," jawab Mamori lesu. Akaba hanya terdiam sambil memandangi salah satu jendela rumah sakit itu, kalau tidak salah jendela itu adalah kamar milik Hiruma. Dari jendela itu tampak sosok Sakura yang sedang tersenyum sambil memotong apel. Akaba mengalihkan pandangannya ke arah lengan kanannya itu, ditatapnya dengan lembut wrist band yang dikenakannya dan ia mencium benda itu dengan lembut.
Sena yang melihat itu langsung menyenggol tangan Suzuna dan mengkode Suzuna untuk melihat ke arah Akaba. Suzuna yakin bahwa ada sesuatu yang berubah dari Akaba, entah apa itu, sepertinya ia menjadi... lebih... lembut?
Sejak tadi Akaba hanya terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ketika ditanya pun ia hanya tersenyum pahit seperti menahan kesedihan. Sampailah mereka berempat di depan kamar Hiruma. Suzuna meraih daun pintunya dan mulai membuka pintu itu pelan-pelan, tampak disana sosok Hiruma yang sedang tertawa bersama Musashi (dia udah balik dari tugasnya membeli permen karet) sedangkan Sakura memasang wajah cemberut sambil mengeluarkan sedikit semburat merah dari wajah manisnya itu. Ekspresi muka Akaba berubah menjadi lebih hidup dari yang tadi, ia melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Seketika Sakura dan Hiruma menyadari kedatangan mereka berempat.
"You-nii baik-baik saja?" tanya Suzuna membuka pembicaraan.
"Hm" jawab Hiruma. Tiba-tiba raut wajah Hiruma dan Sakura berubah menjadi dingin, Sakura menutupi wajahnya dengan rambut poninya itu.
"Maafkan aku Mamo-chan.. soal... kemarin.." kata Sakura sambil tertunduk dan masih menutupi wajahnya dengan poninya itu.
"Tidak apa-apa.. aku tahu perasaanmu.. kau pasti khawatir sekali pada Hiruma kan?" Mamori hanya tersenyum pada Sakura, tapi Sakura tidak mau melihat ke arahnya atau pun Akaba.
"Sa–" Akaba mencoba memanggil Sakura, tapi gadis bermata violet itu langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Maaf.. aku mau keluar sebentar, ada perlu.." Sakura langsung berlari menjauh dari kamar itu. Akaba dengan cepat berusaha mengejar gadis itu.
Hiruma melihat kepergian Sakura.. ia tahu bahwa hati sahabatnya itu pasti sedang sakit sama seperti yang dirasakannya sekarang, tapi ia berbeda dari Sakura yang bisa berlari menjauhi Akaba.. lelaki ini hanya bisa duduk terdiam diatas kasurnya tak bisa berbuat apa-apa untuk menjauh dari Mamori tanpa membuat gadis yang dicintainya itu merasa sedih. Raut mukanya mendingin lagi seakan ingin menutupi perasaannya.
~Sementara itu~
Gadis berambut karamel itu terus berlari sampai ke atap gedung rumah sakit itu, dicengkeramnya pagar pembatas yang ada disana membelakangi pintu masuk ke atap itu. Akaba yang menyusulnya berusaha mendekati Sakura.
"Jangan mendekat..!" pinta Sakura dengan nada bergetar.
"Kenapa?" tanya Akaba.
"Pokoknya jangan mendekat! Kumohon pergilah, biarkan aku sendiri!" kata Sakura tanpa melihat ke arah Akaba.
"Baiklah kalau itu maumu," Akaba meninggalkan tempat itu. Sakura jatuh terduduk dengan air matanya mengalir deras dari pelupuk matanya. Sakura menangis pelan, sementara Akaba meninggalkan tempat itu dengan berat hati.
Sedangkan di kamar Hiruma terjadi kesunyian. Hiruma berusaha mengambil permen karetnya tapi tidak bisa karena terlalu jauh. Mamori yang mengetahui itu segera mengambilkan permen karet itu untuk sang kapten... tapi bukannya diterima, Hiruma malah berkata,
"Letakkan saja disitu, aku sudah tidak menginginkannya lagi.. aku mau istirahat,"
Mamori yang mendengar itu merasa sakit hati, lalu ia berjalan keluar dan bertemu dengan Akaba yang berjalan lesu.
"Ayo kita pulang, Anezaki-san..."
Sena dan Suzuna mendekati Hiruma.
"Tidak apa-apa kalau begini?" tanya Suzuna.
"Sudahlah.. aku bergantung pada kalian, kami berdua perlu memulihkan diri dulu.. kami masih belum bisa melihat dua orang itu."
"Baiklah serahkan pada kami!" ucap Sena tegas.
Sena dan Suzuna segera mengikuti kedua orang tadi sembuyi-sembunyi. Di tengah jalan mereka mendengar percakapan antara Akaba dan Mamori.
