"Kudengar Jihoon sudah pulang. Di mana dia?" tanya seseorang berpostur tinggi dan berkulit cokelat. Ia tidak sendiri. Seseorang bermata rubah dan berkulit putih mengekor di belakangnya. Nyonya Lee tersenyum.
"Dia masih tidur di kamarnya. Karena kalian kemari, bisa sekalian bangunkan anak itu?" tanya Nyonya Lee sembari meletakkan beberapa piring di meja makan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, pria bertubuh tinggi itu segera menuju kamar Jihoon yang berada di lantai dua. Pria bermata rubah itu pun mengekorinya.
Pria bertubuh tinggi itu buru-buru menuju salah satu pintu di lantai dua. Pintu yang ia sudah sangat tahu bahwa itu adalah pintu kamar Jihoon. Ia menarik kenop dan mendorong pintu dengan tidak sabar. Ketika pintu terbuka, tampak seseorang bertubuh mungil masih nyaman tidur sambil memeluk sebuah guling. Pria kecil itu tampak tidak terganggu dengan suara langkah kaki yang cukup keras mendekatinya.
"Jihoon-ah," panggil si pria bertubuh tinggi. Jihoon masih terlelap dalam tidurnya.
"JIHOON-AH!" panggilnya lagi. Kali ini suaranya naik beberapa tingkat. Jihoon hanya menautkan kedua alisnya dan membalik posisi tidurnya.
"Sudah, biarkan dia tidur dulu. Dia pasti masih lelah." Kali ini si pria bermata rubah yang berbicara. Ia menyentuh pundak pria bertubuh tinggi dengan lembut, yang langsung disentak oleh si pemilik bahu tersebut. Pria bermata rubah menghela nafas, sudah biasa.
"Jihoon-ah, bangun. Kau kemana saja selama hampir seminggu ini? Aku tidak menemukanmu di mana pun! Kau tidak tahu aku bingung sekali, hah?"
Pria bertubuh tinggi itu mengoceh tanpa henti. Tapi balasan yang ia dapat hanya erangan Jihoon yang terdengar kesal karena tidurnya terganggu. Ia menutupi kepalanya dengan bantal.
"JIHOON-AH!" teriak pria bertubuh tinggi itu sekali lagi. Nihil, Jihoon masih bertahan untuk tetap tidur.
Saking sibuknya membentaki Jihoon, pria bertubuh tinggi itu tidak sadar dengan kehadiran Soonyoung. Soonyoung yang baru saja selesai mandi, menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk sembari menatap drama pagi hari di hadapannya.
Jadi ini orang yang lebih sinting daripada Jihoon? Lalu yang di belakangnya itu siapa?Soonyoung mengalihkan pandangannya pada seseorang di belakang pria bertubuh tinggi itu. Di saat yang bersamaan, pria bermata rubah itu pun menyadari kehadiran Soonyoung. Kedua orang itu saling menatap dan hanya mengerjap. Soonyoung berhenti menggosok-gosok rambutnya, begitu pula pria bermata rubah itu berhenti bergerak.
"Wonwoo?" tanya Soonyoung. Pria bermata rubah yang dipanggil Wonwoo itu hanya tersenyum kecut.
"Sooyoung-ssi. Apa kabar?" tanyanya. Soonyoung juga ikut tersenyum kecut.
"Baik," jawab Soonyoung. Kemudian mereka terdiam. Pria bertubuh tinggi itu menyadari ada atmosfer tidak nyaman di belakangnya. Ia menoleh pada Wonwoo, kemudian pada Soonyoung.
"Kau siapa?" tanya pria bertubuh tinggi itu pada Soonyoung. Soonyoung mengalihkan perhatiannya pada pria bertubuh tinggi yang ia cap sinting itu.
"Aku? Soonyoung," ucap Soonyoung enteng. Pria bertubuh tinggi itu memutar kedua bola matanya malas.
"Aku tidak ingin tahu itu. Aku hanya ingin tahu kau itu siapanya Ji—"
"Aku calon suaminya," potong Soonyoung cepat. Membuat semua yang ada di ruangan tersebut terdiam—kecuali Jihoon yang kembali mengubah posisi tidurnya. Pria bertubuh tinggi itu terkekeh kemudian. Ia menatap Soonyoung remeh.
"Jangan bercanda. Aku sedang tidak mood bercanda," ucap pria bertubuh tinggi tersebut. Soonyoung dengan cueknya masuk ke dalam kamar sembari mengangkat bahunya.
"Tanya sendiri Jihoon jika tidak percaya," ucap Soonyoung sembari berjalan menuju ranjang yang ditempati Jihoon. Kemudian ia duduk di sisi lain ranjang sembari mengecek ponselnya yang masih di charge.
