BECAUSE OF LOVE
Cast : ChanBaek and Others Pairing
Summary : Hanya kisah cinta Chanyeol sang namja desa, dan Baekhyun sang namja kota.
Disclaimer : BaekYeol punya saya karna ini ff saya *authornya ngajak berantem* =w=
Genre : Drama, Romance
Rated : T
Warning :OOC, BOYS LOVE (BL), YAOI, Typo(s) karna author adalah miss typo u.u , Alur amburadul, Kalimat alien(?), cerita ngelantur, judul yang gak nyambung sama cerita, dll.
Ini adalah fanfiction ChanBaek dan ff EXO pertama saya:D Author gak tau, ada yang suka atau enggak. Tapi author mohon no bash couple disini ya? Dont forget! REVIEW PLEASE Happy Reading!
~NH~
Burung-burung berkicauan merdu, berbagai jenis hewan dengan riang dan bebasnya berkeliaran diantara penduduk desa. Tenang saja, mereka semua jinak dan dipastikan tak akan menyakiti manusia. Kecuali jika manusia yang terlebih dahulu menyakiti mereka, bukan begitu?
"Disini memang tak ada kucing ataupun anjing yang biasa kita temui di seoul, tapi percayalah aku dapat melihat hewan-hewan yang jarang ditemui disini!" celoteh Luhan. Sejak tadi, senyuman tak luput dari wajah cantiknya. Apalagi saat beberapa hewan kecil seperti tupai mendekat kearahnya. Ia langsung berteriak histeris karena gemas, yang menyebabkan hewan-hewan itu justru kabur.
"Hmm.. hmm.." Kyungsoo menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Luhan. Kini keduanya sedang menuju ke basecamp, dimana para panitia menyediakan sarapan, dan sebagainya disana.
"Kyungsoo!" Kyungsoo menoleh dan mendapati Xiumin yang berlari menghampirinya. "Ada apa Minseok hyung?" Tanya Kyungsoo. Xiumin membungkuk, dengan rakus mengambil nafas untuk mengisi pasokan udara di dadanya. Kyungsoo menyodorkan sebotol air minum yang memang dibawanya, dan diterima senang hati oleh Xiumin. "Ahh..Gomawo Kyungsoo-ya!" Ucap Xiumin lalu segera meminum minuman itu.
"Ah, iya! Kau pandai memasak 'kan? Panitia membutuhkan bantuan untuk bagian pengolah makanan!" Ucap Xiumin.
Luhan dan Kyungsoo berpandangan. Luhan mengangguk pada Kyungsoo, yang dibalas senyuman dibibirnya. Sudah menjadi ketentuan memang, membuat makanan biasanya dibuat bersama-sama baik guru maupun murid boleh membantu. "Aku akan membangunkan Bacon pemalas itu dulu, kau duluan dengan Xiumin hyung." Ucap Luhan sebelum akhirnya melambaikan tangannya dan kembali ke villa untuk membangunkan Baekhyun.
~NH~
"BAEKHYUN!"
Luhan membuka pintu dan segera menuju ke kamar Baekhyun untuk membangunkan dongsaengnya itu. "Baekhyun! Apa kau belum bangun? Pemalas sekali!" Luhan terus mengetuk pintu itu, hingga kesabarannya habis dan akhirnya ia mencoba membuka pintu itu dan.. Terbuka! "Apa Baekhyun lupa mengunci pintunya ya?" Gumam Luhan. Luhan menggedikan bahunya dan segera masuk ke kamar Baekhyun. Dan tak mendapati Baekhyun disana.
"Baekhyun?! BAEKHYUN!" Luhan menggeledah kamar mandi dan segala tempat yang memugkinkan keberadaan Baekhyun, Luhan mendapati bahwa jendela salah satu vila nya terbuka. Jendela itu menghadap ke taman yang dekat dengan hutan.
Bayang-bayang saat Baekhyun menghilang kemarin muncul di kepala Luhan. Luhan kembali terisak dan kelabakan untuk mencari Baekhyun ke dalam hutan.
~NH~
Krusuk krusuk
Sebuah semak-semak nampak bergerak tanpa pengaruh angin atau semacamnya. Namun jika dilihat lebih detail lagi, ada sepasang mata yang mengintip dari sana. Sepasang mata sipit dengan bola mata indahnya terus mengawasi kelinci putih yang berada di sebuah taman yang sangat kecil. Hanya ada ayunan dan perosotan saja disana.
"Aku akan menangkapmu!" Desis pria itu sebelum akhirnya meloncat untuk menangkap kelinci putih yang juga membuatnya tersesat kemarin malam.
BRUKK
Baekhyun melirik tangannya yang nampak tak mendapatkan kelinci itu lagi, tapi kemudian sepasang kaki berbalut sandal jepit berada ditepat di depannya. Baekhyun mendongak, namun ia tak dapat melihat jelas si pemilik kaki karena sinar matahari yang menyilaukannya.
Baekhyun terbangun dari telungkupnya, ia duduk sambil membersihkan debu pasir yang menempel di baju yang ia pakai tidur semalam.
"Kita bertemu lagi ya?" Ucap sosok itu.
Suara berat ini begitu familiar di telinganya. Ini adalah suara-
"Chanyeol!" Baekhyun memekik senang, ia segera berdiri dari duduknya dan menepuk bokongnya untuk menghilangkan debu. "Kita bertemu lagi!" Lanjutnya. Baekhyun tersenyum sangat manis sampai matanya menyipit dan membentuk sabit. Namun matanya terpaku pada sosok kecil yang digendong Chanyeol. "Kelinci itu!"
Chanyeol mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan kelinci ini?" Chanyeol dapat melihat Baekhyun yang tampak menggeram gemas. "Aku sudah mencoba menyentuhnya, tapi dia terus-terusan kabur. Bahkan aku sampai tersesat di hutan kemarin. Oh Tuhan dia benar-benar menggemaskan~" Baekhyun mencoba menyentuh kelinci putih itu, namun kelinci tersebut kembali menghindari sentuhan Baekhyun.
Chanyeol terkikik dengan sikap Baekhyun yang belum putus asa untuk dapat menyentuh kelinci itu. "Kau jelas tak akan bisa menyentuhnya. Ia sulit menerima orang baru." Ucap Chanyeol yang membuat Baekhyun menghentikan usahanya untuk menyentuh kelinci tersebut.
"Dari mana kau tau?"
"Tentu saja aku tahu, dia kelinciku."
