Tumben tumbenan gue ngetik sehari setelah chapter 3 release. Gimana, gue gatega nganggurin soalnya reviewnya banyak sih wkwk. Padahal besok gue ulangan Inggris :v ah bodo amat, btw disini belom gua kasi nc deh. Chap5 gue kasi wkwk. happy reading~
[!] YANG ITALIC FLASHBACK
.
.
.
.
Hoseok bersembunyi didalam lemarinya ketika sang pembunuh tengah membakar tubuh Ibunya. Ia benar-benar ketakutan sekarang, berulangkali Ia mengintip dari celah pintu lemari tapi Ia tak berani keluar untuk mencari adiknya, namun tak beberapa lama keributan semakin terdengar jelas di telinga Hoseok. Langkah cepat seseorang semakin mendekati kamar Hoseok. Hoseok terus mengintip dari celah pintu lemari untuk memastikan siapa yang berlari, ternyata adiknya. "Taehyungie!" Hoseok berteriak tanpa suara agar Taehyung masuk kedalam lemari, namun sialnya Taehyung tak mendengar Hoseok. Dengan cepat, Hoseok menarik tangan Taehyung kasar kedalam lemari dan mengunci lemarinya.
"mpph!" Taehyung berusaha berontak, matanya sudah sembap akibat menangis, "jangan menangis Taehyungie, ada hyung disini" Hoseok memeluk Taehyung dengan erat seolah itu adalah pelukan terakhir mereka berdua. Mendengar suara Hoseok, Taehyung tak lagi berontak, Ia malah membalas pelukan kakaknya dengan sangat erat "Apakah tadi Ibu dan Ayah? Siapa pria bertopeng tadi?" isak Taehyung yang lalu berusaha ditenangkan oleh Hoseok. "sst, jangan berisik, kau tidak mau pria tadi menemukan kita kan?" Taehyung pun menggeleng cepat. Ia benar-benar tidak ingin mati saat ini.
Setengah jam mereka berdua berada didalam lemari, mereka mulai merasa kehabisan oksigen. "Kurasa pria itu telah pergi" bisik Hoseok sambil mencoba mengintip dari lubang kuncinya, Taehyung menatap hyungnya sambil berusaha menghentikan tangisannya, "Hyung aku lapar"
"Kau lapar? Baiklah akan kucarikan makanan. Kau tunggu disini ya" Hoseok pun keluar dari lemari dan menutup kembali pintu lemarinya agar adiknya tetap aman didalam sana, kemudian saat sampai didepan pintu kamarnya, Hoseok berteriak karena ternyata pria itu masih menunggu mereka berdua. "Lepaskan!" Teriak Hoseok sambil berusaha menahan tangisnya, namun pria bertopeng itu terus menarik Hoseok agar Hoseok tidak kabur, dan dengan kasar pria itu mencengkram rambut Hoseok lalu menariknya menjauh dari depan kamarnya.
"Lepaskan aku, sial!" Hoseok mencoba berontak,
Dor!
Suasana hening. Hoseok tak lagi berontak. Ia benar-benar sudah tidak berani berkata-kata ketika lelaki itu menembakkan pistolnya kearah atas tanda tembakan peringatan. "Jika kau berani kabur, akan kubunuh kau!"
"Tapi adikku-"
"Adikmu tidak akan kusentuh. Aku janji, asal kau tidak kabur" lelaki itu membuka topengnya. Hoseok terkejut melihat wajah lelaki itu. "Kim Seokmin ahjussi?!" Hoseok bertanya tak percaya, Kim Seokmin adalah anak buah dari ayahnya. Setau Hoseok, Kim Seokmin adalah orang yang baik, tidak pelit, dan ramah. Tapi.. perkiraannya meleset sejauh jauhnya.
"Ya ini aku. Aku tidak akan menyentuh adikmu, asal kau membantuku memasukkan harta benda orangtuamu kedalam tasku!" Ancaman Seokmin sukses membuat Hoseok mengangguk takut, dengan tidak rela, Hoseok membongkar lemari orangtuanya untuk mencari perhiasan yang mereka punya lalu membantu Seokmin untuk mencurinya.
"Bagus, bocah. Ikutlah kerumahku, kau pasti lapar" kini Seokmin tersenyum kecil, berusaha membuat Hoseok berhenti menangis. "Aku akan-"
"Jangan berani beraninya membawa Taehyung!"
