Title: Is It Wrong or True?
Author: Ovieee
Cast: Kim Jongin
Byun Baekhyun
Park Chanyeol, and other
Rated: M
Genre: Drama, Romance
Disclaimer: Cast milik diri mereka sendiri dan cerita milik Ovie.
YAOI! BOYS LOVE! GAY! HOMO! Homophobic? Get away!
Summary: Jongin tidak tahu apa yang dilakukannya benar atau salah.
.
.
Happy Reading
.
Jongin terbangun dari tidurnya, matanya mengerjab beberapa kali, menghalangi sinar yang menyapa retinanya dari jendela besar disampingnya. Dengan wajah masih setengah mengantuk, otaknya berlomba-lomba mengingatkan Jongin akan kejadian tadi malam. Tiba-tiba wajahnya memanas dan ia menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Tapi dirinya langsung keluar kembali dari selimut dan matanya membelalak melihat tubuhnya sendiri dibalik selimut itu. Dirinya masih telanjang.
"Jongin.." Dan suara tersebut mampu membuat seluruh persendian Jongin melemas, ia tak berani menolehkan kepalanya pada sumber suara. Wajahnya kembali memanas.
Jongin mendengar kekehan dan ranjang yang bergerak, ia yakin orang tersebut tengah duduk disampingnya yang sedang berbaring dengan selimut tebal membungkus tubuh telanjangnya.
"Hey sayang" Lagi-lagi jantung Jongin berdegup kencang, ia tak tahu harus menjawab apa, tubuhnya kaku. Ia mendapat elusan dipipinya dari tangan besar tersebut. "Kenapa wajahnya kaku seperti itu hm. Kau lucu sekali sayang" Dan ia mendapat ciuman pagi harinya. Jongin dapat melihat dalam jarak yang sangat dekat wajah kekasihnya yang sedang menciumnya sembari menatap maniknya.
"Nah begitu lebih baik" Ucapnya setelah melepaskan tautan mereka karena wajah Jongin yang lebih rileks.
"H-hyung.."
"Ya sayangku?" Jongin mengantupkan bibirnya dan menatap Chanyeol malu- malu. Namun tak lama setelah itu, tubuhnya menerjang tubuh kekasihnya, memeluk Chanyeol erat dan menyembunyikan wajahnya pada leher. Malu jika wajah merah padamnya dipandangi.
"Malu hyung.." Dan Jongin kembali mendengar kekehan setelah dirinya merengek. Chanyeol mengelus punggung telanjangnya dengan lembut, selimut hanya menutupi bagian mukanya, belakangnya jelas menampakkan punggung Jongin yang seksi dengan setengah belahan pantat yang terlihat.
"Apa aku memuaskanmu tadi malam?"
"Hyung!" Chanyeol terbahak mendengar bentakan manja dari kekasihnya.
"Baiklah baik. Sekarang, kau mandi dulu, sebelum aku kembali menerjangmu karena aroma tubuhmu sayang" Jongin segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh kekasihnya yang sudah berbalut baju santai.
"Aku baru tau kalau hyung mesum" Gerutunya sembari melilitkan selimut pada tubuhnya dan berdiri dengan susah payah karena bagian selatannya yang sungguh sakit seperti terbelah dua. Chanyeol kembali terbahak mendengar gerutuan Jongin.
"Mulai saat ini aku hanya mesum kepadamu sayang" Jongin mendelik pada kekasihnya dan tanpa membalas perkataan lelaki tinggi tersebut ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi terdekat untuk membersihkan tubuhnya yang lengket akibat kegiatan mereka tadi malam. Pipi Jongin kembali memerah.
.
.
.
"Kim Jongin. Ada yang mau ditanyakan?" Jongin tersentak, maniknya menatap dosennya lalu menggeleng. "Perhatikan penjelasanku karena habis ini kuberikan tugas kelompok" Terdengar desahan diseluruh ruangan, tak suka dengan apa yang dikatakan dosen mereka.
"Baik bu"
"Aku tak tahu apa yang mengganggumu hingga membuatmu melamun sepanjang pelajaran. Aku masih mentolerir sikapmu kali ini dan jangan harap ada kesempatan kedua"
"Baik bu" Jongin menunduk untuk menyalin apa yang sudah dituliskan dosennya di papan tulis sebelum mendapat senggolan dari orang disebelahnya. Jongin menoleh, "Apa" Tanyanya datar.