JEDEERR
Bagaikan tersambar petir Baekhyun mematung saat Chanyeol menyatakan bahwa itu adalah kelinci peliharaannya. "Ke-kelincimu?"
Chanyeol mengangguk, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Ini. Berikan ini dan dia akan menghampirimu." Chanyeol mengeluarkan sebatang wortel yang nampak masih segar dan memberikannya pada Baekhyun, lalu menurunkan kelinci tersebut. Baekhyun menerimanya dengan ragu, kemudian ia berjongkok dan menyodorkan wortel itu pada kelinci Chanyeol. Awalnya kelinci itu terlihat tak tertarik dan hanya memandang Baekhyun, mungkin ia ragu, namun Baekhyun tersenyum amat manis seolah meyakinkan bahwa dirinya tak berbahaya.
Sedikit demi sedikit kelinci itu melangkah mendekati Baekhyun. Baekhyun pun tegang dan tak ingin mengeluarkan gerakan apapun yang membuat kelinci itu kabur lagi, bahkan ia menghembuskan nafasnya dengan sangat pelan dan sesekali menahan nafasnya.
Satu gigitan pada wortel itu, dan Baekhyun masih menahan pergerakannya.
Dua gigitan, Baekhyun sudah sangat ingin teriak namun masih ia tahan.
Tiga gigitan, Baekhyun menahan nafasnya dan senyuman bahagia tak lepas dari wajah cantiknya.
Empat gigitan dan bahkan kini kelinci itu sudah mengambil alih wortel di tangan Baekhyun. Dan Baekhyun semakin tersenyum lebar.
"BERHASIL!" Pekik Baekhyun girang. Tanpa sadar Baekhyun meloncat mengalungkan tangannya di leher Chanyeol dan memeluk pria jangkung itu dengan erat sambil tersenyum senang. "Aku berhasil Chanyeol! Aku berhasil! Hahaha~" Tawa bangga terus mengalun dari bibirnya.
Chanyeol terpaku saat tiba-tiba Baekhyun meloncat memeluknya erat, membuatnya menenggelamkan wajah pada leher dan bahu mulus Baekhyun. Hidung Chanyeol bahkan menempel dengan perpotongan antara bahu dan leher putih itu, ia dapat menghirup dengan amat jelas wangi vanilla yang menguar dari baby skin Baekhyun. Ia tak dapat mengendalikan dirinya, ia hanya terpaku dengan tawa Baekhyun, tubuh Baekhyun, serta hangatnya pelukan Baekhyun.
Baekhyun mengendurkan pelukannya, wajah mereka berhadapan bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan. Tentu Chanyeol merasa seribu kali lebih terpaku dari yang tadi, namun Baekhyun terus tertawa senang hingga ia tak menyadari perbuatannya yang nyaris membuat jantung Chanyeol berhenti saat itu juga. "Aku berhasil Chanyeol. Hehehe~"
Baekhyun menghela nafasnya yang langsung menerpa wajah Chanyeol di depannya. Ia mulai berdiri dengan normal –karena tadi Baekhyun berjinjit- dan menyenderkan kepalanya pada dada bidang Chanyeol sambil sesekali terkekeh senang.
Chanyeol mulai bisa mengendalikan dirinya, ia memeluk pinggang ramping Baekhyun dan mengelus kepala Baekhyun dengan lembut. "Ya, kau berhasil."
Mendengar suara berat Chanyeol, Baekhyun seakan tersadar bahwa ia saat ini bersama Chanyeol. Baekhyun langsung menghentikan tawanya, dan wajahnya langsung memerah seketika. Dalam hati ia terus mengumpat kenapa ia tak sadar bahwa orang di depannya ini adalah Chanyeol. Karena terlalu senang dan karena Chanyeol tak mengeluarkan suaranya sedari tadi, Baekhyun jadi harus melakukan hal memalukan ini.
"KYAAAA!" Baekhyun berteriak dan mendorong dada Chanyeol hingga pria jangkung itu kehilangan berat badannya dan terjatuh kebelakang bersama Baekhyun karena tangan Chanyeol yang masih bertengger di pinggang Baekhyun.
BRUKK
~NH~
"Kyungsoo-sshi?"
Kyungsoo menghentikan kegiatannya mengaduk sup dan tersenyum pada Jung Songsae yang menghampirinya. "Ye, Songsae?"
"Mm.. bisakah kau mencari sayuran? Kupikir di hutan banyak sayur-mayur yang bisa diolah." Pinta Jung Songsae pada Kyungsoo. "Hu-tan?" Entah kenapa setiap mendengar kata hutan Kyungsoo langsung teringat pada kejadian waktu itu. Itu adalah pertama kalinya Kyungsoo tersesat dalam hutan sendirian. Beruntung ada Jongin yang menolongnya waktu itu.
"Tenang saja kau ditemani Tao kesana." Kyungsoo mengangguk dan pekerjaannya mengaduk sup digantikan oleh Jung Songsae.
~NH~
"Baekhyun! Baekhyun! Baekhyun hiks." Luhan berlari dengan kalap mencari-cari keberadaan Baekhyun. Nafasnya terengah-engah, ia mendudukan dirinya didekat sungai kecil yang ia temukan. Luhan mengambil air itu menggunakan tangannya dan mengusap wajahnya, pria manis itu menatap sendu pantulan wajahnya di sungai.
Dadanya berdentum keras, keadaannya sekarang sama persis dengan keadaannya dulu saat kabur ke hutan. Luhan berdiri dari duduknya, menatap pohon-pohon yang kini menjadi halusinasi seperti Luhan kecil dulu. Luhan menjambak rambutnya, ia menatap pakaiannya yang berwarna putih dan celana jeans sama seperti beberapa tahun lalu.
Bayang-bayang akan Luhan kecil yang menangis ketakutan dihutan kembali terngiang di telinganya, Luhan kecil yang hampir mati kelaparan dengan luka luka disana sini.
"ARGGGHH!"
Luhan mengerang dan mulai berlari tak tentu arah, pandangannya tertutupi oleh air mata yang menggenang. Ia terus berlari, mengabaikan kulitnya yang telah besot sana-sini karena menabrak ranting. Tanpa sengaja kakinya terpeleset batu dan ia terjatuh, terjatuh tepat ke arah jurang yang cukup curam.
"A-a-a-ah.. B-baekhyun… K-kyung-soo.. S-s-sehunn!" Luhan tidak tahu, entah kenapa nama Sehun tiba-tiba lewat di kepalanya saat ia hendak jatuh. Luhan berharap dia dapat jatuh dan meninggal dengan tenang. Sudah tak ada harapan lagi untuknya selamat, tak ada siapapun disini.
