Tittle: Brand new world
Disclaimer: Naruto dan High school DxD bukan punya saya
Genre: Adventure, Friendship
Pairing: nanti aja hehehe
Rated: M (jaga-jaga)
Summary: Naruto dan madara yang telah mati dalam perang dunia Shinobi keempat kini sedang menghadapi putusan dari hakim dunia akhirat untuk memasuki neraka atau surga, tanpa diduga, madara melakukan hal diluar dugaan yang membuat raja dunia akhirat menjatuhi mereka berdua hukuman aneh nan unik. More friendly madara! Strong-Naru!
Warning: OOC,Typo,Adult theme, violence, gore,etc
Chapter 4
Madara hanya menguap malas mendengar ocehan gadis tersebut. "Ya ya ya. Ayo cepat selesaikan ini, acara drama malamku sejam lagi mau tayang dan aku tidak mau ketinggalan" katanya sambil memamerkan mata Sharingan abadinya yang tampak berputar cepat.
"Wush!" Ophis terbang dengan cepat kearah Madara sembari melayangkan pukulannya yang terlapisi aura hitam aneh. "Brakh!" pukulan tersebut hanya menghantam sebuah dinding transparan berwarna biru yang tiba-tiba melapisi tubuh Madara. "Syat!" Ophis dengan sigap mundur kebelakang dengan memasang pose siaga. Madara yang menyaksikan hanya menguap lebar. "Hoam…. aku sedang mengantuk tau?! Jika ingin duel ayo cepat selesaikan, aku masih mau mandi dan menonton drama malamku" kata Madara sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Ophis yang mendengarnya hanya dia saja. Kemudian, dengan gerakan sangat cepat, Ophis terbang keudara dan berputar dengan indahnya. Dengan putaran tersebut, tampak beberapa ratus cahaya yang berbentuk batangan putih melesat dengan cepat kearah Madara. Madara yang menyaksikan tetap diam ditemapat sembari menebalkan pertahanan Susano'onya.
"Hmm, tampaknya kau ingin main tembak-tembakan ya. Oke! Aku ladeni!" kata Madara sambil menyatukan kedua tangannya membentuk sebuah segel. Tampak pula Susano'o milik Madara membesar dan membentuk sebuah tubuh dengan dua kepala yang menghadap kiri dan kanan serta menyatukan masing-masing tangan mereka membentuk segel.
"Groohhh!" tampak tak lama kemudian langit bergemuruh dengan kuat. Perlahan, keluarlah puluhan meteor berukuran sedang yang menuju kearah ophis. Meteor yang rata-rata berukuran seperti bus tersebut melesat dengan cepat menuju kearah Ophis yang tampaknya terkesima dengan hal tersebut. Madara yang melihatpun ikut terkesima. "Eh?! Tanpa Rinnegan masih bisa ya?" katanya sambil melihat meteor yang berjatuhan tersebut, ia baru sadar kalau jurusnya satu itu biasanya membutuhkan Rinnegan.
Madara yang tersadar dari kekagumannya lalu melakukan Sunshin ketempat yang lumayan jauh dari lalu mencoba melakukan jutsu Rinnegan lainnya tetapi tidak berhasil. "Hmm, tampaknya hanya kemampuan inti Rinnegan saja yang diambil oleh raja sialan itu, tapi tetap saja daya tempurku dibuatnya menurun gara-gara itu." Pikir sang Uchiha sambil memasang pose berpikir. Sementara itu, Ophis yang diserbu meteor langsung menyatukan kedua telapak tangannya. Tampak sebuah lingkaran sihir besar muncul dari ujung kedua tangannya. Ophis membidik Meteor yang berada disisi kanannya.
"Bruar!" sebuah sinar laser besar mulai tertembak dan menghancurkan meteor tersebut. Ophis terus menggerakkan serangangannya sampai menghancurkan hampir seluruh meteor tersebut.
Madara yang melihatnya Cuma tersenyum tipis. "Siapa bilang meteornya Cuma ada segitu" kata Madara sambil tertawa tipis. "Bwosh!" muncullah meteor yang super besar dengan ukuran sama dengan sebuah gunung menuju Ophis dengan kecepatan penuh.