"Tak biasanya kau melamun. Ada apa?" Jongin mendengus, entah kenapa ia tak suka sifat sahabatnya yang super kepo ini.
"Bukan urusanmu"
"Hey, santai man, aku hanya bertanya. Sensi sekali seperti wanita" Alis Jongin berkedut mendengarnya.
"Tutup mulutmu Bobby!" Geramnya dengan penuh penekanan disetiap katanya. Bobby yang melihat itu hanya mengedikkan bahunya.
.
.
.
Brukk!
Jongin yang sedang mengusak rambutnya, duduk dipinggir kasur Chanyeol, tersentak kala kekasihnya duduk disampingnya langsung memeriksa wajahnya dengan kening berkerut serta wajah yang begitu khawatir.
"Hyung ada ap—"
"Katakan padaku, apa kau sakit?" Jongin memasang wajah bingungnya menatap kekasihnya dengan heran.
"Sakit? Tidak kok hyung" Sahutnya sembari melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut dengan mengusak handuk di kepalanya.
Srek
"Lalu itu apa?" Jongin menunduk untuk melihat sesuatu yang diletakkan kekasihnya diatas pahanya, dan seketika wajahnya memucat melihat handuk putih yang diserahkan Chanyeol. Disana, astaga, Jongin tidak tahu kalau noda darahnya semalam bisa menempel di handuk tersebut. "Katakan padaku, apa itu darahmu? Darah apa?" Pertanyaan Chanyeol yang bisa kita anggap pertanyaan mudah tidak dapat Jongin jawab, matanya menatap nanar handuk tersebut seakan berkata, kenapa kau bisa berada disana sialan. Chanyeol tentu saja bertanya pada Jongin mengingat hanya ada mereka berdua disini, dan Chanyeol tidak ingat jika ia pernah berdarah dengan mengelap ke handuknya, jadi ia yakin jika itu darah Jongin. Tapi, darah apa?
"Jongin" Jongin kembali ke dunia nyata, maniknya bertabrakan dengan manik kekasihnya.
"A—aku.." Chanyeol memperhatikan Jongin dan setiap kata yang akan diucapkannya. Tapi lelaki manis dengan kulit tan tersebut seakan membatu, mulutnya terbuka namun tak satu katapun keluar dari bibir berisinya.
"Jangan berbohong padaku dan katakan sejujurnya sayang" Kalimat lembut Chanyeol mampu menembus hatinya, Jongin menatap lekat manik kekasihnya, dan ia putuskan untuk jujur yang sebelumnya ia berencana berbohong pada lelaki bertelinga caplang tersebut.
"A-aku hanya terlalu lama diluar hyung. Kemarin, saat aku menungguimu di taman" Chanyeol menghembuskan nafas panjang.
"Memangnya kau berapa lama disana? Kau datang lebih awal seperti biasa?"
"T-tidak, saat kau datang aku juga baru datang"
"Berapa menit kau duduk disana?" Jongin melihat Chanyeol yang menatapnya marah, nyali Jongin menciut.
"Tidak lama hyung"
"Berapa menit kau duduk disana?" Chanyeol mengulang pertanyaan yang sama karena ia tahu Jongin berbohong untuk meyakinkan dirinya baik-baik saja. Jongin tak menjawab, hanya menunduk sembari memilin ujung handuk yang diberikan Chanyeol tadi. "Kim. Jong. In"
"D-dua puluh menit hyung" Jongin semakin menundukkan kepalanya dan menahan air mata yang tiba-tiba memaksanya untuk keluar saat mendengar kekasihnya sendiri menyebut namanya dengan penuh tekanan disetiap suku katanya. Dan disebelahnya, Chanyeol tengah mengusap wajahnya kasar, nafas yang ia hembuskan pun terasa panas karena marah pada Jongin yang tetap memaksa datang lebih awal padahal kemarin suhu sedang rendah.