"Selamat tinggal."
BRUK BRAKK
Beberapa detik berlalu, sepatu putih dengan ukiran LH dipinggirnya terjatuh berguling ke dalam jurang. Deruan nafas dua orang terdengar saling beradu, pria berkulit lebih putih menatap pria cantik diatas tubuhnya yang terpejam dengan air mata di ujung kelopaknya.
"H-hei Luhan. Luhan, irreona." Sehun nyaris menepuk-nepuk pipi Luhan jika saja bayang-bayang saat Luhan menceritakan bahwa ia tidak menyukai hutan sambil menangis padanya tiba-tiba muncul. "Dia pasti shock."
Sehun tidak berbicara lagi, ia hanya duduk dan mendekap Luhan, berusaha memberikan kenyamanan terbaik untuknya.
~NH~
Kyungsoo sedang asik memetik sayur mayur segar yang berjejer di sekitar permukimam warga –warga sana sudah mengizinkan mereka untuk memetik sayuran seperlunya- tapi kegiatannya mendadak terhenti saat melihat seseorang yang beberapa hari lalu bertemu dengannya dengan kulit putih macam orang penyakitan –Kyungsoo tidak mendengarkan perkenalan mereka- kini sedang menggendong seseorang yang sepertinya dikenalnya.
"Lu..han ge?" Kyungsoo menyipitkan matanya, Gegenya itu nampak pingsan dan pemuda berkulit albino itu membawanya ke suatu tempat. Mungkinkah namja albino itu hanya berupura-pura baik demi memperkosa Luhan?
Oh tidak! Luhan bahkan masih perawan, Kyungsoo tidak boleh membiarkan keperawanan (?) Luhan jatuh pada namja desa pembohong itu. Kyungsoo harus menghajarnya, setidaknya mendapatkan bukti bahwa namja albino itu benar-benar ingin memperkosa Luhan ge nya.
Dengan mata yang membelalak lebar Kyungsoo mengikuti namja albino itu, bahkan mengabaikan suara Tao yang terus berteriak untuk menanyakan kemana tujuannya pergi tanpa mengikutinya.
.
.
.
"A-apa ini?"
Kyungsoo melotot kagum pada bangunan besar nan megah yang keberadaannya tersembunyi oleh beberapa pohon tua besar di sekitar hutan. Rumah bercat putih dengan desain ala zaman eropa dengan halaman yang benar-benar tidak terurus.
"Seperti rumah hantu yang tak layak ditempati.."
Kyungsoo merinding, ia ingin segera pergi dari tempat itu tapi namja albino tadi membawa Luhan kesini. Kyungsoo jadi makin curiga, apa Luhan akan benar-benar di perkosa di tempat macam ini? Tidak elegan.
"Kasihan Luhan ge, setidaknya ia harus diperkosa di tempat yang layak. Kenapa di tempat seperti ini?" Gumam Kyungsoo. Namun tak lama ia memukul ringan kepalanya karena merasa benar-benar berharap bahwa Luhan akan diperkosa.
Dengan keberanian yang benar-benar dipaksakan Kyungsoo melangkahkan kakinya masuk ke dalam perkarangan rumah itu yang pagarnya tidak dikunci sama sekali. Ia melangkah masuk dan sekarang berdiri tepat didepan pintu bercat coklat yang besar dan tingginya dua kali dari tubuhnya.
"P-p-permisi.." Kyungsoo melirik-lirik sekitarnya sambil meraih gagang pintu besar tersebut, ia berusaha menariknya namun pintu itu tak kunjung terbuka. Kyungsoo tetap berusaha menarik sekuat tenaga dengan mulut yang terus mengeluarkan umpatan kecil, bahkan sebelah kakinya sekarang ikut mendorong pintu besar itu.
"Apa yang kau lakukan?" Sebuah suara terdengar tepat dibelakang Kyungsoo.
"Huaa! Maafkan aku.. maafkan aku.. aku hanya ingin menyelamatkan Luhan ge. Maafkan aku.. maafkan aku..." Kyungsoo berjongkok, ia menutup telinganya dan memejamkan matanya erat. Tubuhnya makin menggigil ketakutan saat makhluk itu memegangi kedua pundaknya.
"Kyungsoo.."
"HIYAAA…Maafkan aku..! A-aku hanya-"
Kyungsoo membuka matanya saat dagunya di tangkup oleh seseorang. "K-kai?" Kyungsoo melotot tak percaya pada Kai yang kini berada di depannya. Kai tersenyum menampilkan deretan giginya dan membantu Kyungsoo berdiri dari duduknya.
"Kau benar-benar penakut Kyungsoo-ya, haha." Kai tertawa, membuat Kyungsoo mencibir.
"Apa maksudmu penakut? Wajar aku takut, lihat! Bangunan ini mengerikan!" Kyungsoo mengarahkan telunjuknya pada bangunan megah disampingnya, wajahnya nampak menahan sesuatu, seperti aura ketakutan contohnya hahaha /ditabok Kyungsoo/.
Kai menatap Kyungsoo, lalu mengangguk-anggukan kepalanya bak detektif yang menemukan suatu kesimpulan. "A-ada apa?" Kyungsoo menatap Kai dengan takut-takut.
"Aniyo. Tapi aku memang pernah mendengar tentang hantu pemilik rumah ini yang selalu menjaganya. Tiga hantu namja yang akan menyambut siapa saja yang datang ke rumah mereka. Hantu pertama memiliki keperawakan yang tinggi, dia memiliki obsesi akan sesuatu yang lucu. Dia mati karena mencari kelinci putih bermata merah miliknya yang lari ke tengah hutan. Hantu kedua bisa dibilang memiliki wajah yang paling tampan, dia mati karena semua saudara tiri perempuannya memperebutkannya. Hantu ketiga, namja dengan kulit sepucat mayat. Ia mati karena wajah datarnya yang malapetaka. Ketiga hantu tersebut sangat terkenal di desa ini, semua penduduk bahkan mengenalnya. Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan ini padamu, tapi-"
Kai menyilangkan tangannya, kedua matanya tertutup namun jika dilihat lebih teliti ia menyempatkan diri sedikit mengintip untuk melihat reaksi Kyungsoo.
"Beritahu aku! Cepat katakan~!" Desak Kyungsoo hingga badan Kai oleng kanan-kiri karena guncangan dari Kyungsoo.