"Akaba-san menyukai Sakura?" tanya Mamori
"Eh? Apa yang kau bicarakan Anezaki-san?" Akaba terlihat kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu.
"Aku dapat melihatnya dengan jelas, Akaba-san mencintai Sakura..."
"Aku menyukaimu Anezaki-san!" Mamori kaget mendengar itu.
"Hah? Ta-tapi jelas-jelas di wajahmu terlihat kalau Akaba-san menyu–" Akaba tiba-tiba memotong perkataan Mamori dan berkata,
"Aku sendiri juga tidak tahu.. aku bingung! Disatu sisi aku menginginkanmu tapi disisi yang lain aku... seperti mempunyai perasaan... khusus.. pada Sakura," jelas terlihat wajah Akaba yang bimbang itu.
"Sepertinya aku juga begitu, aku sendiri tidak yakin dengan perasaan aneh yang kumiliki pada Hiruma," Mamori juga terlihat bimbang.
Sena dan Suzuna kaget mendengar hal itu, yang jelas sekarang mereka tahu bahwa kedua orang itu mencintai Hiruma dan Sakura. Mereka tahu bahwa kunci untuk menyelesaikan masalah ini hanya ada di Akaba. Duo SenaSuzu memutuskan untuk terus mengikuti Akaba dan Mamori, saking seriusnya sampai-sampai saat naik bus tas milik Suzuna tertinggal sehingga mereka sempat kehilangan jejak kedua orang itu. Untungnya mereka bertemu dengan dua orang itu dan mulai mengikuti mereka.
Tapi sepertinya dewi keberuntungan tidak berpihak pada mereka, berbagai peristiwa menimpa mereka mulai dari Sena secara tidak sengaja menginjak ekor anjing sehingga mereka berdua harus rela berlari demi menghindari anjing itu, lalu saat mereka berlari Suzuna tersandung dan jatuh masuk ke dalam saluran pembuangan air (baca: got) yang ada disana, hujan juga tiba-tiba turun dengan derasnya dan disana tidak ada tempat berteduh jadi mereka harus berlari untuk mencari tempat untuk berteduh. Astaga.. sial sekali mereka.. Kemudian mereka memutuskan untuk pulang.
~Transcending time.. *plakk* pindah waktu~
Malam harinya di apartemen*, Akaba sedang merebahkan dirinya di atas kasur miliknya sambil memandangi pemandangan kota saat malam. Cahaya-cahaya yang menembus kaca kamarnya yang gelap itu tampak berwarna-warni.. tenang dan menyenangkan seperti Sakura, setidaknya itulah yang ada dipikiran Akaba saat itu. Dilihatnya lengan kanannya itu, hadiah kecil dari Sakura.. hadiah pertama dari Sakura yang berharga itu.
Ia mencium benda itu lagi sambil merasakan wangi Sakura yang mungkin masih tertinggal disana. Ia merasa menyesal karena sudah membuat gadis itu bersedih seperti itu apalagi sampai tidak mau melihat wajahnya. Akhirnya Akaba pun memutuskan untuk memejamkan matanya, ia tertidur dan bermimpi, ia melihat kenangan masa lalunya saat kecil.. kejadian di Taman Sakuramori tempat dimana ia bertemu cinta pertamanya...
Saat itu Akaba kecil dijahili oleh kakak kelasnya sepulang sekolah, gitar kesayangannya dirusak dan diijak-injak oleh mereka. Akaba kecil tidak berani melawan karena badannya lebih kecil dari mereka padahal saat itu sedang senja ia harus segera pulang. Ia hanya bisa menangis, tiba-tiba datanglah dua orang yang menolongnya mengusir anak-anak nakal itu. Seorang gadis berambut seperti warna coklat muda tapi tidak begitu jelas karena terkena cahaya merah dari matahari senja kira-kira sebaya dengan Akaba kecil, bersama dengan laki-laki berambut seperti biru tua yang umurnya kira-kira lebih tua dua tahun dari Akaba kecil.
"Jangan menangis.. aku akan menyanyi untukmu!" kata gadis kecil itu. Si bocah laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, itu adalah sebuah biola ukuran anak-anak. Dengan posisi siap bermain biola, bocah itu mengkode gadis kecil itu untuk siap bernyanyi.
Sementara itu Akaba kecil yang tadinya menangis mulai berusaha menahan tangisnya untuk mendengarkan nyanyian gadis tadi.. si gadis kecil itu pun mulai bernyanyi diiringi biola..
lalala utaou utaou
kao age kokoro no mama
utaou
akiramecha ikenai
dekinai koto nante nai
yuuki no uta
dare ni mo makenai yume ga aru
arukidasou mune haate
watashi dake no michi ga aru
shinjiru no sa hontou sa
Suara biola yang mengalun itu dan suara yang indah itu memberikan secercah keberanian untuk Akaba kecil..
dakai yama ga jamashitemo
ganbatte nori koe yo
watashi ni nara dekiru sa
kiseki okosou**
Akaba kecil mulai berhenti menangis dan mulai tersenyum, saat itu si gadis kecil tadi mendekati Akaba kecil menghapus air mata yang masih tersisa di mata Akaba. Lalu gadis tadi tersenyum dengan lembut, entah kenapa senyuman itu terlihat seperti senyuman milik Sakura.