Hoseok tertegun, Seokmin mendekatinya "Satu lagi syarat jika kau ingin tetap hidup." Seokmin menarik telinga Hoseok mendekati bibirnya, "Lupakan Taehyung. Anggap bahwa Ia tak pernah ada didalam hidupmu. Jika kau berani menyapanya, menemuinya, menyelamatkannya, atau menatapnya. Taehyung akan mati!"
Hoseok menangis tertahan ketika Seokmin mengatakan hal mengerikan seperti itu. Dengan cepat Hoseok menyelanya, "Tapi kenapa aku harus lakukan itu?!"
"Karna kau anak haram!"
Deg.
Hoseok terpaku ditempat, tangannya kaku untuk digerakkan, bibirnya pun membeku. Apa tadi? Anak haram?
"Kau tau kenapa kau dilahirkan? Ayah bodohmu taruhan denganku. Ibumu hamil, entah siapa yang menghamilinya. Antara aku dan ayahmu. Kami akhirnya lotre, siapa yang akan menikahi Ibumu. Dan ayahmu lah orangnya. Kukira Ia sekedar tanggung jawab, namun Ia ternyata benar-benar serius dalam menjadi seorang ayah sehingga pekerjaannya selalu mendapat pujian oleh bosnya. Sedangkan aku? Hidupku masih susah, ayahmu terus terusan memamerkan kinerjanya padaku. Siapa yang tidak iri melihatnya semakin naik jabatan sedangkan aku? Hanya menjadi kaki tangan ayahmu"
Hoseok terisak, "J-jadi.. Ini yang kau lakukan demi pembalasan dendam?"
Seokmin menjentikkan jarinya, "Bingo! Ternyata kau pintar juga walau kau adalah anak yang tak diinginkan. Sekarang, dengarkan aku. Ikuti perintahku. Atau kau akan mati!"
.
.
.
Hoseok pun ikut Seokmin kerumahnya. Penampilannya kacau, dengan piyama lusuh dan mata yang membengkak. Ketika Seokmin membuka pintu rumahnya, istri dan satu anak laki-lakinya menatapnya dengan tajam, Seokmin hanya menatap mereka dengan tatapan malas. "Apa yang telah kau perbuat? Mengapa kau membawa anak kecil?" tanya istrinya dengan menahan amarah. Ia tau benar seperti apa suaminya. Berbeda dengan ayah Hoseok pastinya.
"Tenanglah sayang, Ia hanya anak jalanan yang butuh makanan" dengan cuek Seokmin membungkuskan nasi dan garam untuk Hoseok tanpa lauk sedikitpun.
Anak Seokmin mengamati Hoseok dari atas sampai bawah, "Tapi kurasa piyama yang Ia pakai mahal, bu" komentarnya dengan wajah antusias. "diam!" bentak Seokmin membuat Hoseok ikut terkejut, Hoseok hanya berdiri menunduk, sesekali ia menoleh kearah anak Seokmin yang tampak lebih muda setahun darinya. Menyadari tengah diperhatikan, anak Seokmin menatap Hoseok sambil tersenyum, "Hai. Aku Kim Seokjin"
Hoseok pun mengangguk pelan sambil tersenyum kecil lalu kembali menunduk.
Plak!
Seokmin melemparkan nasi bungkusannya kepada Hoseok, "ini. Sekarang pergilah"
"Bisakah kau bersikap baik padanya?!" Istrinya kini berapi api melihat Seokmin dengan kasar melemparkan bungkusan nasi kepada Hoseok, "Setidaknya beri ia minum juga!"
"Bodoh, didepan gerimis. Ia bisa meminum air hujan! Jadi tenanglah dan tak usah sok pahlawan wanita bangka!"
Dengan cepat Hoseok pun berlari menjauhi rumah itu, Ia bahkan tak tau jalan pulang karena jalan yang membingungkan. Ia duduk tepat di trotoar jalan. Memakan nasi garamnya lalu menangis, "Taehyungie maafkan aku"
.
.
.
.