"Aku ragu mengatakannya, tapi ku pikir tak ada salahnya jika kau tahu." Ucap Kai yang terkesan ragu-ragu.
"Beritahu~! Apapun informasi itu beritahu aku, jebal~" Kyungsoo merapatkan kedua tangannya, mata lebarnya berkedip-kedip memohon, bibirnya tak sengaja melengkung kebawah, menciptakan ekspesi menggemaskan yang tak sengaja dilakukannya.
"A-a- ba-baiklah…" Ucap Kai pada akhirnya. Kyungsoo tersenyum, ia memainkan jarinya tak sabar akan cerita Kai. Aku akan cepat mati kalau dia terus melakukannya.
Kai berdehem, mencoba mendapatkan perhatian penuh dari Kyungsoo. "Begini, banyak warga yang bilang bahwa mereka akan mengganggu orang asing yang berani menapakkan kakinya di sekitar rumahnya."
Kyungsoo berkedip sesekali, "O-oh begitu? Ini adalah rumahnya?"
Kai mengangguk, "Yup."
"Dan aku orang asing?"
Kai mengangguk lagi.
"Apa aku mengganggu mereka?"
"Eoh? A-ah, bisa dibilang begitu, mungkin?" Kai mengusap belakang lehernya ragu.
"Jadi… apa mereka akan menggangguku?" Tanya Kyungsoo serius. Bulir keringat sebesar biji jagung menetes di rahangnya.
"Mm.. ya.. mungkin."
"…"
Wajah Kyungsoo memucat. Sebelumnya ia belum pernah benar-benar takut pada hantu, tapi untuk kali ini ia percaya. Lagipula ia sering melihat di film horror yang sering Ryeowook hyung tonton –mereka sering menyelinap masuk dan menginap di rumah Baekhyun- kalau biasanya desa terpencil itu memiliki sejarah horror tersendiri.
"K-kai… beberapa menit lalu aku melihat seorang namja berkulit putih pucat yang membawa Luhan ge kesini, tapi sekarang aku tak melihatnya. A-a-apa dia salah satu dari hantu itu?" Tanya Kyungsoo takut-takut, tangannya bergetar dan giginya bergelatuk.
"Ah! ITU DIA HANTUNYA! KAU SUDAH PERNAH MELIHATNYA!" Kai berteriak keras, nyaris membuat jantung Kyungsoo copot di tempat.
"HUAAA! KITA HARUS MENCARINYA! KITA HARUS! KALAU TIDAK LUHAN GE AKAN DIPERKOSAA!" Kyungsoo berteriak histeris, ia menarik paksa tangan Kai untuk diajaknya mencari Luhan.
"Diperkosa?" Gumam Kai heran sebelum akhirnya pasrah ditarik Kyungsoo berkeliling di sekitar rumah itu.
~NH~
"Ihihihihi~" Baekhyun asik terkikik saat jarinya tak sengaja dijilat oleh kelinci putih Chanyeol saat memakan wortel ditangannya. Sedari tadi ia masih asik bermain dengan kelinci itu sejak kelinci itu menjadi jinak padanya, mengacuhkan Chanyeol yang kini duduk setengah meter dibelakang mereka dengan wajah tertekuk.
Jujur saja, Chanyeol bukan tipe orang yang suka diacuhkan. Untuk pertama kalinya, Chanyeol benar-benar membenci kelinci putih miliknya karena telah membuat Baekhyun mengacuhkannya.
"Emm.. Chanyeol-ah?" Panggil Baekhyun pada akhirnya, dan tentu dijawab antusias oleh Chanyeol. "Ne? Wae geurae?"
"Saat itu kau bilang semua keluargamu meninggal karena kecelakaan bukan? Dan gubuk tak terpakai di tengah hutan itu adalah rumahmu. Jadi sekarang kau tinggal dimana?" Baekhyun menatap Chanyeol yang menatap datar ke arahnya. Lagi. Baekhyun merasa penah melihat mata itu sebelumnya.
"Aku –tinggal bersama teman-temanku." Ada tarikan nafas sebelum Chanyeol benar-benar menjawab Baekhyun. Setelahnya Chanyeol tersenyum hambar, bersama ketiga temannya pun ia sudah cukup bahagia.
Cukup sudah, Baekhyun sepertinya tak akan menanyakan tentang hal itu lagi. Baekhyun mengerti, Baekhyun juga kehilangan orang tua. Ia beruntung karena pada saat itu ia masih memiliki hyung yang sangat menyayanginya. Lalu tak lama Kyungsoo dan Luhan datang menemaninya dan menjadi sahabatnya, itu adalah suatu anugrah setelah ia di tinggal kedua orang tuanya.
"Tapi untuk beberapa alasan, para penduduk disini menyuruhku untuk menjauhi mereka semua. Bahkan mereka memintaku untuk menghapus semua ingatanku tentang mereka." Baekhyun tercekat. Benarkah penduduk seperti itu? Sepertinya mereka semua orang baik, tapi kenapa terhadap Chanyeol –atau ada sesuatu yang aneh dengan kedua teman Chanyeol?
"Tapi aku tak bisa.. aku tak bisa menjauhi mereka... Dan pada akhirnya aku sama seperti mereka –ditiadakan dari desa ini. Dianggap tidak ada meski kami berkeliaran, dianggap angin lalu meski kami bercoba berinteraksi dengan mereka." Wajah Chanyeol mendadak sendu, ketiganya bagaikan hidup sendiri di dunia ini. Tak ada satupun yang memperdulikan mereka.
Nafas Chanyeol tercekat saat sepasang tangan menangkup pipinya, membawa wajahnya agar menatap sang pemilik tangan. Baekhyun tersenyum, tersenyum seolah-olah meyakinkan bahwa Baekhyun selalu ada untuknya, dan itu membuat Chanyeol sedikit tenang.
"Bukan masalah. Asalkan kau memiliki teman-teman, itu bukan masalah." Ucap Baekhyun yang bertujuan untuk membuat hati Chanyeol tenang. Baekhyun tidak tahu, meskipun ia adalah penakut tapi ia bukan termasuk orang yang cengeng jika itu tidak bersangkutan tentang dirinya. Tapi kali ini, Baekhyun merasa benar-benar ingin menangis.
Baekhyun melingkarkan tangannya pada leher Chanyeol,memeluk Chanyeol dengan erat dan menenggelamkan kepalanya pada bahu Chanyeol. "Sekarang kau memiliki aku, kita adalah teman. Dan kau akan memiliki lebih banyak teman lagi nantinya, percayalah."