"Kenapa kau begitu keras kepala Jong" Chanyeol merebahkan tubuhnya dikasur sedangkan Jongin tak berani bergerak seinchi pun, bahkan bernafaspun rasanya sulit. Ia tak pernah mendapat perlakuan seperti ini dari siapapun, dan sekarang ia merasa terpojokkan karena sifat keras kepalanya yang memaksa datang lebih awal dari jam janjian mereka kemarin. Dan jika kalian ingin tahu, Jongin keluar rumahnya dengan cara mengendap-ngendap agar tidak ada yang melihat dirinya keluar, karena sudah pasti kakaknya melarang dirinya untuk kemana-mana setelah kejadian mimisan hari itu.
"I-itu hanya mimisan biasa hyung" cicitnya, tentu saja Chanyeol mendengarnya. Ia segera bangkit dan menatap Jongin,
"Mimisan biasa kau bilang? Jong, aku tahu kalau kau tidak tahan dingin, namun aku baru tahu kalau kau kelewat kedinginan maka darah akan keluar dari hidungmu yang berarti itu titik terlemahmu sayang!" Chanyeol memegang kedua bahu Jongin dan mengarahkannya kehadapannya, namun lelaki manis tersebut hanya menundukkan wajahnya, ekspresi takutnya jika orang yang ia sayangi tengah marah kepadanya. "Aku bisa dibunuh Jongwoon hyung karena sudah membuat adiknya terluka" Jongin meremas handuk yang berada dipangkuannya.
"Jongwoon hyung sudah tahu aku pernah mimisan hyung. Ia tak akan membunuhmu" Lirihan Jongin membuat tangan Chanyeol tergerak kearah dagunya lalu mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca itu. Mereka memandang wajah masing-masing.
"Kapan ia tahu kau mimisan" Manik Jongin bergerak kekanan dan kekiri. Ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada Chanyeol, karena jika kekasihnya itu tahu, maka ia juga akan setuju dengan usulan Jongwoon yang menyuruhnya untuk berdiam diri dirumah selama musim dingin. Dan Jongin tidak akan mau hal itu terjadi. Apartement Chanyeol dan rumahnya cukup jauh, kampus Chanyeol juga tak searah dengan rumahnya, maka dari itu kekasihnya jarang mampir kerumahnya. Dan lagi akhir-akhir ini Chanyeol tengah disibukkan oleh kuliahnya. Jongin tidak mau, ia tak akan tahan jika tak bertemu kekasih bertelinga caplangnya dalam kurun waktu dua hari.
"Sewaktu aku berumur lima tahun hyung" Jongin tak berbohong, itu kenyataan. Chanyeol kembali menghembuskan nafasnya kasar, ia merasa bersalah. Jongin mimisan saat berumur lima, dan sekarang yang membuat Jongin mimisan adalah dirinya. Ia yakin setelah ini dirinya tak akan lolos dari Jongwoon.
"Baiklah, setelah makan siang aku antar kau kerumah jika kau mau pulang" Jongin hanya diam, tak mau membantah. Karena ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang.
.
.
.
"Jongin?" Tubuhnya kembali tersentak. Entah sudah berapa kali dirinya dikejutkan oleh panggilan orang-orang, apa ia melamun?
"Jongin ada apa denganmu hm?" Jongin merasakan usapan pada pipinya dan ia memejamkan matanya, menikmati sentuhan kekasih mungilnya. Tangannya tergerak ke pinggang Baekhyun lalu menariknya untuk didudukkan di pahanya lantas menyender pada dada orang yang dicintainya ini.
"Bobby berkata padaku kalau kau banyak melamun hari ini. Ada masalah?" Sungguh perhatian kekasihnya ini, Jongin baru merasakannya dan hatinya seketika terasa teriris-iris mendengar Baekhyun mengatakan dirinya melamun, dan sialnya ia melamunkan masa lalu dirinya bersama lelaki brengsek itu. Tanpa sadar, Jongin mengeratkan pelukannya pada tubuh Baekhyun yang untungnya lelaki mungil tersebut selalu berpikiran positif mengenai Jongin.