Ophis tampak membulatkan matanya, namun kemudian dia menajamkan tatapannya. Dengan kecepatan penuh dia melesat kearah meteor tersebut sambil mengeluarkan sebuah pedang transparan yang melekat ditangan kanannya. "Zrut!" dengan cepat dia menebas batu besar tersebut menjadi 2 dengan potongan vertikal.
"Wow, kuat juga dia" kata madara sambil menatap gadis kecil yang melawannya tadi. Tiba-tiba si gadis menatap nanar Madara seolah merasa dipermainkan. Tak lama kemudian dia mengeluarkan aura bening yang berbentuk seperti naga dengan sayap dan tubuh bening. Kemudian Gadis itu mengumpulkan seluruh energinya ketangannya dan membentuk bola energi yang amat besar.
Madara yang melihatnya dengan sigap mengaktifkan susano'o miliknya sampai ketahap yang sempurna. "Sialan!" umpat Madara. "Tinggal 20 menit lagi sebelum dramanya mulai!" batinnya sambil menyumpahi lawannya yang terlalu lama bertarungnya.
"Wush!" bola energi tersebut ditembakkan dengan tenaga penuh kearah Madara. Madara dengan cepat menarik katana Susano'o miliknya dan membelah bola energi tersebut.
"Blarr!" ledakkan dahsyat terjadi karena bola energi tersebut terbelah. Sebuah retakkan dimensi terbuka akibat ledakkan tersebut. Madara yang melihat hal tersebut dengan segera melompat masuk kedalam celah tersebut. "Persetan dengan pertempuran yang tidak ada gunanya ini, lebih baik segera pulang." Katanya sambil melapisi celah bekas dia keluar dengan api hitam.
Sementara itu, si gadis Cuma menatap datar hal tersebut. "Kau akan jadi milikku" katanya sambil menghilang entah kemana.
Kita beralih kepada naruto.
Kini Naruto sedang berada dibawah tanah gereja tua tersebut, tampaknya para exorcist liar dan para malaikat jatuh sedang menyalib seorang gadis dengan rambut pirang dan membuatnya terlihat sangat menggoda dimata Naruto dengan pakaian transparan sigadis.
"Urgghhhh, apa yang kau pkirkan, Naruto? Ingat dia butuh pertolongan" katanya pada batinnya yang mulai rusak karena melihat pemandangan indah tersebut. "Kalian! Cepat lepaskan dia!" kata Naruto dengan pose layaknya seorang pahlawan dalam cerita komik era Showa.
Para malaikat jatuh yang memandangnya cuma dapat cengoh dengan tatapan menyindir tersirat dari wajah mereka. "Ihhh, najis!" batin mereka semua. Tampak salah satu malaikat jatuh dengan rambut panjang menarik sesuatu dari tubuh gadis itu. "Arggghhhhh!" teriak gadis pirang malang itu kesakitan. Naruto yang melihatnya langsung berteriak. "Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!" begitulah kira-kira teriakkan Naruto.
Sementara itu, si malaikat jatuh yang berambut panjang serta berkelamin wanita Cuma tertawa tidak jelas. "Khukhukhu, dengan twilight healing ini, aku akan mendapatkan kekuatan yang setara dengan dewa!" teriaknya sambil tertawa gila yang membuat Naruto menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Jleb!" tiba-tiba dada malaikat jatuh tersebut tertusuk oleh sebuah tangan berwarna biru. Naruto yang familiar dengan jurus tadi membulatkan matanya. "M-madara?! Dari mana saja kau?" tanyanya dengan nada penasaran.
Madara yang melihat Naruto melambaikan tangannya. "Ya, bagaimana ya. Tadi aku ada urusan dengan orang aneh. Begitu urusan pertama selesai, datang lagi orang aneh yang lain yang berkata dia setara dengan dewa. Karena membuat kupingku panas dengan perkataannya, ya kutusuk deh" katanya dengan nada tanpa dosa.
Naruto yang mendengar hal tersebut Cuma bisa berkeringat dingin. "Dasar psikopat kelas kakap" kata Naruto sambil mengeluarkan kunainya dan melemparkannya ke tali yang mengikat gadis pirang malang tersebut.