Chanyeol tercekat, ia tak bisa berkata apapun. Ini untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengakui keberadaannya selain kedua sahabatnya, dan orang itu adalah Baekhyun. Air mata mulai turun membasahi pipinya, ia merasa terharu dan juga merasa lega.
Chanyeol menarik pinggang Baekhyun untuk semakin mengeratkan pelukannya, membuat Baekhyun kini bertumpu dengan lututnya. Chanyeol menenggelamkan kepalanya pada perpotongan leher Baekhyun, dan menangis disana.
~NH~
"Hah itu dia!" Pekik Kyungsoo saat melihat 'hantu' yang dimaksudnya yang kini sedang meletakkan Luhan di salah satu kamar. "Sudah kuduga, dia pasti ingin memperkosa Luhan ge!"
Kai memutar bola matanya, niatnya mereka hanya ingin mencari sampai di halaman belakang saja, namun karena Kyungsoo memaksa maka jadilah mereka masuk ke dalam juga lewat pintu belakang. Dan kini mereka seperti pencuri yang mengendap-endap di rumah besar.
"Kai apa yang kau lakukan? Kita harus menyelamatkan Luhan ge!" Kyungsoo merengek, ia menarik-narik ujung kaus Kai, memohon agar Kai melakukan sesuatu mewakili dirinya. Namun Kai menggeleng, ia tak akan melakukannya, sungguh. Ini sudah kesekian kalinya Kyungsoo merengek, dan sudah kesekian kalinya pula ia kalah oleh rengekan Kyungsoo.
"Haish! Baik akan kulakukan sendiri!" Cibir Kyungsoo. Mata bulat Kyungsoo menjelajah disekitar ruangan itu, sempat terpintas pertanyaan di otaknya karena rumah ini seperti masih ditinggali. Kyungsoo menemukan sebuah kayu yang tidak terlalu tebal dan tidak terlalu panjang, ia mengambilnya dan digunakannya untuk menyerang si 'hantu' nanti.
"Hei Kyungsoo apa yang kau-"
"HIYAAA Pergilah menjauh dari Luhan ge!"
"Hey apa ya- ARGHH!"
BUKK
'Hantu' tersebut berhasil tumbang, Kyungsoo berkacak pinggang bangga karena lawannya telah K.O. Kai menepuk jidatnya, sepertinya ia sudah kelewatan. Dan satu hal yang sepertinya harus Kai catat, Kyungsoo sangat polos dan mudah dibohongi. Mungkin jika ada ahjusshi jahat yang ingin menculiknya hanya tinggal memberikannya permen dan taraa, jadilah Kyungsoo diculik. Batin Kai.
Wajah bangga itu tak lama sirna setelah mendapati keanehan pada 'hantu' yang tadi dipukulnya. Ia mengerutkan alisnya dan menatap sang 'hantu' bingung.
"Kai, dia tidak seperti hantu. Dia memiliki kaki dan –berdarah?"
~NH~
"A-a-adudududuh! Pelan sedikit dong!"
"Diam saja kau!"
"Ini salahmu! Aku jadi dipukul oleh mata besar itu!"
"Apa maksudmu mata besar?"
"Kau adalah mata besar! Kau tidak tahu?"
"O-orang ini.. Kai! Biar aku yang mengobatinya!"
"A- aniya, kau tak usah repot-repot Kyungsoo. Biar Kai saja yang melakukannya."
"Tidak apa-apa aku saja! Brikan padaku!"
"He-hei a-a-ARGHHH KAU MENEKANNYA!"
Suara gaduh itu terus saja bersahutan, melupakan masalah awal dan menimbulkan masalah baru. Juga mengabaikan namja cantik yang nampaknya mulai terganggu pada tidurnya.
"Enghh.." Luhan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit, membiarkan matanya terbiasa akan bias cahaya. Tapi pendengarannya terusik oleh suara ricuh di dekatnya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati tiga orang yang dikenalnya ricuh meributkan sesuatu.
Kyungsoo yang masih berusaha untuk menekan luka Sehun lebih dalam, Kai yang berusaha melerai keduanya meski tak dapat membuahkan hasil apapun, dan Sehun yang terus merintih dan mengumpat secara bergantian.
"Kyung-" Luhan hendak memanggil Kyungsoo, namun terhenti karena mendengar suara orang yang dicari-carinya.
"Lho? Kyungsoo? Sedang apa disini?" Baekhyun yang datang bersama Chanyeol menatap heran Kyungsoo, Kai dan Sehun yang terlihat rusuh.
"Eh?" Kyungsoo melebarkan matanya, kenapa Baekhyun juga ada disini? Bukankah ini rumah berhantu? Kyungsoo menyipitkan matanya pada Kai, dan Kai melengos, membuat Kyungsoo semakin curiga karenanya. Kyungsoo mengamati Chanyeol.
Keperawakan tinggi dan kelinci putih? "Hei, apakah kau menyukai sesuatu yang terlihat lucu?" Tanya Kyungsoo pada Chanyeol. Chanyeol menunjuk dirinya –karena Kyungsoo tidak menyebutkan siapa nama yang menjadi lawan bicaranya-, dan Kyungsoo mengangguk.
"Darimana kau tahu? Aku menyukainya, kelinci ini juga termasuk dalam kategori lucu." Jawab Chanyeol. Itu benar.
"Apa Kai memiliki banyak saudara perempuan?" Tanya Kyungsoo lagi.
"Kenapa tidak bertanya langsung padanya?"
"Hei aku bertanya padamu." Omelan Kyungsoo terdengar menyeramkan. Chanyeol menatap Baekhyun yang dijawab anggukan oleh namja itu. Jika Kyungsoo sudah seperti ini, maka apapun perintahnya lebih baik dituruti.
"Emm.. ya. Dia dulunya tinggal di salah satu panti asuhan." Binggo. Tapi dia bukanlah yang paling tampan.
"Hanya satu yang perlu dipastikan, tapi orang ini dari luarnya saja sudah terlihat datar. Jadi mungkin tidak perlu bertanya sudah pasti 'kan?" Gumam Kyungsoo.
"Kau mau bertanya apa lagi? Tentang Sehun? Dia yang dulu memiliki wajah yang lebih datar." Ucap Chanyeol yang membuat semuanya menjadi jelas. Ketiga 'hantu' itu bukanlah benar-benar hantu, kalian adalah ketiga 'hantu' jejadian itu.