"Kau lelah hm? Kenapa tidak pulang saja?" Baekhyun mengelus kepala Jongin yang berada didadanya. Kekasih hitamnya hanya diam tak merespon, Baekhyun pun memutuskan untuk ikut diam karena ia pikir Jongin sedang mengistirahatkan otaknya dengan memeluk dirinya karena ia sempat melihat Mrs. Jenny—dosen yang mengajar fisika- keluar dari kelas kekasihnya ini. "Kalau kau mau aku bisa mendengarkanmu dengan baik sayang" Baekhyun berujar pelan dikepala Jongin lalu mengecup puncak kepalanya dengan sayang. Dan dibawah sana, Jongin tengah memejamkan matanya, berusaha mengontrol hatinya yang sedang bergemuruh saat ini.
"Hari ini aku ingin menginap di rumahmu" Baekhyun menatap Jongin—yang sudah melepaskan pelukannya- dengan bingung.
"Kenapa dirumahku, kan biasanya kau yang memintaku untuk menginap di 'istana'mu itu sayang"
"Kali ini aku meminta diriku untuk menginap dirumahmu. Sehabis pulang, kita kerumah dulu untuk mengambil pakaian untukku lalu langsung kerumahmu" Baekhyun menatap kekasihnya tak percaya, jarang-jarang Jongin menginap dirumahnya. Terakhir kali lelaki tan tersebut menginap saat ulang tahun Chelsea lima bulan yang lalu. Namun akhirnya kepalanya mengangguk.
"Baiklah, menginap dirumahku hari ini" Lalu bibir kecilnya tersenyum amat manis. Membuat hati Jongin serasa disengat oleh ribuan lebah, senyumnya sangat menenangkan, namun ada sisi lain yang membuatnya merasa sakit. Jongin tak mau memikirkan hal itu.
.
.
.
Ceklek
"Aku pu—"
BUGH
Jongin yang baru pulang kerumahnya tercengang dengan aksi kakaknya yang membogem mentah-mentah wajah Chanyeol.
"Hyung! Apa yang—"
"Diam kau bocah!" Jongin bungkam melihat wajah kakaknya yang memerah dan urat disana sini, ia tahu kakaknya tidak main-main sekarang, dan tak lama ia merasakan dekapan hangat pada tubuhnya, itu ibunya.
"Jangan lakukan apapun jika kakakmu sudah seperti itu kau tahu kan sayang" Ibunya berbisik seakan menenangkan Jongin namun tidak dengan anak itu. Hatinya tidak sama sekali tenang saat matanya melihat kekasih raksasanya pasrah akan pukulan Jongwoon.
"H-hyung.. A-aku bisa—"
BUGH
"Tutup mulutmu atau aku nenambah sakit diwajahmu"
"A-aku hanya—"
BUGH
"A-aku tidak tahu—"
BUGH
"Hyung!"
"Kalau—"
BUGH
"Hiks.. Hentikan.."
"Jongin tidak—"
BUGH
"Hiks.."
"D-diperbolehkan—"
BUGH
"Keluar—" Bogeman Jongwoon terhenti.
"Apa maksudmu?" Chanyeol mencoba untuk duduk, namun apa daya, fisiknya sangat lemah sekarang akibat dirinya tidak melawan apapun dari bogeman Jongwoon.
"Aku—uhuk!" Chanyeol sedikit tersenyum dibibirnya yang sedikit berdarah saat Jongin dengan cepat duduk disampingnya yang seperti tengah sekarat. "Harusnya kau mengatakan padaku dari awal kalau kau benar-benar tidak diizinkan keluar rumah sayangku" Jongin menangis dihadapan Chanyeol. Ia memang menceritakan perihal dirinya yang tidak diperbolehkan keluar rumah oleh Jongwoon selama musim dingin. Dan Chanyeol amat menyesal sudah menyuruh Jongin untuk bertemu dengannya kemarin. "J-jangan menangis" Lirih kekasih raksasanya sembari menyapu wajah Jongin.
"Hyung" Jongwoon tetap berdiri memandang sepasang kekasih itu dengan marah saat Chanyeol memanggil namanya. "Maafkan aku, aku setuju dengan hyung. Jangan biarkan Jongin keluar rumah selama musim dingin. Aku tidak akan menyuruhnya untuk bertemu diluar, akan aku usahakan sebisa mungkin mampir kesini untuk mengunjungi Jongin" Chanyeol tersenyum kearah Jongin sembari mengelus pipinya yang basah, sedangkan Jongwoon mengubah pandangannya menjadi sedikit lembut dan Nyonya Kim yang tersenyum menatap Chanyeol.