Sementara itu, Si malaikat jatuh malang yang tertusuk tersebut memuntahkan darah dari mulutnya. "Ohok! Jurus macam apa ini?! Twilight healingku bahkan sangat lambat bereaksi" katanya sambil memuntahkan banyak darah. Madara lalu melepas tusukkannya. "Inikah kekuatan dewa itu? Jangan bercanda. Secuilpun aku tidak melihat itu dari benda yang kau pakai" katanya sambil menatap malaikat jatuh malang tersebut dengan tatapan merendahkan khasnya.
"Zrat!" dengan cepat dan sadis Madara memenggal kepala Malaikat jatuh tersebut tanpa babibu. "huh, ini akibatnya kalau menghina kekuatan dewa" katanya sambil menatap nanar sisa musuhnya disitu.
"Raynare-sama!" teriak mereka dengan nada terkejut. Sementara itu, Naruto yang melihat gadis tersebut sudah tak bernyawa lagi naik pitam karena hal tersebut. "Kalian….." desisnya dengan nada marah.
"TIDAK AKAN KUMAAFKAN!" teriaknya sambil mengeluarkan tatapan tajam pupil kataknya. "Wush!" Naruto melesat dengan sangat cepat sampai hanya mata Madara saja yang masih bisa menangkapnya. Sementara itu, Madara lebih memilih berjalan keluar dari tempat bawah tanah tersebut dengan wajah malas. "Hah, paling sebentar lagi mereka semua mati. Tidak disni tidak disana, bocah itu selalu jelek tempramennya" katanya sambil berjalan menaiki tangga gudang bawah tanah tersebut.
"Buakh!" "Buakh!" "Buakh!" "crash!" "crash!" "crash!" tangan Naruto dan kunainya terus menyabet seluruh makhluk yang masih berdiri diruangan tersebut selain dirinya. "arghhh!" jeritan memilukan mereka terdengar memecah kesunyian malam.
Sementara itu, Madara yang baru saja naik melihat issei yang sedang duduk dipojok Altar gereja. Karena tidak mau dilihat, Madara dengan cepat melesat dengan sunshinnya langsung menuju kerumahnya.
Sementara itu, Naruto yang baru saja selesai melakukan "bersih-bersih" keluar dari gudang bawah tanah tersebut dengan pakaian berlumuran darah sambil menggendong Asia yang telah tidak bernyawa tersebut dengan benda aneh berbentuk cincin yang Naruto anggap penting. Dengan perlahan dia berjalan menghampiri Issei dan menyerahkan Asia dengan wajah tertunduk.
"Maaf" kata Naruto singkat sambil menundukkan wajahnya. Issei yang menangkap maksud perkataan naruto Cuma dapat memeluk erat Asia sambil menangis. "Kenapa…." Lirihnya dengan air mata mengalir dari wajahnya.
Naruto yang melihat hal tersebut Cuma dapat terdiam dengan wajah yang sulit diartikan. Diam merasa sudah gagal menjalankan tugas yang diberikan Erebus padanya. "Baru sebulan dan aku sudah gagal" katanya sambil menatap nanar mayat Asia.
"Sring!" tiba-tiba muncul sebuah lingkaran sihir berwarna merah. Issei yang melihatnya langsung membulatkan matanya. "B-buchou?..." katanya sambil menatap beberapa orang yang muncul dari lingkaran sihir tersebut.
Orang yang dipanggil Buchou tersebut hanya tersenyum tipis melihat Issei yang tampaknya hanya menderita luka ringan. Matanya kemudian menatap gadis pirang yang tidak lagi bernyawa itu. Tak lama kemudian, matanya menatap penasaran pria pirang yang pakaiannya berlumuran darah tersebut. Sementara itu, dua orang dibelakang Rias. Yaitu Kiba dan Koneko yang tampaknya mengenali orang tersebut terkejut sendiri dengan kehadiran orang tersebut.
"Naruto-san….." kata mereka bengong melihat Naruto disana. Tiba-tiba kebingungan mereka terpecah oleh tindakan Issei yang memohon pada Rias. "Buchou, kumohon tolonglah Asia" katanya dengan amat sangat sambil bersimpuh memohon pada Rias. Rias yang melihat hal tersebut luluh juga hatinya. "Baiklah, akan kutolong dia" katanya sambil tersenyum bijak. Sementara itu Naruto yang mendengarnya juga ikut tersenyum senang. Karena merasa tak ada lagi yang perlu ia kerjakan, Naruto memutuskan untuk pulang kerumahnya.