Kyungsoo geram, ia menatap Kai dengan sangar. Ini adalah pertama kalinya Kyungsoo takut akan sesuatu, dan ternyata itu semua adalah bohong. "Kai.. lebih baik kau ikut aku. SE-KA-RANG."
Kai meneguk ludahnya, ia hanya mengangguk dan pasrah mengikuti langkah Kyungsoo yang kini memimpin satu meter didepannya. Sedangkan ketiga orang disana menatap Kyungsoo dan Kai dengan heran, ada apa dengan mereka berdua? Batin ketiganya.
"Luhan ge?" Baekhyun menatap Luhan yang berbaring di Kasur. –Karena diacuhkan, Luhan memilih untuk tidur lagi- "Ada apa dengannya?" Tanya Baekhyun pada Sehun. Sehun menatap Luhan, lalu menghela nafasnya. "Dia tersesat di hutan, dan hampir saja masuk ke jurang."
"J-j-jurang?!"
~NH~
"Cemilan~ Kali ini aku membuat cake chocolate untuk pencuci mulutnya, aku juga membuat jus buah yang masih segar." Kyungsoo tersenyum sembari membawa nampan berisi jus dan kue dibantu Luhan di belakangnya.
"Choco? Jinjja? Arrhhh I LOVE CHOCO!" Baekhyun mengepalkan tangannya keatas dengan semangat, jika di anime mungkin bendera kebahagiaan sudah bertebaran di sekitar ruangan besar itu.
"Tunggu dulu Baek hyung! Biar pemilik rumah dulu yang mencicipinya." Ucap Kyungsoo sopan.
"Biar saja, bukankah harusnya tamu duluan?" Ucap Kai sambil menggedikan bahunya.
"Ya, ya, tamu harus duluan!" –Baekhyun.
"Tamu macam apa yang memasak makanannya bahkan dengan sembarangan menggunakan dapur dan bahan makanan?" –Luhan.
"Kau menyindirku ge? Lagipula mereka tidak berniat memberikan kita makanan apapun!" –Kyungsoo.
"Bukankah kau sendiri yang berjalan ke dapur dan berkata 'Aku akan membuat makanan' tanpa mendengar apapun komentar dari pemilik rumah, huh?" –Sehun.
"Memangnya kenapa? Apa kau mau membuat suatu makanan sebelumnya Sehun-ah?" –Kai.
"Tidak! Jangan biarkan Sehun memasak! Bahaya! It's Dangerous!" –Chanyeol.
"A- Kenapa jadi bertengkar?" Baekhyun menatap heran pada kelima orang yang masih sibuk berdebat, ia mengangkat alisnya dan mengambil kue coklat yang sudah dinantinya, serta memakannya dengan polos sambil memperhatikan kelimanya berdebat.
"Hei Luhan, dia bahkan pada saat itu hampir membakar dapur."
"Hentikan! Kenapa kau mengungkitnya, pabo!"
"Untungnya hanya pancinya saja yang terbakar, jadi kami tidak perlu membersihkan kekacauan yang lebih parah."
"Sudah kubilang hentikan! Sial!"
"Memangnya kau masak apa Sehunie?"
"Aniyo! Jangan dengarkan mereka berdua!"
"Mungkin memasak sesuatu yang sulit, makannya bisa seperti itu. Dulunya aku juga sering membuat dapur kacau karena mencoba resep yang sulit."
"Tidak Kyungsoo-ya, Sehun bahkan memasak hal yang mudah."
"Ah~ Aku jadi penasaran apa yang Sehunie buat."
"Andwee!"
"Dia benar-benar bodoh dalam memasak."
"Jadi apa yang ia masak?"
"ANDWEEEE!"
"Dia hanya…"
"ANDWEEEEE! JANGAN KATAKANN!"
"…..Masak air."
DOENGGG~
"A-a-APAAAA?!"
"BAGAIMANA BISA! APA YANG KAU LAKUKAN? BAHKAN MEMASAK AIR DAPAT MEMBUAT PANCI GOSONG!"
"BERISIK!"
"APA MAKSUDMU BERISIK BODOH! KAU BENAR-BENAR BODOH ALBINOO!"
"Aku turut berduka cita untuk pancinya."
"Kau juga menghinaku!"
"Aku berdoa untuk pancinya Sehunie."
"ITU MENGHINAKUUU~!"
"B-beri hik sik hik! Aku hik tergang hik gu!"
"Eh?" Kelima orang itu serempak menoleh kearah pria yang baru mereka sadari tidak ikut dalam perdebatan tentang Sehun. Mereka melihat Baekhyun yang masih asik memakan ke coklatnya sambil sesekali sesegukan karena mabuk.
"Mabuk?"
"Bagaimana bisa dia mabuk!" Luhan menjerit paling keras, dan yang lain menutup telinganya.
~NH~
"Kenapa bisa mabuk?" Luhan memijit keningnya. Baekhyun adalah tipe yang mudah mabuk meski sedikit saja alcohol masuk kedalam perutnya. Dan mabuknya itu adalah parah.
"Mata besar, kau menggunakan cokelat untuk bahan kue itu darimana?" Tanya Sehun pada Kyungsoo. Perempatan sudah mampir di dahi Kyungsoo, ingin sekali Kyungsoo memukul memar yang masih terlihat itu di wajah Sehun, biar lebih parah saja sekalian. Tapi sayang sekali Luhan menyuruh mereka untuk tetap tenang selama Baekhyun tidur di kamar tamu, jadi anggap saja Sehun selamat kali ini.
"Aku gunakan yang ada di laci atas paling pojok, kenapa memangnya?" Jawab Kyungsoo acuh. Sehun menepuk jidatnya, pantas saja Baekhyun sampai mabuk begini.
"Aish! Bukankah di laci bawah ada cokelat juga?"
"Ya, tapi kupikir coklat yang di sana lebih bagus."
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Pabo!"
"Apa maksudmu? Tentu saja, biasanya yang paling disembunyikan adalah bahan bagus!"
Dan sekarang rasanya Sehun ingin membuat Kyungsoo terbang ke langit ketujuh, bertemu bidadari dan dibuang ke segitiga Bermuda. "Sebenarnya cokelat yang dipojok sana mengandung alcohol yang cukup tinggi, karena itu aku menyembunyikannya di pojok!"
"He?" Kyungsoo membatu, jadi semua ini salahnya? Memang benar sih saat ia mencoba adonannya saat membuat, Kyungsoo merasakan ada sesuatu yang berbeda dari cokelat biasa, namun Kyungsoo mengabaikannya dan tetap membuat kue itu bahkan memasukan cokelat lebih banyak.