~In another place~
Disaat yang sama di rumah sakit, Sakura melamun tentu saja sambil melihat ke arah jendela. Pandangan matanya sayu dan mata violetnya juga terlihat sembab karena selama dua hari ini dia menangis terus, bukan cuma karena Hiruma tapi juga karena Akaba dan perasaan aneh yang sejak dulu menghantuinya. Ia mulai bernyanyi dengan pelan..
kimi no koto kirai ni naretara ii no ni
kyou mitaina hi ni wa kitto
mata omoi dashite shimau yo
konna kimochi shiranakya yokatta
mou nido to aeru koto mo nai no ni
aitai aitainda
ima demo omou kimi ga ita ano natsu no hi wo
Perasaan sedih Sakura itu membuatnya terus bernyanyi. Hiruma yang mendengar nyanyian Sakura dari atas ranjangnya juga merasakan hal yang sama dengan lagu yang dinyanyikan itu.
mou wasureyou kimi no koto zenbu
konna ni mo kanashikute
doushite deatte shimattan darou
me wo tojireba
ima mo kimi ga soko ni iru you de
amai toiki
binetsu wo obiru watashi wa kimi ni koishita
sono koe ni sono hitomi ni
kizukeba toki wa sugisatteku no ni
mata kimi no omokage wo sagashite
Cahaya kota itu nampak seperti kembang api yang lembut, Sakura melanjutkan nyanyiannya..
hitorikiri de miageru hanabi ni
kokoro wa chikuri to shite
mou sugu tsugi no kisetsu ga
yatte kuru yo
kimi to miteta utakata hanabi
ima demo omou ano natsu no hi wo***
"Hei, cengeng sialan.. sepertinya tidak ada jalan lain... aku sudah tidak tahan lagi, semua ini membuatku sakit... aku ingin semuanya berakhir," Hiruma berbicara dengan nada sedih.
"Apa maksudmu You-kun?"
"Aku sudah tidak tahan.. seperti bukan diriku saja, tersiksa cuma gara-gara wanita seperti itu.." kata Hiruma putus asa.
"Eh?"
"... orang itu sama sekali tidak mengingatmu?"
"Sepertinya.." Sakura menundukkan kepalanya.
"Jadi? Bagaimana? Kita akan.."
"Ya.. terpaksa.. tidak ada jalan lain.. kita harus akhiri semua ini dengan 'itu'..."
Note nya Author deh~:
(*) = author gak yakin atau lebih tepatnya gak tahu dimana Akaba tinggal di apartemen atau rumah, makanya khusus di fanfic ini author anggap Akaba tinggal di apartemen biar keren gitu.. tapi yang jelas dia beda apartemen sama Hiruma dan Sakura..
(**) = akhirnya jadi pake lagu ini juga.. judulnya "Yuuki no Uta" dinyanyiin sama Kanae Ito seiyuu nya Hinamori Amu. Ini lagu dari Shugo Chara! (lagi?) waktu itu Amu nyanyi lagu ini + Ikuto yang main biolanya.. hohoho~ arti judul lagu ini adalah "Courage Song" pas kan buat si Akaba kecil?
(***) = ehem.. lagu ini lumayan cocok juga buat adegan itu hahaha~ lagunya berjudul "Utakata Hanabi" singer nya Supercell, endingnya Naruto Shippuden. Lagu yang cukup menohok juga, karena ini menceritakan tentang kisah kenangan di musim panas dengan orang yang kita cintai, tapi kita udah putus sama dia.. padahal kita masih sayang.. Bisa juga diartikan lagu ini untuk orang-orang yang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan! Nah... cocok kan? ^_^V
*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#**#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#***#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
Nyoh~ selesai juga.. gimana gimana? Geje kah? Aneh kah? Menyebalkan kah? Ato tambah seru? Yang jelas jangan timpuk saya pake botol a*u* yah pake yang lain aja *sama aja boong* karena berhubung mau tamat, butuh review nih.. kritik dan saran juga boleh.. contohnya:
"Tambahin chapternya lagi donk khusus SenaSuzu"
Gitu juga boleh.. ntar langsung saya pikirin ide ceritanya.. jangan lupa review yah~ klu gak review... *muncul aura gak enak*
ya gapapa *buak*, asalkan kalian senang dengan fanfic saya itu saja sudah cukup *weisss*..
akhir kata...
review kudasai~ ^o^V