Di tengah-tengah keterkejutan itu, Jihoon menggeliat. Ia meregangkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan. Yang ia lihat pertama kali ketika membuka mata adalah sosok pria bertubuh tinggi yang ia hindari selama ini. Membuat mood paginya berantakan dan matanya menyipit tak suka.
"Kau ngapain di sini?" tanya Jihoon sebal. Pria bertubuh tinggi itu menghela nafas.
"Aku khawatir padamu. Kau hilang hampir seminggu. Sudah kucari di dekat-dekat sini tapi tidak ketemu. Kau kali ini kabur kemana, hah?" tanya pria bertubuh tinggi itu berturut-turut. Membuat kepala Jihoon sakit.
"Seoul," jawab Jihoon ringkas. Ia berbalik memunggungi pria bertubuh tinggi itu.
"Seoul?" ulang pria bertubuh tinggi tersebut dengan nada tidak percaya.
"Ya, untuk menemui pacarku," ucap Jihoon lagi.
"Pacar?!" tanya pria bertubuh tinggi itu semakin tidak percaya. Ia menatap Soonyoung yang masih asyik dengan ponselnya.
"Bisa kau lihat sendiri, itu pacarku," jawab Jihoon enteng sembari menunjuk punggung Soonyoung dengan telunjuknya.
Kemudian ia merapatkan tubuhnya ke punggung Soonyoung yang basah. Dilingkarkan tangannya ke pinggang hingga perut Soonyoung. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya di sana, seperti koala menempel pada pohon.
"Kau sudah bangun?" tanya Soonyoung sembari masih menatap ponselnya. Tangan kirinya tergerak untuk mengelus punggung tangan Jihoon yang berada di perutnya.
"Ng~" jawab Jihoon hanya dengan erangan. Sungguh pasangan yang manis sekali.
"Kau belajar sandiwara dari mana, Jihoon-ah?" tanya pria bertubuh tinggi itu dengan nada mengejek. Baik Soonyoung maupun Jihoon memilih untuk tidak menjawab.
"Aku tidak pernah tahu kau punya pacar. Kau bayar berapa orang ini untuk berpura-pura? Ya, manusia hamster! Kau dibayar berapa oleh Jihoon untuk berpura-pura?" tanya pria bertubuh tinggi itu sengit. Soonyoung ingin menjawab, tetapi didahului oleh Jihoon yang mendecakkan lidahnya kesal. Ia menoleh pada pria bertubuh tinggi itu dengan tatapan tidak suka.
"Ya, Kim Mingyu! Bisa tidak kau keluar saja dan jangan mengganggu kami?" ucap Jihoon dengan nada kesal.
"Aku tidak akan keluar sebelum mendapatkan penjelasan soal ini," ucap pria yang bernama Kim Mingyu itu. Jihoon menghembuskan nafas dengan kesal.
"Penjelasan apa yang kau inginkan? Penjelasan kalau aku akan menikah?" tanya Jihoon. Sementara itu, Soonyoung akhirnya selesai dengan urusan ponselnya dan meletakkan benda persegi panjang itu kembali ke meja. Ia memilih untuk tidak menoleh kepada orang-orang yang sedang berdebat itu dan menatap dinding kamar Jihoon.
"Kau akan menikah, Jihoon-ie?" tanya Wonwoo ragu. Soonyoung bisa mendengar suara berat dan lembut laki-laki itu. Membuatnya kembali mengelus punggung tangan Jihoon yang masih bertengger di perutnya. Mengenyahkan perasaan tidak nyaman ketika kembali mendengar suara Wonwoo yang sudah lama tak ia dengar.
"Eung, dengan Soonyoung. Secepatnya," ucap Jihoon singkat, padat, dan mudah dimengerti.
Kecuali untuk orang bernama Kim Mingyu di sana.
"Kau bercanda, iya kan?" tanya Mingyu. Jihoon mengangkat sebelah alisnya dan menatap Mingyu dengan tatapan 'apa-aku-terlihat-bercanda-sekarang?'. Mingyu menangkap arti tatapan itu dengan baik. Ia terdiam.
"Ayahmu sudah merestui?" tanya Mingyu. Nada bicaranya mulai melunak. Jihoon hanya mengangguk.
Mingyu tidak bicara lagi setelah itu. Ia segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut. Wonwoo yang bingung pun berpamitan dan kembali mengekori Mingyu.
"Senang bertemu lagi denganmu, Soonyoung-ssi," begitu isi pamitan Wonwoo. Membuat Soonyoung menghela nafas berat. Jihoon yang menyadarinya, menatap punggung Soonyoung yang terbalut kaus putih.
"Kau kenal Wonwoo?" tanya Jihoon kemudian. Soonyoung mengangguk.
"Hubungan kalian sepertinya tidak bagus," ucap Jihoon. Soonyoung tertawa pelan.