"Mianhamnida Baek hyung." Ucap Kyungsoo lirih, dan penuh penyesalan yang terlambat.
.
.
.
"Nah nah, ayo kita keluar, biarkan Baekhyun istirahat." Ajak Luhan pada keempat orang lainnya. Kyungsoo menghela nafasnya, masih merasa bersalah akibat ketidak telitiannya. Ia melangkah keluar dari kamar tamu di rumah itu diikuti Kai dan Sehun.
"Kau tidak keluar?" Tanya Luhan pada Chanyeol yang masih setia berdiri di samping ranjang Baekhyun.
"Apa jika dia mabuk akan berakibat parah?" Bukannya menjawab Chanyeol malah kembali melemparkan pertanyaan pada Luhan.
"Tidak juga. Tapi hal terparah saat ia mabuk adalah terjun dari atas pohon, aku juga tidak mengerti bagaimana bisa ia dengan santainya terjun dari atas pohon." Luhan menatap Baekhyun datar sambil memabayangkan Baekhyun yang waktu itu tiba-tiba terjun dari atas pohon.
_Flash Back_
"Gegeee~ hik. Hehehe~ hik. Kyungg~"
"B-b-baek hyung! Apa yang kau lakukan disana?! Huaaaa!" Kyungsoo berteriak panik saat menemukan Baekhyun yang duduk di salah satu batang pohon apel yang tidak begitu besar. Sontak Kyungsoo berlari dan berteriak untuk memanggil Luhan yang memang sejak tadi mencari Baekhyun.
"Hiyaa Baekie! Apa yang kau lakukan disana!" Reaksi Luhan sama seperti Kyungsoo, memekik dan memandang horror Baekhyun yang tertawa aneh di atas pohon.
"Gegee~ Aku hik ambil apeel~ hik lihaaat~" Baekhyun berdiri di batang pohon apel dan meraih apel yang masih mentah yang berada di kepalanya. Kyungsoo dan Luhan memekik dan panic takut-takut kalau Baekhyun terjatuh, sedangkan Baekhyun masih terus tersenyum dengan wajah memerah dan terus berdehik.
"Hungghh! Hik." Baekhyun merenggut tak suka saat merasakan apel yang diambilnya ternyata pahit dan keras, ia melempar apel itu kebawah dan tepat mengenai kepala Luhan.
"Appo!" Luhan oleng dan akhirnya terjatuh karena memang posisi berdirinya yang tidak seimbang sehingga membuatnya terjatuh.
"Gege!" Kyungsoo kaget karena tiba-tiba Luhan terjatuh, belum sempat ke-kagetannya akan Luhan kini dia dikagetkan oleh posisi Baekhyun yang menjadi limbung diatas sana.
"Kyungg~ hik. Terbaangg~" Baekhyun menghilangkan keseimbangannya dan membiarkan tubuhnya melayang diudara.
"Hu-huwaaaa!"
BRUKKK
.
.
.
.
"B-berat!" Kyungsoo mengeluh kesakitan karena Baekhyun yang terjatuh menimpanya, ditambah lagi setelah jatuh Baekhyun langsung tidak sadarkan diri.
"Aigo, kita harus menggendongnya ke dalam. Bagaimana bisa dia tidak membedakan anatara bir dan minuman dingin?" Keluh Luhan sambil membantu Kyungsoo memapah Baekhyun.
"Dan dia berakhir mabuk seperti ini?"
"Hmm!" Luhan menganggukan kepalanya, dia melirik Baekhyun dan menghela nafasnya. "Tapi, dia itu manis bukan?" Luhan tersenyum.
Kyungsoo ikut melirik Baekhyun dan akhirnya juga tersenyum. "Ne! Dia mendengung saat memanggil namaku, seperti anak kucing. Manisnya~ aku ingin mendengarnya lagi."
_Flash Back END_
"O-oh? Benarkah? Baekhyun mendengung seperti kucing? Aku ingin mendengarnya." Chanyeol benar-benar berharap kalau suatu saat nanti bisa mendengar Baekhyun mendengung, mungkin akan terlihat manis nantinya.
"Akupun ingin melihatnya lagi." Tambah Luhan. Kedua menatap Baekhyun, berharap Baekhyun mendengung di bawah alam sadarnya. Namun tak membuahkan apapun, keduanya menghela nafas bersamaan.
"Tidak mungkin."
"Mustahil, dia takkan berdengung lagi."
"…"
Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka, hanya Luhan yang menatap Chanyeol, Chanyeol yang menatap Baekhyun, dan Baekhyun yang menutup matanya. Risih dengan keheningan, Luhan memutuskan untuk pamit keluar.
"Baiklah aku akan keluar, apa kau masih ingin disini?"
"Emm.. ya."
"Oke, bye."
~NH~
Chanyeol meletakkan kepalanya di pinggiran ranjang, sejak tadi yang ia lakukan hanyalah memainkan jari lentik Baekhyun , sesekali ia mengusap rambut Baekhyun yang agak menghalangi pandangan wajahnya.
"Hoaammm~"
Chanyeol nyaris memekik kaget mendengar suara Baekhyun yang tiba-tiba saja muncul. Ia memperhatikan Baekhyun yang kini sudah dalam posisi duduk sambil mengucek kedua matanya dengan pipi yang masih memerah –meski sudah tidak semerah tadi-.
Apa mabuknya sudah hilang? "Eh? Chanyeoll~"
Ternyata belum sepenuhnya hilang. Chanyeol menghela nafasnya, ia tersenyum pada Baekhyun yang duduk sempoyongan. "Mau minum?" Tanya Chanyeol. Baekhyun tidak menjawab, ia hanya mengangguk lucu. Chanyeol segera mengambilkan minum dari teko yang memang sudah dibawakan Kyungsoo untuk berjaga-jaga takut-takut Baekhyun terbangun dan haus.
Baekhyun minum dengan rakus, menyebabkan airnya meluber dan sedikit membasahi bajunya. "Ya! Kau minum seperti anak kecil, padahal kau sudah besar." Gerutu Chanyeol sambil mengusap baju Baekhyun dengan tisu sebelum basahnya menyebar dan membuat pria mungil itu masuk angin.
Baekhyun hanya terdiam, usapan Chanyeol di dadanya membuatnya teringat pada suatu hal. "Aku… tidak pernah benar-benar mendapat kasih sayang orang tua." Baekhyun tiba-tiba berbicara, membuat Chanyeol menatapnya.