Sepulang sekolah, Taehyung dan Jimin hendak pergi ke club yang sering mereka datangi, namun tangan Taehyung ditahan oleh seseorang, saat Taehyung menoleh, ternyata itu adalah Jin. "Oh, Jin hyung" Taehyung tersenyum kearahnya. "Hey, mm.. kira kira kau sibuk tidak?" tanya Jin ragu. Taehyung mengangguk, "Aku harus menemani Jimin ke club"
Jin sedikit terkejut mendengarnya, tapi buru buru Taehyung sela "Ia hendak membayar hutang hehe"
Jimin menatap curiga Taehyung "hey hutangku kan– mpph!" Dengan cepat Taehyung menyumbat mulut Jimin dengan dasinya. "At least I'm busy right now" Taehyung pun cepat cepat menarik Jimin pergi menjauhi Jin. Jin hanya menatap bingung mereka berdua, "Okelah sampai jumpa"
Saat di mobil, Taehyung duduk dengan lega, namun Jimin menatap Taehyung bingung. "Hey, kau membohongi Jin hyung?" tanya Jimin sedikit kesal, Taehyung mengerdikan bahunya lalu mengabaikan Jimin. "Kurasa kau hanya ingin bertemu Hoseok"
Taehyung membelalakan matanya dengan salah tingkah, "A-apa katamu? Tentu saja tidak"
Jimin tampak sedang berpikir, "Mm.. Tapi saat kapan hari kau mabuk itu, Ia yang tampak sangat panik, bahkan Ia membodoh bodohkan dirinya saat dimobil perjalanan mengantarmu pulang. Ia mengatakan sebodoh itukah dirinya membiarkanmu meminum alkohol. Kau tau? Sebagai seorang bartender, Ia adalah bartender yang sangat mempedulikan pengunjung" jelas Jimin panjang lebar, Taehyung hanya menunduk sambil menyembunyikan semburat merah muda di pipinya.
Jimin menyeringai sambil terus menggoda Taehyung, "Wajahmu memerah! Kau menyukainya!"
"Yaa! Hentikan itu!" Taehyung pun memukuli kepala Jimin dengan keras.
Di club, Hoseok tengah duduk disofa dengan lesu, tiba-tiba seseorang duduk di pangkuannya, Hoseok terkejut lalu menoleh kearah orang itu, "Jungkookie"
Yang dipanggil hanya mengerucutkan bibirnya lalu memainkan kerah Hoseok, "Hyungg! Long time no see!" Seru lelaki chubby bernama Jungkook sambil menghamburkan pelukannya kepada Hoseok, Hoseok tersenyum sambil mengusap punggungnya, "Ya aku merindukanmu" Hoseok pun melepaskan pelukannya lalu menatap mata Jungkook, "Kapan kau kembali ke Korea?"
Jungkook tampak berpikir, "Umm.. Kurasa lusa kemarin! Aku tak tau kalau kau bekerja disini! Sejak kapan?" Jungkook tampak antusias menanyakan semuanya kepada Hoseok. Hoseok terkekeh lalu mencubit bibir Jungkook. "Sudah lama, kau saja yang terlalu lama tinggal di London tanpa kabar"
Jungkook tersenyum, "Aku minta maaf hyung, habisnya aku sangat betah disana"
"Kau betah disana sampai melupakanku, ya?" goda Hoseok yang dibalas dengan pout seorang Jungkook. "Aku tidak melupakanmu," Jungkook kemudian menoleh ke samping kanan, "ngg.. hyung, mereka siapa? Aku merasa terganggu dipandang seperti itu"
Hoseok mencoba mencari arah pandang Jungkook, tepat didepan pintu berdiri Jimin dan Taehyung dengan wajah yang sulit diartikan. Karena terkejut, Hoseok tersenyum lalu mengisyaratkan Jungkook untuk duduk sendiri disampingnya. Hoseok berdiri lalu menghampiri Taehyung, "Oh, h-hai" Hoseok tersenyum canggung, Taehyung pun tersenyum paksa melihat Hoseok dan juga remaja asing yang sedang Hoseok pangku tadi. Taehyung tak tertarik mengetahui siapa lelaki itu. "Aku hanya kebetulan lewat, hehe. Aku pulang dulu" Taehyung balik badan lalu berjalan keluar bar, namun tangannya ditahan Hoseok.