"Setidaknya pernah bagus," sahut Soonyoung yang masih setiap menatap dinding kamar Jihoon. Jihoon melepaskan tangannya dari tubuh Soonyoung. Kemudian ia berguling ke sisi ranjang yang lain dan segera turun dari ranjang.
"Aku mau mandi. Tunggu aku jika mau sarapan," ucap Jihoon. Soonyoung hanya mengangguk kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Membiarkan pikirannya menerawang menembus langit-langit. Kembali pada saat ia masih SMA.
Saat ia masih berteman dengan Wonwoo, Jun, Seungchol, Dokyeom, dan Seungkwan. Sebenarnya Soonyoung masih berteman dengan yang lain, apalagi Seungchol—kalian masih ingat kan mereka bekerja di tempat yang sama. Namun beberapa saat sebelum lulus SMA, Soonyoung tidak lagi berteman dengan Wonwoo. Mereka menjadi asing satu sama lain—yang saat itu sempat membuat Seungkwan dan Dokyeom bingung. Seungchol dan Jun yang segera paham situasi, memilih untuk tidak ikut campur saat itu. Membiarkan Wonwoo dan Soonyoung berada dalam lingkaran yang sama, tapi dengan rasa yang berbeda.
Kemudian mereka berpisah. Wonwoo dan Jun memilih untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Dokyeom yang sudah menjadi trainee di salah satu agensi besar, melanjutkan masa trainee-nya dengan damai. Seungkwan memilih untuk mengambil jurusan pariwisata di Seoul dan kuliah setahun di sana. Kemudian ia kembali ke Jeju untuk menjadi pemandu wisata sekaligus menemani ibunya. Hanya Seungchol dan Soonyoung yang mengambil manajemen kemudian lulus dan bekerja di tempat yang sama lagi.
Kembali mengingat semua itu, membuat Soonyoung tersenyum. Pertemuannya dengan Wonwoo hari ini membuatnya ingin bertemu teman-temannya lagi. Berkumpul lagi seperti saat SMA, membuat keributan ketika makan, pergi berwisata bersama, dan lainnya. Ia ingin, tapi apakah tidak akan canggung setelah lama tidak bertemu? Baru Wonwoo saja ia sudah canggung luar biasa, bagaimana dengan yang lain?
Tapi kan Wonwoo berbeda. Dia selalu berbeda.Soonyoung menghela nafas dan memejamkan matanya. Hampir tertidur ketika akhirnya Jihoon selesai mandi dan kembali masuk ke kamar. Soonyoung merubah posisinya jadi duduk bersila di atas tempat tidur. Dan ia menyesali perbuatannya itu.
Karena Jihoon masuk ke kamar dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Aku tahu ini kamarmu, tapi bisakah kau ingat ada orang lain di sini?" tanya Soonyoung.
"Kenapa? Kau tergoda? Kalau tergoda, ingatlah kalau aku ini orang yang sangat menyebalkan. Nanti nafsumu juga turun-turun sendiri," ucap Jihoon sembari membuka lemari dan memilih pakaian yang akan ia pakai. Soonyoung menghela nafas.
"Kalau yang kau bicarakan itu benar, maka seseorang bernama Mingyu tadi pasti sudah berhenti mengejarmu," ucap Soonyoung. Ia mengalihkan perhatiannya dengan cara berulang kali meninju pelan tempat tidur Jihoon. Ia melakukan itu karena ia sempat melihat Jihoon akan melepaskan handuk yang dipakainya.
"Aku sendiri tidak habis pikir kenapa Mingyu tetap mengejarku. Padahal aku sudah bersikap sangat menyebalkan padanya," ucap Jihoon sembari memakai celana pendek.
Karena dia itu sinting! Sama sepertimu.Soonyoung ingin menyuarakan pemikirannya itu, namun ia tahan karena tak ingin mendapat pukulan dari Jihoon. Ia memilih turun dari tempat tidur dan menoleh pada Jihoon yang hendak memakai kaus bergaris kuning-biru.
"Karena cinta itu kebanyakan buta. Kalau kau sudah jatuh cinta pada seseorang, akan sulit melihat keburukan orang tersebut daripada kebaikannya. Kalaupun ia melihat keburukannya, ia pasti berusaha mengubah keburukan tersebut atau malah mengabaikannya," ucap Soonyoung. Jihoon tersenyum miring.
"Kau terdengar seperti orang yang berpengalaman," ucap Jihoon sembari membenarkan ujung kausnya. Soonyoung tersenyum.
"Oh ya, berhenti ganti baju di depanku kalau kau masih ingin selamat, oke?" ucap Soonyoung sembari menunjuk Jihoon dengan telunjuknya.
"Nafsu bisa datang kapan saja, kau harus tahu itu," lanjut Soonyoung. Kemudian ia keluar dari kamar Jihoon. Meninggalkan Jihoon yang terdiam di depan lemarinya.
"Hamster mesum," decih Jihoon.