"Ibuku.. meninggal karena melahirkanku." Baekhyun merundukan wajahnya, kemurungan tiba-tiba saja mendatanginya. "Aku tidak pernah benar-benar melihat wajahnya, aku hanya melihatnya di foto album. Aku sering dititipkan di penitipan bayi hingga aku berumur 5 tahun. Sisanya Hyungku yang mengurusnya."
"Baek..hyun.." Chanyeol mulai ragu untuk berbicara saat melihat air mata Baekhyun yang mengalir begitu saja.
"Mianhae, aku selalu cengeng jika sudah mengingat umma. Hehe~" Baekhyun tersenyum paksa dengan air mata yang masih terus mengalir. Chanyeol tidak bodoh untuk mengetahui bagaimana perasaan Baekhyun sekarang ini, karena ia juga dulunya sering begitu.
Baekhyun melebarkan matanya saat tiba-tiba sentuhan tangan besar yang hangat di kepalanya, tangan milik Chanyeol itu menepuk kepalanya dengan lembut. "Tak apa, menangislah. Menangislah sepuasnya hingga air matamu habis atau bahkan hingga dirimu menangis darah, tapi setelah itu berjanjilah untuk tidak menangisi hal yang sama lagi."
Baekhyun tertegun, hatinya tiba-tiba menghangat dan pertahanannya runtuh. Ia menangis keras dan Chanyeol memeluknya, memberikan sensasi hangat serta perasaan akan terlindungi. "Ummaa~ Ummaa huee~ UMMAAAAA~!"
Chanyeol mendekap Baekhyun lebih erat, tangisan Baekhyun membuatnya teringat akan dirinya yang dulu dan sekaligus membuat dirinya kembali mengingat kedua orang tuanya. Dan untuk kali ini, Chanyeol membiarkan air matanya turun untuk orang lain.
.
.
.
"Aku bahkan tidak pernah bisa membuatnya mengeluarkan perasaannya. Mungkin Chanyeol adalah orang yang tepat." Luhan tersenyum pahit. Sedikit kecewa karena bukan dirinya lah yang bisa membuat Baekhyun mencurahkan perasaannya, padahal ia berpikir bahwa ialah yang paling mengerti Baekhyun selain Ryeowook.
Luhan menghela nafasnya, kemudian meninggalkan pintu yang dimana di dalamnya Baekhyun masih menangis tersedu dengan Baekhyun di pelukan Chanyeol.
"Gege, ada apa dengan Baek hyung?" Tanya Kyungsoo begitu Luhan kembali bergabung di ruang santai.
"Gwenchana…
,
,
,
… dia hanya ingat tentang keluarganya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Mianhamnidaaaaaaaa~! /teriak pake toa *ditabok/ Oke untuk para readers tercintah, saya minta maaf karena terlambat –sangat terlambat- update. Karena factor males dan banyak anime –saya pecinta anime- yang belum saya tonton tapi udah punya, jadilah ini telat update. Tapi chapter ini menurut saya panjaaang. Sekitar 5200 words, apa masih kurang panjang menurut readers? Tak jitak nanti /dijitak balik/ Maaf juga jika banyak typo karena saya gk review ulang. Saya malas =w=, jadi maklumin aja ya hehehe.
Oke saya males cuap cuap karena greget pengen cepet update. Inilah balasan review sebelumnya :
Novey : Maafkan sayaa, yang ini juga sama lamanyaa T^T Terima kasih sudah mau membaca.
Ajib4ff : Etto, sebenarnya di chapter kemarin sudah saya kasih jeda, tapi pas di update malah hilang. Jadi typonya banyak sekali, maafkan karena saya gak ngecek ulang. Terima kasih sudah mau membaca dan mereview, review lagi ya ^^
Indaaaaaahhh : Haaaa saya senang karena kamu suka dengan momen chanbaek yg saya buat, karena sejujurnya pas buat moment itu saya juga sambil malu-malu sendiri X3 Gimana dengan chapter ini? Menurut saya Chapter ini Chanbaeknya banyak loh :D Terima kasih sudah membaca ^^
Tyahra Lau : Gwenchana, yang penting kamu sudah muncul di kotak review XD saya menghargai kok. Terima kasih sudah membaca dan review lagi ya ^^
SyJessi22 : Ternyata ada banyak juga yang suka dengan moment HunHan, nanti saya buat lebih sweet lagi deh moment per couplenya. Karena di fanfic ini saya buatnya gak cuma focus ke hubungan Chanbaek doang. Terima kasih sudah mau membaca dan mereview, jangan lupa mereview lagi ya ^^
Ssnowish : Masa lalu Luhan sedih ya? Saya rasa juga begitu hehehe. Ini sudah dilanjut, semoga suka. Dan terima kasih sudah mereview dan membaca.
Park Young Min-chan : Ini sudah di lanjut, terima kasih sudah mau membaca. ^^
WinterHeaven : Hahaha halo HunHan's aegya :D Itu belum blak-blakan loh menurut saya, karena Hun belum bilang langsung, nanti suatu saat, suatu tempat dan suatu waktu saya akan paksa Hun untuk blak-blakan :D Hehehe tenang aja, setiap couple nanti ada moment fokusnya tersendiri meski bukan di satu chapter. Gomawo atas doa dan dukungannya, terima kasih sudah mau membaca. ^^
SHINeexo : Huaa Gomawo, gomawo. Ini sudah di update, mian lama ya. Terimakasih untuk semuanya ^^
Park chan-yeol : Huaaa maafkan sayaa T^T /nangis Bombay/ Sudah berapa bulan ya saya gak update? /liat kalender sambil nangis/ Sekali lagi maafkan saya dan terima kasih sudah mau mengingatkan ^^
Light Panda : Wah banyak yang minta focus ke Chanbaek ya. Nanti setiap couple ada focus momennya kok, ikuti aja cerintanya. Mianhaeeee ini pasti sudah sangat amat amat amat amat lama update, maafkan saya. Terima kasih sudah mau membaca ^^
Sekali lagi maafkan saya huwwwweeee /ikut nangis di punggung Chanyeol/ Dan juga, oh entah kenapa hari ini saya jadi mendadak agak formal itu ya? -_- Biarlah :D
.
.
.
Saya gak tau seberapa banyak dosa reader yang gk mereview, tapi yang jelas kalau banyak yang mereview pasti saya lanjut :D
.
.
Sekian dan terima kasih.