"Hey, apakah kau marah?" tanya Hoseok bingung, Taehyung berusaha menarik kembali tangannya namun tenaga Hoseok jauh lebih kuat dibandingkan dirinya. Akhirnya Ia memutuskan untuk berbalik dan menatap Hoseok, "Marah? Untuk apa" Taehyung berusaha memaksakan dirinya tertawa, namun yang ada malah terlihat sangat miris. "dia itu-"
"Oh ayolah, aku terburu buru." Taehyung menarik kembali tangannya ketika Hoseok lengah, "Aku pulang dulu," Taehyung pun berlari menjauh.
Taehyung cepat cepat masuk kedalam mobil Jimin disusul oleh Jimin yang panik sendiri melihat Taehyung. "Hey, kau tak apa?"
Taehyung tersenyum sambil menggeleng, "Tentu saja" Taehyung terus mengetik sesuatu lalu mengirimkannya ke seseorang.
Hyung, aku tidak sibuk.
30 detik kemudian Taehyung mendapat balasan dari seseorang itu.
Akan kujemput jam 4 sore dirumahmu.
Sender : Jin-hyung
Hoseok kembali duduk disebelah Jungkook, Jungkook menatap Hoseok bingung. "Kau mengenalnya hyung?" tanya Jungkook, mendengar pertanyaan Jungkook, Hoseok reflek menggeleng. "Tidak terlalu"
Jungkook pun mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan "hyung, kau ada waktu tidak hari ini? Ajak aku keliling Seoul lagi kumohon!" pinta Jungkook sambil mengatupkan tangannya, Hoseok tersenyum lembut sambil mengusap surai hitam Jungkook. "Tentu saja, sebentar aku akan meminta ijin Yoongi-hyung"
.
.
4.30 PM
Taehyung dan Jin sedang duduk disebuah restoran berdua, mereka dilanda keheningan akibat mood Taehyung yang sedikit kacau mungkin.
Tapi itu tidak lama, Jin mencoba menghibur Taehyung dengan menceritakan lelucon picisan kepada Taehyung yg membuat Taehyung tertawa dan sejenak melupakan apa yang Ia lihat di bar tadi. "Jadi dulu Jimin sering ditolak oleh para wanita? Dasar bodoh haha" Taehyung terus tertawa mendengar cerita Jin soal Jimin pada masa lalu.
Jin terus mengamati senyum Taehyung, bibir yang membentuk elips itu membuat dirinya semakin jatuh dalam pesona Taehyung. "Kau manis saat tertawa"
Mendengar ucapan Jin, Taehyung langsung berhenti tertawa dan tersenyum canggung, "Terimakasih hyung" jawabnya formal lalu mengalihkan pandangan.
Baru saja memperhatikan jendela kaca yang ada di restoran itu, tak sengaja Taehyung melihat dua orang yang sedang jalan beriringan juga bergandengan tangan lewat didepan pandangan Taehyung. Mereka tampak serasi, bersenda gurau bersama, bahkan sang uke tampak sangat menggemaskan membuat siapapun gemas melihatnya, tidak seperti Taehyung yang sangat dingin dan cuek.
Mereka adalah Jungkook dan Hoseok. Mereka berdua tidak menyadari keberadaan Taehyung didalam restoran karna mereka hanya berfokus pada dunianya.
Taehyung menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya pada kursinya. Ada apa sebenarnya dengan perasaannya sendiri? Hoseok bukanlah siapa-siapa, lagipula Taehyung tidak pernah mengatakan pada siapapun bahwa Ia menyukai Hoseok, kenapa tiba-tiba Ia kesal melihat Hoseok tersenyum kepada Jungkook seolah… senyuman Hoseok hanya boleh ditujukan kepada Taehyung.
"Jin hyung, ayo pulang" ajak Taehyung kepada Jin, Jin pun mengernyitkan dahinya "Loh? Kita kan baru sampai, sebaiknya kuajak kau bermain di wahana bermain" dengan cepat Jin menarik tangan Taehyung keluar restoran. Taehyung hanya tersenyum bingung dan hanya bisa pasrah mengikuti lelaki yg lebih besar darinya ini.
.
.