"Bagus kalau begitu. Dan bilang pada Jongin jangan keras kepala lagi" setelah itu Jongwoon berlalu meninggalkan Jongin, Chanyeol dan ibunya. Nyonya Kim mendekati keduanya lantas berjongkok untuk menyetarakan tinggi mereka.
"Bawa Chanyeol ke sofa atau kekamarmu Jongin, obati lukanya. Ibu akan membuatkan kalian coklat panas" setelah Chanyeol berterima kasih pada Nyonya Kim—karena Jongin tak menghiraukannya- ibu dari kekasihnya tersebut kemudian beranjak menuju dapur. Meninggalkan sepasang kekasih yang tengah dilanda kesedihan—bagi Jongin.
"Sudahlah sayang. Ini sepadan dengan apa yang sudah kulakukan padamu" Dan tangisan Jongin kembali terdengar, sedangkan Chanyeol hanya tersenyum maklum. "Ayo obati lukaku biar kau tidak menangis lagi heum.." Jongin hanya mengangguk lalu mendudukkan Chanyeol di sofa ruang tengah dimana terjadi adu mulut antara Jongin dan Jongwoon kemarin malam. Sementara Chanyeol menunggu, Jongin berjalan menuju kotak obatnya mengambil beberapa yang diperlukan. Lelaki yang menunggu disofa menyapu matanya pada seluruh ruangan, dan tak menemukan kakak laki-laki Jongin yang tadi memberinya beberapa bogem yang cukup membuat sudut bibirnya robek dan pipi yang lebam. Lalu bibirnya tersenyum miris karena mengetahui seberapa kaya-nya Jongin. Tak sepadan dengan dirinya yang hanya mahasiswa dan mempunyai apartemen dikalangan menengah.
Langkah kaki membuat lamunannya pecah, ia mendapati kekasihnya berjalan dengan sebaskom kecil air hangat dan juga tas kecil yang terdapat obat dan yang lainnya.
"Tahan ya hyung" Suara gamang Jongin terdengar memecah kesunyiam yang ada.
"Ssshh.." Chanyeol berdesis saat Jongin menyapukan kapas dengan air hangat di baskom tadi. Lalu Chanyeol menggeram merasakan betapa perih bibirnya disapukan oleh alkohol.
"Sebentar lagi hyung.." Chanyeol hanya diam. Dan dahinya mengernyit setelah Jongin mengeluarkan plester luka lalu menempelkannya pada ujung bibirnya yang robek. Ia hanya diam sampai bibir tebalnya tersenyum melihat tatapan khawatir Jongin pada dirinya. "Lumayan?"
"Harusnya kau tak usah menempel ini sayang. Cukup dengan obat merah lalu—"
"Salah ya? O-oke aku ganti—"
"Tidak bukan begitu. Maksudku— biarkan saja seperti ini. Karena ini adalah hasil dari tangan kekasihku sendiri" Lalu tangan Jongin yang digenggamnya diciumnya dengan lembut. Pipi Jongin memerah dan Chanyeol terkekeh melihatnya, mengelus pipinya dengan lembut lalu melepaskannya dengan segera karena—
"Silakan diminum Chanyeol"
"Ah tidak usah repot-repot nyonya" Dan akhirnya terjadi perdebatan memanggil Nyonya Kim dengan sebutan ibu namun lelaki tinggi tersebut berkeras tetap memanggilnya Nyonya. Dan Jongwoon juga ada disana ngomong-ngomong.
.
.
.
BRUKK
"J-Jongin?"
Bukannya menjawab, Jongin malah menyambar bibir mungil Baekhyun dengan rakus. Baekhyun cukup terkejut dengan perlakuan kekasihnya yang tiba-tiba namun setelahnya ia tetap mencoba menyetarakan ciuman Jongin. Tangannya mengalung di leher kekasih tan-nya.
Baekhyun hanya membalas perlakuan Jongin tanpa bertanya karena ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Mereka sudah berada di rumah Baekhyun dan sekarang seharusnya waktu mereka untuk beristirahat karena esok hari akan kembali menapaki kaki di kampus mereka. Namun yang terjadi sekarang adalah Jongin yang menindihi Baekhyun, saling memakan bibir satu sama lain. Jongin yang terlihat bernafsu dan Baekhyun yang terlihat kewalahan menyamakan instensitas ciuman Jongin.