"Naruto-san" Sebuah suara menghentikan langkah Naruto yang hendak melangkah keluar dari gedung gereja tua tersebut.
Naruto yang mendengar Namanya dipanggil lalu melihat bahwa gadis berambut merah tersebut memanggilnya. "Ada apa?" tanya Naruto dengan nada polos.
"Kenapa kau buru-buru pergi? Bukankah masih ada banyak hal yang perlu kau jelaskan?" tanya Si gadis berambut merah panjang tersebut sambil tersenyum.
Naruto tampak bingung sendiri. "Penjelasan apanya? Jika mau tanya, tanya saja sama Issei" katanya sambil melesat menghilang bersama angin.
"T-tunggu!" teriak Rias namun terlambat sudah, Naruto sudah lenyap bersama hembusan angin malam.
Kita kembali lagi bersama Madara
"Kotaro, teganya kau mengkhianatiku demi wanita jalang itu" kata seorang wanita berdandanan layaknya gadis kantoran. "maafkan aku Kumiko, dia jauh lebih mengerti diriku" balas seorang pria brewokan dengan topi fedoranya sambil berjalan pergi meninggalkan gadis itu. "Kotaro!" teriak sang gadis sambil berlinang air mata. "Pemirsa, bagaimanakah kelanjutan hubungan Kumiko dan Kotaro? Kita lihat saja minggu depan" kata sebuah suara dari TV
Sementara itu, sang Uchiha terkuat menatap serius dengan mata sedikit memerah. "Kurang ajar si Kotaro itu! Sudah ketinggalan setengah cerita, dapat bagian tontonan adegan jelek pula!" komentarnya sambil menikmati ramen instannya dengan duduk diatas tatami dengan pose seperti orang hutan di uang kertas lima ratus rupiah jaman dahulu. Tangannya kemudian menggeser tombol channel menuju channel berita. "Pemirsa, calon perdana menteri baru dari partai x berjanji, jikalau dia terpilih nanti, dia akan menuntaskan masalah angka kelahiran yang semakin menurun tajam." Kata seorang pembawa berita diTV
"Persetan dengan angka kelahiran, kuaktifkan mugen tsukuyomi nanti. Buatlah anak sebanyak kau mau sana!" kata Madara sambil kembali merubah Channelnya. Kini muncul lagi acara belanja lewat TV. Madara yang kebosanan lalu mematikan TVnya dan menghidupkan konsol game milik Naruto.
"Hmm, apa ada game yang menarik ya?" katanya sambil mengobrak-abrik koleksi game Naruto. Nampak sebuah Kaset game dengan judul Na*piip*to: The Ultimate Batte menarik perhatian Madara. Dengan perlahan Madara memutar permainan tersebut.
Madara sedikit cengoh melihat game tersebut. Dia melihat karakter yang mirip dengan Naruto tapi versi wanitanya tapi ada juga karakter yang mirip dengan dirinya tapi Versi wanita. "Huek!" batinnya ketika melihat melihat versi wanita dari pria aneh berbaju hijau ketat dengan alisnya yang seperti ulat bulu yang dulu pernah dia lawan dipertempuran. "Baiklah, aku coba pakai Madoka" katanya sambil memilih karakter yang mirip dengannya tapi versi perempuannya.
Ketika Madara sedang asyik bermain game, Naruto masuk membawa aroma amis darah dari pakaiannya. Madara yang terganggu langsung berteriak. "Mandi sana. Bocah! Bau bangkai tercium benar dari badanmu!" katanya sambil tetap memainkan konsol game Naruto.
Naruto yang mendengarnya hanya dapat terdiam kesal. Kemudian dia menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya serta bajunya.
Tak lama kemudian Naruto keluar dari kamar mandinya, tentu dengan pakaian lengkap. Naruto lalu melihat Madara yang tampaknya telah menyiapkan makanan untuknya sesudah ia pulang tadi. Naruto hanya tersenyum tipis. "Dia ternyata baik juga" katanya sambil menatap makanan yang meskipun tampaknya sudah dingin tapi masih enak untuk dimakan. Naruto dengan perlahan mengambil Nasi dan mengatakan "Ittadakimassu!" dengan penuh semangat.