2 hari berlalu, Taehyung sudah mulai ke club tempat Hoseok bekerja seperti biasa, ia terkadang membantu Hoseok mengelap gelas gelas kotor, menjadi pengunjung biasa, bahkan lebih sering lagi menjadi 'pengganggu' ––lebih tepatnya seperti radio tua yang sangat mengganggu pekerjaan seseorang––
Hari ini sepulang sekolah Taehyung duduk didepan meja bartender seperti biasa sambil memainkan ponselnya, tumben sekali alat itu berguna bagi Taehyung, biasanya alat itu hanya menjadi alat darurat bagi Taehyung jika Ia sedang butuh bantuan kepada seseorang yang jauh. Melihat tingkah Taehyung yang tidak segan melepaskan pandangannya dari layar ponselnya membuat Hoseok bingung, "Hey bocah, apa yang kau mainkan tampaknya seru" Hoseok mencoba mengintip ponsel Taehyung tapi dengan cepat Taehyung menutupnya.
Taehyung menahan senyumnya sambil terus menutup ponselnya, "Aku tidak main, aku sedang membalas kakaotalk seseorang" ucap Taehyung sambil terus mengetik. Hoseok mendehem, "Oh ternyata kau mulai menyukai seseorang" Hoseok kemudian meninggalkan Taehyung dan malah sibuk menyajikan minuman kepada para pengunjung lain. Taehyung memperhatikan gerak gerik Hoseok, tumben sekali Ia berlaku cuek pada Taehyung. "Apakah Ia cemburu!?" Tanya Taehyung dalam hatinya sendiri, kemudian Ia menyeringai puas lalu tersenyum.
Besoknya, setelah pulang sekolah, Taehyung mengajak Jin ke club dimana Hoseok bekerja. Hoseok bingung melihat Taehyung bersama orang asing yang dicurigai adalah kakak kelasnya. "Mm.. Taehyungie, siapa dia?" Tanya Hoseok sambil memandang tak sedap Jin.
Jin tersenyum lalu memberi hormat, "Apakabar, aku Jin. Kim Seokjin, kakak kelas Taehyung" Jin pun mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Hoseok, namun Hoseok malah meletakkan tangannya kedalam sakunya. Taehyung terkejut, "Hyung?"
"Aku tidak setuju kau mengenalnya" ucap Hoseok dengan cuek lalu kembali bekerja, Taehyung dan Jin sama sama terkejut. Karena tidak enak, Taehyung menghampiri Hoseok, "Hyung? Kau gila? Apa yg kau katakan barusan"
Hoseok masih fokus menyajikan minuman. "Dari sekian banyak murid disekolahmu, kenapa kau berteman dengan orang itu?". Taehyung menaikan alisnya, "Dia baik hyung, kenapa sih hyung tidak suka padanya?"
"Dia buruk bagimu"
"Hyung tidak mengenalnya!"
"Kim Taehyung kau tidak mengerti!"
Taehyung terdiam, bingung harus memperlihatkan reaksi yang seperti apa. "Memang hyung siapa? Berani beraninya melarangku dekat dengannya"
Hoseok tertegun, kali ini Ia yang bingung harus menjawab apa. "Anggap saja aku ini orangtuamu, kau tidak mempunyai orangtua kan? Kalau begitu anggap saja aku ini ayahmu"
"Darimana hyung tau aku tidak memiliki orangtua? Kau ini sebenarnya siapa?!"
"Taehyungie, aku menyayangimu"
Taehyung terdiam sesaat mendengar jawaban Hoseok, jika Ia menyayangi Taehyung, kenapa Ia memangku seseorang tempo hari?! Sebenarnya Hoseok menyukai siapa?
Namun, sayang yang Hoseok maksud bukan itu.
"Aku membencimu, hyung" Taehyung kemudian melangkah menjauh dari tempat Hoseok lalu menggandeng tangan Jin pergi dari bar.
Hoseok hanya menatap Taehyung dari kejauhan, Ia menghela nafas kasar lalu menggumam, "Kau benar-benar tidak mengerti"
.
.
.
.
-TBC-
Woy balik nih wkwk. Sehari kan? Cepet kan? Soalnya w gasabar nulis part yg NC. Sorry gada yoonmin disini -_- mau gua fokusin Jin soalnya/? Udah ah w tidur dulu besok ulangan Inggris jam pertama -_- /? Reviews yang banyak kalo mau gua apdet cepet wks.