"Enghh Jonghh.." Jongin melepaskan tautannya karena tahu kekasih mungilnya kehabisan nafas. Tapi tak berhenti sampai disitu. Ia menurunkan wajahnya hingga didepan aset berhaga kekasihnya yang sudah sedikit mengeluarkan precum setelah ia menanggalkan celananya. Jongin menyeringai kearah Baekhyun yang juga menatapnya dengan wajah memerah.
Tanpa dikomando, Baekhyun melebarkan kakinya agar kekasih seksinya dapat melihat lubang surgawi milik Jongin yang tengah berkedut minta diisi. Dengan demikian, Jongin mendorong dua jarinya sekaligus memasuki lubang anal Baekhyun yang langsung disedot sehingga jari Jongin masuk dengan sempurna.
"Ngghh.." Baekhyun melenguh dan Jongin semakin terdorong untuk menggerakkan jarinya didalam sana. Matanya beralih pada penis si mungil yang bergerak-gerak pelan minta dipuaskan juga. Maka digenggamlah penis si mungil menggunakan tangan yang nganggur.
"Anghh.. Jongh.." Baekhyun meremas bantalnya saat Jongin mempercepat kocokan pada penis dan lubangnya sekaligus. "Aaannhhh..." Dan sperma milik Baekhyun muncrat keatas lalu jatuh diantara selangkangan si mungil. Jongin mencabut jarinya dari lubang Baekhyun dan menjilat jari yang tadi mengocok penis Baekhyun. Si mungil kembali memerah disela-sela kegiatannya menetralkan nafasnya yang berat.
Jongin bergerak untuk kembali menindihi Baekhyun dan tiba-tiba ia membayangkan dirinya yang tengah disetubuhi oleh Chanyeol diwajah Baekhyun.
"Hyungh.. Terush— Ahh!" Kepala Jongin berdenyut, dahinya mengernyit membuat Baekhyun memandangnya bingung. Jemari lentiknya terangkat untuk mengusap wajah Jongin yang tiba-tiba mengeluarkan keringat di dahinya.
"Hyunghh.. Ahh Ya Tuhan! Deeper hyung!"
"Tidak!"
"Jongin?"
" Aku tak tahan, Chan hyunghh! Akhhh!"
"Argh!" Jongin jatuh menindihi Baekhyun dan menyembunyikan wajahnya di leher sang kekasih mungil. Baekhyun yang kaget akan aksi kekasihnya hanya mampu memeluk dan mengusap sayang kepala serta punggungnya.
"Aku tahu kau sedang lelah Jongin. Jangan terlalu memaksakan" Jongin hampir menangis mendengar kata-kata menenangkan dari sang kekasih. Ia jadi bingung sendiri dengan perasaannya sekarang. Semenjak dia muncul kembali membuat ingatan Jongin tentangnya kembali dan mengingat semuanya perlahan.
Jongin memeluk Baekhyun erat yang dibalas oleh yang mungil dengan mengusap punggungnya serta mencium pipinya berulang dan membisikkan kata-kata penenang. Dan Jongin meminta maaf dalam hati.
.
TBC
.
.
Halo.. Ovie tau.. tau kalau ini pendek banget. Ovie Cuma nyempetin ngetik disela-sela kegiatan sekolah Ovie yang padat karena Ovie udah tingkat akhir dan mendekati UN /kode minta semangat/
Oke, buat chapter ini Ovie Cuma bisa nulis sampai disini dulu biar gak kelamaan updatenya.. Dan.. keluarin aja uneg-uneg kalian tentang ff ini ataupun tentang Ovie di kolom review.
Big Thanks To:
Jongiebottom; ulfah. cuittybeams; ParkJitta; Kim Jongin Kai; Kamong Jjong; park28soonyah; hunexohan; jjong86; Firstkai94; hunkailovers; kanzujackson. jk; Nadia; kanzu. kj; ceypark; cute; firstkai94; laxyovrds; jonginini; VanillaChoco98; dan para SIDERS
P.S: Buat Daily Insya Allah udate malam ini.
P.S.S: Maaf kalau kemaren salah update.
Okay. EXO-L Jjang!