Madara yang mendengar kata "Ittadakimassu " lalu menoleh dan mengpause gamenya. Ia melihat Naruto sedang lahap memakan makanan diatas meja makan. Madara yang melihat makanan itu kemudian sadar akan sesuatu. Madara lalu menghampiri Naruto.
"Bagaimana, enak tidak?" tanya Madara sambil tersenyum tipis. Naruto menatapnya dengan senyum manis. "agak aneh rasanya, tapi tetap enak kok" kata Naruto sambil terus melahap makanannya. Madara Cuma menatap Naruto dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Ah~ kenyang!" kata Naruto sambil memegangi perutnya. "Oi kakek tua, kenapa kau memandangiku dengan tatapan seperti itu? Jangan jangan kau jomblo karena kau….." kata Naruto dengan nada takut.
Madara Cuma menggelengt lembut. "Tidak-tidak, aku masih normal. Cuma….." Madara menggantung kalimatnya.
"Cuma kenapa?" tanya Naruto dengan nada bingung.
"Cuma, makanan yang kau makan tadi itu makanan basi sisa kemarin yang aku keluarkan dari kulkas tadi. Niatnya mau kubuang. Eh, kau malah memakannya. Tidak apa-apa kok. Toh sama-sama tong sampah jadi tidak masalah." Kata Madara sambil melenggang santai kembali memainkan gamenya.
"ONORE!" teriak Naruto sambil mengumpulkan cakra angin ditangan kanannya. "Deg!" Naruto tiba-tiba merasakan rasa yang sangat tidak nyaman diperutnya. "Urgghhhh! Ini pasti gara-gara makanan basi itu, awas kau kakek bangsat!" katanya sembari mundur menuju toilet untuk mengumandangkan simfoni orkestranya dari lubang pantat.
Sementara itu madara Cuma tertawa terbahak-bahak mendengar jeritan pilu seorang Uzumaki Naruto dimalam hari.
Keesokan harinya
Madara kini sedang menikmati susu hangatnya bersama dengan Naruto yang sibuk membaca komik langganannya. Madara lalu berkata pada Naruto. "Uzumaki, kau ada rencana apa untuk festifal sekolah?" tanya Madara dengan nada malas sambil tetap membaca Koran paginya layaknya seorang bapak-bapak.
"Festival? Festival apa?" tanya Naruto dengan nada bingung. Madara Cuma mengurut kepalanya yang lama-lama bisa migrain gara-gara anak satu ini. "festival musim semi sekolah, kau lupa kalau sekolah kita punya tradisi aneh setiap musim semi?" tanya Madara sambil tetap membaca korannya. "hmm, tunjangan guru naik bila memilih saya" komentarnya tidak jelas sambil melihat Koran.
Sementara itu Naruto mencoba mengingat kembali. "Oh, festifal itu toh! Ada kok, menurutku kelas kita bisa menampilkan drama panggung " kata Naruto sambil mengambil roti dan mengoleskannya dengan selai jeruk.
Madara mendelik kearah Naruto. "Hmm, kau benar juga ya. Nanti kutanyakan pada para murid" katanya sambil terus menatap Koran.
"Ya ya ya" kata Naruto sambil mencoba memasukkan rotinya.
"Ting tong!" bel pintu mereka berbunyi. Madara Cuma mengangkat alisnya. "siapa lagi pagi-pagi bertamu" katanya sambil tetap melipat korannya dan berjalan keluar.
"Ada ap-" "Gremory-san?" Madara menatap bingung pada sosok yang memencet bel yang ternyata adalah Rias Gremory, murid didiknya.
"Sensei?" tanyanya dengan nada bingung.
Sementara Naruto, dia tampak mengurut kepalanya. "Wah, nampaknya ada orang yang merepotkan kesini" katanya sambil mengunyah rotinya.
TBC
Sekian Chapter 4 kali ini. Terima kasih banyak yang udah Fav, follow, ataupun review fic gaje satu ini hehehe. Sekian dan terima kasih.
